Setangkup Ulasan Yo Sugianto

Ikhtiar dari Gaksa membentangkan jalan bagi dunia sastra Indonesia dan Malaysia, malah rantau ASEAN, untuk lebih dekat, tak hanya dari sisi sejarah tapi juga emosional dalam keberagaman. 

PENGANTAR 

Membaca 30 cerpen dalam kumpulan cerpen “+ – x ÷ : Kumpulan Cerpen Gaksa 2020” ini seperti melihat cermin dengan jejak-jejak dan catatan perjalanan yang beragam. 

   Dari 30 cerpen ini terlihat kedalaman masing-masing penulis, yang tak lepas dari jam terbang masing-masing dalam dunia kepenulisan. Hal ini wajar saja, bukan soal usia, namun soal pengalaman masing-masing dalam kehidupan nyata.
    Seperti yang pernah dituturkan oleh Mo Yan, peraih Nobel Sastra dari Tiongkok. Ia lahir dari keluarga petani, dan semasa “Revolusi Kebudayaan” bekerja di sebuah pabrik minyak. Kemiskinan yang terjadi saat itu membuat Mo Yan sering terpaksa makan kulit pohon dan gulma untuk bertahan hidup.
  Penderitaan itu dijadikannya inspirasi atas karya-karyanya. “Kesepian dan lapar adalah keberuntungan dalam penciptaan“, kata pengarang Red Sorghum itu suatu ketika.
  Dunia cerpen, seperti banyak dipahami, adalah sebuah dunia yang fragmental, terbatas dalam ruang dan waktu yang sempit. Tak heran jika penulis cerpen dituntut untuk jeli dalam memilih penggalan demi penggalan peristiwa. Pemilihan yang disampaikan lewat dialog, atau deskripsi yang dipakainya untuk menyampaikan maksudnya.
  Di sinilah tantangan penulis cerpen. Ia harus menghadirkan dunia imajinasi dalam wadah sempit yang disebut cerita pendek. Tantangan itulah yang coba ditaklukkan oleh 21 penulis dalam kumpulan cerpen ini. Tidak adanya satu tema yang dihadirkan, membuat kumpulan cerpen ini tampil beragam sesuai dengan kehendak penulisnya. Namun, pada umumnya, berkisar pada kejadian sehari-hari yang lazim dijumpai, yang oleh penulisnya dikemas dalam imajinasinya untuk melahirkan kisah yang diinginkannya.
Cerpen “Kejora Menyimpan Harapan” yang jadi pembuka kumpulan cerpen ini pun seolah mengisyaratkan tragedi kehidupan yang ada di dunia sekitar kita. Tragedi dari percintaan dan pengorbanan.
Cerpen-cerpen lain berusaha memotret dan menafsirkan kehidupan yang beragam, dengan segala dinamika persoalannya. Mulai dari persenjataan modern, kisah cinta di sebuah kafe, obsesi yang berbuah tragedi, perempuan-perempuan di perpustakaan, atau kekuatan doa seorang ibu yang puteranya hilang selama 10 tahun.
Meskipun ada yang tertatih menyajikan kisah, namun memilih cerpen sebagai wadah gagasan dan peleburan imajinasi merupakan hal yang patut diapresiasi. Cerpen bukan lagi sesuatu yang diremehkan, karena dunia pun sudah mengakuinya, terbukti dengan perolehan Nobel Sastra bagi cerpenis.
Seperti pernah disampaikan oleh Alice Munro saat ia mengetahui berhasil memenangkan penghargaan Nobel yang diadakan oleh The Swedish Royal Academy of Sciences, “Hal ini sepertinya tidak mungkin terjadi. Seperti suatu hal yang terlalu luar biasa, aku tidak bisa menjelaskannya. Kemenangan ini melebihi sesuatu yang bisa kuungkapkan dengan kata-kata.”      
Alice menegaskan: “Aku berharap hal ini akan bisa membuat orang-orang melihat cerita pendek sebagai suatu karya seni yang penting, bukan hanya sesuatu yang orang lakukan saat mereka sedang berusaha menyelesaikan novel mereka.”
  Maka di sinilah pentingnya penerbitan kumpulan cerpen Gaksa 2020 ini bagi dunia kepenulisan cerpen. Bahwa cerpen merupakan suatu karya seni yang penting. Sebuah karya yang bukan merupakan selingan bagi seorang penulis untuk menyelesaikan novelnya.
  Ikhtiar dari Gaksa dalam memberi ruang bagi cerpenis, juga penyair, pada akhirnya akan membentangkan jalan bagi dunia sastra Indonesia dan Malaysia, malah rantau ASEAN, untuk lebih dekat, tak hanya dari sisi sejarah tapi juga emosional dalam keberagaman. ***

Yang berikut ialah ulasan untuk 14 cerpen yang disiarkan dalam buku ini, + – x ÷ 2, iaitu + – x ÷ (Seksyen 2)

1. Ulasan  Cerpen Adyra Az-Zahra: “Kejora Menyinar Harapan”

Ego seorang lelaki, yang tega menepikan kepercayaan tunangannya hanya untuk memenuhi nafsu birahinya. Itu yang disajikan oleh Adyra Az-Zahra lewat cerpennya yang berjudul “Kejora Menyinar Harapan.”
  Cerpen yang menjadi pembuka Cerpen Gaksa 2020 ini berkisah tentang Salim, lelaki yang sedang menikmati indahnya percintaan dengan Adira. Mereka sering bersama di sebuah taman, memadu kasih seperti halnya pasangan lainnya di situ. 
  Keduanya berkenalan saat bersama menanti bus sepulang dari ofis. Dari situlah, keduanya akhirnya menjadi sepasang kekasih. Salim sendiri sebenarnya sudah bertunangan sejak masih menjadi mahasiswa, dijodohkan oleh orangtuanya dengan perempuan satu kampungnya. Perjodohan yang tak bisa ditolaknya, dan akhirnya menumbuhkan bibit cinta pada Salbiah, tunangannya itu.
Hubungan Salim dengan Salbiah juga tak mengalami hambatan. Keduanya kerap bersua meski berjauhan tempat bekerjanya. Kedua orangtua mereka pun menanti saat pernikahan itu tiba.
Adira lalu mendengar berita yang membuatnya tak percaya, bahwa Salim sudah punya isteri. Salim mencoba menjelaskan apa yang terjadi, diajaknya Adira bertemu di tempat biasanya mereka memadu kasih.
Adira akhirnya menerima keadaan Salim, rela dinikahi sebagai isteri kedua. Tak hanya demi cintanya pada Salim, tapi juga pada bayi yang sudah berusia dua bulan dalam kandungannya. Salim pun yakin dapat membujuk Salbiah agar menerima kehadiran Adira sebagai madunya.

Ulasan

Dari cerita yang disajikan Adyra Az-Zahra. kita bisa berkaca pada diri kita, sesama manusia yang sering kalah menghadapi ambisi dan nafsu diri sendiri. Dari sosok Salim, jelas terlihat ia tak mempedulikan resiko apa yang terjadi, selama keinginannya terpenuhi. Keinginan dari dunia yang lebih luas dihadapinya, lebih luas dari dunia akademi.
  Sayangnya, kebebasan yang dijalaninya itu diartikan berbeda oleh Salim. Ia tersilap bahwa ada batas bagi sebuah kebebasan. Ia punya Salbiah yang dicintainya, yang dijodohkan oleh keluarganya. Namun Salim tetap “bermain api” dengan mendekati Aldira, memadu kasih seolah Salbiah tak ada.
Meski begitu, sayangnya Adyra Az-Zahra tidak menampilkan konflik dengan maksimal dalam cerpen ini. Aldira mendengar kabar Salim sudah beristeri, lalu ia seperti tidak peduli dengan Salim saat mereka berbicara di telepon. Namun segera luluh begitu bertemu. Konflik ini begitu mudah diselesaikan.
Pada sisi lain, status Salim yang masih bertunangan dengan Salbiah dengan cepat berubah sudah menikah.           
Meski tema yang ditampilkan penulis umum, yakni perselingkuhan, namun jika digarap dengan cermat, dalam konflik yang bisa menggetarkan perasaan pembaca, cerpen ini akan lebih berhasil. ***

2. Ulasan Cerpen Ahkarim: “Pak Sarjan Membunuh Belon”

Berbeda dengan cerpen sebelumnya yang berjudul “Sebuah Kitab”, kali ini Ahkarim berkisah tentang Belon, seorang penjahat setempat yang membuat resah masyarakat. Aparat pun dibuat tak berdaya, enggan menanganinya karena Belon tak juga jera meski sudah merasakan dipenjara.
Ia perempuan, yang saat kecil badannya montok sehingga dipanggil Belon. Nama aselinya Nurul. Sejak ayahnya meninggal, Belon terlibat dengan dadah. Keluar masuk penjara sudah tak asing lagi bagi perempuan yang kini kurus, tak lagi gemuk montok. Anaknya dua, tak ketahuan siapa bapaknya.
  Belakangan, Belon makin membuat resah. Setiap hari ia keluar masuk rumah minta duit sana sini. Rumah yang kelihatan sedikit berada, diketuknya. Hingga ia hafal mana rumah yang akan memberinya seringgit dua.
Kerjanya hampir setiap hari keluar rumah minta duit di sana sini. Semua rumah yang kelihatan sedikit berada, akan diketuk pintu. Akhirnya dia sudah tahu penghuni rumah mana yang akan menghulur seringgit dua.
Keadaan itu menimbulkan berbagai isu. Ada yang takut, jika dibiarkan, Belon bisa membunuh orang atau membakar kampung. Namun bagaimana mengatasinya, apalagi jika ia pegang senjata. Itu yang kemudian dibicarakan oleh beberapa warga di masjid.
Mereka berunding bukan untuk membunuh Belon, tapi ia diberi pelajaran. Seperti membuat patah kedua kakinya. Namun bagaimana melaksanakannya, siapa yang berani?
Sajan, pensiunan polisi, tunjuk tangan untuk mengatasi Belon. Ia tak bicarakan hal itu dengan isterinya, yang pernah diancam Belon dengan pisau lipat. Laporan ke pihak kepolisian atau jawatan atas hal itu tak pernah ditanggapi.
Sajan hafal, Belon biasanya pagi ke rumah hendak minta duit. Maka ia bersiap malamnya untuk menghadapi Belon.
Ketika Belon mengetuk pintu, Sajan menemuinya, membuka pintu pagar lalu masuk ke dalam rumah. Isterinya sudah membentak, tahu Belon datang minta duit.
Tiba-tiba riuh suara di depan rumahnya. Belon  telentang mati di depan pintu pagar rumahnya. “Pak Sajan membunuh Belon” ramai terdengar hingga polisi datang dan membawa Sajan. Di kantor polisi ia tak lama, kemudian dibebaskan.
Beberapa hari kemudian barulah terang kisahnya. Pak Din Soya, salah satu pengurus masjid yang turut berunding saat itu, ternyata membantai Belon dengan bambu. Nasi lemak cucunya dirampas oleh Belon. Itu merupakan kejadian yang ketiga kalinya saat cucunya berangkat ke sekolah. 

Ulasan

Seperti cerpen sebelumnya, Ahkarim mampu membawa pembaca pada situasi yang dikehendakinya: Sajan yang akan jadi algojo untuk membuat jera Belon. Seorang pensiunan polisi yang meyakinkan pengurus masjid lainnya untuk mengeksekusi penjahat itu.
  Namun yang terjadi justeru sebaliknya. Saat Sajan masih melakukan apapun, bahkan membuka pintu pagar rumahnya bagi Belon, eksekusi terhadap Belon telah dilakukan Pak Din Soya pelakunya.
Kembali pembaca terkecoh dengan permainan kata-kata Ahkarim, dan suasana yang dibangun dalam cerpen itu sehingga tergiring untuk percaya bahwa Sajan akan mampu membantai Belon. ***

3. Ulasan Cerpen Irwan Abu Bakar: “Nangis”

Seperti halnya cerpen sebelumnya (+-x÷ Bahagian 1), lokasi peristiwa ini sama. Begitu juga meja 17. Hanya kali ini pelakonnya adalah lelaki separuh baya yang masih tampan, bersama isterinya. Mereka menikmati brunch, dengan waktu hampir jam 11.00 pagi.
Si isteri sudah makan pagi di rumah, sedangkan si lelaki tidak sempat, maka ia lapar. Selesai urusan di bank, mereka lalu ke restoran itu, duduk di meja 17.
Si lelaki sudah menerima pesanannya. Sedulang roti boom terletak di hadapannya. Dua keping roti boom, dengan kuah dalam lekukan pada dulang itu. Teh tarik juga terletak di sisi dulang itu. Sedangkan si isteri hanya memesan segelas teh O panas.
Apa yang terjadi di meja 17 diperhatikan oleh seorang perempuan yang duduk di meja 19. Ia pun suka meja 17, tapi karena terlambat datang tak bisa ia menempati meja kesayangannya itu. Geramlah ia ketika melihat si isteri hanya minum segelas teh O saja.
Didatanginya pasangan itu, dan disemprotlah si suami. “Encik makan sedulang roti boom seorang diri sementara isteri encik hanya dipesankan segelas teh O panas sahaja. Tabiat buruk memperlekeh-lekehkan isteri seperti inilah yang sedang merosakkan keharmonian rumah tangga dalam masyarakat kita pada hari ini,” bentaknya. Mukanya merah marah. 
  Saat suami dan isteri itu tertegun dengan kemarahan si wanita, pelayan restoran kembali datang. Ia membawa sedulang roti boom,  meletakkan di depan si isteri. Ketika si lelaki mengatakan tidak memesan, pelayan itu mengatakan bahwa roti itu dari pemilik restoran.
Menetes air mata lelaki itu. ***

Ulasan

Irwan Abu Bakar memang lihai bermain dengan detail. Tak hanya tentang area restoran itu, dengan meja dan pengunjungnya, tapi juga makanan dan minuman yang dipesan pelanggan.
Dalam “Nangis”, Prof. Irwan, sapaan akrab Irwan Abu Bakar, kembali menyajikan situasi yang sebenarnya benderang untuk disimak. Namun, kembali ada perempuan yang terkecoh sehingga ia mengintervensi pasangan itu.   
Memang terasa agak berlebihan kenapa perempuan itu harus marah, melakukan intervensi ke urusan orang lain. Toh suami isteri tak melakukan apapun yang merugikan orang lain. Namun, perilaku perempuan itu bisa jadi cerminan masyarakat yang sering melihat sampul (cover) lebih dulu daripada isinya?
Air mata si suami juga bisa berarti ia memang benar-benar terharu atas perhatian boss restoran itu. Bisa juga ia “terpukul” karena justeru orang lain yang peduli pada isteri, bukannya dia sebagai suami. ***

4. Ulasan Cerpen Irwan Abu Bakar: “Dompet”

Berbeda dengan dua cerpen sebelumnya, kali ini dalam “Dompet”,  Irwan Abu Bakar yang juga seorang penyair, memberi sentuhan berbeda. Tokoh yang duduk di meja 17 dan 19 tetap hadir selaku aktor utamanya.
Namun dalam “Dompet”, hadir tokoh Aku yang tidak disebutkan duduk di meja nomer berapa. Ini menarik, karena Aku sebelumnya tak dihadirkan, langsung pada tokoh utamanya yang duduk di Meja 17.
“Dompet” berkisah tentang lelaki paruh baya yang duduk di meja 17, membawa sebuah tas berisi buku. Ia memesan dua roti boom dengan kuah dalam lekukan pada dulang itu. Teh tarik juga terletak di sisi dulang itu.
Masalah muncul saat lelaki paruh baya itu tidak bisa membayar pesanannya karena dompetnya tertinggal di rumah. Hal yang tidak dipercaya oleh kasir restoran, juga seorang perempuan yang suka meja 17 tapi harus menerima kenyataan keduluan lelaki itu, sehingga harus puas di meja 19. 
“Encik,” tegur perempuan itu kepada lelaki tersebut apabila dia sampai di meja 17. “Encik sepatutnya lebih berhati-hati.  Jadikan satu tabiat, nak makan di kedai, tengok duit dulu. Jangan pakai makan sahaja. Inilah tabiat buruk yang sedang merosakkan suasana sosial dalam masyarakat kita pada hari ini,” bentaknya. Mukanya merah marah.
Situasi pelik yang melanda lelaki separuh baya itu mendapat pembelaan dari seorang remaja laki-laki yang duduk di meja 16. Ia berkata kepada perempuan itu: “Puan, apabila namanya insan, terlupa, tertinggal, terlepas, dan tersalah adalah lumrah.” Ditatapnya wajah perempuan yang sepertinya aktivis itu dengan sinis.
Dalam suasana tegang, apalagi ada remaja lain yang mengkritik restoran itu, Aku membayar pesanan lelaki separuh baya itu. Hanya RM4.80 saja untuk roti boom dan teh tarik.
Aku tahu lelaki itu, percaya bahwa memang dompetnya tertinggal di rumah. Ia seorang professor gred A di sebuah universitas terkemuka. Sebulan saja gajinya RM30,000. 

Ulasan

Cerpen “Dompet” ini kembali menegaskan kelihaian Prof. Irwan memainkan situasi di restoran yang sama dengan dua cerpen sebelumnya. Dengan elegan, tanpa banyak bicara, lewat tokoh Aku dibayarnya tagihan lelaki paruh baya itu, yang diketahuinya seorang professor dengan gaji RM30,000 per bulan.
Dari kisah ini, kembali kita diingatkan, tak semua orang berniat buruk. Ada masa ketika seseorang mengalami saat naas, seperti dompet yang tertinggal di rumah. Sebagai sesama manusia, dibutuhkan rasa saling percaya.
Selain itu, si Aku yang membayar pesanan lelaki separuh baya itu menunjukkan apa yang ada dalam ajaran agama bahwa sedekah yang paling baik adalah sedekah yang tidak diketahui orang lain. ***

5. Ulasan cerpen Masraden MD: “Guruh di Langit”

Atan Chik seorang pesilat, sudah beristeri. Suka menjalani tantangan silat, selalu ingin mencoba kepandaian pesilat lainnya.  Ia tak suka jika seseorang mengajaknya berbicara tanpa memberi salam terlebih dahulu. Hal itu dianggap seperti menantang dirinya, atau tidak sopan.
Berbekal jurus andalannya yang merupakan gabungan dari Sendeng dan Kuntau Betawi, Atan Chik malang melintang di berbagai gelanggang silat. Ditambah lagi dengan ilmu kebatinan yang dipelajarinya seperti Kipas Nandung atau loghat Banjarnya, Parang Maya.
Suatu ketika, Atan Chik mendengar ilmu silat Cekak. Bertahun kemudian ia lalu mencoba cari tahu apa itu silat Cekak. Dari seorang sahabatnya Mat Isa, ia mengetahui seperti apa ilmu silat itu. Mat Isa itu yang lalu mengantarkannya ke tempat latihan silat Cekak di Tanah Liat, Bukit Mertajam.
Di situ Atan Chik bisa mencoba guru silat, Tuan Haji Ishak. Sudah terbayang olehnya bagaimana ilmunya, Kipas Nandung akan menjatuhkan Tuan Haji Ishak. Namun kenyataan berbicara lain, tubuh guru itu tambah membesar. Akhirnya Atan Chik mengutarakan niatnya menjadi murid.
  Setelah melalui ujian, selama enam bulan tidak langsung belajar silat Cekak, hanya melihat saja, akhirnya Atan Chik belajar di situ, termasuk jurus “Buah Potong” dan “Buah Serang.” 
Tetapi setelah mempelajari lebih dalam dan memahami Silat Cekak, Atan Chik menemukan kenyataan bahwa Silat Cekak bukanlah ilmu silat tapi jalan untuk menjadi hamba Allah. Bahkan ia bersyukur karena menemukan apa yang dicarinya selama ini.  

Ulasan

Membaca cerpen Masraden MD ini tak sekedar menikmati cerita seorang pesilat, juga guru silat, yang suka bertarung di berbagai gelanggang. Selain suka bertarung, Atan Chik juga gila ilmu. Tak hanya ilmu silat tangan kosong yang dipelajarinya tapi juga bermain keris.
Suatu ketika ia mendengar tentang Silat Cekak, suatu aliran bela diri yang membuatnya penasaran. Hingga enam tahun kemudian barulah ia mengenal, bahkan kemudian mempelajari Silat Cekak itu.
Atan Chik akhirnya menemukan bahwa Silat Cekak itu pada hakekatnya adalah suatu jalan untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Kuasa, Penguasa Alam Semesta. Ini merupakan suatu penemuan yang memberi pencerahan bagi bathin Atan Chik.
Cerpen dengan tema menarik ini sayangnya kurang mengeksplorasi apa itu Silat Cekak. Apa tahapan yang harus dilalui Atan Chik sehingga ia larut dalam kemantapan iman? Perubahan apa yang didapat olehnya? ***

6. Ulasan Cerpen MRT Noordin: “Madu dan Sepah”

Di dalam cerpen ini, tokoh utamanya adalah Ryzal, yang dikenal sebagai pelobi proyek ulung. Saat ini ia sedang menangani sebuah proyek besar dari pengembang ternama, BLS yang sudah tersohor di Malaysia. Ryzal berkomunikasi dengan Mr. Chong, wakil dari BLS tersebut.
Mereka bertemu di Kafe Kopitiam, Bandar Baru Ijok, untuk membincangkan projek baharu yang diberikan oleh pihak BLS. Di kafe itu, Mr. Chong memberikan petunjuk tentang proyek yang akan diberikan kepada perusahaan tempat Ryzal bekerja.

Ulasan

Cerpen ini dibuka dengan baik, mampu memancing perhatian pembaca: sebuah proyek besar diberikan oleh BLS, dan Ryzal yang bertanggungjawab terhadap proyek tersebut. Mr. Chong jadi wakil BLS, berhubungan dengan Ryzal.
Besar ingin tahu dari pembaca saat membaca awalan cerpen ini, misalnya sebesar apa nilai proyek tersebut, apakah pembangunan perumahan, hotel, atau mall? Bagaimana hebatnya Ryzal menanganinya, sehingga ia disebut sebagai pelobi ulung? Di perusahaan apa Ryzal bekerja?
Pertanyaan mendasar itu tak terpaparkan dalam aline-alinea berikutnya. Justeru penulis lebih asyik memaparkan kesibukan Ryzal, mulai dari senam, kehilangan dompet, hingga sempat menyinggung politik di kabinet pemerintahan Malaysia.
Padahal sudah disinggung oleh penulis: Orang Cina bagi projek, Orang Melayu buat kerja. Sudah biasa, bukan benda pelik. Cara Alibaba yang sudah diguna pakai. “Realiti, bukan mimpi,” bisik hati Ryzal, sambil menyegaramkan langkah kiri serta kanan.
Hingga akhir cerpen, tidak diketahui apa proyek dari BLS itu, dan bagaimana Ryzal berhasil mendapatkan proyek itu untuk perusahaannya. ***

7. Ulasan cerpen M.S Rindu: “Malam  Penentuan”

Cerpen ini tentang pilihan Mat Indera yang diminta oleh JH Jasman, salah satu kader PKM, untuk turut dalam pergerakan melawan Inggris. Mereka akan membentuk pasukan, dengan senjata yang dipasok oleh China.
Jasman baru saja pulang dari kurus politik dan ketentaraan PKM di Lubuk Kawah, Temerloh pada pertengahan Mei 1948. Bagi Jasman, Mat Indera merupakan Ketua API dan anggota Komite PKMM Muar. Selain itu, Mat Indera juga pemimpin kesatuan buruh di Muar.           
Dalam pertemuan dengan Mat Indera dan kawan-kawan, Jasman menjelaskan bahwa partai komunis hendak berperang dengan Inggris. Pasukan tentara China sudah ada, yang terdiri dari orang-orang Bintang Tiga dan bekas anggota MPAJA. 
Ketika ditanya apakah berarti jika setuju berjuang akan masuk komunis, Jasman menegaskan bahwa berjuang bersama komunis tidak mesti masuk atau jadi anggota partai komunis. “Kita akan membentuk pasukan sendiri, tentara Melayu,” katanya.
Banyak hal dijelaskan dalam pertemuan itu. Mat Indera sendiri kemudian minta waktu seminggu untuk merenung sebelum memberikan keputusan. Ia ingin melakukan sembahyang istikharah terlebih dahulu.
Kira-kira 10 hari kemudian, Mat Indera menemui Jasman, menyetujui membentuk tentara Melayu, berperang melawan Inggris secara gerilya. Akhirnya Mat Indera dapat ditangkap dan mati digantung. ***

Ulasan 

Cerpen dengan latar belakang sejarah, peperangan, atau gejolak sosial selalu menarik untuk ditelaah. Fakta dibalut imajinasi melahirkan kisah yang mampu menyeret pembaca ke dalam skema cerita yang diinginkan penulis. Di sini penting sekali adanya penjabaran cerita atau catatan kaki yang cukup lengkap, sehingga pembaca tak perlu lagi bertanya-tanya seusai satu cerpen selesai dibaca. Begitu pula dalam cerpen “Malam Penentuan” ini.
Perkumpulan PKM misalnya, apakah merupakan singkatan Partai Komunis Malaysia seperti halnya PKI (Partai Komunis Indonesia)? Begitu juga MPAJA, singkatan dari apa?
Perjuangan Mat Indera dan teman-temannya tak tampak dengan jelas di cerpen ini, seperti apa mereka mampu memberikan perlawanan terhadap tentara Inggris. Ketika ia harus digantung, seperti apa peran penting Mat Indera dalam perjuangan itu? Tidak dijelaskan.

8. Ulasan cerpen Mukti Jayaraksa: “Kekuwung”

Pesona kekuwung, atau pelangi, mampu membuatku tenggelam di dalamnya. Mamat, temanku yang suka berbicara seenaknya, kadang seperti berteka-teki, datang mengganggu keasyikanku. Membuatku jadi emosi, sampai membentaknya.
Bentakan itu membuat Mamat spontan memukul tanganku. Hal yang makin membuatku mendongkol, marah. Pukulan itu, walau spontan saja, menyakitkan hati. Mamat yang tidak tahu kenapa aku makin marah, malah mengajakku bercanda hingga akhirnya ia minta maaf.
Mamat menjelaskan bahwa tindakannya tak lain untuk menghindarkan aku dari penyakit belang di badan karena menunjuk pelangi. Hal itu sesuai dengan kepercayaan di kampungnya semasa ia masih kecil.
Aku terus berfikir dalam ketidakmengertian, kenapa keyakinan seperti itu muncul di masyarakat dan masih diyakini pada zaman sekarang, padahal aku sendiri belum pernah menyaksikan orang yang terkena penyakit belang gara-gara menunjuk kekuwung. “Ada-ada saja,” ucapku dalam hati.

Ulasan

Di dalam cerpen yang baik, gagasan inti atau tema merupakan sangat penting. Itu disamakan dengan sebuah bangunan, tema adalah pondasinya. Tidaklah mungkin mendirikan sebuah bangunan tanpa pondasi. Dengan kata lain, tema adalah sebuah ide pokok, pikiran utama sebuah cerpen; pesan atau amanat.
Tidak mungkin sebuah cerita tidak mempunyai ide pokok. Yaitu sesuatu yang hendak disampaikan pengarang kepada para pembacanya, biasanya masalah kehidupan, pandangan penulis pada pembacanya akan masalah yang ada dalam alur cerpen itu.
Penulis tidak dituntut menjelaskan tema tulisannya secara gambling. Bisa saja ia menyampaikan sebuah masalah kehidupan, dan menyerahkan pada pembaca untuk menyikapi dan menyelesaikannya.  Semisal, hal-hal yang sederhana: Kejahatan tak akan menang melawan kebaikan, Cinta merupakan energi kehidupan, mampu mengatasi rintangan yang ada.
Tema itu terasa kabur dalam cerpen “Kekuwung”. Penulis seperti gagap menyampaikan pesan apa yang diinginkannya pada pembaca: Kekuwung atau pelangi yang begitu mempesona, kenangan yang muncul saat ia melihat pelangi itu, atau makna pelangi bagi kehidupan.
Padahal, jika melihat latar belakang penulis, ia tentu tahu bahwa pelangi tak sekedar fenomena alam yang indah tapi juga punya makna. Seperti menurut orang Jawa, dan sebagian besar masyarakat Indonesia, salah satu maknanya adalah agar kita mampu jadi pelangi. Memberikan inspirasi bagi banyak orang. Meski terkadang diabaikan karena sudah dianggap biasa, namun ia terus muncul seakan tak pernah bosan memancarkan inspirasi untuk yang lainnya.  ***

9. Ulasan Cerpen Mukti Jayaraksa: “Tamu Sang Kyai”

Rahmat seorang ulama yang terkenal, penampilannya sederhana tapi tak mengurangi wibawanya. Rumahnya tak pernah sepi dari tamu, dari pejabat hingga rakyat biasa. Beragam tujuan mereka, dari sekedar minta doa hingga dukungan pencalonan dirinya jadi anggota dewan atau pejabat eksekutif.
Di tengah ketenarannya itu, muncul gossip yang kurang enak. Kali ini tentang tamu pak kyai yang datang kemarin malam. Mereka wanita yang cantik dan seksi, dengan pakaian yang minimalis dan aroma parfum yang menusuk hidung.
Setelah satu minggu, saya ke rumah Kyai Rahmat untuk menuntaskan rasa penasaran atas gossip yang berkembang itu. Kyai yang ramah itu sepertinya sudah tahu kedatangan saya ini. Ia berkata: “Mata dhohir itu menyimpan fatamorgana, banyak orang yang tertipu dan tersesat dengan mata dhohir, sementara mata bathin menyimpan cahaya dan tidak sedikit orang yang selamat. Bila kita melihat dengan mata dhohir, seperti terhadap wanita-wanita yang kemarin datang, sangat dimungkinkan kita akan terjangkit virus fitnah.”
Mendengar tausyiahnya, saya seperti burung tekukur yang manggut-manggut.
“Sudah, nggak usah bingung, santai dan sabar saja. Memang benar, kemarin wanita-wanita kota itu datang, mereka adalah para pemuas nafsu lelaki dan suka menjual diri. Mereka datang kemari ingin penglaris, karena, menurut mereka, sudah banyak saingan dan pelanggan mulai sepi; aku beri mereka wiridan dan do’a,” cerita sang Kyai.
Selang beberapa menit, suara mobil nampak memasuki halaman rumah kyai. Saya terkejut, ternyata tamu itu dua wanita cantik berbusana muslimah. Penampilannya anggun dengan pakaian yang kelihatan mahal. Parfum yang mampir di hidung terasa adem, seakan sedang menghisap aroma trapi. Saya jadi salah tingkah.
“Bagaimana, laris nggak?” tanya kyai pada kedua wanita itu.
Keduanya terlihat gembira. Satunya mengatakan akan segera menikah, dan memberikan undangan, sedangkan temannya baru tahun depan. ***

Ulasan

Ini merupakan cerpen ketiga dari Mukti Jayaraksa, penulis yang tinggal di Cilegon, Banten. Kali ini Mukti menyajikan tentang seorang kyai yang dikagumi tokoh muda. Dengan latar belakangnya yang banyak bergelut di lingkungan pesantren, tentu tidak sulit bagi Mukti untuk berkisah tentang seorang kyai.
Sang kyai yang kharismatik itu sedang diterpa isu tidak sedap. Itu gara-gara menerima tamu perempuan seksi di malam hari. Isu itu yang membuat tokoh utama cerpen ini berkunjung ke rumah kyai Rahmat untuk menanyakan secara langsung.
Sebenarnya, isu itu jadi kurang kuat sebagai tema. Penulis mestinya berani langsung menuju pada persoalan yang ingin ia sampaikan. Dari situ ia lalu menggiring pembaca untuk turut dalam konflik atau pergulatan masalah yang ada lewat alur atau plot cerita yang enak.
Seorang kyai memberikan wejangan, doa atau restu atas permintaan orang yang membutuhkan pertolongan, siapapun orangnya, sah saja. Jika yang mendapat doa itu perempuan yang dicap nakal karena profesinya, itu juga tak salah. Doa dan wiridan sebagai penglaris untuk mendapatkan “tamu”  lebih banyak.
Seminggu kemudian, kedua perempuan itu datang lagi. Satunya membawa undangan karena mau menikah, satunya tahun depan. Tentu berkat penglaris dari sang kyai, yang ternyata manjur, karena mereka tak hanya dapat “tamu” lebih banyak tapi justeru diajak menikah.
Persoalannya, hal seperti ini mestinya digarap lebih dalam. Bukannya langsung menjadi akhir cerita, dengan rasa bersalah dari tokoh aku. ***

10. Ulasan Cerpen Paridah Ishak: “Seluang Melaut”

Bersama Faez, Jalil pergi ke pulau Redang untuk mengikuti reuni dengan teman-teman sekolahnya. Saat itu bulan Agustus, dengan cuaca yang bagus. Kapal yang mereka tumpangi pun melaju dengan tenang.
Turun di pelabuhan, mereka menuju ke Resort Sri Palma Pulau Redang yang sudah disiapkan untuk acara reuni. Dalam perjalanan itu, juga saat teman-teman lama berdatangan keesokan harinya, mereka berbicara banyak hal.
Jalil yang tampak banyak termenung menuturkan bahwa ia memikirkan tanggungjawabnya akan rencana pengujian beberapa motor boat. Motor itu dibeli oleh perusahaannya, akan dipakai kepolisian untuk meronda. Ujicoba itu penting sebelum diserahkan ke konsumen.
Faez tahu Jalil sosok yang rendah hati, tidak mau sombong. Tak ada yang tahu bahwa Jalil yang menanggung pendanaan bagi reuni tersebut, termasuk penyediaan boat yang mewah.
Faez mengingatkan Jalil tentang seorang teman, Azimah yang juga datang. Perempuan itu memilik arti khusus buat Jalil, yang sempat berangan hendak dilamarnya usai menyelesaikan kuliah di Inggris. Namun sosok lain hadir dalam kehidupannya, Irene Aisyah yang kini menjadi isterinya.
Dari Faez pula ia mengetahui Azimah sedang mengalami masalah di rumah tangganya. Suaminya berselingkuh dengan perempuan lain, dan akan mengawininya. Azimah akan menuntut perceraian.
Jalil yang tahu arah pembicaraan sahabatnya itu lalu mengatakan bahwa ia tak akan menduakan isterinya. Apalagi jika ayah mertuanya, yang pemilik perusahaan tempatnya bekerja sampai tahu hal itu.
Azimah yang kemudian datang lalu bertanya mereka sedang berbincang soal apa, Jalil menjawab “Tak ada apa, Datin. Saya kan pelaut. Cerita tentang laut saja  seluas lautnya. Tak pernah habis, kan Faez. Kehidupan kita ini seluas laut yang kadangkala tenang dan kadang bergelora.” ***

Ulasan

Sajian yang cukup menarik dari Paridah Ishak tentang Jalil, lelaki yang rendah hati. Ia sukses dengan pekerjaanya di sebuah perusahaan pelayaran. Kariernya cemerlang.
Reuni kali ini ditanggungnya, dan ia tak mau ada yang tahu soal itu. Bahkan kepada ia ingin agar diakui saja itu hasil sumbangan partai politik sahabatnya itu.
Meski masih terkesan dengan Azimah, temannya yang cantik, yang pernah akan dilamarnya, namun Jalil tak mau larut dalam nostalgia itu. Bahkan mengetahui Azimah sedang menghadapi prahara rumah tangga.
Sosok Jalil menarik ditampilkan oleh penulis. Perjalanan hidupnya bisa menjadi contoh bagus. Ia berjuang dengan dukungan penuh dari orangtuanya, hingga memetik sukses dalam kariernya.
Meski demikian, penulis rasanya bisa mengurangi keterangan tentang pendidikan atau sekolah kelautan yang pernah ditempuh oleh Jalil. Lebih baik jika dialihkan pada perjalanan karier Jalil. ***

11. Ulasan Cerpen Putraery Ussin: “Suatu Petang di Bazar Makanan”

Seperti judulnya, cerpen ini bertutur tentang suasana di area stadion, di sore hari saat hari pertama tibanya bulan Ramadhan. Di kawasan sepanjang 1000 meter, berbagai gerai menjual makanan di kiri kanan jalanan.
Waktu menunjuk pukul 16.30, dengan cuaca masih panas menyengat. Namun pengunjung bazar makanan seperti tak merasakannya. Mereka berlomba memborong makanan yang dijajakan para pedagang.
Keriuhan itu ditambah juga dengan hadirnya mereka yang mengharapkan sedekah dari pengunjung. Ada yang berdiri memegang kotak dengan pelbagai gambar dan tulisan. Ada yang duduk saja sambil memperhatikan lalu-lalang orang lewat, sambil berharap belas kasihannya.
Pengunjung tetap berpeluh karena panasnya. Beberapa pepohonan yang tinggi belum mampu memberi teduh, kalah dengan tinggi rumah-rumah bertingkat yang ada.
Di sisi jalanan tempat bazar itu, terdapat taman dan danau yang menjadi berlindung binatang.
Kemeriahan itu berakhir sudah saat senja beringsut digantikan malam. Anjing dan kucing mendekat, burung gagak terbang rendah di dahan, menanti saat tepat untuk berpesta setahun sekali.
Beberapa penembak burung sudah beraksi. Anak-anak gagak berguguran di atas sisa makanan. “Gagak yang bikin kotor saja,” gerutu para penembak sambil menaruh gagak ke tempat sampai. Kemudian mereka ke mobil dan berlalu. ***

Ulasan

Putraery kembali mampu menampilkan suasana yang diinginkannya lewat cerpen ini. Hari pertama Ramadhan yang menjadi peluang bagi pedagang, sedang untuk warga merupakan kesempatan menikmati bazar makanan di stadion itu.
Namun penulis tak hanya menggambarkan suasana bazar makanan, tapi juga tentang sekitar stadion itu. Seperti membuka luka pada pemerintah setempat, tak hanya di Malaysia tapi juga di negara lain, tentang pemeliharaan stadion.
Bangunan megah, yang menelan biaya besar, tapi hanya ramai saat berlangsung pertandingan sepakbola, atau even lain. Jika tidak, sepi yang ada. Ruang dan sudut di luar stadion tak terpelihara, dan semak pun tumbuh subur.
Di tempat seperti itulah bazar makanan sering diadakan, seperti halnya lomba atau pameran lainnya. Kemeriahan sesaat, yang lebih banyak kesepian menghampiri.
Perubahan jaman pun juga menjadi kenyataan yang harus diterima. Pepohonan tak lagi cukup melindungi dari panas matahari, kalah tinggi dengan bangunan bertingkat. ***

12. Ulasan Cerpen Rosnidar Ain: “Patos”

Dalam cerpen ini, dikisahkan kesibukan Dr. Ros sebagai ibu rumah tangga dengan tiga anaknya. Seperti saat ia pulang dari rumah sakit, menjemput anak di taska lalu pulang.
Di rumah ia menghadapi situasi berantakan, pakaian yang bertumpuk, cucian piring dan lainnya. Ditambah lagi anak yang minta ini itu.
Di sisi lain, ia juga punya tugas membuat artikel yang belum juga selesai. Seperti pagi itu, matanya masih terasa berat meski waktu sudah tunjuk pukul 06.00. Suaminya baru pulang pukul 03.00 pagi.
Suatu hari, di tengah malam, badannya terasa lesu. Ketiga anaknya belum tidur, dua malah membuatnya bertambah pening dengan berlari-larian.
Pekerjaan pun belum siap, baik itu makalah maupun video. Belum lagi bacaan lain yang harus ditengoknya.
Akhirnya, Dr. Ros menyerah pada kondisi badannya. Ia pingsan, saat tersadar sudah di rumah sakit, Suaminya menungguinya. Rupanya anaknya, Ahmad yang memberitahu lewat telpon saat ia terjatuh, pingsan.
Suaminya memberitahu bahwa Dr. Ros harus jaga kesehatan, tidak boleh lagi kerja yang berat-berat. Apa alasannya, sang suami hanya tersenyum saja. Dr. Ros tahu arti senyuman itu.
Ia tak tahu apakah harus ikut tersenyum senang atau tidak karenanya. ***

Ulasan

Rosnidar Ain dengan baik berkisah tentang kesibukan seorang dokter saat ia tidak bekerja menangani pasien. Tak beda dengan ibu rumah tangga lainnya, dengan kesibukan membenahi rumah dan anak-anak yang kadang nakal.
Tak hanya kesibukan di rumah saja, Dr. Ros juga tak bisa lepas dari tugas sehari-harinya. Kuliah, rapat, membuat makalah, dan lainnya. Semua itu membuat penat.
Akhirnya ia tak kuat, jatuh dan pingsan. Ternyata tak hanya karena lelah, tapi juga karena akan hadirnya buah hati lagi.
Kehidupan yang dikisahkan penulis mewakili wajah keluarga saat ini, saat suami isteri sama-sama bekerja. Anak dititipkan di lembaga penitipan atau perawatan, dijemput setelah kerja orangtua selesai.
Pada sisi lain, meski keuangan memadai untuk mencari pembantu rumah tangga, namun sulitnya mencari asisten itu membuat pekerjaan harus ditanggung sendiri.
Beban berat seorang ibu rumah tangga bisa terwakili oleh sosok manapun.
Jika di cerpen ini pada diri dokter, mestinya lebih elok jika diberikan contoh kesibukannya ketika bertugas menangani pasien. Di saat-saat seperti itu, ia harus bergegas pulang menjemput anaknya.
Benturan atau konflik kepentingan seperti itu menarik untuk disajikan sebagai penguat tema yang hendak disampaikan oleh penulis. Bumbu seperti itu yang akan membuat cerpen menjadi hidup, dan betah dibaca. ***

13. Ulasan cerpen Sriwati Labot: “Nurniskala”

Nurniskala sejak kuliah, sudah aktif menyuarakan hak-hak wanita. Bisa dibilang dia berani melawan arus. Begitu pula saat lulus dari UIA, Nurniskala malah memilih pulang ke kampungnya. Bukan jadi pengacara yang menjanjikan karier lebih baik. Ia memilih menjadi pembela para wanita yang teraniaya oleh kaum laki-laki.
Meski begitu, Nurniskala tetaplah wanita biasa. Ia ingin mencintai dan dicintai. Syed Aiman hadir dalam hidupnya lewat pertemuan yang sering tak sengaja. Namun Nurniskala hanya diam, memendam perasaannya. Dia ingat kata-kata seorang Sastrawan Negara: “Sesungguhnya jeritan diam itu lebih nyari bunyinya”. Nurniskala sengaja bermain tarik tali.
Sore itu, usai pulang dari surau, Lebai Yazid memperhatikan anak gadisnya. Baginya, Nurniskala adalah pelita hatinya, usai isterinya meninggal setelah melahirkan bayi perempuan cantik itu. 
Ada genangan air di pelupuk mata Lebai Yazid. Nurniskala tahu itu, karena hari itu ulangtahunnya. Hari yang juga selalu diisi dengan tahlil untuk ibunya. Ia tak pernah menyambut hari lahirnya seperti orang lain.
Dalam kebisuan itu, terdengar sapa dari luar pintu. Ada tamu. Nurniskala termangu ketika membuka pintu usai membalas salam. Syed Aiman  datang membawa mawar merah dan kotak yang tertulis ‘Secret Recipe’.
Nurniskala selalu ingat ketika Aiman mengakui sudah berkeluarga. “Saya sebenarnya sudah ada anak dan isteri,” jelas lelaki itu. Penjelasan yang merupakan hantaman tersendiri bagi Nurniskala.
“Mengapa baru hari ini? Bukankah lebih baik kau beritahu aku dari awal hubungan kita,” kata Nurniskala saat itu, dengan suara tersendat. Setelah itu, mereka tak bertemu lagi.
Kini Aiman datang ke rumah saat Nurniskala merayakan hari jadinya. Lelaki itu sudah duduk di ruang tamu bersama ayah Nurniskala juga. Di situlah Aiman menuturkan bahwa anak isterinya telah dipanggil Illahi sejak setahun lalu. Keterangan itu membuat ruang itu membeku.  “Saya bukan meminta simpati. Saya datang ke sini cuma ingin mencari ketenangan hati,” sambung Syed Aiman lagi.
“Cerita kita lebih kurang sama, ‘nak,” Lebai Yazid bersuara perlahan.
Mata Aiman dan Nurniskala bertatapan. Senja pun rela meminjamkan sisa cahayanya kepada bulan purnama. ***

Ulasan

Cerpen adalah prosa yang menceritakan salah satu masalah kehidupan pelakunya sehingga hanya memiliki alur tunggal. Perkara itu jelas bagi penulis cerpen. Sriwati Labat memahami itu, dan menunjukkannya dalam cerpen berjudul “Nurniskala”.
Sriwati setia dengan alur cerita yang digarapnya dengan baik. Kehidupan Nurniskala yang pengacara disajikan dengan lengkap, mulai dari saat kelahirannya yang dibarengi dengan kepergian ibunya, hingga ia menjadi pembela kaum wanita di desanya.
Konflik bathin gadis itu ketika mengetahui kekasihnya, Aiman sudah berkeluarga, juga ditampilkan dengan baik, tak berlebihan.
Akan lebih lengkap jika penulis memberikan penjelasan atau kepanjangan dari UIA, almamater Nurniskala. Tidak semua pembaca berasal dari Malaysia, atau pun jika sama, belum tentu mengenal UIA itu. 
Sebuah cerpen yang baik. ***

14. Ulasan Cerpen Sujata Wee: “Cendolnya Tumpah” 

Munirah dikenal sebagai perempuan yang pandai membuat kue, yang banyak digemari pelanggannya. Kue-kue itu antara lain cik mek, kuih kosui, lompat tikam, puteri mandi, dan bermacam-macam lagi.
Dari hasil membuat kue itu, Munirah membantu suaminya, Razif menyekolahkan anak-anak mereka. Razif sendiri seorang pekerja bangunan, mendapat gaji seminggu sekali, yang kadang tak cukup untuk belanja.
Suaminya juga yang selalu membersihkan rumah saat pulang kerja. Maklum, Munirah malas membersihkan rumah meski banyak sampah di dapur. Belum lagi pakaian kotor yang belum dicuci, juga mangkok yang dibiarkan bertumpuk.
Sudah sering suaminya menasihati Munirah untuk menjaga kebersihan. Namun sang isteri keras kepala, bahkan menyuruh suaminya mencari pembantu saja untuk membersihkan rumah. “Saya sibuk, bang…. Sibuk sangat-sangat,” ujar Munirah.
Suatu ketika, Munirah mendapat pesanan kue dari sepupunya, Semah yang berjualan di pasar. Menurut Semah, ada yang memesan 150 biji kue, yang akan dibagikan untuk anak yatim.
Pada Kamis sore itu, Munirah membawa keluar kuali besar dari dapurnya. Ia ingin mengaduk di halaman rumahnya. Saat sibuk mengaduk, tiba-tiba seekor burung terbang kencang, membuat debu dan daun kering berterbangan. Termasuk masuk ke dalam kuali adukan itu.   
Razif yang baru saja pulang kerja melihat hal itu. Ia bertanya, bagaimana kue itu akan dijual ke orang lain setelah tercampur debu dan daun kering yang masuk ke dalam kuali itu.  Munirah tetap tak mau membuang adukan di kuali itu, karena tak ada lagi waktu. Kue itu harus jadi keesokan harinya.
Beberapa hari saja lagi bulan Ramadan akan tiba. Munirah sudah pun mendaftar untuk berniaga di pasar Ramadan. Dia akan menjual cendol, kuih akok, jala mas, buah tanjung, dan banyak lagi. Perlu juga cari seorang pembantu.
Munirah mengupah Pak Teh Ali untuk membantunya ke pasar. Sampai di pasar, keduanya mengangkatnya untuk dibawa ke atas loteng, tempat Semah berjualan. Tiba-tiba seorang anak turun dari lantai atas, menyenggol cendel yang sedang diusung oleh Munirah dan Pak Teh Ali.  Tumpahlah cendol itu memenuhi tangga. Munirah terpeleset, kakinya bengkak.
Musibah itu menyebabkan Munirah tidak dapat berjualan selama beberapa hari menjelang tibanya bulan Ramadhan itu. Ia tak betah berdiam di rumah saja.
Meski begitu musibah itu membawa perubahan pula pada Munirah. Ia banyak merenungkan apa yang yang telah terjadi. Ia mengkaitkan kejadian itu dengan keserakahannya saat adonan kuenya tercemar, tapi tetap saja ia menjualnya.
Munirah pun juga mengakui pentingnya kebersihan, karena itu juga suatu ibadah. Saat kita membuat makanan dengan sembarangan, tidak mengindahkan kebersihan, pada dasarnya kita berdosa pada mereka. ***
Dengan terjinjit-jinjit, Munirah cuba mengemas rumah yang bersepah sebelum ini. Dalam diam-diam, dia mengakui tentang kebenaran kata-kata suaminya. Kebersihan itu amat penting. Kita selaku pembuat makanan, perlu utamakan kebersihan kerana ia juga sebagai satu ibadah.  

Ulasan

Sujata Wee kembali menyajikan cerpen yang bagus, sederhana tapi indah. Perjuangan suami isteri menjalani kehidupan yang tidak mudah. Munirah berjualan kue, Razif  bekerja sebagai kuli bangunan.
Kemalangan yang menimpa Munirah membuatnya tersadar akan kesalahan yang telah diperbuatnya, seperti membuat kue yang sudah tercemar debu dan daun kering. Tuhan telah menegurnya melalui kejadian di tangga pasar itu.
Di balik musibah itu juga mendatangkan berkah yang lain. Suaminya membeli mesin pengaduk tepung. Ia berjanji akan membesarkan usahanya itu, serta menjaga kebersihan.
Meskipun cerpen ini tersaji baik, namun ada pergantian cerita saat menjelang Ramadhan yang kiranya perlu diberi tanda tersendiri. Jika tidak dicermati, rasanya itu jadi kelanjutan dari adukan kue yang tercemar oleh debu dan daun kering.
“Cendolnya Tumpah” memang judul bagus, seperti halnya cerita yang sederhana dan indah. *** 

RUMUSAN

Selesai membaca buku ini, kita bisa memahami bagaimana para penulisnya memperlakukan cerpen sebagai karya seni yang penting. Setidaknya, ada empat penulis yang punya potensi besar sebagai cerpenis bagus, atau sudah matang menjadi cerpenis, lewat karya yang dikirimkannya untuk buku ini. Mereka mempersiapkan diri dengan serius. Tidak sekedar seperti kejar tayang sinetron.

Tentu tidak mudah untuk menyebut nama siapa empat penulis di atas, karena ada unsur subjektif meski mencoba berimbang dalam memberikan penilaian. Bukan juga diartikan penulis lainnya tidak punya potensi, karena hanya masalah jam terbang atau kemauan untuk terus dan terus menulis. Tak boleh bosan mencoba, disertai dengan membaca, karena ini tak hanya menambah wawasan tapi juga pengendalian diri untuk tidak besar kepala.

Hal lain yang juga penting, meski kadang terbentur waktu, adalah datang di acara sastra, bertemu sesama penulis, dan bercakap. Dari sini bisa didapatkan ilmu, kepercayaan diri, dan dorongan semangat untuk lebih rajin berkarya.
Irwan Abu Bakar, dalam cerpen-cerpennya, telah menyertakan SINOPSIS pada permulaan cerpen. Sinopsis kelihatan menarik. Struktur cerpen berubah sedikit tetapi tak mempengaruhi cerita. Sinopsis itu bisa jadi inspirasi penulis lain, meski tak biasa ada sinopsis di cerpen.
Berikut empat penulis yang menonjol dari cerpen dalam buku ini (berdasarkan abjad):

1. Ahkarim
2. Irwan Abu Bakar
3. Putraerry Ussin
4. Sujata Wee

Yo Sugianto.
Jogjakarta, Indonesia, 30.05.2020.