Image result for number 7 images

PESERTA

B – 1; I – 2; M– 9; S – 1; T – 1. Total = 14.

7.01. Anie Din. S. Puisi 10.
7.02. CT Nurza. M. RM100. Puisi 10.
7.03. Haji Mariat Bin Haji Abdullah. B. RM100. Puisi 10.
7.04. Ilya Kablam. M. RM100. Puisi 10.
7.05. Irwan Abu Bakar. M. RM100. Puisi 10.
7.06. Isbedy Stiawan ZS. I. Puisi 10.
7.07. Jenny O. M. RM100. Puisi 10.
7.00. Juilis Mokujal.
7.08. Mameq Mameq. M. Puisi 10.
7.09. M.S. Rindu. M. Puisi 10. RM100.
7.10. Muhammad Iqbal Alfahri. I. RM100. Puisi 10.
7.11. Nor Aziah Aziz Fadzilah. M. rm100. Puisi 10.
7.12. Phaosan Jehwae. T. Puisi 10.
7.13. Rosnidar Ain. M. RM100. Puisi 10.

MANUSKRIP

Gaksa Enterprise

This image has an empty alt attribute; its file name is gaksa-enterprise-logo-.png

…..

…..

…..

KOTA KUYUP

anatologi puisi Gaksa
volum 7

penyelenggara
Irwan Abu Bakar

KANDUNGAN

Alu-aluan Penerbit
Resensi
Puisi
7.01. Anie Din
7.02. CT Nurza.
7.03. Haji Mariat bin Haji Abdullah
7.04. Ilya Kablam.
7.05. Irwan Abu Bakar.
7.06. Isbedy Stiawan ZS.
7.07. Jenny O.
7.08. Mameq Mameq.
7.09. M.S. Rindu.
7.10. Muhammad Iqbal Alfahri.
7.11. Nor Aziah Aziz Fadzilah.
7.12. Phaosan Jehwae.
7.13. Rosnidar Ain.

ALU-ALUAN PENERBIT

Gaksa dengan sukacitanya membawa, ke tengah masyarakat peminat puisi, sebuah lagi antologi puisi garapan penyair-penyair lima ASEAN. Persembahannya kami jangka menarik dan dapat memikat perhatian kita, terutama sekali atas keberlainan suasana sosial yang dihadapai penulis dari negara yang berlainan itu.

Alhamdulillah, antologi Kota Kuyup merupakan projek antologi terakhir dalam siri projek antologi puisi/cerpen yang diuruskan Gaksa sepanjang tahun 2017-2020. Dalam projek ini, Gaksa telah menerbitakan lapan buah antologi puisi (Volum 0 – Volum 7) dan dua buah antologi cerpen (Volum 1 dan Volum 2).

Dengan terbitnya antologi ke-10 ini, Gaksa bersedia untuk memulakan projek penerbitan siri antologi baru untuk tempoh mulai Januari 2021.

Kami berharap para pengikut penerbitan Gaksa dapat terus bersama-sama kami dalam menghasilkan terbitan bersama oleh penulis dari lima negara ASEAN seperti yang terkandung dalam antologi-antologi yang kita sama-sama usahakan selama ini.

Sekian, terima kasih.

Muhammad Rois Rinaldi.
CEO, Gaksa Enterprise, Ciegon, Banten, Indonesia.
9.12.2020.

RESENSI

1.0. TUGAS PENYAIR UNTUK TERUS BELAJAR

Membaca seratus puisi lebih dalam buku ini seperti menemukan oase bagi perkembangan
puisi yang tak surut di tengah meluasnya pengaruh kesenian modern, seperti musik dan
lainnya.

Memang apa yang tersaji di sini tak bisa ukuran untuk mengamini hal itu. Seperti juga halnya
tak semua penulis yang mengirimkan karyanya ke Gaksa (Gabungan Komunitas Sastra
ASEAN) bisa disebut mewakili wajah penyair di masing-masing negara.

Bukan soal terkenal atau tidaknya nama para penyair di buku ini. Bukan juga tentang bagus
atau tidaknya karya yang disajikan, dengan masing-masing penyair menampilkan 10
puisinya.

Tentunya mereka mengirimkan karya terbaiknya untuk menyapa pembaca. Karya yang
berawal dari pengalaman, pengamatan dan pergulatan bathin. Entah itu tentang kehidupan
pribadi, percintaan, sosial, politik atau ketimpangan ekonomi di lingkungannya. Bukankah
memang demikian tugas penyair untuk mengabarkan kejadian yang dilihat dan dirasakannya.

Perkara puisi itu mendapat tempat di hati pembaca, itu persoalan seleksi alam. Soal
bagaimana kata-kata yang ditampilkan dengan berbagai gaya bahasa mampu menyentuh
relung hati pembaca. Seperti diibaratkan “Penyair melahirkan bayi bernama puisi, yang akan
diserahkan pada pembaca untuk dinilai seperti apa dan menjadi apa itu nantinya.”

Satu hal yang bisa menjadi catatan bagi kita dengan tumpukan puisi yang ada, bahwa berpuisi
memang mudah tapi ada hal-hal yang tak boleh luput bagi penulisnya.

Persoalan itu tentu tak dijumpai pada beberapa penulis yang memang sudah menjadi, yang
menjadikan puisi bagian tak terpisahkan dari dirinya. Tak sekedar menulis untuk dipajang di
buku atau media. Tak sekedar meluapkan perasaan dengan kata-kata indah, tapi terasa kosong
di dalamnya.

2.0. ULASAN

2.01. Ulasan Puisi Anie Din

Sederhana Pun Membuat Puisi Enak Dinikmati

Membiarkan diri membaca puisi-puisi Anie Din dengan tenang. Di saat senggang, di teras
dengan kopi dan rokok, tulisan perempuan yang terlihat aktif mengikuti berbagai acara sastra
itu makin membuktikan bahwa diksi sederhana mampu memberikan pikat tersendiri.

Dari 10 puisinya terlihat persoalan sehari-hari, yang sederhana, mampu diolahnya
dengan baik. Pemilihan kata-katanya tak berlebihan, enak dibaca dan diserap.

Bahagia misalnya, berkisah tentang banyak hal yang harus dikerjakan dan dihadapi. Dari
kesibukan di bandar udara (airport), anak-anak dhuafa hingga fotografer. Keriuhan dan
keragaman peristiwa itu dirangkupnya dalam puisinya.

Diakhirnya Bahagia itu dengan sederhana, tapi cantik: Aku bahagia sibuk begini.

Mungkin kebahagiaan serupa yang Bunda Anie Din, panggilan akrabnya, rasakan ketika ia
baru menggeluti puisi saat dipanggil nenek. Usia, kata beberapa penyair memang sekedar
angka. Namun seorang (calon) penyair memberi makna pada usianya dengan jatuh cinta
dengan kata-kata.

Penyair ternama Indonesia, Joko Pinurbo mulai berpuisi saat usianya sudah menginjak kepala
empat. Saya juga mulai mengakrabi puisi di usia lebih dari empat puluh tahun. Rasanya tak
ada batas dalam puisi untuk usia, status atau jabatan.

Namun usia, dengan perjalanan hidup yang beragam warna, tak bisa dipungkiri
mempengaruhi isi sebuah puisi. Tentunya bekal itu saja tak cukup, dibutuhkan ketekunan dan
tak lelah (serta tak puas) untuk menulis, dan terus menulis.

Pagi Bermega misalnya, menunjukkan kematangan seorang Anie Din. Puisi yang seperti
percakapan ringan di pagi hari. Kesadaran diri seorang wanita yang tak lagi muda, yang tak
butuh banyak riasan atau asesoris untuk menutupi garis usianya. Ia hanya berkata: “Saya tak
perlu apa-apa, hanya sedikit palitan lipstik sahaja, sudah cukup wajah ceria.”

Puisi dengan diksi-diksi sederhana, seperti tulisan Anie Din, membuktikan bahwa soal
semacam itu tak perlu jadi masalah. Apalagi harus dibuang dari diksi puisi “berkualitas”.
Pengertian berkualitas pun bisa jadi perdebatan. Apalah arti “berkualitas” dengan kata-kata
indah tapi hampa dalam makna?

Di Indonesia, mungkin juga di Malaysia, tak banyak penyair yang menggarap puisi berdiksi
sederhana. Namun beberapa penyair muda terlihat mulai menekuninya, dan ini merupakan
kabar gembira.

Puisi Anie Din berhasil menemui pembacanya, tanpa menepikan kualitasnya. Tak hanya bisa
dinikmati oleh mereka yang suka sastra, juga akan diterima oleh mereka yang tak terbiasa
membaca sastra.

2.02. Ulasan Puisi CT Nursa

Bangga Yang Semu

CT Nursa menampilkan beragam tulisannya. Tak hanya puisi, ada pantun, sonata, gurindam,
dan seloka. Tentu terasa kurang pas jika mengacu pada buku yang berisikan kumpulan puisi.

Tapi kesilapan, jika bisa dibilang seperti itu, yang ada tidak mengurangi ketertarikan saya
pada Seloka : Bangga, yang ditulisnya pada 2017 lalu. Seloka dengan sembilan bait yang masing-
masing berisikan dua baris.

Seperti dipahami, seloka merupakan salah satu jenis puisi Melayu klasik yang di dalamnya
berisikan tentang perumpamaan ataupun pepatah yang mengandung sindiran, ejekan, dan juga
senda gurauan.

Namun di dalam Seloka, yang merupakan kata yang berasal dari bahasa sansekerta yaitu
sloka, isi seloka juga berupa petuah atau nasehat.

Bait terakhir Seloka : Bangga itu terasa menyentak:

Ramai berbangga taat bersolat,
usai bersolat mulut mengumpat.

Larik yang mengena dengan situasi yang sering kita jumpai. Tak hanya pada individu saja hal
itu bisa saksikan, tapi juga segerombolan orang yang mengumpat. Mereka yang dengan
bangganya membawa simbol-simbol agama untuk melakukan hujatan.

Saat solat pun ada yang dengan bangga melakukannya di jalanan, yang jelas itu milik dan
untuk umum. Seolah tak ada masjid yang mampu menampung para jamaah.

Banyak rasa bangga yang kosong ketika nilai-nilai spiritual yang kebanyakan hanya
dipandang dan ditafsirkan lewat jalan agama. Kian hari sungguh kian angkuh, dan celakanya
dibiarkan sehingga dianggap biasa.

Kebanggaan serupa pada aspek lain, terbaca pada larik Ramai berbangga isteri banyak/
nafkah terabai tidur tak nyenyak
, yang disindir dengan tepat oleh Nursa.

Larik-larik pada seloka itu pada akhirnya mengingatkan kita pada perilaku sederhana. Tak
semestinya kita gegabah, besar kepala. Semakin meningkat kehidupan seseorang secara
ekonomi, atau pun mendapat cap sebagai ahli agama, semakin kuat ia harus makin merendah.

Kebanggaan yang semu pada akhirnya bisa jadi membuat kita lalai dalam menyelesaikan
persoalan yang sebenarnya. Habis solat lalu mengumpat, seperti melupakan untuk apa kita
bersolat, kemana perginya nasehat dari khutbah Jumat?

Seloka : Bangga bisa dipenggal jadi beberapa puisi jika Nursa mau menjelajahinya dengan
mendalam. Di seloka itu tak hanya soal umat yang setelah solat mengumpat, tapi juga mereka
yang punya rumah besar tapi ternyata dari hasil hutang. Seperti juga yang beristeri banyak
tapi tidurnya jadi tak nyenyak.

2.03. Ulasan Puisi Haji Mariat bin Haji Abdullah

Ketika Menjadi Tua dan Jiwa Kreatif

Apa yang diinginkan seorang penulis ketika berhasil melahirkan puisi?. Apakah keasyikan
bermain kata-kata yang puitis, atau kualitas produknya yang bernama puisi?

Pertanyaan lebih lanjut yang bisa disampaikan, puisi apa yang hendak ia sampaikan pada
pembaca?. Hanya sekedar kata-kata yang mendayu-dayu agar enak dibaca? Bagaimana
dengan makna atau pesan yang ingin disampaikan, sehingga mampu menggedor rasa
pembaca?

Berbagai tanya itu muncul ketika membaca sepuluh puisi Haji Mariat, yang beragam.
Tentang kerinduan pada Allah, seseorang, cinta tanah air dan perenungan usia.

Kita juga berhadapan dengan berbagai judul puisi di situ, selain karya penulis lainnya di buku
ini. Judul memang kuasa mutlak seorang penulis. Ada yang membuat judul dari penggalan
puisi, ada yang merupakan rangkuman puisinya. Ibarat gerabng utama untuk memasuki suatu
karya, itulah pentingnya judul.

Jiwa Kreatif salah satu puisinya. Menilik judulnya yang terlintas dalam benak pembaca
adalah adanya kreativitas dari jiwa, bisa berupa apapun. Sayangnya hal itu tidak bisa kita
temukan dalam puisi yang hanya terdiri dari dua bait itu. Di sana hanya dijelaskan bahwa
jiwa kreatif itu pemberian Tuhan.

Tak hanya itu Jiwa Kreatif di bait kedua ditulisnya dengan “….” (tanda petik) yang bisa
diartikan itu bukan sekedar jiwa kreatif tanpa tanda petik.

Pesan yang diinginkan kurang tersampaikan. Siapapun tahu jiwa, juga raga, itu berasal dari
Tuhan. Siapapun tak menyangkalnya. Jiwa itu akan diolah oleh setiap individu, yang
menghasilkan banyak hal yang kreatif, teduh, damai dan lainnya. Itulah makna hidup dan
kehidupan dari jiwa yang kreatif.

Salah satu tantangan seorang penulis adalah keengganan untuk banyak membaca. Apa saja
bisa dibaca, tak melulu karya sastra. Entah itu soal politik, fenomena sosial dan alam,
hilangnya budaya lokal dan lainnya. Bacaan itu pengetahuan, yang akan memperkaya jiwa
seorang penulis, selain kemauan untuk terus belajar mengolah kata-kata.

Keringnya pengetahuan, juga kemauan untuk mencatat kata-kata yang menarik (bagi seorang
penulis) akan membuat kosa kata jadi kering. Ini yang membuat pesan dari puisi tak
tersampaikan ke pembaca.

Puisi Ketuaan Kita itu menarik. Sayang tidak diolah dengan pesan “Apa yang bisa saya
perbuat, apa yang bisa saya dapat di usia tua saat ini (dan nanti)?

Menjadi tua itu pasti. Begitu juga dengan yang menemani ketuaan itu: sepi, penyakit, lupa,
dipanggil opa/datuk/mbah/grandpa. Namun apa hanya itu yang mau kita sampaikan dalam
sebuah puisi?

When I’m Sixy Four, sebuah lagu manis dari The Beatles bisa menjadi inspirasi tentang usia
tua itu:

If I’d been out till quarter to three
Would you lock the door,
Will you still need me, will you still feed me,
When I’m sixty-four

Melalui segala kekurangan yang ada, puisi-puisi Haji Mariat patut kita baca. Menjadi tua tak
mengurangi kerinduan akan sesuatu. Menjadi tua juga tak berarti berhenti berkreativitas. Itu
pesan yang disampaikan oleh Haji Mariat dalam sepuluh puisinya.

2.04. Ulasan Puisi Ilya Kablam

Menikmati Kesunyian Ilya

Ilya Kablam lebih dulu dikenal sebagai seorang penyanyi yang punya vokal yang bagus.
Bersama Hijas dalam grup GLP mereka telah menelorkan dua album. Lagu-lagu di dalamnya
berirama lincah, gembira dengan balutan musik yang modern.

Maka saat membaca 10 puisi Ilya, panggilan akrabnya, keriangan dalam dua album GLP
itu terasa menepi. Kesunyian terasa menghampiri kita, menyapa dengan kediamannya,
dengan sedihnya meski dibalut dengan kata-kata yang sepintas terasa manis.

Kita diperkenalkan dengan sunyi dalam puisi pertamanya Selamat Datang Kejora. Judul yang
sederhana, yang banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Mengucapkan rasa senang atas
datangnya kejora, bintang yang bersinar terang atau peruntungan yang baik bagi seseorang.

Lagu api kami letuskan satu-satu
buat membenam ragu di gempita sorak
malam ini biar terus panjang
di putih bulan yang suram.

Langit yang sejenak benderang dengan lagu api yang diletuskan satu-satu. Untuk membuat
cahaya di malam yang senyap? Ilya ingin membenamkan ragu di tengah gemuruh sorak. Ia
ingin malam terus hadir, terus Panjang di putih bulan yang muram. Semuram apa di malam
itu?

Pertanyaan demi pertanyaan juga disodorkan Ilya dalam puisinya yang lain. Terasa sekali
dalam puisi Bertemu Janji, Sendiri.

Di manakah nilai cinta
jika tidak setia
ibarat malam gelita
gelap tanpa cahaya.

Membaca larik-larik puisi Ilya membuat kita merasakan betapa menyenangkan membaca
puisi. Tentu setiap orang punya caranya sendiri dalam menikmati puisi. Memaknai sebuah
puisi dengan caranya sendiri.

Begitu juga saat membaca puisi Ilya. Kita dibawanya ke ruang-ruang perasaan yang dia (juga
kita) alami, yang mungkin belum pernah benar-benar kita pahami sebelumnya.

Ada banyak emosi yang ditemukan di dalam puisi-puisinya. Sekali lagi, meski dibingkai
dengan kata-kata yang tampak ceria, tapi terasa kehilangan yang dialaminya. Tersirat juga
kesedihan dan kerapuhan.

Dalam puisi Malam Itu dan Pohon Waktu, Ilya membeberkan dengan benderang apa yang
dirasakan oleh seseorang :

Tiada bunyi lain yang menghiasi
hanya baldu vokalku
membalut sunyi hatimu
yang sering sendiri.

(Malam Itu)

Yakinlah aku
bahawa pohon waktu adalah seperti cinta
yang manis dan pahit

(Pohon Waktu)

Soal kerinduan, kehilangan, keikhlasan, kebahagiaan, kesedihan, dan kerapuhan.Membaca
puisi-puisi di bagian Bekal Kunjungan, kita akan diajak untuk kembali mempertanyakan
kehidupan. Begitu lekat juga dengan kematian. Meski ada beberapa bagian yang terasa begitu
muram tapi ada pesan-pesan yang disematkan dalam setiap puisinya.

Meski ada puisi yang menyiratkan harapan, seperti pada Langkah Prostesis, namun tetap tak
terelakkan banyak kemuraman yang terasa. Muram yang mengandung pesan-pesan di
dalamnya.

Puisi-puisi Ilya bukanlah puisi tanpa melodi. Di sana banyak melodi, yang hanya dinikmati
dengan hati.

2.05. Ulasan Puisi Irwan Abu Bakar

Memaknai Peristiwa Dengan Angka Dan Kata

“Penyair Salon” menjadi istilah yang terkenal di dunia kepenyairan Indonesia. WS Rendra,
penyair legendaris menyebutnya dalam puis Sajak Sebatang Lisong. Ia menuliskan, penyair
salon itu penyair yang hanya bersajak tentang keindahan. Rendra pun menolak menjadi
“penyair salon” itu.

Sedangkan realita yang ada masyarakat di sekitarnya masih membutuhkan bantuan. Tak
heran, banyak puisinya yang menguraikan berbagai persoalan sosial. Sebut saja Bersatulah
Pelacur-Pelacur Jakarta
, Pamflet Cinta, atau Nyanyian Angsa. Tak heran pula jika
penguasa saat itu pernah menangkapnya, melarang penampilannya di berbagai acara.

Maka saat membaca 10 puisi Irwan Abu Bakar, beberapa di antaranya berbicara tentang
masalah sosial dan politik yang ada di sekitarnya, di Malaysia. Tentang perebutan kedudukan
di pemerintahan, tentang skandal seks yang melibatkan politisi (dalam Haziq 27). Di antara
itu semua, terselip perenungannya akan makna Ramadhan.

Puisi-puisi Prof. Irwan, sapaan akrabnya, tidak disajikan dengan kata-kata yang keras,
meledak-ledak meski tersirat kekesalan hatinya melihat kenyataan yang ada di sekitarnya. Ia
berbicara dengan ringan, seperti bercakap dengan teman karibnya.

Meski hanya 10 puisi, namun Prof. Irwan mampu membuat kita masuk ke dalam imaji-imaji
yang ia coba hadirkan. Ada yang membuat imaji kita harus berpikir jauh, apa maksud dari
kata ini? Mengapa ia bemain kata-kata?

Seperti dalam puisi Terus Kunanti. Pembaca bisa terkecoh jika dengan polosnya mengartikan
PM (Pre Morning) dan AM (After Morning) sebagai petunjuk waktu. Saat membaca larik
berikutnya, akan memahami itu tentang sebuah kursi kekusaan. PM adalah Perdana Menteri
yang saat itu dijabat oleh Mahathir Muhammad tapi ia lalu mengundurkan diri, dan dalam
hitungan jam Mahathir ditunjuk menjadi Perdana Menteri Interim. Suatu jabatan yang tak
pernah ada dalam sejarah Malaysia.

Soal serupa ditulis dalam puisi Aku Sendirian Memerintah Hahihu. Kali ini Prof. Irwan
menulis dengan kalimat yang lebih jelas, menohok.

Terasa aku hendak ketawa pula
tak pernah Mahathir sendiri terfikir, katamu
memang Mahathir rancang begitu, katanya dia.

Oh, biarlah aku ketawa
aku PM interim, mana pernah ada…
hahihu hahihu.

Tak hanya permainan kata yang disajikan Irwan Abu Bakar. Ia juga bermain angka, meski tak
semuanya tersaji seperti itu. Angka yang tak hanya merujuk pada peristiwa politik (Kenapa
Rabu?) tapi juga pandemik Corona atau Covid-19, dan bulan suci Ramadhan yang selalu dinantikan seluruh umat Islam. Selain itu, ada juga puisi untuk As Syramy, salah satu penulis E-SASTERA yang telah berpulang.

Di puisi Forever 21, Prof. Irwan bertutur tentang malam ke-21 Ramadhan, di mana umat
Muslim berburu malam Lailatul Qadar. Dalam tradisi Jawa, malam ke-21 Ramadhan disebut
dengan malam selikur.

Dia calon pertama
malam istimewa membawa anugerah
nilai yang menyerupai 1000 bulan
sehari usaha dikira (30+29) x 500
dalam tahun ialah 83.3.

Kalau pun ada yang mengurangi keasyikan membaca semua puisi itu, adalah Solat Beli-Belah
yang menurut saya kurang memberikan perenungan atau sentakan untuk ingin lebih jauh
memaknainya. Puisi ini terasa biasa saja. Tak ada yang istimewa saat melakukan solat dengan
imam dan makmum yang mengenakan baju biasa dan bercelana jean.

10 puisi Prof. Irwan mampu menghadirkan multi tafsir. Kemultitafsiran makna itu
menunjukkan keberhasilan puisi yang disajikan. Sang penyair berhasil menggoreskan segala
kegundahannya dengan menggunakan permainan angka, tak sekedar kata-kata.

2.06. Ulasan Puisi Isbedy Stiawan ZS

Rangkaian Rindu, Jeda, dan Singgah

Membaca puisi Isbedy tak ubahnya merenungkan perjalanan kehidupan. Kita telah melewati
banyak hal, juga akan menemukan banyak hal. Rangkaian perjalanan itu membentuk diri kita
menjadi saat ini. Tentu kita bisa berubah pada satu atau beberapa aspek, tapi tetap ada yang
tinggal dari sisa perjalanan itu.

Isbedy bukan sembarang penulis, selain puisi ia juga menulis cerpen. Ia ikon sastra Lampung,
menjadi inspirasi bagi para penyair muda, mereka yang baru atau sedang jatuh cinta dengan
puisi. Kritikus H.B. Jassin H.B. Jassin pernah menjuluki Isbedy sebagai “Paus Sastra
Lampung”.

Hanya 12 puisi saja yang disodorkan dalam buku ini, terbanyak dibandingkan penulis
lainnya, namun rasanya masih kurang untuk membacanya. Karya Isbedy selalu enak untuk
dikunyah, dipelajari dan dijadikan pelajaran bagaimana bermain kata-kata, menjadikan
imajinasi untuk dinikmati.

Meski begitu, setiap puisi yang ada merupakan kumpulan dari berbagai pertanyaan tentang
perasaan. Bisa jadi itu merupakan kegelisahan kita sendiri, tanpa kita sadari ataupun diam-
diam kita setujui.

Dalam beberapa puisinya, Isbedy dengan kematangannya sebagai penulis, mampu menggedor
hati pembaca lewat kata-kata yang meliuk indah. Ia mengucapkan dengan sederhana, apa
adanya, seperti kita mendengarkan lagu Song For You dari Chicago.

jika kau masuk
pada senyumku
puisi akan memberimu
kecupan syahdu

(Senyum dan Puisi)

Namun, dalam puisi yang bercakap tentang singgah dan jeda, Isbedy terasa lebih
menghadirkan kerinduan yang lain. Kerinduan untuk sejenak berhenti, menenangkan kaki
yang lelah. Mampir di suatu tempat, meski sekedar duduk, menikmati secangkir kopi dan
sebatang rokok.

Signgah dan jeda yang menyelipkan kehampaan, kadang kesedihan yang membuat senyuman
pun tak tampak biar sekilas.

aku dirikan tenda
untuk yang mau jeda

(Saat Kota Kuyup)

Di sela-sela menikmati kerinduan, sambil menanti saat untuk jeda dan singgah, terselip Aku
Patung di Ruang Tamu. Puisi yang berkisah tentang batu kokoh yang hancur saat ditatah
menjadi patung. Patung yang memperhatikan bagaimana tuannya pergi dan pulang, tertawa
dan marah.

aku benarbenar patung
tak kau siapkan bibirku yang berdegup
tak kau buat hati agar aku tak mencintai
maupun membencimu

Puisi itu ditutupnya dengan kata terakhir yang menampar: seorang patung tak baik
menasihati.

Isbedy tak mengajukan rentetan pertanyaan yang menghujam perasaan. Bahkan dalam
mengolah setiap kata ia mengajak kita untuk menginterpretasikan maksud puisinya. Masing-
masing puisi saling melengkapi.

Tinggal bagaimana kita memahaminya.

2.07. Ulasan Puisi Jenny O

Menikmati Pengembaraan Jenny O

Membaca puisi Jenny O adalah menyelami perjalanan dari satu kota ke kota lain. Kita seperti menyelami lautan yang luas. Kadang tenang tanpa gelombang, sebelum ia berombak menjadi gelombang yang melanda.

Jenny tak hanya menyampaikan apa yang dirasakannya, diimpikan atau menjadi gelisahnya dalam kalimat yang indah. Ia juga memberikan penekanan makna dalam bait-baitnya.

Ia membuka perjalanan itu dengan puisi pertama Sonian : Anak yang datar, cenderung seperti sebuah doa, Sonian adalah puisi pendek Indonesia terdiri atas empat larik dengan pola tuang/ucap 6-5-4-3 suku kata perlarik yang diciptakan oleh Soni Farid Maulana, sastrawan penyair Indonesia asal Jawa Barat.

Puisi-puisi berikutnya langsung mengantarkan kita pada perjalanan di Kota Bharu, Kelantan, Malaysia. Chinguan Villa berkisah tentang rumah yang senyap, penghuninya yang sibuk bekerja. Rumah yang tanpa aura kasih sayang. Bahkan dapur yang serba lengkap pun tak berasap. Suasana yang banyak dijumpai di kota-kota besar. Megah namun senyap saja.

Tak hanya kegundahan saja yang dihadirkan oleh Jenny O yang mantan guru sains. Ia menuliskan keindahan Perth, Australia. Perjalanan bathinnya saat ke Saudi Arabia, yang dengan sederhana disajikannya dalam Putih Mutiara: “zikir dan doa saling berhambat/ menuju Makkah bumi berkat.”

Jenny juga tak lupa mengingatkan, sekaligus menyindir kita, dalam puisi Nuansa Alam yang tercermin dalam satu larik: bukan sekadar menghias lensa/ syukuri nikmat tanpa alpa.

Puisi, pada dasarnya, tak sekedar bangunan kata-kata. Ia perlu lebih dari bahan-bahan yang disatukan berdasarkan desain. Puisi memerlukan lebih untuk bisa larut dalam emosi pembacanya. Dari situ ia akan mendapatkan penghargaan mengapa ditulis seperti itu.

Membaca puisi Jenny O, kita melihat penyair yang dengan bersahaja menyodorkan gagasannya. Tanpa memikirkan apakah akan dikagumi dengan kata-kata yang cemerlang. Maka kita pun dibuatnya enggan meninggalkan bait demi bait puisinya.

2.08. Ulasan Puisi Mameq Mameq

Merayakan Kehidupan Yang Mampir

Membaca (puisi-puisi) Mameq terasa bagaimana ia melihat peristiwa, mengalami, merasakan
dan merenungkan berbagai peristiwa. Tentunya berpuisi juga untuk merayakan peristiwa-
peristiwa yang mampir di kehidupannya.

Mameq merayakannya dengan kata-kata yang berulang. Tentunya pengulangan kata-kata di
beberapa puisi seperti Mencari Sahabat, Tiada Apa-Apa, Palestin, Dalam Kampung bukan
tanpa maksud. Ia ingin kata-kata yang diulang itu menjadi nyata bagi pembacanya.

Ada apa pada rupa
Ada apa pada gaya
Ada apa pada nama
Ada apa pada harta
Ada apa pada bangga
Ada apa pada jelita
Ada apa pada segak

(Tiada Apa-apa)

Pada beberapa puisi, apa yang ingin ia sampaikan mampu menggiring pembaca ke arah
pesannya. Tentu menjadi persoalan lain apakah itu tersampaikan di relung emosi
pembacanya.

Namun, pada Tiada Apa-apa, pesannya mampu mengikat pembaca dengan dua baris di akhir
puisi yang cukup cemerlang:

Apa ada pada janji
jika semua tak ditepati

Keberhasilan serupa sayangnya tak didapat dalam Mencari Sahabat, Palestin, dan Dalam
Kampung
. Tak terasa hujaman pada hati saat membaca larik demi larik di situ.

Hal lain yang patut disinggung di sini adalah penggunakan titik-titik (….), yang terdiri dari
empat titik. Ini tampak pada puisi Tetap Menanti, Salam Merdeka, Tanah Pusaka, dan Tanah
Jawa
. Namun dalam Tanah Pusaka, terdapat ketidakkonsistenan dengan adanya empat titik di kata
Tanah Pusaka (bait kedua) dan tiga titik di kata yang sama (bait pertama).

Dalam puisi, selain kata, tanda baca juga memberi kesan yang kuat pada pesan yang hendak
disampaikan oleh penulis. Sedangkan dalam pembacaan, deklamasi atau pertunjukan puisi,
tanda baca juga berpengaruh pada intonasi.

Tanda Bahasa yang disertakan dalam puisi menunjukkan adanya ekspresi, emosi, pesan, dan
makna yang ingin diungkapkan oleh penulis.

Pada penggunaan titik-titik justru yang tersampaikan ada “sesuatu” yang tidak bisa diwakili
oleh kata-kata, sehingga penulis menggantikan dengan titik-titik itu.

Selain itu, yang perlu dicermati penggunaan titik-titik atau Elipsis itu dipakai untuk
menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau kutipan ada bagian yang dihilangkan. Juga
elipsis dipakai untuk menulis ujaran yagn tidak selesai dalam dialog.

Jika melihat puisi Mameq yang ada, elipsis itu digunakan dalam satu baris yang tidak
menunjukkan adanya dialog. Maka dapat diartikan penggunaan elipsis yang ada di beberapa
puisinya bertujuan menunjukkan ada bagian yang dihilangkan.

Persoalannya, apakah hal itu justeru tidak menimbulkan kesan bagi pembaca bahwa titik-titk
itu justeru menujukkan kegamangan pada penulisnya. Beda, sekali lagi, jika itu memang
dilakukan pada dialog, biasanya di cerpen atau novel, yang tujuannya membuat kalimat terasa
menggantung.

Serangkaian puisi Mameq yang disajikan menunjukkan ia mampu memberikan kesegaran
tersendiri. Tinggal bagaimana ia terus mengolah bumbu yang ada menjadi lebih meresap di
setiap masakannya.

2.09. Ulasan Puisi M.S.Rindu

Saat Bergumam Setelah Termenung Seusai Merenung

Membaca sepintas puisi-puisi M.S Rindu, kita seolah diajak memahami kegelisahan personal
penulisnya. Berbagai peristiwa di dalam dan di luar dirinya menjadi tema utama sebagian
besar.

Dari 10 puisinya, semuanya tentang tokoh dan negaranya. DIsebut di situ beberapa nama,
termasuk Malaysia dan sosok guru.

Puisi itu sendiri merupakan seni kata yang ketat dan kompleks. Seorang penulis puisi tak
Cuma dituntut mampu mengolah kata-kata, tapi juga tak henti belajar. Belajar dari riset,
membaca puisi orang lain, turut hadir dan berbincang dalam acara sastra untuk menemukan
kesegaran baru.

Membuat puisi untuk tokoh yang jadi idola seorang penulis bukan perkara mudah, seperti
halnya tema lainnya. Dalam diri tokoh yang ditulis ada kekaguman, kebencian, kerinduan dan
harapan.

Sosok tokoh itu sudah ada, namun untuk menjadikannya puisi itu bermula dari tiada. Penyair
yang harus meng-ada-kan atua menciptakan bahan untuk penulisan puisinya. Sejauh mana ia
mengolah kata, mendalami tokohnya,dengan keunikan perspektif itu yang akan membuat
puisinya mampu “berbicara”, dirasakan kehadirannya di pembaca.

Bagaimana puisi-puisi M.S.Rindu bisa dirasakan ruh-nya?

Berbicara soal rima, terasakan bagaimana ia memainkannya dalam setiap puisinya. Seperti
pada Abdulah C.D:

Kau pejuang kemerdekaan
yang tidak mengikut jalan perundingan
kau mengangkat senjata
seperti rakyat di pelbagai negara.

Kau berjuang sejak muda
berasaskan ideologi yang kau yakini
penjajah adalah musuh rakyat
yang wajib diperangi dan dibasmi.

Satu lagi puisinya, Kamarulzaman Teh:

Kau anak elit kampung
bersekolah Inggeris pada zaman penjajahan
nasibmu sudah terjamin
jadi orang besar dan hidup senang
jika hanya fokus pada pekerjaan
dan setia pada kerajaan.

Namun puisi tak sekedar rima. Dari puisi di atas, tak terasa getaran apa yang ada di
dalamnya. Penjajah memang musuh rakyat, wajib diperangi dan dibasmi. Sesuatu yang tak
perlu dijelaskan oleh penyair. Hakekat apa yang hendak ia sampaikan, itu yang penting.

Puisi Chairil Anwar, penyair legendaris Indonesia bisa dijadikan perenungan, seperti apa
pesan yang ia sampaikan dan begitu mengena bagi pembacanya. Berkisah tentang
Diponegoro, pahlawan yang terkenal dengan perjuangannya melawan Belanda:

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

(Diponegoro, karya Chairil Anwar)

Tidak perlu banyak waktu untuk mendapatkan makna di dalam puisi Diponegoro tersebut.
Kita dapat merasakan gelora perjuangan, perlawanan di dalamnya. Menggugah semangat.

Tak mengherankan jika dari puisi itu penggalan kalimatnya abadi hingga kini: Sekali
berarti/Sudah itu mati.

Maka benarlah jika dikatakan bahwa puisi itu seperti gumaman yang kita ucapkan ke diri kita
sendiri ketika termenung seusai merenung.

2.10. Ulasan Puisi Muhammad Iqbal

Ketergesaan Iqbal

Banyak sebab yang bisa mengikat pembaca dengan sebuah puisi. Bisa dari teks atau suasana
hati pembaca saat menemukan puisi itu.

Ikatan yang terjalin antara pembaca dan puisi bisa dibilang mirip takdir. Itu pula yang
membuat penyair akan tersenyum, gembira karena puisinya disukai. Sambil tentunya
berharap tak hanya satu atau dua puisinya yang mampu memikat pembaca.

Namun menuju sebuah puisi akan dicintai oleh pembacanya kadang seperti sebuah perjudian.
Sebab puisi bukan sekedar barisan kata-kata yang bisa dibaca sambil lalu, sekedarnya. Ia juga
bukan larik lagu yang enak atau tidak didengar sangat diputar. Puisi perlu dibaca dengan hati.
Pembaca berdialog dengan teks, sebelum menemukan, jika ada, getaran di dalamnya.

Di sinilah bisa dilihat sejauh mana sang penyair telah menemukan dan memiliki bentuk
tertentu untuk menyuarakan gagasan, emosinya. Pola yang sudah dipunyainya akan membuat
puisinya tak lagi mengekplorasi bentuk tapi menawarkan isi bagi pembacanya.

Pada titik itu, kita berhadapan dengan 10 Muhammad Iqbal. Kegelisahan dan kerinduan
mendominasi puisinya, dengan satu puisi tentang kekagumannya pada Deli, sebuah kota di
Sumatra Utara, Indonesia.

Tema cinta sebenarnya menawarkan banyak sisi untuk ditulis. Persoalannya, puisi bukanlah
diary atau catatan harian. Ia juga bukan cerpen mini yang dipaksakan untuk bertutur. Jika
ingin bertutur, biarlah puisi itu yang melakukannya, bukannya dipaksakan. Pemaksaan ini
bisa berakibat puisi akan menjadi nasehat bagi pembacanya.

Di dalam Kisah Cinta misalnya, tidak ditemukan apa yang ingin disampaikan oleh penulis.
Cinta apa yang diinginkannya? Teks yang disajikan adalah pengertian dengan segala aspek
pandangnya.

Cinta adalah sebuah puncak dari ledakan kasih sayang
Cinta mewakili senyuman semesta kepada seluruh jiwa yang haus akan hadirnya
Dia menari riang di dalam tubuhku sebagai makhluk yang baik lakunya

Bisa dilihat rima atau pengulangan bunyi pada awal maupun akhir bait di Kisah Cinta itu.
Rima bersama diksi menjadi unsur penting sebuah puisi. Namun meski begitu tak berarti
mudah memadukan keduanya. Kata-kata harus dipilih dengan tepat, punya makna dalam
setiap baitnya, yang jadi indah dengan adanya rima.

Ketergesaan membuat puisi akhirnya hanya akan menghasilkan cerpen mini yang tak mampu
membuat pembaca beralih ke hal lainnya. Ketergesaan itu pula yang ada dalam puisi-puisi
lain dari Muhammad Iqbal.

Banyak waktu bagi Iqbal untuk mencumbu puisi yang sudah membuatnya jatuh cinta.
Membaca dan menulis, berulang. Itu yang akan membuatnya tak lagi tergesa nantinya.

2.11. Ulasan Puisi Nor Aziah Aziz Fadzilah

Perempuan Dalam Aneka Warna Puisi Nur Aziah

Membaca puisi Nur Aziah kita dapatkan kumpulan puisi yang berwarna. Masalah yang
dibahas memang tak luput dari soal kesedihan. Namun ada juga harapan dan rasa syukur,
serta kegelisahan akan masalah sosial politik yang melingkupi perasaannya.

Suara-suara hati itu mungkin juga ada pada diri kita, terpendam diam. Nur Aziah
menceritakan semua itu lewat puisi-puisinya.

Bagaimana kita menikmati puisi-puisi itu?. Tentu tak sama bagi semua orang, mereka
memaknai dengan caranya sendiri. Setidaknya, membaca puisi menjadi salah satu cara
melepaskan penat, juga rasa sesak yang menghujam perasaan.

Sebenarnya jika dicermati, Nur Aziah sudah mengawali sajian puisinya dengan baik.
Perempuan, puisi pertama bisa menjadi jembatan untuk mengantarkan kita menyimak puisi-
puisi berikutnya. Berkisah tentang perempuan, yang tentu lebih mengena karena ditulis
seorang perempuan pula.

Namun, entah kenapa Nur Aziah tak menghantarkan semua puisinya, rupa, setidaknya
mendominasi dari sepuluh puisinya di buku ini. Tema lain disajikan, seperti kegelisahan
tentang tanah airnya, puisi untuk orang tua dan suaminya.

Dua puisi Perempuan dan Seorang Perempuan menghadirkan derita dan kegelisahan seorang
perempuan. Kata-kata yang sederhana tapi mengena mampu menghanyutkan pembaca untuk
menyelami dan merasakan kisah perempuan di situ.

Perempuan itu matanya berpasir
tak pernah pedihnya dilempar kepada sesiapa
suka duka terbenam di kolam diamnya.

(Perempuan)

Di tengah soal perempuan, yang sekali lagi mestinya ditampilkan lebih banyak, menyeruak
puisi tentang perenungan kemerdekaan. Sayangnya segala tanya yang ada di benak penulis
disajikan begitu panjang.

Penyampaian makna dalam puisi memang tak punya aturan baku, apakah pendek atau
panjang. Puisi panjang juga punya daya pikat tersendiri, seperti Nyanyian Angsa dari W.S
Rendra.

Namun, panjangnya baris puisi juga membawa jebakan bagi seorang penulis. Jika ia terlena
untuk larut berkata-kata, bisa jadi ia terjebak dalam banyak baris yang sebenarnya tak perlu.

Dalam puisi Benarkah Kita Telah Merdeka terasa banyak himpitan perasaan tentang makna
kemerdekaan itu sendiri. Apakah perayaan kemerdekaan di bulan Agustus sudah menjawab
pertanyaan siapa yang memiliki tanah air?

Setiap kali Ogos bersapa
pernahkah kita bertanya

tanah merdeka ini milik siapa
jangan hanya kemeriahan bunga api
membakar dedaun kering
tanpa pengisian tentang erti sebuah kemerdekaan.

Puisi tentang kemerdekaan itu menjadi warna tersendiri dari Nur Aziah. Pertanyaan yang tak
hanya berlaku bagi saudara serumpun di Malaysia, tapi juga di Indonesia dan negara lainnya.

2.12. Ulasan Puisi Phaosan Jehwae

Kita Pun Amat Khawatir

Puisi kerap diidentikkan dengan perjalanan penulisnya. Bisa menjadi catatan harian atau
diary atau ringkasan jiwanya. Kata-kata sering merupakan perenungan penulisnya. Bisa
diartikan itu merupakan sebuah pernyataan hati, sikap.

Puisinya tentang apa? Apa saja. Ketika ia mencoba berdialog dengan Allah, maka tarikan
baris-baris kata yang disusunnya berkisah tentang Yang di Atas. Kerinduan akan sesuatu
yang berifat hakiki. Sesuatu yang normal saja bagi seseorang yang merasa ada yang kosong
dalam dirinya.

Membaca puisi-puisi Phaosan Jehwae, ilmuwan yang juga penulis dengan kreativitas tinggi,
adalah menikmati pergulatan bathin tentang tanah airnya, Pattani yang terletak di selatan
Thailand. Ia juga bersentuhan dengan budaya Indonesia saat menimba ilmu di Yogyakarta
dan Jakarta.

Puisi pertama yang tersaji seperti sebuah identitas seorang Phaosan, lelaki yang sangat
mencintai tanah airnya. Kita langsung dihadapkan pada nyala api amarah dan tanya lewat
Sudah Lama Bahasaku. Ia juga mengajak adiknya (Adikku) untuk tetap bercakap dan menulis
dalam Bahasa Melayu.

Anak muda terasa malu/ Bila bercakap bahasamu bukan semata retorika Phaosan tentang
keprihatiannya akan Bahasa Pattani yang terpinggirkan. Ia juga jadi persoalan kita semua,
terutama di Asia Tenggara.

Phaosan juga memberi upper cut yang telak lewat Bedoah.

Bedoah kita
Bila berfikir bahasa kita
Bahasa murahan
Bahasa kampungan
Yang ditutur orang-orang desa
Ditulis oleh orang-orang kelas dua
Dan dibaca oleh orang-orang bodoh
Kita keliru, kita sangat keliru

Phaosan menunjukkan dengan jelas, bahwa puisi bukanlah sekadar tumpukan kata-kata
berbait-bait. Ada kedalaman makna dan hasil kontemplasi di dalamnya. Perenungan yang
bukan dari hasil pengamatan sekejap.

10 puisi Phaosan tak sekedar menghanyutkan perasaan pembacanya, tapi juga mengajak
untuk khawatir akan masa depan bangsanya, terutama budaya lokal yang makin tergusur era
modern. Kita patut bersepakat dengan Phaosan bahwa hal itu membuat kita amat khawatir.

2.13. Ulasan Puisi Rosnidar Ain

Gaya Ucap Yang Tak Sekedar Mengolah Kata-kata

Saat menghadapi sebuah karya dalam bentuk puisi, tentu tak sekedar melihat apa yang
tampak di depan mata. Butuh pemahaman kata demi kata, frasa demi frasa, kalimat demi
kalimat, bait demi bait.

Saya berusaha keras untuk menemukan apa yang ingin diucapkan penulis dalam puisinya itu.
Tentu tak sekedar menemukan tapi juga melihat bagaimana ia menyampaikan pesannya. Bisa
pada puisi pendek, atau puisi naratif yang diolah dengan baiknya sehingga kita terbuai.

Begitu yang saya lakukan ketika menyimak puisi-puisi Rosnidar Ain. Seorang Tua
menyajikan perenungan tentang orang tua yang kesepian di rumahnya. Rumah yang sepi,
jarang didatangi anak-anaknya.

Seorang tua itu sedang uzur
isyaknya sakit, cergasnya zohor
kadang mimpi mengganggu tidur
rindunya pada bungaan gugur
di atas batas-batas kubur.

Seperti saya singgung dalam ulasan puisi Haji Mariat, tema tentang orang tua atau usia yang
menua bisa menjadi puisi menarik jika diekplorasi dengan baik. Butuh perenungan sebelum
menuliskannya, menangkap ruh pada diri obyek atau subyeknya.

Selain itu, puisi pun dilihat dengan logika. Seperti pada Seorang Tua, dia tinggal sendirian.
Anak-anaknya punya pekerjaan yang mapan, kecuali seorang yang miskin. Apakah tak bisa
menggaji pembantu, atau mencari teman dari keluarga untuk menemani orang tua itu?

Dalam Bengkel menjadi puisi yang menarik. Pekerjaan yang menjadi tradisi, yang seperti
menjadi keharusan untuk dilakoni. Tapi semestinya tak menimbulkan kesan gamang karena
jelas ditulis bekerja, keluarga dan hobi. Bukankah itu memang tepat, pekerjaan yang sesuai
dengan hobi. Dengan bekerja akan menghasilkan untuk kebutuhan keluarga?

Di sinilah terasa pentingnya gaya ucap bagi seorang penulis. Tak sekedar terlontar begitu
saja, karena gaya ucap itu lahir dari kemampuan dan kecermatan berbahasa penulisnya.

Pada satu titik, nanti penulis akan mendapatkan gaya ucap yang menjadi identitasnya.
Mampu mengolah gaya ucapnya sendiri saat bahasa menjadi puisi-puisinya.

Gaya ucap Rosnidar sudah terbentuk, tinggal bagaimana menulis lagi puisi-puisinya dengan
kata-kata yang berisi. Menghindari kalimat atau bait yang tak perlu. Seperti pada Babi dan
Harimau
yang punya pesan hilangnya ekosistem, hilangnya “rumah” bagi babi dan harimau,
sehingga mereka menjadikan rumah penduduk sebagai tempat tinggalnya.

3.0. HAL LAIN

Pelajaran berharga yang bisa didapat, sekali lagi berkaca dari puisi-puisi di buku ini, antara
lain soal jeda atau jarak peristiwa bagi seorang penyair.

Seperti pernah dikatakan salah satu maestro puisi Indonesia, Sapardi Djoko Damono, penulis
tak boleh terlibat secara emosional dengan apa yang akan ditulisnya. Ketika ia hendak
menulis puisi, harus memberi jeda atau jarak.

Semisal saat dalam kondisi marah, jika dipaksakan menulis maka yang dihasilkan hanyalah
kemarahan-kemarahan. Emosi yang tak terkontrol akhirnya mewarnai puisi tadi.

Pemilihan kata-kata pun tak mesti mendayu-dayu, meliuk-liuk atau dibuat biar terlihat gagah.
Puisi sederhana, baik gaya penulisan maupun kata-katanya malah bisa menjadi karya yang
cemerlang.

Sapardi memberi contoh soal puisinya Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari. Puisi yang
karena begitu sederhananya malah masuk dalam antologi puisi dunia bersama satu karya dari
Rendra.

Berikut puisinya:

Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari

waktu aku berjalan ke barat di waktu pagi matahari mengikutiku
di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang
di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami
yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara
kami yang harus berjalan di depan

Puisi Isbedy Stiawan di buku ini menunjukkan bagaimana ia berjarak dengan peristiwa yang
ingin ditulisnya. Di dalam Aku Patung di Ruang Tamu misalnya, bisa terasa ide tentang puisi
itu bermula dari sebuah patung di ruang tamu. Ia tak langsung menulis tentang apa yang
dilihat dan dirasakannya saat itu juga. Diberinya jarak sehingga pada saat mood baik, baru
dijadikannya puisi.

aku batu yang kau bawa dari sungai
dekat bukit itu. aku kokoh. lalu
di samping rumahmu, aku ditatah
dan kau belahbelah

jadilah patung! jadi hiasan ruang tamu,
kau biarkan waktu membuatku abadi;
aku tak bercakapcakap, namun kedua
mataku tak henti menatap

Hal lain yang jadi kelemahan penulis puisi, yang bisa dijumpai di beberapa karya di buku ini
adalah kecenderungan untuk berceramah, memberi nasehat. Puisi pun jadi gagal karena
penyair tergoda untuk berceramah, dan menyimpulkan sendiri puisi tersenut di akhir
(ending).

Padahal menyimpulkan puisi itu bagiannya pembaca. Biarkan pembaca berimajinasi untuk
menyimpulkan sendiri apa yang mereka baca.

Masih ada hal-hal lain yang tak boleh dilupakan, salah satunya membaca. Apa saja bisa
dibaca, asal ada kemauan. Bacaan yang bisa memunculkan ide, kata-kata untuk dicatat atau
diingat.

Kiranya itu yang bisa dijadikan pelajaran bagi kita semua dalam berpuisi, usai menuntaskan
membaca lebih dari seratus puisi di buku ini. Tentunya pelajaran untuk saling belajar, karena
itu memang tugas kita sebagai penyair untuk tak berhenti belajar.

Salam,

Yo Sugianto.
Jogjakarta, Indonesia.
8.12.2020.

PUISI

1.
ANIE DIN

BIODATA. Rohani Din penulis Singapura, disenangi dengan Bunda Anie Din, asal utara Malaysia, menetap di Singapura hanya berpendidikan sekolah menengah, mula menulis setelah bergelar nenek. Belasan novel telah di hasilkan. Puluhan buku , puisi, pantun, syair, haiku, cerpen dll.

PUISI

1.01.

GARU KEPALA

GARU KEPALA
“Kita orang Indobesia berpecah belah, angkara Inggeris dan Belanda,” kata seorang anak
muda padaku sebentar tadi.
Aku yang mendengar, garu kepala sambil memikirkan warga di negara asalku dan juga
penetapanku.

Tg, Pinang, 5/1/15.

1.02.

KEJAYAAN

Usah dibuang masa menunggu dilamar
Kiranya hanya memerap diri di kamar
Memintal-rungkai puisi samar
Hingga hatimu hancur memar

Bukalah jendela kamar
Padamkan nyalaan damar
Lihat terbang riang camar
Walaupun kau tidak gemar

Usah memerap diri di dalam kamar
Baik juga membaca kalam Ilahi walau selembar
Atau melarik cerita berpandukan gambar
Sempurnakan naskahnyaa dengn sabar

Kirnya tidak puas di hati, jangan sesekali dibubar
Campurkan bumbu biar tidak hambar
Usah berasa marah jika ada yang mencabar
Kesabaran membawa kejayaan ke mimbar.

Puduraya, 9/12/14.

1.03.

PAGI BERMEGA

pagi bermega mendung
suria tak ukir senyum
sempat pula aku mengelamun
bergelut dengan penyamun

lamunan pagi yang asyik
dikucai tandangan gadis cantik
penjual produk kecantikan berjari lentik
menawarkan padaku bahan kosmetik

aku bertanya; “usia saya sudah enam puluhan, apakah muka ini berminyak atau kering atau tertempel jerawat jeragat?”

gadis itu mengecilkan matanya tanpa bicara.

aku menyambung kata, “Saya tak perlu apa-apa, hanya sedikit palitan lipstik sahaja, sudaah cukup wajah ceria.”

gadis berlalu tanpa sepatah kata
tentunya dengan perasaan hampa
meninggalkan aku menyambung
lamunan pagi bermega mendung.

L5tpy, 10/12/14.

1.04.

HARI SEPI

Tersalah kira atau tersalah jadual
kenapa tak diberitahu sebelum tiket dijual?
Jatuhnya Hari Sepi
Semua bercuti
Pesawat tidak terbang
Jalan raya pun lengang
Cuti umum setiap tahun di Bali
Harus diingat di lain kali
sunyi sepi tiada yang sapa
semua di rumah bagaikan bertapa.

Bali, 2015.

1.05.

DALAM HUJAN LEBAT

Ada urusan di kota pesat
Tiba-tiba hujan sangat lebat
Lalu-lintas sesak hebat
Di kabel letrik aku terlihat
Seekor tupai berlari ligat
Mungkin mencari tempat
Di manakah harus berehat.

Jakarta, Indonesia, 1/2/15.

1.06.

PAK PANDIR DI DESAKU SUDAH TUA

Pak Pandir di desaku sudah tua
Suka makan goreng pisang
Pisang pilihannya pisang tanduk
Duduk bersembang di kedai kopi hingga petang
Isterinya di rumah tak senang duduk

Pak Pandir di desaku sudah tua
Sangat ramah di kedai kopi kopi
Entah apa-apa tajuk cerita
Berbual hingga perut kembali lapar
Sampai rumah minta nasi
Isteri cemberut sambil hingar
Pak Pandir buat selamba hatta tak suka.

Sembawang Park, 14/2/15.

1.07.

MELAJURI WAKTU

Papan batu mengajar kita mengikuti waktu
Ketika negara belum merdeka
Tak lama kemudian kita mengenali buku
Segala yang ditulis diulang baca tanpa jemu
Pensil beraneka warna dipegang selalu
Mencoret kisah cerita satu per satu.

tpy, 1/2/12015.

1.08.

BAHAGIA

Hari ini dijangka aku akan bertemu dan berurusan dengan ramai orang.
pemandu teksi
petugas pesawat
pelancong-pelancong
orang ramai mundar mandir
pekerja di lapangan terbang
pegawai keamanan
pegawai kastam
peniaga
pramugara-pramugari
pilot
penumpang pesawat
pensyarah Universiti Surabaya
teman buku
penjaga rumah Dhuafa
anak-anak malang
anak-anak yatim
juru-foto
dan entah siapa lagi?

Aku bahagia sibuk begini.

tpy, 28/1/15.

1.09.

MERINDU

2014 sudah lama melambai
dengan kata selamat tinggal atau bye bye
tetapi rinduku tumpahannya tak sampai
di manakah anak-anak cucuku, WAHAI….
2015 sudah berjalan
Hingga ke hujung bulan
Tapi, yang dirindu belum menampilkan
Apakah yang menyekat di jalan?

TPY, 28/1/15.

1.10.

USIA DI HUJUNG SENJA

Semakin usiaku di hujung senja, terasa semakin tidak kusia-siakan masa walau sesaat.
Hingga aku dapat mengecapi banyak kenikmatan yang dahulunya jarang kudapat.
Tidur yang nikmat walau sekadar sejam dua memberi peluang tubuh dan otakku berehat.
Makan? Sedap sahaja walaupun aku hanya masak apa yang sempat.
Usia di hujung senja, usai Subuh masih tegap berjalan dan berbelanja di Pasar Geylang Serai serta bertemu sahabat.

MRT Paya Lebar, 27/1/15.

2.
CT NURZA

BIODATA. Nama sebenar Siti Nur binti Zainal. Nama pena CT Nurza. Berasal dari Jerantut, Pahang Darul-Makmur. Aktif menulis semenjak tahun 1989 sehingga kini. Karya-karya telah banyak diterbitkan di radio RTM, akhbar dan majalah arus perdana (1989-2018). Pernah bertugas sebagai penulis merangkap penolong pengarang majalah iK-Inspirasi Kejayaan Magazine isu 01-12 (Dis 2011-Ogos 2013). Menyertai lebih daripada 100 buah antologi bersama dalam pelbagai genre yang telah pun diterbitkan. Pernah beberapa kali menjadi pemenang utama dalam pelbagai pertandingan mengarang yang dianjurkan oleh radio rtm, akhbar, majalah dan laman sosial FB (1990-2017). Pencapaian terkini, “Pemenang Kedua” peraduan menulis sajak “Jasa Pendeta Za’ba” anjuran grup BeTA IBH (2016),  “Pemenang Kedua” Sayembara Gema Patriotik (genre) “Pantun Berkait” anjuran DBP Niaga (2016), “Johan Sayembara Puisi (genre) Haiku, Syair dan Pantun” anjuran grup SPTA (2016-2017), “Pemenang Saguhati” Sayembara Puisi DSN anjuran grup Dirgahayu Sastera Nusantara PS Numera Temasik (2017), Pemenang terbaik ulasan novel fobia (2017), Pemenang “Fiesta April” Wattpaders Malaysia 2018 “Short Story” (Kategori Paranormal), Pemenang Hadiah Saguhati (Penghargaan) Sayembara Menulis Puisi/Cerpen DPMP/PKPP 2017/2018 kategori cerpen anjuran Dewan Persuratan Melayu Pahang dan Pemenang Sayembara “Halloween Vault” Wattpaders Malaysia 2018 “Short Sory” Prompt Pesta Topeng. Antara buku Kompilasi Puisi yang telah diterjemahkan kepada Dwi-Bahasa “The Eternal Storm” – Sekali Air Bah, Selamanya Pasir Berubah terbitan E-magineers (M) Sdn. Bhd. & ITBM (2015) & Antologi Haibun Haiku Melayu berjudul “REGIS” (SPTA). Kini aktif menulis rencana sastera, ulasan buku, travelog kembara serta karya-karya eceran di akhbar dan majalah arus perdana Malaysia. Buku solo 2018, Kumpulan Sajak “Bak Bakawali, Mineral, Daun Lebar dan Kokila” (Terbitan Jom Sastera). Aktif mengikuti program-program sastera dan budaya bersama grup ZK-Nusantara semenjak 2015 sehingga kini. Jua, aktif berkarya di laman E-Sastera Vaganza.

PUISI

2.01. Tanaman Perubahan
2.02. Gawat
2.03. Rubai: Akhlak Pemimpin Ummah
2.04. Pantun: Motivasi Diri
2.05. Gurindam: Menutup Kebenaran
2.06. Soneta: Budaya Buli
2.07. Seloka: Bangga
2.08. Soneta: Syawal Memugar Ukhuwah
2.09. Soneta: Ukhuwah Aidilfitri
2.10. Syair: Bahasa Melayu Tetap ‘Kan Maju

2.01.

TANAMAN PERUBAHAN

Tanamlah buluh
terapi untuk mata
daunnya hijau
batang dibuat lemang
rebungnya masak lemak

Tanam kelapa
santan boleh dijual
hidangan bubur
lidi buat penyapu
katak bawah tempurung

Tanamlah nenas
buat jem biskut raya
duit tambahan
untuk pekebun kecil
perbelanjaan dapur

Jika begini
idea yang diberi
apalah guna
buah fikiran diberi
saranan semakin ngeri.

Malaysia, 3 Mac 2019.

2.02.

GAWAT

Gawat semakin gawat
adakala kehilangan rakaat
kesibukan setiap saat
alpa berkerja cuaikan solat
lupa zikir lupa selawat
kepada nabi mohon syafaat
kepada Allah mengharap maghfirah
namun amalan tidak bertambah
sikap tidak berubah-ubah
diuji Allah terkulai rebah

Gawat semakin gawat
dahulu ukhuwah begitu erat
kini tangan enggan berjabat
sirna bayang hilang kelibat
berdiri di saf tiada rapat
senyum tidak lagi memikat
bayangan dunia menerjah ke akhirat

Aduhai!
gawat bukan sahaja poket
ada duit fikir pun sempit
sempit menghulur terasa sakit
sakit iman tangan cacat
cacat memberi lebih menerima
meskipun menerima bukan yang hak
kerana tidak pernah layak
namun itulah tarbiah dari-Nya
menyedarkan diri tentang kasih-Nya
agar kita malu menderhakai Maha Pencipta.

Port Klang, Selangor, 30 Sept 2018, 5:21 ptg.

2.03.

RUBAI AKHLAK PEMIMPIN UMMAH

Pemimpin ummah jagalah adab
tutur bahasa jangan biadab
rugilah anda jadi khalifah
tidak berdakwah mengikut kitab.

Peribadi pemimpin biarlah murni
janganlah asyik begitu begini
andalah contoh teladan ummah
elok kepimpinan pasti disegani.

Jikalau menegur biar berhemah
tiada perlu sumpah seranah
lantang bersuara bukanlah tiket
lancang mengeji menutup ramah.

Tidaklah mudah jadi pemimpin
jikalau diri tidak terpimpin
baik buruknya dinilai diperhati
sampai saatnya tersingkap kain.

Berbongkah sesal menyebal hati
tegur menegur tidak seperti
bisanya lidah menyirap darah
tua dan muda tidak menghormati.

Kononnya niat ingin memperbaiki
tetapi malang berhasad dengki
lidah bercabang menyembur nista
kerana kuasa meluap emosi.

Kepada pemimpin yang dihormati
baiki elok budi perkerti
jadilah pemimpin jujur dan benar
sokongan pasti tidak terhenti.

Port Klang, Selangor, 3 Jun 2018, 5:20 ptg.

2.04.

PANTUN MOTIVASI DIRI

Jalan berliku ke Tanjung Minyak,
denai terputus hala ke Labis;
bacalah buku sebelum nyenyak,
agar tercetus ilham menulis.

Memasak kurma belimbing besi,
hitamnya warna si asam jawa;
karya ulama’ berinspirasi,
indah dicerna menyejuk jiwa.

Memanjat ungka di pohon ciku,
bulan mengambang tampak gegelang;
jikalau suka membaca buku,
minda berkembang diri cemerlang.

Pisang di para mari disira,
puyu di paya sauk meronta;
jaga bicara beramah mesra,
tikar budaya khazanah kita.

Port Klang, Selangor.

2.05.

GURINDAM MENUTUP KEBENARAN

Apabila kebenaran tidak disuarakan,
pincang kepimpinan dusta disorokkan.

Kebenaran itu teramat pedih,
lantang bersuara pasti tersisih.

Jika dibiar kebenaran dicalar,
tugas khalifah pasti diselar.

Kerana kebenaran kehilangan rakan,
berani bersuara dapat kutukan.

Ramai berdusta tutup kebenaran,
sanggup sekongkol cetek pemikiran.

Kala kebenaran sudah tersingkap,
tiadalah lagi kata terungkap.

Sorok kebenaran demi kepentingan,
jika tertangkap terbukti penyelewengan.

Amanah kepimpinan nyatakan kebenaran,
jaga kepercayaan fikirkan kewajaran.

Ketika ramai menutup kebenaran,
akan datanglah peringatan Tuhan.

Jerantut, Pahang, Malaysia, 02 Dis 2017, 10:11 mlm.

2.06.

SONETA: BUDAYA BULI

Budaya buli kian menjadi,
wujud tekanan di dalam diri,
berakar umbi jadi tragedi,
ada yang mati dibuli ngeri.

Sikap pembuli amat agresif,
gangguan mental celaru jiwa,
angkuh dan ego bukannya pasif,
gemar mengecam kala kecewa.

Tiada empati dalam diri,
persekitaran hidup negatif,
sering membenci menjadi ciri,
anasir buruk pelbagai motif.

Gejala buli wajar dibendung,
agar si mangsa dapat dilindung.

Port Klang, Selangor, 15 Julai 2017.

2.07.

SELOKA: BANGGA

Ramai berbangga rumahnya besar,
tak mampu bayar tanah dicagar.

Ramai berbangga kereta mewah,
rupanya kaya makan rasuah.

Ramai berbangga anak berjaya,
canang serata puji beriya.

Ramai berbangga isteri banyak,
nafkah terabai tidur tak nyenyak.

Ramai berbangga dikata hebat,
ghairah berhujah asyik berdebat.

Ramai berbangga bercucu cicit,
dikejar Ah Long tidak berdecit.

Ramai berbangga belajar tinggi,
rendah akhlaknya tidaklah ranggi.

Ramai berbangga kala dipuji,
habis dipuji pasti dikeji.

Ramai berbangga taat bersolat,
usai bersolat mulut mengumpat.

Port Klang, Selangor, 14 Julai 2017, 12:32 PM.

2.08.

SONETA: SYAWAL MEMUGAR UKHUWAH

Syawal dirai kunjung mengunjung,
jauh dan dekat kita ziarah,
ramah dan santun pasti disanjung,
singkir lenyapkan dendam amarah.

Di pagi Syawal bertemu taulan,
imarah masjid solat jemaah,
hadirnya Syawal cuma sebulan,
bersama kita memohon maaf.

Serikan Syawal puasa enam,
puasa sunat tampung amalan,
sucikan hati niat ditanam,
tenang hidup damai berkekalan.

Syawal mulia membawa rahmat,
takbir menyatu seluruh umat.

Port Klang, Selangor, 11 Julai 2017.

2.09.

SONETA: UKHUWAH AIDILFITRI 

Aidilfitri saat yang dinanti,
pulang bertemu ibu dan ayah,
yatim piatu kita dekati,
hulur sedekah buat jariah.

Di pagi raya kuih dijamah,
alunan takbir syahdu bergema,
saf dirapatkan bersatu ummah,
egat hubungan kita sesama.

Syawal mulia ayuh raikan,
doa ziarah kita iringi, 
pada yang kurang kita titipkan,
moga ukhuwah malar mewangi.

Aidilfitri disambut meriah,
nikmat disyukur Alhamdulillah.

Port Klang, Selangor, 19 Jun 2017.

2.10.

SYAIR: BAHASA MELAYU TETAPKAN MAJU

Salam takzim saudara saudari,
insan mulia lagi bestari,
di dalam syair inginku peri,
lebih dahulu kususun jari.

Bermula syair tentang bahasa,
mari bersama kita perkasa,
angkat tinggi martabat bahasa,
khazanah kita anaklah bangsa.

Bahasa Melayu sungguh indah,
menguasainya bukan mudah,
tatabahasa jangan diredah,
rosak jadinya aksara indah.

Bulan Oktober bulan bahasa,
kukuh eratkan berbilang bangsa,
berkomunikasi sentiasa,
acara disusun tiap masa.

Bulan bahasa sungguh meriah,
memupuk minat kanak sekolah,
bahasa Melayu jangan digugah,
andai digugah membawa padah.

Bahasa Melayu jangan rancu,
untuk warisan anaklah cucu,
letakkan ia di atas mercu,
terus mengorak jadi pemacu.

Ayuh piara bahasa kita,
biarlah ia berkembang rata,
tatanglah ia bagai juita,
juita hati di jiwa kita.

Bahasa jiwa terungkap nyata,
pusaka ibunda bak permata,
jangan telagah jadi sengketa,
genggam ia wasiat pendeta.

Duhai bangsaku marilah cakna,
bahasa kita amat bermakna,
tuturlah ia walau di mana,
elakkan ia dari perlina.

Syair bahasa tamat di sini,
terus bersama kita ladeni,
terap semangat jiwa insani,
bahasa Melayu indah seni.

Port Klang, Selangor, 12 Oktober 2016.

TAMAT 2.

3.
HAJI MARIAT BIN HAJI ABDULLAH

BIODATA. Haji Mariat bin Haji Abdullah mula menulis pada tahun 1965 ketika masih di bangku sekolah (SMMP). Bidang karya cerpen menjadi tumpuan dan sering tersiar di Radio Brunei, akhbar Bintang Harian, akhbar Pelita Brunei, majalah-majalah DBP serta beberapa antologi bersama, Hidayah I hingga VII (terbitan Jabatan Pusat Dakwah), dan beberapa majalah luar negara. Pernah dinobatkan dua kali sebagai Penulis Kreatif BAHANA, DBP. Pernah menggunakan tiga nama samaran yang kini tidak disebut-sebut lagi lantaran lebih senang menggunakan nama sebenar. Banyak menerbitkan sendiri antologi sajak dan cerpen, serta beberapa jenis buku sastera dan Bahasa Melayu untuk penuntut Peringkat ‘O’ sejak mula diaturkan bertugas pada awal bulan Januari 1970 di sekolah menengah: SMSMJA. Sekarang lebih gemar menulis pantun, syair, dan sajak sahaja.

SAJAK

3.01. KEBENARAN
3.02. BERPISAHLAH KITA
3.03. BERPELUK TUBUH
3.04. RINDU
3.05. TANAH TUMPAH DARAHKU
3.06. KE MANA JALANKU
3.07. JIWA KREATIF
3.08. KETUAAN KITA
3.09. AKU DAH TUA
3.10. WARGA EMAS

3.01.

KEBENARAN

Benar katamu
Di sebalik tidak benar.

Kau bakal peduli
Peduli bila ada suguknya.

Katamu ya
Hanya di depan tuanmu.

Bila tertunainya katamu
Masih ditunggu-tunggu bukti bohongmu.

20 Oktober 2020, Selasa.

3.02.

BERPISAHLAH KITA

Demikianlah perpisahan itu
Kekadang tanpa diduga
Ia akan terjadi juga
Meskipun tak dikehendaki
Lantaran talinya sudah takdir terlepas ikatan
Maka menuju ke suatu distenasi
Yang mungkin lebih indah pulaunya
Dan itulah diri
Antara suka dan duka menerimanya.

Pada yang ditinggal
Diharap akan melepas dalam walang
Waima ada juga yang mungkin girang
Tak dapat berbuat apa-apa
Itulah namanya perpisahan
Bertapak pada nan bukan kekal
Kepasrahan perlu di kemuncaknya
Meski air mata berkata sedih
Kerimut bibir melepas pergi
Hati berat menyata
Jiwa berkobar riang
Kerana apapun itu
Sesuatu itu pasti terjadi juga
Dalam kerelaan
Dalam keserbasalahan
Namun…
Itulah perpisahan yang hakiki.

Kita sesama menumpah sabar
Tinggallah dengan mengiringi langkahku
Bila-bila kita akan dapat berjabat salam lagi
Meskipun di tempat lain
Pun doakanlah
Semoga ketabahan bakal menyulam bahagiaku
Berdayung menuju pulau kilauan
Membunga senyum menabah hati
Dan percayalah
Tempat jatuh lagi dikenang inikan pula tempat bermain
Keakraban kita bukanlah setakat di sini saja
In syaa Allah!

20 Jun 2020,  Sabtu.

3.03.

BERPELUK TUBUH

Kita tak boleh berpeluk tubuh hanya
Bererti tidak bertindak balas
Pada segala pencerobohan dek kekurangajaran
Yang mencabar keupayaan
Cuma mereka lebih sudu daripada kuah.

Sampai bilakah
Mahu berpeluk tubuh itu
Tubuh akan tinggal tulang-temulang
Ketika telah disemadikan
Kenangan pada yang tinggal
Nak membuka peluk tubuh itu
Atas maruah yang perlu disanjung
Agar tidak lagi tersandung
Hingga ke hujung warisan
Berdarah pejuang.

8 Jun 2020,  Isnin.

3.04.

RINDU

Rinduku itu mudah adanya
Kali ini tujunya ke lain
Bukan lama tak berkasih sayang
Usah sangka hatiku surut mengikut alan waktu
Lantaran keterpaksaan
Bukan kerana aku tak mahu
Kerana arahan selama tiga pekan
Atas sebab penyakit menular
*COVID-19*
Oh! Masjidku.

Hampir seluruh dunia
Diarah tutup bukan seharusnya
Nan baru pernah terjadi selama berkurun berzaman
Atas sebab penyakit menular
*COVID-19*
Yang menggusarresahkan seluruh dunia
Lantaran perbuatan manusia jua
Rakusnya bagai tak bertepi
Demi kepentingan diri
Oh! Masjidku.

Ya Allah! Ya Tuhan semesta alam!
Ampunilah kami
Jika aku termasuk antara mereka itu
Tanpa kusedari mungkin
Bukakanlah masjidku
Dan hilangkanlah *COVID-19* itu secepatnya
Agar aku dan lainnya
Taranah berteleku di hadapan-Mu
Di dalam masjidku
Rumah-Mu
Tempat berjemaahnya kami
Menadah tangan memohon keampunan daripada-Mu
Dengan sesungguhnya
Atas izin-Mu jua
Ya Allah! Ya Tuhanku!
Rinduku masih mewangi.

24  Mac  2020,  Selasa.

3.05.

TANAH TUMPAH DARAHKU

Memanglah…
Ketahuilah…
Negara Brunei Darussalam
Negara merdeka nan kecil di mata dunia ini
Adalah negara tercintaku
Di sini aku dilahirkan
Di sini aku dibesarkan
Di sini aku hidup
Bersama-sama keluarga besarku
Bersama-sama rakyat negaraku lainnya
Di sinilah nanti akhir hayatku.

Memanglah…
Tak aku
Tak katani
Siapa lagi…
Di bahu katanilah ia membangun.

Mari…
Katani ‘Jayakan Wawasan Negara’
Tak katani siapalah lagi???
Kalau orang lain
Yang masbuk membangunkannya
Memang ada maunya
Katani diketepikan
Maka…
Negara katani bakal dimilikinya
Sedarlah!
Nanti…
Katani akan mengemis di negara sendiri
Sedarlah!
Awas pada kesilapan.

16  Feb.  2020,  Ahad.

3.06.

KE MANA JALANKU

Kumula jalani tahun baru ini
Tahun 2020 setakat mana nantinya
Hanya Allah SWT Yang Maha Tahu
Aku hanya pasrah dalam ketentuan-Nya
Allahhu akbar!!!

Syukur umurku kini
Hampir membelai-belai tiga suku abad
Mahu kuusap-usap kemanisan senyumnya
Kubiarkan kelak ia membelai sayang usiaku
Menyahkan segala penyakit yang tidakku pernah deritai sejak dahulu
Malah kuharapkan…
Menyempati telatah cucu-cicitku
Yang pastinya kusayangi
Bagailah sayang kasihku  terhadap paranak, pacucuan, dan cicit kami lalu menimang piut…
Oh! Alangkah indahnya kelak…
Meski mungkin kedut-kedut di wajahku menambah kehodohan tuaku
Yang aku sendiri tak sanggup bercermin muka
Maka…
Itulah wajah keriputku
Atau…
Masih macam dahulu juga
Tanpa kedut di dahi
Atas anugerah Tuhan jua
Syukurku kepada-Nya
Moga dipanjangkan lagi umurku yang 70-han kini
Dan…
Saat-saat kematianku pun tak menyusahkan mereka
Aamiin yarabbalalamiin!!!

3  Jan  2020,  Jumaat.

3.07.

JIWA KREATIF

Meski cahaya bulan jauh di angkasa
Cahayanya pun mengindah alam
Atas kehendak Allah SWT jua
Kita rangkul kemas di pangkuan
Menerusi tangan-tangan kreatif
Bersama-sama buah fikiran terindah
Dihulur hingga sampai ke hujungnya
Demi memanfaatkan anugerah Allah SWT.

Ya kawan…
Kita belayar sejumpung sebahtera
Kekreatifan kurnia Allah Yang Maha Esa
Dalam kepelbagaian idea
Justeru…
Mari kita bersatu hati dalam “Jiwa Kreatif”
Yang susah didapat payah dicari
Hanya ada pada kita atas pemberian Tuhan jua
Alhamdulillah!

27  Sept.  2019,  Jumaat.

3.08.

KETUAAN KITA

Kita dah tua duhai sahabat
Tulang belulang tak lagi hebat
Seharian kita perlukan ubat
Agar hidup semanis taubat.

Umur kita dah lewat kawan
Kesakitan rasa tidak terlawan
Wajah tak lagi begitu tampan
Muka dah jauh kacak menawan.

Kita digelar Warga Emas  dangsanak
Kehidupan tak lagi begitu enak
Godaan seharian tak lagi lunak
Untuk lagi mencapai puncak.

Ketuaan kita duhai handai taulan
Pahit manis dah kita telan
Dalam cepat dalam perlahan
Di hati kita menyanjung Tuhan.

Pagi petang ke Rumah Allah
Di situ lagi kita berserah
Apa-apa menimpa kitakan pasrah
Tak payah pandang sebelah-menyebelah.

Di situ pun ramai sapaumuran kita
Hanya ada beberapa yang muda
Sujud di sejadah bila tiba waktunya
Solat sunat pun dilakukan bersahaja.

Demikianlah perjalanan hidup kita
Tuhan telah mengatur segala
Hidup kita di alam semesta
Allah SWT Yang Maha Pencipta.

Apa salahnya berkongsi pengalaman
Bawa kawan dan juga teman
Biar yang muda tambah pengetahuan
Amat dituntut sepanjang zaman.

Itulah dipanggil nenek dan datuk
Dengan kewangan terhimpit terhantuk
Cuba berupaya membagi dan membentuk
Meski tersekat dek terbatuk-batuk.

Harapan hidup seribu tahun lagi
Mungkin dah ramai tertanggal gigi
Hidup berlama tak dapat dibagi-bagi
Sedia menghadapi untung dan rugi.

Cucu-cicit ramai tak terkira
Kabur dilihat meski berkaca mata
Nama mereka asyek dirista
Harap mereka tak mengabaikan kita.

Duhai cucu-cicit dan juga anak
Jasa dan pengorbanan terlalu banyak
Kita nak hidup menghindar sanak
Sebelum menutup mata meredah onak.

24  Sept.  2019,  Selasa.

3.09.

AKU DAH TUA

Aku dah tua
Gigi tak juga tinggal dua
Masih mampu senyum dan ketawa
Pun masih punya cecita.

Aku pun dah tua
Masih punya isteri cantik dan lawa
Harapan tetap berjela-jela
Selagi kita dapat bersua.

Aku memang dah tua
Uban dah penuh tak berbagi dua
Penyakit mendera atas kehendak Allah SWT jua
Dan masih mahu berlawa.

Aku warga emas golongan tua
Ilmuku banyak nak berbagi dua
Pada sesiapa saja generasi muda
Yang ramai antara mereka tak punya.

Aduhai…
Aku pasti tetap tua
Kekadang batuk bersin dan sendawa
Pada sekalian keluarga mudah-mudahan tak keciwa
Bakal bertemu nanti di syurga.

Yah benar…
Aku ini dah tua
Moga biskita dalam riang-gembira
Waima nanti aku dah tiada
Sebutlah daku bila-bila berdoa.

31  Ogos  2019, Sabtu.

3.10.

WARGA EMAS

Keemasan kita
Bukan sebenarnya
Suatu kecemerlangan
Dipuja dan disanjung
Bakal menjadi intan
Berkilauan berkeliling
Tetiba di puncak
Bersama anak-anak tersayang
Umpama ketika kecil mereka
Sentiasa di tangan-tangan
Bagai menatang minyak nan penuh
Nyamuk datang nyamuk diburu
Lalat berkeliling lalat dikibar
Lipas datang lipas dikias
Penuh dengan kasih sayang
Abadi.

Kini…
Kita bagai terbiar
Dalam ucap kasih sayang anak-anak
Berbelah bahagi
Terhadap pasangan memasing
Di rumah sendiri
Hanya lunaskan bebulan sayang nan tinggal
Pada kesanggupan
Akhirnya menjadi milik sendiri nantinya
Tinggallah ibu bapa
Di rumah hampir roboh
Seperti juga pada warga emas
Yang ditinggalkan
Berdua menghabiskan sisa hidup
Yang senyum khusuknya di masjid atau di surau
Menanti hujung perjalanan
Di samping rindu kemesraan daripada anak-cucu-cicit
Harap-harap ada bahagiannya di hujung senja merah
Kehidupan yang kian pendek
Mengalirkan air mata rindu
Sayu
Hiba
Manungkul di hati.

Ingin lagi adanya kemesraan seperti mereka masih kecil
Menimang, mencium, memeluk, menuntun, dan menyuci
Atas tanggungjawab seorang insan terpercaya.

Kini…
Udah tiada lagi kewangian itu
Yang ingin dinikmati sekerapnya
Atas kenangan mereka
Sebagaimana ingatan membunga mawar
Sentiasa pada ketika-ketikanya
Itulah yang benar-benar diharapkan
Yang…
Kita di rumah sendiri yang sapaumuran
Bagai rumah orang tua
Yang nenempatkan diri sendiri
Dalam membuang kesunyian
Di Rumah Allah setiap tibanya waktu
Bersujud kerana Allah
Aduh!!!
Demikianlah nasibnya
Sebelum gelap senja menjelang tiba
Akan terpedulikankah jua nanti?

21  Jan.  2019, Isnin.

4.
ILYA KABLAM

BIODATA. ILYA KABLAM @ KABLAM22. Kablam22 (nama pena) berasal dari Petaling Jaya, Selangor dan dilahirkan pada 10 September 1981. Mendapat ijazah pertama (BHsc. English Language and Literature) daripada Universiti Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM atau dikenali juga dalam bahasa Inggeris sebagai IIUM). Merupakan Pengurus syarikat penerbitan Esastera Enterprise, yang menerbitkan semua buku dari penulis eSastera. Kablam22 juga merupakan vokalis dan ketua kumpulan GLP yang merupakan artis rakaman yang bernaung di bawah syarikat rakaman Esastera Records. Pembikinan dua buah album (Perada Cinta, 2014 dan Dot Dot Dot, 2016) memberi peluang kepada Kablam22 untuk bekerjasama dengan beberapa orang produser yang diiktiraf oleh industri muzik di Malaysia, termasuk Awang BPR, Umarul Iklim, A. Ali, dan dan Bakri (pemain drum band Meet Uncle Hussein). Dalam bidang sastera, Kablam22 berkarya sepenuhnya di e-Sastera.com dan menghantar karya-karyanya untuk penerbitan cetakan keras dalam beberapa program kerjasama bersama Sasterawan Negara Dato’ Ahmad Khamal Abdullah dan Balai Seni Visual Negara. Kablam22 menulis sajak, cerpen, dan novel kongsi untuk eSastera, dan menulis beberapa lirik lagu untuk GLP. Kablam22 juga ditugaskan menjadi editor eSastera Majalah dan eSastera Bookazine (dulu Sastera.Net), dan bertindak sebagai Setiausaha Eksekutif Persatuan Aktivis e-Sastera Malaysia (E-SASTERA). Karya-karya Kablam22 dalam bentuk puisi, cerpen, dan novel kongsi, semua boleh dibaca di bawah nama pena “Kablam22” di laman web e-Sastera.com, e-Sastera2u.com, serta terbitan-terbitan Esastera Enterprise: Bukit Siguntang Mahameru, Musibah Gempa Padang, Hostel: Debaran Kedua, Hostel: Memento Cinta, dan majalah Sastera.Net Edisi 8, buku terbitan Insandi Sdn. Bhd: Menyirat Cinta Haqiqi, serta album terbitan Esastera Records, Perada Cinta (2014) dan Dot Dot Dot (2016).

PUISI

4.01. Selamat Datang Kejora
4.02. Mentari Di Bumi Salju
4.03. Beremu Janji, Sendiri
4.04. Sepuluh Ribu Bunyi
4.05. C0vid 2020
4.06. Kita Yang Dibakar Cahaya
4.07. Malam Itu
4.08. Pohon Waktu
4.09. Puisi Tanpa Melodi
4.10. Langkah Prostesis

4.01.

SELAMAT DATANG KEJORA

Selamat datang kejora
sinarkan kami cinta dunia
walau seketika dentum langit kami malam ini
mencuri sinarmu.

Lagu api kami letuskan satu-satu
buat membenam ragu di gempita sorak
malam ini biar terus panjang
di putih bulan yang suram.

Jiwa manusiaku tak semegah cahayamu,
bintang timur
akan kubiar terus bulan itu
menyinari wajahku.

TTDI, KL, 1-11-11.

4.02.

MENTARI DI BUMI SALJU

Kaulah saksi kedinginan itu
ketika awan tak kelihatan
kaulah kehangatan yang tak kelihatan
mentari, yang terus bersembunyi.

Di saat salju gugur di malam hari
kau tidak kelihatan lagi
aku terus mengira jejak-jejak but di atas salji
menikmati rangup bunyi derap langkah membelah sunyi.

Tidak pernah sekalipun aku tidak sabar menunggu
kehadiranmu
di waktu pagi, kau pasti muncul lagi.

TTDI, KL, 9-11-20

4.03.

BERTEMU JANJI, SENDIRI

Di manakah nikmat kehidupan ini
jika terus sendiri
ibarat lilin membakar diri
mencair tanpa henti.

Di manakah nilai cinta
jika tidak setia
ibarat malam gelita
gelap tanpa cahaya.

Di manakah janji dibina
jika bukan di dada
ibarat kata dikota
ditunai penuh jaya.

TTDI, KL, 9-11-20.

4.04.

SEPULUH RIBU BUNYI

Keriuhan yang menyesakkan
pulang membawa keresahan
burung tak lagi menyanyi dengan tenang
hiasan alam yang dilupakan.

Sepuluh ribu bunyi riuh bertandang
seribu suara manusia tak berseni
mengubah susunan melodi aman
mencemari ketenteraman.

Sepuluh ribu bunyi yang kuceritakan
adalah punca seribu jiwa
yang keretakan.

TTDI, KL, 9-11-20.

4.05.

COVID 2020

Topeng muka bergelimpangan
kotor, dilenyek kenderaan
di kotak parkir murahan
virus covid terus berterbangan
menyinggahi pakaian dan laman
tak mengira musuh dan kawan.

Sanitasi udara dan tangan
adalah hamburan bahan kimia yang mematikan
kuman covid dan hawa awam
hubungan akrab rakan dan taulan
dipisah jarak keselamatan.

Manusia terkurung di rumah
cuma menonton, makan
membaca, beriadah
atau berzikir di atas sejadah
membendung fikiran yang gundah.

Yang kehilangan mata pencarian
membayang melayang dari bangunan
terus meminjam dari kenalan
demi sesuap makanan.

Dunia bakal ditinggalkan
dan kita bakal pergi
redalah!

TTDI, KL, 9-11-20.

4.06.

KITA YANG DIBAKAR CAHAYA

Ibarat kelkatu
yang dibakar lampu
kita disuluh cahaya dunia
lalu tertipu.

Kelkatu dengan sayap nipisnya
gugur bergelimpangan
begitulah perasaan kita
dikorban sinar yang sementara.

Setelah lampu ditutup
kelkatu pasti tak terbang lagi
kerana hidupnya dia
hanya untuk gemilang terang
yang membakar.

Mengapa kita sering dibakar cahaya
jiwa terkorban dan kecewa.

TTDI, KL, 9-11-20.

4.07.

MALAM ITU

Malam itu
kau meminta aku
menyanyikan lagu kegemaranmu.

Tiada bunyi lain yang menemani
cuma vokalku yang kosong
dan alam yang luas
gelombang bunyi ini akan pergi
meninggalkan bunyi dan menjadi memori.

Malam itu
kau menangis
kerana kehilangan sesuatu
yang amat kau sayangi.

Tiada bunyi lain yang menghiasi
hanya baldu vokalku
membalut sunyi hatimu
yang sering sendiri.

TTDI, KL, 9-11-20.

4.08.

POHON WAKTU

Di satu saat aku berteduh di pohon waktu
aku bertanyakan tentang daunnya yang gugur
rugikah aku berehat di sini
menanti bukti dan inspirasi
yang mungkin tak akan menyinggahi.

Pohon waktu yang terus berdiri
meneguhkan aku dengan perlindungan
dari teriknya kepanasan
namun tetap membasahkan aku
dengan hujan.

Yakinlah aku
bahawa pohon waktu adalah seperti cinta
yang manis dan pahit
merehatkan, sehingga suatu masa
redupnya harus kutinggalkan.

TTDI, KL, 9-11-20.

4.09

PUISI TANPA MELODI

Inilah kata-kata yang menyenangkan
sebuah ruang, tanpa gangguan
aman daripada setan
yang sering mempermainkan ketenangan.

Kata-kata sering dapat diatur dengan keindahan
seperti arca yang terukir dengan keindahan
setiap sudut lekuknya hidup pada batuan
gagah memegang kenangan
penikmatnya ditenggelam keasyikan.

Inilah kata-kata yang mencantikkan
ruang jiwa dan badan
aman daripada gangguan
sesejuk mata air gunung
yang bening ditakung.

TTDI, KL, 9-11-20

4.10

LANGKAH PROSTESIS

Sebulan kau menunggu kaki itu
sebuah kaki besi yang palsu
kepantasannya kau harap menghayunkan langkahmu yang beku.

Otot semakin dipenjara keketatan
regang dan lunjurmu kian tegang
rasa sakit dan ketidakselesaan
menjadi rakan harian
hari demi hari kau menunggu
sebatang kaki besi itu
kaki besi yang palsu.

Walau kakimu tak seperti dulu
hati menyimpan yakin
dengan sedikit jingkit
kau terus bangkit
demi melawan penyakit
demi menolak sakit.

Sebulan ditunggu kaki itu
kaki besimu yang palsu
kepakaran mereka jadi sandaran
jiwamu yang kelayuan.

Alangkah hidupnya harapan
sebaik impian jadi kenyataan.

TTDI, KL, 9-11-20

TAMAT 4.

5.
IRWAN ABU BAKAR

BIODATA. Irwan Abu Bakar (atau Dr. Ir. Wan Abu Bakar bin Wan Abas) dilahirkan pada 11 Mei 1951 di Segamat, Johor.  Isterinya ialah Hasimah Harun dari Pasir Mas, Kelantan. Mereka dikurniakan tujuh orang cahaya mata, lima lelaki dan dua perempuan. (2) Pendidikan. Irwan bersekolah rendah dan menengah di Segamat serta mengikuti kursus Tingkatan 6 untuk empat bulan di English College, Johor Bahru, Johor. Kemudiannya beliau telah berpindah untuk mengikuti kursus diploma dalam biidang Kejuruteraan Mekanik di Maktab Teknik, Kuala Lumpur (kini UTM).  Selepas itu, beliau telah melanjutkan pelajaran di University of Strathclyde, Glasgow, United Kingdom untuk mengikuti kursus Bachelor of Science (Mechanical Engineering) dan PhD (Bioengineering). (3)  Profesion. Irwan merupakan profesor di Jabatan Kejuruteraan Mekanik (kemudian dipindahkan ke Jabatan Kejuruteraan Bioperubatan), Fakulti Kejuruteraan, Universiti Malaya sehingga Januari 2018. Selepas bersara, beliau telah dilantik sebagai Research Associate di Jabatan yang sama. Irwan pernah menerajui Fakulti Kejuruteraan, Universiti Malaya (FKUM) sebagai Dekan sebanyak tiga kali untuk tempoh 10 tahun. Beliau juga telah menerajui penubuhan program ijazah sarjana muda Kejuruteraan Bioperubatan (BBEng) dan kemudiannya pembentukan Jabatan Kejuruteraan Bioperubatan di FKUM, serta dilantik sebagai Ketua Jabatan yang pertama bagi Jabatan Kejuruteraan Bioperubatan FKUM itu. Melalui proses yang berkenaan, Irwan menjadi pengasas pendidikan kejuruteraan Bioperubatan di Malaysia. Selepas itu, beliau telah terlibat sama dalam pembentukan program sarjana muda Kejuruteraan Bioperubatan (Prostetik dan Ortotik), ringkasnya BBEng (P&O), di Jabatan yang sama. Di samping itu, beliau juga telah menerajui pembentukan Fakulti Alam Bina, Universiti Malaya dari empat program alam bina yang mulanya beroperasi di bawah Fakulti Kejuruteraan. Beliau juga telah terlibat dalam pengkomersialan hasil penyelidikan di makmal prostetik dan ortotik dengan bersama-sama membangunkan syarikat terbitan Universiti Malaya, BioApps Sdn Bhd yang mengendalikan perniagaan pembekalan dan perkhidmatan prostesis (anggota badan buatan) dan ortosis (alat sokongan anggota badan). (4) Persatuan Profesional. Di luar tugas rasminya, beliau memimpin persatuan-persatuan profesional kejuruteraan pada peringkat nasional, iaitu Persatuan Kejuruteraan Perubatan dan Biologi (MSMBE) sehingga 2015 serta Persatuan Prostetik & Ortotik Malaysia (PPOM) dan Persatuan Biomekanik Malaysia sehingga sekarang. Irwan juga ialah Fellow, Academy of Sciences, Malaysia (FASc). (5) Kegiatan Sastera. Irwan mempromosi konsep “whole-brain thinking” sebagai jurutera yang terlibat secara aktif dalam bidang sastera. Beliau telah menerbitkan pelbagai karya sastera dan pernah memenangi beberapa anugerah sastera tempatan. Di samping itu, beliau diiktiraf di Malaysia sebagai pengasas kegiatan sastera siber (atau e-sastera) Melayu. Portal sasteranya dilanggani penulis dari pelbagai negara. (6) Penerbitan Cetakan Keras.  Irwan mula menerbitkan puisi di media cetak pada tahun 1995 (”Diasfora Alam Bahasaku”, Pelita Bahasa, Februari 1995). Sehingga kini, Irwan telah menerbitkan dua buah kumpulan sajak di Malaysia, iaitu Semelar (2003) dan Kuntom Ungu (2012). Juga beliau telah menerbitkan kumpulan puisi di Indonesia, iaitu Grafiti Hati (2016) dan sebuah buku kumpulan “puisi berserta ulasan”, iaitu Peneroka Malam (2014). Beliau juga terlibat secara aktif dengan deklamasi puisi, terutamanya di Malaysia dan Indonesia. Irwan mula menerbitkan cerpen pada tahun 2002 (”$yy…”, Berita Minggu, 25 Mei 2003). Pada tahun 2016, beliau menerbitkan kumpulan cerpen Rewang Minda yang mengandungi 18 buah cerpen tulisannya. Cerpen-cerpen itu kebanyakannya telah tersiar terlebih dahulu di laman-laman web tertentu. Novel pertama tulisan Irwan berjudul Cinta Berbalas Di Meja 17 (2008). Edisi-edisi terkemudian novel itu diberi judul Meja 17 (2012, 2015, dan 2016). Edisi Indonesia novel ini telah diterbitkan di Jakarta pada tahun 2014, juga dengan judul Meja 17. Pada tahun 2018, Irwan menerbitkan novel keduanya. Novel itu berjudul 30 Februari dan telah diterbitkan di Cilegon, Indonesia (Mei, 2018). Karya eceren Irwan berupa sajak dan cerpen telah diterbitkan dalam pelbagai majalah dan akhbar sejak 1995, termasuk majalah Dewan Sastera serta akhbar Berita Minggu (kini dinamai Berita Harian Ahad) dan Mingguan Malaysia (kini sudah diberhenitkan penerbitannya). Di samping itu, Irwan merupakan penyelenggara dan penyelenggara bersama bagi beberapa buah antologi puisi dan novel bersama. (7) Penerbitan Portal Sastera. Kini Irwan meneruskan penerbitan e-majalah sastera (majalah sastera dalam Internet), eSastera.com (www.e-sastera.com) yang bermula pada tahun 2002 tetapi dengan format baru. Majalah itu kini mempunyai cawangan di Facebook.com dalam bentuk grup-grup facebook yang dibentuk di bawah akaun facebook E-Sastera Malaysia. E-majalah itu dinamai E-Sastera@Facebook dan dibentuk oleh grup ”E-Sastera@Facebook Induk” sebagai grup kawalan dan pelbagai grup karya berasaskan genre. Antaranya ialah grup E-Sastera Sajak, E-Sastera Cerpen, E-Sastera Novel, E-Sastera Kritikan, E-Sastera Berita (Pemberitahuan dan Laporan), dan E-Sastera Forum. Butir-butir tentang e-majalah E-Sastera@Facebook diberikan dalam buku berjudul Panduan Pengguna E-Sastera@Facebook (Esastera Enterprise, 2015). Mulai 2019, kehadiran di Facebook itu ditambah dengan grup “E-sastera @ Facebook Karya” yang memanfaatkan penggunaan hashtag # untuk memisahkan genre karya yang disiarkan. Grup ini kemudiannya ditukar nama kepada Majalah Esastera @ Facebook. Sebelum itu, Irwan menerbitkan e-majalah eSastera.Karya (di URL eSasteraKarya.com atau eSasteraKarya.WordPress.com) untuk mempromosikan format sastera elektronik yang melebihi apa yang mampu dihidangkan di Facebook. E-majalah ini juga dikongsi ke Facebook untuk menarik pelanggan yang banyak di situ. Portal unik yang pernah diterbitkannya tetapi telah ditutup pada masa ini ialah tivi-Sastera (www.eSastera.tv). Mulai 2012, eSastera telah menerokai bidang ”sastera Twitter” dengan nama @tSastera (namanya di laman Facebook ialah Twit Sastera).Mulai 2019, melalui GAKSA, Irwan menerbitkan portal e-karya sastera peringkat ASEAN yang dinamai Sastera.Vaganza ASEAN. Portal itu kemudiannya ditukar nama kepada E-sastera Vaganza ASEAN di URL http://www.SasteraVaganza.net (kini ditukar ke URL http://www.eSasteraVaganza.com dan http://esva.blog).  Karya di portal ini dikongsi ke Facebook dalam grup “GAKSA e-Sastera.Vaganza ASEAN”. (8) Penerbitan Produk Audio. Irwan juga telah menubuhkan GLP (Grup Lagu Puisi eSastera) yang bernaung di bawah syarikat eSastera Records (Pengurus: Dinie Wan). GLP telah menerbitkan dua buah album penuh lagu-lagu puisi, iaitu Perada Cinta (2014) dan Dot Dot Dot (2016). Beberapa buah singles juga telah diterbitkan. Malah lagu puisi nyanyian GLP berjudul “Terus Berlari” telah dijadikan lagu korporat syarikat BioApps Sdn Bhd, sebuah syarikat terbitan Universiti Malaya yang merupakan pembuat dan pembekal perkhidmatan dalam bidang prostetik dan ortotik. (9) Anugerah Sastera. Anugerah sastera yang pernah dimenangi Irwan ialah Hadiah Sastera Johor 2019 (Buku Sastera), Tokoh Patria Numera 2017, Hadiah Sastera Darul Takzim 2007-2008 (Puisi Eceren), dan (c) Anugerah Sastera Perdana Malaysia 2004-2005 (Cerpen Eceren). Beliau juga pernah menjadi Editor Bersekutu bagi majalah Dewan Sastera terbitan Dewan Bahasa dan Pustaka, Malaysia. (10) Gerakan Sastera. Irwan memulakan gerakan sastera siber di Malaysia pada tahun 2002 melalui portal eSastera.com (juga dinamai e-Sastera.com). Gerakan itu dikenali masyarakat sebagai gerakan e-Sastera.com. Mulai tahun 2013, gerakan itu mengeluarkan anugerah sastera yang dinamai Hadiah e-Sastera.com (atau HesCom), dengan anugerah pertamanya ialah Anugerah Penyair Alam Siber (atau APAS). Anugerah tertinggi yang dikeluarkan melalui HesCom ialah Anugerah Sasterawan Alam Siber, dengan penerimanya menggunakan gelaran SAS pada nama mereka. Pada masa yang sama, Irwan telah menubuhkan syarikat penerbitan Esastera Enterprise (yang mulanya dinamai kAPAS Publication). Dalam persatuan penulis, Irwan ialah Presiden, Persatuan Aktivis E-Sastera Malaysia (E-SASTERA) sejak didaftarkan pada tahun 2010. (Portal utamanyanya di http://eSastera.blog). Irwan juga pernah menyandang jawatan Timbalan Presiden, Persatuan Sasterawan Numera (Nusantara Melayu Raya), Malaysia, dan juga pernah menjadi Bendahari, Jawatankuasa Protem, Persatuan Sasterawan Paksi Rakyat (PAKSI). Pada tahun 2016, Irwan telah menubuhkan gerakan sastera pada peringkat ASEAN yang dinamai Gabungan Komunitas Sastra ASEAN (GAKSA), (dengan portalnya di http://gaksa.blog). Secara serentak, Irwan juga menubuhkan syarikat penerbitan di Cilegon, Banten, Indonesia dengan nama Gaksa Enterprise. Mulai 2019, GAKSA menerbitkan portal e-karya E-sastera Vaganza ASEAN yang dinyatakan dalam item 6 di atas.Pada tahun 2016 juga, serentak dengan penubuhan GAKSA, Irwan menubuhkan gerakan e-sastera pada peringkat global yang dinamai World Association of Literary Communities (WALC).

PUISI

5.01. Forever 21.
5.02. Serangkap Gelap
5.03. Perginya Sebagai Bintang Yanag Terang
5.04. Terus Kunanti
5.05. Aku Sendirian Memerintah
5.06. Haziq, 27
5.07. Melepas Rindu, Aku
5.08. Sesak Otak
5.09. Kenapa Rabu, PRU
5.10. Solat Beli-belah

5.01.

FOREVER 21

Image may contain: sky and night

Dia datang lagi
tak mungkir, setiap tahun tak mungkir
kita ternanti-nanti
21 kiranya hari
malam pertama itulah dia
daripada 10 di akhir Ramadan.

Dia calon pertama
malam istimewa membawa anugerah
nilai yang menyerupai 1000 bulan
sehari usaha dikira (30+29) x 500
dalam tahun ialah 83.3.

Malam 21 tidak pasti istimewa
namun ia calon pertama
mula insan membuka al-Quran
mula insan beribadat malam
kerana Lailatul qadar pasti dimiliki
sekiranya beribadat pada malam hari tanpa diselangi
mulai malam 21 ini.

Kuala Lumpur, 13.5.2020 = 21 Ramadan 1441.

5.02.

SERANGKAP GELAP

Kusingkap kitab abad lepas
2020 tarikh tertera
zaman manusia majunya hebat
geraknya bebas, kehendaknya tak terbatas
tetiba turun serangkap gelap
muncul makhluk Allah, dari mana entah
berotak tidak bernyawa pun tidak
menyerang bertindak dengan membiak.

Terkedu manusia di seluruh dunia
musuh halus tak mampu dilawan
walau ilmu mampu membawanya melepasi awan
kini tak boleh keluar
walau dari rumah sendiri
takut diserang virus corona
insan yang lemah dan senangnya mati
hanya dihangati atau disabuni.

Kita yang hidup di zaman ini
2120 tarikhnya kini
tak mampu nak bayang apa terjadi
seluruh dunia ketika itu
kaku terkedu menunggu ubat
kalaulah Allah turuni rahmat.

Kuala Lumpur, MALAYSIA, 26.03.2020 11:33 PM.

5.03.

PERGINYA SEBAGAI BINTANG YANG TERANG
(Buat penulis E-SASTERA, As Syramy)

Di awal pagi yang suci, dia pergi sebagai bintang yang terang di langit E-SASTERA
di situ dia terus bersinar menerangi langit sejak lahirnya karya kerana sentiasa dia mengetahui
yang dinilai akhirnya bukan karya di atas kertas atau di alam maya
yang dinilai Allah ialah niat suci di dalam hati.

Dia wujud di dunia sastera untuk menerangi langit E-SASTERA
datang dia untuk menumpang terang dan untuk menerangi
kini dia pergi terus tetapi cahayanya kekal menyinari
abadi di langit dan di jiwa-jiwa bintang yang setia.

“Kami semua juga tentu sekali akan bersamamu nanti, Ustaz Ramy
namun setelah engkau pergi
cahaya sinarmu masih terang di langit dan tidak padam di hati.”

AMBAHAN:
Allahyarham selamat dikebumikan pada jam 10:00 pagi semalam.

Kuala Lumpur, Jumaat 3.04.2020.

5.04.

Image may contain: 1 person, glasses and close-up

TERUS KUNANTI

Dari pagi PM kunanti
hingga tamat AM-nya hari
PM masih hanya di hati
di hatiku dan dihatimu
tidak muncul PM di dada
walau malam melepasi senja.

Pernah PM menghampiri diri
tapi diri diseret ke penjara
bukan sekali tetapi dua
kini nak masuk kali ketiga?

AM terus berlalu
tetapi PM tak tiba-tiba
entah salahnya siapa…

(Sajak tentang Anwar saya tulis atas permintaan Iman Jabilin).

Kuala Lumpur, 26.02.2020.

5.05.

AKU SENDIRIAN MEMERINTAH HAHIHU

Berhentikan hu ha hu ha, olehmu para ahli politik
aku kerajaan Malaysia, sendirian
tiada timbalan, tiada menteri, apa lagi timbalan menteri
aku sendirian perintah negara
yang lain duduk diam-diam ya
hanya di tangan kanan kiriku semua kuasa.

Terasa aku hendak ketawa pula
tak pernah Mahathir sendiri terfikir, katamu
memang Mahathir rancang begitu, katanya dia.

Oh, biarlah aku ketawa
aku PM interim, mana pernah ada…
hahihu hahihu.

Kuala Lumpur, 24.02.2020.

5.06.

HAZIQ 27

Haziq, 17
ke Al Noor Mosque di kota Auckland
hilang diserang manusia binatang
akhirnya Haziq ditemui mati
21 Mac dikebumi
Syurga dituju.

Haziq, 27
dua bulan kemudian muncul dia
muncul di Santubong bervideo gelap
mengaku dia bersemburit berdua
terhantuk langkah seorang menteri
bergegar keutuhan sebuah parti
rakyat bingung, ternanti-nanti.

Kuala Lumpur, 23.06.2019.

5.07.

MELEPAS RINDU, AKU

Bersamamu, aku
tanpa henti, 30 hari
pabila terbenam mentari, kecuali.

Kini tidak bersamamu, aku
tiga hari sudah berpisah, kita
dalam ria engkau dilupai, aku.

Hari pertama haram bersamamu, aku
hari kedua khayal bergembira, aku
hari ketiga masih terleka, aku.

Insya-Allah esok bersama semula, kita
kerana telah ditentukan, Allah
enam hari bersama lagi, sebelum tamat Syawal, kita
dianugerah Allah yang Maha Pemurah pahala, Dia
seolah-olah bersamamu, aku
setahun lamanya.

KUALA LUMPUR, 7.06.2019 (3 SYAWAL 1440).

5.08.

SESAK OTAK

Dalam kesesakan trafik
hati berdebar, kaki terketar
jasad berengsot, emosi ribut
dan otak berkisar
melihat nombor kereta di hadapan: 9992
9×3+2, jumlahnya 29
oh, 9+9+2, bukankah 20?
patutlah jumlahnya 29!
dan bezanya 9-9-9-2, jadi negatif 11
hasil darabnya 9×9=81
81×9=729
729×2=1458, itu total hasil darab
hasil bahaginya tidaklah susah
9 bahagi 9 = 1
1 bahagi 9 = 1/9
1/9 bahagi 2, 1/18 jawabnya.

Oh, apa pula persamaan matematiknya, ada ke?
ya, ada: 9+9=9×2.

Kereta di hadapan terus berjalan
perlahan.

Kuala Lumpur, 29.04.2019.

5.09.

KENAPA RABU?

Image may contain: text

Pilihanraya Umum 14
tarikh penamaan calon 28 April
2+8+4=14.

Pilihanraya Umum 14
eloklah Rabu
Ahad 1, 4 Rabu
gabungnya 14
kalau Selasa, baru 13
kalau Khamis, sudah 15.

Pilihanraya Umum 14
eloklah haribulan 9 Mei
9+5, jadi 14
kalau Selasa, baru 13
kalau Khamis, dah 15.

9052018 didarab tambah
9×0+5+2×0+1+8=14
hah, kan dah!

Yang penting PAKAT pangkah
yang bawa HARAPAN
masa depan.

PAKATAN, 7 hurufnya
HARAPAN, 7 hurufnya
jadinya 14
hah, kan dah!

Nota pasca-PRU 14: Parti Pakatan Harapan berjaya menewaskan Barisan Nasional (BN) selepas BN memerintah Malaysia secara berterusan sejak merdeka.

Kuala Lumpur, Rabu 11.04.2018.

5.10.

SOLAT BELI-BELAH

Imamnya berkemeja T
dan berseluar panjang jean
di kepalanya tersarung topi
yang sudunya terbalik ke belakang
makmumnya berbaju biasa
atau berkemeja T
berseluar panjang
dan tanpa apa-apa
penutup di kepala.

Bersolat jumaah di surau kompleks beli-belah
sangat sesuai untukku
dengan pakaian yang aku kenakan
untuk ke surau dan masjid
sejak pelajar lagi.

Kuala Lumpur, 7.04.2018.

TAMAT 5.

6.
ISBEDY STIAWAN ZS

ISBEDY STIAWAN ZS lahir di Tanjungkarang, Lampung, pada 5 Juni 1958. Ia menulis puisi, cerpen, eaai, dan karya juranlistik. Karya-karyanya disiarkan sejumlah media Jakarya dan daersh di Indonesia dan masuk sejumlah antologi bersama di Tanah Air dan mancanegara. Media massa tang telah menuat karyanya seperti Kompas, Jawa Pos, Republika, Media Indonesia, Horison, Nova, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Suara Merdeka, Padang Ekspres, Haluan, Tanjujgpinang Pos, dan lain-lain.

Buku puisi terbarunya Kini Aku Sudah Jadi Batu! (Siger Publisher, 2020) masuk 5 besar Badan Pengembangan Bahasa Kemendikbus RI tahun 2020, Belok Kiri Jalan Terus ke Kota Tua, Tausiyaj Ibu (keduanya diterbitkan Siger Publisher, 2020), dan kupulan cerpen Aku Betina Kau Perempuan (Penerbit Basabasi, Yogyakarta, 2020).

PUISI

6.01. Tentang Nama-nama.
6.02. Sungai Galam Kepalaku
6.03. Senyum Dan Puisi
6.04. Tahu Di Mana Singgah
6.05. Di Sini Tidak Ada Salju
6.06. Aku Patung Di Ruang Tamu
6.07. Saat Kota Kuyup
6.08. Aku Makin Ingin Menepi
6.09. Ingin Menggandengmu
6.10. Jaarimu Bubuhi Tanda Di Dadaku
6.11. Lalu Memanggilku: Rindu Rindu…
6.12. Terlalu Malam

6.01

TENTANG NAMA-NAMA

disebutnya namanama
ia pun dalam hitungan
masuk barisan pencari
matahari, bulan-bintang
juga laut, gunung, dan hutan

lalu menetap di namanama

kau mau sebut ia siapa?
ia adalah pejalan, namun
tak pernah hapal tanda
hanya bekesiur di antara
sejuta nama yang disapa

di lembarlembar bukunya

dari adam, hawa, mariam,
isa, muhammad, elisabhet,
shakeaspeare, hingga pada
namamu: si tampan….

(kau jadi bagian pula di sana)

sementara tanganmu layu
matamu tak bersinar

kepalamu….

Lampung, 2020.

6.02.

SUNGAI DALAM KEPALAKU

sebuah sungai dalam kepalaku
malam datang dan minta dipeluk
aku kehilangan warna, selain ingin
mencumbu gelapgelap

yang juga ketakutan jika aku menjauh
ke hulu; tempat para ibu menjual ikan
asap. terbayang ibu di ruang makan
dan berserak piring sendok…

aku memasuki tubuh sungai. satu tangan
hendak menarikku makin dalam. di dalam
kepalaku mengalir air jernih. ikanikan
menari di mataku. kaukah itu merayuku

untuk berenang?
seperti ikanikan
sebelum dimakamkan

Lampung, 2020.

6.03.

SENYUM DAN PUISI

ini senyumku
simpan puisiku

jika kau masuk
pada senyumku
puisi akan memberimu
kecupan syahdu

di dalam puisiku
langit cerah
wajahku matahari

pada setiap senyumku

2020.

6.04.

TAHU DI MANA SINGGAH

kepada senja kau titipkan bungabunga
dari matahari yang kini mulai tua
pandangnya kian kuyu. tiada lagi gairah
pepohon di tubuhmu

kau juga mulai melepas beban, menambatkan
di sebongkah batu. sebelum kau benarbenar
menjauhi air itu. sebelum kau jejakkan kaki
di tanah — dulu kau tanam kenangan, kelak
kau makamkan tubuh — yang membawa makin
jauh dari rumah

sebagai orang yang tahu kelak di mana singgah
itulah jeda!

2020.

6.05

DI SINI TIDAK ADA SALJU

berjalanlah ia ke barat
dari mataku yang terpejam
dan ia paham kepada siapa
ditambatkan temali kapal
atau dia gugurkan sayapsayapnya

: kepada siapa ia mesti rebah

di sini memang tak ada salju,
ia melangkah ke arah barat
dari mataku yang kerap terpejam
dilupakan segala persinggahan,
pelangi yang menggoda, dan angin
selalu datang bersama dendang

: tapi ia mau salju dan perjalanan

di mana ia nanti melabuhkan

Lampung, 2020.

6.06.

AKU PATUNG DI RUANG TAMU

aku batu yang kau bawa dari sungai
dekat bukit itu. aku kokoh. lalu
di samping rumahmu, aku ditatah
dan kau belahbelah

jadilah patung! jadi hiasan ruang tamu,
kau biarkan waktu membuatku abadi;
aku tak bercakapcakap, namun kedua
mataku tak henti menatap

kau pergi dan pulang. tertawa riang
atau seselali berang, dan duka. kau
ingin aku diam di sudut ruang ini
menyaksikan tiap suara langkahku
tapi, katamu, usah rekam polahku

aku benarbenar patung
tak kau siapkan bibirku yang berdegup
tak kau buat hati agar aku tak mencintai
maupun membencimu

ke mana kau pergi
aku berdiri di sudut ruang ini

mungkin jika takdir aku dihidupkan
kau akan kembali mematikan

: seorang patung tak baik menasihati

Lampung, 29-30 Oktober 2020.

6.07.

SAAT KOTA KUYUP

di punggung bukit itu
hujan tak juga reda
kota di sana kuyup
: aku masih bersamamu,
ingin menyimpan kisah
kelak aku baca lagi
bersama
— kita ringkih mengejanya
saat huruphurup itu rapuh

di dekat pembatas antara jurang
dan keabadian, kulihat kau amat
ragu. ingin berpeluk ketat atau
kembali ke kaki sang pemuja

yang diamdiam menginginkan
kita jatuh dalam basah. tubuh
bagai bulu burung yang kuncup
tak ada lagi mau mengecup

“apa nikmatnya berciuman
kalau tubuh ini tak kemarau?” tanyamu

aku makin ke bibir bukit. menyaksikan
kota basah, butiran mutiara
memercik mataku. di keningmu masih
tersisa kecupan

“tapi jangan ulangi lagi, sesaat aku
akan lelap. jauh dari pelukanmu,” pintamu

aku dirikan tenda
untuk yang mau jeda

29-30 Okt 2020.

6.08.

AKU MAKIN INGIN MENEPI

aku menepi!
gelombang orang begitu riuh
menusuk telingaku,
tubuhku lembut dijilati

tapi, aku ingin sunyi

kawanku laron yang berkunjung
sebelum sayapsayapnya putung
matanya menatapku senyap

dan aku makin ingin menepi!

berdiri di antara persimpangan
mana kupilih: hening atau riuh

Digger, 29 Oktober 2020.

6.09.

INGIN MENGGANDENGMU

setelah kafe, kolam renang,
kau mau mengajakku ke pantai
atau pegunungan?

aku ingin menggandengmu menyusuri
taman cemara sebelum tiba di kaki
gunung; kau akan mendekatiku
membunuh dingin dan ketakutan
tersasar. “pegangi tanganku, jika
aku akan jatuh dari tebing itu,” katamu

kubisikkan padamu, kupeluk tubuhmu
jika ingin tergelincir. apa kau sedia?

setiap pegunungan membuka pintu
cinta, kasih, juga khianat!

2020.

6.10.

JARIMU BUBUHI TANDA DI DADAKU

jemari ibu darimu membubuhi tanda
di dadaku. apakah itu pelangi untuk
pertemuan? bidadari yang kutunggu
di dekat sumur biasa mandi, kini
berpendarpendar cahaya senja. dari
wajahmu

lupakan masa silam saat kau kehilangan selendang,
lelaki kurang ajar itu telah kukerangkeng
di batang pohon besar nan rindang itu; ia akan
kelaparan meski tak kehausan dan sengat
matahari

kini aku untukmu
bukan mencuri selendang
: hatimu berbungabunga

28.10.20.

6.11.

LALU MEMANGGILKU: RINDU RINDU…

kau salahkan aku. selalu, kau
panggilpanggil rindu. tapi ketika
aku menjemput kau segera pergi
: jauh ke balik rimba yang tak bisa
kukejar petamu

apakah karena rindu, kau mengadu padaku
dan saat kau beramai dan bersama keriangan,
kausimpan aku dalam buku masa lalu;
padahal aku, si rindu, yang memburumu dan
menghantuimu agar kau tetap sunyi

lalu memanggilku:
“rindu rindu….”

GPSL, 27 Oktober 2020.

6.12.

TERLALU MALAM

kau salahkan aku. selalu, kau
panggilpanggil rindu. tapi ketika
aku menjemput kau segera pergi
: jauh ke balik rimba yang tak bisa
kukejar petamu

apakah karena rindu, kau mengadu padaku
dan saat kau beramai dan bersama keriangan,
kausimpan aku dalam buku masa lalu;
padahal aku, si rindu, yang memburumu dan
menghantuimu agar kau tetap sunyi

lalu memanggilku:
“rindu rindu….”

GPSL, 27 Oktober 2020.

7.
JENNY O

BIODATA. Jenny O ialah nama pena Noraini bt Omar, mantan pendidik. Jawatan akhir sebelum bersara sebagai Guru Penolong Kanan di SMK Sri Utama, Petaling Jaya. Anak jati kelahiran Kota Bharu, Kelantan. Lahir pada 2.1.1961. Mulai menulis karya sejak pulang ke tanahair setelah tamat pengajian BSc. Chemistry di England. Terus rancak berkarya sejak bersara. Disiplin sebagai seorang guru sains tetapi meminati karya sastera.

PUISI

7.01. Sonian: Anak
7.02. Cinquan Villa
7.03. Sonata: Perth With Love
7.04. Nuansa Alam
7.05. Musafir Lalu
7.06. Putih Mutiara
7.07. Raudhah Nabi
7.08. Tanka: Setia / River Stays Loyal
7.09. Purnama Berlalu.
7.10. Tanka: Langit Bebas

7.01.

Sonian:
ANAK

Engkaulah penghibur
tatkala sunyi
gelak tawa
mawaddah.

Engkaulah harapan
umi dan abah
hingga capai
graduan.

Engkaulah semangat
nyawa warisan
gigih cekal
berjuang.

Engkaulah penawar
menuju syurga
amal Soleh
mukminin.

Engkaulah pewaris
legasi kasih
hajat doa
zuriat.

Bangkok, 1 Februari 2019.

7.02.

CINQUAN VILLA

Rumah
tersergam mewah
menunggu musim cuti
penghuni sibuk mencari harta
kasih sayang belum tentu aman.

Dapur
serba lengkap
namun tidak berasap
isteri  dibelai bagai ratu
makanan lazat belum tentu berkat.

Laman
lanskap bergaya
pameran buat tetamu
itupun jika  ada keraian
rakan taulan  belum tentu  setia.

Harta
semasa hidup
rezeki anak isteri
belanja hingga lupa dunia
tiba ajal  belum tentu menafaat.

Kota Bharu, 2 Januari 2019.

7.03.

Soneta: 
PERTH WITH LOVE

Langit Perth damai nan biru
tanpa awan berarak lalu
Swan River mengalir lesu
nun di kaki langit bertemu.

Camar terbang bertamu
angin hembusan bayu
di Kings Park aku menunggu
jiwaku berlagu rindu.

Blue boat house kujejak jua
berswafoto momen  berdua
belayar bot laju  jiwa pun lara
Perth with love hangat terasa.

Perth skyline tersemat di dada
buat kenangan di hari tua.

Elizabeth Quay Perth, 10 Mac 2018.

7.04.

NUANSA ALAM

Pohon jarrah  putih terserlah
bersalin kulit di musim luruh
seusai  daunnya bertukar merah.

Pohon oak tersergam teguh
kanopi lebat buat berteduh
nyaman menghijau dari jauh.

Pohon tirus daunnya runcing
bersalut lilin menahan  kering
musim berganti tetap evergreen.

Cintai alam  variasi nuansa
bersilih musim aneka warna
tika dingin menunggu bunga
tiba panas merindui suasana
dedaun gugur ranting dipuja
lukisan lanskap Maha  Pencipta
bukan sekadar menghias lensa
syukuri nikmat tanpa alpa.

Margaret Swan Valley, 9 Mac 2018.

7.05.

MUSAFIR  LALU

Saujana mata memandang
terhampar luas terbentang
ceracak batu kapur bak tiang
panas gurun ia mengembang
kuncup tika malam menjelang
pecah luluh bongkah gelimpang
debu dibawa angin kencang
sepi, debu kuning gersang.

Subhanallah
pinnacles ciptaan Allah
beginikah  planet Marikh?

Salju putih di permukaan gurun
pasir  halus  membentuk  sand dunes
dibawa angin jadi menimbun
tiada tumbuhan walau sepohon
pengunjung  meriah sepanjang tahun
sandboarding bukan sekadar ditonton
dari puncak gelongsor turun
bersorak riang gelak bersantun
Allahu Akbar
Lancelin kurnian Allah
beginikah tundra Siberia?

Teroleng hanyut  katamaran
dipukul  ombak  beralun
lubuk rezeki  sang nelayan
pelanggan datang berduyun
dari jauh mencari hidangan
lobster tarikan  restoran
nikmati kesegaran  lautan
terpencil bersama teman.

Alhamdulillah
Cervantes nikmat Allah
beginikah pulau Mykonos?

Mirrabooka Perth, 6 Mac 2018.

7.06.

PUTIH  MUTIARA

Enam sekeluarga sudah sepakat
berjubah putih memasang niat
ziarah dahulu tempat keramat
hening subuh menaiki pesawat
zikir dan doa saling berhambat
menuju Makkah bumi berkat.

Jubli perak sudah berlalu
Jeddah kudatang bertamu
kembali mencari redha-Mu
saat terlihat sinaran lampu
pancaran dari menara mercu
menitis airmata jiwaku syahdu.

Tiba maghrib hotel Syuhadah
pintu Al Aziz jamaah melimpah
taubat sujud depan baitullah
tawaf  saie safa dan marwah
lewat malam usai umrah
syukur tertunai satu  ibadah.

Subhanallah wal hamdulillah
walaa ilahaillallah
Muhammadan Rasulullah.

Ajyad, Saudi Arabia, 9 Februari 2016.

7.07.

RAUDHAH NABI

Merentas gurun terik mentari
menyusur sejarah hijrah nabi
Madinah al Munawarrah menanti
Masjid an Nabawi dan kubur Baqi
bumi syuhada’ daulah Islami
marhaban salawat bermula di sini.

Kubah hijau memayung raudhah
tempat bersemadi rasulullah
walaupun sempit mau kuredah
taman syurga bukannya mudah
solat dan doa dalam tabah
sekejap cuma aku pasrah.

Dari masjid pelepah tamar
beratap langit malam muktamar
masjid nabi sudah melebar
menara lapan gerbang akbar
binaan Majidi dihiasi marmar
payung besambut ke laman luar.

Ya Rasulullah salawat dan salam
kupulang dulu akhirul kalam
sunnah dan hadis mu buat pedoman.

Movenpick Anwar Madinah, 14 Februari 2016.

7.08.

Tanka:
SETIA

(1)

Sungai Thames London
nadi Empayar British
era Victoria
raja bertukar takhta
sedenting  Big Ben.

(2)

Sungai Seine Paris
nadi kota Napolean
gah Eifel Tower
pamer seni karyawan
zaman Renaissance.

(3)

Amstel Belanda
terusan berselirat
tamaddun gigih
meneraju budaya
menjajahi dunia.

Tetap mengalir
ku jejaki kembali
memori lama
mengusik jiwa lara
bak janji nan setia.

RIVER STAYS LOYAL

(1)

Thames River London
witnesses  British Empire rules
Queen Victoria shines
kings fight for power and throne
Big Ben keeps the chime.

(2)

Seine River Paris
witnesses architecture  grows
Eiffel Tower high
renaissance makes history
since Napolean era.

(3)

Amstel Netherlands
intertwine canals yonder
great nation thrives
overcoming  disaster
the world to conquer.

Back to these cities
walking down memory lanes
keeping my heart warm
river always stays flowing
promisingly and loyal.

Volendam , 25 Mac 2017.

7.09.

PURNAMA BERLALU

Cakerawala teratur beredar tersusun
patuh segenap kadar rentak  laju
seribu tahun menunggu blue moon
cantik mengambang bak puteri salju
biasa dilihat gerhana blood moon
merah menyerlah membakar nafsu.

Manusia haruslah begitu
menyantuni fitrah alam
bukan terkejar terlebih maju
melawan rentak kudrat  alam
biar seiring magis dan maju
melestarikan nilai alam.

Layakkah ingin hidup fana
tetapi mengguriskan alam sejagat
tentu murka Sang Pencipta
murka-Nya cetus  amaran kiamat
kembalikan kepada Yang Esa
memakmurkan alam bekal akhirat.

Embun turun matahari terbit
menyuluh bulan di ufuk barat
day moon masih terlihat
siang malam  silih sepakat
tidak alpa walau sesaat
bintang timur bawa berkat.

Bukit Saujana, 1 Februari 2018.

7.10.

Tanka:
LANGIT BEBAS

Camar berlagu
memecah kesunyian
terbang berkawan
migrasi tukar musim
jauh membawa nasib.

Dari Siberia
hindari suhu sejuk
turun selatan
singgah di Kuala Gula
pesta ramai menanti.

Adab manusia
puja pelancong asing
tempatan mari
melukut tepi gantang
insaf tika bencana.

Helang Langkawi
terbang tinggi di awan
melebar sayap
sejuk panas melanda
megah raja angkasa.

Kilim Geoforest Park, 24 April 2018.

TAMAT 7.

8.
Mameq Mameq. M.

BIODATA. Nama sebenar ialah Yusoff Bin Ahmad. Lahir di Lenga, Muar, Johor, Malaysia pada tahun 1965. Pendidikan tamat sekolah menengah dalam aliran sastera. Mula merantau pada tahun 1983 dan berkerja swasta di semua Ibu Negeri di seluruh Semenanjung Malaysia hingga tahun 2003. Telah pulang dan menetap di kampung halaman di daerah Muar sampai sekarang. Mula minat menulis puisi pada tahun 1990 dan sejak 2017 menulis puisi di FB. Setakat ini, ada lima antologi bersama kumpulan dan sedang dalam peroses menunggu penerbitan sebuah antologi puisi sendiri.

PUISI

8.01. Tetap Menanti.
8.02. Mencari Sahabat.
8.03. Lorong Hutan Batu.
8.04. Tiada Apa-apa.
8.05. Palestin.
8.06. Dua Kota Raya.
8.07. Salam Merdeka.
8.08. Tanah Pusaka.
8.09. Dalam Kampung.
8.10. Tanah Jawa.

8.01.

TETAP MENANTI

Di sini….
aku masih berdiri
setiap dingin pagi
setiap panas matahari
setiap sore menanti
setiap malam termimpi.

Di sini….
aku tetap menanti
walaupun bayangmu pergi
walaupun harummu lari
walaupun tiada wajah berseri
walaupun kaulupa pada janji.

Di sini….
aku tetap menanti
walaupun cinta tiada bukti
walaupun sayangmu tak pasti
walaupun kasihmu tak suci
walaupun rindumu cuma benci
aku tetap menanti dan menanti.

Johor, Malaysia, 16.03.2019.

8.02.
MENCARI SAHABAT

Aku tak kira tempat
aku tak kira hebat
aku tak kira pangkat
aku tak kira darjat
aku tak kira kerabat
aku mencari sahabat.

Aku tak kisah penat
aku tak kisah sihat
aku tak kisah pucat
aku tak kisah terencat
aku tak kisah gawat
aku tak kisah tenat
aku mencari sahabat.

Aku mencari berkat
aku mencari kiblat
aku mencari ibadat
aku mencari solat
aku mencari akhirat
aku mencari sahabat.

Johor, Malaysia, 16.3.2019.

8.03.
LORONG HUTAN BATU

Di tengah -tengah kotaku
di tengah-tengah hutan batu
bangunan berdiri kaku bisu
bintang-bintang menjadi lampu
malam berkerdipan selalu
menyinari lorong berliku
di lorong-lorong keliru
di lorong-lorong merayu
di lorong-lorong bercelaru
di lorong-lorong yang berhantu.

Di lorong-lorong kotaku
di lorong hutan batu
aku sering khayal di situ
aku asyik tertipu
dengan janji-janji palsumu
di lorong hutan batu itu
aku tersungkur malu
rebah terkulai layu
aku terlupa asal usulku
aku tersesat di lorongmu
aku terdampar di kaki limamu
sungguh kejam kotamu.

Johor, Malaysia, 16.3.2019.

8.04.
TIADA APA-APA

Ada apa pada rupa
Ada apa pada gaya
Ada apa pada nama
Ada apa pada harta
Ada apa pada bangga
Ada apa pada jelita
Ada apa pada segak
Ada apa pada kacak
Ada apa pada jinak
Ada apa pada lasak
Ada apa pada berlagak
Ada apa pada bongkak
Ada apa pada kuat
Ada apa pada keramat
Apa ada pada semangat
Ada apa pada kerabat
Ada apa pada darjat
Apa ada pada pangkat
Apa ada pada hati
Apa ada pada suci
Apa ada pada puji
Apa ada pada saksi
Apa ada pada janji
Jika semua tak ditepati.

Johor, Malaysia, 17.3.2019.

8.05.
PALESTIN

Palestin punya tanah
Palestin tak perlu lemah
Palestin tak perlu dikerah
Palestin tak perlu diarah
Palestin tak perlu disergah
Palestin tak perlu dipindah
Palestin tak perlu mengalah.

Israel bangsa tiada maruah
Jangan pandai menjajah
Jangan pandai mengarah
Jangan pandai memerintah.

Kazaliman perlu disanggah
Kezaliman perlu dicegah
Kezaliman perlu diubah
Kezaliman perlu dipatah
Kezaliman perlu dibantah.

Israel pasti resah
Mereka pasti pecah
Mereka pasti rebah
Mereka pasti kalah
Mereka pasti musnah
Di tangan tentera Allah
Palestin pasti tabah
Palestin pasti mewah
Palestin pasti megah
Palestin pasti gagah.

Johor, Malaysia, 18.3.2019

8.06.
DUA KOTA RAYA

Ibu kotaku Kuala Lumpur
Melayu Cina India bercampur
aman damai serta makmur
tempat rezeki bertabur
kenderaan bersimpang siur
bangunan tinggi beratur
kami tetap rasa terhibur
walau ada yang menganggur
walau ada yang kebulur
walau ada yang tersungkur
kami tetap rasa bersyukur.

Jakarta ibu kota Indonesia
bangunan tinggi merata-rata
berbilang suku keturunannya
begitu padat penduduknya
kenderaan sesak di jalan raya
merakam beribu cerita
hiburan ada di mana-mana
berpesta dan berdangsa
ada miskin ada yang kaya
ada yang berjaya dan sengsara.

Dua kota raya
menjadi kebangaan kita
Kuala Lumpur dan Jakarta
Malaysia dan Indonesia
kehidupan kotanya hampir serupa
kerana kita satu rumpun bangsa.

Johor, Malaysia, 18.3.2019.

8.07.
SALAM MERDEKA

Bertahun kita telah merdeka
bersatu hati kita bersama
berganding bahu dan tenaga
berbagai suku dan bangsa
aman damai tanpa sengketa.

Salam Merdeka…
untuk anak-anak muda
yang masih lagi setia
setiap keturunan usah dihina
setiap bangsa usah didera
setiap budaya usah dicela
setiap agama usah dihina
setiap masaalah ada penyelesaiannya.

Telah bertahun kita berjaya
penjajah pun sudah tiada
tanah ini tanah kita
kita perlu mempertahankannya
untuk selam-lamanya.

Salam Merdeka.

Johor, Malaysia, 19.3.2019.

8.08.
TANAH PUSAKA

Tanah ini tanah kita
hanya sekangkang kera
peninggalan orang tua
aruah ibu dan bapa
untuk kita mengurusnya.

Tanah pusaka…
kadang-kadang menjadi punca
pertengkaran adik-beradik kita yang tamak haloba
berebutan sedikit harta
tidak berpegang jalan agama
pasti akan porak-peranda
putus saudara-mara
pasti tidak berguna.

Tanah pusaka….
cuma sekangkang kera
sepakat dan sekata
hasil kebun sama dirasa
rumah pusaka sama dijaga
tempat berhimpun hari keluarga
tempat berhimpun di Hari Raya
agar kemeriahannya tetap ada.

Johor, Malaysia, 19.3.2019.

8.09.
DALAM KAMPUNG

Duduk dalam kampung
jiran tolong –
hidup bergotong-royong
kawan tidak sombong
hidup tidak terkongkong
boleh tanam jagung
boleh tanam kangkung
boleh tanam terung
boleh cari rebung.

Duduk dalam kampung
ada parit ada lombong
ada sungai ada ikan baung
ada hutan ada gaung
ada bukit ada gunung
ada kokok ayam sabung
ada bunyi suara burung
ada monyet ada lotong
memang seronok duduk kampung.

Johor, Malaysia, 20.3.2019.

8.10.
TANAH JAWA

Aku teringin sekali ke sana
melihat bagaimana damainya
tempat lahirnya nenek moyang kita
tempat asal usul keturunan kita
di Tanah Jawa, Indonesia.

Di sana… di Tanah Jawa
pasti meriah kebudayaanya
pasti ada wayang kulitnya
pasti ada kuda kepangnya
pasti ada gendang gemplingnya
pasti ada gunung-ganangnya
yang menyimpan cerita
sejarah dan kehebatan
sembilan wali songonya
yang gagah perkasa
dengan ilmu keagamaannya.

Dari Jawa Tengah di sana
nenek moyangku ialah pengembara
sanggup bergadai nyawa
menyeberangi lautan bergelora
lalu menjadi peneroka
menebang hutan rimba
membuka kampung Jawa
di tanah semenanjung Malaya
yang masih belum merdeka
dan kini anak cucu cicitnya
dilahirkan dan dibesarkan
serta merdeka menjadi
warga Malaysia yang setia
tapi tetap keturunan Tanah Jawa.

Johor, Malaysia, 20.3.2019.

TAMAT 9.

9.
M.S. Rindu

BIODATA. M.S. Rindu (Mohamed Salleh Lamry) lahir di Kuala Selangor pada 22 September 1942,  memiliki  Ijazah   Ph.D dari UM (1989). Beliau memulakan kerjaya sebagai guru sekolah rendah, sebelum bertugas sebagai  pensyarah   Antropologi dan Sosiologi    UKM (1978-2003). Beliau   pernah menulis cerpen dan  sajak    pada tahun 1960-an, tetapi  tidak meneruskannya ketika  bertugas sebagai  pensyarah. Selepas bersara dari UKM,  beliau memberi tumpuan kepada penulisan biografi. Buku  biografi beliau yang terakhir, Biografi Ishak Shari: Pemimpin Bumi Semua Manusia (Penerbit UKM, 2014) telah memenangi HSPM  bahagian biografi bagi tahun 2014. Beliau menulis cerpen dan sajak kembali mulai 2016,  yang telah diterbitkan  dalam pelbagai buku antologi.

PUISI

9.01. Bahaman
9.02. Abdullah C.D.
9.03. Kamarulzaman Teh
9.04. Malaysian Malaysia
9.05. Malaysia Baharu Hanya Impian
9.06. Berundurlah Seorang Menteri
9.07. Orang-orang Tanpa Negara
9.08. Guru Lama
9.09. Jerebu Dari Riau
9.10. Jalan Jawa Di Teluk Intan

9.01.
BAHAMAN

Bahaman bangkit menentang Inggeris
yang diundang oleh raja
untuk jadi penasihat baginda.

Ia dicap sebagai penderhaka
bukan sahaja oleh Inggeris
tapi juga oleh istana.

Tapi di mata rakyat
Bahaman adalah seorang wira
yang berani menentang Inggeris
yang sebenarnya menjajah Pahang
dan menyebabkan raja hilang kuasa.

Di zaman perjuangan kemerdekaan
selepas perang dunia kedua
Bahaman disanjung begitu tinggi
sebagai pemberi semangat dan pendorong
untuk rakyat Pahang
berjuan menentang Inggeris
yang masih mahu menguasai
negeri Pahang dan kekayaannya.

Kajang, 20.12.2019.

9.02.
ABDULLAH C.D.

Kau pejuang kemerdekaan
yang tidak mengikut jalan perundingan
kau mengangkat senjata
seperti rakyat di pelbagai negara.

Kau berjuang sejak muda
berasaskan ideologi yang kau yakini
penjajah adalah musuh rakyat
yang wajib diperangi dan dibasmi.

Kau berjuang di hutan belantara
dari Pahang hingga ke Thailand
memakan masa empat dekad
meski kemenangan belum muktamad.

Perjuanganmu berakhir di meja perundingan
tapi bukan menyerah kalah
engkau setuju untuk berdamai
untuk mengakhiri perjuangan yang bermaruah.

Namamu tentunya tidak tercatat
dalam buku sejarah rasmi
namun dalam lipatan sejarah rakyat
namamu telah terpahat
dan tidak boleh dipadam lagi
sebagai pejuang kemerdekaan yang sejati.

Kajang, 14.1.2020.

9.03.
KAMARULZAMAN TEH

Kau anak elit kampung
bersekolah Inggeris pada zaman penjajahan
nasibmu sudah terjamin
jadi orang besar dan hidup senang
jika hanya fokus pada pekerjaan
dan setia pada kerajaan.

Tapi kau mahu jadi wira rakyat
yang berjuang menentang penjajah
malah jadi pemimpin
gerakan kiri yang radikal dan militan.

Kau tertangkap kerana memiliki senjata api
dan dijatuhkan hukuman mati.
hanya pengampunan Sultan
menyelamatkan kau dari tali gantung.

Kau dihumban ke dalam penjara
selama 20 tahun
kemudian di tahan di bawah ISA
selama 8 tahun lagi
memang penderitaanmu berat sekali.

Tapi kau berjuang di pihak yang kalah
memang tidak ada penghargaan
apalagi bintang dan pingat

dari pihak kerajaan.

Menjelan kematianmu
kau membawa diri ke negara asing
meninggalkan tanah air
yang tidak menghargai perjuanganmu.
Hanya di sana
di Selatan Thailand
kau merasa dihargai
oleh teman seperjuanganmu
yang lama berjuang dari luar negeri
dan telah bertukar status
menjadi warga negara asing.

Kajang, 28.8 2019

9.04.
MALAYSIAN MALAYSIA

Malaysian Malaysia sebuah konsep
ciptaan sebuah parti politik
untuk mewujudkan kesamarataan
dalam masyarakat berbilang bangsa.

Ada andaian palsu
di sebalik konsep itu
kerana bangsa pendatang yang menguasai ekonomi
dikatakan warga kelas dua.

Konsep itu tidak menepati realiti

kerana yang terkebelakang di negara ini
dan merupakan warga kelas dua
sebenarnya bangsa bumiputera.

Konsep itu juga menafikan sejarah
negara ini asalnya negara Melayu
dan sebagai penduduk asal
adalah satu kewajaran
bumiputera mendapat sedikit keistimewaan.

Konsep itu mesti ditolak
kerana di sebalik kesamarataan yang ingin diwujudkan
tersirat satu ketidakadilan
untuk bangsa yang terkebelakang
dan penduduk asal negara ini.

Kajang, 27.2.2019.

9.05.
MALAYSIA BAHARU HANYA IMPIAN

Alangkah indahnya Malaysia baharu
jika rakyatnya menjunjung tinggi
sejumlah nilai murni
yang disarankan oleh perdana menteri.

Nilai itu meliputi
bertolak ansur
menyanjung ketinggian budi
saling hormat menghormati
sedia memberi dan berkongsi
tidak mementingkan diri sendiri.
dan berkemahuan untuk berkorban.

Tapi itu hanya impian
yang masih jauh dari kenyataan
khasnya dalam hubungan antara kaum.

Kenyataan yang amat terserlah
kita tidak mahu bertolak ansur
tidak menyanjung ketinggian budi
tidak saling hormat menghormati
tidak bersedia memberi dan berkongsi
hanya mementngkan diri sendiri
dan tidak berkemahuan untuk berkorban.

Malah kita semakin menyalakan
api perkauman
yang semakin marak
dan akan membakar kita semua
jika kita terus lalai dan alpa.

Kajang, 28.1.2020.

9.06.
BERUNDURNYA SEORANG MENTERI

Seorang menteri
terpaksa berundur
apabila perdana menteri
tidak lagi memerlukan khidmatnya.

Mungkin ia menteri yang bagus
atau lebih bagus

daripada setengah menteri
tapi itu bukan alasan
untuk ia terus kekal di kerusi menteri.

Perdana Menteri telah menasihatkan
supaya ia berundur
nasihat itu mesti dipatuhi.

Nasihat itu mungkin salah
tapi tidak boleh dibantah
kerana yang menentukan kebenaran
ialah perdana menteri sendiri.

Kajang, 7.1.2020

9.07.
ORANG-ORANG TANPA NEGARA

Alangkah besar bilangannya
orang Islam
yang hidup tanpa negara.

Di Turki ada 3.7 juta
di Libanon ada 1.5 juta
di Eropah entah berapa juta
yang tersebar di pelbagai negara
Di Malaysia pun ada

walaupun kita tidak pasti bilangannya.

Mereka adalah orang-orang yang tersingkir
dari negara sendiri
antaranya kerana perang saudara
atau diusir
oleh kerajaan yang tidak mengiktiraf mereka
sebagai warga negara.

Mereka tiada rumah
mereka tiada kerja
anak mereka tidak bersekolah
makan minum mereka seadanya.

Mereka menderita
mereka memerlukan pertolongan
dari negara Islam yang kaya.

Kajang, 24.12.2019.

9.08.
GURU LAMA

Aku guru lama
mengajar di sekolah desa
mungkin menggunakan kaedah lama.

Aku gembira
aku ada wibawa
dan dihormati oleh ibu bapa.

Ketika itu
guru khas disiplin belum ada
aku sendirilah yang merotan murid
jika ada kesalahan
yang memerlukan hukuman.

Aku tidak menghadapi tekanan kerja
aku tidak sakit jiwa
dan tidak perlu minta bersara
sebelum umur persaraan tiba.

Aku tinggalkan jawatan guru
untuk jadi pensyarah
tapi aku masih dipanggil cikgu
dan aku gembira
dengan panggilan itu.

Kajang, 16.5.2019

9.09.
JEREBU DARI RIAU

Hampir setiap tahun
bila tingkap kubuka
kulihat jerebu dikelilingku.
Pandanganku terhalang
oleh jerebu yang memutih
di depan mataku.

Dari TV kudengar berita
sekolah diberi cuti
kerana jerebu yang datang
membahayakan kesihatan murid.

Orang awam juga tidak digalakkan
berada di luar rumah
jika tidak terlalu perlu
untuk menjaga kesihatan mereka.

Jerebu ini dikatakan dari Riau
yang jauh dari Malaysia
tapi sampai juga ke sini
bersama angin yang membawanya.

Aku tidak tahu
berapa lama lagi kami akan menderita
kerana jerebu dari Riau
berulang datang setiap tahun.

Tapi inilah derita kami

jika pembakaran hutan di Riau
yang membawa jerebu ke negeri kami
tidak mereka basmi.

Kajang, 19.8.2019.

9.10.
JALAN JAWA DI TELUK INTAN

Jalan Jawa di Teluk Intan
inilah sebatang jalan
di mana dahulu
leluhurku dari Jawa
ikut mencurah keringat
membangunkan bandar ini.

Jalan Jawa di Teluk Intan
inilah sebatang jalan
yang menjadi bukti
leluhurku juga pernah berjasa
membina bandar ini
walaupun hanya sebagai kuli.

Jalan Jawa di Teluk Intan

inilah sebatang jalan
yang jadi penghubung
antara aku dan leluhurku
yang telah lama pergi
tapi namanya kekal dalam ingatan
kerana Jawa nama sukunya
telah diabadikan
sebagai nama sebatang jalan
di bandar ini.

Kajang, 23.10.2019.

TAMAT 9.

10.
Muhammad Iqbal Alfahri

BIODATA. xxxxx

PUISI
10.01. Ahoooiii… Negeri Deli
10.02. Terjaga
10.03. Kisah Cinta
10.04. Rayuan Cuaca
10.05. Kamu
10.06. Harapan
10.07. Tempat Berlabuh
10.08. Misteri Cinta
10.09. Kobaran Api
10.10. Hanya Kamu

10.01.
AHOOOIII… NEGERI DELI

Ahoooiii… Negeri Deli
Setiap insan memandangmu sebagai cahaya agung dari Pulau Sumatera
Diberkahi wujudmu dengan kekayaan dan keindahan
Dari balik tirai-tirai sejarah tergambar wajah-wajah tanpa dosa tersenyum ikhlas menyambut para pendatang

Ahoooiii… Negeri Deli
Puak Melayu riang gembira songsong cita di tanah bertuah
Maimun dan Al-Mashun berdiri megah tuk pertahankan marwahmu
Tak akan Melayu hilang di atas bumimu karena kan tetap Melayu kau sepanjang masa

Ahoooiii… Negeri Deli
Dunia menjadi saksi bahwa alammu adalah berkah dari Allah Yang Maha Kuasa
Air, tanah, dan udaramu sajikan cinta yang tertambat dalam hati
Dentuman gendangmu adalah penawar bagi siapa saja yang haus akan kebahagiaan
Tari Serampangan XII sambut mereka tuk berkunjung ke negeri tembakau sang sultan.

10.02.
TERJAGA

Malam semakin larut
Hembusan angin menusuk tulangku
Senyum tak lagi terpampang
Tapi aku masih ingin terjaga.

Aku tak bisa berhenti berfikir
Melayang fikirku kepada era kemudian
Bagaimana dan mau jadi apa nantinya?
Terus terngiang-ngiang di dalam benakku.

Namun seketika aku tersadar
Bahwa kita menjalani takdir kita masing-masing
Dan aku tak akan pernah menyerah kepada takdirku
Aku bisa, aku mampu, aku akan guncang dunia.

10.03.
KISAH CINTA

Cinta adalah sebuah puncak dari ledakan kasih sayang
Cinta mewakili senyuman semesta kepada seluruh jiwa yang haus akan hadirnya
Dia menari riang di dalam tubuhku sebagai makhluk yang baik lakunya.

Pikir cinta hanya memberi dan hanya itu sajalah maunya
Terkadang cinta akan berubah menjadi makhluk yang buruk lakunya saat posisinya terancam
Dia mampu menghujam beribu tusukan di jantungku hingga aku merasa lebih baik mati saja.

Aku terlentang, meronta, meraung kesakitan
Aku ingin bangkit namun terlalu lemah untuk itu
Aku terus berusaha namun jatuh berkali-kali
Aku meminta pertolongan namun setiap jiwa juga merasakan hal yang sama.

Teriak, aku berteriak
Dan seketika aku tersadar perlu cinta adalah hadirmu.

10.04.
RAYUAN CUACA

Mendung, gerimis lalu hujan.

Cuaca menyimpan kenangan di dalam setiap kepala
Sebagian mengingat kepada luka dan sebagian lagi berpihak pada tawa.

Aku duduk di beranda rumah
Menyeruput secangkir kopi hangat dan setoples kudapan.

Cuaca terus merayuku dengan hawa dinginnya
Ia tak ingin aku tak terbuai karenanya
Ia terus menggodaku dan berusaha menjamah isi kepalaku
Ia berhasil membuatku bernostalgia
Aku tertawa terbahak-bahak namun ingin meluapkan air mata juga.

Cuaca memang ahlinya bermain dengan rasa.

Aku tak ingin terbuai lagi
Mungkin lain kali aku akan memilih memejamkan mata indahku daripada harus berhadapan dengan makhluk bernama cuaca.

Selamat tinggal cuaca.

10.05
KAMU

Kamu selalu melintas dalam benakku
Hadir tanpa diundang
Menumbuhkan anganku
Merajut senyum bahagia

Hampir aku mati karena cintai kamu
Mengagumimu dalam diam
Menghabiskan tahun-tahun terbaikku
Hanya kamu yang aku nanti

Banyak yang datang
Selalu tak seirama
Kamu yang aku mau
Kamu dan sejuta daya tarikmu

Tak akan bisa terganti
Tak ada yang seperti kamu
Aku dan kamu adalah suatu misteri
Saling mencinta walau dalam diam.

Medan, Indonesia, 12.11.2020.

10.06.
HARAPAN

Dalam harapanku selalu ada wajahmu
Menatap indah di samudera cinta
Tak berbatas rasa bahagia kita
Jiwaku dan jiwamu jadi satu

Detak jantungku tak terkendali
Setiap kali ingat namamu
Suaramu, matamu, senyummu
Tersimpan dalam kepalaku

Aku pengagummu
Rela habiskan masaku hanya untukmu
Bahagia saat kau gembira
Dan terluka saat kau bersedih

Aku cintamu
Nada indah yang akan selalu mengiringi alunan lagumu
Kaisar yang siap bertahta di dalam hatimu
Air yang menyejukkan apimu.

-Muhammad Iqbal Alfahri.
Medan, Nov. 2020.

10.07.
TEMPAT BERLABUH

Berbagai masa telah engkau lewati
Manis dan pahit dunia silih berganti
Ada cinta dan doa dalam tatapan matamu
Membimbing jiwa dan raga anakmu.

Ibu cinta pertamaku
Penguasa hatiku
Kedamaian yang tidak berbatas
Kesejukan di tengah teriknya dunia.

Aku melangkah sejauh yang aku bisa
Namun kepada hatimu juga aku berlabuh
Menikmati indahnya cinta
Dalam syukur kepada Yang Kuasa.


10.08.
MISTERI CINTA

Cinta ialah candu
Merekah dalam dada
Memacu detak jantung
Bergairah raga kita

Ia terus tumbuh
Namun tak jarang ia hancur
Ia pernah terluka
Namun pulih kembali

Misteri cinta tak terpecahkan
Menghadirkan senyum dan tangis
Cinta ada karena inginmu
Cinta hilang juga karenamu.

10.09.
KOBARAN API

Hidup ialah api yang berkobar
Fana sifatnya bagi yang bernyawa
Bercahaya, berbahaya dan terus bersinar
Kuat seakan tak terkalahkan

Hari berganti hari
Lembaran kertas kisah terus dibakar
Membumbung kobaran angka usia
Ada batas yang harus dihadapi

Perlahan cahaya mulai redup
Tapi terus membakar dan membakar
Hidup… Hidup…
Enggan padam namun pasti padam.

10.10.
HANYA KAMU

Dari fajar hingga senja
Wajahmu selalu hadir dalam ingatku
Tersenyum dan mendekap hangat
Hadir dan membahagiakan

Kenyataan tak selamanya indah
Berbagai cara kulakukan untukmu
Demi kamu
Hanya untukmu

Tak jarang menahan malu
Merasa rendah dan hancur
Tapiku tetap tersenyum
Semua karenamu

Ingin miliki kamu
Cinta sekuat ini tak ingin hancur
Selalu mau kamu
Jika bersama kupastikan kamu bahagia.

TAMAT 10.

11.
Nor Aziah Aziz Fadzilah

BIODATA. NOR AZIAH ABDUL AZIZ FADZILAH atau Kamaliehudie NS (Nama Pena). Lahir pada 01.05.1964 di Kampung Jambatan Serong, Kuala Kalawang, Jelebu Negeri Sembilan. Kini bertugas di MRSM Tun Ghafar Baba, Jasin, Melaka. Pernah juga bertugas di Pejabat Gugusan Felcra Lakai Jelebu, Negeri Sembilan, MRSM Kuala Klawang, Institut Kemahiran MARA Jasin, Melaka, dan juga di Pejabat MARA Kota Kinabalu, Sabah. Pendidikan awal di Sek. Keb Durian Tipus, Sek. Men. Teriang Hilir dan Sek. Men. Undang Jelebu hingga tamat Tingkatan 5. Menjadi ahli Persatuan Penulis Negeri Sembilan (PEN) hingga kini dan pernah mengikuti beberapa bengkel dan kursus penulisan anjuran PEN. Antaranya pernah mengikuti kursus penulisan nobel remaja anjuran PEN/DBP di Port Dickson, Kursus penulisan buku kanak-kanak di Klang, kursus penulisan kreatif cerpen dan puisi di Seremban dan lain-lain. Hasil karya pernah mendapat tempat di akhbar Utusan MalaysiaBerita Harian, majalah Al-Islam, majalah Keluarga, RTM Melaka, RTM Seremban, RTM 1 dan lain-lain. Telah menghasilkan antologi puisi bersama penulis Negeri Sembilan, antaranya Sejambak KasihMerafaq SembahGema Serunai Hati 3, dan Gema Serunai Hati 4. Juga sebuah antologi bersama, antologi RESAM, sempena Jubli Emas DBP Sabah, sebuah antologi cerpen bersama penulis wanita Negeri Sembilan terbitan DBP, antolog cerpen Jauh Di Sudut Hati. Antologi bersama Bah Kuning senggaraan Talib Samad, antologi bersama, Soneta Ombak Biru Semenanjung. Pernah menerima Anugerah Sastera Genre Puisi Peringkat Negeri Sembilan pada tahun 2005 dan juga pada tahun 2007. Tempat kedua genre Haiku dalam HesCom e-Sastera Malaysia.

PUISI

11.01. Perempuan
11.02. Seorang Perempuan
11.03. Nur
11.04. Benarkah Kita Telah Merdeka?
11.05. Buatmu Lelaki
11.06. Kosong
11.07. Mencari Makna
11.08. Segulung Janji
11.09. Kembali Mekar Di Tangkai
11.10. Terujir Janji Meniti Senja

11.01.
PEREMPUAN

Perempuan itu matanya berpasir
tak pernah pedihnya dilempar kepada sesiapa
suka duka terbenam di kolam diamnya.

Perempuan itu memintal tali setianya
tak pernah ia meminta simpati di dada alam
kadangkala pembuluh sungainya mengalir lesu
hampir tersumbat oleh debu-debu singgah bersapa.

Biarpun tanpa siapa perduli
ia tetap utuh menyimpul
sejuta rasa lalu segala
tercurah pada Dia yang satu.

MRSM Tgb, Jasin, Melaka. 18.02.2019.

11.02.
SEORANG PEREMPUAN

Seorang perempuan
mengayam mimpi
di cermin musim
mencari kesilapan
diurai ikal rambutnya
di celah kelopak daun
yang mula layu
dan di kanvas wajahnya
yang terbiar berdebu
dimamah waktu.

MRSM Tgb, Jasin, Melaka, 16022019.

11.03.
NUR

Siang tadi engkau lelah berlari
di celah kepulan awan
mencari pelangi dan bintang.

Biarlah dingin malam ini
engkau lena di perbaringan
lempar segala lelahmu
ke luar jendela kamar
biarkan kabus malam
membalut mimpi indahmu
ke pintu dinihari.

Biarlah saat kelopak matamu terbuka
engkau bisa tersenyum
menatap cantiknya mentari
dalam pelukan pagi
kilau embun di hujung daun pun meresap
di pembuluh degup jantungmu.

Biarlah jasadmu yang lelah
bersatu dalam nur.

MRSM Tun Ghafar Baba, Jasin, Melaka.

11.04.
BENARKAH KITA TELAH MERDEKA

Ogos datang dan pergi silih berganti
melewati musim demi musim
dalam denyut hari
bergema lagi suara laungan keramat
memecah sunyi malam
didakapan sejarah.

Masih adakah suara-suara mereka
padu terlekat di dedaun muda
benarkah kita telah merdeka
dalam dakapan janji sumpah setia
tanah pusaka ini milik kita
masih seperti dulu
atau sungai merah yang basah
mengalir tumpah dalam keringat air mata dan darah
hanya sebuah laungan keramat
di tugu ingatan di bumi bertuah
merdekakah kita.

Hari ini suara-suara itu masih samakah
bergema di kanvas indah
pepohon rimbunan dedaun hijau
yang subur basah dari titisan hujan sebuah
kepahitan perjuangan lalu
dan merdekakah kita
dalam sambutan kemeriahan Ogos.

Biarlah Ogos yang tiba ini
mampu mengisi sebuah cinta
kental ke hujung ranting
biar kita hirup manisan berterusan
jangan ia menjadi tawar terbiar.

Setiap kali Ogos bersapa
pernahkah kita bertanya
tanah merdeka ini milik siapa
jangan hanya kemeriahan bunga api
membakar dedaun kering
tanpa pengisian tentang erti sebuah kemerdekaan.

Hari ini benarkah kita telah merdeka
di bumi bertuah tanah pusaka milik abadi
merdekakah kita.

Hari ini suara-suara itu masih samakah
bergema di kanvas indah
pepohon rimbunan dedaun hijau yang subur basah
dari titisan hujan
sebuah kepahitan perjuangan lalu
dan merdekakah kita
dalam sambutan kemeriahan Ogos.

Biarlah Ogos yang tiba ini
mampu mengisi sebuah cinta
kental kehujung ranting
biar kita hirup manisan berterusan
jangan ia menjadi tawar terbiar.

Setiap kali Ogos bersapa
pernahkah kita bertanya
tanah merdeka ini milik siapa
jangan hanya kemeriahan bunga api
membakar dedaun kering
tanpa pengisian tentang erti sebuah kemerdekaan.

Hari ini benarkah kita telah merdeka
di bumi bertuah tanah pusaka milik abadi.

Jelebu, Negeri Sembilan.

11.05.
BUATMU LELAKI
(Buat Suami Kamarul Azman & Arwah Abah Abdul Aziz Fadzilah)

Dialah lelaki yang hilang
dari jiwaku yang sepi
dari jiwa saudaraku
yang tahu tentang sabar dan setianya
seorang lelaki saay ratnanya
dirampas ke negeri abadi
dan betapa dia tabah sendirian
mendakap janji setia cintanya.

Dialah lelaki teragung
terpahat dihati
dan juga saudaraku
biar semakin jauh jarak terpisah
kusirami kelikir doa.

Engkau adalah lelaki
yang datang bersapa
menyulami kalam sepiku lalu
kau membalutkan rinduku dalam pelukan iman
dan engkaulah lelaki
yang memberikan selendang birumu
saat aku kehilangan lelaki teragung itu.

Terima kasih lelakiku
meskipun engkau tak mampu menandinginya
namun engkaulah payung cintaku untuk berteduh.

Jelebu, Negeri Sembilan.Chat.

11.06.
KOSONG

Terperam lama
air kelapa muda
dalam tepurung
berkulit hijau
diam matang
sarat terbeban
di ketuaan terus
menampung
manisan air
di pohon.

Kelapa berkulit hijau
bawah terik matahari
tewas dan merekah
memuntah segala isi
perutnya menjadi kosong
terpinggir tanpa nilai.

KAMALIEHUDIE NS
Jelebu, N. Sembilan.

11.07.

MENCARI MAKNA

Dalam kamar itu
tersimpan sebilah pedang
diam bekarat tiada siapa perduli
tentang kisahnya

Dalam kamar itu
masih tersimpan
sebilah pedang tua
kisahnya mati
dibibir waktu

Aku diam tersandar
didinding kamar itu
mencari makna

Dalam kamar ïtu
ku singkap wajah kilaunya
yang agung meniti daun hari
tiada yang manpu menandingnya
saat ia menjadi sebutan
kiĺauan tajamnya
jadi rebutan.

11.08.

SEGULUNG JANJI

Segulung janji
kajian semusim
sesak dalam gelora
tersadai di pantai setia

Merekapun
bertanya khabar pada
pepasir pantai memutih
tersenyum bayu pada
titis embun yang berderai

Segulung janji
lapisan lembar bagai
laut bersisik terpancar
bersatu dalam pelukan
warna ombak dan
tiada tewas ia
oleh ganasnya gelombang.

11.09.

KEMBALI MEKAR DITANGKAI
(Khas untuk cikgu Tadbir Alam – Klinik Haiku & Tanka)

Saat pertama
melangkah ke klinikmu
ku bawa sebuku bawang merah dan mataku berair pedih terpercik
sengitnya bawang
yang terhiris
Sakitku bertambah parah
menjadi barah tika kau
sayat dipembedahan
waktu terawat aku
lemah, semput tanpa nafas
kekuatan atasi kesakitan saat suntikanmu
membunuh virus
Terima kasih
atas penemuan
di klinikmu nan ajaib
ubatmu penyubur
mekar ditangkai
yang hampir patah
oleh cantasan tajaman pisau-pisau yang berbisa membunuh perjuanganku
Hari ini
jambangan kembali mekar
ditangkai laman haiku dan tanka.

11.10.

TERUKIR JANJI MENITI SENJA
(Buat suami tercinta)

Dalam redup
kelopak daun
diam tanpa bicara
menikam jantung
subur di laman cinta
teguh di tangkai waktu
bawah teduhan kasih
basah dalam zikir
butiran baja setia
dalam pelukan kasih
antara kita terukir janji
meniti senja.

TAMAT 11.

12.
PHAOSAN JEHWAE

BIODATA. Phaosan Jehwae ATAU nama Melayunya Che Wan Fauzan Bin Che Wan Yusoff (lahir di PATTANI, Selatan Thai) adalah seorang ilmuan, seniman dan sasterawan yang sangat aktif di Nusantara. Beliau juga menjadi pensyarah di Jabatan Pendidikan Bahasa Melayu, Universiti Fatoni, THAILAND. Selain menjadi pensyarah, beliau terkenal sebagai deklamtor puisi dan pejuang bahasa di Patani, Selatan Thai. Beliau juga aktif menulis dalam pelbagai bidang dan karya-karya beliau telah banyak diterbitkan dipelbagai Negara di Asia Tenggara. Pada tahun 2017, mendapat anugerah Penulis Lirik Lagu Terbaik Thailand. Pada tahun 2017 dan 2018 mendapat Anugerah Penyelidikan Terbaik dan pada tahun 2019, mendapat anugerah Tokoh Mahrajan Persuratan dan Kesenian Islam Nusantara dari Kerajaan Sabah, Malaysia.

PENDIDIKAN

Beliau pernah belajar Ijazah pertama dan Ijazah Sarjana di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga,Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dan Universitas Negeri Jakarta. Peringkat Ijazah Ph.D diperoleh daripada Universiti Brunei Darussalam.

ALAMAT SURAT MENYURAT
ASST. PROF. DR. PHAOSAN JEHWAE
Jabatan Pendidikan Bahasa Melayu dan Teknologi Pendidikan
Fakulti Pendidikan
Universiti Fatoni (Fatoni University)
P.O.Box 142
Muang Yala
Changwad Yala
S. Thailand
95000

NO TEL: +66-849727495
Email: fazdany@hotmail.com

PUISI

12.01. SUHAD LAMA BAHASAKU
12.02. ADIKKU
12.03. BEDOAH
12.04. AKU AMAT KHAWATIR
12.05. KITA HANYA DICIPTA
12.06. PULANGLAH
12.07. APABILA KEMARAU DAN JEREBU DATANG SEMULA
12.08. SI PENCURI YANG DIPERCAYAI
12.09. SEKEPING TANAH USANG
12.10. SAMPAI BILA

12.01.

Sudah Lama Bahasaku
Patani, 7/8/2019

Sudah lama Bahasaku
Dipinggir dihina
Oleh anak bangsa sendiri
Anak muda terasa malu
Bila bercakap bahasamu
Mereka lebih mesra
Bertutur dalam bahasa penjarah
Ibu bapa lebih bangga
Bila anak-anak mereka
Pandai membaca
Bijak bicara
Pintar menulis
Dalam bahasa musuh moyang kita
Bahkan dalam harian mereka
Bahasa orang
Menjadi bahasanya
Mereka sengaja melupakan
Sehingga anak bangsaku
Menganggap bahasa ibunda
Sudah menjadi bahasa asing
Kita sendiri yang meminggirkan
Bahasa warisan kita

12.02.

Adikku

Patani, 12/10/2019
Adikku!
Tulislah
Bacalah
Bercakaplah
Bahasa Melayumu
Aku takut
Suatu masa
Kau akan lupa
Mengeja
Membaca
Bertutur
Bahasa ibundamu

12.03.

Bedoah

Patani, 15/11/2019

Bedaoh kita
Bila berfikir bahasa kita
Bahasa murahan
Bahasa kampungan
Yang ditutur orang-orang desa
Ditulis oleh orang-orang kelas dua
Dan dibaca oleh orang-orang bodoh
Kita keliru, kita sangat keliru

12.04.

Aku Amat Khawatir

Patani, 27/11/2016

Oh Tuhan!
Aku amat khawatir
Bila mengambarkan
masa depan anak bangsaku
Yang semakin hari
Semakin lupa diri
Lupa juga diriMu
Mereka terbuai
Dengan riak takabbur
Kemewahan dunia
Akal-akal mereka terjajah
Dengan taklip kebodohan
Mereka menghambakan diri
Dengan aneka najis dadah
Aku takut suatu hari kelak
Tragedi Rohingya
Akan menimpa bangsaku
Sebab mereka telah melupaiMu

12.05.

Kita Hanya Dicipta

Patani, 30/11/2019

Betapa hebatnya kita di atas dunia ini
Akhirnya akan dikubur di tanah jua
Kita semua pasti mati
Baik kaya mahupun papa
Kerana kita diciptakan
Sebagai manusia
Yang tiada apa-apa
Melainkan dipinjamkan Allah
Untuk hidup sementara
Bila kita kaya 
Janganlah takabbur
Bila kita miskin 
Janganlah berduka
Kerana kaya dan papa
Juga hak Tuhan kita
Ingatlah senantiasa
Kita hanya dicipta
Bukannya pencipta
Allahlah Maha Kaya
Telah mengatur kehendak-Nya

12.06.

Pulanglah

Patani, 28/7/2019

Pulanglah 
Wahai anak bangsaku
Setelah sekian lama
Kau pergi jauh dari desamu
Untuk mencari ilmu 
Dan rezki di tanah orang
Baliklah
Wahai anak perantau
Ke kampungmu yang permai
Rumahmu yang penuh cinta
Ibu bapamu sedang menanti
Sanak-saudara merinduimu
Di penghujung Ramadan
Menjelang Aidil Fitri
Hari kemenangan dan kebahagian 
Sanak saudara berkumpul
Melepaskan rasa rindu
Untuk saling maaf memaafkan

12.07.

Menjelang Aidil Fitri

Patani, 4/6/2020

Menjelang Aidil Fitri
umat Islam seluruh dunia
Bersiapkan baju baru 
aneka kuih muih 
Yang dijual di kedai, bazar dan mal-mal mewah
Setelah sebulan berpuasa
Beramal ibadah
Dengan penuh suka gembira
menyambut hari kemenangan ini
Beribu duit dan harta kita belanjakan
Tapi kita jangan sesekali lupa
Saudara kita yang didera
Oleh para kafirin, Syiah, Yahudi dan Zionis di bumi Syam, Palestin, Irak, Burma di mana jua
Aidilfitri mereka dibanjiri air mata
Lautan darah anak-anak tak berdosa
Perempuan merayau
menyelamatkan nyawa
Orang-orang tua
yang lelah tak berdaya
Rumah-rumah mereka hancur dibom
Badan mereka kurus bertulang
Ada yang terputus kaki sebelah
Buta mata dan badan penuh darah luka
Mereka tiada pakaian baru
Mereka tiada kuih muih mewah
Mereka tiada rumah untuk berteduh
Mereka hanya berbuka puasa
Dengan segelas air yang berbau darah
Roti kering di dalam buangan sampah
Terkadang tiada apa-apa
untuk di makan
Bahkan mereka terpaksa makan bangkai
Mereka sudah lama tak mengenal
Indahnya gembiranya hari raya itu
Mari kita tadahkan doa kita
Semoga Allah mengkembalikan 
Cahaya kedamaian di Aidilfitri tahun ini.

12.08.

Padamlah Api Amarah

    Patani, 22/7/2019

Padamlah api amarah 
Damailah duri persengketaan
Yang diciptakan musuh-musuh kita
Untuk saling marah dan benci
Sehingga terjadi perbalahan, pembunuhan
Pertumpahan darah
Antara adik beradik sesama kita
Berakhir dengan dendam kesumat
Dari generasi ke generasi
Tiada titik akhir
Api makin membara
Duri makin berbisa
Meracuni pokok-pokok bangsa
Membakar tunas-tunas
yang tak berdosa
Anak cucu akan menjadi abu
Para remaja menjadi limbah 
Yang tak berjatidiri
Dan menjadi baja
Di taman musuh kita

12.09.

Sekeping Tanah Usang

     Patani, 29/6/2016

Sekeping tanah usang
Tinggalan moyang kita
Telah dibanjiri dosa
Oleh anak cucunya
Dengan rantai maksiat 
Noda dan lara
Moyang kita tersiksa
Di alam kubur
Kerana perbuatan kita
Harusnya kita bersyukur
Masih ada bumi untuk hidup
Makan dan berteduh
Dari warisan pusaka moyang kita
Berdoalah untuk mereka
Berbaktilah tanah usang itu
Semoga moyang kita
Tenang di syurga sana

12.10.

SAMPAI BILA

Patani, 20/10/2020

Sampai bila
Sengketa ini
Akan kembali damai
Hari-hari mereka dalam gelisah
Suara bedil-bedil menakutkan
Bom-bom kimiakal pembunuh
Sudah berjuta jiwa terdera
tergadai jiwa raga
Cacat cedera hidup penuh derita
Kehilangan keluarga harta benda
Rumah tempat berteduh
Masjid terhancur lebur
Hidup mereka penuh luka
Tiada makanan, tiada air
Tiada kemerdekaan
sebagai manusia
Kanak-kanak yang tak berdosa
Terkubur hidup-hidup
Di reruntuhan puing-puing batu
Kakinya terputus
otaknya hancur berkeping
Sekolah-sekolah mereka
Taman-taman mereka
Tempat bermain mereka
Dialiri darah-darah saudaranya
Mayat-mayat sahabatnya
Bangkai-bangkai peliharaannya
Hidup mereka bagaikan neraka
Sedangkan mereka masih suci
Mereka masih kecil dan lugu
Mereka belum ternoda dengan dosa
mereka tidak tahu apa-apa
Perbalahan kejam itu
Sengketa jahanam itu
Disebabkan orang tua mereka
Yang ego dan serakah
Demi kuasa dan jawatan
Kerana ideologi dan mazhab
Mementingkan diri dan sekutunya
Sampai bila sengketa ini
Akan berakhir di sana.

13.
ROSNIDAR AIN

PUISI

13.01. Seorang Orang Tua
13.02. Islamofobia
13.03. Muntah
13.04. Kopi Cap Gantang Vs. Kopi Pendatang
13.05. PU
13.06. Dalam Bengkel
13.07. Apabila Kemarau Dan Jerebu Datang Semula
13.08. Si Pencuru Yang Dipercayai
13.09. Lagu Tiga Kupang
13.10. Babi Dan Harimau

13.01.
SEORANG TUA

Dibina sebuah rumah lengkap segala
oleh seorang anak
tinggal berdiam dia seorang
menagih sayang rindu dendam
punya anak bukan seorang
lelaki dan perempuan,
lelaki dan perempuan,
banyak bilangan – gilang gemilang
pabila demam 
yang pulang seorang dua orang
yang profesor ada urusan
yang doktor dalam kecemasan
yang bisnes kejar pelanggan
yang miskin tak ada wang untuk pulang.

Seorang tua itu sedang uzur
isyaknya sakit, cergasnya zohor
kadang mimpi mengganggu tidur
rindunya pada bungaan gugur
di atas batas-batas kubur.

13.02.
ISLAMOFOBIA

Masygul pada sabda islamofobia 
menghunjam denyut atma
merejam ketamadunan
maka fobia
di mana-mana
di mata
di kepala
di suara.

Fobia itu merebak amarah
membuak darah 
pada yang tidak bersalah.

Mereka yang fobia 
mencipta dunia
tanpa menang
kerana tenang
tidak pernah datang
bagi penentang.

13.03.
MUNTAH

Kronologi drama
muntah lintah 
berulang dan ulang lagi
ajuk dan ajuk lagi
jadi parodi mengejek diri
politik sakit menjerit-jerit 
atas sama atas
bertumpang tindih
yang bawah 
gadai peribadi 
yang tengah tunggu rezeki
tiada guna bergalang-ganti
naskhah sama tukar watak tukar wajah tukar posisi
ulang dan ulang lagi
ajuk dan ajuk lagi
jadi parodi menggonjak diri.

13.04.
KOPI CAP GANTANG VS KOPI PENDATANG

Siapa yang meletakkan harga kopi?

Tempatan
vs 
Pendatang.

Harga secawan kecil
vs
Harga seguni beras.

Hirup kopi cap gantang
fikir hutang tatkala hujan.

Hirup kopi pendatang
fikir hutang
untuk hidup senang.

13.05.
PU

Kahwin halal kahwin curi
Bukan artis bukan selebriti
Galak berbini lagi dan lagi
Tersungkur disondol babi.

Punya ilmu bukan calang
Quran hadis dalam tangan
janji cinta bulan bintang
tapi iman mudah kontang.

PU
Manusia biasa
ada jiwa
mudah leka
bukan saja-saja
jatuh cinta
ikut sunnah 
pahala berganda.

PU bukan artis bukan selebriti
PU ada dalam diri para lelaki
PU boleh ustaz boleh menteri
PU adalah seorang suami
– Penuntun Ukhrawi.

13.06.
DALAM BENGKEL 

Dalam bengkel mengejar tradisi
mata di hadapan akal di tepi
antara kerja – keluarga dan hobi
mereka mengejarku mati.

13.07.
APABILA KEMARAU DAN JEREBU DATANG SEMULA

Kita sentiasa diperingatkan tentang keadaan masa hadapan 
dengan lara tingkah-meningkah
kadang-kala hadir tatkala gerimis merembes 
matari jarang tersenyum dalam gemerlap sinar
hujan angin jadi lumpur jadi abu
bentala sudah malas jadi subur
sang gunung rela hancur.

Kita alpa lagi dan lagi
-Hujan ke mana pergi?

13.08.
SI PENCURI YANG DIPERCAYAI

Seorang Pencuri diberi kunci
menjaga harta peribadi
kerana tiada yang lebih layak selain dia 
kononnya orang mencuri tidak akan mencuri jika dipercayai.

Jadinya dia gembira diberi percaya
lalu bertekad menghargainya
harta benda dijaga sempurna
malah dijanjikan untung pula.

Lama-lama mereka lupa.

Si Pencuri ini bukan bijak berbicara sahaja
tetapi ligat akalnya
kemahirannya bukan mencuri semata-mata
kononnya arif timbultimbuskan harta 
dari merata-rata
maka percaya lagi mereka
berduyun-duyun menyerahkan harta 
punah akhirnya sekelip mata.

Si Pencuri yang bijak mencuri, juga bijak memperdaya
dikatanya harta hilang kerana pelaburan
hilanglah berkoyan-koyan harta dalam jagaan
lepas lagi rezeki di tangan.

Padan muka kami orang!

13.09.
LAGU TIGA KUPANG

Lagu tiga kupang
Sagu penuh padi
Enam ekor burung
Masuk dalam kuali

Tiba datang musang 
Darah makin enak
Taring jadi siong
rakyat korban diri

Todak muncung panjang
Tahan betis saja
Akal jangan hitung
Nyawa galang ganti.

Suami pulang menang
Isteri idam mati
Keris jadi sumpah 
Muntah darah api.

13.10.
BABI DAN HARIMAU

Hari ini babi dan harimau tidur di halaman rumah
hari esok datang lagi buka kunci pintu depan
alang-alang boleh jadi anak susuan.

Rumah babi dan harimau sudah punah
bela babi lagi untung dapat habuan
bela lembu kambing asyik-asyik diculik orang.

Makan babi sama haram macam dadah
minum arak bukan teguk kencing setan
benda jijik  baru seronok dalam khayalan.

Orang kampung tak hairan babi harimau datang jengah
lagi hairan tamu datang bawa barangan
sudah biasa dalam dunia seorang-seorang
nanti mati pergi kubur sendiri berjalan. 

Babi dan harimau cari rumah 
bukit bukau hilang sudah
apa nak hairan ramai kawan 
ada nak jadi babi 
ada nak jadi rimau 
jadi-jadian.

TAMAT 13.

TAMAT.