GAKSA ENTERPRISE

AKU PEJUANG

ANTOLOGI PUISI GAKSA 2020
VOLUM 5

Penyelenggara

IRWAN ABU BAKAR

GAKSA ENTERPRISE

PENERBIT

AKU PEJUANG

ANTOLOGI PUISI GAKSA VOLUM 5

© Gaksa Enterprise, 2020

Hak cipta terpelihara. Tidak dibenarkan mengeluar ulang mana-mana bahagian artikel, ilustrasi, dan isi kandungan buku ini dalam apa jua bentuk dan dengan apa jua cara sama ada secara elektronik, fotokopi, mekanik, atau cara-cara lain sebelum mendapat izin bertulis daripa Gaksa Enerprise. Perundingan tertakluk kepada perkiraan royalti atau honorarium.

ISBN:

Penerbit: Gaksa Enterprise.

Penyelenggara: Irwan Abu Bakar.

Penulis: Ahli grup WhatsApp E-sastera Vaganza ASEAN.

Sampul:

Penyusun:

KANDUNGAN

ALU-ALUAN PENERBIT

RESENSI

PUISI

  1. ABDULLAH TAHIR

1.01. Menanam Derhaka
1.02. Hilang Seludang
1.03. Kebobrokan
1.04. Hikmat Dan Rahmat
1.05. Bisik Bicara
1.06. Bicara Berkonon Dan Berlapis
1.07. Garis Akhir
1.08. Faktor Umur
1.09. Berfenomena
1.10. Kita Atau Sahabat

  2. ADI WAHAB

2.01. Rezeki Pagi
2.02. Sesebuah Kehidupan
2,03. Kubuka Lembaran Baharu
2.04. Perjalanan
2.05. Tanka: Merigis Kenangan
2.06. Tanka: Tunaikanlah
2.07. Haiku: Krakatau
2.08. Haiku Menanti Musim
2.09. Haiku: Masjid
2.10. Sonian: Ketam

  3. AHKARIM

3.01. Aku Pejuang
3.02. Temali Di Pantai Sakom
3.03. Aku Ingin Jadi Air, Bukan Batu
3.04. Sayang Pantai Sangeang
3.05. Kasihan, Hanya Itu Mampuku
3.06. Tuah-tuah Kecil – 1
3.07. Nikmat Kecil
3.08. Tidak Turut Ke Medan Juang
3.09. Tembolok @ Tengkolok @ Keris – Golok @ Goblok
3.10. Pemberi Sembunyi Tangan

  4. AZMI RAHMAN

4.01. Busuk.
4.02. Persahabatan.
4.03. Mesyuarat Perdana Di Rimba.
4.04. Rumah.
4.05. Versi Adat Air dan Angin.
4.06. Versi Adat Akar dan Akal.
4.07. Pujian Hanya Milik Allah.
4.08. Menjadi Padi.
4.09. Berita.
4.10. Jelira.

  5. CITRANALIS

5.01. Haiku: Tangga Spiral
5.02. Kuatrin: Seorang Gadis Yang Kutemui Pada Lewat Malam
5.03. Pantun Vaganza
5.04. Makna Sebuah Rindu
5.05. Soneta: Air Mata Palu
5.06. Sonian: Berangkai: Kembara Thailand
5.07. Sonian: Gunung Jerai
5.08. Sonian: Pekan Rabu
5.09. Sonian: Pulau Langkawi
5.10. Tanka: Belasungkawa Muhammad Adib bin Mohd Kassim 

  6. CT NURZA

6.01. Pelimbang
6.02. Kita Dan Kematian
6.03. Menangkis Tanggapan
6.04. Nila Nan Setitik
6.05. Tsunami Banten Menjentik Nubari
6.06. Syair: Tsunami Sunda
6.07. Gurindam: Ada Pun
6.08. Dansa Ilalang
6.09. Mentari Retak Di Birai Ombak
6.10. Kuatren: Membingkai Kesetiaan.

  7. NOVIA RIKA

7.01. Tanah Kehidupan.
7.02. Tuhan Dan Pilihan.
7.03. Arwah.
7.04. Lautan Rahsia.
7.05. Mencari Jalan Cahaya.
7.06. Ditampar Setan.
7.07. Selamat Tinggal Yang Indah.
7.08. Langit Gerhana.
7.09. Laut Biru Langit.
7.10. Menghancurkan Diri.

  8. IBNU DIN ASSINGKIRI

8.01. Susah Merokok
8.02. Cerita Di Jalan Raya
8.03. Gurindam: Sayang Melayu
8.04. Rona Manusia Yang Abstrak
8.05. Tempayan Busuk
8.06. Tidak Terungkai
8.07. Soneta #1
8.08. Tanka #125
8.09. Haiku #47
8.10. Senryu #21

  9. KIFLEE TARSAT

9.01.  Aku
9.02.  Menapaki Temburong
9.03.  Pada Parasanku
9.04.  Jejak Hidup
9.05.  Kucuran Keringat
9.06.  Pesan Buat Belia
9.07.  Wawasan Harakah Belia
9.08.  Ramadan Kareem
9.09.  Mohon Kasih-Mu
9.10. Pantun Majlis Perkahwinan 

10. M.S. RINDU

10.01. Seorang Ratu
10.02. Cintaku Jauh Di Kota
10.03. Cinta Gadis Medan
10.04. Cinta Gadis Banjar
10.05. Hidup Sederhana
10.06. Tanah Airku
10.07. Aku Ingin Dekat Denganmu
10.08. Ibu Yang Kesunyian
10.09. Bandar Melayu
10.10. Komunis Islam (Rashid Maidin) 

PENYELENGGARA – Irwan Abu Bakar

ALU-ALUAN PENERBIT

Alhamdulillah, Gaksa Enterprise (GE) diberi kepercayaan untuk terus menerbitkan antologi puisi Gaksa yang kelima ini. Buku ini merupakan buku pertama terbitan GE untuk tahun 2020. Puisi-puisi telah dikemukakan oleh masing-masing penulis kepada pihak penyelenggara pada tahun 2019.

GE akan terus menerbitak antologi serupa ini demi merancakkan perkembangan sastera ASEAN dalam bahasa ASEAN.

Selamat membaca.

Muhammada Rois Rinaldi
CEO, Gaksa Enterprise.

11.01.2020.

RESENSI

Kebudayaan dan Kekaryaan Penyair Rumpun Melayu

Oleh: Muhammad Rois Rinaldi 

Adalah sesuatu yang dimafhumi oleh semua kalangan terdidik, bahwa dunia Melayu — yang kini sering kita sebut Rumpun Melayu — telah melintasi sejarah yang panjang. Kehadiran Inggris di suatu wilayah dan Belanda di wilayah yang lain, dalam kurun waktu ratusan tahun, membentangkan jurang yang memisahkan dunia Melayu menjadi dunia yang berasingan satu sama lain; dunia yang terpecah-pecah baik secara politik, sosial, maupun kebudayaan. Di sinilah kiranya, sebuah titik pijak yang perlu digunakan untuk menelaah karya sastra rumpun Melayu masa kini. Karena, kedua-duanya memberi pengaruh penting pada arah tumbuh kembang kesusastraan Melayu, sejalan dengan perkembangan pemikiran dan karya-karya intelektual, yang kita sebut bagian dari pengaruh positif masa pendudukan Inggris dan Belanda.

Rentang jarak waktu yang panjang dan praktik pemecahan-pemecahan kesatuan dunia Melayu sebagai satu kesatuan tatanan masyarakat dan kultur kesusastraan yang berakar pada akar yang sama, yakni kesusastraan Melayu tersebut, sesungguhnya telah disadari betul oleh para sastrawan modern. Kesadaran ini terus tumbuh, setidaknya mulai terlihat subur pada tahun 50-60, hingga saat ini. Kesadaran yang dimaksud adalah lahirnya pergerakan kesusastraan di negara-negara rumpun Melayu untuk dapat bertemu, bertukar karya, saling belajar, dan melengkapi satu sama lain. Itu pula yang menjadi tolok ukur pembentukan Gaksa (Gabungan Komunitas Sastra ASEAN) untuk bergerak sebagai komunitas sastra yang melingkupi wilayah kerja Asia Tenggara. 

Jika selama ini forum-forum sastra serumpun bersifat taktis, artinya jika ada kegiatan saja mereka berkumpul dan berbicara, Gaksa yang diinisiasi oleh Prof. Dr. Irwan Abu Bakar, mengembangkannya menjadi komunitas yang menyatukan berbagai komunitas di Asia Tenggara, khususnya yang berbahasa Melayu, dalam suatu gabungan dengan satu semangat, satu harapan, dan satu tujuan. Dan dalam kaitannya, gelaran acara temu sastra dan penghadiran buku-buku bersama yang berisi karya-karya sastrawan Asia Tenggara adalah program yang tidak hentinya dilakukan.

Kini saya dihadapkan pada kumpulan sajak Gaksa “Volum 5”. Itu artinya, sudah ada 4 volum yang mendahuluinya. 

Judul Aku Pejuang yang dipilih, saya pikir, sebagai perwajahan yang tetap dalam rangka mengantarkan semangat membangkitkan dunia Melayu melalui karya sastra, agar pecahan-pecahan yang terbentuk dalam waktu ratusan tahun tersebut menjadi nilai lebih. Tetapi sajak-sajak di dalamnya, tentu saja tidak melulu berbicara perjuangan yang denotatif. Karena perjuangan tidak selalu berupa “kata berjuang”, melainkan nilai dan sikap; konsistensi dan intensitas. 

Aku Pejuang memuat 10 penyair dari berbagai negara yang masing-masing menghadirkan 10 sajak. Brunei diwakili oleh Abdullah Tahir, Adi Wahab, dan Kiflee Tarsat. Malaysia, ada Ahkarim, Azmi Rahman, Citranalis, CT Nurza, Ibnu Din Assingkiri, dan MS Rindu. Sementara Indonesia ada Novia Rika yang telah lama selalu mengikuti program-program penerbitan buku Gaksa. Adapun penyair-penyair Thailand dan Singapura, telah dimuat dalam volum-volum sebelumnya. 

Membaca buku ini adalah membaca kemajemukan yang menantang. Perbedaan yang cukup tajam terlihat jelas antara satu sama lain, menggoda saya untuk mengingat-ingat tali-temali local wisdom, di mana setiap penyair terikat pada struktur dan kontur kebudayaannya. Sehingga, jika kemudian yang hendak diwacakan adalah ihwal capaian estetik atau dalam perspektif keberesan kebahasaan dan apatah lagi tentang seberapa berkembang bahasa masing-masing penyair, yang dalam kaitannya adalah upaya pemunculan atau penemukan kata atau bahasa yang terbaharukan, bukan suatu pembicaraan yang diperlukan.  

Oleh karena itu, saya lebih menekankan pembacaan saya kepada “bagaimana kebudayaan” mendorong lahirnya sebuah karya. Kebudayaan yang saya maksud adalah kebudayaan dalam pengertian seluas-luasnya. 

II

Pertama, ada sajak-sajak penyair yang pernah menjadi Guru Besar di Brunei dan mengikuti program Kursus Pentadbiran di Brighton Polytechnic England pada tahun 1978, Abdullah Tahir. Membaca sajak-sajaknya seperti  membaca reaksi dari suatu keadaan sosial. Meski demikian, saya masih cukup awas untuk memahami bahwa sajak tidak dapat sepenuhnya dikatakan sebagai replika kenyataan apatah lagi kenyataan itu sendiri. 

Satu di antaranya adalah sajak “Menanam Derhaka”:

Saat ada suara yang meraung sakit

kita masih bisa bicara soal keamanan

dan kemakmuran

di lintasan angin berbau bunga

yang wanginya basah di dedaun hijau

sedang di sana masih belum usai

dengan ribuan persengketaan

hanya pada sekeping tanah gersang

yang telah dimamah oleh dentuman bom dan mortar

daging dan tulang tumpah bersama darah

dan air mata

kabut oleh debu-debu yang pekat

sebuah saksi sahih

derita dan sengsara petanda

mereka masih setia pada tanah airnya

dan kita yang bangga dengan kemakmuran

yang berketurunan

masih sahaja ada yang menanam derhaka

pada bangsa dan negara.

Sajak yang ditulis pada 27 Januari 2019 tersebut melampirkan sejarah di mana sebuah negara dahulu dapat berdaulat, sebelum pada akhirnya semua orang di sana merasakan kemakmuran, bahkan bangga, dengan kemakmuran yang diwariskan turun-temurun. Di dalam kemakmuran yang semestinya disyukuri ini, rupanya masih ada yang durhaka (derhaka) kepada negara: “dan kita yang bangga dengan kemakmuran/yang berketurunan/masih sahaja ada yang menanam derhaka/pada bangsa dan negara.//”.

Sekilas baca, sajak tersebut seperti sajak politik yang agak hipokrit. Tetapi jika didalami, terlebih ini adalah Brunei, ianya mengandung nilai yang tidak sekadar seruan semacam iklan layanan sosial pemerentahan di televisi. Ia mengandung pesan kesadaran tentang usia perjuangan yang tidak berbatas. Orang dahulu berjuang untuk hari-hari di mana dahulu hidup dan hari ini, orang-orang di hari ini harus berjuang untuk dirinya sendiri di hari ini dan orang-orang di masa depan. 

Adi Wahab (atau Haji Duming @ Domeng Bin Haji Abdul Wahab), penyair yang satu negara dengan Abdullah Tahir, pada halaman berikutnya menghadirkan puisi-puisi yang menyadur tanka dan haiku, antaranya:

Tanka:

TUNAIKANLAH

Pagi yang sepi

unggas masih di sarang

fajar menyingsing

subuh belum beredar

tunaikanlah solatmu.

Haiku:

KRAKATAU

Anak Krakatau

muntahkan lahar panas

menelang korban.

Meski demikian, ada sajak bebasnya yang juga menarik untuk diketengahkan:

REZEKI PAGI

Benarlah bahawa

sesungguhnya rezeki itu

ada di mana-mana

dan kita

tetap mensyukurinya

dengan apa yang ada

dan seadanya

meskipun demikian

ini bukanlah bermaksud

rezeki kais pagi

makannya pagi

kais petang makannya petang

tetapi ianya adalah

hasil titik peluh

dari tulang empat kerat!

Sebuah sajak yang diilhami dari kesadaran bahwa rizki sungguhlah ada di mana-mana, tapi ianya tidak datang dengan sendirinya. Sajak dari penyair yang pernah menjabat sebagai Setiausaha Sulit di Kementerian Hal Ehwal Dalam Negeri Brunei ini, memang mengandung pesan yang klasik, tapi di masa kini penting hadir, sebab tabiat matrealistik “orang modern” rupanya melahirkan para pemalas. 

Penyair lain yang masih dalam barisan penyair Brunei adalah penerima penghargaan dalam Peraduan Menulis Syair Berunsur sejarah Sempena 45 Tahun Bahasa Melayu dalam Perlembagaan Negara Brunei Darussalam, serta memenangi tempat pertama dalam Peraduan Menulis Syair Sejarah anjuran Pusat Sejarah Brunei pada tahun 2009, Kiflee Tarsat. Dalam 10 sajaknya di dalam buku ini, mengandungi pesan yang beragam, mulai dari kegelisahan pribadi hingga ketauhidan seorang hamba. Antara puisi-puisi tersebut, saya amat tertarik membaca karyanya yang berbentuk semacam deretan pantun berikut ini: 

PANTUN MAJLIS PERKAHWINAN

Sayang kumbang mencari makan,

Mencari makan tepi perigi;

Selamat datang kami ucapkan,

Moga mendapat restu ilahi.

Pakaian pengantin kain tenunan,

Muda belia sama sebaya;

Sama cantik sama padan,

Seperti cincin dengan permata.

Cantik burung cenderawasih,

Terbang berkawan di waktu petang;

Kami ucapkan terima kasih,

Kepada jemputan yang sudi datang.

Jemputan datang berpakaian indah,

Meraikan majlis sejarah gemilang;

Doa kesyukuran dibaca sudah,

Dijemput menikmati jamuan terhidang.

Tanam pisang di tanah rata,

Tumbuh bunganya pucuknya lati;

Budi biskita tidak dilupa,

Sudah terpaku di dalam hati.

Daun selasih di dalam puan

Puan berisi intan permata;

Terima kasih tuan dan puan,

Sempurna majlis dipandang mata.

Saya membayangkan sebuah puisi lahir dari akar tradisi, sehingga ketika ia mengalami perubahan atau dalam dunia akademik sering disebut termutakhirnya, tidak benar-benar tercerabut akarnya. Sehingga karya-karya yang lahir tetap otentik. Dunia pula akan melihat Melayu sebagai yang otentik, sebagaimana otentiknya India dengan film-filmnya yang tidak pernah menghilangkan tarian dan potret sosio-kulturalnya. Tetapi meski demikian, puisi-puisi yang kini hadir dari dan di tengah masyarakat Melayu, tidak sepenuhnya dapat dipandang sebagai yang telah tercerabut dari kebudayaannya, meski tidak secara tegas menegaskan wajah kebudayaan itu sendiri. 

Beranjak ke Malaysia. 

Saya mengenal dan membaca begitu banyak penyair Malaysia dan karyanya. Banyak pula yang saya idolakan, di antaranya adalah Ahkarim. Penyair Kedah yang pernah menjabat sebagai Pengurus Besar, Lembaga Pelabuhan Johor ini, sajak-sajaknya didominasi oleh tema sosial-keagamaan. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh kegiatannya sebagai seorang aktivis dakwah dan sekaligus aktivis kemanusiaan. Satu di antara 10 sajaknya menjadi judul dalam buku ini:

AKU PEJUANG 

Ya, aku seorang pejuang

sesungguhnya aku seorang pejuang

aku benar-benar seorang pejuang.

Ke utara aku berjuang

ke selatan aku berjuang

ke timur ke barat aku pasti berjuang.

Ya, aku seorang pejuang

aku tidak pernah takut

aku tidak pernah kecut

aku tidak pernah cabut

sebab aku seorang pejuang.

Aku pejuang tulen

sanggup korban apa saja

harta maupun nyawa

demi bangsa agama dan negara

percayalah, aku orangnya.

Aku telah berjuang mati-matian

ke tengah ke tepi tanpa henti

tapi satu perkara sebenarnya yang aku idami

mm… segan pula nak kubicara di sini

di kiri dan di kanan telah aku berdiri

duduk saja yang belum lagi

sebenarnya yang kucari adalah sebuah kerusi.

Sebagaimana saya utarakan di muka, sajak-sajak Ahkarim dalam buku ini pula tidak menjauh dari sosial-keagamaan. Perhatikan beberapa petikan sajaknya berikut ini.

Aku kutip

dari timbusan pasir

mungkin penambat perahu

sang nelayan beratus tahun lalu

juga mungkin sang kekasih kecewa lalu membunuh diri di situ

(TEMALI DI PANTAI SAKOM)

Tuhan, 

biar aku jadi air, bukan batu

jadilah aku air.

(AKU INGIN JADI AIR, BUKAN BATU)

Kata pulau

tolong, aku diintai

korporat bermata liar tanpa hati

seluruh aku pasti terobek.

(SAYANG PANTAI SANGEANG)

Selebihnya tiada

dan ia tidak upaya mengubah apa-apa

tika aku menapak jejak di tembok

aku dengar raungan sang isteri mencari suami 

yang mati saat menyusun batu

(KASIHAN, HANYA ITU MAMPUKU)

Hal yang khas dari sajak-sajak Ahkarim, selain kepeduliannya terhadap agama dan kemanusiaan, ialah kebiasaan menggunakan “Aku” dalam sajak-sajak yang umumnya menggunakan kata ganti orang kedua atau ketiga. Misalkan dalam sajaknya yang dimuat dalam buku Gaksa Volum 2, “Malayaku, Kekasihku”: “Tetapi malangnya aku Malaya”. Sehingga ada kesan sajak lirik dalam beberapa sajaknya yang sesungguhnya naratif. Tetapi dalam hal ini, tentu saja saya mengerti bahwa sajak lirik dan naratif tidak ditandai dengan kata ganti, melainkan ada atau tidak adanya cerita, alur, tokoh, dan sebagainya.  

Azmi Rahman, Pensyarah Kanan di Pusat Pengajian Pengurusan Industri Kreatif dan Seni Persembahan (SCIMPA), Kolej Sastera dan Sains, Universiti Utara Malaysia (UUM) adalah penyair Malaysia lainnya yang 10 sajaknya termaktub di dalam buku ini. Bentuk sajak-sajaknya agak berbeda dibanding umumnya sajak yang ditulis penyair Malaysia, tapi lumrah di Indonesia, yakni berbentuk paragraf, bukan bait. Meski demikian, sajak-sajaknya tidak sebagaimana sajak-sajak di Indonesia, yang jika bentuknya paragraf kecenderungannya adalah prosa liris, sajak-sajak Azmi Rahman tetap dengan wajah lirik, misalkan  sajak “Busuk” dan naratif, misalkan “Mesyuarat Perdana di Rimba”. 

Antara kesepuluh sajaknya, saya terkesan dengan sajak ini:

BERITA

Baca berita. Berita entah apa-apa. Baca berita. Berita dusta. Baca berita. Berita fitnah semata-mata. Baca berita. Berita suka-suka. Baca berita. Berita buta. Baca berita. Berita saja-saja. Baca berita. Berita orang kita. Baca berita. Berita hentam ikut suka. Baca berita. Berita sensasi saja. Baca berita. Berita kontroversi pula. Baca berita. Berita hampas belaka. Baca berita. Berita duka lara. Baca berita. Berita boleh jadi orang gila. Baca berita. Berita semua tak kena. Baca berita. Berita susah nak percaya. Baca berita. Berita dalam dilema. Baca berita. Berita tak tahu hala. Baca berita. Berita propaganda. Baca berita. Berita tak boleh percaya. Baca berita. Berita bikin pening kepala. Baca berita. Berita orang jahat dipuji melata. Baca berita. Berita orang baik dikata dusta. Baca berita. Berita jadi keliru pula. Baca berita. Berita siapa reka? Baca berita. Berita ada agenda. Baca berita.  Berita celaka. Baca berita. Berita baik ada makna. Baca berita. Berita apa? Berita tutup berita. Berita apa? Berita buka cerita. Baca berita. Berita orang bakar berita. Baca berita. Berita orang marah-marah orang tulis berita. Baca berita. Berita jadi lebih membara. Baca berita. Berita tular melata. Baca berita. Baca berita. Berita la la la. Baca berita. Berita pantun tentang berita.

Pagi hari menuju ke kota,

Tiba di kota membeli joran;

Bosan sudah baca berita,

Mari kita baca al-Quran.

Sajak yang pesannya kontekstual dengan masa sekarang, di mana hoaks menjadi makanan sehari-hari manusia yang kurang berpikir tersebut, mengingatkan saya kepada sajak-sajak nonsense Sutadji Calzoum Bachri, penyair Indonesia yang terkenal dengan sajak “Tragedi Winka Sihka”:

winka

                                           sihka

                                                    sihka

                                                             sihka

                                                                      sih

                                                                  ka

                                                            …

Ada keberanian bereksprimen dalam aspek kebahasaan dalam sajak “Berita”. Yang ianya tidak seberapa lazim di Malaysia. Seingat saya, penyair Malaysia yang agak berani bereksperimen dalam aspek kebahasaan adalah Puzi Hadi, Ibnu Din, dan Hazwan Ariff Hakimi. Hal tersebut, tentu layak diapresiasi. 

Penyair yang lainnya adalah Citranalis. Penyair perempuan Malaysia yang namanya sudah saya kenal sejak tahun 2011, sejak saya terlibat dalam portal resmi Persatuan Aktivis E-Sastera Malaysia (ringkasnya E-SASTERA) yang dipimpin oleh Prof. Dr. Irwan Abu Bakar. 

Sajak-sajak Citranalis, seperti sebuah catatan perjalanan yang terus berlaku, dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu negeri ke negeri yang lain. Antaranya: 

/i/

Menyusuri sungai

Menam Chao Phraya

makan malam

kenangan.

(KEMBARA THAILAND)

/ii/

Kedah Darulaman

tarik pelancong

puncak Jerai

kunjungan.

(GUNUNG JERAI)

/i/

Kunjungan pembeli

tawar menawar

Pekan Rabu

pilihan.

(PEKAN RABU)

/i/

Sumpahan Mahsuri

mati dibunuh

mangsa fitnah

lagenda.

(PULAU LANGKAWI)

Sejauh pengamatan saya, Citranalis berhasil mencitrakan dirinya sebagai penyair yang melahirkan sajak-sajak sederhana: sajak yang tidak terlalu sibuk dengan eksperimen kebahasaan. Konsistensinya merakit bahasa dengan kata yang tidak sulit dicerna membuat sajak-sajaknya terasa mengalir dengan tenang dari hilir hingga ke hulu, seperti juga sajaknya ini: 

MAKNA SEBUAH RINDU

Secangkir rindu

yang kita hirup bersama

tika bulan berselindung malam

menutupi wajah

adalah sebuah atmajiwa

yang mengalir damai

berbisik sejuta rasa bahagia

aromanya meresap

ke ruang-ruang kosong

diam meratah sepi.

Selain Citranalis, penyair perempuan Malaysia yang karya-karyanya mewarnai buku ini adalah CT NURZA. Sajak-sajak pemenang Hadiah Penghargaan Sayembara Menulis Puisi/Cerpen PKPP-DPMP 2017/2018 (Kategori Cerpen) anjuran Dewan Persuratan Melayu Pahang ini,  memiliki jelajah tema yang cukup luas. Mulai dari puisi kegelisahan eksistensial pribadi dan komunal, hingga sejarah dan peradaban. 

Perhatikan beberapa penggalan sajak-sajaknya berikut ini.

aku senang menjadi pelimbang

merantau jauh ke perkampungan pengalaman

sendirian berjalan membawa haluan

(PELIMBANG)

Sepantas mana kita berlari

sebijak mana kita menghindari

sejauh mana kita bersembunyi

mengelak diri daripada kematian

kita tetap diburu maut

(KITA DAN KEMATIAN)

Hanya kerana nila nan setitik

lantas rosaklah susu putih sebelanga

menjadi cemar warna bertukar rona

(NILA NAN SETITIK)

Demikian ombak sesekali menerjah

laut yang tenang merubah pandang

ombak gergasi datang berhambatan

memanjat tebing dan hotel mewah

menghempas musnah bangunan agam

sehingga bumbung-bumbung hanyut

ditenggelami air

dan nyawa pun direnggut ganas.

(TSUNAMI BANTEN MENJENTIK NUBARI)

Dan ilalang pun berdansa

antara danau dan gunung

membawaku melontar pandang

menyaksikan bunga-bunga kering

terawang-awang berterbangan

melayah ditiup angin perubahan

tatkala 9 Mei 2018 bertamu

(DANSA ILALANG)

CT NURZA juga termasuk penyair yang cukup kental meracik-ramukan unsur-unsur ke-Melayu-an di dalam puisi-puisinya, misalkan di dalam dua puisi ini:

Bencanalah tiba tiada terduga,

terpisah diri dari keluarga,

tsunami melanda tanah berongga,

rumah nan elok patahlah tangga.

Penyu gergasi dihempas gelombang,

terdampar lesu diangkat orang,

beratus kilo berat ditimbang,

di Selat Sunda tampak cengkerang.

(Syair: TSUNAMI SUNDA)

Ada pun tenang tampak di wajah,

riak di hati ombak menerjah.

Ada pun al-Quran kalamnya Allah,

jarang dibaca sering tersalah.

(ADA PUN)

Puisi “Syair: Tsunami Sunda” menghadirkan napas syair yang ketat persajakannya dan “Ada Pun” menghadirkan napas gurindam. 

Penyair Malaysia pada halaman selanjutnya diisi oleh Ibnu Din Assingkiri. Seorang penyair yang namanya tidak asing di kalangan penulis siber di Indonesia. Sebagai mentor penulisan puisi bagi persatuan penulis Angkatan Sasterawan Nasional Kedah (ASASI) yang menerima beberapa Anugerah HESCOM (Hadiah eSastera.com): Pemadah Prolifik (2011), Pemuisi Teraktif Puisi Tradisional (2011), Anugerah Pengkarya Prolifik (2013), Tanka Melayu Alam Siber (2014), dan Soneta Melayu Alam Siber (2014), kemampuannya di dalam menulis sajak tidak diragukan lagi. Ia tidak saja pandai menulis sajak dengan memberi napas ke-Melayu-an yang kental, melainkan juga sajak bebas yang gahar pada suatu kumpulan karya tertentu.

Dalam kaitannya, dalam Aku Pejuang ini, Ibnu Din Assingkiri menghadirkan sajak-sajak yang lebih ke-Melayu-an. Perhatikan beberapa penggalan karyanya berikut ini: 

 (i)

Tudung celepa sudahlah bengkok,

Boleh elokkah kalau dikikir;

Buatlah apa belanja rokok,

Baik sedekah kepada fakir.

(ii)

Di batang buruk ayam berkokok,

Lepas berkokok mengasah taji,

Sungguhlah teruk hendak merokok,

Baik ditokok simpanan haji.

(SUSAH MEROKOK)

Di jalan raya bukan pusara,

hanya penghubung ke hala tuju,

muda sebaya hati gelora,

nyawa disabung sukakan laju.

Laju terlalu puncanya sikap,

mangsa dilanggar jadi sengsara,

buang dahulu gopoh cemerkap,

jangan digegar rasa juara.

(CERITA DI JALAN RAYA)

Sayang Melayu berlemah-lembut,

Hingga kepalanya ditarik rambut.

Sayang Melayu gemar beralah,

Menuntut haknya dikata salah.

Sayang Melayu terlalu bersopan,

Walau dicerca masih bertahan.

(Gurindam: SAYANG MELAYU)

Kalau tidak dianggap berlebihan, Ibnu Din Assingkiri adalah penyair multilatenta. Ia mampu menulis dengan begitu banyak genre, gaya, dan cara. Ia dapat menulis haiku, tanka, syair, gurindam, sajak bebas, sajak berpola 517, dan lain sebagainya. Karya-karyanya seperti jembatan yang baik di antara tegaknya dunia modern dan khazanah tradisi Melayu yang kaya raya. 

Penyair Malaysia pada halaman terakhir adalah M.S. RINDU. Penyair kelahiran 22 September 1942,  yang pernah menjadi pensyarah Antropologi dan Sosiologi  UKM (1978-2003) ini, napas kekaryaannya tidak ada habisnya.

Sebagai orang yang telah melintasi sejarah kehidupan manusia dalam jangka waktu yang panjang, sajak-sajaknya kerap hadir sebagai suatu perenungan terhadap apa yang dahulu ada dan apa yang kini berlaku. Hal tersebut kadang kala diwarnai kegelisahan dan kadang kala diwarnai dengan suka ria. Di luar itu, hal-ihwal perbedaan kebangsaan dan manusia di antara batas-batas wilayahnya juga menjadi tema-tema utama di dalam sajak-sajaknya. Perhatikan penggalan-penggalan sajaknya berikut ini.

Entah bagaimana

ia bertemu seorang raja

yang sudah agak tua

dan seorang duda.

Mereka berbeza bangsa

dan berlainan agama

dan untuk berkahwin

si ratu mesti  mengikut agama si raja.

(SEORANG RATU)

Cintaku jauh di kota

kerana ia  lama menetap di kota

dan telah jadi gadis kota

meskipun berasal dari desa.

Aku tidak boleh mengharapkan

ia masih suci

mengikut ukuran lama

kerana di kota

ia bebas berkawan dan berkasih

dengan siapa saja.

(CINTAKU JAUH DI KOTA)

Abang di Bangi adik di Medan

Orang Padang pulang ke Padang

Meskipun  kita berjauhan

Cintaku hanya kepada abang.

Abang di Bangi adik di Medan

Tanjung Pura tanahnya rendah

Walau halangan seluas lautan

Cintaku tidak akan berubah.

(CINTA GADIS MEDAN)

Tidak banyak bandar seperti bandar ini

sebuah bandar baharu

yang  majoriti penduduknya  bumiputera

dan banyak pusat niaga

di mana peniaganya

juga  bumiputera.

(BANDAR MELAYU)

Nuansa pantun dan syair di dalam puisi-puisi MS Rindu adalah yang tidak dapat ditampik. Karenanya, sebagaimana telah saya singgung di muka, saya sering memperhatikan karya-karyanya, seperti berdiri di perbatasan, antara setiap hal yang mungkin dan tidak mungkin bergerak ke arah masa depan dan apa yang telah ditinggalkan dari waktu-waktu terdahulu. 

Dan pada halaman akhir, saya hadirkan satu-satunya penyair Indonesia di dalam buku ini, sebab beberapa penyair Indonesia telah ada pada buku-buku sebelumnya. Penyair tersebut bernama Novia Rika Perwitasari. Perempuan berasal dari Malang yang pernah menjadi delegasi Indonesia dalam “World Festival of Youth & Students 2017 di Rusia karena kegiatannya di bidang sastra. 

Sajak-sajaknya di dalam Aku Pejuang berbicara tentang tanah, hidup, dan kehidupan dalam pengertian kultural. Ini menarik, karena di Indonesia, pandangan bahwa karya sastra tidak perlu menjadi pencatat kenyataan dan tidak perlu menjadi perawat adat cukup dominan, tapi seorang penyair muda memilih memijakkan kakinya pada pijakan itu. Meski, ia tidak lantas menjadi kaku karenanya. Perhatikan penggalan sajak-sajaknya berikut ini. 

Kita tiba pada tanah yang tak bersuara

yang mendekap kehidupan sedekat kematian

direkat debu-debu yang terlahir

dari degup jantung dan kesunyian di antaranya.

Kau dengar nama siapa?

(TANAH KEHIDUPAN)

Terkadang Tuhan menyukai permainan

membolak-balik hati dan garis tangan

karena Ia tahu kita akan terlahir di akhir kematian

melalui pilihan yang kita tancapkan sendiri

di hati dan perbuatan.

(TUHAN DAN PILIHAN)

lautan, hutan, bukit pasir, dan rerumputan.

Aku menguasai kesunyian yang dijanjikan

oleh langit pada hatiku yang tak tahu adat,

memanggil semua cahaya putih remang

agar menyala dan tak membiarkan arwah-arwah pudar

doaku akan datang untukmu

(ARWAH)

III

Membaca puisi-puisi di dalam buku ini, membuat keyakinan saya semakin kuat, bahwa kebudayaan Nusantara yang telah menjadi pecahan-pecahan, tidak saja kaya-raya, melainkan memiliki potensi besar menjadi wilayah dengan hasil karya sastra yang berkarakter dan dunia akan mengenal itu sebagai sesuatu yang berharga. Hanya saja, memang persoalan kita kini, adalah apa, siapa, bagaimana perumusannya. 

Terlepas dari itu, buku ini adalah buku yang layak dibaca oleh para peneliti bahasa Melayu untuk menemukan kerangka rumusan kesusastraan Melayu di masa mendatang. Sebab teori sastra mesti mengabdi kepada karya, bukan karya yang terus menerus harus memantas-mantaskan diri dengan teori yang ada. 

Terakhir sekali, saya ingin mengucapkan tahniah kepada Prof. Dr. Irwan Abu Bakar, karena telah menyelenggarakan penerbitan buku yang penting ini. 

Cilegon, Banten, 27 Maret 2020.

PUISI

1. ABDULLAH TAHIR


BIODATA. Nama sebenar Hj Abdullah Hj Mohd Tahir. Lahir pada 26 Disember 1946 di Kampong Danau, Tutong, Brunei Darussalam. Sekarang menetap di No. 269, Kampong Penapar Danau, Tutong. Jawatan terakhir sebelum bersara pada tahun 2002 sebagai Penyusun Kegiatan Luar, di Jabatan Ko-Kurikulum, Kementerian Pendidikan. Mula bersekolah di Sekolah Melayu Danau, Tutong sehingga darjah V dan melanjutkan pelajaran ke darjah VI di Sekolah Melayu Ahmad Tajuddin, Kuala Belait seterusnya menamatkan persekolahan dalam darjah VIII di Sekolah Melayu Muhammad Jamalul Alam, Bandar Brunei. Pada Ogos 1962 memasuki kerjaya guru menjadi Guru Pelatih dan seterusnya mengikuti kursus di Maktab Perguruan Melayu Brunei pada tahun 1963 sehingga 1965. Bertugas dibeberapa buah sekolah menengah dan terakhir di Sekolah Menengah Melayu Ahmad Tajuddin sebelum dihantar mengikuti Kursus Bahasa Melayu di Universiti Malaya, Kuala Lumpur pada tahun 1973. Semasa menjadi Guru Besar dihantar mengikuti Kursus Pentadbiran di Brighton Polytechnic England pada tahun 1978. Sekarang bergiat dalam Majlis Perundingan Kampong dan Mukim serta di Badan Kesenian dan Kebudayaan (B2K) Daerah Tutong dan menjawat jawatan Pmk Ketua Kampong Danau, Tutong. Berkarya sejak tahun 1964 dalam bidang sajak, cerpen, drama radio dan drama pentas serta beberapa buah kertas kerja bagi kegunaan kegiatan-kegiatan persatuan, badan-badan dan  Majlis Perundingan Kampong. Karya penulisan sajak dan cerpen serta sandiwara kebanyakannya termuat dalam akhbar Salam, Bintang Harian, Radio Brunei, Majalah Bahana dan Media Permata. Karya-karya puisi beliau diterbitkan dalam beberapa buah antologi puisi bersama terbitan DBP Brunei yang terawal antologi Kosovo Bilakah Langitmu Kembali Biru (DBP 2000) dan terakhir antologi Kemercu Emas – Antologi Sajak Penulis-Penulis Daerah Tutong (DBP, 2011). Manakala terbitan Pusat Da’wah Islamiah yang terawal antologi Puisi Hidayat III (Pusat Da’wah Islamiah, 2005), Puisi Hidayat IV (Pusat Da’wah Islamiah, 2009), Puisi Hidayat V (Pusat Da’wah Islamiah, 2011), terakhir antologi Puisi Hidayat VI (Pusat Da’wah Islamiah, 2013). Antologi puisibeliau bersama penulis luar negara ialah Antologi Puisi Kepada Sahabat (DBP Cawangan Sabah, 2013), Antologi Puisi Lentera Sastra I, (Indonesia: Komunitas Puisi Bait Kata Suara, 2013) terbitan Sembilan Mutiara Publishing Trenggalek, Lentera Sastra II, Antologi Puisi Lima Negara, (terbitan Sambilan Mutiara dan Lentera Internasional 2014 – Indonesia).Antologi Puisi ASEAN Doa Seribu Bulan (terbitan Perkumpulan Rumah Seni Asnur Mei 2018) dan Antologi Puisi GURU Tentang Sebuah Buku dan Rahasia Ilmu, Gerakan Akbar 1000 Guru Asean Menulis Puisi (terbitan Perkumpulan Rumah Seni Asnur, September 2018).

PUISI

1.01. Menanam Derhaka

1.02. Hilang Seludang

1.03. Kebobrokan

1.04. Hikmat Dan Rahmat

1.05. Bisik Bicara

1.06. Bicara Berkonon Dan Berlapis

1.07. Garis Akhir

1.08. Faktor Umur

1.09. Berfenomena

1.10. Kita Atau Sahabat

1.01.

MENANAM DERHAKA

Saat ada suara yang meraung sakit

kita masih bisa bicara soal keamanan

dan kemakmuran

di lintasan angin berbau bunga

yang wanginya basah di dedaun hijau

sedang di sana masih belum usai

dengan ribuan persengketaan

hanya pada sekeping tanah gersang

yang telah dimamah oleh dentuman bom dan mortar

daging dan tulang tumpah bersama darah

dan air mata

kabut oleh debu-debu yang pekat

sebuah saksi sahih

derita dan sengsara petanda

mereka masih setia pada tanah airnya

dan kita yang bangga dengan kemakmuran

yang berketurunan

masih sahaja ada yang menanam derhaka

pada bangsa dan negara.

27 Januari 2019.

1.02.

HILANG SELUDANG

Silapnya kita hilang seludang

saat rambu-rambu hari yang semakin kelabu

kita terheret sama menganyam waktu

membingkai sikap dan sifat

mengusung mayang jauh ke perdu

rentak dan gendangnya kita sahut

tanpa melihat logik dan fakta

wangian yang kita nina bersama perkasanya bangsa

semakin cair yang tidak lagi membekas tumpahnya

walau hati sejernih air embun di waktu subuh

akhirnya kita pun berkeriauan mencari punca

yang sudah hilang peradaban dan nilainya

semakin terhakis oleh tragisnya

kita menyuburkan amarah menebar fitnah.

16 Januari 2019.

1.03.

KEBOBROKAN

Siapakah antara kita memberi simpati

pada pergolakan yang melingkari diri

di sana sini telah tular dengan bermacam cerita

dari yang sebaik merangkul pahala

kepada yang seburuk memikul dosa

adakah antara kita hanya menidakkan

segala kebarangkalian yang mungkin menjerat kehidupan

atau akur saja pada setiap yang memedihkan mata dan hati

saat melihat dan menyaksikan segala kebobrokan

sehingga kita terpasung oleh kehinaan

yang memalit nama bangsa dan ugama

negara menjadi bola yang disepak terjang

kita yang dulunya aman dan tenteram

terpaksa menelan segalanya

meski menyangkar di tenggorokan

dan tiada apa kita pada mata mereka.

8 Januari 2019.

1.04.

HIKMAT DAN RAHMAT

Kiranya hujan tidak teduh

mestikah aku terus menahan ketar

yang dinginnya menulang

November ini aku sering tergundala

hujan tidak menentu membuatkan aku kecundang

pada program dan janji yang disetujui

siapalah kita yang berani menongkah janji-Nya

kerana setiap yang berlaku ada dengan rahsianya

saban hari kuterima perkongsian ramalan cuaca

yang membawa amaran peringkat kuning

meminta kita sentiasa berwaspada

setiap butir hujan yang jatuh ke bumi

akan adalah berita dan ceritanya

setiap hembusan angin dan ribut

akan terdengarlah derita dan sengsaranya

demikianlah bila Dia menurunkan sesuatu

pastilah ada hikmat dan rahmatnya.

18 November 2018.

1.05.

BISIK BICARA

Bilakah terakhir kali kita berbisik

bicara tentang dunia semakin sempit

terpunah oleh tangan-tangan rakus

mengisi agenda tamak sendiri

suara tenat kita semakin jauh

dari sidang keramat

dan tidak siapa yang gemar mendengar

pembelaan kepada mereka yang tangisnya berdarah

tidak siapa pun terusik hati

dan begitulah mereka dengan laranya

bagaikan nasib dan takdir lepas dari genggaman

petandakah kita di hujung tanduk

manusia bertaring sudah tidak berbisa

tiada siapa kecut menentang matanya

dan kita terus berbisik dan berdoa

kerana kita umat Muhammad

doalah senjata ampuh

mententeramkan jiwa

sehingga masa itu tiba.

8 September 2018.

1.06.

BICARA BERKONON DAN BERLAPIS

Kita adalah kafilah-kafilah

hanyut di padang pasir tandus

gagal mencari arah ke dermaga hayat

keberkatan dan rahmat-Nya

bagai tidak bertapak memayungi diri

jauh dan tersasar dari doa dan harapan.

Salam dan huluran tangan

nada dan getarnya hambar dan tawar

sliaturrahim yang dizahirkan sudah hilang sarinya

kerana di dalamnya berserabut dan berhajat

pada wajah-wajah pun serinya bertimpalan 

goyah dan rapuh.

Kita adalah kafilah-kafilah kecundang

termomok oleh rasa bangga diri

dalam bicara yang berkonon dan berlapis

cuba meyakinkan kitalah orangnya

yang niatnya kerana Dia.

 22 Jun 2018.

1.07.

GARIS AKHIR

Saat mata hati tertutup rapat

tiada lagi kudrat 

sudi menjengah dan menyapa

camar-camar liar menyungsung angin

kini galak meninggalkan lapangan

bagaikan satu demi satu mencalit warna

mengikis panorama pantai

berbicaralah pada laut dan ombak

kenapa mesti pantai dan daratan menjadi mangsa

hanya dalam beberapa waktu merobah makna

pengkarya ketandusan ilham

mengukir pelangi di kanvas hayat

sudahnya

siapalah mampu menongkah takdir

siapalah jitu menyanggah kuasa-Nya

laut dan ombak

pantai dan daratan

tidak selamanya indah dan damai

garis akhir akan hadir jua 

tanpa diketahui bila.

17 Jun 2018.

1.08.

FAKTOR UMUR

Sejak mengenali diri

laluan yang panjang menuju senja

pernah menempuh onak dan duri

bahkan menikmati haruman pagi

dipenuhi bunga dan bintang malam

yang kedipannya di sisi bulan

melekakan kehidupan

meski suatu saat dan ketika

diri ini digoncangi oleh sakit dan derita

apa lagi dibebani oleh tugas 

kerja yang mencabar 

ditekuni oleh rasa tanggung jawab

tidak sedikit pun merasa perubahan diri

apakah diri ini masih remaja

atau muda belia dan dewasa

atau apakah sudah tua

hati dan rasa masih saja tidak mengalah

kerana dilakari oleh ego yang memamah diri

tau-tau dalam berlari dan merangkak

diri ini telah dikongkongi oleh usia

berengsot menggalas angka

dengan nisbah yang menaik

andai diri ini tersasul melakukan sesuatu

dalam neraca yang bertentangan

sedialah mengaku

itu bukan kesilapan tetapi ianya faktor umur.

 7 Jun 2018.

1.09.

BERFENOMENA

Sungai tak pernah jemu

membawa sampah dan saraf

ke hulu atau ke hilir

sesekali airnya melimpah

dan sampah saraf pun menepi

tebing-tebingnya terpenuhi dengan kotoran

alami sungai dan tebing pun tercemar

hilanglah keindahannya

musim tengkujuh datang

sungai tak mampu bertahan

kederasan air yang naik tiba-tiba

memangsakan segala yang ada

banjir terjadi – adalah berita

memusingkan fikir dan tindakan yang berwajib

maka akan hadirlah mereka dengan segala upaya

membantu mana yang terjejas

menghulurkan bantuan berupa makanan dan kemudahan

memindahkan ke tempat selamat

berkampung dan bermalam sehingga keadaan usai

badan sukarelawan demikian tugasnya

pihak berwajib begitu pulalah tanggungjawabnya

itulah fenomena alam yang terjadi mengikut waktunya

tanpa isyarat dan jadual pasti

menjadikan yang terjejas dan terlibat pun berfenomena

maka akan adalah usul dan cadangan

maka akan adalah yang geram dan marah

maka akan adalah yang tak puas hati

maka akan adalah yang mengadu dan merayu

setelah berhempas pulas menanganinya

maka akan adalah waktunya fenomena diam

segalanya berjalan seperti biasa

segala yang tegang sudah dilupakan

segala usul dan cadangan dimalamkan

segala aduan dan rayuan semacam usai

sehinggalah fenomena banjir kembali melanda.

3 April 2018.

1.10.

KITA ATAU SAHABAT

Bukan mudah melenyapkan kenangan

selagi ia mengumbi di puri-puri hati

terungkai cerita bila kenangan mengimbau

bagai terpampang di kanvas mata

peristewa silam bagaikan baru

lalu menyangkutlah soal budi dan jasa

kalau rajin menelusuri dan memisi

ada juga kenangan mengusik jiwa

dan kita bukanlah menidakkan jasa dan budi

walau terlihat berlaku selamba

kitalah pengamanah setia

bahaya andai ditunjukan diri dan wajah

dengan menghadirkan nya pengenang budi

kerana bukan sedikit yang minta dibalas

yang mendatangkan takrif berbeza

tak kurang pula

kerana budi jasad tertawan

biarlah kenangan dan budi sejalan ikhlas

kiranya terimbau cerita duka berbau khianat

segeralah memohon kemaafan

kerana jalanan hidup yang cuma sedikit

senja sentiasa hadir membawa takdir

kalau bukan kita tentunya sahabat 

yang kita gunjingkan baik dan buruknya.

31 Mei 2018.

2. ADI WAHAB

BIODATA. Adi Wahab (atau Haji Duming @ Domeng Bin Haji Abdul Wahab) dilahirkan pada 12 Jun 1948 di Kampong Limau Manis di Daerah Brunei dan Muara, Negara Brunei Darussalam.  Pekerjaan awal sebagai guru, kemudian bertukar dan bertugas di beberapa buah Jabatan Kerajaan dan Kementerian. Jawatan terakhir sebelum bersara sebagai Setiausaha Sulit di Kementerian Hal Ehwal Dalam Negeri.  Antara karya yang pernah diterbitkan: Keberanian (antologi perseorangan  sajak yang diterbitkan oleh DBP, Brunei). Juga Kita Terus Melangkah dan Maka Terbanglah Bangau (kedua-duanya antologi perseorangan terbitan Hadiwijaya Enterprise).  Antologi bersama Hidup Ibarat Sungai (antologi cerpen terbitan DBP, Brunei), Si Putih (antologi cerpen kanak-kanak terbitan DBP, Brunei), Pakatan (antologi sajak terbitan DBP, Brunei), Puisi-puisi Darussalam (antologi bersama sajak terbitan Syarikat Mega, Brunei), Pancaran Sajak (antologi bersama sajak terbitan di Singapura), Mengenang R. Hamzah Dua  (antologi bersama sajak, diterbitkan Perwila, Sabah), antologi bersama sajak Amas Tampawan dan beberapa buah lagi antologi bersama sajak terbitan dari dalam dan luar negara.  Sepanjang berkarya, beliau juga memakai nama pena Tinta Hijau, M. Hadiwijaya, dan M. Adi.

PUISI

2.01. Rezeki Pagi
2.02. Sesebuah Kehidupan
2,03. Kubuka Lembaran Baharu
2.04. Perjalanan
2.05. Tanka: Merigis Kenangan
2.06. Tanka: Tunaikanlah
2.07. Haiku: Krakatau
2.08. Haiku Menanti Musim
2.09. Haiku: Masjid
2.10. Sonian: Ketam

2.01.

REZEKI PAGI

Benarlah bahawa
sesungguhnya rezeki itu
ada di mana-mana
dan kita
tetap mensyukurinya
dengan apa yang ada
dan seadanya
meskipun demikian
ini bukanlah bermaksud
rezeki kais pagi
makannya pagi
kais petang makannya petang
tetapi ianya adalah
hasil titik peluh
dari tulang empat kerat!

28 November 2014.

2.02.

SEBUAH KEHIDUPAN

Kehidupan itu
adalah ibaratnya
beting di tengah laut
meski ombak memukul ganas
ia tetap bertahan
dan terus bertahan
dengan tiada goyah
dan begitulah tamsilan
sebuah kehidupan
golongan bawahan.

19 Mac 2014.

2.03.

KUBUKA LEMBARAN BAHARU

Hari ini kubuka lembaran baru
sebuah catatan pada secarik kertas
yang telah lusuh
untuk mengguris seungkai nukilan
yang mungkin ianya
tidak punya apa-apa makna
waima bagaimanapun
catatan itu tetap kunukil
dari bait ke bait
meski tidak ada yang mengerti
tetapi ketahuilah sesungguhnya
ia bergantung kepada keyakinan
yang ada pada diri
kerana pada suatu ketika nantinya
ia akan memberi erti kepada mereka
yang padanya punya harga diri
dan keyakinan yang hakiki.

01 Januari 2015.

2.04.

PERJALANAN

Perjalananku yang biasa
pada jalan-jalan
yang sentiasa kulalui
setiap pagi masih terasa sepi
dan rumput-rumput di bahunya
memanjang menyakitkan mata
seolah-olah tidak lagi dipeduli.

29 September 2016.

2.05.

Tanka:

MERIGIS KENANGAN

Menanti waktu
kuhayati indahnya
sungai mengalir
merigis kenanganku
dan aku bersamanya.

Mangrove Paradise, 27 Disember 2018.

2.06.

Tanka:

TUNAIKANLAH

Pagi yang sepi
unggas masih di sarang
fajar menyingsing
subuh belum beredar
tunaikanlah solatmu.

23 Januari 2019.

2.07.

Haiku
KRAKATAU

Anak Krakatau
muntahkan lahar panas
menelang korban.

31 Disember 2018.

2.08.

Haiku
MENANTI MUSIM

Kapal berlabuh
menanti musim teduh
mencari rezeki.

Labuan, 19 Januari 2019.

2.09.

Haiku

MASJID

Masjidku indah
tersergam dengan megah
negara zikir.

23 Januari 2019.

2.10.

Sonian
KETAM

Mungkin ketam itu
untuk diriku
misalannya
dibangsi.

14 Februari 2019.

3. AHKARIM


BIODATA. Ahkarim, nama pena bagi Abdul Halim b A Karim, berasal dari Langgar, Alor Setar, Kedah. Mendapat pendidikan di Sultan Abdul Hamid College, Alor Setar; ijazah BA dari Universiti Malaya pada tahun 1971; ijazah MSc (Organisation Development) dari Sheffield Harlem University (UK) pada 1986. Berkhidmat dalam Perkhidmatan Tadbir Dan Diplomatik (PTD) di beberapa Jabatan Persekutuan (Kementerian Pelajaran, Perbendaharaan Malaysia, INTAN, Pengarah JPJ Negeri Kedah, dan jawatan terakhir sebagai Pengurus Besar, Lembaga Pelabuhan Johor, sehingga tahun 2001). Berkecimpung dalam penulisan kreatif dalam genre cerpen dan puisi selepas bersara. Telah menghasilkan sebuah kumpulan cerpen Mou Sumi dan sebuah novel kanak-kanak Sir Khatim terbitan eSastera Enterprise. Beberapa buah cerpen tersiar di pelbagai media dan dalam beberapa antologi bersama. Juga pernah memenangi beberapa sayembara penulisan cerpen dan puisi. Tiga buah novel: Diari Lusuh Seorang PTD, Terbang Tinggi, dan Pengakuan Seorang Tablighi (Confessions of a Tablighi) sedang dalam proses penerbitan. Pada tahun 2016, beliau memenangai anugerah tertinggi dari E-SASTERA, iaitu anugerah Sasterawan Alam Siber (SAS).

PUISI

3.01. Aku Pejuang
3.02. Temali Di Pantai Sakom
3.03. Aku Ingin Jadi Air, Bukan Batu
3.04. Sayang Pantai Sangeang
3.05. Kasihan, Hanya Itu Mampuku
3.06. Tuah-tuah Kecil – 1
3.07. Nikmat Kecil
3.08. Tidak Turut Ke Medan Juang
3.09. Tembolok @ Tengkolok @ Keris – Golok @ Goblok
3.10. Pemberi Sembunyi Tangan

3.01.

AKU PEJUANG 

Ya, aku seorang pejuang
sesungguhnya aku seorang pejuang
aku benar-benar seorang pejuang.

Ke utara aku berjuang
ke selatan aku berjuang
ke timur ke barat aku pasti berjuang.

Ya, aku seorang pejuang
aku tidak pernah takut
aku tidak pernah kecut
aku tidak pernah cabut
sebab aku seorang pejuang.

Aku pejuang tulen
sanggup korban apa saja
harta maupun nyawa
demi bangsa agama dan negara
percayalah, aku orangnya.

Aku telah berjuang mati-matian
ke tengah ke tepi tanpa henti
tapi satu perkara sebenarnya yang aku idami
mm… segan pula nak kubicara di sini
di kiri dan di kanan telah aku berdiri
duduk saja yang belum lagi
sebenarnya yang kucari adalah sebuah kerusi.

31/10/18.

3.02.

TEMALI DI PANTAI SAKOM

Aku kutip
dari timbusan pasir
mungkin penambat perahu
sang nelayan beratus tahun lalu
juga mungkin sang kekasih kecewa lalu membunuh diri di situ
mungkin melilit perahu Pak Chu mahu menawan merebut Patani kembali.

Pengikat itu kini walau luntur
aku kutip basuh bawa kembali
mungkin di seberang ini
cerita baru terkisah
tentang Segenting Kera
tidak mahu di kerat.

Coco One Villa, Pantai Sakom, Songkhla, Thailand, 21/04/17.

3.03.

AKU INGIN JADI AIR, BUKAN BATU

Tuhan,
biar aku jadi air, bukan batu
jadilah aku air.

Kerana air mengalir, batu kaku
kerana air membentuk, batu dibentuk
kerana air mengukir, batu diukir
kerana air lembut, batu berlumut
kerana air mencurah, batu menyerah
kerana air kembara, batu menunggu
kerana air membasuh, batu dibasuh
kerana air menyapa, batu kelu
kerana air mengusap, batu menghempap
kerana air mengwuduk, batu istinjak.

Tuhan, jadilah aku air
kerana air hidup, batu mati
kerana air itu aku!

Assyajarah, 3007.

3.04

SAYANG PANTAI SANGEANG

Sisa terdampar
dibantai ombak
membawa cerita lara
mahu diceritera kepada pantai
mungkin kisah dia dipenggal
dibakar dihumban.

Kata pasir penerima sisa
aku mahu memilih
hanya penyu menggali dadaku
telur nya disembunyi di rusukku.

Kata sisa merayu
sabarlah pantai
esok lusa ada pariwisata
mengumpul membakar kami
membersih dadamu.

Kata ibu penyu
jagalah telurku
akan lahir seratus warisku
dari dada putihmu
jika sisa berlalu.

Kata pulau
tolong, aku diintai
korporat bermata liar tanpa hati
seluruh aku pasti terobek.

Pantai Sangeang, Cilegon, Banten, 16/12/17.

3.05.

KASIHAN, HANYA ITU MAMPUKU

Selebihnya tiada
dan ia tidak upaya mengubah apa-apa
tika aku menapak jejak di tembok
aku dengar raungan sang isteri mencari suami
yang mati saat menyusun batu
rebah lalu ditanam jasad kurusnya di tangga itu
di bawah tapak kakiku.

Aku bermewahan dengan kasihan
fikirku itu kekayaan
rupanya aku mempamer kemiskinan
kerana sejuta isteri menangis
sejuta ibu meraung
sejuta anak teryatim
buat memuas nafsu penguasa
membina beribu batu tembok
menggali selaut tasik
dan aku hanya menghulur kasihan
walau aku punya kemahuan
tanpa upaya menahan.

Beijing, 19/3/18.

*Terilham selepas berkunjung ke Tembok Besar Cina dan Istana Musim Panas.

*Terilham pula apabila teringat kata-kata Pramoedya Ananta Toer lewat novelnya BUMI MANUSIA: ‘kasihan hanya perasaaan orang berkemahuan baik yang tidak mampu berbuat).

3.06.

TUAH-TUAH KECIL – 1

Mereka sedang diajar bermain keris telanjang
dibiar tikam-tepis di pasar dagang
silat menyepak terajang melutut menendang
pencak entah bunga entah pulut tanpa serunai dan gendang.

Tersepak Dang Ijah yg sedang meraut lidi penyapu
tersiku Pak Lentok yg sedang membelah kayu
tersodok rusuk Tok Hijau yg sedang mengendur lembu.

Tuah-Tuah Kecil
diajar pantun dan syair
merapu mantera meracau serapah
memuji memuja sekaki payung
menyembah sujud sepundak mahkota.

Tuah-Tuah Kecil
diberi persalin
diikat tanjak tengkolok
dipulas songket sampin
menggalas tombak cokmar
berarak pembesar di pintu keraton.

Tuah-Tuah Kecil
sekali-sekala diajar bermain congkak
melayang wau meniup serunai
bersepak raga dengan anak-anak gundek.

Tuah-Tuah Kecil
memencak gagah
sujud menyembah.

As-Syajarah, 16/6/18.

3.07.

NIKMAT KECIL

(Buat Tanika*)

Apabila sekali tarik badannya terus bergegar
berlagu serata dan lembut
lalu lantas melompat merangkul.

Nikmat kecil kami nikmati bersama
sambil berdansa menapak
melangkah berangkulan
merata permaidani bumi Pencipta.

Nikmat kecil itu sebenarnya besar
apabila seratus kali kutarik
badanmu terus kaku
lalu hariku berlalu tepu
tanpa rangkulan panas badanmu.

As-Syajarah, Kuala Nerang, 13/1/18.

*sebuah mesin rumput murah berusia 13 tahun

3.08.

TIDAK TURUT KE MEDAN JUANG
(buat anakanda Rozan Azen Mat Rasip)

Aku tidak turut berperang
bukan kerana ladang tamarku sedang menguning buahnya
bukan kerana dihasut Abdullah Al Munafiqun dan kabilahnya
bukan kerana diminta Nabi menjaga kota
bukan kerana uzur apa-apa.

Mujurlah
kita menang juga perang itu
walau tanpa genderang dan pedang
mujur maruah tertebus
walau tanpa Khalid Al Walid di hadapan
walau Hamzah syahid dilapah
mujur kerana seorang pemuda yg tangkas itu
bermantera sentiasa: “Di depan duri di belakang api, Kita tidak boleh berundur lagi”
persis Mush’ab bin Umair
walau tangan kanannya dipangkas
disambar panji-panji dengan tangan kiri
tangan kiri dipangkas
didakap erat di dada
namun undur pantang sekali
walau tesembam mencium bumi.

Dan aku yang gagal turun di medan
kini berperang dengan diri
bertanya buat mengabsah pendirian
kenapa dibiar pemuda sendirian
aku bukan pun Kaab bin Malik
sesal menunggu kata keampunan
sekadar situa sering fikir:
tentang martabat dan hebat diri.

As syajarah, 20/8/16.

3.09.

TEMBOLOK @ TENGKOLOK @ KERIS – GOLOK @ GOBLOK

Kami hanya setahun sekali-dua
meratah daging di rumah..oops istana YAB
hari-hari biasa kuah cair sayur ubi.

Terima kasih Tuanku..Oops, maaf, Tuan Menteri
dari dulu hingga kini
sang setia itu kami.

Raya tahun ini YAB kenduri
seperti setiap tahun di Aidilfitri
(Auuuukk… Alhamdulillah… sendawa)
aku dan warisku sumpah setia
biar mati bergalang mm.. Pitih
demi bumi merdeka tercinta.

Tkasih Tuanku… oops YAB
(salam menggenggam sampul)
lihat lambang setiaku padamu
tembolok..oops, maaf, tengkolok
melilit pundak
keris golok terselit segak
sampin songket berbengkong.

(Ahakk… tersumbat rengkung, sambil tangan menadah tempurung)

Terima kasih YAB, salah-silap minta ampun
kami di rumah… oopps, istana YAB saban tahun
berpencak silat walau tiga-suku rabun
kata mereka kami kelihatan seiras badut dan kartun
namun YAB wajib kami santun
sebab kami sekadar akar seruntun.

As-syajarah, 1/7/2017.

3.10.

PEMBERI SEMBUNYI TANGAN

Suaraku tiba-tiba tersangkut di Surah Yunus
juzuk ke sebelas di mushaf usang samar lalu hilang
silaku di hadapan rihal kayu terpaku kebas
hamparan di lantai masjid terasa terlalu nipis.

Teks di skrin malam tadi jelma lagi
merusuh di ruang musolla
dadaku ketat
mataku kabur basah
lafaz akad terima dari asnaf
terpancul di lidahku, kesekian kali
ayat-ayat Allah jadilah saksi. 

Pemberi sepi sembunyi tangan
“Ini bukan wangku, itu hak mereka”
Allah, dengarlah suara sepi itu
bukan suara dari lidah
suara itu dari hati.

As-syajarah, 22.11.17.

4. AZMI RAHMAN

BIODATA. Nama sebenar Mohamad Azmi Bin Ab Rahman.  Azmi Rahman adalah mantan Pensyarah Kanan di Pusat Pengajian Pengurusan Industri Kreatif dan Seni Persembahan (SCIMPA), Kolej Sastera dan Sains, Universiti Utara Malaysia (UUM). Azmi Rahman berkelulusan ijazah Sarjana Muda Sastera (B.A Hons.) Persuratan Melayu (Kepujian) dan Sarjana Sastera (M.A) Persuratan Melayu dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Diploma Penulisan (PLM) dan pernah belajar linguistik di Manchester University, England. Di UUM, beliau mengajar kursus Kesusasteraan Melayu, Pemikiran Kritis dan Kreatif, Komunikasi Budaya dan Apresiasi Seni Malaysia, dan Penulisan Ilmiah dan Kreatif. Azmi Rahman telah menghasilkan tujuh buah buku puisi perseorangan; Sebelum Musim Berakhir, Daerah Perjalanan, Gema Lembah, Wangsa Watan Merdeka, Taman Ilmu Di Rimba Hijau (Destinasi Ilmu, Budi, Bakti)Pantun Tersurat dan Tersirat (Pantun Peribahasa), dan Horizon Pancaindera (Pantun Rencaman Tema. Selain itu, puisi Azmi Rahman telah diterbitkan dalam lebih 20 buah antologi puisi bersama, antaranya Gelombang 1,2,3 dan 4, E-Loka 1 & 2, Segenggam Tasbih, Sajak Pemenang Sayembara ASASI, Pepohon Perteduhan Cinta (Soneta) dan Musibah Gempa Padang, dan tiga buah buku ilmiah tentang sastera Melayu, iaitu Kesusasteraan Melayu: Dimensi Pemikiran dan Bahasa, Pancaran Makna Dalam Kesusasteraan Melayu, Diri Puisi & Interpretasi, dan Jom..Berpuisi (Pantun, Syair, Gurindam dan Soneta).  Lebih tiga dekad, Azmi Rahman terlibat dalam dunia sastera Melayu melibatkan pengajaran, kajian, pembentangan kertas kerja, penulisan karya, dan bimbingan penulisan kreatif. Azmi Rahman pernah memenangi Hadiah Sastera Perdana Malaysia (Esei), Anugerah Penyair Alam Siber (APAS), Anugerah Pantun Siber, Soneta Siber dan Esei Sastera e-Sastera, Anugerah Buku Kreatif Terbaik UUM Press, Hadiah Puisi Kemerdekaan Kebangsaan (UUM),  Anugerah Citra Jasa Bakti Universiti dan Anugerah Inovasi Kreatif SEML UUM CAS, Anugerah Pensyarah Paling Kreatif Pusat Pengajian Pengurusan Industri Kreatif dan Seni Persembahan (SCIMPA UUM, 2017 dan 2018). Azmi Rahman dilantik sebagai pembimbing puisi pada Dialog Puncak Karyawan ASASI 2015, 2016 dan 2017. Azmi Rahman adalah Ahli Jawatankuasa Angkatan Sasterawan Nasional Kedah (ASASI) mulai 2017 hingga 2018. Di UUM, beliau dilantik sebagai Pengerusi Saringan Karya Kreatif UUM Press, AJK Saringan Penerbitan UUM Press dan Penyelaras Bahasa Melayu Hal Ehwal Pelajar dan Alumni (HEPA UUM).  Selain itu, Azmi Rahman banyak menyiarkan karya kreatif di jurnal sastera siber esastera2u.com dan di blognya TAMAN PANCAINDERA dan di Blendspace.

PUISI

4.01. Busuk.
4.02. Persahabatan.
4.03. MesyuaratPerdana Di Rimba.
4.04. Rumah.
4.05. Versi Adat Air dan Angin.
4.06. Versi Adat Akar dan Akal.
4.07. Pujian Hanya Milik Allah.
4.08. Menjadi Padi.
4.09. Berita.
4.10. Jelira.

4.01

BUSUK

Di dalam perut diri, ada busuk sembunyi busuk. Asalnya yang tidak busuk masuk ke mulut. Apabila dikeluarkan daripada perut yang penuh, berbaulah busuk. Busuk! Busuk! Busuk!

Bau busuk itu tertusuk ke hidung. Busuk itu dihidu sendiri. Tutup! Tutuplah hidung! Usahlah bertanya, “mana busuk yang tidak berbau?”

Busuk dibuangkan busuk di dalam tong sampah. Busuk itu berbau dari dekat. Dari jauh juga. Sesiapapun tidak mahu mengaku. Busuk itu dibuang jauh-jauh.

Sembunyi busuk itu di dalam tong sampah. Kalau diri adalah kerbau, pastilah kerbau itu tidak akan membenci kubangnya yang berlumpur. Lumpur adalah diri kerbau. Diri kerbau dibaluti lumpur. Apa lagi yang boleh disembunyikan selama-lamanya.  Gembira kerbau itu dengan lumpur di badan.

Kini, aksara dan gambar busuk ditularkan tetapi tidak berbau busuk. Yang busuk adalah hati. Yang busuk yang tidak dibuang di dalam tong sampah siber.

Yang busuk berada bersama aksara dan gambar yang berbau wangi.  Namun, bagi yang busuk hati yang wangi pun dibusukkan.

Kian bertambah kian bertambah yang busuk yang busuk hati dan yang membusukkan.

Jitra, Kedah

4.02.

PERSAHABATAN

Betapa eratnya persahabatan antara siang dengan malam. Mereka bertemu tepat pada waktu tanpa ragu-ragu dan jemu. Dan berpisah jua tepat pada waktunya tanpa duka lara. Sepanjang persahabatan antara siang dengan malam, diisi hanya kesetiaan masa dan cahaya, tanpa prejudis dan emosi membuak. Jika sesekali siang tidak berwajah terang,  benarlah ungkapan siang, “Diharapkan panas hingga ke petang, tidak disangka hujan di tengah hari. Tidak disangka lagi hujan hingga ke malam.” Malam pula datang berjabat tangan dengan jujur. Pertemuan untuk perpisahan ini tidak sedetik pun dipertikaikan siang meski pun kolam masa siang dipenuhi lopak air hitam.

Begitu juga eratnya persahabatan antara matahari dengan bulan dengan bintang-bintang di taman langit. Persahabatan berkongsi cahaya matahari. Sesiapa  pun tidak merasa cemburu. Sesiapa pun tidak menyatakan ego di dalam diri. Kalau diikutkan hati matahari, katanya “Wahai bulan dan bintang-bintang, cahaya pada diri kalian adalah cahaya aku! Bulan purnama dipuja. Kejora dikatakan juara cahaya malam di hamparan taman alam.”

Persahabatan kita pula sukar menjadi seperti persahabatan siang dengan malam. Tidak juga seperti persahabatan matahari dengan bulan dengan bintang-bintang. Apa paksi persahabatan kita? Ada ketikanya dipertikaikan kesetiaan di akar diri. Menjabat salam kesetiaan di putaran waktu, jauh sekali. Malahan di hujung lidah diungkapkan pertemuan adakalanya menyakitkan. Perpisahan pula dipinta atas rasa gembira dan puas. Lalu, diri semakin jauh dan jauh dari ikatan persahabatan. Kita cuba membina taman persahabatan supaya mekar bunga pelangi yang wangi. Jika bunga itu layu dan hilang di mata, namun wangi dan seri warnanya abadi tersimpan di hati.

Sebenarnya persahabatan bukanlah permainan rasa yang bersilang teka-teki masa. Kembalilah kita kepada Allah yang mengatur setiap detik perjalanan persahabatan semua makhluk dan kejadian-Nya yang teramat sempurna.

Sintok, Kedah.

4.03.

MESYUARAT PERDANA DI RIMBA

Pengerusinya seekorang (seekor + seorang) gajah masuk kampung.Tiada siapa berani mematahkan gading kuasanya. Tiada siapa berani memotong belalai vetonya. Ahli-ahli terpilih mesyuarat dalam kalangan warga ekorang (ekor + orang) rimba pilihan seekorang gajah: Seekorang kera sumbang yang mambang. Dunianya adalah rimba yang gelap dari dahan ke dahan mencantum pengalaman. Seekorang kerbau dicucuk hidung. Talinya di kaki seekorang gajah. Suara yang mengalir adalah suara pura-pura dari hidungnya yang sengau dan hatinya terkunci. Seekorang kodok ditimpa kemarau, nampak tenang di sebalik resah kepanasan di rimba dingin. Siapa memanggil siapa? Hujan belum turun. Seekorang gajah tidak peduli. Seekorang kucing di atas titian. Suara tidak menentu warna. Nafas berkecai di ruang rimba. Tersilap langkah terjatuh ke jurang. Masih berjuang di atas titian masa? Seekorang kuda kencing di papan. Tiada mula bicara, kosong makna. Tiada akhir bicara, hilang makna.Tinggal hanya bau hancing. Kuda itu masih mahu berlari. Sekeping papan adalah dunianya. Seekorang kura-kura terlentung. Bicara sakit di rimba hukum. Mengharapkan warga ekorang bernafsu. Meniarapkan seekorang kura-kura. Pasti kalah dalam perlumbaan dengan ekorang singa. Seekorang kutu di dalam ijuk  sembunyi diri di rimba rambut kusam. Bicara dusta sembunyi di akar rambut. Menggigit dan menggatalkan kulit kepala. Menjelir lidah yang sering berkata ya, ya, ya. Warga ekorang kutu masih akrab di rimba rambut. Seekorang lalat buta mengusung najis dari longgokan sampah. Mengibarkan sayap khabar dusta. Telur keturunannya mencemari hati suci. Seekorang lalat buta berlagak persis seekorang lalat tahu arah tujunya. Seekorang katak banyak bermain hujan sedikit. Nampak rajin bekerja walhal tidak seberapa. Hujan di lopak semakin kering. Simpan suara di gua dan di longkang. Bermainlah dengan angin. Seekorang kelekatu masuk api. Keberanian menyerlahkan kebodohan. Menjauhi diri dari api bukanlah tanda berani. Terbanglah mencari cahaya malam atau menyerah diri pada api. Seekorang biawak yang tidak hilang kesatnya. Lidahnya bercabang, dan bicaranya songsang. Berkawanlah dengan warga ekorang biawak. Bicara di air bicara pula di darat tentang budi yang telah mati dan tentang jati diri bahasanya yang tenggelam di dua alam. Seekorang anjing dengan seekorang kucing konflik idealogi salakisme versus meowisme. Siapa yang menang dalam percakaran kuasa? Warga anjing yang menyalak bukit. Warga kucing yang kehilangan anak. Seekorang anjing makan masak mentah. Kononnya melakari teladan masa depan. Sedapnya daging mentah diratah, bukan daging sendiri! Perhitungan waras adalah diri yang dibeli.  Seekorang ular dikutik ekor. Licik membeliti bicara kebenaran orang lain. Ekor sendiri dibiarkan bergerak-gerak. Di mulut berbisa terisi mangsa. Mesyuarat perdana belum selesai. Agenda rimba semakin menebal…

UUM Sintok

4.04.

RUMAH

Rumah kita dibina daripada aksara batu-batu  yang dikonkritkan menjadi dinding cerita. Rumah kita dibina daripada semangat bunga-bunga idea di ruang siber. Ini rumah menapak di penghujung tanah diri.

Rumah sejarah kita berdiri teguh di laman perjalanan usia. Rumah sejarah kita bercantum dalam keakraban setia dan cinta pada bahasa. Rumah suka duka kita di laman peristiwa.

Suka duka terbang dan melayang-layang ke petak peribadi.

Rumah air mata di kamar mimpi. Mimpi bulan.  Mimpi mentari. Mimpi bintang-bintang

Aksara doa pula membeliti di tiang-tiang harap. Singgah di bumbung menahan panas dan basah hujan.

Di ruang tamu rumah dihimpunkan aksara fikir rasa dari ruang terbuka. Jendela hari menguak panjang. Melepaskan angin sejarah ke rimba ingatan.  Angin dan aksara ramalan. Harapan muncul kejora baru. Rumahku baru. Rumah kita pun baru.

Selamat datang ke rumah sejarah lama. Rumahku, rumah kita. Benarlah, rumahku
rumah kita pun sama: “History repeats itself.”

Sintok, Kedah.

4.05.

VERSI ADAT AIR DAN ANGIN

Adat air setitik, janganlah dilautkan. Biar pecah setitik air di tanah. Kering dibacakan lidah mentari. Adat tanah seketul, janganlah digunungkan. Biar hancur tanah dijilat lidah air. Air dan tanah bernafas di dalam diri. Lautan ada ombak. Gunung bukan menyeri angkuh.

Air susu dibalas dengan air tuba. Segelas air susumu, dibalas air tuba. Kau minum tapi kau tidak mati. Kau telah membaca firasat  hitam di padang pertaruhan ini. Biarlah air yang jernih, sayak yang landai. Nampak bayangmu di cermin air. Kau impikan sayang yang landai meskipun hanya setitik air yang jernih. Kau faham, kau adalah air yang tenang. Jangan disangka tiada berbuaya.

Angin tak dapat ditangkap. Asap tak dapat digenggam. Kau masih ingin menangkap angin di padang lautan ternganga. Tiba di pantai, angin bersembunyi di celah batu. Tiba di pantai, angin menyatu di pasir. Kau masih ingin menggenggam asap. Matamu telah pedih dan berdebu. Asap dari segenap penjuru menyerangmu. Ada suara sembunyi ingin membutakan matamu. Asap menjadi racun.

UUM Sintok, Kedah

4.06.

VERSI ADAT AKAR DAN AKAL

Akar terjumbai tempat siamang berpegang. Dahan menganjur tempat tupai menegun. Akar tidak menjunam ke hati bumi. Akar menunjuk diri berani bertemu dengan pohon-pohon kebenaran. Dahan pula bersiap teguh menggantung bulan.

Akal akar berpulas tak patah. Akar reput akan patah. Belum membeliti lidah berapi. Belum berpulas sedia patah. Dibakar api menjadi debu.

Akal labah-labah di gua buruk suka merakut. Kau bukan labah-labah itu. Sembunyi malam dari siang. Sembunyi riuh dari sunyi. Keluarlah dari gua buruk itu.

Akal menampi, jangan tumpah padinya. Padi yang tumpah adalah benih generasi. Kau harus berhati-hati dalam perjalanan panjang. Menampi sang semut padi yang berbudi.

Angan-angan menerawang langit. Ingin kau menggapai bintang. Cahaya berbalam di sebalik mentari. Kau terhenti di ranting malam memerhati bunga-bungaan subuh menguntum.

Adat bertentu, bilang beratur. Berpegang pada landasan prinsip. Menyongsang angin menikam diri. Usah membilang dari belakang. Usah berpandukan kitab sesat.

Akal gajah terdorong di kelir kehidupan. Sang gajah memijak sang semut. Bijak sang semut mencari lubang telinga gajah. Sang semut patahkan gading kuasa dan kaki sakti di hujung sebuah kehidupan lusuh. Nanti sang gajah meriba nota penyerahan.

Ada kerak ada nasi. Kau tidak makan kerak. Kau makan nasi yang tak berkerak. Kerak itu payah dibuangkan dari periuk hati. Api apa yang membakar hingga nasi berkerak?

Ya, kalian pun benci pada kerak nasi.

UUM Sintok, Kedah

4.07.

*PUJIAN HANYA MILIK ALLAH

Aku membuang egoku. Aku membuang pemujaanku terhadap makhluk ciptaan-Mu. Aku membuang pemujaan terhadap diriku –  pangkat, ilmu, harta dan darjat. Aku membuang semua pemujaanku kepada hal-hal lain selain Allah.

Hanya Allahlah yang layak dipuji. Aku memuji-Mu, ya Allah. Pastinya menimbulkan kebaikan dan kemuliaan kerana Allah adalah Zat Yang Esa. Allah Yang Maha Benar. Allah Yang Maha Bijaksana. Memuji hanya kepada Allah. Kebaikanlah segala-galanya.

Pintu rohani tertutup jika pujian hanya kepada makhluk ciptaan-Mu. Pujian di tempatnya iaitu hanya kepada Allah yang memberikan seluruh kebaikan-Nya kepada aku.

Segala pujian hanya milik Allah.  Aku ingin membina peribadi suci. Aku membuang egoku.

Jitra, Disember 2018.

*Inspirasi daripada Surah Al-Fatihah, ayat 2 bermaksud,”Segala pujian bagi Allah, Tuhan seluruh alam.”

4.08.

MENJADI PADI

Aku ingin menjadi seperti padi meskipun telah memperolehi kedudukan, pangkat atau kekayaan atau ilmu tetap bersikap rendah diri supaya tidak dibenci oleh orang lain. Aku hidup dekat dengan dunia padi meskipun ada yang tak pernah ke bendang atau kenal pokok padi. Aku tahu ada yang kenal hanya beras. Dimasak jadi nasi. Makan setiap hari dengan pelbagai lauk pauk. Padi  kekuningan persis emas, menarik di mata. Buah padi melebat. Semakin melebat semakin tunduk ke bumi. Kehidupan padi tidak seperti lalang atau enau dalam belukar yang bersifat sombong dan pentingkan diri sendiri. Tidak rugi jika bersikap seperti padi. Aku, jika ada pangkat, apa salahnya bersama dengan yang tidak berpangkat. Aku banyak ilmu, tidak rugi berkongsi ilmu dengan orang lain. Lagipun ilmu yang dicurahkan itu akan bercambah. Jadi benih macam benih padi. Hidup subur. Jika sombong dan menyombong, tiada manfaatnya. Kalau yang faham resmi padi, fahamlah makna hidup. Selagi ada pokok padi, selagi itulah hidup menjadi.

Baling, Kedah

4.09.

BERITA

Baca berita. Berita entah apa-apa. Baca berita. Berita dusta. Baca berita. Berita fitnah semata-mata. Baca berita. Berita suka-suka. Baca berita. Berita buta. Baca berita. Berita saja-saja. Baca berita. Berita orang kita. Baca berita. Berita hentam ikut suka. Baca berita. Berita sensasi saja. Baca berita. Berita kontroversi pula. Baca berita. Berita hampas belaka. Baca berita. Berita duka lara. Baca berita. Berita boleh jadi orang gila. Baca berita. Berita semua tak kena. Baca berita. Berita susah nak percaya. Baca berita. Berita dalam dilema. Baca berita. Berita tak tahu hala. Baca berita. Berita propaganda. Baca berita. Berita tak boleh percaya. Baca berita. Berita bikin pening kepala. Baca berita. Berita orang jahat dipuji melata. Baca berita. Berita orang baik dikata dusta. Baca berita. Berita jadi keliru pula. Baca berita. Berita siapa reka? Baca berita. Berita ada agenda. Baca berita.  Berita celaka. Baca berita. Berita baik ada makna. Baca berita. Berita apa? Berita tutup berita. Berita apa? Berita buka cerita. Baca berita. Berita orang bakar berita. Baca berita. Berita orang marah-marah orang tulis berita. Baca berita. Berita jadi lebih membara. Baca berita. Berita tular melata. Baca berita. Baca berita. Berita la la la. Baca berita. Berita pantun tentang berita.

Pagi hari menuju ke kota,
Tiba di kota membeli joran;
Bosan sudah baca berita,
Mari kita baca al-Quran.

Julai 2017

4.10.

JELIRA

Kalian di gelanggang merdeka.  Tahun bila-bila pun Malaysia; gelanggang merdeka di helaian musim tahun berapakah? Segmen  Melayu masih di petak kuasa demokrasi. Suara sumbang dari gunung; tongkat Melayu mahu dipatahkan dan dialihkan ke petak keadilan. Melayu mahu dibebaskan dari penjara fobia dan trauma antara silu kuasa dan silat wang. Sang demonstran sesat bersorak-sorak – penjahanam bangsa katanya. Oh, dikejutkan halilintar sedar bahawa Melayu itu Islam dan Melayu itu berbahasa dan beradat Melayu. Oh, kalian menjadi pelupa bahawa bahasa Melayu dijelirkan lidah oleh Melayu. Masih tinggal baju Melayu.  Melayu sudah menjadi 1Malaysia, kemudian Malaysia Baharu. Kalian berasa jelira. Ah, ini gunung berapi bangsa, dan gempa bumi negara! Sekian tahun Interlok diam menjadi gunung berapi. Lava sejarah bangsa mengalir di bawah kawah fakta. Geseran lapisan bangsa dan ideologi, bumi harmoni bergempa. Ah, jangan dibakar api bangsa! Kalian kembali terduduk di kerusi sedar Melayu itu. Sedangkan kalian menjadi pelupa kerana  asyik mengira bidak-bidak di atas papan kuasa dan harta. Siapa pun belum mentafsir. Meneka lava dan gunung berapi itu mahu meletup. Maniam sahaja yang mahu berdemonstrasi. Kata kau; sang sasterawan silap menjahit fakta lampau yang sudah terputus benang sejarah keturunan. Ah, kebaikan adalah manisan untuk menarik sang semut menghurungnya – akhirnya kalian pun terbuang dan mati di gelanggang tumpah darah sendiri. Seman itu Melayu ; pemuda yang kuat dan keras hati. Menjadi semut Melayu memakan manisan, kemudian membenci kemiskinan dan kebodohan. Ah, Cing Huat menaburkan manisan. Semut Melayu datang. Bidak kuasa boleh membeli ekonomi atau ekonomi boleh meracuni kuasa? Maniam kuli di kebun kelapa dan di kebun getah. Masing-masing menganyam daunan mimpi di mesra lidah ibunda. Seman tidur di atas bantal kemiskinan. Daunan mimpi terbang ditiup angin  buta huruf. Cing Huat tidur di atas bantal aksara duit dan frasa untung. Mimpi mahu menukarkan warna pelangi bukan lagi milik Syaitan Putih. Maniam masih tidur di atas bantal kosong. Daunan getah kering yang berterbangan di ruang diri rendah. Mimpi hanya untuk mewarnakan ruang kosong dengan sedikit denyut nafas. Interlok versi 1Malaysia, pun Malaysia Baharu. Oh, Cing Huat  masih mahu bangkit – lena berbantalkan petak-petak Malaysia – belum diisikan dengan wang.  Seman – leka mengasap kemenyan; berasap Melayu dan mencium keris yang diperlimau. Dalam khayal, petak-petak kuasa dialihkan ke tangan syaitan. Menjual genggam kuasa untuk membeli tiket ekonomi. Menjual tiket ekonomi, menggadai gelanggang kuasa!  Seman, apa lagi yang kau miliki? “Ini sulat tanah kebun, ini sulat tanah sawah, ini sulat tanah kampong.” (hal. 55) …ini sulat hutang.” (hal. 56)…masa bodoh lu punya fasal (hal. 89).

5. CITRANALIS


BIODATA. Ruslina binti Mat Rakib di lahirkan di negeri Jelapang Padi, Kedah Darulaman pada 22hb Februari 1967. Kini menetap di Kuala Lumpur. Timbalan Presiden Aktivis E-sastera Malaysa  (E-SASTERA) dan ahli Angkatan Sasterawan Nasional Kedah (ASASI), menganggotai Grup Puisi Pinggiran Darulaman sekitar tahun 80-an. Mengikuti kursus-kursus penulisan yang dianjurkan oleh Angkatan Sasterawan Nasional Kedah (ASASI) seperti kursus asas penulisan, kursus penulisan kreatif, penulisan berita dan rencana, kursus penulisan skrip drama dan beberapa bengkel anjuran PROKSI, DBP, PENA & ITBM. Karya-karya lebih tertumpu kepada puisi dan cerpen. Pernah mendapat tempat di Radio Malaysia Alor Setar, Mingguan Malaysia, Berita Minggu, Warta Darulaman, Mingguan Wanita, Majalah Intisari, beberapa akhbar tabloid yang lain dan Sastera.net. Pernah memenangi pertandingan menulis cerita lucu majalah Rileks. Antologi Puisi ‘Alun Berkocak’ satu-satunya yang dihasilkan bersama Grup Puisi Pinggiran. ‘Sepiak Pinang Semamah Sireh’ merupakan antologi puisi kedua bersama penyair-penyair siber anjung utara dan pada tahun 2011 menyusul antologi soneta bersama berjudul ‘Pepohon Perteduhan Cinta’ dan mengisi 5 buah karya dalam antologi  multigenre Bukit SiGuntang Mahameru iaitu soneta, haiku dan sebuah travelog Menawan Puncak Monpera. Pada 2012 sebuah sajak berjudul ‘Menyusuri Jalan mengenal Mu’ turut terpilih oleh Sasterawan Negara Dato’ Ahmad Kamal Abdullah (KEMALA) bagi mengisi ruang di antologi Puisi Numera (Nusantara Melayu Raya). Turut memuatkan beberapa karya di E-LOKA Direktori penyair eSastera Malaysia 2011 dan ANA antologi karya eSastera mengenang Brirasa, ‘Bulan Suram di Langit Kashmir’ kumpulan puisi bersama 4 penulis esastera.com, Segenggam Tasbih kumpulan puisi&cerpen Dialog Puncak ASASI 2013, Kumpulan puisi bersama MH370, Merungkai Mimpi kumpulan puisi Dialog Puncak ASASI 2014. Sirah Rasulullah (Puisi), E-Sastera 2015, Projek Haiku (Haiku) TabirAlam 2015, Semandarasa Pantun Melayu (Pantun)TabirAlam 2016, Projek Sonian Tabir Alam 2016, Adikarya (Poligenre) TabirAlam 2017, Memori Aidilfitri (Anekdot)TabirAlam 2017,Istana Kasih 4 (Sajak), Karyawan Pk 2017, Antologi Puisi Pangkor 2017,Antologi cerpen Melerai Rindu UUM Press 2017. Pantun Berkait (Pantun)TabirAlam 2018,Catatan Kembara (Travelog), Tabir Alam 2018, Penganan Dari Dapur Penulis (Resipi) TabirAlam 2018, Maharnya Mahal (Cerpen) DBP 2018, Suara Hati (Kuatrin) TabirAlam 2019, Karmina Pantun Dua Kerat (Pantun) TabirAlam 2019. Pernah memenangi beberapa sayembara soneta, cerpen, pantun, haiku, dan teka-teki di HESCOM (Hadiah e-Sastera.com). Mendapat anugerah Sasterawan Alam Siber (SAS) 2019 dari E-SASTERA.

PUISI

5.01. Haiku: Tangga Spiral
5.02. Kuatrin: Seorang Gadis Yang Kutemui Pada Lewat Malam
5.03. Pantun Vaganza
5.04. Makna Sebuah Rindu
5.05. Soneta: Air Mata Palu
5.06. Sonian: Berangkai: Kembara Thailand
5.07. Sonian: Gunung Jerai
5.08. Sonian: Pekan Rabu
5.09. Sonian: Pulau Langkawi
5.10. Tanka: Belasungkawa Muhammad Adib bin Mohd Kassim

5.01.

Haiku
TANGGA SPIRAL

Di Kelle’s Castle
tangga bilik rahsia
jejak sejarah.

Ipoh, Disember 2018.

5.02

SEORANG GADIS YANG KUTEMUI PADA LEWAT MALAM

Ketika bulan masih mengambang
keluhan menyingkap tabir kelam
cempaka gugur sebelum kembang
dibawa resahnya angin malam.

Mengapa menolak kebenaran
sehingga kata menjadi dusta
dilamun cinta yang berkejaran
kepalsuan berarus di mata.
Berlarilah kau sepuas hati
di pentas dunia milik tuhan
sehingga segalanya terhenti
penyesalan terungkap keluhan.

Bila mentari menutup kelam
melenyapkan segala kenangan
terjaga dari mimpi semalam
di dalam terang kau kehilangan.

Tangisan gadis berwajah dendam
kesalan meratap kesedihan
di hatinya tak akan terpadam
doa yang tidak berkesudahan

Disember 2019.

5.03.

PANTUN VAGANZA

Kesuma lata redan berpaya,
jadi setara berbeza dahan;
bersama kita di medan karya,
di E-sastera.Vaganza ASEAN.

Jadi setara berbeza dahan,
sama merata di sisi temu;
di E-sastera. Vaganza ASEAN,
bersama kita berkongsi ilmu.

Sama merata di sisi temu,
kijang di bawah lompat berikat;
bersama kita berkongsi ilmu,
panjang ukhuwah mendapat berkat.

Kijang di bawah lompat berikat,
cura jeritan canang simpati;
panjang ukhuwah mendapat berkat,
mesra ikatan kenang di hati.

Februari 2019.

5.04.

MAKNA SEBUAH RINDU

Secangkir rindu
yang kita hirup bersama
tika bulan berselindung malam
menutupi wajah
adalah sebuah atmajiwa
yang mengalir damai
berbisik sejuta rasa bahagia
aromanya meresap
ke ruang-ruang kosong
diam meratah sepi.

Disember 2018.

5.05.

AIR MATA PALU

Bila senja melabuhkan tirai
keresahan dihimpit sengsara
hadir malam yang tidak dirai
hanya ratapan hati yang lara.

Ombak semakin ganas menghempas
raung tangis ratap kehilangan
pencarian yang semakin tumpas
dan mayat-mayat bergelimpangan.

Tidur berselimut mimpi ngeri
Tsunami membaham tanpa belas
menanti siang yang hilang seri
terkenang nasib harus digalas.

Begitu makna namamu Palu
bila bumimu diratap pilu.

Oktober  2019.

5.06.

Sonian berangkai
KEMBARA THAILAND

/i/

Menyusuri sungai
Menam Chao Phraya
makan malam
kenangan.

/ii/

Di Pasar Terapung
tawar menawar
Sungai Mae Klong
rezeki.

/iii/

Kembang matahari
ladang Lopburi
Keindahan
bertamu.

Thailand, Disember 2019.

5.07

Sonian
GUNUNG JERAI

/ii/

Kedah Darulaman
tarik pelancong
puncak Jerai
kunjungan.

/ii/

Sejuk membaluti
mendakap rasa
Kedamaian
kurniaan.

/ii/

Bunga berkembangan
segar mengharum
Keindahan
pencipta.

Januari 2019.

5.08.

Sonian
PEKAN RABU

/i/

Kunjungan pembeli
tawar menawar
Pekan Rabu
pilihan.

/ii/

Resepi utara
gerai makanan
Menikmati
selera.

/iii/

Di atas jambatan
menadah tangan
harap kasih
simpati.

Januari 2019.

5.09.

Sonian
PULAU LANGKAWI

/i/

Sumpahan Mahsuri
mati dibunuh
mangsa fitnah
lagenda.

/ii/

Tujuh keturunan
tangis bumimu
Kegersangan
sumpahan.

/iii/

Pulau bebas cukai
syurga membeli
Kepuasan
pilihan.

Pulau Langkawi, Disember 2019.

5.10.

Tanka
BELASUNGKAWA: MUHAMMAD ADIB BIN MOHD KASSIM

Rabiulakhir
menjalankan amanah
trajedi kuil
mangsa persengkataan
bakti wira negara.

Disember, 2018.

6. CT NURZA


BIODATA. CT Nurza atau, nama sebenar, Siti Nur binti Zainal. Dilahirkan pada 18 Sept 1971. Berasal dari Jerantut, Pahang Darul-Makmur. Minat menulis semenjak di bangku sekolah dan bergiat aktif bermula penghujung tahun 1989 sehingga kini. Banyak menulis ulasan buku, rencana sastera dan karya-karya eceran di akhbar dan majalah arus perdana Malaysia. Pelbagai pertandingan-pertandingan mengarang anjuran radio rtm, akhbar, majalah dan komuniti facebook serta wattpad dalam pelbagai genre turut dimenangi (1990-2018). Antologi terkini Syair Kanak-kanak “Untung Menabung” telah pun diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia (DBP) 2018, Kumpulan Syapen Pahang Dalam Syair “Tuk Suji Bilang” diterbitkan oleh Perpustakaan Awam Negeri Pahang (2018) serta beberapa buah lagi antologi bersama diterbitkan di Malaysia dan Indonesia (2018). Merupakan salah seorang Pemenang Hadiah Penghargaan Sayembara Menulis Puisi/Cerpen PKPP-DPMP 2017/2018 (Kategori Cerpen) anjuran Dewan Persuratan Melayu Pahang. Juga  Pemenang Fiesta April 2018 Wattpaders Malaysia kategori ‘Short Story’ Prompt Paranormal dan Pemenang Sayembara Halloween Vault 2018 Wattpaders Malaysia kategori ‘Short Story’ Pesta Topeng Prompt Romance. Lebih 100 buah antologi bersama pelbagai genre telah disertai dan diterbitkan (di Malaysia & Indonesia), 2013-2018. Telah menghasilkan buku solo pertama Kumpulan Sajak “Bak Bakawali, Mineral, Daun Lebar dan Kokila” terbitan JS (Jom Sastera) Ogos 2018. Aktif mengikuti program-program Kembara Seni, Bahasa, Sastera & Budaya bersama Ziarah Kesenian Nusantara sejak 2015-2018. Kini aktif berkarya bersama grup e-Sastera.Vaganza ASEAN (2018-2019).

PUISI

6.01. Pelimbang
6.02. Kita Dan Kematian
6.03. Menangkis Tanggapan
6.04. Nila Nan Setitik
6.05. Tsunami Banten Menjentik Nubari
6.06. Syair: Tsunami Sunda
6.07. Gurindam: Ada Pun
6.08. Dansa Ilalang
6.09. Mentari Retak Di Birai Ombak
6.10. Kuatren: Membingkai Kesetiaan.

6.01.

PELIMBANG

Kadangkala…
aku senang menjadi pelimbang
merantau jauh ke perkampungan pengalaman
sendirian berjalan membawa haluan
haluan menyusuri kekhilafan
agar bertemu tujuan
tujuan menghalusi diri
diri yang penuh cela
jua tompok dosa yang tercalit.

Pada kelana yang panjang
kusinggahi sungai jernih nan deras
kuhanyutkan seludang kejahilan
membilas wajah kehidupan
di tebing kesedaran
kutemui kemilau istighfar
menerangi telaga jiwa.

Port Klang, Selangor, Malaysia, 11 Feb 2019, 4:07 ptg.

6.02.

KITA DAN KEMATIAN

Sepantas mana kita berlari
sebijak mana kita menghindari
sejauh mana kita bersembunyi
mengelak diri daripada kematian
kita tetap diburu maut
biar cuma sekilas pandang
tidak terduga atau terjangka
kematian tetap menghambat diri
walau hanya di muncung pistol
ia tetap datang
tanpa kita ingini dan sedari
peluru menembusi dagu
itulah realiti hari ini
tembakan dilepaskan tanpa pertimbangan.

Jerantut, Pahang, Malaysia, 6 Feb 2019, 2:14 ptg

6.03.

MENANGKIS TANGGAPAN

Siapa kata Melayu bangsa pemalas?
malas itu bukanlah kerana bangsa
malas itu tabiat semulajadi sikap peribadi
peribadi yang diasuh sendiri
oleh empunya diri tiada sifat mandiri.

Malas itu pembawakan individu
tabiat dalaman yang sukar dihakis
ada pada berbilang bangsa
bukan sahaja Melayu seperti yang dinyata.

Usah memperlekeh bangsa sendiri
Melayu juga sudah banyak yang berjaya
setaraf dengan semua bangsa
gah di persada antarabangsa.

Sedarlah…
kutukan tak menambah kebaikan
penghinaan tiada memberikan dorongan
hanya menjadi asbab bangsa Melayu
sentiasa berburuk sangka bahana lidah
tidak bertulang seenak kata berbicara
tanpa memikirkan akan natijahnya.

Port Klang, Selangor, Malaysia, 4 Feb 2019, 6:32 ptg.

6.04.

NILA NAN SETITIK

Hanya kerana nila nan setitik
lantas rosaklah susu putih sebelanga
menjadi cemar warna bertukar rona
tompok noda menyakiti pandangan
dicium tak sudi dipandang apatah lagi
bagai racun bisa menular ke saraf
membunuh percaya berisi mandat ibunda
justeru rasa pun berubah rengsa.

Sekian lama…
pembangunan jua pendidikan
tertangguh alpa terbiar sepi dipinggir
janji-janji manis telah banyak dimungkiri
lantaran kerakusan memburu kemewahan
senyap menerima habuan berdiam diri
yang susah bertambah payah meraih simpati
pabila kuasa disalah guna oleh yang berkuasa
luar bandar ketinggalan pembangunan kemajuan
demikian negara berdukacita sehingga rakyat merintih resah mengemis seumpama peminta sedekah
lantaran keluhan acapkali diabaikan
rasuah menjadi mainan birokrasi.

Kini harapan dipacak setinggi gunung
belalah nasib marhaen di ceruk desa
agar terkota janji dan amanah bangsa
semoga visi terlihat nyata
membuka mata dan jua minda.

Port Klang, Selangor, Malaysia, 4 Feb 2019, 11:33 pg.

6.05.

TSUNAMI BANTEN MENJENTIK NUBARI

Saat petir berdentum
kilat sambar menyambar
meledaklah Gunung Anak Krakatau
mengejutkan seluruh warga
memuntahkan lava-lava pijar
meletus bagai petanda
tsunami bakal melanda
di Banten dan Lampung
pada sabtu yang lalu.

Demikian ombak sesekali menerjah
laut yang tenang merubah pandang
ombak gergasi datang berhambatan
memanjat tebing dan hotel mewah
menghempas musnah bangunan agam
sehingga bumbung-bumbung hanyut
ditenggelami air
dan nyawa pun direnggut ganas.

Tsunami Sunda jadi ingatan
kehilangan mangsa sukar ditemukan
sebahagian telah dijemput ajal
Gunung Anak Krakatau terbelah dua
tatkala letusan dahsyat melanda
bongkahan gunung jatuh ke laut
gelombang tsunami tinggi menghempas
pecah terbelah perahu nelayan
hancur musnah di tengah lautan
air jernih menjadi keruh
berubah bau bercampur belerang
berlumpur hitam laksana kopi
bencana tsunami menjentik nubari
semoga tragedi tak berulang kembali.

Malaysia, 31 Dis 2018, 7:59 mlm.

6.06.

SYAIR: TSUNAMI SUNDA

Awalul kalam mula bicara,
kepada semua salam sejahtera,
izinkan hamba bersyair ceritera,
tentang tsunami ombak bercempera.

Bencanalah tiba tiada terduga,
terpisah diri dari keluarga,
tsunami melanda tanah berongga,
rumah nan elok patahlah tangga.

Penyu gergasi dihempas gelombang,
terdampar lesu diangkat orang,
beratus kilo berat ditimbang,
di Selat Sunda tampak cengkerang.

Amaran tsunami tidak berfungsi,
sekelip mata hilang ditangisi,
insan tersayang tiada di sisi,
sebuah kereta terbalik di lokasi.

Ombak besar di Pantai Anyer,
Lampung Selatan dinaiki air,
bulan penuh bagai menzahir,
Hotel Grand Elti dinaiki air.

Gunung berapi Anak Krakatau,
punca utama kini dipantau,
warga Malaysia seorang perantau,
turut tercedera sedang dipantau.

Tsunami di Banten satu tragedi,
angka terkorban semakin tinggi,
gunung berapi punca terjadi,
mangsa yang hilang masih dicari.

Sungguhlah pilu rasa di hati,
keluarga yang hilang ditunggu dinanti,
biar bertemu bercerai mati,
terus berdoa tiada henti.

Mari sahabat kita membantu,
hulur sumbangan sekadar mampu,
serumpun bangsa tetap bersatu,
sama diduga saling membantu.

Sampai di sini syair dinukil,
semoga tiada apa yang musykil,
marilah kita merenung fikir,|
mengambil ibrah sambil berzikir.

Ampun dan maaf hamba pohonkan,
cukup di sini rasa dizahirkan,
jikalau ada sebarang kekhilafan,
sudi kiranya diperbetulkan.

Akhirul kalam mohon berundur,
syukurlah kita dipanjangkan umur,
kalimah syahadah sebelum tidur,
nyenyak hendaknya lena di kasur.

Jerantut, Pahang, Malaysia, 26 Dis 2018, 1:00 pagi.

6.07.

Gurindam

ADA PUN

Ada pun kebaikan kita lakukan,
itulah kelak amal kebajikan.

Ada pun kita banyak berbudi,
rundukkan diri seumpama padi.

Ada pun kita petah bertutur,
terkadang kala tidak teratur.

Ada pun tenang tampak di wajah,
riak di hati ombak menerjah.

Ada pun al-Quran kalamnya Allah,
jarang dibaca sering tersalah.

Ada pun hidup banyak diuji,
hikmah-Nya Allah indah disaji.

Ada pun mati suatu ketentuan,
janganlah kita abai kesihatan.

Ada pun akhirat tempat perhitungan,
kehidupan dunia perlu keseimbangan.

Ada pun persoalan perlu jawapan,
tanpa jawapan hikmah tersimpan.

Jerantut, Pahang, Malaysia, 20 Nov 2018, 5:55 ptg.

6.08.

DANSA ILALANG

Dan ilalang pun berdansa
antara danau dan gunung
membawaku melontar pandang
menyaksikan bunga-bunga kering
terawang-awang berterbangan
melayah ditiup angin perubahan
tatkala 9 Mei 2018 bertamu
demi mencari sinar baharu
untuk hidup selesa
seperti dedalu memanjat pohon
menumpang paut tiada malu
demikian ilalang goyah bertahan.

Jerantut, Pahang, Malaysia, 20 Dis 2018, 7:29 mlm.

6.09.

MENTARI RETAK DI BIRAI OMBAK

Di birai ombak
akulah sang mentari retak seribu
terbelah menyisa cahaya pudar
menyisih sepi tanpa jejak
tinggalkan malam berteman kejora
agar senyum menguntum makna
biar luka ditekat embun
ilusi bersiulan ritma mimpi
menyirna pesona wajah
membenam bundar pancaindera
pada goresan luka
dihempas gelora jiwa.

Jerantut, Pahang, Malaysia, 12 Nov 2018, 12:24 Pagi.

6.10.

Kuatren

MEMBINGKAI KESETIAAN

Hidup berkahwin satu ujian,
iman diduga tiada henti,
sering diuji kesetiaan,
terkadang luluh rasa di hati.
Galas amanah bertanggungjawab,
sabar fahami sikap pasangan,
akhirat nanti disoal jawab,
memberi nafkah dipandang ringan.
Hidup sentosa saling mengerti,
berbahagia hingga ke Jannah,
sayang pasangan jagalah hati,
hubungan mesra tidaklah punah.

Bertoleransi perlu disubur,
janganlah adab campak ke tepi,
ikhlaskan hati bakti ditabur,
mahligai indah tidaklah sepi.

Jerantut, Pahang, Malaysia, 18 Sept 2018.

7. NOVIA RIKA

BIODATA. Novia Rika Perwitasari. Berasal dari Malang, Jawa Timur, Indonesia. Saat ini tinggal di Tangerang Selatan. Senang menulis puisi untuk menghidupkan jiwanya. Karya puisinya masuk dalam berbagai buku antologi puisi nasional serta beberapa media puisi internasional seperti Dying Dahlia Review, The Murmur House, Haiku Masters NHK Japan, Optimum Poetry Zine. Pernah meraih juara 1 nasional lomba puisi Penerbit Oksana (2015), juara 1 nasional lomba puisi Majelis Sastra Bandung (2016), juara 1 nasional lomba puisi “Pindul Bersajak” (2017), juara 2 nasional Sayembara Pena Kita (2017), dll. Ia juga pernah menjadi delegasi Indonesia dalam World Festival of Youth & Students 2017 di Rusia karena kegiatannya di bidang sastra.

PUISI

7.01. Tanah Kehidupan
7.02. Tuhan Dan Pilihan
7.03. Arwah
7.04. Lautan Rahsia
7.05. Mencari Jalan Cahaya
7.06. Ditampar Setan
7.07. Selamat Tinggal Yang Indah
7.08. Langit Gerhana
7.09. Laut Biru Langit
7.10. Menghancurkan Diri

7.01.

TANAH KEHIDUPAN

Kita tiba pada tanah yang tak bersuara
yang mendekap kehidupan sedekat kematian
direkat debu-debu yang terlahir
dari degup jantung dan kesunyian di antaranya.

Kau dengar nama siapa?

2018.

7.02.

TUHAN DAN PILIHAN

Terkadang Tuhan menyukai permainan
membolak-balik hati dan garis tangan
karena Ia tahu kita akan terlahir di akhir kematian
melalui pilihan yang kita tancapkan sendiri
di hati dan perbuatan.

24 April 2018.

7.03.

ARWAH

Petir benderang di lengkung gerbang bintang-bintang
langit gelap menguasai jiwa
lautan, hutan, bukit pasir, dan rerumputan.

Aku menguasai kesunyian yang dijanjikan
oleh langit pada hatiku yang tak tahu adat,
memanggil semua cahaya putih remang
agar menyala dan tak membiarkan arwah-arwah pudar
doaku akan datang untukmu..

Seluruh dunia yang tak dapat kita lawan
dengan hasrat fana berapi-api
bagai hujan yang tak bisa kita balikkan arah
bagai kematian yang tak bisa kita larikan diri.

Kita hanya bisa mendengar jiwa-jiwa
lautan, hutan, bukit pasir dan rerumputan
memanggil kita bagai sapuan angin.

April 2018.

7.04.

LAUTAN RAHASIA

Keluarkanlah air mata
dari hatimu yang biru,
lebam membatu
seperti butir hujan
di samudera pulau terluar
jauh, diterkam angin-angin liar

Rahasia selalu bagai hantu
menguntit dan menguliti
rasa yang meledak di balik dada
karena bibirmu serupa pantai
membentengi hatimu yang lupa
cara menulis kejujuran.

Batu-batu laut
mengembang dalam dada
menciptakan bahasa
yang hanya bisa diartikan
dengan artikulasi sunyi
mengendap lalu menghitam.

Hapuslah dengan air mata
dan pedang bermata cahaya
sebelum terlambat!

Rasa sakit mampu mengubah manusia
terkadang kuat,
terkadang mengerikan.

Di akhir hari kau akan sendiri
seperti sampan kosong di tengah lautan
di bawah cahaya matahari
dan hamparan ombak kebiruan
tiba waktunya kau memilih
mengisi kembali hidupmu.

2018.

7.05.

MENCARI JALAN CAHAYA

Hidup bagai langit dan samudra menyatu
luas tak berkesudahan, penuh gelombang yang menggentarkan
hati kita setitik debu yang berhamburan, atau tenggelam di dasar lautan
selalu mencari jalan cahaya.

Kehidupan yang bermekaran di muka bumi
perpaduan keindahan dan keburukan,
kebaikan dan kejahatan, kejujuran dan kepalsuan,
bagai bunga yang bermekaran di tengah belukar berduri
dan hati kitalah, yang selalu mengingat-Nya
akan mengikis duri-duri itu.

Hidup teramat kuat memberikan pilihan
seringkali berselimut tipu daya
takdir manusia terlahir untuk mencari jawaban
dari hati kita sendiri dan janji-janji Tuhan;
tugas kita adalah berjalan di bawah cahaya-Nya
yang terang atau tersembunyi
terkadang, bulan demi bulan kita larung dalam hidup yang fana.

Karena kasih-Nya Ia membuka pintu
secercah cahaya bagi manusia
Ramadhan yang mulia, bulan suci pengetuk pintu hati
penunjuk jiwa yang tersesat
membebaskan hati yang terkunci.

Diam dan dengarlah
hapus kebisingan nafsu duniamu.

Diam dan ingatlah,
doa-doa yang dilafalkan alam semesta.

Menyatu dalam ibadahmu, keikhlasanmu
sambutlah cinta dalam hatimu,
kasih pada saudara dan sesama
dan berserah jiwa ini
Hingga akhir usia kita berjalan di bawah cahaya-Nya.

Juni 2018.

7.06.

DITAMPAR SETAN

Hatimu mendadak merah
padahal kau tahu cinta tak pernah abadi
dan kau telah menguburnya dalam tulang-tulangmu
Kkau sisakan segenggam harga wanita.

Kau tahu, kau selalu tahu
cinta yang resah adalah milik kehampaan
tak bertuan di relung dada yang melupa kerinduan
ada yang palsu,
ada yang palsu dari hatimu.

Hatimu mendadak merah
melihat gincu merah di kerah
dan ribuan dusta yang berkerumun di dadanya.

Ada yang salah,
ada yang salah dari nafsu.

Hatimu sakit ditampar setan dan sepenggal kedustaan
kau lihat, perlahan hatimu mati sekeras batu.

Jakarta, 23 September 2016.

7.07.

SELAMAT TINGGAL YANG INDAH

Dalam kegelapan inginmu aku menyerah
kita tak akan pernah mengerti bagaimana caranya memperbaiki
hati tak pernah jadi buku yang mudah dibaca
tapi aku masih mengingat suaramu yang bernada rendah
yang memelukku sepanjang musim.

Tapi suara bukanlah jawaban
maka di kegelapan inginmu aku mengakui hatiku
aku telah menyegel namaku di udara
saat pikiran tentangmu telah mengeringkan air mata
o, sungguh aku berharap kita tak terlanjur patah
hingga saat kita akhirnya bertemu hanya tersisa sedikit luka untuk diobati.

Diam-diam aku tahu, terlalu banyak duka yang kita rahasiakan
kita saling mencari penyembuhan satu sama lain
kita salah, kita tak akan menemukan penawar di luar hati kita sendiri
di sana kita berdiri, tak genap dan berdarah
lalu aku mendengar dunia bernyanyi
nyanyian puitis paling lembut
menyanyikan selamat tinggal yang indah

2018.

7.08.

LANGIT GERHANA

Di langit gelap terbit cahaya merah
yang kukira gerhana, dan aku
bersiap menutup mata,
tapi mataku tak sanggup
karena hatiku berdetak seperti bulan retak
dibelah cahaya matahari yang mulai menjejak
di permukaan bulan, dingin dan terjal

Tubuhku menggigil
pada kesadaran yang merekah
tanpa permisi, tanpa peringatan, tanpa sejarah
mengapa hati bergoyang bagai badai antariksa
melukiskan gerhana tanpa rencana.

Aku tahu bulan akan segera datang
setelah melewati gerhana matang
dan aku harus menutup mata, menyatu dengan bumi
namun entah mengapa kesunyian begitu jahat
dan membuatku tak mampu bergerak
berbaring aku, tanpa suara, memandang kegelapan
ditera gerhana yang meremang kemerahan
berharap hatiku hancur sebelum bulan lahir kembali
dan kembali pada kesunyian

Jakarta, 12 April 2018.

7.09.

LAUT BIRU LANGIT

Saat kau meraih tanganku
hidup kita berubah jadi cahaya kelabu
di kedalaman laut biru langit
batas halus antara permadani awan tebal
mereka ingat warna kulit kita
memucat dalam air garam,
ketika hati kita dibongkar di atas ombak

Hati kita bicara dengan bahasa lautan
kuat tapi tak harus ditafsirkan
luar biasa, tapi harus jadi rahasia
dalam hati, terdapat samudra yang tak bisa kita seberangi
karena kita hanyalah manusia
dengan berkah mencintai,
      dan kutukan mencintai

Jakarta, 24 April 2018.

7.10.

MENGHANCURKAN DIRI

Biarkan aku menghancurkan diri sebentar lagi

dalam kenangan yang lahir di genggamanku

penuh tanda tanya dan rasa sepi

menjejali perjalanan yang tak terurai oleh waktu

dan terbentang di sepanjang mataku

Samudra kesunyian mencelupkan nada bising

pada kesadaranku yang terganggu, maka

aku ingin hancur agar hatiku tersadar

jalan yang salah bukanlah pilihan

namun kutukan yang seakan-akan indah

Bagiku tak ada jalan untuk melupakan

selain menerjunkan diri pada kesedihan

ini hukuman yang harus dengan berani dicambukkan

agar hati tak lagi tersesat,

meski bertabur luka

harus kuyakin akan kudapatkan diriku kembali

Akasia, 11 Mei 2018.

8. IBNU DIN ASSINGKIRI


BIODATA. Ibnu Din Assingkiri ialah nama pena penulis Sanusi bin Din. Dilahirkan di Singkir Laut, Yan, Kedah pada 4 Mei 1970. Mendapat pendidikan awal di Sekolah Kebangsaan Singkir, Kedah dan pendidikan menengah di Sekolah Menengah Kebangsaan Merbok, Kedah. Menyambung pendidikan di Kolej Vokasional Lorong Batu Lanchang, Pulau Pinang dalam bidang otomotif dan Institut Pengurusan Malaysia dalam bidang Pengurusan Penyeliaan. Graduan Sarjana Muda Pengajian Inggeris dengan Kepujian di UNITEM (OUM). Kini melanjutkan pendidikan Pascaijazah Pendidikan di Universiti Terbuka Wawasan (WOU). Berkhidmat sebagai Penolong Eksekutif Kanan Latihan dan Perkembangan Sumber Manusia di syarikat Boon Siew Honda Sdn. Bhd. di Bahagian Keselamatan Trafik dan Penunggangan Selamat. Ahli Jawatankuasa Angkatan Sasterawan Nasional Kedah (ASASI) bagi sesi 2019-2021. Cenderung menulis puisi, cerpen, apresiasi serta kritikan karya sastera. Menulis secara serius semenjak tahun 2010 dan telah menghasilkan dua naskah kumpulan puisi serta dua naskah kumpulan cerpen. Karya eceran dan makalah beliau telah terbit di majalah Dewan Sastera, akhbar Mingguan Malaysia, akhbar Berita Harian, akhbar Amanah, majalah Pendidik, akhbar Utusan Borneo, dan akhbar Sinar Harian. Selain menulis di tanah air tercinta, beliau ikut bergabung dengan penulis se-Nusantara dan telah membukukan 16 antologi bersama. Editor Kumpulan Puisi Kembara Mencari Pelangi, Kausar Kreatif (2015). Menyumbang sebagai penasihat pakar dan penyunting kandungan modul Pendidikan Keselamatan Jalan raya (PKJR) dalam sisipan Bahasa Melayu bagi sekolah-sekolah Malaysia (Pra Sekolah, Sekolah Rendah dan Menengah Rendah) di bawah Malaysian Institute of Road Safety Research (MIROS), Jabatan Keselamatan Jalan raya (JKJR), Kementerian Pendidikan dan Kementerian Pengangkutan. Mentor penulisan puisi bagi persatuan penulis Angkatan Sasterawan asional Kedah (ASASI) sejak 2016. Menerima beberapa Anugerah HESCOM (Hadiah eSastera.com): Pemadah Prolifik (2011), Pemuisi Teraktif Puisi Tradisional (2011), Anugerah Pengkarya Prolifik (2013), Tanka Melayu Alam Siber (2014), Soneta Melayu Alam Siber (2014), dan Cerpenis Alam Siber – Tempat Ke-2 (2014). 

PUISI

8.01. Susah Merokok
8.02. Cerita Di Jalan Raya
8.03. Gurindam: Sayang Melayu
8.04. Rona Manusia Yang Abstrak
8.05. Tempayan Busuk
8.06. Tidak Terungkai
8.07. Soneta #1
8.08. Tanka #125
8.09. Haiku #47
8.10. Senryu #21

8.01.

SUSAH MEROKOK

(i)

Tudung celepa sudahlah bengkok,
Boleh elokkah kalau dikikir;
Buatlah apa belanja rokok,
Baik sedekah kepada fakir.

(ii)

Di batang buruk ayam berkokok,
Lepas berkokok mengasah taji,
Sungguhlah teruk hendak merokok,
Baik ditokok simpanan haji.

(iii)

Kakilah ayah jatuh terlipat,
Bengkaknya sah kena dituam;
Bersusah-payah mencari tempat,
Merokok susah di tempat awam.

(iv)

Kain ditokok janganlah pinda,
Jahitkan saja cara jelujur;
Tempat merokok salah didenda,
Berhenti saja takut terlanjur.

(v)

Cendawan tumbuh di batang pokok,
Tersalah makan bolehlah mati;
Susahlah sungguh hendak merokok,
Kusut fikirkan baik berhenti.

Simpang Ampat, Pulau Pinang, 2 Januari 2019.

8.02

(Syair-pantun)
CERITA DI JALAN RAYA
(Hari Memperingati Mangsa Kemalangan Sedunia November 2018)

Di jalan raya bukan pusara,
hanya penghubung ke hala tuju,
muda sebaya hati gelora,
nyawa disabung sukakan laju.

Laju terlalu puncanya sikap,
mangsa dilanggar jadi sengsara,
buang dahulu gopoh cemerkap,
jangan digegar rasa juara.

Juara apa salah berlumba,
akibat nanti jadi masalah,
kerana alpa bertukar hiba,
sampailah mati rasa bersalah.

Bersalah pada keluarga mangsa,
kerana hilang tempat bergantung,
harus waspada sepanjang masa,
pastinya malang dapat dibendung.

Dibendung tidak gopoh dan cuai,
ikutkan hati terhapus cakna,
salah bertindak habis berkecai,
menyesal nanti tidak berguna.

Berguna jika di jalan raya,
hemah selalu tetaplah cermat,
bijak menjangka mara bahaya,
malang berlalu jadi selamat.

Batu Kawan, Pulau Pinang, 07 November 2018.

8.03.

GURINDAM: SAYANG MELAYU

Sayang Melayu berlemah-lembut,
Hingga kepalanya ditarik rambut.

Sayang Melayu gemar beralah,
Menuntut haknya dikata salah.

Sayang Melayu terlalu bersopan,
Walau dicerca masih bertahan.

Sayang Melayu berpecah-belah,
Siapapun tidak mahu beralah.

Sayang Melayu masih telagah,
Siapakah hebat, siapakah gah.

Sayang Melayu keutamaan bangsa,
Walaupun politik berlainan pangsa.

Sayang Melayu harus diterjemah,
Sebelum haknya habis dijamah.

Bukit Tambun, Pulau Pinang, Disember 2014.

8.04.

RONA MANUSIA YANG ABSTRAK

Sushi dan sashimi
terlentang di hujung meja
hidangan stu ayam
bagai lahar berasap wangi
daging panggang dipola
seperti domino tumbang
sepakat menunggu dijamah.

Ucap kampai bersulam
denting gelas berlaga
wain beras dan bir
berkocak melompat buih
mencium mulut manusia
dari sepelosok dunia;
akrabi adab keraian.

Seorang bertanya tentang
status halal sembelihan
sambil mengesat buih bir
di bibir dan kumis
dengan belakang tangan,
seorang lagi sering istighfar
-makan semua terhidang.

Roman wajah manusia
terkadang begitu abstrak
di mana mereka berdiri
di situ mereka berpegang
tidak terusik gentar–
kepada hari berpulang
juga hari pembalasan.

Suzuka Circuit Hotel, Mie, Japan, 21 Oktober 2016.

8.05.

TEMPAYAN BUSUK

Mulut selebar tempayan
segala rahsia akan jadi sebutan
mengutip dosa-dosa kecil dan besar.

Jikalau buku amal dihulurkan dari kiri,
lidahmu bercantum untuk dihiris lagi.

Seharusnya aib saudara wajib dijaga
dalam lipatan keinginan menguja,
juga hasutan busuk yang laknat.

: Takutlah balasan api-Nya,
yang tersangat pedih.

Kepala Batas, Pulau Pinang, 14 Mei 2011.

8.06.

Puisi Gaya 517
TIDAK TERUNGKAI

Di ranting lesu
sang capung setia mematung
walau angin membentak keras
rangkulan tidak terungkai
erat, sampai penghujung hari.

Batu Kawan, Pulau Pinang, 11 Januari 2019.

8.07.

SONETA #1

Jalanan sukar liku bercabang
begitu nyata cabaran hidup
usahlah mudah merasa bimbang
hidup bukannya selalu redup.

Andai semua dapat dicapai
dikhuatir nanti tidak bersujud
resam manusia mudah lupai
setelah senang menjadi maujud.

Pabila bala datang melanda
pantas disalah takdirnya Tuhan
mungkin inilah satu petanda
iman merapuh gagal bertahan.

Andainya hidup terlalu mudah
tidaklah iman terasa indah.

Bagan Lalang, Butterworth, Pulau Pinang, 30 Disember 2011.

8.08.

TANKA #125

Perahu ini
ke dua puluh lapan
tahun dikayuh –
Bawah lengkung pelangi
Jambatan dua hati.

Simpang Ampat, Pulau Pinang, 2 Februari 2019.

8.09.

HAIKU #17

Bambu berdesir
Syair memori silam
Selumbar pilu.

Bagan Lalang, Butterworth, Pulau Pinang, 10 Januari 2013.

8.10.

SENRYU #21

Tak’kan terkatup
Jendela puas hati
Di rumah hidup.

Surau Taman Merpati, Simpang Ampat, Pulau Pinang, 26 Mac 2016.

9. KIFLEE TARSAT


BIODATA. Selain Kiflee Tarsat, Haji Kiflee bin Tarsat juga menggunakan nama pena Nur Hikmah. Dilahirkan pada tahun 1950 di Kampong Saba, Brunei. Pendidikan awal di Sekolah Melayu Lela Menchanai, Brunei. Berkelulusan Sarjana Muda Sains Perpustakaan pada tahun 1987 daripada Institut Telnologi Mara (ITM) yang sekarang ini dikenali sebagai Universiti Teknologi Mara (UiTM). Berkhidmat di Dewan Bahasa dan Pustaka, Brunei pada 14 Mac 1970 hingga 2 Mac 2005 dengan menjawat berbagai jawatan, antaranya Atendan Perpustakaan, Pembantu Perbustakaan, Pegawai Perpustakaan, Pegawai Perpustakaan Kanan dan jawatan terakhir sebelum bersara pada 3 Mac 2005 ialah Penolong Ketua Perpustakaan. Bergiat dalam bidang penulisan puisi, syair, dan sajak serta beberapa buah kertas kerja. Karya-karyanya termuat dalam Bahana, antologi puisi Kembara Merdeka Dua Dekad Meniti Usia, Episod Tsunami: Peringatan Ilahi (Sebuah Iktibar dan Pengajaran), serta antologi Juara 6: Bakti Suci Jalan Hakiki. Karya-karya tersebut tersiar dalam majalah Bahana, beberapa antologi sajak bersama-sama dengan penulis tempatan yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka, Brunei, Pusat Dakwah Islamiah, Brunei menerusi puisi Hidayah (III-VI). Buku Syair Ristaan DBP terbitan DBP, Brunei tahun 2007 adalah buku persendirian pertama dan mendapat hadiah penghargaan dalam Peraduan Menulis Syair Berunsur sejarah Sempena 45 Tahun Bahasa Melayu dalam Perlembagaan Negara Brunei Darussalam, serta memenangi tempat pertama dalam Peraduan Menulis Syair Sejarah anjuran Pusat Sejarah Brunei pada tahun 2009. Dalam bidang pembacaan puisi atau deklamasi, beliau pernah menjadi johan dalam Peraduan Sayembara Puisi Islam anjuran Persatuan Kesuma pada tahun 2002. Antologi RESTU ’70 adalah penglibatan kedua beliau setelah terbitnya antologi Sajak Amas Tampawan yang diungkayahkan oleh rakan Amas Tampawan yang beliau sendiri adalah salah seorang pelopornya bagi wujudnya rakan Amas Tampawan ini.

PUISI

9.01.  Aku.
9.02.  Menapaki Temburong.
9.03.  Pada Parasanku.
9.04.  Jejak Hidup.
9.05.  Kucuran Keringat.
9.06.  Pesan Buat Belia.
9.07.  Wawasan Harakah Belia.
9.08.  Ramadan Kareem.
9.09.  Mohon Kasih-Mu.
9.10. Pantun Majlis Perkahwinan .

9.01.

AKU

Di ruang yang mesra
aku duduk sendiri
lingkungan barisan buku-buku
pelbagai ilmu yang terhidang
santapam rohani
kekadang terdengan suara sumbang
melintasi telingaku
mereka yang lalu-lalang
dengan tugas tersendiri
seunit computer setia
menabur bakti.

Aku asyik bermesra dan berkasih
mengulit lembaran buku dan akhbar
menggali ilmu dan informasi
mengisi kotak fakir, akal dan kata
kalbu nurani
berusaha memperkasa dan memperkukuh
jati diri mandiri
menjana minda
dengan coretan dan catatan aksara
siaga mempertajam madah bicara
dengan pelontaran yang jitu
merungkai sisa hayat
memasuki suasana maghrib
mengelak daripada alpa dan tertinggal…

Dari gelombang yang bergolak
era globalisasi yang pantas
mencorak pancawarna
hidup dalam kehidupan
di bawah langit terbuka
tiada garis-garis
untuk sama menyumbang dan menikmati
perkembangan dan kemajuan Negara bangsa

Berjaya dijulang cemerlang
dalam suasana aman sejahtera
di bumi bertuah Brunei Darussalam.

Nur Hikmah, 24 Januari 2008.

9.02.

MENAPAKI TEMBURONG

Kelikir hasil bumimu
Bukit Patoi kemuncakmu tinggi menjulang
Kuala Belalong hutan tropika keteguhan peribumi
Taman Negara kemegahan kita warisan abadi
Batang Duri taman rekreasi
flora dan fauna menggamit hati
kehijauan dedaun belantara tautan nurani
percikan udang galah menggertak rasa
kelupis kuih tradisi penambat selera
wajit jawa menarik pengunjung
cindul Temburong nikmat dihirup
juadah Ramadan saban tahun.

Daku terpaku menapaki daerahmu
menghirup indahnya alammu
bagai terapi santapan rohani
menyantun jiwa ketenangan
saujana memandang dibalut kehijauan
menekuni sejarah gemilang
berkunjung langkah di bumimu

Jadi impian watan setia
sekian lama ingin menjelmakan
julang teguh jambatan kecintaan
penghubung kasih seluruh daerah kesetiaan
menyatukan anak peribumi
mengikat kasih sekerinduan
di tanah jati mandiri
melestari hasil dan nikmat kekayaan
mengaduni arus kemodenan
gembeling tenaga usai tanah pertiwi
kerana di sini jati diri
warisan zaman berzaman.

Daerah kekasihku
di sini destinasi kita
mari kita sama menjulang
menjulang tulennya kesetiaan
di bumi peribumi berbudi
mencatat segala kenangan
merakam nostalgia menyimpan rahasia.

Temburong
aku akan selalu ke sini
menapaki bumimu

Jun 2010.

9.03.

PADA PARASAHANKU

Aku cuba
pertama kali
di arena peraduan
sayembara deklamasi puisi merdeka
sempena Hari Kebangsaan Negara Brunei Darussalam
ke-17, 2001 dahulu
anjuran DBP di Pesta Buku
di Stadium Tertutup acara berlaku.

Ramai peserta, penulis dan pemuisi yang mendaftar
lelaki dan wanita berbeza
mereka ada nama
      ternama
luas pengalaman.

Pendatang baru
aku cuba bakat terpendam sebelum tenggelam
ditelan zaman
semangat kental cerminan diri
peringkat saringan ramai bertanding
lelaki dan wanita hampir sebanding
aku terkandung 7 lelaki 7 wanita digiring
ke peringkat akhir untuk diganding
pada perasahanku
aku boleh lakukan…

17 Februari 2015.

9.04.

JEJAK HIDUP

Hidup!  Hidup! Hidup!

Aku hidup dilahirkan
hidup dipelihara, hidup dibesarkan
hidup diberi minum, hidup diberi makan
hidup ditimang, hidup dimanja
hidup dikasih, hidup disayang
hidup ditunjuk ajar, hidup dididik
hidup diberi ilmu, hidup sendiri
hidup berkasih, hidup berpasang
hidup berkeluarga, hidup berjiran
hidup bermasyarakat, hidup bernegara
hidup bebas.

Hidup untuk apa?

Hidup untuk siapa?

Hidup mahu ke mana?

Bukan hidup terikat
bukan hidup terkongkong
bukan hidup sengsara
bukan hidup terseksa
bukan hidup susah
bukan hidup miskin
bukan hidup melarat
bukan hidup merana
bukan hidup derita
bukan hidup kosong.

Hidup senang
hidup kaya, bukan wang berjuta
tetapi dengan budi bahasa, sopan santun mulia
hidup bahagia, hidup harmoni
hidup nurani, hidup berkilau
hidup ada nama, hidup ternama.

Bukan hidup penakut
bukan hidup penipu
bukan hidup pemabuk
bukan hidup pengampu
bukan hidup kerana judi
bukan hidup kerana rasuah
bukan hidup kerana syabu
bukan hidup kerana HIV-AIDS
bukan hidup kerana seks
bukan hidup terikut-ikut
bukan hidup hanya berfoya-foya
bukan hidup segan, mati tak mahu.

9.05.

KUCURAN KERINGAT

Kucuran keringat
adalah peluh yang mengalir
membasahi diri
menabur jasa

Kucuran keringat
guru-guru dedikasi
yang berkorban dan berjuang
hingga ke pelosok negara
yang gigih berusaha
demi anak bangsa
mengongsi pengalaman dan ilmu pengetahuan
untuk anak didik tercinta
membantu yang kurang mampu
mencambah minda tanpa berkirab
agi kemajuan pelajar tercinta
sanggup mengadai masa
memestikan kejayaan anak didik mereka

Kucurah keringat terus berjuang
itulah sumbangan para guru
dengan ikhlas, tulus, kudus dan jujur
di hati tersemat kerana Allah
untuk anak bangsa tercinta
melakar kejayaan cemerlang gemilang dijulang.

Mac 2019.

9.06.

PESAN BUAT BELIA

Penerus kesinambungan warga jaya
membangun negara bangsa.

Belia yang membudayakan Al-Quran dan As Sunnah
pengukuh pegangan hidup
suluh jalan segalanya
merungkai lalu lintas kehidupan
mencari reda Tuhan
menggalas amanah tanggungjawab tak bernoktah
bersatu atma memertabatkan Negara bangsa
tawaduk menumpah bakti identiti sejati
memelihara kesucian agama islam
bersalut akhlak terpuji.

Bepaksi kejujuran
amanah jadi tonggak
tulus ikhlas tanpa mengharap
cekap tangkas keperibadian
terpancar bersih sinar cahaya
ikhlas mengunjuk sumbangsih
demi negara bangsa
untuk pembangunan memantap ekonomi
meningkatkan pendidikan
memantau kesihatan dan sukan
memasyarakatkan kebudayaan bangsa
keselamatan dan keamanaan sejagat
demi bangsa dan negara.

Mac 2019.

9.07.

WAWASAN HARAKAH BELIA

1 ogos terpahat gemilang
Hari Belia Kebangsaan.

Belia
aset payung negara
pemimpin jenarasi mendatang
mampu berdaya saing
mencipta patriotisme tinggi
menjana minda jati diri bangsa
memperkasa kesetabilan ideologi
akidah dan keimanan kukuh
yang diredai Allah
memantapkan nilai budaya
atas dasar nilai intelektual
melalui penampilan diri
mampu menyongsong gelombang
walau cabaran menghambat
era globalisasi teknologi bermaklumat tinggi.

Belia berwawasan
penuh berilmu
teguh beriman
beramal takwa
dengan ihsan
memohon doa restu
Tawakal
memohon reda Tuhan.

Mac 2019.

9.08.

RAMADAN KAREEM

Ramadan memanggilku
kusambut sepenuh rindu
mengetuk pintu hatiku
kudakap setulus syahdu.

Ramadan bulan rahmat
di dada terlukis nikmat
agihkan zakat meraih rahmat
puasa amalan insan beriman
pembersih diri pemantap amalan
wajib tunaikan tidak diabaikan
mohon kehidupan bahagia aman
solat sunat tarawih dan witir
penambah pahala penambal mangkir.

Ramadan hulurkan sedekah
seangkat hati setulus ikhlas
rezeki Allah mencambah berkah
mengutip reda keampunan Allah.

Ramadan 17 turunnya Al-Quran
petunjuk umat mengharapkan
menerangi kehidupan dari kegelapan
petunjuk kebahagian umat pilihan.

Anugerah Tuhan
Ramadan Kareem
menitip malam istimewa
tidak pada  bulan lain
itulah lailatul qadar anugerah Allah
buat umat Muhammad Rasul Pilihan
lebih baik dari seribu bulan
beruntunglah bagi umat pilihan
dikurniakan malam rahmat
menjanjikan segala nikmat
dunia akhirat.

April 2019.

9.09.

MOHON KASIH-MU

Sepanjang perjalanan
setengah abad telah berlalu
dengan rancah kehidupan…

Di rumah-Mu
aku beriktikaf sujud kepada-Mu
berdoa dan berzikir
melambai kasih penanda tasbih
merimbun kasih di pohon kekasih
kepada-Mu meraih kasih
dengan keyakinan
dengan keikhlasan
dengan ketulusan kudus
dengan iman takwa
di lubuk kalbu hakiki.

Al-Quran pedoman dan pegangan hidup muslim
ke jalan kebenaran dan kesempurnaan
dunia dan akhirat
member keyakinan dan hidayat
terhadap keraguan dan kegelisahan
kea rah iktikad sebenar
dengan iman takwa dan cinta kasih
aku pasrah hanya kepada-Mu Ya Rab.

Pintu-pintu taubat ku masuki
untuk pembersih diri
mohon keampunan segala dosa
aku alpa di dalamnya
moga mendapat rahmat keredaan-Mu
kerana perjalanan ini terhenti sampai saatnya.

Aku mohon kasih-Mu Ya Rab
selamat dunia akhirat

April 2019.

9.10.

PANTUN MAJLIS PERKAHWINAN

Saying kumbang mencari makan,
Mencari makan tepi perigi;
Selamat datang kami ucapkan,
Moga mendapat restu ilahi.

Pakaian pengantin kain tenunan,
Muda belia sama sebaya;
Sama cantik sama padan,
Seperti cincin dengan permata.

Cantik burung cenderawasih,
Terbang berkawan di waktu petang;
Kami ucapkan terima kasih,
Kepada jemputan yang sudi datang.

Jemputan datang berpakaian indah,
Meraikan majlis sejarah gemilang;
Doa kesyukuran dibaca sudah,
Dijemput menikmati jamuan terhidang.

Tanam pisang di tanah rata,
Tumbuh bunganya pucuknya lati;
Budi biskita tidak dilupa,
Sudah terpaku di dalam hati.

Daun selasih di dalam puan
Puan berisi intan permata;
Terima kasih tuan dan puan,
Sempurna majlis dipandang mata.

April 2019.

10. M.S. RINDU

BIODATA. M.S. Rindu (Mohamed Salleh Lamry) lahir  di Kuala Selangor pada 22 September 1942, memiliki  Ijazah Ph.D dari UM (1989). Beliau memulakan kerjaya sebagai guru sekolah rendah, sebelum bertugas   sebagai pensyarah Antropologi dan Sosiologi UKM (1978-2003). Beliau pernah menulis cerpen dan sajak    pada tahun 1960-an, tetapi tidak meneruskannya ketika bertugas sebagai pensyarah. Selepas bersara dari UKM,  beliau memberi tumpuan kepada penulisan biografi. Buku biografi beliau yang terakhir, Biografi   Ishak Shari: Pemimpin Bumi Semua Manusia (Penerbit UKM, 2014) telah memenangi HSPM  bahagian biografi bagi tahun 2014. Beliau menulis cerpen   dan sajak kembali mulai 2016, yang telah diterbitkan dalam pelbagai antologi bersama.

PUISI

10.01. Seorang Ratu
10.02. Cintaku Jauh Di Kota
10.03. Cinta Gadis Medan
10.04. Cinta Gadis Banjar
10.05. Hidup Sederhana
10.06. Tanah Airku
10.07. Aku Ingin Dekat Denganmu
10.08. Ibu Yang Kesunyian.
10.09. Bandar Melayu
10.10. Komunis Islam (Rashid Maidin)

10.01.

SEORANG RATU

Ia seorang ratu
dari negeri di atas angin
seorang dara  yang masih muda
dan cantik jelita.

Entah bagaimana
ia bertemu seorang raja
yang sudah agak tua
dan seorang duda.

Mereka berbeza bangsa
dan berlainan agama
dan untuk berkahwin
si ratu mesti  mengikut agama si raja.

Memang sukar dimengerti
bagaimana seorang gadis
yang biasa hidup bebas
mengikut budaya bangsanya
mahu hidup terpenjara
dalam sebuah istana
mengikut agama suaminya.

Tapi begitulah adat dunia
pangkat, kemewahan  dan harta
boleh menakluki seorang wanita
supaya jatuh cinta
dan mahu menukar agama
serta  mengubah cara hidupnya.

Kajang,  Disember 2018.

10.02.

CINTAKU JAUH DI KOTA

Cintaku jauh di kota
kerana ia  lama menetap di kota
dan telah jadi gadis kota
meskipun berasal dari desa.

Aku tidak boleh mengharapkan
ia masih suci
mengikut ukuran lama
kerana di kota
ia bebas berkawan dan berkasih
dengan siapa saja.

Ia mungkin sudah disentuh
oleh ramai lelaki
yang menjadi pasangannya
sebelum aku mengenalinya.

Ia juga
mungkin memandang pangkat dan harta
seperti lazimnya adat dunia
dan aku tidak boleh merasa kecewa
jika satu masa
aku akan ditinggalkannya.

Kajang, Mei 2017.

10.03

CINTA GADIS MEDAN

Abang di Bangi adik di Medan
Orang Padang pulang ke Padang
Meskipun  kita berjauhan
Cintaku hanya kepada abang.

Abang di Bangi adik di Medan
Tanjung Pura tanahnya rendah
Walau halangan seluas lautan
Cintaku tidak akan berubah.

Abang di Bangi, adik di Medan
Di Prapat kita bertemu
Selagi ada hayat di badan
Selama itu adik menunggu.

Dari Medan ke Kuala Nano
Kapal berlabuh di Kuala Deli
Jika adik mati dahulu
Di pintu syurga abang kutunggu.

Kajang, April 2017.

10.04.

CINTA GADIS BANJAR

Banjarmasin banyak sungainya
Empat lima jukung berlalu
Abang jauh di Malaysia
Entah bila dapat bertemu.

Orang Banjar mandi di kali
Jukung berlabuh di air tenang
Jika abang tidak ke mari
Adik sentiasa terkenang-kenang.

Dari Banjar mudik ke hulu
Kapal berlabuh di kaki gunung
Aduh sakitnya  menahan rindu
Rasa tak tahan badan menanggung.

Banua Lima jauh di  hulu
Di Banjarmasin kapal menanti
Seribu tahun abang ku tunggu
Adik tidak berubah hati.

Kajang, Oktober  2018.

10.05.

HIDUP SEDERHANA

Aku tinggal di rumah teres
pakai kereta Proton Saga
sekali sekala naik taksi
tiada masalah
untuk pergi ke mana-mana.

Aku ada sedikit simpanan
di ASB dan Tabung Haji
untuk keperluan masa tua
dan untuk naik haji
bila giliranku tiba.

Sekali sekala aku melancong
di dalam negeri
dan di  luar negeri
tetapi hanya di negara jiran
bersama keluarga tercinta.

Memang sudah lama
aku hidup sederhana
tapi aku gembira
dan  tidak pernah merasa takut
jika satu waktu
pegawai SPRM akan datang
menyerbu rumahku.

Kajang, Mei 2017.

10.06.

TANAH AIRKU

Dulu tanah airku
bernama Tanah Melayu
penduduknya hanya satu bangsa
bangsa Melayu.

Kini di tanah airku banyak pendatang
yang  telah menjadi warga negara
dan jadilah tanah airku
sebuah negara berbilang bangsa.

Kini tanah airku telah bertukar nama
menjadi negara Malaysia
dan diharapkan  penduduknya
menjadi satu bangsa baru
bernama bangsa Malaysia.

Tapi bangsa Malaysia
masih dalam pembentukan
masih  menjadi bayangan dan impian
dan masih jauh dari menjadi   kenyataan.

Hanya harapanku
dalam satu jangka masa
yang tidak  pasti sampai bila
penduduknya boleh hidup bersama
dalam aman dan damai
dalam sebuah negara
yang penduduknya masih berbilang bangsa.

Kajang, Oktober 2016.

10.07.

AKU INGIN DEKAT DENGANMU

Aku lahir
dalam keluarga yang tidak taat beragama
dan sehingga remaja
aku  memang jauh darimu.

Memang aku tidak terlibat  dengan dosa besar
tapi banyak amalan fardu ain
yang kuabaikan begitu saja
tanpa rasa  bersalah..

Syukur Alhamdulillah
dengan rahmatmu
dan dengan peningkatan usiaku
hatiku terbuka
untuk mendekatkan diri denganmu.

Aku ingin menjadi hamba yang beriman
yang sentiasa dekat denganmu
patuh kepada perintahmu
dan menjadi hamba yang bertakwa.

Berilah aku petunjuk ya Allah
supaya aku terus  berada
di jalan yang lurus
dan  sentiasa dekat denganmu
sehingga akhir hayatku.

Kajang, Jun 2016.

10.08.

IBU YANG KESUNYIAN

Seorang ibu tua
selalu terkenangkan  anaknya
meski baru semalam
si anak mengunjunginya.

Baru seminggu berlalu
sudah terasa begitu lama
alangkah inginnya dia
si anak menelefonnya.

         Tapi si anak tidak tahu
        atau mungkin juga
        tidak pernah merasa
apa yang dirasa oleh  ibunya.

Mungkin juga si anak
tidak pernah merasa dekat
dengan si ibu yang  menyayanginya
yang selalu kesunyian
di hujung usianya.

Di puncak kesunyiannya
seorang ibu tua
tidak dapat menahan air matanya
kerana telefon yang ditunggu
tidak kunjung tiba.

Kajang, November 2018.

10.09.

BANDAR MELAYU
(Bandar Baharu Bangi)

Tidak banyak bandar seperti bandar ini
sebuah bandar baharu
yang  majoriti penduduknya  bumiputera
dan banyak pusat niaga
di mana peniaganya
juga  bumiputera.

Alangkah bahagianya berkunjung ke bandar ini
melihat bumiputera  memiliki rumah yang cantik
dan menempati pusat niaga
yang sedang berkembang maju.

Bandar ini lahir dari satu perancangan
dan  visi pemimpin yang  jauh ke hadapan
ia tidak muncul
secara tiba-tiba.

Alangkah baiknya
bandar baharu seperti ini
dibina  lagi di tempat lain
supaya lebih banyak bumiputera
berpeluang tinggal dan berniaga
di kawasan bandar baharu
yang moden dan maju.

Kajang, April 2017.

10.10.

KOMUNIS ISLAM (RASHID MAIDIN)

Kau mula dikenali
sebagai seorang komunis
apabila akhbar melaporkan
kau adalah antara delegasi
dalam rombongan ke London
untuk menghadiri satu persidangan.

Kau menjadi lebih terkenal
apabila rundingan Baling diadakan
gambarmu terpampang di akhbar
sebagai seorang  komunis Melayu
yang mewakili  partimu .dalam perundingan.

Selepas itu kau menghilangtapi terus berjuang
dalam hutan di Selatan Thailand
dan kau  hanya muncul kembali
dalam perundingan perdamaian
antara PKM  dengan kerajaan.

Apabila PKM meletakkan senjata
kau memilih menetap di Thailand
kau naik haji
dan  menjadi seorang guru mengaji
sehingga akhir hayatmu.

Kau tetap seorang Islam
dan tidak pernah membuang Islam
walaupun  bertahun bersama PKM.

Kau mati di dalam Islam
kerana kau seorang komunis Islam.

Kajang, Februari 2019.

PENYELENGGARA – IRWAN ABU BAKAR

BIODATA. Irwan Abu Bakar (atau Dr. Ir. Wan Abu Bakar bin Wan Abas) dilahirkan pada tahun 1951 di Segamat, Johor.  Beliau bersekolah rendah dan menengah di Segamat serta mengikuti kursus Tingkatan 6 untuk empat bulan di English College, Johor Bahru, Johor. Kemudiannya beliau telah berpindah untuk mengikuti kursus diploma dalam biidang Kejuruteraan Mekanik di Maktab Teknik, Kuala Lumpur (kini UTM).  Selepas itu, beliau telah melanjutkan pelajaran di University of Strathclyde, Glasgow, United Kingdom untuk mengikuti kursus Bachelor of Science (Mechanical Engineering) dan PhD (Bioengineering). Isterinya ialah Hasimah Harun dari Pasir Mas, Kelantan. Mereka dikurniakan tujuh orang cahaya mata, lima lelaki dan dua perempuan. Kini mempunyai empat orang cucu.

Irwan merupakan profesor di Jabatan Kejuruteraan Bioperubatan, Fakulti Kejuruteraan, Universiti Malaya sehingga Januari 2018. Kemudian beliau telah bersara sebagai profesor dan dilantik sebagai Research Associate di Jabatan yang sama.

Irwan pernah menerajui Fakulti Kejuruteraan, Universiti Malaya (FKUM) sebagai Dekan sebanyak tiga kali untuk tempoh 10 tahun. Beliau juga telah menerajui penubuhan program ijazah sarjana muda Kejuruteraan Bioperubatan (BBEng) dan kemudiannya pembentukan Jabatan Kejuruteraan Bioperubatan di FKUM. Beliau telah dilantik sebagai Ketua Jabatan yang pertama bagi Jabatan Kejuruteraan Bioperubatan FKUM itu. Melalui proses yang berkenaan, Irwan menjadi pengasas pendidikan kejuruteraan Bioperubatan di Malaysia. Selepas itu, beliau telah terlibat sama dalam pembentukan program sarjana muda Kejuruteraan Bioperubatan (Prostetik dan Ortotik), ringkasnya BBEng (P&O), di Jabatan yang sama. Di samping itu, beliau juga telah menerajui pembentukan Fakulti Alam Bina, Universiti Malaya dari empat program alam bina yang mulanya beroperasi di bawah Fakulti Kejuruteraan. Beliau juga telah terlibat dalam pengkomersialan hasil penyelidikan di makmal prostetik dan ortotik dengan bersama-sama membangunkan syarikat terbitan Universiti Malaya, BioApps Sdn Bhd yang mengendalikan perniagaan pembekalan dan perkhidmatan prostesis (anggota badan buatan) dan ortosis (alat sokongan anggota badan). Di luar tugas rasminya, beliau memimpin persatuan-persatuan profesional kejuruteraan pada peringkat nasional, iaitu Persatuan Kejuruteraan Perubatan dan Biologi (MSMBE) sehingga 2015 serta Persatuan Prostetik & Ortotik Malaysia (PPOM) serta Persatuan Biomekanik Malaysia sehingga sekarang.

Irwan mempromosi konsep “whole-brain thinking” sebagai jurutera yang terlibat secara aktif dalam bidang sastera. Beliau telah menerbitkan pelbagai karya sastera dan pernah memenangi beberapa anugerah sastera tempatan. Di samping itu, beliau diiktiraf di Malaysia sebagai pengasas kegiatan sastera siber (atau e-sastera) Melayu. Portal sasteranya juga dilanggani penulis dari luar Malaysia, terutamanya Indonesia.

Irwan mula menerbitkan puisi di media cetak pada tahun 1995 (”Diasfora Alam Bahasaku”, Pelita Bahasa, Februari 1995). Sehingga kini, Irwan telah menerbitkan dua buah kumpulan sajak di Malaysia, iaitu Semelar (Kuala Lumpur: kAPAS Publication, Jun 2003) dan Kuntom Ungu (Kuala Lumpur: Esastera Enterprise, 2012). Juga beliau telah menerbitkan kumpulan puisi di Indonesia, iaitu Grafiti Hati (2016) dan sebuah buku kumpulan “puisi berserta ulasan”, iaitu Peneroka Malam (2014). 

Beliau juga terlibat secara aktif dengan deklamasi puisi, terutamanya di Malaysia dan Indonesia.

Irwan mula menerbitkan cerpen pada tahun 2002 (”$yy…”, Berita Minggu, 25 Mei 2003). Pada tahun 2016, beliau menerbitkan kumpulan cerpen Rewang Minda yang mengandungi 18 buah cerpen tulisannya. Cerpen-cerpen itu kebanyakannya telah tersiar terlebih dahulu di laman-laman web tertentu.

Novel pertama tulisan Irwan berjudul Cinta Berbalas Di Meja 17 (Kuala Lumpur: Esastera Enterprise, 2008). Edisi-edisi terkemudian novel itu diberi judul Meja 17 (Kuala Lumpur: Esastera Enterprise, 2012, 2015, 2016, dan 2018). Edisi Indonesia novel ini telah diterbitkan di Jakarta pada tahun 2014, juga dengan judul Meja 17. Pada tahun 2018, Irwan menerbitkan novel keduanya. Novel itu berjudul 30 Februari. Novel in telah diterbitkan di Indonesia oleh Gaksa Enterprise (Mei, 2018).

Kini beliau meneruskan penerbitan e-majalah sastera (majalah sastera dalam Internet), eSastera.com (www.e-sastera.com) yang bermula pada tahun 2002 tetapi dengan format baru. Majalah itu kini mempunyai cawangan di Facebook.com dalam bentuk grup-grup facebook yang dibentuk di bawah akaun facebook E-Sastera Malaysia. E-majalah itu dinamai E-Sastera@Facebook dan dibentuk oleh grup ”E-Sastera@Facebook Induk” sebagai grup kawalan dan pelbagai grup karya berasaskan genre. Antaranya ialah grup E-Sastera Sajak, E-Sastera Cerpen, E-Sastera Novel, E-Sastera Kritikan, E-Sastera Berita (Pemberitahuan dan Laporan), dan E-Sastera Forum. Butir-butir tentang e-majalah E-Sastera@Facebook diberikan dalam buku berjudul Panduan Pengguna E-Sastera@Facebook (Esastera Enterprise, 2015). Mulai 2019, kehadiran di Facebook itu diganti oleh grup “E-sastera @ Facebook Karya” yang memanfaatkan pengunaan hashtag # untuk memisahkan genre karya yang disiarkan. Grup ini kini telah dipinda namanya kepada Majalah E-sastera @ Facebook.

Sebelum itu, Irwan menerbitkan e-majalah eSastera.Karya (di URL eSasteraKarya.com atau eSasteraKarya.WordPress.com) untuk mempromosikan format sastera elektronik yang melebihi apa yang mampu dihidangkan di Facebook. E-majalah ini juga dikongsi ke Facebook untuk menarik pelanggan yang banyak di situ.

Mulai 2019, e-majalahnya ditambah oleh portal e-Sastera.Vaganza ASEAN di URL eSasteraVaganza.com (dulu SasteraVaganza.net) yang mempromosi karya oleh Gabungan Komunitas Sastra ASEAN (GAKSA).

Portal unik yang pernah diterbitkannya tetapi telah ditutup pada masa ini ialah tivi-Sastera (www.eSastera.tv).

Irwan juga telah menubuhkan GLP (Grup Lagu Puisi eSastera) yang kini bernaung di bawah syarikat eSastera Records (Pengurus: Dinie Wan). GLP telah menerbitkan dua buah album penuh lagu-lagu puisi, iaitu Perada Cinta (2014) dan Dot Dot Dot (2016).

Mulai 2012, eSastera telah menerokai bidang ”sastera Twitter” dengan nama @tSastera (namanya di laman Facebook ialah Twit Sastera).

Dalam gerakan penulis, Irwan ialah Presiden, Persatuan Aktivis E-sastera Malaysia (E-SASTERA) sejak didaftarkan pada tahun 2010. Irwan juga pernah menyandang jawatan Timbalan Presiden, Persatuan Sasterawan Numera (Nusantara Melayu Raya), Malaysia dan juga pernah menjadi Bendahari, Jawatankuasa Protem, Persatuan Sasterawan Paksi Rakyat (PAKSI).

Anugerah sastera yang pernah dimenangi Irwan ialah Hadiah Sastera Johor (Buku Sastera), 2019, Tokoh Patria Numera (2017), Hadiah Sastera Darul Takzim (Puisi Eceren, 2007-2008), dan Anugerah Sastera Perdana Malaysia (Cerpen Eceren, 2004-2005),

Irwan ialah Fellow, Academy of Sciences, Malaysia (FASc). Beliau juga pernah menjadi Editor Bersekutu bagi majalah Dewan Sastera terbitan Dewan Bahasa dan Pustaka, Malaysia.

Pada tahun 2016, Irwan telah menubuhkan gerakan sastera pada peringkat ASEAN yang dinamai 

Gabungan Komunitas Sastra ASEAN (GAKSA). GAKSA menerbitkan portal e-karya yang dinamai Sastera.Vaganza ASEAN (kemudiannya ditukar nama kepada e-Sastera Vaganza ASEAN di URL ini:  www.eSasteraVaganza.com (mulanya di URL www.SasteraVaganza.net).  Karya di portal ini dikongsi ke Facebook dalam grup “GAKSA e-Sastera.Vaganza ASEAN”.

Di samping itu, GAKSA telah membangunkan Rumah Sastra ASEAN (RSA) di kota Cilegon, Banten, Indonesia. Antara aktiviti yang diadakan di RSA ialah program sastera bulanan yang dinamai Malam Apresiasi Sastra Asean (MASTRA).

Bertarikh: 29.11.2019.

TAMAT.