TULAH

Antologi Cerpen
Gabungan Komunitas Sastra ASEAN (Gaksa), 2020
Volum 2

Penyelenggara:
Irwan Abu Bakar
Ketua Koordinator Gabungan Komunitas Sastra ASEAN

Tulah
© 2020

Penulis
Gabungan Komunitas Sastra ASEAN

Gambar Sampul
Xxxxxxxxxx

Penyelaras Sampul
Xxxxxxxxxx

Tataletak
Xxxxxxxxxx

ISBN: 978-602-5906-74-9

Diterbitkan oleh
Gaksa Enterprise
Jl. Gagunung, No. 12 Link. Curug Sekolahan
Kel. Bagendung, Cilegon, Banten, Indonesia
gaksaenterprise@gmail.com

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh isi dari buku ini untuk kepentingan komersial tanpa izin dari Penerbit.

SENARAI KANDUNGAN

Kata Penerbit
Kata Dari Penyelenggara
Resensi
Cerpen

1. Kejora Menyinar Harapan
ADYRA AZ-ZAHRA

2. Pak Sajan Bunuh Belon
AHKARIM

3. Tulah
DIMAS INDIANA SENJA

4. Si Penghadam Buku
EKHWAN RUSLI

5. Nangis
IRWAN ABU BAKAR

6. Dompet
IRWAN ABU BAKAR

7. Guruh Di Langit
MASRADEN MD

8. Madu dan Sepah
MRT NORDIN

9. Malam Penentuan
M.S. RINDU

10. Kekuwung
MUKTI JAYARAKSA

11. Taman Sang Kyai
MUKTI JAYARAKSA

12. Seluang Melaut
PARIDAH ISHAK

13. Suatu Petang Di Bazar Makanan
PUTRAERY USSIN

14. Si Tukang Gunting
ROSLIE SIDIK

15. Patos
ROSNIDAR AIN

16. Namaku Min, Amin bukan Jasmin
SERI BANANG

17. Nurniskala
SRIWATI LABOT

18. Cendolnya Tumpah
SUJATA WEE

KATA PENERBIT

Gaksa Enterprise berbahagia diberi kesempatan untuk menerbitkan antologi cerpen kedua dari Gaksa. Antologi ini unik kerana diterbitkan pada peringkat ASEAN.

Syabas diucapkan kepada para penulis yang telah menyumbangkan karya masing-masing untuk memungkinkan buku itu diterbitkan.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada penyelenggara, Dr. Irwan Abu Bakar dari Kuala Lumpur dan kepada penulis Resensi, Yo Sugianto, sasterawan terkemuka Indonesia yang kini menetap di Jogjakarta. Kegigihan anda berdua telah memungkinkan terbitnya antologi ini.

Semoga kita semua terus maju dalam pengkaryaan masing-masing. Gaksa Enterprise bersedia menyumbangkan tenaga kami demi menyokong kemajuan penulis serta kemajuan dunia sastera ASEAN itu sendiri.

Salam hormat dari:

Muhammad Rois Rinaldi.
CEO Gaksa Enterprise.
Cilegon, Banten, Indonesia.

28 Oktober 2020.

KATA DARI PENYELENGGARA

Alhamdulillah, setelah sekian lama dinanti-nantikan, akhirnya berjaya kami kemukakan kepada khalayak, antologi cerpen kedua dari  Gaksa. 

Saya bersyukur dapat mengumpulkan 16 buah cerpen dari 14 penulis empat negara Indonesia dan Malaysia. 

Kesemua 16 cerita dalam antologi ini mempunyai keunikan masing-masing dari segi kisahnya mahupun persembahannya. Setiap pembaca akan mempunyai cerita-cerita yang masing-masing paling diminati. 

Semoga kemunculan buku ini akan menggalakkan lagi kegiatan menulis cerpen berbahasa Melayu dalam kalangan sasterawan ASEAN.

Terima kasih kepada Yo Sugianto, rakan kita dari Jogjakarta, yang telah menilai cerpen dan menuliskan Resensi untuk buku ini.

Ikhlas dari:

DR. IRWAN ABU BAKAR.
Kuala Lumpur, Malaysia.
27 Oktober 2020.

RESENSI

Setangkup Ulasan Yo Sugianto

Ikhtiar dari Gaksa membentangkan jalan bagi dunia sastra Indonesia dan Malaysia, malah rantau ASEAN, untuk lebih dekat, tak hanya dari sisi sejarah tapi juga emosional dalam keberagaman. 

PENGANTAR 

Membaca cerpen dalam kumpulan cerpen “TULAH: Kumpulan Cerpen Gaksa, Volum 2”, terlihat kedalaman masing-masing penulis, yang tak lepas dari jam terbang masing-masing dalam dunia kepenulisan. Hal ini wajar saja, bukan soal usia, namun soal pengalaman masing-masing dalam kehidupan nyata.
Seperti yang pernah dituturkan oleh Mo Yan, peraih Nobel Sastra dari Tiongkok. Ia lahir dari keluarga petani, dan semasa “Revolusi Kebudayaan” bekerja di sebuah pabrik minyak. Kemiskinan yang terjadi saat itu membuat Mo Yan sering terpaksa makan kulit pohon dan gulma untuk bertahan hidup.
  Penderitaan itu dijadikannya inspirasi atas karya-karyanya. “Kesepian dan lapar adalah keberuntungan dalam penciptaan“, kata pengarang Red Sorghum itu suatu ketika.
  Dunia cerpen, seperti banyak dipahami, adalah sebuah dunia yang fragmental, terbatas dalam ruang dan waktu yang sempit. Tak heran jika penulis cerpen dituntut untuk jeli dalam memilih penggalan demi penggalan peristiwa. Pemilihan yang disampaikan lewat dialog, atau deskripsi yang dipakainya untuk menyampaikan maksudnya.
  Di sinilah tantangan penulis cerpen. Ia harus menghadirkan dunia imajinasi dalam wadah sempit yang disebut cerita pendek. Tantangan itulah yang coba ditaklukkan oleh para penulis dalam kumpulan cerpen ini. Tidak adanya satu tema yang dihadirkan, membuat kumpulan cerpen ini tampil beragam sesuai dengan kehendak penulisnya. Namun, pada umumnya, berkisar pada kejadian sehari-hari yang lazim dijumpai, yang oleh penulisnya dikemas dalam imajinasinya untuk melahirkan kisah yang diinginkannya.
Cerpen-cerpen dalam antologi berusaha memotret dan menafsirkan kehidupan yang beragam, dengan segala dinamika persoalannya. Meskipun ada yang tertatih menyajikan kisah, namun memilih cerpen sebagai wadah gagasan dan peleburan imajinasi merupakan hal yang patut diapresiasi.
Cerpen bukan lagi sesuatu yang diremehkan, karena dunia pun sudah mengakuinya, terbukti dengan perolehan Nobel Sastra bagi cerpenis.
Seperti pernah disampaikan oleh Alice Munro saat ia mengetahui berhasil memenangkan penghargaan Nobel yang diadakan oleh The Swedish Royal Academy of Sciences, “Hal ini sepertinya tidak mungkin terjadi. Seperti suatu hal yang terlalu luar biasa, aku tidak bisa menjelaskannya. Kemenangan ini melebihi sesuatu yang bisa kuungkapkan dengan kata-kata.”      
Alice menegaskan: “Aku berharap hal ini akan bisa membuat orang-orang melihat cerita pendek sebagai suatu karya seni yang penting, bukan hanya sesuatu yang orang lakukan saat mereka sedang berusaha menyelesaikan novel mereka.”
  Maka di sinilah pentingnya penerbitan kumpulan cerpen Gaksa 2020 ini bagi dunia kepenulisan cerpen. Bahwa cerpen merupakan suatu karya seni yang penting. Sebuah karya yang bukan merupakan selingan bagi seorang penulis untuk menyelesaikan novelnya.
  Ikhtiar dari Gaksa dalam memberi ruang bagi cerpenis, juga penyair, pada akhirnya akan membentangkan jalan bagi dunia sastra Indonesia dan Malaysia, malah rantau ASEAN, untuk lebih dekat, tak hanya dari sisi sejarah tapi juga emosional dalam keberagaman.

ULASAN

Ulasan untuk setiap cerpen dipaparkan dalam buku ini secara berasingan selepas cerpen yang berkenaan.

RUMUSAN

Selesai membaca buku ini, kita bisa memahami bagaimana para penulisnya memperlakukan cerpen sebagai karya seni yang penting. Setidaknya, ada beberapa yang punya potensi besar sebagai cerpenis bagus, atau sudah matang menjadi cerpenis, lewat karya yang dikirimkannya untuk buku ini. Mereka mempersiapkan diri dengan serius. Tidak sekedar seperti kejar tayang sinetron.

Tentu tidak mudah untuk menyebut nama siapa penulis di atas, karena ada unsur subjektif meski mencoba berimbang dalam memberikan penilaian. Bukan juga diartikan penulis lainnya tidak punya potensi, karena hanya masalah jam terbang atau kemauan untuk terus dan terus menulis. Tak boleh bosan mencoba, disertai dengan membaca, karena ini tak hanya menambah wawasan tapi juga pengendalian diri untuk tidak besar kepala.

Hal lain yang juga penting, meski kadang terbentur waktu, adalah datang di acara sastra, bertemu sesama penulis, dan bercakap. Dari sini bisa didapatkan ilmu, kepercayaan diri, dan dorongan semangat untuk lebih rajin berkarya.

Irwan Abu Bakar, dalam cerpen-cerpennya, telah menyertakan SINOPSIS pada permulaan cerpen. Sinopsis kelihatan menarik. Struktur cerpen berubah sedikit tetapi tak mempengaruhi cerita. Sinopsis itu bisa jadi inspirasi penulis lain, meski tak biasa ada sinopsis di cerpen.

Yo Sugianto.
Jogjakarta, Indonesia, 30.05.2020.

BIODATA PENULIS RESENSI

Yo, panggilan Johannes Sugianto, besar di kota Malang. Ia pernah menjadi wartawan sebelum terjun ke dunia sastra dan menjadi penulis lepas.
Di dunia sastra, ia mendirikan dan memimpin Sastra Reboan (aktivitas panggung sastra dan seni di Warung Apresiasi Sastra, Bulungan, Jakarta Selatan).
Buku kumpulan puisinya “Di Lengkung Alis Matamu” terbit tahun 2006, dengan kata pengantar oleh Joko Pinurbo (penyair, peraih SEA Writer Award 2015), “Tenung” (EsMe, 2014) dengan pengantar oleh Irwan Abu Bakar (pendiri dan Presiden E-Sastera Malaysia), dan Kavya (Gaksa, 2017).
Puisinya juga diterbitkan dalam antologi bersama seperti “Jogja 5,9 Skala Richter” (KSI-Bentang, 2006), “Antologi Empati Jogja” (Komunitas Puisi FLP dan Portalinfaq.org, 2006), “Antologi Penyair Nusantara: Musibah Gempa Padang” (Kuala Lumpur, 2009), “Antologi Puisi dan Cerpen Ibukota Keberaksaraan” (Jilfest 2011), “Cinta Gugat, Kitab Antologi Puisi” (Paguyuban Sastra Rabu Malam, 2013).
Buku kumpulan artikelnya tentang wisata sastra komunitas E-Sastera Malaysia berjudul “E-Sastra di Jogja 2014” (EsMe, 2016).
Puisi-puisinya juga dimuat di berbagai media seperti Sinar Harapan, Jurnal Nasional, Batam Pos, Apakabar Indonesia, Suara Pembaruan, dan lainnya.
Selain itu, Yo pernah diundang tampil di Bintan Art Festival (2007), “Seminar Kepengarangan Muslimah Nusantara” di Kuala Lumpur (2009), The Jakarta International Literary Festival 2011, dan menjadi pembicara dalam “Kolokium Berkarya dalam Talian: Ke Arah Ruang Jaringan Siber” di UTHM, Batu Pahat, Johor, Malaysia (2016).
Ia juga pernah menjadi nara sumber di beberapa media seperti majalah Gatra, Metro TV, Jakarta Post, Jurnal Nasional dll.
Yo juga menulis artikel tentang sepakbola yang, antara lain, muncul di koran Topskor, Tabloid Bola, koran Go Sport, bola.com, netralitas.com, independensi.com, dan Kompasiana.com.
Yo kembali bersentuhan dengan dunia kewartawanan pada 2013 ketika menjadi Pemimpin Redaksi “garudasoccer.com”, media online khusus sepakbola. Selain itu juga terlibat dalam beberapa penyelenggaraan even sepakbola.
Saat ini Yo tinggal Jogjakarta dan tetap menulis artikel tentang sepakbola, sastra, dan sosial.

C E R P E N

1.
KEJORA MENYINAR HARAPAN

Oleh: Adyra Az-Zahra

SALIM masih terpaku di kerusi empuknya. Mejanya masih lagi kosong daripada fail-fail dan surat-surat yang hendak disemak dan ditandatangani.

Dia sesekali melihat jam tangan yang terikat kemas di pergelangan tangan kiri. Baru jam 9.00 pagi. Masih awal lagi, kata hatinya. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk muka meja yang beralaskan cermin tebal. Fikirannya melayang entah ke mana. Dia tidak bersemangat untuk bekerja pada pagi itu. Matanya kemudian melirik ke arah pokok bunga plastik yang terhias di dalam pasu bunga di sudut mejanya.

”Dira, lihat sana.” Salim memuncungkan mulutnya menunjukkan ke satu arah yang tidak jauh dari tempat dia dan Adira sedang bersenda di taman perkasihan rindu.

Adira melemparkan pandangannya ke arah yang ditunjukkan oleh Salim. Adira senyum apabila terpandang dua insan, lelaki dan perempuan, sedang tenggelam dalam lautan percintaan dan tidak menghiraukan lagi alam sekeliling.

Sebentar kemudian, Adira memalingkan mukanya memandang Salim. Salim hadiahkan sebuah senyuman. Bibir Adira bergerak-gerak seolah-olah hendak mengatakan sesuatu tetapi, belum sempat lagi, sudah menjadi mangsa bibir Salim. Mereka juga turut sama menikmati apa yang sedang dinikmati oleh pasangan yang baru mereka lihat sebentar tadi.

Telah banyak yang menjadi saksi kepada pertemuan dua kekasih yang tidak berenggang walau sepicing pun. Air di tasik berkocak riang dengan madah-madah yang terluah dari celah-celah barisan gigi dan meletus keluar melalui bibir yang gersang dengan kalimat cinta. Angin yang datang menemani pertemuan mereka pun turut sama bersenda riang. Seolah-olah terlalu gembira dengan kehadiran orang-orang seperti Salim dan Adira di situ. Alam menjadi saksi pada pertemuan begini.

Tidak dapat dinafikan bahawa cinta menjadikan segala-galanya indah. Tidak ada satu perkataan yang menggambarkan ketidakindahan. Ia meninggalkan 1,001 kenangan manis pada insan-insan yang dipeluk erat oleh kasih sayang.

Pada percintaan ini, setiap butir perkataan yang keluar daripada mulut-mulut yang menjanjikan 1,001 janji menjadi lebih bermakna. Dan setiap kata yang diucapkan tidak akan menimbulkan rasa senang hati, tidak ada yang buruk dan hodoh, walaupun kenyataannya tetap buruk. Semuanya terasa indah dan bahagia.

“Bang,” Adira bersuara manja sebaik-baik saja Salim rnerenggangkan bibirnya. Dia kelelahan bagaikan seorang pelari yang baru tamat dalam suatu pertandingan. Dia melekapkan kepalanya ke dada Salim. ”Sampai bila kita harus begini?” Adira mendongakkan kepalanya dan merenung mata Salim dengan sebuah pandangan mendamba simpati. “Dira tidak sanggup begini selama lamanya,” ujarnya lagi.

”Sabarlah, Dira. Apabila tiba masanya, Dira akan abang lamar. Lagi pun sekarang abang belum bersedia untuk berumah tangga. Masih banyak yang perlu  abang pelajari.”

Malam yang makin menuju ke fajar mula sunyi. Sudah hampir jam 1.00 pagi. Namun di situ masih ramai lagi pasangan yang tidak mahu berganjak dari tempat duduk mereka. Kalau boleh, mereka mahu biarlah diri mereka terusan begitu. Tetapi akhirnya Salim dan Adira terpaksa juga mengundur diri dari situ kerana besok pagi mereka ada tugas yang menanti.

“Tok…! Tok…!”

Pintu bilik Salim diketuk dari luar.

”Masuk.” Salim memberi jawaban kepada ketukan itu.

“Selamat pagi, Encik Salim. Ini ada satu fail dan satu memo.” Kerani Salim menghulurkan bahan yang dibawanya kepada Salim dan berlalu dari situ. Sebelum dia melangkah keluar dari situ, dia terhenti. “Oh… ya.  Bos nak jumpa Encik Salim sekarang juga. Katanya, mustahak,” jelas kerani itu, yang suka bersolek tidak kira waktu.

“Terima kasih,” kata Salim separuh berbisik. Dia senyum memandang lenggok keraninya itu.

Setelah selesai berurusan dengan ketuanya, Salim kembali semula ke biliknya. Dia duduk semula di atas kerusi empuknya. Tangannya membelek-belek fail yang terletak atas meja. Pada saat itu, matanya tertumpu ke atas dada kertas di fail itu, tetapi fikirannya tidak tahu di mana sekarang.

“Hai!” Salim menyapa seorang gadis berkebaya batik di suatu petang ketika sedang menanti kedatangan bas yang hendak dinaikinya. Si gadis, yang masih belum dikenali namanya oleh Salim, menoleh secara mengejut. Salim menghadiahkan sekuntum senyuman untuk si gadis itu tetapi malang buat Salim kerana senyumannya tidak berbalas. 

“Tunggu bas?” Salim tidak berputus asa. Dirinya dirapatkan ke tempat si gadis yang cuba dipikatnya. Si gadis masih membisu seribu bahasa. Tidak mahu melayani kerenah Salim. “Janganlah sombong,” Salim terus memujuk.

Salim senyum tawar. Direnungnya wajah gadis yang kini di sebelahnya. “Baru balik dari kerja?” tanya Salim dengan ketawa kecil.

“Habis…! Nak pergi makan angin?” Si gadis berbaju batik menjawab dengan ketawa kecil kerana terasa geli hati dengan pertanyaan Salim.

”Tak penat ke berdiri?” tanya Salim lagi.

Si gadis memalingkan mukanya ke arah belakang. “Tak nampak tu…” mulutnya menunjukkan ke tempat perhentian bas yang penuh dengan orang ramai sedang menanti bas.

Adira jarang sekali dapat duduk di tempat menanti kerana dia sering keluar lambat dari pejabat. Dia tidak mahu berebut-rebut. Tetapi begitu juga keadaannya.

Salim ketawa lucu. Dia rasakan dirinya diperbodohkan oleh kesilapan yang dilakukannya sendiri. Adira senyum sinis.

Salim tidak mahu mengaku kalah. Dia mencuba juga hendak memikat hati Adira. Sikapnya mula berubah apabila dia bekerja. Berbeza sekali semasa dia di universiti dahulu. Fikiran dan dirinya terikat dengan peraturan seorang pelajar. Tetapi sekarang tidak lagi demikian. Dia rasakan dunia luar ini terlalu luas sehingga dia lupa pada alam sekeliling. Dunia ini bagaikan miliknya seorang sahaja.

”Boleh saya tahu nama… cik?” Pandangan Salim tertancap ke muka Adira. Senyum.

Adira mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Panggil saja, tak ada nama.” Adira mula menunjukkan sikap mesra. Namun dia masih kedekut dengan senyuman.

“Janganlah macam tu…” Salim memuncungkan mulut. “Nama saya Salim.”

Adira mendiamkan dirinya. Dia tidak mahu melayan Salim lebih-lebih. Dia takut melarat pula ke lain cerita. Manalah tahu. Itulah yang paling ditakuti oleh Adira untuk berkenalan dengan sebarang lelaki yang belum dikenali budi pekertinya. Untuk itu dia perlu berjaga-jaga sebelum terkena.

“Alaaa, sombongnya dia. Tak kan nak tahu nama pun tak boleh,” Salim bagaikan merungut pada dirinya sendiri. Dia rasa sebal dengan sikap Adira yang tidak mahu memperkenalkan nama. Tapi Salim bukannya tahu malu dan tahu erti kalah. Dia akan mencuba sehingga berjaya.

“Untuk apa encik Salim hendak tahu nama saya?” tanya Adira dengan suara yang lembut kerana dia malu kalau didengar oleh orang-orang di sebelahnya. Tetapi amat jarang penghuni kota yang hendak ambil tahu hal orang lain. Buat pekak telinga lagi baik.

“Yalah. Kalau terjumpa di mana-mana senanglah saya memanggilnya. Tidaklah main hoi saja. Betul tak?” usik Salim dengan senyum.

“Baiklah. Kalau encik Salim nak tahu juga, boleh. Tapi dengan syarat…” Adira menjeling. Dia mahu lihat reaksi anak muda di sebelahnya.

“Janganlah berencik-encik pula dengan saya. Kan lebih senang panggil Lim saja,” sampuk Salim dalam nada bergurau.

“Macam nama Cina pula,” Adira ketawa geli hati. Salim turut sama ketawa. Tetapi ketawa mereka sekadar didengar oleh mereka berdua saja kerana di situ sudah ramai yang dapat menaiki bas masing-masing.

Akhirnya, bas yang menuju ke destinasi Adira sampai. Adira memboloskan dirinya bersama dengan penumpang-penumpang yang berasak-asak, termasuklah Salim.

Sebenarnya Salim sengaja menaiki bas itu kerana dia hendak meneruskan hajatnya agar dia dapat juga berkenalan dengan Adira. Walhal dia memang mempunyai kereta tetapi sengaja dia tinggalkan di rumahnya. Hanya dengan cara begitu saja dia dapat memikat dan menggoda setiap gadis yang diminatinya. Dan Adira tidak tahu yang Salim bukanlah tinggal di tempat yang sama dengannya.

Sejak pertemuan pada petang itu, Salim selalu saja menunggu di perhentian bas yang Adira sentiasa menunggu di situ. Dia tetap setia dengan janjinya akan pulang bersama-sama dengan Adira yang baru dikenalinya.

Dan, dari hari itu, bibit-bibit kemesraan terjalin antara Salim dengan Adira. Salim pegawai muda di sebuah Kementerian di kota raya memang disukai dan disenangi oleh kawan-kawannya kerana sikapnya yang boleh bertolak ansur dalam semua hal.

Semasa Salim di universiti, dia telah ditunangkan dengan seorang gadis yang sama-sama menuntut dengannya. Dan gadis itu juga sama-sama berasal dari kampungnya. Pertunangannya adalah atas kemahuan kedua-dua orang tuanya. Dia terpaksa menurut kehendak orang tuanya kerana dia tidak mahu mengecilkan hati ibu bapanya yang telah banyak berjasa kepada kehidupannya.

Pada mulanya dia tidak begitu menyayangi tunangnya, tapi lama kelamaan rasa kasih dan sayang berputik juga di hatinya. Dan sampai sekarang pun dia tetap mencintai tunangnya itu. Salbiah seorang wanita yang periang dan pandai menjaga hati bakal mertua.

Hari bertukar minggu dan minggu bertukar bulan. Silih berganti bagaikan berlumba-lumba merebut tempat di alam nyata ini. Dan esoknya siang datang lagi mengisi warna-warna kehidupan yang tercatat di kanvas diri masing-masing. Biasanya hari-hari begitu tidak jemu-jemu mengunjungi makhluk di mayapada ini.

Rasanya terlalu pantas masa bergerak. Putaran jarum jam begitu laju. Dari saat menjadi minit. Dari minit menjadi jam, dan seterusnya terkumpul menjadi hari. Dan hari-hari terus juga berlalu tanpa menghiraukan sesiapa lagi.

”Bang…” Manja suara Salbiah.

”Hmmm…”

”Tamat nanti kita langsungkan perkahwinan kita ni secepat yang mungkin ya,” wajah Salbiah benar benar mengharap.

“Tunggulah dulu. Kalau abang tak ada kerja, bagaimana kita nak berumah tangga. Siapa yang nak bagi Sal makan. Siapa pula yang nak beli susu anak,” ujar Salim.

“Kita kahwin gantung dulu,” Salbiah senyum manja.

”Gantung-gantung abang tak main. Kalau nak, kita teruskan. Tapi abang rasa, biarlah dulu kita dapat kerja. Lepas tu kita kawin,” Salim memberi cadangan.

“Kalau macam tu, lambat lagilah,” Salbiah bagaikan merajuk. Dia seolah-olah dipermainkan oleh Salim, tunangnya.

Masa terus juga berjalan meniti bilah-bilah waktu yang telah diatur oleh Penciptanya. Dan penghuni-penghuni muka bumi terus melakar warna-warna di kanvas kehidupan mereka tanpa ada kesyukuran dan ada yang bersyukur.

Salim telah pun tamat dari pengajiannya. Kini dia sudah menjawat jawatan sebagai seorang Pegawai Tadbir dan Diplomatik di sebuah Kementerian. Salbiah juga telah sama-sama menceburkan dirinya dalam bidang yang sama dengan bakal suaminya. Tetapi Salbiah bertugas jauh dari Salim.

Apabila saja Salim bekerja, dia rasakan dunia ini terlalu luas. Banyak masanya dihabiskan untuk mentelaah pelajarannya semasa dia di universiti. Tetapi kini telah berlainan sekali kerana pergaulannya mula bebas dan alam pemikirannya juga mula bertukar.

Salim bergelumang dengan masalah yang datang melanda hidupnya. Dan masalah-masalah itu ada sesetengahnya sengaja dia mencarinya sendiri dan ada juga yang datang tanpa diundang olehnya.

Dalam pada itu, dia tidak melepaskan peluang bertemu dengan Salbiah. Tidak ada yang tidak indah dalam hidup mereka. Semuanya indah. Keluarga di kedua-dua belah pihak telah merestui dan hanya menunggu masa yang sesuai saja hendak mengikat mereka berdua dengan ikatan tali perkahwinan yang sah di segi hukum syarak.

Adira tidak menduga, dan seterusnya seperti tidak percaya, bahawa Salim kini sudah mempunyai seorang isteri. Cuping telinganya panas. Gegendang telinganya bagai mahu pecah apabila mendengar berita itu. Berita Salim sudah ada isteri yang berjawatan sebagai pegawai kerajaan seperti Salim.

Tapi Adira tidak boleh mengundur diri dari Salim kerana cintanya yang telah bersebati dengan darahnya mengalir laju dalam dirinya. Dia tetap mencintai Salim dengan sepenuh jiwanya.

“Dira, maafkan abang,” suara Salim bergetar.

Tiada suara manja yang keluar dari lubang-lubang kecil telefon bimbitnya yang masih melekap di dedaun telinganya. Nafas Salim turun naik dengan kencang bagaikan baru saja lepas dari dikejar oleh anjing garang. Rasa serba salah menyelinap masuk di setiap pelusuk perasaannya. Kegugupan membuatkan dia bertambah resah dengan ketidakhirauan dari Adira.

“Dira!” Suara Salim menjadi keras dan lantang. ”Abang tetap menyintai Dira. Abang tidak mahu kehilangan kasih sayang yang telah Dira curahkan pada abang,” Salim lembut kembali. Dia mahu membujuk terus kekasihnya yang diikatnya hampir selama setahun.

“Dengar tak apa yang abang katakan ni?” gesa Salim lagi dalam nada sebal.

“Dengar.” Akhirnya Adira memberi jawaban yang dikehendaki oleh Salim.

“Habis tu, kenapa diam?” sergah Salim dalam telefon.

“Dira tau, bang. Dira bukannya buta. Dira bukannya tuli. Dira tahu semua tentang abang yang dah ada isteri.”

“Jangan macam tu. Sebenarnya abang terpaksa mengikut kehendak orang tua abang. Abang tak mahu mengecilkan hati mereka yang telah membesarkan abang,” jelas Salim dengan nada bersungguh supaya Adira mempercayainya yang dia tidak berbohong dan tidak hendak mempermainkan kasih mereka.

“Yalah tu. Kalau sudah dasar…”

“Dasar apa? Dasar jantan miang? Begitu maksud Dira terhadap abang?” Salim memotong percakapan Adira yang cuba menuduhnya seorang lelaki yang tidak pernah cukup dengan apa yang telah ada.

“Terserah. Dira tak kata begitu.”

“Begini sajalah. Petang nanti kita jumpa di tempat biasa. Boleh?”

”Untuk apa lagi kita jumpa. Cukuplah setakat ini saja.”

“Janganlah. Abang perlu menerangkan kedudukan perkara yang sebenarnya. Biar Dira faham,” gesa Salim. Adira diam tidak menjawab. “Jangan lupa jam 6.00 petang di tempat biasa. Okey!”

Salim mengeluh. Dia menyandarkan belakangnya di kerusi. Dicapainya sebatang rokok lalu dipasangnya api. Salim tenggelam bersama asap yang disedutnya semahu hati.

Petang yang dijanjikan oleh Salim pun tiba. Dia menuju ke tempat yang selalu dikunjunginya ketika dia membuat pertemuan dengan Adira untuk melepaskan rasa rindu dendamnya sebagai seorang kekasih yang dahagakan kasih sayang dari pasangannya.

Seperti biasa, dia duduk di bawah pokok rendang sementara menanti kedatangan Adira. Angin petang datang menyapa dan menemaninya di situ. Kelibat Adira belum kelihatan lagi. Dia tetap setia menanti dengan sabar.

Salim pulang dengan penuh keriangan. Senyuman sentiasa berbunga di bibirnya. Dia dan Adira, untuk kesekian kalinya, mendayung sampan di daratan. Dan mereka lemas dihanyut oleh hawa nafsu yang tidak dapat dibendung lagi.

Dan janjinya pada Adira yang dia akan tetap mengambil Adira sebagai isterinya yang sah. Walaupun isteri kedua, Adira sanggup asalkan dia tidak ditinggalkan oleh Salim begitu sahaja tanpa sebarang ikatan. Demi cintanya yang tulus, maka dia sanggup membiarkan Salim memperlakukan apa saja ke atasnya. Salim mesti bertanggungjawab dengan anak yang dikandung hampir dua bulan.

“Aku mesti beritahu Salbiah. Walaupun apa saja yang terjadi,” bisik hatinya. Kereta Salim terus meluncur di atas jalan raya yang masih belum sunyi dengan deru penghuni kota yang masih segar dengan kehidupan.

“Aku harap kau bersetuju, Salbiah,” kata hatinya lagi terusan melayani perasaannya yang baru saja lepas dari penanggungan masalah yang besar. Kemelutnya sudah berkecai.

Dan malam itu, bulan di langit tetap muncul apabila saja tiba masanya. Kemunculan sang bulan tidak disedari oleh kebanyakan penghuni kota kerana mereka asyik dilayani oleh lampu neon.

Sebelum Salim membuka pintu pagar rumahnya, dia mendongak ke langit. Dilihatnya sebutir kejora sedang mengiringi bulan. Dia senyum seorang diri. Harapannya, dengan kemunculan kejora, akan menyinar terus kehidupannya yang makin jauh lagi.

Kuala Lumpur, 19 September 2019.

TAMAT CERPEN 1.

Ulasan Cerpen 1: Adyra Az-Zahra (“Kejora Menyinar Harapan”)

Dari cerita yang disajikan Adyra Az-Zahra. kita bisa berkaca pada diri kita, sesama manusia yang sering kalah menghadapi ambisi dan nafsu diri sendiri. Dari sosok Salim, jelas terlihat ia tak mempedulikan resiko apa yang terjadi, selama keinginannya terpenuhi. Keinginan dari dunia yang lebih luas dihadapinya, lebih luas dari dunia akademi.
Sayangnya, kebebasan yang dijalaninya itu diartikan berbeda oleh Salim. Ia tersilap bahwa ada batas bagi sebuah kebebasan. Ia punya Salbiah yang dicintainya, yang dijodohkan oleh keluarganya. Namun Salim tetap “bermain api” dengan mendekati Aldira, memadu kasih seolah Salbiah tak ada.
Meski begitu, sayangnya Adyra Az-Zahra tidak menampilkan konflik dengan maksimal dalam cerpen ini. Aldira mendengar kabar Salim sudah beristeri, lalu ia seperti tidak peduli dengan Salim saat mereka berbicara di telepon. Namun segera luluh begitu bertemu. Konflik ini begitu mudah diselesaikan.
Pada sisi lain, status Salim yang masih bertunangan dengan Salbiah dengan cepat berubah sudah menikah.           
Meski tema yang ditampilkan penulis umum, yakni perselingkuhan, namun jika digarap dengan cermat, dalam konflik yang bisa menggetarkan perasaan pembaca, cerpen ini akan lebih berhasil.

2.
PAK SAJAN BUNUH BELON

Oleh: Ahkarim

Bukan mudah untuk merempuh dan melanda sehingga patah kaki budak betina garit itu. Setakat bersembang di tangga dan di serambi masjid bolehlah, bunyinya amat mudah.  Boleh kalah bunyi guruh.

Segala macam perkara mesti diambil kira: latar tanah yang penuh dengan akar timbul bersimpang-siur; waktunya — malam buta; kemungkinan budak itu bersenjata. Banyak perkara yang perlu difikirkan sebelum bertindak. Namun itulah yang pernah difikirkan oleh kami, kaki masjid. Jika dibiarkan dia berleluasa di kariah kami, di kampung kami, perkara yang lebih buruk pasti berlaku. Satu hari mungkin dia akan membunuh orang pula, atau membakar kampung kami. Macam-macam boleh berlaku

Apapun, kami sudah nekad. Belon mesti dihapuskan. Tidak, bukan hendak dibunuh ia, tetapi setakat biar  patah kedua belah kaki dan tak upaya bangkit selama lamanya. Tetapi itu sekadar rasa dan nekad sewaktu kami berbicara dengan emosi yang tinggi di tangga masjid semalam. Mengikut rancangan hebat kami itu, mahu kami langgar si Belon itu dengan motosikal ketika dia sedang membuat angkara. Ah, bagaimana pula pelaksanaannya?  Ke arah tindakan itu, siapa pun tidak berani beri komitmen. Semua takut. Kecut.

Akhirnya, kataku, “Serahkan kepada akulah. Aku tahu apa nak buat.” Ya, akulah, Pak Sajan, siapa lagi.

Sekembali ke rumah selepas solat Isya, semasa berborak dengan isteri, di meja makan, isteriku bertanya, “Macam mana, Belon tu. Dah putuskah?” Aku tidak menjawab secara langsung, sekadar mencemek bibir dan mengangkat bahu.

Isteriku terlibat secara langsung. Kerap kali apabila ternampak isteriku, dia akan mengumam memaki. Isteriku pernah diancam oleh Belon dengan pisau lipat kerana enggan memenuhi permintaannya. 

Nama sebenarnya ialah Nurul. Orang gelar dia Belon kerana dari kecil dia budak yang gemuk montel. Tetapi kini kurus kering. Namun gelarannya kekal Belon. Dia bukan budak lagi, malah sudah emak budak, tetapi masih nampak macam budak. Sejak ayahnya meninggal 18 tahun dahulu, dia terlibat dengan dadah. Beberapa kali masuk keluar pusat dadah dan lokap. Dua orang anaknya, yang entah siapa bapaknya, mujur dipelihara oleh keluarga abangnya. Kerjanya hampir setiap hari keluar rumah minta duit di sana sini. Semua rumah yang kelihatan sedikit berada, akan diketuknya pintu. Akhirnya, dia sudah tahu penghuni rumah mana yang akan menghulur seringgit dua.

Sejak akhir ini,  kerenahnya semakin mengancam dan helahnya semakin menakutkan. Adakala dia bersenjatakan sebilah pisau. Kerap merayau pada waktu malam, di sekitar kampung. Siapa yang enggan menghulur seringgit dua akan diancam. Motosikal kerap disambarnya. 

Rumahku menjadi tempat singgahnya yang wajib, kerana aku kerap beri dua atau tiga ringgit setiap kali dia mengetuk pintu. Apabila dia mengancam isteriku dengan pisau lipat, aku bertindak melaporkan ke Balai Polis. Namun tiada tindakan. Pihak Polis sudah jemu menahan dia beberapa kali. Begitu juga apabila aku lapor kepada AADK meminta mereka mengambil saja dan letak di pusat pemulihan secara kekal, mereka memandang sepi. Bagi mereka, kes Nurul ialah kes biasa dan mereka sudah mangli. Sudah berapa kali entah laporan yang dibuat oleh pihak JKKK.  Setakat penampar dan sepak terajang ke atasnya oleh orang kampung, sedikitpun tidak menggerunkannya.

Nurul terus bebas. Wajahnya dan gelagatnya berkawad ke seluruh kampung, sudah menjadi sebahagian hidup kami. Hampir setiap kali, selepas ada sedikit ongkos hasil dari minta sedekah, dia akan berjalan atau menaiki bas ke arah Pekan Pokok Sena untuk mendapat bekalan metadon. Semua orang tahu, termasuk semua agensi penguatkuasa berkaitan. Hairan juga, tidak ada siapa yang mahu serius bertindak.

Jadi kamilah. Orang kuat masjid, kaki masjid. Ah, akhirnya akulah.  Akulah, polis pencen, Pak Sajan, yang akan menggengam undang-undang dalam tanganku sendiri. Esok, Insya-Allah, esok. Dan malam itu aku merencana, sambil isteriku mengurut belikat, lutut, dan kakiku yang sudah tidak kuat. Aku tahu, besok hari Isnin biasanya Belon akan mengetuk pintu sekitar 7:30 pagi. Aku tahu apa nak buat.

Sesungguhnya begitulah. Sekitar jam 7:25 pagi, Belon menekan loceng sambil memberi salam. Seperti biasa, aku menjawab salam dan keluar  membuka pintu pagar.

“Macam mana, bagi duit macam biasa sajakah?” Isteriku membentak ketika aku masuk semula untuk menghabiskan sarapanku.

“Ah, biarkan,” kataku sambil memolok roti kirai bercicah kari ayam.

Tiba-tiba riuh-rendah kedengaran di hadapan rumahku. Kelihatan beberapa orang berkerumun di hadapan pintu pagar. Setelah aku keluar, jelas Belon mati terkangkang di hadapan pintu pagar rumahku.

“Pak Sajan bunuh Belon.” Kata seseorang.

“Pak Sajan bunuh Belon.” Sambut yang lain.

Dalam kereta peronda Polis, dengan tanganku bergari, diapit dua orang anggota, aku hanya menggeleng-geleng kepala. Selepas lebih kurang lima minit di dalam lokap, aku dibebaskan.

Setelah aku dihantar pulang ke rumah dengan kereta peronda Polis, kelihatan ramai sanak-saudara dan kaki masjid berkumpul di rumahku. Mereka terpinga-pinga melihat gelagatku yang mengangkat jari tanda “peace” sambil tersenyum keremot.

“Pak Sajan bunuh Belon!” Masih terdengar, entah soalan atau seruan. Isteriku menerpa memelukku. Yang lain menunggu untuk mengucap tahniah atau menyatakan simpati terhadapku. Aku hanya berdiam. Ada yang cuba bertanya hal, aku membiarkan.

Hanya beberapa hari selepas itu baru  orang tahu. Baru terburai cerita sebenar yang aku dah pun tahu: Pak Din Soya, salah seorang kaki masjid yang merancang bersama untuk bertindak ke atas Belon,  disorong masuk ke dalam lokap menggantikan aku pada pagi bersejarah itu. Dia datang sendiri ke Balai dan membuat pengakuan bahawa dia yang membantai kepala Belon dengan semambu, hingga jatuh mati terkangkang di hadapan rumahku. Mengapa? Sebab pagi itu kali ketiga Belon meragut bungkus nasi lemak dari cucunya yang sedang berjalan menuju ke sekolah.

“Pak Sajan bunuh Belon!” Masih aku dengar lagi. Itu kata seruan.

As-syajarah, Bukit Tampoi, Ramadan 1440 (Mei 2019).

TAMAT CERPEN 2.

Ulasan Cerpen 2: Ahkarim (“Pak Sarjan Membunuh Belon”)

Ahkarim mampu membawa pembaca pada situasi yang dikehendakinya: Sajan yang akan jadi algojo untuk membuat jera Belon. Seorang pensiunan polisi yang meyakinkan pengurus masjid lainnya untuk mengeksekusi penjahat itu.
  Namun yang terjadi justeru sebaliknya. Saat Sajan masih melakukan apapun, bahkan membuka pintu pagar rumahnya bagi Belon, eksekusi terhadap Belon telah dilakukan Pak Din Soya pelakunya.
Kembali pembaca terkecoh dengan permainan kata-kata Ahkarim, dan suasana yang dibangun dalam cerpen itu sehingga tergiring untuk percaya bahwa Sajan akan mampu membantai Belon.

3.
TULAH

Oleh: Dimas Indiana Senja

Siapa sangka, hari yang semestinya menjadi istimewa ini justru menjadi hari yang begitu mengerikan? Keributan di mana-mana, ketakutan menjadi-jadi. Orang-orang berlarian, teriakan-teriakan histeris membahana. Angin kencang. Pohonan berderak-derak. Daun-daun tanggal di pelataran. Istighfar melengking di mana-mana. Kursi berhamburan. Tamu-tamu sibuk menyelamatkan diri. 

Di pelaminan, bunga-bunga berterbangan sebelum akhirnya berceceran memenuhi lantai. Hiasan dari staerofom di belakang kursi pengantin roboh. Kain tarub berkelebat sekencang angin yang menyapu halaman rumah. 

Derak asbes semakin membuat suasana menakutkan. Sementara di dalam rumah, kekacauan makin menjadi. Orang-orang saling pandang. Saling menebak isi pikiran. Juga ketakutan yang tidak bisa disembunyikan dari tatap mata mereka. 

Sekar menjerit sekencangnya di pelukan ibunya. Sementara bapaknya menyumpah serapahi hari yang malang itu. Para rewang memilih diam. Memilih beristighfar sebagai satu-satunya hal yang paling bisa dilakukan. 

Di pojok ruang tamu, seorang dukun pengantin duduk bersimpuh menghadap ke barat. Mulutnya komat-kamit, seperti sedang merapal mantra. Matanya memejam, dadanya naik turun mengikuti alur napas yang tak karuan.

***

Sekar, seorang gadis cantik dari keluarga terhormat di Desa Kraton akan melangsungkan pernikahan. Tentu, bukan orang sembarang yang berhasil memgambil hatinya. Seorang gadis terpelajar tidak akan begitu saja menerima lamaran laki-laki. 

Sudah sekian belas laki-laki yang patah hati, lantaran cintanya ditolak mentah-mentah olehnya. Beberapa bahkan nekat menemui orangtuanya untuk menyampaikan maksud hati melamar si gadis. Semua dari mereka pulang dengan wajah kecut, lantaran Haji Daslam, seorang juragan beras, menolak anaknya dilamar oleh laki-laki dari keluarga yang tidak sekufu dengannya.

Selain cantik, Sekar adalah perempuan berpendidikan tinggi. Di Desa Kraton, pendidikan tidak begitu diperhatikan. Bagi orang-orang desa, sekolah tinggi hanya buang-buang uang. Ada banyak hal yang lebih penting. Sebenarnya bukan lantaran tidak adanya keinginan untuk menyekolahkan anak mereka ke jenjang lebih tinggi, tetapi keadaanlah yang membuat mereka memilih untuk menyuruh anak-anak mereka bekerja di luar kota ketimbang menghabiskan uang untuk sekolah. 

Anak-anak seusia Sekar, di Desa Kraton, rata-rata sudah mempunyai dua atau tiga anak. Beberapa di antaranya menetap di kota rantau, pulang hanya saat lebaran tiba. Beberapa lagi menetap di desa lain lantaran mengikuti  suami atau istri mereka. Sisanya, memilih meneruskan jejak orangtuanya, bercocok tanam di ladang atau bertani di sawah belakang desa.

Hanya Sekar yang mengenyam pendidikan tinggi hingga tingkat magister. Sebuah pencapaian yang luar biasa bagi masyarakat Desa Kraton. Membuat keluarga mereka semakin dihormati dan disegani. 

Sebagai orang terpandang, tentu pernikahan itu akan dilangsungkan dengan pesta yang mewah. Di Desa Kraton, Haji Daslam adalah orang paling kaya, sekaligus paling angkuh. Tetapi, warga tidak berani menentang, lantaran darinyalah, orang-orang kerap meminjam uang, ketika musim tanam telah tiba. Mereka akan membayar hutangnya dengan sebagian beras hasil panen. Begitu seterusnya. 

Itulah kenapa Haji Daslam dikenal sebagai juragan beras. Pun dengan panitia pembangunan mushola, panitia agustusan, hingga panitia peringatan hari besar Islam, semua kerap mengajukan proposal kepadanya. Meski di belakang banyak warga yang menggunjing sikap arogannya, toh uang sumbangannya diterima juga.

Lantaran halaman rumahnya yang luas, Haji Daslam memesan wedding organizer paling terkenal. Pernikahan anak perempuan satu-satunya harus menjadi pernikahan paling mewah di desa itu. Untuk mensukseskan mimpinya, ia menyiapkan lima ribu undangan. Dari orang biasa, pedagang, pegawai kelurahan, tengkulak, hingga para juragan dari berbagai desa.

Sontak, berita akan digelarnya pernikahan paling mewah di desa itu menjadi perbincangan di sawah, di kebun, di pos ronda, di pengajian, di acara kerja bakti, di pertemuan warga, hingga di kantor kelurahan. 

Pada akhirnya Sekar memilih Sendang, seorang laki-laki yang juga dari keluarga terpandang. Mereka bertemu saat studi magister. Sendang, selain tampan, adalah laki-laki yang cerdas dan mapan. Mereka membuat banyak orang iri. Lantaran di balik pasangan yang serasi, selalu ada orang yang patah hati.

Sebulan sebelum pernikahan, mereka memesan ube rampe pernikahan. Mulai dari undangan, souvenir, hingga tempat seserahan yang kekinian. Tentu, pesta yang megah kurang sempurna tanpa jas dan gaun yang indah. Selain pakaian, tentu juga memilih corak dan warna untuk pelaminan yang akan menjadi saksi betapa megahnya pesta pernikahan mereka. Setelah memilah dan memilih, membolak-balik katalog, melihat foto-foto di instagram, akhirnya pilihan jatuh pada warna hijau. Pilihan itu didasarkan pada tema yang akan diangkat dalam pernikahan mereka, yakni nature.

***

Pagi seperti biasa. Matahari yang hangat dan ramah. Angin yang sejuk dan baik hati. Orang-orang memulai aktivitas masing-masing. Pun dengan para rewang Haji Daslam, mereka telah bersiap memasang tarub dan segala perlengkapannya.

Seorang perempuan tua berjalan tertatih menggunakan tongkat kayu. Entah dari arah mana. Mengenakan baju hitam dengan kain batik yang juga bercorak kehitaman dan tudung menutup kepalanya. Ia berjalan memasuki gerbang dan menuju rumah. 

“Saya mencari Bu Hajah,” celetuknya, saat seorang rewang menghampirinya. Rewang itu segera tahu bahwa perempuan itu adalah Casem, tepat setelah perempuan tua itu membuka tudungnya. 

Bagi warga Desa Kraton, Casem adalah perempuan misterius. Ia tinggal seorang diri, di sebuah gubug kecil di dekat pemakaman warga. Tidak ada aktivitas lain yang dilihat orang-orang, selain kegiatannya nginang di depan rumah, tepat menghadap ke tembok pemakaman sembari seperti menembangkan kidung yang entah apa. Orang-orang selalu menghindari bersitatap dengan Casem. Orang-orang yang lewat di depan rumah Casem, selalu berusaha melengos, lantaran tatapan mata Casem menyiratkan sebuah lorong gelap yang panjang dan pengap.

Rewang itu segera berlalu. Ia memanggil Bu Hajjah, panggilan akrab orang-orang untuk istri Haji Daslam. Dengan penuh waspada, Bu Hajjah keluar rumah. Mendekati Casem dengan tetap menjaga jarak dan penuh kehati-hatian.

“Ko arep mbarang gawe?” tanya Casem tanpa basa-basi. Bu Hajjah tidak lantas menyilakannya masuk ke rumah. Masih penuh perhitungan.

“Nggih, Nyi. Pripun?” dengan mencoba mengatur intonasi, Bu Hajjah mencoba menjawab sekenanya. Si rewang masih membersamainya. Sesekali bertukar pandang. Semacam penasaran dicampur kewaspadaan berlebihan.

“Aja kelalen sajen.” Casem berlalu begitu saja. Meninggalkan ribuan tanya di kepala Bu Hajjah dan rewangnya. Dengan tertatih, langkahnya mulai menjauh. Angin seolah berhenti sejenak. 

Di desa Kraton, sebelum melakukan upacara tertentu, memang disarankan untuk meletakkan sesajen di Candi Kraton. Sebuah pohon besar di tengah desa, yang dipercaya sebagai tempat bersemayamnya Nyi Rantan Sari. Sesosok perempuan cantik dan sakti, yang dipercaya menguasai wilayah Desa Kraton dan sekitarnya.

Petuah Casem tidak diindahkan. Usai Bu Hajjah menyampaikan mengenai kedatangan Casem, suaminya menyarankan untuk tidak perlu mengikuti kemauannya. 

“Sesajen itu kan isinya jajanan, paling juga nanti dia sendiri yang makan. Sudah, tidak perlu percaya hal begituan,” tukas Haji Daslam.

Bu Hajjah hanya terdiam. Ia tidak mungkin meyakinkan mengenai sesuatu yang sedari dulu memang tidak dipercaya suaminya itu. Pun dengan Sekar, pendidikannya yang tinggi membuatnya selalu memikirkan hal-hal yang logis, dan persis dengan bapaknya, menolak hal-hal berbau mitos.

***

Di tengah suasana yang menegangkan itu. Sekar tersungkur. Ia menangis sejadi-jadinya. Ibunya mencoba memeluknya lebih erat. Ia  mendapat tendangan, pukulan, dan juga cakaran. Sendang berusaha memegang tangan Sekar. Keluarga besar turut mengelilinginya. Ruangan terasa begitu pengap. Ibunya menangis. Ia bingung bercampur sedih melihat anaknya meronta-ronta tak karuan.

Di luar hujan semakin besar. Angin mengibar-kibarkan kain tarub. Orang-orang semakin dibuat bingung, lantaran dari kejauhan, langit desa sebelah terlihat cerah. Hujan angin hanya terjadi di Desa Kraton. Halilintar menggelegar. Anak-anak menangis ketakutan. Suasana mencekam sekaligus histeris.

Si Dukun pengantin bangkit, ia mendekat sambil melempar pertanyaan. “Ada pantangan apa di desa ini jika sedang acara pengantin?”

“Tidak boleh menggunakan tarub warna hijau,” seseorang menjawab penuh ketakutan, wajahnya menunduk. Orang-orang di sekeliling langsung menatapnya.

“Kenapa?” sergap dukun pengantin.

“Larangan dari Nyi Rantam Sari,” jawab yang lain.

Ada semacam sesal yang dirasakan. Ada semacam penasaran yang panjang. Juga amarah yang memuncak. Siapa sangka, hari yang semestinya menjadi istimewa justru menjadi hari yang begitu mengerikan?

Halaman Indonesia, 2020.

TAMAT CERPEN 3.

Ulasan Cerpen 3: Dimas Indiana Senja (“Tulah”)

Tulah” dibuka dengan bencana bagi sebuah pesta pernikahan yang mewah di Desa Kraton, sebuah desa ciptaan Dimas Indiana Senja yang entah berada dimana. Dari nama desa, dan dialog yang ada di dalamnya, desa itu berada di Pulau Jawa.
Tak hanya soal bencana bagi keluarga Haji Daslam, juragan beras yang punya hajat menikahkan puterinya, Sekar dengan Sendang. Cerpen itu juga mengajak kita mengenal adat istiadat sebuah desa. Sebuah bagian dari budaya yang tetap ada di desa-desa, tak hanya di Indonesia tapi juga di Malaysia. Budaya yang tertatih menghadapi gempuran modernisasi.
Bangunan cerita dalam Tulah seperti sebuah rumah dengan kamar tidur, ruang tamu, dapur dan kamar mandi. Tak lupa halaman yang berisikan tanaman dan kursi untuk tamu.
Dimas yang juga seorang penyair dan dosen mengisi semua sudut di rumah itu. Ia menyajikan bencana di halaman rumah. Di ruang tamu, kamar tidur, dapur dan kamar mandi ia isi dengan sosok Haji Taslam yang angkuh, Sekar yang berpendidikan tinggi dan Bu Hajjah yang mengabaikan saran Casem untuk menyiapkan sesajen.
Kesombongan Haji Daslam bukan sesuatu yang aneh. Banyak di sekitar kita. Salah satu legitimasi yang dibuat oleh mereka sendiri adalah kekayaan dan jabatan. Merasa punya harta, punya posisi di partai politik, pemerintahan atau perusahaan besar.
Namun juga kita disajikan ironi saat banyak warga yang tetap menerima sumbangannya, seperti dalam cerpen ini, untuk pembangunan mushola, panitia Agustusan hingga peringatan hari besar Islam. Seperti mengamini saja pameo “tak apa sombong toh dia kaya”. Kita butuh uangnya, tak butuh keangkuhannya.
Apakah kesombongan itu yang menyebabkan terjadinya musibah di pesta pernikahan mewah itu?. Tak ada yang bisa menjawabnya, karena seperti kebiasaan di masyarakat manapun hal seperti itu bisa saja dikaitkan sebagai balasan atas sikap arogan seseorang.
Namun, Dimas tak mau berandai-andai dalam cerpen yang memikat ini. Ia sodorkan sikap abai, tak peduli dari Bu Hajjah terhadap peringatan Casem untuk memberikan sajen.
Pembaca pun digiring untuk bersiap menemukan penyebab musibah itu di akhir cerita, bahwa kejadian itu karena sikap memandang remeh dari seorang isteri juragan beras. Seperti suaminya yang sombong, Bu Hajjah pun tak peduli dengan kebiasaan masyarakat Desa Kraton itu.
Namun, kematangan seorang Dimas mampu mengecoh pembaca di akhir cerita saat sang dukun bertanya kepada warga yang masih ketakutan. “Ada pantangan apa di desa ini jika sedang acara pengantin?”
“Tidak boleh menggunakan tarub warna hijau,” seseorang menjawab penuh ketakutan, wajahnya menunduk. Orang-orang di sekeliling langsung menatapnya.
“Kenapa?” sergap dukun pengantin.
“Larangan dari Nyi Rantam Sari,” jawab yang lain.
Nature yang menjadi tema pesta mewah itu rupanya tak rela ketika manusia hanya menjadikannya sebagai hiasan, menjadi warna hijau di pelaminan, jas, gaun dan tarub. Ketika manusia tak mengindahkan adat yang mungkin dianggap sudah kuno.
Maka Dimas menutup cerpen itu dengan akhir yang tak terduga. Tak boleh menggunakan tarub warna hijau, itu yang jadi pantangan masyaarakat Desa Kraton jika akan mengadakan suatu acara.

4. 
SI PENGHADAM BUKU

Oleh: Ekhwan Rusli

Rak itu akhirnya tiba. Kehadirannya mengisi ruang rumah si gempal, menjadi perbualan di Kafe Seru Nai, lokasi persinggahan penghuni Desa Nai Jaya dan Kota Metromites. Komuniti berbeza, menghuni ruang sempit yang satu.

“Nampak macam Raqbuq dari iKayu,” ucap empunya kedai, diangguk yang lain.

Produk rangkaian kedai dari Perlis yang rona logonya biru-kuning semakin dikenali dan dipercayai ramai.

Kemasyhurannya menyaingi rangkaian-rangkaian kedai perabot yang lain: Haji Norman, Kot Mahmud, mahupun Wak Renjo.

iKayu menggunakan konsep swapasang. Manual bergambar setia mengiringi produk-produk yang meski rendah harganya, kualitinya memuaskan. Reka bentuknya sentiasa segar. Tempoh Perintah Kawalan Pergerakan (PKP) yang menyaksikan meningkatnya pembelian secara maya dan penjarakan sosial menjadikan rak-rak iKayu pilihan nombor satu.

Rak buku kini menjadi topik perbualan di media sosial. Maka, pemilihan teliti itu wajar sekali. Bukan sekadar bentuknya, bahkan lokasi dan isinya turut diperbual. Begitulah jua di kafe ini.

“Buku cetak lebih baik dari e-buku!” Kata-kata yang diiringi tepukan keras ke meja mencuri pandangan hadirin yang lain.

Rupa-rupanya, di sudut yang lain, perbualan makin menghangat antara Iboku dan Bucet. Suara bertingkah. Kedua-duanya menegakkan hujah, mana yang terbaik, e-buku atau buku cetak konvensional? Jauh larinya dari topik asal nan santai memerihalkan rak: jenis kayu yang sesuai dan wangi (kayu jati, lapis atau teakblok), serta lokasi sesuai buat rak (di dalam kamar, bawah tangga, atau ruang tamu).

“Jualan buku cetak terus meningkat berbanding e-buku! Fakta!” tegas Bucet.

“Tetapi, sebaliknya di Amerika Syarikat, United Kingdom, dan Australia, kan?” bantah Iboku.

Bucet terdiam.

Iboku mendirikan hujah, “Buku elektronik kurang pencemaran.”

“Kertas boleh dikitar semula. Bagaimana pula halnya elektrik yang digunakan e-buku? Bukankah dari arang batu?” soal Bucet.

“Tapi, hutan dirogol demi buku. Memualkan!”

“Habis, pencemaran industri elektronik? Kau ingat, cip mikro sangat mesra alam? Eh, bagi setiap cip, dua kilogram petroleum, 70 gram bahan kimia, 32 liter air, dan setengah kilo gas digunakan, kau tahu?” Peluru Bucet dilancarkan.

“Ha, untuk cuci litar, perlukan sabun, asid sulfurik, hidrogen peroksia, dan alkohol. Itu belum kira lagi pencemar-pencemar lain!” misil seterusnya mendarat. Isu pencemaran pantas dipatahkan Bucet.

“Alah, gajet pembaca e-buku pun boleh dikitar semula!” Beberapa kepala mengangguk setuju dengan Iboku.

“Lagipun, gajetnya senang dibawa, ada akses ribuan e-buku, termasuk yang percuma. Andai tak faham, e-kamus pun dah ada. Boleh buat nota tanpa perlu pen atau pensel. Saiz teks senang diubah-ubah, dan carian kata teramatlah mudah.”

Makin banyak kepala mengangguk setuju. Muka Bucet merah padam. Bucet mengerling sekeliling jika ada talian hayat penyambung hujah.

“Ehem…”.

Semua berpaling ke arah punca suara. Adam yang asyik menghadam isi buku rupanya yang berdehem.

“Iboku, jangan lupa, buku cetak juga ada baiknya.” Permulaan bicara Adam memberi sedikit keseimbangan.

“Melatonin, hormon buat keselesaan tidur akan terencat pengeluarannya dek e-buku. Karya cetak terbukti menghasilkan pelajar yang lebih bagus. Ia tidak membenarkan fokus menurun. Kurangnya gangguan, serta memiliki rasa dan aromanya yang mengasyikkan. Tak begitu, Bucet?”

Leher Bucet menggerakkan kepalanya ke atas dan ke bawah, berulang kali. Ya, bau buku tiada tandingannya. Buku itu wujud fizikalnya, boleh digenggam, dipeluk, dikucup, menghadirkan kepuasan sentuhan. Magisnya kinaestetik.

“Setuju! Buku jua bebas kebergantungan pada elektrik. Waima jika keputusan bekalan di malam hari, buku boleh dinikmati di hadapan lilin,” tegas keras Bucet.

“Kalau semuanya nak digantikan media baru, apa kau lebih suka kalau rak itu diperbuat dari besi atau plastik berbanding kayu? Macamana nak cari makan?” tempelak Bucet. Iboku kelu.

* * *

“Apa yang penting, minat pada buku dan tabiat membaca. Kedua-duanya wajib disemai dan dijaga rapi”, ucap Adam.

Bicaranya disambung kisah penutupan cawangan gedung-gedung buku. Masa depan buku sedikit kelam.

“Contohnya, Syarikat K menutup cawangannya di Liang Court, Singapura pada April 2018. Setahun kemudian, Syarikat P pula menyusul, meski sudah 31 tahun bertapak di sana. Kesimpulannya, ketiga-tiga jenama besar industri buku: M, K, dan P berhempas-pulas untuk hidup!” nadanya sedih.

Adam melanjutkan pula cerita mengenai output buku yang turut menurun di Malaysia. Baginya, buku perlu dihargai, bukan dinilai hanya pada berat fizikal, jenis kertas (atau format elektroniknya), nama penerbit atau menerusi apa jua kategori nilaian. Pendiriannya ringkas: Buku perlu dihadam.

Ya, Adam memang diketahui sebagai penghadam buku yang paling setia. Pada awal bersemaraknya minat, Adam tidak memilih, semua karya cetak dihadamnya. Pelbagai font dari keluarga taipografi telah dicernanya. Serif? Kelihatan kaku berbanding sans serif, tapi kelazatannya sama. Sebut saja Baskerville, Bembo, Garamond, Janson, Palatino, Times Roman, Courier, mahupun Arial, semua ditelannya.

Saiz juga tidak didiskriminasikannya. Halaman 6×9 itu biasa baginya, sedangkan 2×3 kurang memuaskan. Pendek kata, folio, quarto, atau octavo, semua dibedalnya. Semua dijamah, bukan setakat isi, bahkan juga muka depan, kolofon, epigraf, dan tetulang buku. Pelbagai jenis kertas turut dicerna rapi setiap inci, setiap grafik dijamah pikselnya, baik seberat 60 gsm, 70 gsm, 80 gsm, atau 100 gsm. Begitu jua yang lebih tebal dan berat. Baginya, makin tebal, makin banyak masa diperlukan untuk dihadam, tetapi lebih lanjut puasnya.

Adam memang penghadam yang cintakan buku. Pernah sekali, dek terlalu leka menghadamnya, Adam yang duduk bertenggek atas rak, tidak sedar telah diangkut sekali bersamanya. Mujur sempat Adam terjun turun. Jauh juga Adam menapak untuk kembali.

Maka suasana perbukuan tempatan dan kadar pembacaan memang menyedihkan Adam. Manakan tidak, walaupun kadar celik huruf rakyat Malaysia itu 95 peratus, dapatan Perpustakaan Negara Malaysia (PNM) menunjukkan warga hanya membaca 15 judul buku setahun, masih rendah berbanding 40 judul buku setahun di negara maju. Dalam kajian lain di sela masa yang sama, didapati kecenderungan bacaan lebih kepada akhbar, novel, dan fiksyen. Buku ilmiah dan jurnal jauh ketinggalan.

“Bucet, Iboku, ketepikan bentuk mana yang lebih baik antara e-buku dengan buku. Fikirkanlah perihal tabiat membaca. Warga kita membaca kurang dari 3 jam seminggu.”

Wajah-wajah makhluk sekelilingnya tidak berubah. Barangkali mereka tidak faham apa yang perlu dirisaukan, telah Adam.

“Di India, mereka membaca 11 jam seminggu, Thailand 9 jam, China 8 jam, manakala Filipina pula 7 jam. Di Malaysia, buku disantuni kurang dari 3 jam seminggu, sedangkan lebih dari 20 jam seminggu hanyut di media sosial!”

Sudah ada mulut yang ternganga.

“Tapi Adam, kita kini bukan lagi terhad kepada buku fizikal…,” bantah Iboku.

“Betul, Iboku. Dalam tempoh PKP, bagi Mac 2020 sahaja, hampir 40 ribu e-buku dipinjam dari PNM.”

“Selalunya berapa, Adam?” soal Bucet pula.

“Selalunya, 15 ribu buku digital dipinjam sebulan.” Jawapannya dibalas nafas lega beberapa hadirin.

“Namun, ini masih agak rendah. Dari 5.3 juta buku simpanan bangunan PNM, hanya 3 juta dipinjam setahun. Itu tak tak termasuk buku-buku di 500 perpustakaan desa”, jelas Adam.

“Entahlah, barangkali, itulah episod sedih perbukuan dan budaya membaca kita. Dulu, PNM berbelanja sehingga RM40 juta setahun untuk membeli buku, namun kini jumlahnya jauh lebih rendah. Rasa-rasanya tak lebih RM5 juta!”

“Marcus Tullius Cicero, si pemikir Roman pernah berkata: sebuah bilik tanpa buku umpama badan tanpa jiwa,” ucap Adam seraya menjeling rak yang masih kosong.

* * *

“Palsu! Kayu ukurmu tidak tepat! Ramai saja warga kita yang membaca. Contohnya, membaca kitab-kitab suci, apakah itu diambil kira kajianmu? Atau hanya buku-buku duniawi?” soal Ji Nai, keras.

Adam terdiam. Pandangan hadirin tumpah sepenuhnya kepada Ji Nai. Meski si pembuka desa ini kecil jasadnya, dikhabarkan Ji Nai dulu pengikut setia seorang pengusaha perabot. Disanjung kerana pengalaman menguruskan kayu, sementelahan Ji Nai satu-satunya di kalangan mereka yang dipercayai pernah ke Tanah Suci untuk beribadah (walaupun dengan hanya menumpang si pengusaha perabot).

“Ji Nai, apakah itu membaca?”

Soalan awal Adam mengubah riak muka Ji Nai.

“Apakah ia sekadar aktiviti membunyikan aksara yang tertulis, melafazkan yang dihafal? Atau apakah ia termasuk memahami dan mengamalkan apa yang dihadamkan?”

Mata Adam menyorot para hadirin. Muka-muka penuh kekeliruan merata.

“Benar, asalkan buku dibaca, lebih-lebih lagi kitab suci, dengan adab dan tartil, ia perbuatan yang baik. Namun bukankah lebih mulia jika dimanfaatkannya sebagai proses kognitif yang kompleks? Si penghadam menterjemah simbol-simbol untuk difahami, lalu berinteraksi dengannya, sebagai kaedah penyerapan ilmu. Bukankah ayat suci pertama itu: Iqra? Biar sampai yang dibaca dimiliki si pembaca.”

Bicara Adam semakin memberat.

“Jika ia sekadar disebut, apa perihalnya si bisu? Jika ia sekadar didengar, kasihanilah si pekak. Jika ia sekadar dilihat, apa khabarnya si buta?”

Adam memang begitu. Setiap yang dicerna dihayati. Adam cinta nikmatnya menghadam bait-bait istimewa untaian kata, beratnya kalimah ilmu, manisnya tutur pujangga, pedasnya madah sindiran.

Setiap aksara bagai sahmura kirana, khazanah jumantara membawa renjana dari lubuk atma nirmala si penulis sujana. Lebih-lebih lagi senandika sewangi puspita, asyik!

“Jadi, jika membaca diamalkan dengan baik, ia mampu mengurangkan stres, memperkasa memori dan daya fokus. Ia jua menyambungkan talian ilmu, umpama dakwat ditakung pena, celupan lautan ilmu Yang Maha Esa!”, tambahnya lagi.

Ya, Adam gemar memetik buah fikir Doktor Fikratul Witr. Karya-karyanya banyak dicerna Adam, mengintai jiwa pemikir prolifik dari Universitas Dvipantara. Dia sentiasa kritis, berani mencabar uruf, meskipun sesekali kelihatan canggung.

Ji Nai terdiam.

* * *

“Tahukah kamu…” Adam melihat sekeliling sebelum menyambung ‘pidato’nya.

“…ada sejumlah 350 ribu perpustakaan di seluruh dunia, 135 juta buku di dalamnya. Sejumlah 2.21 juta buku diterbitkan setahun di seluruh dunia. China, Amerika Syarikat, United Kingdom sahaja sudah menerbitkan 1.1 juta buku setahun.”

“Bakinya?”

“Bagaimana dengan rantau kita?”

Terukir senyuman di wajah Adam. Syukur, mereka ingin tahu.

“Di rantau ini, juaranya Indonesia. 90 ribu buku diterbitkan setahun. Thailand dan Singapura, masing-masing mencetak 12 ribu judul baru setiap tahun.”

“Malaysia?”

“20 ribu setahun. Itu pun masih jauh dari sasaran 32 ribu setahun, dan kurang menembusi pasaran luar. Barangkali, bolehlah dipelajari dari jiran kita. Lihatlah Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (BEKRAF) dan Komite Buku Nasional Indonesia. Sebut saja, pesta buku Frankfurt, London, Beijing, Sharjah, dan Bologna, semua mereka danai penyertaan penerbit buku tempatan!” tegas Adam.

Pidatonya terhenti apabila rak buku tiba-tiba mula diisikan buku. Mereka meminggir.

Seusai khazanah bertulis disusun menyempitkan ruang, mereka meminta Adam menyambung bicara.

Antologi yang sedang dijamahnya diletakkan ke tepi. Kisah anai-anai dalam antologi kolaborasi penulis cerpen ASEAN 2020 yang tercetak molek dengan typeface Times New Roman bersaiz 11 akan disambung pencernaannya kemudian.

Lalu, disambungnya lagi kisah perbukuan. Minatnya berubah-ubah seperti jua kandungan rak. Suatu masa lalu, novel cintalah yang utama. Kemudian diisi buku keagamaan, barangkali bagi mempersona bakal jodoh. Seterusnya, rak yang lama dipenuhi buku anak-anak kecil. Pelbagai rona dan aroma. 

Kadangkala berbau persis strawberi atau cokelat, sebelum kini kembali diisi novel. Meski Adam tekad menjadi laksana buku gaharu terutamanya dalam hal-hal perbukuan dan apa yang dihadamnya, Adam sentiasa mengingatkan dirinya agar janganlah pula sampai pilih-pilih ruas, terpilih pada buku!

Adam mahir benar apa yang dihadamnya. Pelbagai gaya dan langgam sastera telah dicernanya: alegori, aliterasi, retorik, asyndeton, bathos, satira bahkan Leitwortstil! Aliran yang berbeza turut dijamahnya, baik realisma Gabriel García Márquez dan Tolstoy, atau romantisisma Victor Hugo, simbolisma Paul Valéry, ekspresionisma Franz Kafka, surrealisma Jean Cocteau, mahupun thriller tekno Tom Clancy.

Adam juga dahagakan karya pemikir revolusioner seperti Nietzsche, Rousseau, Hamka, dan Ahmad Boestamam.

Hasil tangan penulis-penulis Nusantara turut digemarinya. Marah Roesli, Chairil Anwar, Keris Mas, Tongkat Warrant, dan yang kontemporari seperti Zainal Rashid Ahmad, Ramlee Awang Murshid, Ibnu Din Assingkiri, Siti Rahayu, semuanya dihadam!

Pernah dahulu dia disindir teman dek teguhnya cinta pada buku.

“Oi Adam ‘Rangga’ bin Pak Nai, kau saja di sini penghadam buku. Kau memang pelik. Kau se-Rangga!”

Sindiran yang disusuli hilai tawa jiwa-jiwa lain.

Entah kenapa Adam digelar Rangga. Mungkin kerana pemikirannya yang runggu-rangga, atau mungkin kerana minat benar dengan kisah AADC. (Hampir setiap kali anak si gempal mengulangsiar cerita itu, Adam pasti akan di sisinya menghadam kisah itu pula).

Memang mindanya matang merentas masa. Minatnya menghadam maklumat membuatkan makhluk-makhluk menjauhinya. Mereka memperlekeh minatnya, menggunakan mulut menyiksa mangsa.

“Rangga, kamu sudah berubah!” terngiang bicara bekas teman rapatnya.

“Rangga, apa yang kamu lakukan itu… jahat!” perli yang lain. Tawa mereka menjadi igauan ngeri Adam suatu masa dahulu.

Tetapi Adam setia memilih untuk kekal unik, dan rela kekal begitu. Buku baginya umpama kunci khazanah yang mampu membawa jiwa kerdilnya pergi jauh, merentas benua, budaya, waima kendatipun masa. Masih teringat jelas buatnya kisah Urashima Taro, yang secara magis merentas masa dari tahun 478 ke 825 di Semenanjung Tango. Benar-benar menginspirasikan. Bahkan, hingga kini, terngiang di telinganya bait-bait lagu garapan Okkotsu Saburo, “Mukashi, mukashi Urashima wa, tasuketa kame ni tsurerarete.” Sesekali, tanpa sedar, Adam menyanyikannya sambil menghadam bahan bacaan. Adam yang pelik. Satu. Wahid. Uno.

* * *

“Sudahlah Adam, kau hanya se-Rangga. Jika minat sangat buku, jadilah pustakawan! Atau penulis?”

Soalan itu membuatkannya terkasima. Berahinya pada aksara tercetak seakan menjadikan dua cita-cita laksana buku bertemu ruas baginya. Namun Adam sedar, ingin menjadi pustakawan, saiz tidak mengizinkan. Api impian menulis? Entah, mungkin lebih sesuai menelan dakwat dari mencoretkannya.

“Sudahlah, Adam. Kami tahulah kau tu ulat buku!” sindir jiwa yang lain.

Adam tersenyum. Sejujurnya, fikir Adam, sindiran itu hampir harfiah. Baginya, memang buku-buku yang dijamah itulah yang memberikan kuasa kepada minda, tangan-tangan, dan kakinya. Gabungan pigmen pewarna dakwat dan serat selulosa kertas yang digabungkan teknik cetak seperti relif, intaglio, planografi, elektrostatik umpama sebati bersama DNA-nya. Hubungannya dengan buku ilmiah persis dakwat dengan kertas, amatlah rapat. Memang, Adam itu ulat buku!

Melihatkan Adam yang tidak menghiraukan perlian, makhluk-makhluk sebayanya cuba lagi menguji kesabarannya. Bicara mereka semakin menghangat, barangkali mereka mahu mengubah dari mengadu buku lidah ke mengadu buku lima. Maklumlah, tin kosong, jika tidak dipalu, mana kedengaran bunyinya.

* * *

Segalanya terhenti apabila mereka terdengar dentam-dentum dari arah atas. Semuanya mendongak, namun tiada petir, tiada guruh.

* * *

Satu kelibat kecil berlari menyusup ke sana sini. Makin lama, kelibat makin menghampiri rak dan Kafe Seru Nai. Di belakangnya, si gempal pemilik rumah mengejar rapat sambil tangan-tangannya berayun.

Hampir-hampir saja terjatuh silinder besi senjata miliknya.

“Lari Cik Pas, lari!”, teriak Bucet. Iboku, Ji Nai, dan Adam turut sama menjerit walaupun berlainan bangsa, mereka sayang Cik Pas.

* * *

Cik Pas dikejar sehingga tersantak ke bucu. Tiada jalan keluar buatnya. Gempal semakin hampir. Cik Pas berpaling marah. Matanya merah bak saga, mulutnya dingangakan luas mendedahkan gigi-gigi maxillae miliknya. Amarahnya membuak-buak. Akhirnya, dibuka sayapnya.

“Babi…!” teriak si gempal. Ditekannya kuat muncung, dan bersemburanlah keluar aerosol racun serangga. Cik Pas rebah. Si gempal menyepak mayatnya jauh-jauh sebelum dia membasuh tangan dan berlalu pergi, tanpa sekali pun memandang ke arah rak buku. Semua di kafe menutup hidung dan mata.

* * *

Adam kekal berdiri. Meski hadirin bertempiaran sembunyi, Adam tahu ia selamat di sini, di rak buku.

Sungguh, rak bukulah lokasi persembunyian paling selamat. Lebih ramai yang menjadikannya aksesori penghias ruang, berbanding menelaah buku-buku yang diisi. Memikirkan dunia perbukuan? Jauh panggang dari api!

Sayang, itulah rahsia yang tidak sempat dikongsi kepada Cik Pas. Harga rahsia setimpal nyawa. Adam melabuhkan punggung. Selesa. Rak inilah takhtanya Adam si anai-anai, raja penghadam buku!

TAMAT CERPEN 4.

Ulasan Cerpen 4: Ekhwan Rusli (“Si Penghadam Buku”)

Ekhwan Rusli mengusung tema yang menarik : buku dan e-book. Isu yang menarik, seperti halnya koran (akhbar) dan media online.
Ada tiga tokoh sentral dalam cerpen ini yakni Bucet, Iboku dan Adam. Menarik membaca bagaimana dari soal buku (baik cetak dan e-book) itu dikaitkan dengan penebangan hutan, pencemaran lingkungan hingga apakah makna membaca.
“Apakah ia sekadar aktiviti membunyikan aksara yang tertulis, melafazkan yang dihafal? Atau apakah ia termasuk memahami dan mengamalkan apa yang dihadamkan?,” kata tokoh Adam.
Lebih lanjut Adam mengatakan : “Jika ia sekadar disebut, apa perihalnya si bisu? Jika ia sekadar didengar, kasihanilah si pekak. Jika ia sekadar dilihat, apa khabarnya si buta?”
Banyak hal sebenarnya yang bisa diekploitasi dari Si Penghadam Buku, meskipun di awal cerpen menyoroti tentang rak buku produksi dari iKayu. “Pengantar” itu rasanya kurang pas, meski rak buku memang lekat dengan isinya yakni buku.
Meski demikian, Ekhwan Rusli berhasil membawa pembaca untuk merenungi berbagai isu yang terkait dengan buku dan e-book. Isu pembabatan hutan, pencemaran lingkungan hingga rendahnya minat baca masyarakat Malaysia sudah berhasil ditampilkan.
Meski begitu, diperlukan juga akurasi data meski sebuah cerpen memang dari hasil reka-reka dan imajinasi. Seperti saat berbicara tentang penerbitan buku di ASEAN, Indonesia menjadi juaranya dengan 90 ribu buku per tahun. Sedangkan Thailand dan Singapura masing-masing 12 ribu judul baru, dan Malaysia 20 ribu per tahunnya.
Tidak disebutkan data itu tahun berapa. Namun dari data yang ada tahun 2019, Indonesia menerbitkan 30 ribu judul buku per tahunnya, diikuti oleh Malaysia dengan 19 ribu.Sedangkan Thailand di posisi ketiga dengan 17 ribu judul buku per tahun. Singapura 9.952 judul buku per tahun. Sementara itu, Filipina di urutan kelima dengan 7 ribu judul buku per tahun. *
Namun Si Penghadam Buku menampilkan alur cerita yang enak dibaca melalui perdebatan di kafe itu.
Sayangnya di akhir cerita terasa anti klimaks ketika tahu-tahu terjadi pengejaran oleh si gempal terhadap Cik Pas. Aerosol racum serangga diminumkan oleh si gempal, yang mengakibatkan Cik Pas meninggal dunia.
Tidak diketahui apa penyebabnya, dan ini menimbulkan pertanyaan dari pembaca yang berhak tahu kenapa itu menjadi klimaks cerpen.
Begitu juga peran rak buku sebagai tempat persembunyian Adam. Apakah Adam terancam nyawanya sehingga harus bersembunyi di rak buku, sedangkan yang lain tidak bersembunyi di situ. Hal itu bisa dibaca pada kalimat “Semua di kafe menutup hidung dan mata.”
Bagaimanapun Ekhwan Rusli sudah menyajikan kisah yang menarik dan patut dibaca.

5.
NANGIS

Oleh: Irwan Abu Bakar

SINOPSIS. Sepasang suami isteri duduk makan pagi lewatan di restoran Teh Tarik Palace. Suami memesan set makan pagi lengkap sementara isterinya dipesankannya segelas teh O panas sahaja, atas alasan bajetnya cukup hanya untuk seorang makan sahaja. Sikap lelaki itu dikritik wanita aktivis sosial yang sedang makan di situ. Tetiba pelayan restoran membawakan set makan pagi yang lengkap untuk si isteri. Suasana menjadi amat mengharukan.

MEJA itu berbentuk empat segi sama. Meja kayu. Panjang setiap sisinya hanya dua kaki (0.6096 meter). Luas permukaan meja itu ialah dua kaki darab dua kaki, jadinya empat kaki persegi. Meja itu bernombor 17. Itulah nombor yang tertempel di suatu sudut permukaan meja itu. Letaknya meja itu adalah di kedai Mamak yang bernama “Teh Tarik Palace”. Kedai itu letaknya di dalam supermarket Tetero. Berhawa dingin. Amat popular kedai makan ini, meja-mejanya selalu dipenuhi oleh para pelanggan.

Di meja 17 itu, duduk seorang lelaki separuh umur bersama-sama dengan seorang wanita. Si lelaki kelihatan umurnya sekitar 45 tahun. Badannya masih kelihatan tampan tetapi rambutnya sudah banyak juga ubannya. Si perempuan kelihatan hampir sebaya dengannya. Susuk badannya langsing. Rambutnya lebat, banyak yang keperang-perangan disapu pewarna rambut. Si lelaki kelihatan seperti suami kepada wanita itu. Si wanita kelihatan seperti isteri kepada lelaki. Mereka sedang duduk untuk menikmati sarapan tertangguh (brunch) tentunya. Dikatakan brunch kerana jam sudah menunjukkan hampir pukul 11.00 pagi sedangkan mereka baru sahaja memesan makanan.  Si suami kelihatan agak kelaparan sedangkan si isterinya tidak sebegitu.

Pasangan tersebut duduk bersebelahan tetapi menghadap 90 darjah antara satu sama lain, kau faham, bukan? Maksudnya, garis pandangan mereka berdua itu bersilangan antara satu sama lain untuk membentuk sudut 90 darjah. Maksudnya, mereka duduk di dua sisi meja itu yang berlainan dan dua sisi itu membentuk sudut 90 darjah. Maksudnya, mereka duduk di meja itu, di dua sisi  yang berlainan tetapi mereka berada sebelah-menyebelah antara satu dengan lain. Pasangan itu sengaja duduk di meja bernombor 17 kerana kedua-duanya ialah peminat tegar bagi novel antiplot Meja 17 yang sedang laris di pasaran Malaysia dan Indonesia sejak beberapa tahun kebelakangan ini.

Si lelaki sudah menerima pesanannya. Sedulang roti boom terletak di hadapannya. Dua keping roti boom, dengan kuah dalam lekukan pada dulang itu. Teh tarik juga terletak di sisi dulang itu. Kemudian seorang pelayan Mamak kedai itu datang membawa segelas teh O panas. Diletaknya teh O itu di hadapan sang wanita.

Pasangan lelaki dan wanita itu terus menikmati juadah masing-masing. Sesekali mereka serius, sesekali mereka tersenyum, sesekali mereka mengerutkan kening dan dahi, dan sesekali mereka ketawa.

Apa tanyamu? Bagaimana suasana dalam restoran itu pada masa itu? Oh, suasananya riuh dengan para pelanggan yang ramai, mencari-cari meja yang masih  kosong. Beberapa kumpulan pelanggan berdiri di tepi dinding, memerhati dari jauh jika ada meja yang ditinggalkan kosong oleh pelanggan terdahulu yang sudah selesai menikmati juadah masing-masing. Para pelanggan di meja juga terasa tertekan untuk menghabiskan makanan masing-masing dengan secepat mungkin kerana terus-menerus diperhatikan oleh pelanggan yang masih menunggu giliran untuk mendapatkan tempat duduk. 

Pelayan restoran, ada dalam 10 orang kesemuanya, sibuk ke sana sini untuk mendapatkan helaian borang pesanan makanan yang dihulurkan oleh pelanggan yang baru duduk di meja dan mengisi helaian borang pesanan yang tersedia di atas meja masing-masing.  Sekali sekala, terdengar suara laungan pelanggan memanggil pelayan untuk mengambil borang pesanan daripada mereka atau untuk menukar pesanan yang tersilap hantar. Kekadang terdengar juga tukang masak di dalam kubikel dapur memanggil pelayan restoran itu untuk datang mengambil segera makanan yang telah siap mereka sediakan dalam dulang penghantaran. Di kaunter bayaran, kelihatan barisan yang panjang, dengan pelanggan yang masing-masing menunggu giliran untuk membuat bayaran di kaunter bayaran yang mempunyai hanya sebuah mesin bayaran dan seorang kasyier sahaja. 

Ya, begitu mencabar suasananya… Ala, sudahlah tu. Janganlah tanya lagi. Kamu bayangkanlah sendiri suasananya. Kita hendak fokus kepada ceritanya, kepada apa yang berlaku. Kalau sibuk bercerita tentang suasana sekitar, boleh merugikan tenaga, merugikan masa, malah merugikan kata-kata. Itu pembaziran, tahu? Allah marah orang yang boros, suka membazir tenaga, masa, dan kata-kata. Kelmarin, dalam khutbah Jumaat di masjid al-Ghufran, imam ada membaca dan menayangkan di skrin yang terpasang di dinding depan masjid itu,  sebuah petikan dari al-Quran, surah al-Isra’ (surah 17), ayat 27, seperti yang berikut:

Sesungguhnya, orang yang boros itu ialah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.

Aduh… Wajarkah ayat al-Quran dipetik dan diletakkan untuk menghiasi sebuah cerita fiksyen seperti cerpen ini? Ada sebuah novel, pastinya fiksyen, yang menyelerakkan petikan terjemahan berbagai-bagai ayat al-Quran di dalamnya.  Wajarkah hal itu dilakukan, sedangkan novel juga ialah sebuah karya fiksyen. Emm… Itu isu lain, isu akademik. Biarlah pakar sastera dalam kalangan ahli-ahli akademik membincangkannya. Kita teruskan sahaja dengan cerita kita.

Datang pelayan restoran ke meja 17 untuk mengira bayaran yang akan dikenakan. Pelayan itu bertanya, “Sorang jer makan ke?”

Si suami menjawab, bergurau, “Bajet yang kami ada cukup untuk sorang makan jer, maka saya makan la…”

Hakikat sebenarnya, si isteri baru sahaja makan pagi sebentar di rumah mereka tadi. Si lelaki tidak sempat makan pagi di rumah, jadinya si lelaki itu sedang lapar. Selepas urusan di bank, mereka ke restoran itu, duduk di meja 17. 

Rupa-rupanya, pada ketika itu, pada ketika pasangan tersebut sedang beraktiviti di meja 17, ada seorang lain perempuan yang duduk di meja yang berhampiran, sedang memerhatikan pasangan suami isteri di meja 17 yang tersebut. Betulkah pasangan insan itu merupakan pasangan suami isteri? Agaknya la. Lagak mereka pun kelihatan mesra sekali dan tidak malu-malu. Lagi pun, tidak mungkin pasangan itu ialah lelaki pelanggan pelacur dengan perempuan pelacur yang dilangganinya kerana lelaki laknatullah yang melanggani pelacur biasanya tidak membawa pelacur laknatullah yang dilangganinya untuk makan di kedai Mamak. 

Perempuan tadi bangun dari mejanya, meja bernombor 19. Perempuan ini sebenarnya adalah juga peminat tegar novel Meja 17 dan sewaktu dia masuk ke restoran itu tadi, dia sememangnya terus menuju ke meja bernombor 17. Malangnya, meja itu sudah terlebih dahulu diisi oleh pasangan suami isteri yang tersebut menyebabkan perempuan itu menuju ke meja 19 dengan perasaan geram. Geram marah, rasa hendak tampar, bukannya geram berahi, rasa hendak peluk cium.  

Kini perempuan itu terus menuju ke meja 17 yang sedang diduduki pasangan suami isteri tadi. 

“Encik,” tegurnya kepada si suami.  Sambungnya, “Encik makan sedulang roti boom seorang diri sementara isteri encik hanya dipesankan segelas teh O panas sahaja. Tabiat buruk memperlekeh-lekehkan isteri seperti inilah yang sedang merosakkan keharmonian rumah tangga dalam masyarakat kita pada hari ini,” bentaknya. Mukanya merah marah.

Wah, perempuan itu seorang aktivis sosial agaknya! Tidak mungkin dia bertindak begitu untuk merebut meja 17 daripada pasangan suami isteri itu.

Pasangan suami isteri di meja 17 tersebut memandang terkejut ke muka perempuan yang menyerang mereka itu.

Pada ketika itu, pelayan restoran tadi datang semula membawa sedulang lagi roti boom dan meletaknya di depan si wanita: sedulang makanan yang sama seperti makanan yang berada di dulang si suami.

“Eh, kami tak pesan pun…” kata si lelaki kepada pelayan itu.

“Tak per, Encik. Tak perlu bayar. Percuma, tauke belanja…” kata pelayan itu.

Menitis air mata si suami.

TAMAT CERPEN 5.

Ulasan Cerpen 5: Irwan Abu Bakar (“Nangis”)

Irwan Abu Bakar memang lihai bermain dengan detail. Tak hanya tentang area restoran itu, dengan meja dan pengunjungnya, tapi juga makanan dan minuman yang dipesan pelanggan.
Dalam “Nangis”, Prof. Irwan, sapaan akrab Irwan Abu Bakar, kembali menyajikan situasi yang sebenarnya benderang untuk disimak. Namun, kembali ada perempuan yang terkecoh sehingga ia mengintervensi pasangan itu.   
Memang terasa agak berlebihan kenapa perempuan itu harus marah, melakukan intervensi ke urusan orang lain. Toh suami isteri tak melakukan apapun yang merugikan orang lain. Namun, perilaku perempuan itu bisa jadi cerminan masyarakat yang sering melihat sampul (cover) lebih dulu daripada isinya?
Air mata si suami juga bisa berarti ia memang benar-benar terharu atas perhatian bos restoran itu. Bisa juga ia “terpukul” karena justeru orang lain yang peduli pada isteri, bukannya dia sebagai suami.

6.
DOMPET

SINOPSIS. Seorang lelaki separuh umur makan pagi di restoran Teh Tarik Palace tetapi tidak dapat membayar kosnya. Dia mendakwa tertinggal dompetnya di rumah. Kasyier restoran itu tidak percaya. Seorang wanita aktivis sosial yang ada bersama makan di restoran itu, memarahi lelaki separuh umur itu kerana tidak prihatin. Sebaliknya, ada pelanggan yang memarahi Mamak pemilik restoran kerana tidak langsung mahu bertimbang rasa. Muncul jaka Aku yang terus membayarkan kos makan lelaki itu tanpa soal. Jaka itu mengetahui sesuatu tentang lelaki separuh umur itu.

MEJA itu berbentuk empat segi sama. Meja kayu. Panjang setiap sisinya hanya dua kaki (0.6096 meter). Luas permukaan meja itu ialah dua kaki darab dua kaki, jadinya empat kaki persegi. Meja itu bernombor 17. Itulah nombor yang tertempel di suatu sudut permukaan meja itu. Letaknya meja itu adalah di kedai Mamak yang bernama “Teh Tarik Palace”. Kedai itu letaknya di dalam supermarket Tetero. Berhawa dingin. Amat popular kedai makan ini, meja-mejanya selalu dipenuhi oleh para pelanggan.

Di meja 17 itu, duduk seorang lelaki separuh umur bersama-sama dengan sebuah beg di kerusi di sebelahnya. Lelaki itu badannya masih kelihatan tampan tetapi rambutnya sudah banyak juga ubannya. Beg di kerusi di sebelahnya ialah beg kulit yang agak besar saiznya. Beg itu kelihatan baharu, masih baru sebulan dua digunakan. Beg itu diperbuat daripada kulit yang menarik, berwarna keperang-perangan dan berkilat. Ia berisi buku-buku. Lelaki tadi kelihatan seperti tuan punya beg itu. Beg itu kelihatan seperti milik lelaki separuh umur itu. 

Lelaki dan beg itu berada di kerusi masing-masing dengan lelaki separuh umur tersebut sedang duduk untuk menikmati sarapan tertangguh (brunch) tentunya. Dikatakan brunch kerana jam sudah menunjukkan hampir pukul 11.00 pagi sedangkan lelaki itu baru sahaja memesan makanan dan kelihatan agak kelaparan.

Lelaki dan beg tersebut berada di kerusi yang bersebelahan tetapi menghadap 90 darjah antara satu sama lain, kau faham, bukan? Maksudnya, garis pandangan lelaki itu dan garis pandangan dari kerusi tempat beg itu berada adalah bersilangan antara satu sama lain untuk membentuk sudut 90 darjah. Maksudnya, lelaki itu dan beg kulit tersebut berada di dua sisi meja itu yang berlainan dan dua sisi itu membentuk sudut 90 darjah. Maksudnya, kerusi yang menempatkan lelaki itu dan yang menempatkan beg tersebut  masing-masing berada di meja itu, di dua sisi yang berlainan tetapi kedua-duanya berada sebelah-menyebelah antara satu dengan lain. Lelaki itu sengaja duduk di meja bernombor 17 kerana dia ialah peminat tegar bagi novel antiplot Meja 17 yang sedang laris di pasaran Malaysia dan Indonesia sejak beberapa tahun kebelakangan ini.

Lelaki separuh umur sudah menerima pesanannya. Sedulang roti boom terletak di hadapannya. Dua keping roti boom, dengan kuah dalam lekukan pada dulang itu. Teh tarik juga terletak di sisi dulang itu.

Si lelaki memulakan proses memakan roti boomnya. Beg dibiarkannya di kerusi di sebelahnya. Dia tidak berkata apa-apa. 

Tidak lama kemudian, roti boom si lelaki pun habis dimakan. Tinggal teh tarik sahaja yang perlu dilayani. Lelaki separuh umur yang sudah selesai menikmati roti boomnya terus mengalihkan tumpuannya untuk melayani  telefon bimbitnya, sambil sesekali meneguk teh tarik panas dari gelas di hadapannya.

Apa tanyamu? Bagaimana suasana dalam restoran itu pada masa itu? Oh, suasananya riuh dengan para pelanggan yang ramai, mencari-cari meja yang masih  kosong. Beberapa kumpulan pelanggan berdiri di tepi dinding, memerhati dari jauh jika ada meja yang ditinggalkan kosong oleh pelanggan terdahulu yang sudah selesai menikmati juadah masing-masing. Para pelanggan di meja juga terasa tertekan untuk menghabiskan makanan masing-masing dengan secepat mungkin kerana terus-menerus diperhatikan oleh pelanggan yang masih menunggu giliran untuk mendapatkan tempat duduk. 

Pelayan restoran, ada dalam 10 orang kesemuanya, sibuk ke sana sini untuk mendapatkan helaian borang pesanan makanan yang dihulurkan oleh pelanggan yang baru duduk di meja dan mengisi helaian borang pesanan yang tersedia di atas meja masing-masing.  Sekali sekala, terdengar suara laungan pelanggan memanggil pelayan untuk mengambil borang pesanan daripada mereka atau untuk menukar pesanan yang tersilap hantar. Kekadang terdengar juga tukang masak di dalam kubikel dapur memanggil pelayan restoran itu untuk datang mengambil segera makanan yang telah siap mereka sediakan dalam dulang penghantaran. Di kaunter bayaran, kelihatan barisan yang panjang, dengan pelanggan yang masing-masing menunggu giliran untuk membuat bayaran di kaunter bayaran yang mempunyai hanya sebuah mesin bayaran dan seorang kasyier sahaja. 

Ya, begitu mencabar suasananya… Ala, sudahlah tu. Janganlah tanya lagi. Kamu bayangkanlah sendiri suasananya. Kita hendak fokus kepada ceritanya, kepada apa yang berlaku. Kalau sibuk bercerita tentang suasana sekitar, boleh merugikan tenaga, merugikan masa, malah merugikan kata-kata. Itu pembaziran, tahu? Allah marah orang yang boros, suka membazir tenaga, masa, dan kata-kata. Kelmarin, dalam khutbah Jumaat di masjid al-Ghufran, imam ada membaca dan menayangkan di skrin yang terpasang di dinding depan masjid itu,  sebuah petikan dari al-Quran, surah al-Isra’ (surah 17), ayat 27, seperti yang berikut:

Sesungguhnya, orang yang boros itu ialah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.

Aduh… Wajarkah ayat al-Quran dipetik dan diletakkan untuk menghiasi sebuah cerita fiksyen seperti cerpen ini? Ada sebuah novel, pastinya fiksyen, yang menyelerakkan petikan terjemahan berbagai-bagai ayat al-Quran di dalamnya.  Wajarkah hal itu dilakukan, sedangkan novel juga ialah sebuah karya fiksyen. Emm… Itu isu lain, isu akademik. Biarlah pakar sastera dalam kalangan ahli-ahli akademik yang membincangkannya. Kita teruskan sahaja dengan cerita kita.

Pelayan restoran datang ke meja 17 menghulurkan invois kepada lelaki itu.  Kelam-kabut benar kelihatan lelaki itu. Dia tak dapat nak bayar. Katanya, dompetnya tertinggal di rumah. Mamak kasyier tidak percaya, dan macam marah-marah kepadanya. Lelaki itu melihat sekeliling, dan akhirnya mohon bantuan pelanggan di meja terdekat, meja 18. Mereka yang berada di meja 18  itu berpandangan sesama sendiri, dan buat tak peduli; jelas tidak percaya kepada dia.

Rupa-rupanya, pada ketika itu, pada ketika aksi tersebut sedang berlaku di meja 17, ada seorang perempuan yang duduk di meja yang berhampiran, sedang memerhatikan lelaki di meja 17 dengan begnya itu. Betulkah beg itu kepunyaan lelaki yang tersebut? Agaknya la. Muka lelaki tu nampak biasa sahaja, tak nampak macam pencuri. Tak mungkin beg itu dicurinya kerana pencuri laknatullah biasanya tidak membawa barang curiannya untuk makan di kedai Mamak.

Perempuan tadi bangun dari mejanya, meja bernombor 19. Perempuan ini sebenarnya adalah juga peminat tegar novel Meja 17 dan sewaktu dia masuk ke restoran itu tadi, dia sememangnya terus menuju ke meja bernombor 17. Malangnya, meja itu sudah terlebih dahulu diisi oleh lelaki dengan beg tersebut, menyebabkan perempuan itu terpaksa menuju ke meja 19 dengan perasaan geram. Geram marah, rasa hendak tampar, bukannya geram berahi, rasa hendak peluk cium.

Kini perempuan itu terus menuju ke meja 17 yang sedang diduduki lelaki tadi.

“Encik,” tegur perempuan itu kepada lelaki tersebut apabila dia sampai di meja 17. “Encik sepatutnya lebih berhati-hati.  Jadikan satu tabiat, nak makan di kedai tengok duit dulu. Jangan pakai makan sahaja. Inilah tabiat buruk yang sedang merosakkan suasana sosial dalam masyarakat kita pada hari ini,” bentaknya. Mukanya merah marah.

Wah, perempuan itu seorang aktivis sosial agaknya! Tidak mungkin dia bertindak begitu untuk merebut meja 17 daripada lelaki dengan beg itu.

Lelaki di meja 17 tersebut memandang terkejut ke muka perempuan yang menyerangnya itu. 

Datang seorang lelaki remaja dari meja 16. Katanya kepada perempuan yang sedang marah-marah itu. ““Puan, apabila namanya insan, terlupa, tertinggal, terlepas, dan tersalah adalah lumrah.” Dia melihat ke muka perempuan aktivis sosial itu dengan sinis..

Tetiba wajah wanita aktivis sosial yang garang tadi berubah warna daripada merah kepada merah padam.

“Oh, kenapa dia perlu lalai sebegitu rupa? Tabiat yang positif perlu dijadikan amalan dan cara hidup! Entah-enetah dia menipu…” bentaknya.

Seorang lagi remaja lelaki di meja sebelah, meja 16, tetiba meluru ke arah mereka dan menyampuk. Katanya, “Ala… sepatutnya tuan punya restoran ni buat csr jer. Dia buat duit berpuluh-puluh ribu sehari, tak boleh nak tolong ke? Mari kita boikot kedai ni…” 

Suasana kelihatan tegang sekali.

Aku ke meja 17 dan bertanya si Mamak kasyier, berapa si lelaki itu perlu bayar. Ah, dia makan roti boom dan teh tarik sahaja. RM4.80 sahaja. Aku bayarkan kos itu bersama dengan bil aku.

Aku memang percaya yang lelaki itu tertinggal dompetnya di rumah. Walaupun dia tidak cam akan aku tetapi aku kenal akan dia, seorang profesor gred A di sebuah universiti terkemuka. Gajinya dalam RM30,000 sebulan.

(Perhatian: Set dialog di bahagian akhir cerpen ini saya petik daripada komen pembaca apabila saya siarkan cerpen ini sebagai status di akaun Facebook saya – Irwan Abu Bakar).

TAMAT CERPEN 6.

Ulasan Cerpen 6: Irwan Abu Bakar (“Dompet”)

Cerpen “Dompet” ini kembali menegaskan kelihaian Prof. Irwan memainkan situasi di restoran yang sama dengan tiga cerpen sebelumnya (termasuk dua cerpen di buku KATABAKU). Dengan elegan, tanpa banyak bicara, lewat tokoh Aku dibayarnya tagihan lelaki paruh baya itu, yang diketahuinya seorang profesor dengan gaji RM30,000 per bulan.
Dari kisah ini, kembali kita diingatkan, tak semua orang berniat buruk. Ada masa ketika seseorang mengalami saat naas, seperti dompet yang tertinggal di rumah. Sebagai sesama manusia, dibutuhkan rasa saling percaya.
Selain itu, si Aku yang membayar pesanan lelaki separuh baya itu menunjukkan apa yang ada dalam ajaran agama bahwa sedekah yang paling baik adalah sedekah yang tidak diketahui orang lain.

7.
GURUH DI LANGIT

Oleh: Masraden MD

HEMBUSAN bayu pagi terasa sungguh dingin dan segar.  Ia menerobos masuk ke dalam rumah yang dindingnya berlubang-lubang.  Kedinginan dan kesegaran itu mengundang ketenangan di jiwanya.

Tanah di laman sudah kelihatan warnanya.  Atan Chik masih belum bergerak dari tempat duduknya.  Dia menanti sarapan pagi yang sedang disediakan oleh isterinya di dapur.  Hidungnya kembang kempis mencium harum kuih cucur yang berendam dalam minyak kuali.  Telinganya bagaikan ditendang oleh bunyi deburan sesuatu di dalam minyak panas.  Hatinya cukup senang dan damai.

Tangannya tiba-tiba menggaru betis yang bertelanjang.  Makin kuat dan keras garukannya.  Kepuasan tergambar di wajahnya yang kian dimamah usia…  wajah yang dulu sering menjadi buruan musuh-musuhnya yang keliling pinggang.  Wajah ini juga yang sering dicari anak muda untuk beramah mesra di gelanggang silat.  Dan wajah ini juga yang menjadi idaman isterinya sekarang.

Dia rasa malas hendak ke tempat kerja pada pagi itu.  Dia mahu berehat di rumah sahaja.  Dia tidak tahu berbuat apa-apa pada waktu itu.  Rasa dongkol dalam dirinya membuatkan dia bertambah malas dan lesu.

“Bang.  Menung apa pagi-pagi ni.  Tak nak kerja ke?”  tegur isteri Atan Chik.  Atan Chik terkejut.  Ditatapnya sekujur tubuh yang banyak memberi makna dalam kehidupannya.  Atan Chik senyum tawar.  

Perlahan-lahan tangannya mencekup seketul kuih cucur.  Dengan perlahan juga dia menyuapkan kuih ke dalam mulutnya yang ternganga sempit.  Isterinya berlalu dari situ, membiarkan dia meneruskan memasang angan-angan.  

“Abang… Saya tengok abang ini kemas orangnya.  Saya rasa abang ada belajar silat dan tentu handal…” 

Sambil bangun lelaki itu berkata, “Handal tak handal, kalau nak cuba… boleh!  Aku bukan setakat belajar; aku dah pun jadi Guru Silat!”  sergahnya.  Cukup pantang dirinya kalau ditegur tanpa memberi salam terlebih dahulu.

“Saya minta maaf, bang.  Bukan maksud saya hendak naikkan darah abang.  Saya cuma tegur saja,”  ujar pemuda itu, agak keliru dengan sikap lelaki itu.

“Yalah.  Sekurang-kurangnya, bagilah salam lebih dulu.”  Nada suaranya masih tinggi.  Matanya menikam tepat ke wajah anak muda yang agak kurang sopan.  Masing-masing tetiba diam.  Anak muda menatap bumi.

“Kalau kamu nak cuba, boleh.  Aku tak gerun dan tak heran dengan siapa-siapa,” gerutu lelaki itu.

“Saya pun belajar silat, bang.  Tapi bukanlah untuk bergaduh,”  jelas pemuda itu yang mula menampakkan ketenangan. 

“Kamu belajar silat apa?”  soal lelaki itu ingin tahu.  Kali ini nadanya bertukar agak lembut sedikit.

“Saya belajar Silat Cekak, peringkat buah potong,”  celah pemuda itu.  Matanya menatap wajah yang tadinya kelihatan bengis.  Pandangan bersabung.

“Buah potong?  Potong macam mana?”  soal Atan Chik.  Tangannya mengurut dagu yang telanjang tidak ditumbuhi sehelai janggut pun.

“Cekak… kalau kena tumbuk, menang.  Kalau menumbuk pun menang juga,” jelas pemuda itu tentang persilatan yang dipelajarinya.  

Perkataan pemuda itu rupanya menimbulkan kemarahan kepada lelaki tersebut lalu ia berkata, “Eh! Hang jangan main-main.  Hang balik tolong kirim salam kat guru hang dan cakap kat dia… aku nak bunuh dia.  Kalau tak boleh, baru aku jadi murid.  Tapi ingat! Biasanya aku bunuh orang dalam belajar!  Jangan dia nak lari.  Akan aku cari sampai dapat!”  Suaranya keras dan bergeruh bagaikan terlekat biji rambutan di tenggorok.

Itulah antara amaran keras dari seorang lelaki yang telah pun bergelar Guru.  Pernah menewaskan 33 buah jenis silat dan menjadi Mahaguru Gayong Indera Sakti.

“Silat ini sukar ditandingi!  Kalau tak percaya, bolehlah kamu cuba dengan mana-mana saja guru silat.”  Itulah antara kata-kata hikmat Pak Ngah Lahim buat Atan Chik ketika menamatkan pengajiannya.

Tatkala itu, pantang ada gelanggang silat mahupun guru silat di merata ceruk, pasti Atan Chik akan menguji ilmunya. Bukan sedikit yang tewas ditangannya malah lebih daripada 20 guru silat.  Maka bertambah yakinlah Atan Chik terhadap Kuntau Betawi yang dipelajarinya itu.  Pendek kata, setiap gelanggang yang dimasukinya secara automatik dia dilantik menjadi orang kanan guru, justeru menjadi pengganti guru.

Cakap-cakap Pak Ngah Lahim memang benar dan sudah pun terbukti.  Sungguhpun begitu, Atan Chik masih ingat bagaimana dia memperolehi ilmu permainan keris dari Abang Pin (Ariffin). Perguruan Gayung Raja dan Silat Sendeng pula dari Pak Teh Hassan Pokok Paku yang mana Atan Chik tidak dapat menewaskannya.  Setelah mempelajari Sendeng, Atan Chik rasakan gabungan Kuntau Betawi dan Sendeng sudah lengkap, malahan ilmu kebatinan yang dipelajari antaranya seperti Kipas Nandung atau, loghat Banjarnya, Parang Maya ialah ilmu kebatinan yang amat tinggi.

Adalah dikatakan bahawa Kipas Nandung ini sekiranya dijuruskan ke atas apa jua, pasti putus atau boleh dijatuhkan walaupun jaraknya jauh.  Pengalaman ilmu ini mengambil masa selama tiga bulan dengan bacaan Surah Yassin yang harus dibuat selama lebih kurang dua jam padasetiap malam.  Bukan sedikit guru silat yang tewas oleh pukulan Kipas Nandung.

Selain dari Kipas Nandung, ada lagi ilmu kependekaran Melayu yang lebih kepada kebatinan.  Bukan setakat ayat al-Quran menjadi amalannya, malah ungkapan-ungkapan Melayu beserta kitab amalan ilmu kebatinan ada di tangannya.

Atan Chik bukan sekadar belajar ilmu dunia semata-mata.  Beliau juga melalui jalan-jalan para sufi.  Lima jenis tarikat dipelajarinya bagi melengkapkan dirinya sebagai seorang insan.  Bukan calang-calang ilmu yang dimilikinya. Tetapi hakikatnya itulah yang ada padanya, namun sifat ingin menguji di medan pendekar tidak kunjung padam.  Pantang mendengar ada yang bagus seolah-olah sudah menjadi satu kemestian harus diuji oleh Atan Chik, baru di kira baik.

Nama Silat Cekak sudah pasti tidak dapat dilupakan selagi belum ditemui.  Di mana sahaja Atan Chik pergi akan dicarinya Silat Cekak. Enam tahun selepas itu, secara kebetulan, dia bertemu dengan seorang kawan lama, dan bertanya tentang Silat Cekak.  Tanpa disedari, kawan lamanya itu sudahpun mempelajari Silat Cekak.  Atan Chik yang ditemani oleh Mat Isa, pergi ke tempat latihan Silat Cekak di Tanah Liat, Bukit Mertajam.

Setibanya di perkarangan rumah Tuan Haji Ishak, lalu disuruhnya Mat Isa masuk dahulu.  Bisik hati kecilnya, inilah masanya akan diuji Guru Silat Cekak (waktu itu Tuan Haji Ishak hanyalah seorang jurulatih).  Beria benar Atan Chik ingin menguji dan melihat bagaimana Guru Silat Cekak ditumpaskan dengan Kipas Nandung.  Kejadian-kejadian yang lepas masih segar di ingatannya.  Atan Chik menggunakan ilmunya itu lalu dijuruskan kepada Tuan Haji Ishak.  Pada awalnya, tubuh Tuan Haji Ishak kelihatan bergegar dan terangkat sedikit.  Diteruskannya lagi dengan kuasanya tetapi kali ini lain yang diinginkan, lain pula jadinya.

Tubuh Tuan Haji Ishak semakin lama semakin membesar.  Atan Chik kehairanan.  “Apa jadi dengan hang ni?  Mai sini.”  Lamunannya terhenti seketika, bila dia dipanggil oleh Tuan Haji Ishak.  Atan Chik melangkah ke hadapan Tuan Haji Ishak.  “Saya nak belajar silat ini,”  kata Atan Chik. 

“Isi borang ni, nanti kami panggil.”  Lalu borang itu pun diberikan pada Atan Chik.  Selepas itu, dia pun berlalu dan pulang.  Setibanya di rumah, terjadi suatu peristiwa ganjil di mana, pada malamnya, kulit beliau meletup-letup menggelupas dengan terdapat biji-biji seperti bertih keluar dari badannya. 

Kehairanan ini menguatkan lagi azamnya untuk mengetahui lebih dekat Silat Cekak.  Minggu berikutnya, Atan Chik pergi semula ke rumah Tuan Haji Ishak.  Setibanya di sana, dia terus ditegur oleh Tuan Haji Ishak, “Dulu badan Atan tak macam ini, bukan?”

“Entahlah.  Setelah ambil borang dari sini, balik rumah, tiba-tiba jadi macam ini,”  jelas Atan Chik.  

“Bersyukurlah pada Allah,”  kata Tuan Haji Ishak. 

‘Bersyukur?’  Bisik hati kecilnya.

“Kelak Atan akan tahu.”  

Atan Chik dinasihati agar berulang selama enam bulan tetapi belum dibenarkan belajar.  Dalam tempoh enam bulan, Atan Chik diberi peluang melihat sendiri bagaimana Silat Cekak diajar, termasuklah ‘Buah Potong’ yang dikatakan rahsia.  Namun begitu, Atan Chik tidak boleh melakukannya sendiri.

Selepas tempoh itu, bermulalah Atan Chik mempelajari Silat Cekak.  Kalau ada masa terluang, tak putus-putus dia ’uji’ secara empat mata dengan Tuan Haji Ishak.  Kalau boleh, hendak melihat Silat Cekak tewas.  Setelah tamat buah potong, tibalah masanya Atan Chik menerima ‘Buah Serang’.  Pada malam inilah peluang bagi Atan Chik menguji secara terbuka di hadapan pelajar yang lain.  Kata orang, inilah masanya yang sesuai untuk melihat Silat Cekak ditewaskan.

Setiap pelajar mula diberikan ‘Buah Serang’.  Seorang demi seorang telah merasai tumbukan ‘Buah Serang’.  Kini tiba giliran Atan Chik mengambil ‘Buah Serang’.   Melangkah masuk Atan Chik ke tengah tempat latihan dengan penuh yakin dan berani lalu berkata, “Kalau saya jatuh, saya akan jadi murid yang taat; tetapi kalau saya menang, saya jadi guru.”  

Itulah ungkapan yang sering diucapkan oleh Atan Chik apabila saja mahu berhadapan dengan sesiapa saja yang sanggup diuji olehnya, terutama yang bergelar guru silat.

Kata hendak dikota, itulah pegangannya selama ini.  Sepanjang pengalaman yang dilaluinya, tidak pernah ia kecundang.  Antara orang yang pernah diujinya ialah Cikgu Majid, Guru Utama Pusaka Gayong ketika itu. Menurut Atan Chik, pada waktu itu, Cikgu Majid (sekarang Dato’) merupakan orang kanan Mahaguru Dato’ Meor Abdul Rahman.  Dalam perlawanan itu, tiada siapa yang menang dan kalah.  Tapi ternyata Cikgu Majid telah menggunakan seluruh rahsia persilatannya ketika berdepan dengan Atan Chik.  Malah Ahmad Lazim, orang kuat Gayung yang kini dengar desas-desus ingin menggantikan Dato’ Meor, juga ialah saudara dua pupu dengannya.

Tetapi ketika berhadapan dengan ‘Buah Serang’, ia merupakan satu pengalaman yang tidak boleh dilupakan dan belum pernah menjumpainya sebelum ini walaupun telah bertemu dengan 33 orang guru silat.

Hingga kini, ia tidak dapat dilupakan dari kotak fikirannya.  Malah apabila dikenang semula, ia masih segar seperti baru berlaku semalam.  Pada malam diberikan buah serang kepada penuntut, tibalah masanya Atan Chik pula menerimanya.  Sebaik saja Atan Chik bersedia, ‘Buah Serang’ pun dihadapkan padanya dan Atan Chik tidak dapat berbuat apa-apa.  Lalu katanya, “Dekat memanglah boleh.”  

Dia berundur setapak ke belakang sambil berkata, “Cuba tengok, kena ke tak kena.”  Sekali lagi ‘Buah Serang’ hinggap di badannya.  Ia masih tidak berpuas hati.  Dia undur jauh ke belakang kira-kira 10 kaki.  Sebelum kata-katanya termuntah dari mulut yang seketika dulu sentiasa berkemam dengan wirid dan zikir dan belum sempat menghabiskan niatnya, tiba-tiba penumbuk sudah melekat ke tubuhnya.  Atan Chik mula bingung dan hairan.  Namun, hatinya masih tidak puas.  Dia mahukan penjelasan yang dapat memberi keyakinan kepada dirinya.  Keangkuhan masih bertapak dalam dadanya. 

“Masih tidak percaya lagi?  Walau ke kaki langit, ‘Buah Serang’ tetap kena,”   kata Tuan Haji Ishak pada Atan Chik dengan suara tegas.   

Malam itu Atan Chik akur dengan apa yang telah berlaku.  Namun sifat ingin mencuba tak kunjung padam.  Malah dengan pengasas Silat Cekak sendiri, iaitu Al-marhum Ustaz Haji Hanafi bin Haji Ahmad, pun pernah dicubanya. Hal iIni berlaku ketika Ustaz Hanafi berkunjung ke Bukit Mertajam. Ketika itu, Ustaz Hanafi mengajaknya berbual-bual, kemudian dengan dua jari Ustaz Hanafi memegang tangannya. 

Bisik hati kecilnya, ‘Ustaz ni nak matikah?’  Kemudian dia berkata, “Kalau nak pegang pun keraslah sikit.”

Ustaz Hanafi hanya tersenyum sambil berkata, “Ini pun dah cukup.”  

Ketika itu, Atan Chik bercadang nak tutup mata Ustaz Hanafi tetapi sebaliknya tangan Ustaz Hanafi awal-awal lagi berada di matanya.  Bertambah hairanlah Atan Chik dengan kepantasan Ustaz Hanafi.

“Lampu sapa yang nak padam dulu?”  tanya Ustaz Hanafi.

‘Mana dia tahu niat aku?   Hairan aku,’  cetus hati Atan Chik.

Pada awal penglibatannya dalam Silat Cekak memang agak sukar menerima kenyataan kerana beliau yang sudah bergelar Mahaguru dan pernah menewaskan 33 guru silat kini hanya menjadi murid biasa sahaja.  Tetapi setelah memahami Silat Cekak bukanlah silat tetapi adalah jalan untuk menjadi hamba Allah, perasaan ini lama kelamaan dapat dikikisnya.  

Malah Atan Chik Chik bersyukur ke hadrat Allah kerana menemukannya ke jalan yang selama ini dia mencari dan akhirnya berjumpa dengan apa yang dicarinya itu.  Bagi dirinya, sudah mencukupi dengan penerimaan guru terhadap dirinya sebagai murid biasa.  Dia tidak bercita-cita hendak menjadi seorang jurulatih kerana, pada pandangannya, seorang jurulatih itu mempunyai tanggungjawab yang amat berat dan kurnia itu ditentukan oleh Allah.

“Hendaklah sentiasa bergantung hati pada Allah.”  Itulah pesan Ustaz Hanafi yang menjadi pegangannya.  Sejak mempelajari Silat Cekak, ia mula sedar bahawa Islam telah menganjurkan kepada umatnya hidup dalam keadaan sederhana dan sifat riak dan bongkak hendaklah dikikis.  

Pada pendapatnya juga, pada zaman Ustaz Hanafi, kebanyakan ilmu yang diperturunkan kepada murid-muridnya adalah berupa kiasan.  Tetapi dengan guru yang ada sekarang, iaitu Tuan Haji Ishak, amat mudah dan penerangannya ringkas namun tetap pada landasan asal tidak berubah dan tidak terpesung.  Sebagaimana Ustaz Hanafi, maka begitulah Tuan Haji Ishak.   

Sebelum bertemu dengan Silat Cekak, perkataan untuk diuji oleh orang lain bukanlah menjadi kegerunan padanya, malah ia amat disukai dan kadang-kadang orang yang hendak menguji diberinya amaran keras agar bersedia.  Apa yang dikata memang benar, orang yang ingin menguji mendapat padah.  Tetapi berbeza pula Atan Chik apabila memasuki ujian sijil rendah, dia merasa gerun.  Tidak pernah ia mengalami perasaan seperti itu, lebih-lebih lagi bila mendengar ada yang pengsan apabila terkena pukulan Tenaga Pengajar.  

Kata hatinya, ’Jurulatih ini nak bunuh orangkah?’  

Tetapi semasa beliau menguji orang dulu, memang hasratnya tiada lain ingin mematahkan lawan.  Perasaan takut telah membuatkan dia berjumpa dengan jurulatih agar mengujinya tidak terlalu keras.  Semasa ujian berlangsung, tiada sebarang kecelakaan menimpa dirinya, sebaliknya dia lulus dengan jayanya mempraktiskan pelajaran Silat Cekak.

Dia merasa pelik tetapi kebenaran menerjah dirinya apabila dilihatnya semua jurulatih Silat Cekak menghormatinya.  Sedangkan dia adalah penuntut yang baru tamat dan baru berada dalam persatuan ini.  Baginya, penghormatan yang diberikan oleh jurulatih-jurulatih Silat Cekak lebih menyedarkannya agar lebih takut kepada Allah.  Pada pandangannya, Jurulatih Silat Cekak adalah merupakan satu kurniaan dari Allah untuk membimbing masyarakat silat ke jalan kebenaran yang dituntut oleh agama.

Walaupun Atan Chik telah menemui guru sebenar, namun guru-gurunya yang sebelum ini tetap beliau hormati, terutamanya Pak Ngah Lahim.  Khabarnya, gurunya yang dahulu mengetahui bahawa Atan Chik telah belajar Silat Cekak.  Ketika beliau balik ke kampungnya, Atan Chik terpaksa menyepikan dirinya dari terserempak dengan Pak Ngah Lahim. Hal ini adalah bagi mengelakkan diri disoal tentang penglibatannya dalam Silat Cekak kerana beliau khuatir sekiranya disoal nanti, maka jawapan yang diberikan akan membuatkan gurunya itu kecil hati.  Seperti kacang lupakan kulit.  Mungkin itulah apa yang akan diperkatakan orang.  Tetapi itu bukanlah falsafah yang dipegangnya.

TAMAT CERPEN 7.

Ulasan cerpen 7: Masraden MD (“Guruh di Langit”)

Membaca cerpen Masraden MD ini tak sekedar menikmati cerita seorang pesilat, juga guru silat, yang suka bertarung di berbagai gelanggang. Selain suka bertarung, Atan Chik juga gila ilmu. Tak hanya ilmu silat tangan kosong yang dipelajarinya tapi juga bermain keris.
Suatu ketika ia mendengar tentang Silat Cekak, suatu aliran bela diri yang membuatnya penasaran. Hingga enam tahun kemudian barulah ia mengenal, bahkan kemudian mempelajari Silat Cekak itu.
Atan Chik akhirnya menemukan bahwa Silat Cekak itu pada hakekatnya adalah suatu jalan untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Kuasa, Penguasa Alam Semesta. Ini merupakan suatu penemuan yang memberi pencerahan bagi bathin Atan Chik.
Cerpen dengan tema menarik ini sayangnya kurang mengeksplorasi apa itu Silat Cekak. Apa tahapan yang harus dilalui Atan Chik sehingga ia larut dalam kemantapan iman? Perubahan apa yang didapat olehnya?

8.
MADU DAN SEPAH

Oleh: MRT Nordin

“Hello, boss. This is Mr. Chong. Have you checked-in and passed the guard?” ringkas Mr Chong.

Bahang yang amat panas sejak pertengahan Februari pada tahun 2020 semakin hangat. Bacaan penyukat suhu, atau lebih dikenali sebagai ‘thermometer’, menunjukkan pada paras 32 darjah Celsius, 32⁰C dalam mata pelajaran sains tahun empat yang telah diajarkan oleh Cikgu Salmah 17 tahun dahulu. Lampu isyarat bertukar warna dari merah hati terus ke hijau pekat seperti daun pisang tua, kulit lepat pisang warnanya. Ryzal segera memulaskan pendikit (throttle) agak perlahan mengikut keadaan angin bercampur bahang yang mencucuk-cucuk kulit tangannya yang agak halus. Matanya memandang tanda arah ‘BLS Sales Gallery’ sejak tadi, 15 minit pertama hingga ke minit yang terakhir. Kiri kanan sudah dia amati tapi tandanya hilang seketika. Peta Google Maps mengarahkan ke kiri lalu tiba dalam beberapa meter tidak jauh dari tanda arah yang terakhir. Telefon bimbitnya berdering buat kali pertama, memaparkan nombor asing +6018-3394450, barangkali pelanggan baharu.

“Hi there, Mr. Chong. I just parked my bike and will meet you up. Where are you?” balas Ryzal.

“In my car. Range Rover YWJ 6954; come here, am waiting here,” ujar Mr. Chong.

“Alright, then,” balas Ryzal.

Ryzal melangkah laju mendapatkan Mr. Chong buat kali pertama. Orang Cina bagi projek, orang Melayu buat kerja. Sudah biasa, bukan benda pelik. Cara Alibaba yang sudah diguna pakai. “Realiti, bukan mimpi,” bisik hati Ryzal sambil menyeragamkan langkah kiri serta kanan. 

Ryzal dikenali ramai oleh rakan sepejabatnya dulu sebagai pelobi projek terhandal. Projek RM600K telah dia selesaikan. Suatu isu kronik yang timbul pada lewat tahun 2018. Rahsianya ialah prinsip dalam hidup yang berpegang kuat pada peribahasa yang besar makna tersirat: Genggam bara api, biar sampai jadi arang. 

Kelihatan seorang lelaki yang melambai-lambai tangan dari kereta berwarna putih susu. Mr. Chong mungkin. Ryzal mulakan dengan menghulurkan tangan kanannya, disambut oleh Mr. Chong lalu dieratkan lagi dengan genggaman yang utuh. Protokol yang lazim bagi orang yang berdarah usahawan, business-minded.

“Ryzal?” tanya Mr. Chong.

“Betul,” balas Ryzal.

“Come in. We will discuss over there, at the café,” tambah Mr Chong.

Setibanya mereka di Kafe Kopitiam, Bandar Baru Ijok, Ryzal dan Mr. Chong segera duduk bagi membincangkan projek baharu yang diberikan oleh pihak BLS, pemaju terunggul di Malaysia. Satu per satu muka surat buku milik Ryzal dicontengnya, menandakan ketekunan Ryzal mengambil isi-isi penting yang keluar daripada mulut pelanggannya, Mr. Chong. Pada mulanya, Ryzal berusaha menjadi objek yang terbaik di mata Mr. Chong, akan tetapi semuanya lenyap bagaikan bayang-bayang dipenuhi cahaya lampu terang. Mana tidaknya, fasihnya orang Cina ini membuatkan Ryzal macam hilang pedoman. Berkomunikasi dalam bahasa Inggeris ialah satu bonus buat dirinya. Dengan itulah orang akan pandang tinggi (salute), berpelajaran (educated), dan meyakinkan (convincing). Kali ini, Ryzal sungguh berbangga kerana dia berbual dengan seorang yang tidak enggan berkongsi semua pengalaman dalam industri pembinaan walaupun sudah 30 tahun lamanya menceburi bidang yang mencabar ini. Ryzal ialah seorang pelukis pelan (draftsman) yang amat disenangi dalam kalangan pelukis pelan. Sebut sahaja namanya, semua orang tahu ketangkasan serta kepakaran Ryzal yang tidak ada tolok bandingnya.

“Jadi, bagaimana dengan segala penerangan saya kepada awak?” tanya Mr. Chong sekali lagi.

“Saya sudah faham semuanya, Mr. Chong. Ada apa-apa lagi?” balas Ryzal.

“Baiklah kalau begitu,” ringkas Mr Chong.

Kehangatan cuaca petang sudah pun surut pada jam 5.30 petang. Ryzal memerhati jam dinding kafe’ yang betul-betul diletakkan di atas kepala kabinet. 26 darjah Celsius, 26⁰C. 

Isu hangat apabila kabinet Malaysia digugurkan, tiada seorang pun yang terlepas. Perdana Menteri Malaysia ke-7 telah pun diangkat sebagai Perdana Menteri Interim (PMi), Tun M dan tiada menteri-menteri sebagai kabinet Malaysia. Berlaku pada tahun 2020 hujung Februari juga. Minggu terakhir, 25hb. hingga 29hb. Dan akhirnya, tidak sampai sepenggal, telah ada Perdana Menteri Ke-8, Tan Sri Muhyiddin Yassin. Syabas. Dah habis madu sepah dibuang. Ryzal membuka satu tab artikel, merepek dan tidak berasas. YDPA perkenankan, apa lagi hendak kita dustakan. Ryzal agak positif akan situasi yang melanda negara tercinta, lagi darah tumpahnya darah. Dengan perasan yang bercampur-baur selepas berita besar ini, Ryzal tiba di rumah tepat pada pukul 6.00 petang. Solat Asar didirikan lalu berdoa agar baik-baik semuanya. 

Notifikasi diterimanya daripada seseorang. 

“Mari jogging. Pukul 6.30 petang jumpa di sana.” –Fiz.

Ryzal telah pun set privasi dan paparan itu ditekan lalu membalas: “Alright, bossku. Set.” –Ryzal.

Sepeninggalan Ryzal dari rumah, dia telah membalut dompetnya; wallet bagi lelaki, bukan purse. Purse biasanya dicipta untuk perempuan. Kebanyakan orang memang silap mengerti, salah guna istilah. Ryzal sudah biasa dengan kesalahan segelintir orang yang main hentam. Geli hatinya. Diletak dompetnya ke dalam tempat simpanan peralatan motosikal, berhampiran tangki minyak. Ryzal dan Fiz akan pergi ke Kampung Baru, Kuala Lumpur selepas bersenam.

“Kita laju sikit hari ni,” kata Fiz.

No hal, bosku,” balas Ryzal.

Ryzal terpandang seorang pemuda di tiang pertama, depan pintu keluar dan masuk Taman Layang-Layang, Kepong atau Taman Metropolitan Jinjang. Topi keledar dimasukkannya ke bawah tempat duduk motosikal dan dikunci erat. Mata masih melihat pemuda yang sama berdiri di tempatnya tadi tetapi pemuda itu langsung tidak mencurigakan. 

Ryzal dan Fiz terus masuk ke dalam gimnasium untuk memulakan senaman ringan. Kebiasaannya, Fiz akan mengambil 200 meter dengan hanya berjalan seperti lari anak.  Ryzal ikut melakukan gerakan dengan rentak yang perlahan. Kalau Fiz laju, Ryzal pun laju, bergantung kepada teman senamannya pada hari itu. Setelah 20 minit lamanya, habis satu bulatan penuh taman. Jam tepat pada pukul 7.20 petang, kiranya sudah malam.

“Maghrib, jom balik,” kata Ryzal.

“Jom,” balas Fiz.

Ryzal berasa tidak sedap hati. Matanya terus ke arah motosikalnya. Malapetaka bagai akan bakal berlaku. Apabila membuka tempat duduk motosikalnya, didapatinya kain yang membaluti dompetnya sudah tiada. “Sial!” bentak hatinya.

A’sal?” curiga Fiz.

Wallet aku hilang; kain pembalut lesap sekali,” balas Ryzal.

Raut wajah Ryzal yang tenang tidak sama sekali menunjukkan kerisauan hatinya. “Aku diuji kerana Allah sayang.” Tanda cinta dan taat pada Pencipta sekian alam. 

Fiz bergegas pergi kerana mahu menghantar anak bujangnya ke klinik. Demam mengejut. Pandangan Ryzal tidak sedikit pun beralih ke arah nombor pendaftaran motosikal Fiz, hilang beberapa detik di penghujung jalan. Enjin dihidupkan dan pendikit dipulas.

Zaaaasss!!!!! 

Ryzal membalas rasa gundah-gelana dengan cara memecut pacuan dua rodanya, sehingga tiba di bengkel tempat biasa dia melepak pada hujung minggu bersama-sama kawan baiknya, yang juga kawan karib Fiz, yang dikenalinya semenjak 2012: Feruz. Feruz ialah usahawan yang agak lumayan untuk didekati. Pada umurnya 27 tahun, Feruz telah ada segala-galanya. Sebut sahaja: rumah, kereta, anak, isteri, duit, dan segala-galanya. Ya, terlalu muda. 

MDD-DKE ialah bengkel kepunyaan Feruz. Bengkel itu menawarkan kepakaran ‘Tuning & Dyno’ untuk pacuan dua roda seperti Yamaha 135LC, Y15, dan jenis-jenis lain.

“Why?” sergah Feruz.

Wallet kena kebas kat taman tadi,” balas Ryzal.

Naya; dah cari ke? Kalau tak jumpa, buat report polis dan block semua kad debit ATM,” beritahu Feruz.

“Alright. Call bank jap. Bank Islam, Bank CIMB, dan Bank Hong Leong,” balas Ryzal.

Disekatnya kesemua kad debit ATM. Puas hati. 

Ryzal termenung memikirkan nasibnya walaupun dia tidak hairan dengan insiden yang melanda dirinya. Beberapa minit lagi, dia akan pergi ke balai polis untuk melaporkan kecurian dompetnya. 

Bulan sabit, ditemani bintang-bintang, telah memecahkan kegelisahan hatinya. Barang yang lepas tak usah dikenang. Hidup perlu diteruskan walau badai melanda. 

Ryzal selesai membuat laporan di Ibu Pejabat Polis Sentul, Kuala Lumpur. Sarjan Firdaus telah mengambil butir-butir dari Ryzal dan mencetak laporan bagi membolehkan urusan mendapatkan kad pengenalan yang baharu, kad debit ATM, serta yang berkaitan. Ryzal mengucapkan ribuan terima kasih atas kecekapan, kemesraan, dan sifat ramah Sarjan Firdaus menjalankan tugasnya sebagai pegawai polis.

“Terima kasih, Sarjan,” ucap Ryzal dengan yakinnya.

“Tiada masalah. Saya faham situasi encik. Lepas ni, berwaspada dan lebih berhati-hati,” balas Sarjan Firdaus sebagai nasihat.

“Insya-Allah,” jawab Ryzal, sambal bersalaman dengan Sarjan Firdaus.

Ryzal lena dibuai mimpi. Segala-galanya telah selesai. Pencuri dompet pasti berusaha untuk memecahkan kata laluan kad debit ATM miliknya. Ryzal ketawa dalam tidur bagi memperlekehkan usaha pencuri dompet miliknya. “Ha ha ha…”

Azan subuh kedengaran jelas dan masuk ke dalam gegendang telinganya lalu Ryzal terjaga dari lena. Ryzal bingkas bangun mendapatkan tuala dan segera mandi. Hubungannya dengan Maha Pencinta tidak dilupakan, di sebabkan itulah urusannya mudah dan senang. 

Sarapan pagi berlaukkan ayam masak merah kegemaran Ryzal. Nasi lemak, siapa yang tidak mahu. Ryzal salah seorang daripada pelanggan gerai Mak Cik Milah.

Sudah masuk jam 12.00 tengah hari, Ryzal masih sibuk menyiapkkan lakaran yang dibincangkan bersama-sama Mr. Chong semalam. Tekun dan komited. Itulah Ryzal. Walaupun dilanda ujian, dia tidak sekali-kali lupa akan tugas yang diberi. Draf pertama sudah siap. Ryzal senang hati dan bergegas ke UTC, Pudu Sentral bagi memohon kad pengenalan baharu. Selesai pada pukul 3.00 petang. Ryzal ditemani oleh sahabatnya Ben, susah senang bersama walaupun sibuk sekalipun. Ben ialah seorang pegawai atasan yang sangat disegani dalam kalangan rakan sepejabatnya. Ben menyokong penuh segala apa yang Ryzal lakukan. Tidak pernah sekali pun dia menolak mahupun memperkecilkan apa-apa keputusan sahabatnya. Hebat orangnya.

“How much do they charge you?” tanya Ben.

No need to pay. Dah buat aduan, ada report,” balas Ryzal dengan pantas.

“Ouh, I see. Kalau tak de report?” tanya Ben.

“RM110 kali pertama, RM310 kali kedua, dan RM1000 kali ketiga. RM10 kalau IC rosak,” beritahu Ryzal dengan tenang.

Ben dan Ryzal selesai di UTC, Pudu Sentral. Destinasi yang berikutnya, ke Selayang. Notifikasi WhatsApp banyak, Ryzal sengaja tidak endahkan. Bukan Mr. Chong, tak penting. Deringan nada panggilan berbunyi. Ryzal menjawab panggilan itu.

Bos, saya UMobile. I found your missing wallet.” –Umobile.

That was stolen semalam.” –Ryzal.

Selepas beberapa minit, Ryzal pergi mengambil dompetnya. Hatinya berbelah bahagi antara kad-kad yang lama dengan yang baru. 

Siapa Perdana Menteri Malaysia pun sudah diketahui: Tan Sri Muhyiddin Bin Mohd Yassin. Tiada lagi PMi mahupun apa. Ryzal terpaku akan kegopohan dirinya yang mahu cepat. Sudah habis madu, sepah dibuang.

Nota: Cerpen ini berdasarkan kisah benar dengan beberapa tokok tambah serta isu semasa dijadikan penguat.

TAMAT CERPEN 8.

Ulasan Cerpen 8: MRT Noordin (“Madu dan Sepah”)

Cerpen ini dibuka dengan baik, mampu memancing perhatian pembaca: sebuah proyek besar diberikan oleh BLS, dan Ryzal yang bertanggungjawab terhadap proyek tersebut. Mr. Chong jadi wakil BLS, berhubungan dengan Ryzal.
Besar ingin tahu dari pembaca saat membaca awalan cerpen ini, misalnya sebesar apa nilai proyek tersebut, apakah pembangunan perumahan, hotel, atau mall? Bagaimana hebatnya Ryzal menanganinya, sehingga ia disebut sebagai pelobi ulung? Di perusahaan apa Ryzal bekerja?
Pertanyaan mendasar itu tak terpaparkan dalam aline-alinea berikutnya. Justeru penulis lebih asyik memaparkan kesibukan Ryzal, mulai dari senam, kehilangan dompet, hingga sempat menyinggung politik di kabinet pemerintahan Malaysia.
Padahal sudah disinggung oleh penulis: Orang Cina bagi projek, Orang Melayu buat kerja. Sudah biasa, bukan benda pelik. Cara Alibaba yang sudah diguna pakai. “Realiti, bukan mimpi,” bisik hati Ryzal, sambil menyegaramkan langkah kiri serta kanan.
Hingga akhir cerpen, tidak diketahui apa proyek dari BLS itu, dan bagaimana Ryzal berhasil mendapatkan proyek itu untuk perusahaannya.

9.
Malam Penentuan

Oleh M.S. Rindu

Malam itu, Mat Indera bercadang untuk melakukan sembahyang sunat istikharah buat kali yang ketiga. Jadi dia tidur awal dan bercadang akan bangun pada pertengahan malam. Malam itu, baginya, ialah malam penentuan sama ada dia akan melibatkan diri dengan pembentukan

pasukan bersenjata untuk menentang Inggeris atau tidak.

Kira-kira seminggu sebelum itu, dia telah dijemput oleh JH Jasman untuk datang ke rumahnya. JH Jasman ialah salah seorang kader PKM di kawasannya dan baru saja balik dari menghadiri kursus politik dan ketenteraan anjuran PKM di Lubuk Kawah, Temerloh pada pertengahan

bulan Mei 1948.

Mat Indera datang menemui JH Jasman bersama-sama dengan kawan-kawannya Abdul Kadir Ma’ie, Hashim Kaimi (Kimi), Yatim, Sanip bin Jasmani, dan Rosman bin Munaji.

Di tempat persembunyiannya di dalam hutan, di hadapan Mat Indera dan kawan-kawannya serta beberapa orang lain yang dijemputnya, JH Jasman memberi penerangan berikut:

“Saya baru balik dari menghadiri kursus politik dan ketenteraan anjuran parti Komunis di Temerloh Pahang. Parti komunis hendak melancarkan perang terhadap Inggeris. Pasukan tentera Cina sudah ada, iaitu terdiri daripada orang-orang Bintang Tiga atau bekas ahli MPAJA. Jadi kami, parti komunis bahagian Melayu, hendak menubuhkan pasukan bersenjata Melayu.”

“Mengapa komunis hendak melancarkan perang terhadap Inggeris?” tanya Mat Indera, Ketua API dan ahli jawatankuasa PKMM Muar serta pemimpin kesatuan buruh di Muar. Memang dalam pertemuan itu, dia yang banyak bertanya.

“Sebab Inggeris tidak akan memberi kita kemerdekaan secara damai. Parti-parti kiri sudah diharamkan. Jadi kita sudah tidak ada jalan lain untuk mencapai kemerdekaan. Kita mesti berperang untuk menghalau Inggeris,” jawab JH Jasman.

“Jadi kita mesti masuk komunis dan berjuang bersama dengan komunis?” tanya Mat Indera.

“Kita memang akan berjuang bersama dengan komunis, tapi kita tidak semestinya masuk komunis atau jadi ahli parti komunis. Kita akan bentuk tentera kita sendiri, tentera Melayu,” jawab JH Jasman.

Seterusnya terjadi soal jawab yang berikut antara Mat Indera dengan JH Jasman:

“Tapi kita mana ada senjata?”

“Pasukan Cina akan beri kita senjata. Mereka sudah ada senjata, yang mereka dapat daripada Inggeris pada masa Jepun.”

“Bolehkah kita menang berperang dengan Inggeris?”

“Tidak mustahil kalau kita bersatu. Kalau semua bangsa bersatu,” jawab JH Jasman. “Dulu Jepun sudah kalahkan Inggeris.”

“Bagaimana cara kita hendak berperang dengan Inggeris?”

“Sebagai permulaan, kita akan serang estet orang Inggeris yang banyak terdapat di kawasan kita . Kita akan rosakkan ekonomi mereka. Kita akan halau mereka dari kawasan luar bandar. Dan kita akan jadikan kawasan luar bandar sebagai kubu perjuangan kita.

“Selain itu, kita mungkin akan serang balai polis untuk mendapatkan senjata.

“Kalau ada pasukan askar atau polis masuk kampung, kita akan serang hendap dan rampas senjata mereka.

“Kita perlu segera menubuhkan pasukan tentera Melayu. Kita nak lancarkan perang mulai sekarang juga. Saya harap kawan-kawan semua boleh menyertai saya menjadi ahli pasukan tentera Melayu,” jelas JH selanjutnya.

Setelah menjawab beberapa pertanyaan lain yang seakan-akan atau merupakan pengembangan daripada pertanyaan di atas, JH Jasman pula bertanya, “Sekarang apa pendapat saudara-saudara? Adakah bersetuju menyertai pasukan tentera Melayu yang akan kita tubuhkan?”

Tidak ada yang menjawab dengan serta-merta. Kebanyakan yang hadir memandang Mat Indera yang boleh dianggap sebagai pemimpin mereka. Mat Indera pun tidak segera memberi keputusan.

Oleh sebab tidak ada yang menjawab, JH Jasman mengemukakan pertanyaan khusus kepada Mat Indera, “Bagaimana pendapat Mat Indera?”

“Nak membentuk pasukan tentera dan nak berperang dengan Inggeris ni satu tugas yang berat. Lagi pun, nampaknya kita akan berjuang bersama komunis dan mungkin di bawah pimpinan komunis. Saya minta tangguh memberi keputusan. Saya akan memberi keputusan kira-kira seminggu lagi,“ jawab Mat Indera.

“Tapi saudara Mat Indera sebenarnya tak ada pilihan lain,“ kata JH pula. “Kalau saudara tak menyertai pasukan tentera kita, saudara akan ditangkap dan disumbat dalam penjara. Baiklah saudara menyertai pasukan tentera kita dan berperang dengan Inggeris.

“Lagipun saudara jangan lupa; perjuangan kita adalah untuk membebaskan tanah air dari cengkaman penjajah. Perjuangan secara damai sudah tertutup atau tidak dapat diteruskan lagi. Perjuangan kita mesti diteruskan dengan mengangkat senjata. Ingat slogan API yang dikemukakan oleh Ahmad Boestamam: Merdeka dengan darah,” kata JH Jasman seterusnya.

Mat Indera hanya tersenyum dan tidak memberi apa-apa ulasan. Dalam hatinya, dia memang berasa sangat sukar untuk menyatakan tidak bersetuju menyertai pasukan tentera yang akan ditubuhkan oleh JH Jasman. Malah hatinya sudah berat akan bersetuju.. Bagaimanapun, dia masih meminta tempoh seminggu sebelum memberi keputusan muktamad kerana dia ingin melakukan sembahyang istikharah terlebih dahulu.

Setelah dua kali melakukan sembahyang istikharah, hati Mat Indera sebenarnya memang sudah berat untuk melibatkan diri dengan pembentukan pasukan bersenjata dan menyertai perjuangan bersenjata bersama komunis. Hanya pada malam itu dia ingin mencukupkan sembahyang sebanyak tiga kali, supaya keputusannya betul-betul mantap.

Kira-kira pukul 12 malam, dalam suasana yang sunyi sepi, Mat Indera melakukan sembahyang istikharah buat kali yang ketiga.

“Ya Allah, berilah aku petunjuk untuk mengambil keputusan yang tepat sama ada akan menyertai penubuhan pasukan bersenjata atau tidak. Aku ingin berjuang untuk membebaskan tanah airku daripada cengkaman penjajah Inggeris. Tapi aku tidak dapat lagi berjuang secara damai. Malah aku akan ditangkap dan disumbat ke dalam penjara. Aku tidak mempunyai tujuan dan niat yang lain. Berilah aku petunjuk yang benar, ya Allah,” antara lain dia berdoa.

Selepas melakukan sembahyang istikharah buat kali yang ketiga, Mat Indera semakin yakin bahawa tindakan yang harus diambilnya tidak lain daripada menyertai penubuhan pasukan bersenjata dan melancarkan revolusi untuk menentang Inggeris. Dia memang menyedari risiko yang akan dihadapinya dari tindakannya itu. Tapi hatinya sudah bulat dan dia reda menghadapi apa-apa risiko, jika dia mengambil keputusan yang salah.

Kira-kira 10 hari selepas pertemuannya yang pertama dengan JH Jasman, Mat Indera menemui JH sekali lagi dan menyatakan keputusan yang diambilnya. Dia membawa beberapa orang kawannya seperti Karim Atan, Omar Mmeon, Genim, Yat, dan Abdul Rahman Ali. Mereka bersama-sama masuk ke hutan dan memulakan perjuangan bersenjata menentang Inggeris secara gerila. 

Mat Indera ditangkap Inggeris dan dibunuh di tali gantung. Dia yakin yang dia mati sebagai pejuang kemerdekaan. 

TAMAT CERPEN 9.

Ulasan cerpen 9: (M.S Rindu: “Malam  Penentuan”)

Cerpen dengan latar belakang sejarah, peperangan, atau gejolak sosial selalu menarik untuk ditelaah. Fakta dibalut imajinasi melahirkan kisah yang mampu menyeret pembaca ke dalam skema cerita yang diinginkan penulis. Di sini penting sekali adanya penjabaran cerita atau catatan kaki yang cukup lengkap, sehingga pembaca tak perlu lagi bertanya-tanya seusai satu cerpen selesai dibaca. Begitu pula dalam cerpen “Malam Penentuan” ini.
Perkumpulan PKM misalnya, apakah merupakan singkatan Partai Komunis Malaysia seperti halnya PKI (Partai Komunis Indonesia)? Begitu juga MPAJA, singkatan dari apa?
Perjuangan Mat Indera dan teman-temannya tak tampak dengan jelas di cerpen ini, seperti apa mereka mampu memberikan perlawanan terhadap tentara Inggris. Ketika ia harus digantung, seperti apa peran penting Mat Indera dalam perjuangan itu? Tidak dijelaskan.

10.
KEKUWUNG

Oleh : Mukti Jayaraksa

MATAHARI mengangkasa, memanjat langit yang agak temaram. Sinarnya perlahan menerobos, memotong riwis-riwis gerimis yang bekejaran menghampiri bumi. Di sebelah barat nampak warna-warni setengah lingkaran. Sungguh indah untuk dipandang. Kekuwung orang kampungku bilang. Aku terpesona dan menikmati keindahannya. Tiba-tiba pundakku ada yang menepuk dari belakang.

“Plok, Hai, lihat apa kamu?” Suara dan tindakannya mengagetkan dan membuyarkan kekhusyuan dalam menikmati lukisan alam. 

“Kampret.” Ucapku spontan, sambil balik belakang, melihat siapa yang datang tanpa permisi itu.

“Eee… kamu Mat, sontoloyo,” kataku agak sewot.

“Asyik benar, lagi ngelihatin apa sih?” Mamat mengulangi pertanyaannya. Namun belum juga Aku menjawabnya, sudah disusul dengan celotehannya yang kurang membumi, menerka-nerka sesuatu yang sedang Aku nikmati. 

“Ooo… Pantesan kamu tidak menghiraukan kehadiran saya, ternyata lagi asyik ngelihatin bidadari yang sedang mandi.” Ungkapnya sok tahu. 

Aku tak menggubris celotehan Mamat yang penuh teka-teki. Omongannya tidak kumengerti. Entah apa maksud Mamat mengungkapkan opini seperti itu. Bahasanya menyimpan kontradiktif dengan pengetahuanku. Penuturannya terkadang irasional dan  membingungkan. Tapi harus Aku akui, setiap berbincang dengannya, ada saja pengalaman baru atau sesuatu yang menjadi bahan renungan. Pernyataannya yang sering nyeleneh membuat otakku berputar-putar.

“Mat, di mana ada bidadari sedang mandi?” Aku balik tanya menuntut penjelasan darinya.

Mamat tak langsung menjawab, pura-pura tuli. Dia sibuk dengan kamera handphonnya, jepret sana-sini mengabadikan suasana dan keadaan panorama alam.  Aku mulai kesal dengan ulah Mamat. Tingkahnya membakar emosiku saja. Dia tetap saja acuh tak acuh, padahal Aku memanggil namanya sampai tiga kali “Mat… Mat… Mat”. Rasa dongkol yang bersemayam dalam hati tak terbendung lagi.

“Mamaaaaat.” Bentakku dengan nada tinggi. Mamat berlagak kaget sambil menoleh ke arahku dan langsung nyerocos, memberikan penjelasan dari pertanyaanku yang tadi tidak dihiraukan. 

“Yang-saya-mak-sud bi-da-da-ri se-dang man-di i-tu adalah yang kamu lihat tadi,” jelasnya dengan nada yang sengaja diputus-putus.

“Itu yang kamu maksud, Mat?” Telunjukku lurus ke arah kekuwung yang masih menampakkan keindahannya. 

“Plek.” Spontan tangan Mamat memukul lengan kananku, lumayan keras.

Aku kaget dan langsung geram dan gondok atas tindakan Mamat. Aku tidak paham dan tidak terima diperlakukan seperti itu. “Emangnya tidak sakit” gerutu hatiku.  Sementara wajah Mamat cengengesan seakan tak merasa punya salah. Aku semakin kesal dan marah. Rasa jengkel bersemayam dan kutahan dalam jiwa. Aku pikir lebih baik diam dari pada perang mulut dengan teman sendiri. 

Suasana hening beberapa saat. Hanya hembusan angin yang semilir pelan menyapa kulit. Kulipat wajahku dalam kedongkolan.

“Hey kawan, kenapa kamu? Kamu marah, yah?  Segitu saja kok sewot, jelek tauuu,” tegurnya dengan bibir dimonyongkan. Aku tetap termanggu, namun mulut Mamat terus nyerocos, mengalirkan   pertanyaan-pertanyaan yang dibumbui ledekan sambil terus memandangi wajahku. Rupanya Mamat memahami dan mengerti sikap yang kutampilkan. 

Aku masih dongkol, belum menerima perlakuan Mamat. Hatiku benar-benar  kecewa. Rasa sakit pada tanganku menjalar dan melukai hati atas perlakuannya. Aura wajahku menyebarkan kekesalan dan kemarahan dan mulutku masih terkunci. Ketika Mamat meluncurkan guyonannya didepan wajahku, aku langsung membuang muka. Namun Mamat semakin bernafsu dengan gaya-gaya kocaknya. Dia memang temanku yang suka guyon dan bertingkah kocak.

Beberapa jurus, dari yang biasa sampai jurus pamungkas telah digunakan Mamat, namun aku tetap diam dalam dekapan kekecewaan, seakan hati ini tak ada pintu maaf lagi. Melihat sikapku itu, Mamat pun mengambil jurus lain. Dia ucapkan kata-kata yang mengandung makna dan kalimat yang syarat dengan estetika, sehingga hatiku mulai agak luluh dan mencair.

“Ma’af kawan, Mungkin saya teman yang kurang baik atau saya tak pantas sebagai teman bagimu, tapi  sekali lagi saya mohon maaf atas kelakuan saya terhadapmu, sungguh tak ada maksud apa-apa, hanya rasa kepedulian saja.” 

Kebekuan hatiku perlahan mencair, setelah Mamat mengucapkan kata-katanya dengan serius. Walau tak dapat aku pungkiri, butiran-butiran kesal masih menyisa dan menempel di dinding hati. Aku mencoba menyadari dan berusaha menerima keadaan sambil memoles wajahku dengan sedikit senyuman, walau agak terpaksa dan mencoba bersikap dewasa dalam menghadapi permasalahan. Aku coba sedikit profesional.

“Mat, terus terang Aku masih tak mengerti, kenapa kamu memukul lenganku?”

Bukannya menjawab, Mamat malah tertawa. Giginya yang agak dongos dipamerkan. Aku semakin dibuat tak mengerti dengan kelakuannya.

“Mamat”. Aku membentaknya lagi, kali ini dengan nada tegas.

Mamat mengerem gelaknya secara mendadak. Raut wajahnya nampak serius, sedikit tegang. Dia mulai menyadari dan menghargaiku sambil memberikan penjelasan dengan serius.

“Begini kawan, saya tak bermaksud menyakitimu, apalagi melecehkan. sebenarnya saya merasa kasihan dan tidak mau kamu mendapat adzab atas tindakanmu, nanti kulitmu jadi belang.”

“Omongan kamu tambah ngacau aza Mat!” cetusku yang semakin tak mengerti.

“Ngacau bagaimana maksud kamu?” Mamat balik tanya.

Obrolan terputus beberapa saat. Sesekali Mamat mendongakkan wajahnya, bola matanya membaca situasi, seakan sedang mengumpulkan data-data pengetahuannya sambil menanti penjelasan dariku. Akupun menahannya, tak langsung memberikan jawaban. Entah apa yang sebenarnya  yang ada dalam pikiran Mamat. 

“Begini, Mat.” Aku membuka kembali perbincangan. Aku jelaskan omongan Mamat yang aku anggap ngacau dan tidak rasional itu. Aku mengajaknya untuk berfikirrealitis dan rasional. Panjang lebar Aku menjelaskannya.

Mamat mendengar dan menyimak seluruh unek-unek dan pola pikir yang aku sampaikan, Dari mulai memukul lengan sampai masalah adzab kulit belang yang belum aku mengerti. Kepala Mamat manggut-manggut, dibarengi senyum yang semakin mengembang. Dipukulnya pundakku beberapa kali dengan pelan.

“Maaf kawan, sebenarnya saya juga belum begitu paham dan mengerti, hanya reflek memukul lenganmu.” Ungkap Mamat membela diri. Kemudian dia melanjutkan dengan menyampaikan sebuah cerita pengalamannya di masa kanak-kanak.

“Begini kawan, Semasa kecil, saya dilarang menunjuk kekuwung. Konon menurut keyakinan masyarakat di kampungku, bila itu dilakukan, maka akan terkena penyakit belang. Bila sudah terlanjur melakukannya, buru-burulah untuk ngalamod (mengulum) jarinya agar adzab belang tak jadi menimpah.”  Mamat menutup ceritanya.

“Mamaaaat… Mamat, kamu kok masih percaya yang gituan, itu mitos, tahayul.” Giliranku yang memamerkan senyum kurang manis, agak tawar.

“Ya, terserah kamulah kawan.” Menimpali ungkapanku.

Mamat meninggalkanku. Langkahnya terayun cepat tanpa menengok ke belakang. Mungkin baginya aku dianggap teman yang tidak mau dikasih tahu. Aku terus berfikir dalam ketidakmengertian, kenapa keyakinan seperti itu muncul di masyarakat dan masih diyakini pada zaman sekarang, padahal aku sendiri belum pernah menyaksikan orang yang terkena penyakit belang gara-gara menunjuk kekuwung. “Ada-ada saja” ucapku dalam hati.

Bersamaan dengan kepergian Mamat, Kekuwung yang tadi nampak jelas, kini mulai memudar, warnanya menguap entah ke mana. Mungkin kekuwung itu merasa malu atau kesal, karena menjadi bahan perdebatan aku dan temanku, Mamat.

Catatan: Kekuwung artinya Pelangi.

TAMAT CERPEN 10.

Ulasan cerpen 10: Mukti Jayaraksa (“Kekuwung”)

Di dalam cerpen yang baik, gagasan inti atau tema merupakan sangat penting. Itu disamakan dengan sebuah bangunan, tema adalah pondasinya. Tidaklah mungkin mendirikan sebuah bangunan tanpa pondasi. Dengan kata lain, tema adalah sebuah ide pokok, pikiran utama sebuah cerpen; pesan atau amanat.
Tidak mungkin sebuah cerita tidak mempunyai ide pokok. Yaitu sesuatu yang hendak disampaikan pengarang kepada para pembacanya, biasanya masalah kehidupan, pandangan penulis pada pembacanya akan masalah yang ada dalam alur cerpen itu.
Penulis tidak dituntut menjelaskan tema tulisannya secara gambling. Bisa saja ia menyampaikan sebuah masalah kehidupan, dan menyerahkan pada pembaca untuk menyikapi dan menyelesaikannya.  Semisal, hal-hal yang sederhana: Kejahatan tak akan menang melawan kebaikan, Cinta merupakan energi kehidupan, mampu mengatasi rintangan yang ada.
Tema itu terasa kabur dalam cerpen “Kekuwung”. Penulis seperti gagap menyampaikan pesan apa yang diinginkannya pada pembaca: Kekuwung atau pelangi yang begitu mempesona, kenangan yang muncul saat ia melihat pelangi itu, atau makna pelangi bagi kehidupan.
Padahal, jika melihat latar belakang penulis, ia tentu tahu bahwa pelangi tak sekedar fenomena alam yang indah tapi juga punya makna. Seperti menurut orang Jawa, dan sebagian besar masyarakat Indonesia, salah satu maknanya adalah agar kita mampu jadi pelangi. Memberikan inspirasi bagi banyak orang. Meski terkadang diabaikan karena sudah dianggap biasa, namun ia terus muncul seakan tak pernah bosan memancarkan inspirasi untuk yang lainnya. 

11.
TAMU SANG KYAI

Oleh: Mukti Jayaraksa

RUMAH kyai Rahmat nyaris tak pernah sepi. Tiap hari ada saja orang yang bertandang, bertamu. Dari mulai pejabat sampai rakyat biasa. Tujuannya pun beragam. Ada yang ingin meminta doa sekaligus dukungan pencalonan, ada yang sekedar curhat tentang hukum agama, ada pula yang ingin konsultasi waktu yang tepat untuk pernikahan anaknya. Pokoknya macam-macam deh. Maklum kyai Rahmat seorang ulama yang kharismatik, penampilannya sederhana namun berwibawa. Ucapannya menjadi oase hati yang menyejukkan. Tutur katanya bak air zam-zam yang dinantikan masyarakat bila jamaah haji baru pulang. Maka tak heran bila banyak orang yang datang untuk meminta tausiahnya atau sengaja ingin diberi solusi atas masalah yang dihadapi.

Saya sempat beberapa kali ke rumahnya dan bercakap-cakap tentang problematika kehidupan. dari masalah pribadi sampai masalah masyarakat yang semakin hari semakin semerawut. Dari obrolanku dengannya ada kesan yang mendalam atas petuah yang pernah dilontarkan. Kyai Rahmat pernah berkata, “bahwa hidup ini adalah khiyar (pilihan) yang tentu harus direalisasikan (ikhtiyar) untuk menuju yang baik (Khoir) agar menjadi orang-orang pilihan (Mukhtar)”.   Sungguh luar biasa bukan?. Kalimat itu masih membekas dalam ingatan dan akan saya jadikan jamu dalam meniti kehidupan. 

Sebenarnya bukan cuma saya yang merasakan dan mendapatkan petuah-pertuah seperti itu. teman saya yang mau mencalonkan diri jadi dewan pun pernah bercerita. Pejabat yang dulu sering bertamu dan sekarang bertengger dipuncak gunung sering mengaku dan memuji-muji kyai Rahmat pada setiap acara, walau hanya sebatas cerita atas kebaikan sang Kyai yang telah membekali dirinya dengan doa, ketika hendak mencalonkan diri. Belum lagi masyarakat biasa dan jamaah majlis ta’lim yang diasuhnya, begitu beragam manfaat yang pernah diterimanya.

Desas-desus masyarakat mulai bertebaran. Air susu dibalas dengan air tuba. Di gardu, di warung, di kantor dan hampir setiap tempat terdengar perbincangan yang bertemakan Kyai Rahmat. Saya sendiri kurang jelas inti masalah yang diobrolkan, namun sayup-sayup terdengar suara parau, bahwa kyai Rahmat, tadi malam kedatangan tamu wanita-wanita cantik dan seksi. Menurut kabar dari burung, Pakaiannya serba minimalis dengan aroma parfum yang menyembul menusuk hidung.

Hati kecil saya berkata “kok bisa yah, seorang ulama menerima tamu seperti itu, ada perlu apa sebenarnya wanita-wanita itu, apakah mereka tidak tahu, siapa Kyai Rahmat?”. tapi saya mencoba untuk berfikir positif. Saya tak mau gegabah menjustifikasi seseorang, apalagi seorang ulama. Bisa-bisa kuwalat nanti. Pikiranku terus melilit dan bertowaf mengitari ruang dan waktu dengan harapan ada titik terang yang menyinari. 

Satu minggu sudah waktu berjalan, saya masih penasaran dengan kabar yang semakin santer diperbincangkan. Saya mencoba memberanikan diri untuk menghadap sang kyai. Saya Ingin menanyakan prihal yang sebenarnya. Dag-dig-dug hati semakin kencang ketika saya berada di depan pintu rumahnya. Entah kenapa rasa takut semakin membesar, padahal saya tak bermaksud salah, saya ingin tahu yang sesungguhnya secara langsung, bukan menurut orang yang masih katanya-katanya. Apalagi ini menyangkut kredibiltas seorang ulama yang menjadi panutan.

Dengan bismillah saya ketuk daun pintu yang masih setia menjaga. Tak lupa aku ucapkan kalimat doa sekaligus keselamatan, dengan harapan sang Maha Pencipta memberikan keselamatan kepada kita semua. Tak perlu mengulang kata thoyyibah itu, daun pintu terbuka. Laki-laki berjenggot pendek yang memutih menyambutku dengan jawaban salam yang dihiasi senyum sumeringah. Wajahnya nampak merona sejalan dengan tingkahnya yang tidak membedakan setiap orang yang datang. Siapa saja yang datang kyai Rahmat selalu menerimanya dengan ramah. “Dia memang kyai yang sejalin dengan namanya, yang mendapat Rahmat Allah” hatiku berucap.

Saya tersentak dan kaget, ketika kyai Rahmat bertutur tentang maksud kedatanganku. Beliau tahu apa yang masih mengendap dalam hati dan pikiranku, padahal saya belum sempat berkata-kata sedikitpun. Saya semakin gagu dan salah tingkah. Jangankan bertanya banyak tentang desas-desus yang berkembang, satu pertanyaan pun terasa berat keluar. Mulutku seperti terkunci.

Kyai Rahmat menyarankan untuk membaca istighfar tiga kali dan aku menurutinya. Alhamdulillah perasaanku berangsur lega dan sedikit ada keberanian untuk mendapatkan sesuatu yang dicari. Lagi-lagi kyai Rahmat mencuri start, mendahului maksudku. Aku yang masih meraba-raba susunan kata yang layak dan pantas untuk diucapkan harus mematung mendengarkan kata-kata dan kalimat-kalimat bijak. Dan saya merasa bersyukur, karena kalimat pak kyai jauh lebih bermakna dari pada kata-kataku yang masih beku.

“Begini ya, nak,” Kyai Rahmat mengawali nasehatnya. “Mata dhohir itu menyimpan fatamorgana, banyak orang yang tertipu dan tersesat dengan mata dhohir, sementara mata bathin menyimpan cahaya dan tidak sedikit orang yang selamat. Bila kita melihat dengan mata dhohir, seperti terhadap wanita-wanita yang kemarin datang, sangat dimungkinkan kita akan terjangkit virus fitnah.” Mendengar tausyiahnya, saya seperti burung tekukur yang sedang pamer suara merdunya, manggut-manggut menikmati indahnya makna.

“Kamu paham, nak?” 

“Dikit, pak kyai,” jawabku agak kaget.

“Ya sedikit-sedikit, nanti lama-lama jadi bukit,” sambil melempar senyum kewibawaan. Saya pun semakin tak berdaya untuk berucap. Kalimat-kalimat yang mengalir dari mulutnya tak satupun yang sia-sia. Sungguh ta’azub dan jarang yang bertutur seperti kyai Rahmat di zaman sekarang ini. Kata-katanya ringan, tidak bertele-tele, namun juga syarat dengan makna.

“Kamu masih penasaran yah dengan wanita-wanita dari kota itu?” Lagi-lagi dia membangunkan lamunanku dengan pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya. Terpaksa hanya anggukan yang dapat kulakukan dan sedikit senyum yang kurang manis, karena malu dan bingung harus berbuat apa lagi.

“Sudah, nggak usah bingung, santai dan sabar saja. Memang benar, kemarin wanita-wanita kota itu datang, mereka adalah para pemuas nafsu lelaki dan suka menjual diri. Mereka datang kemari ingin penglaris, karena menurut mereka sudah banyak saingan dan pelanggan mulai sepi, aku beri mereka wiri dan dan doa,” cerita sang Kyai. Kali ini saya mendapat titik terang tentang tujuan wanita-wanita kota itu. tapi kenapa kyai menerima kedatangan mereka dan…

“Naaak, jangan kotori pikiran dan hati dengan bisikan syetan, karena hal itu akan menjerumuskanmu dalam kehinaan dan kehancuran.” Saya mengerem laju pikiran dan kegundahan rasa hati. saya tertunduk malu dan disarankannya untuk beristighfar lagi. Saya terkena semprotan nasehat yang semakin dalam.   Saya semakin yakin, bahwa kyai Rahmat benar-benar dapat membaca pikiran dan perasaan orang. Saya semakin hati-hati.

Hampir dua jam sudah saya berbincang-bincang dengan kyai Rahmat, banyak hal sudah kudapat. petuah, ilmu dan kesadaran diri, namun masih ada masalah yang menggantung dalam benak saya. Saya masih penasaran untuk mencari jawab, kenapa kyai Rahmat menerima bahkan memberikan wiridan dan do’a-do’a penglaris pada wanita-wanita malam itu. sebenarnya rahasia apa yang disimpan sang kyai itu. Pikiranku membidik hati dalam rasa istifham “Adakah pelajaran yang diujikan pada saya oleh sang kyai?”. Ilmu dan pengetahuan saya seperti bumi dan langit, jauh bahkan jauh sekali. Seribu akal saya gunakan tetap gelap dan buntu.

Saya tersipu malu, ketika saya mendongakkan wajah dan kyai Rahmat pun sedang menatap dan memperhatikan tingkahku yang gundagulana. Jari-Jari tangan kanannya sedang membelai jenggotnya yang tak begitu lebat, mulutnya  nampak aktif berucap, walau tak membagi suaranya. 

“Sebentar lagi, insyaallah kamu akan mendapatkan jawaban dan sekaligus dapat mencairkan kebekuan pada tempurung kepalamu,” ucap kyai Rahmat. Kata-kata itu seperti energi alam yang merasuk dalam tubuh, ibarat tanah kering yang tersiram air. “Inna Allaha Layandzuru ilaa Shuwarikum wa Amwalikum, walakinna Allaha yandzuru ilaa qulubikum wa A’malikum,” lanjut kyai dengan bahasa yang fashih.

Selang beberapa menit, suara mobil nampak memasuki halaman rumah kyai. Saya bertanya dalam hati “siapa tamu yang datang, pejabat atau masyarakat biasa?” Saya terkejut setelah dipersilahkan duduk, lurus dengan posisi saya, ternyata tamu itu dua wanita cantik berbusana muslimah. Wajahnya berseri, penampilannya anggun dengan pakaian yang kelihatan mahal. Parfum yang mampir di hidung terasa adem, seakan sedang menghisap aroma traphy. Saya jadi salah tingkah.

“Bagaimana, laris nggak?” tanya kyai pada kedua wanita itu. 

“Al-hamdulillah pak kyai,” jawabnya kompak

“Syukurlah,” balas kyai singkat dan tak mau melanjutkan atau menyusul dengan pertanyaan berikutnya.

“Insya-Allah pak kyai, saya bulan depan akan menikah dengan laki-laki pilihan saya, mohon doa dan kehadirannya,” ungkap wanita yang berbaju pink sambil menyodorkan kartu undangan.

“Kalau saya, mudah-mudahan tahun depan, pak kyai,” ucap temannya yang satu. Keduanya kelihatan berbunga-bunga dan antusias. Ucapkan terimakasih berulang kali muncul dari bibir mereka.pada kyai. 

Saya menjadi mayat hidup menyaksikan dan mendengar dialog mereka. Saya pikir, lebih baik saya pamitan pulang sebelum benar-benar mati karena menahan rasa bersalah dan malu pada kyai. Saya tinggalkan mereka agar tak nampak pada mata dhohir.

Gerem Raya, 5 Oktober 2013.

TAMAT CERPEN 11.

Ulasan Cerpen 11: Mukti Jayaraksa (“Tamu Sang Kyai”)

Ini merupakan cerpen ketiga dari Mukti Jayaraksa, penulis yang tinggal di Cilegon, Banten. Kali ini Mukti menyajikan tentang seorang kyai yang dikagumi tokoh muda. Dengan latar belakangnya yang banyak bergelut di lingkungan pesantren, tentu tidak sulit bagi Mukti untuk berkisah tentang seorang kyai.
Sang kyai yang kharismatik itu sedang diterpa isu tidak sedap. Itu gara-gara menerima tamu perempuan seksi di malam hari. Isu itu yang membuat tokoh utama cerpen ini berkunjung ke rumah kyai Rahmat untuk menanyakan secara langsung.
Sebenarnya, isu itu jadi kurang kuat sebagai tema. Penulis mestinya berani langsung menuju pada persoalan yang ingin ia sampaikan. Dari situ ia lalu menggiring pembaca untuk turut dalam konflik atau pergulatan masalah yang ada lewat alur atau plot cerita yang enak.
Seorang kyai memberikan wejangan, doa atau restu atas permintaan orang yang membutuhkan pertolongan, siapapun orangnya, sah saja. Jika yang mendapat doa itu perempuan yang dicap nakal karena profesinya, itu juga tak salah. Doa dan wiridan sebagai penglaris untuk mendapatkan “tamu”  lebih banyak.
Seminggu kemudian, kedua perempuan itu datang lagi. Satunya membawa undangan karena mau menikah, satunya tahun depan. Tentu berkat penglaris dari sang kyai, yang ternyata manjur, karena mereka tak hanya dapat “tamu” lebih banyak tapi justeru diajak menikah.
Persoalannya, hal seperti ini mestinya digarap lebih dalam. Bukannya langsung menjadi akhir cerita, dengan rasa bersalah dari tokoh aku.

12.
SELUANG MELAUT

Oleh: Paridah Ishak

MALAM yang damai tenang. Bintang-bintang bergemerlapan di dada langit. Menyinari gelita. Keadaan laut tidak terlalu bergelombang. Angin sentiasa berpuput mulus. Nyaman. Dingin menguliti. Dan terasa hingga ke tulang. Belum lagi alam sekitar membawa monsun Timur Laut yang akan menggelorakan Laut China Selatan ini dan merumitkan penghidupan di pesisir perairannya dengan musim tengkujuh. Pasti akan berkunjung juga tidak lama lagi.

Ketika ini, nelayan-nelayan pantai yang menaiki bot kecil atau perahu dan hanya miliki  peralatan penangkapan ikan yang minimum, tidak berani turun ke laut untuk mengais sedikit rezeki bagi meneruskan kehidupan. Hanya menempuh bahaya sekiranya ingin melakukannya. Para nelayan tentu akan mengambil sikap mementingkan keselamatan diri mereka. Nyawa wajib dijaga. Kehilangannya sudah tentu tiada ganti.

Kini masih di bulan Ogos. Cuacanya tenang  berseri dan metah sesuai berwisata di tempat peranginan di tepi laut. Dan aktiviti nelayan-nelayan berterusan sebagaimana biasa. Di kejauhan kelihatan cahaya bergerak di tengah samudera. Barangkali ada kapal yang sedang belayar merentas lautan. Menuju destinasi entah ke mana.

Jalil berdiri di tepi bot. Memerhati  alam sekeliling yang sunyi. Kedengaran hanya lagu ombak  berdebur menampar bot dan suara enjinnya yang tidak putus. Pengemudi bot fokus mengendalikan operasi pelayaran, tidak mengambil kisah perilaku Jalil. Dia menilai situasi laut yang melengkunginya. Berdasarkan daripada sedikit pengetahuan yang diperolehi tentang kejuruteraan laut yang di pelajarinya di UITM.  Kemudian menyambung pengajian peringkat sarjana di universiti di UK. Pengajian yang mengambil masa agak lama sebelum menamatkannya.

Pelayarannya bersama bot yang dinaiki ini pasti tidak tersasar ke destinasinya kerana tiupan angin yang lembut tidak akan menyebabkan tekanan ombak yang menggelora. Harapannya semoga berterusan situasi begini dan tidak berlaku perubahan cuaca drastik. 

Ketenangan suasananya melekakannya menikmati keindahan laut Cina Selatan yang terbentang dan tidak tercapai hujung pandangannya. Perjalanan yang agak lama namun lancar tanpa aral gangguan akhirnya sampai ke destinasi tujuan. Sebuah pulau indah menyapa pandangannya. Walau malam membungkus panorama sebenar namun pulau Redang ketara jua citranya.

Bot mewah itu sudah tiba di jeti. Injinnya sudah dimatikan. Namun Jalil  masih alpa, termenung seketika. Dia tidak melangkah turun daripada bot lagi. Faez segera mencapai begnya dan beg temannya itu untuk dibawa bersamanya. Jalil tersedar daripada lamunannya yang melayang jauh entah ke mana. Dicapainya begnya daripada genggaman Faez. Langkah Faez dituruti.  Mereka berjalan seiringan justeru arah tujuan adalah sama.

Di hadapannya terpampang papan tanda Resort Sri Palma Pulau Redang. Faez kagum sekali melihat persekitaran resort yang cantik dengan rekaan seni bina chalet yang unik bentuknya walaupun hanya kelihatan samar dan cuma diterangi sinaran lampu jalan. 

Faez mengajak Jalil untuk  terus melangkah mendekati kaunter pertanyaan resort yang masih terang benderang itu. Ada seseorang yang kelihatan mundar-mandir di dalamnya. Seakan-akan sedang menanti kehadiran seseorang. 

Langkah Faez terhenti pabila terasa tangan Jalil menyentuhi bahunya. Dia segera berpaling. Dan menanti buah bicara temannya itu. Hatinya merasa gusar, tidak enak. Apa pula masalah temannya itu lagi.

“Faez!”

“Apa lagi? Bukankah di sini tempat pertemuan kita dengan kawan-kawan sekolah dulu. Kita pun dah buat tempahan. Usahlah kau fikir tentang projek kapal yang sedang kau bina tu. Lupakan dulu. Aku tahulah, kau tu jurutera marin pembina kapal. Kita berehat sekejap di sini. Sambil bertemu kawan-kawan lama kita. Lagipun dah lama kita rancang pertemuan ni. Baru kali ni menjadi. Maklumlah kita kan masing-masing sibuk dengan pelbagai urusan. Setelah sekian lama bekerja, kita berehat pulak. Tubuh kita pun minta haknya untuk dilayani, tau!” Panjang lebar jawapan Faez menjelaskannya walau dia tidak tahu apakah soalan sebenar temannya itu.

“Esok lusa aku ada tugasan untuk menguji beberapa buah bot peronda polis marin yang dibeli dari syarikat tempat aku bekerja. Itu yang dalam kepala aku sentiasa duk mengira ketepatan strukturnya. Kepala aku ni terbayang-bayang setiap pelan yang aku reka. Asyik memikir tentangnya. Aku hanya boleh berharap segalanya tepat dan sempurna.  Bot marin yang disiapkan itu terbaik keadaannya sebelum diserahkan kepada pelanggan penting syarikat kami tu.”

“Insya-Allah. Tiada apa-apa masalah tu. Kau kan profesional.“

“Walau seprofesional mana pun, kesilapan kadang berlaku juga tanpa kita sedari. Kan kita ni manusia biasa saja!”

“Kita sama-sama doakan reka cipta kau terbaik macam selalu. Tak payahlah kau terlalu fikirkan semua tu!”

“Harapanku semoga begitulah hendaknya.”

Senibina kapal dan pengangkutan laut, jurusan pilihannya di UITM  mengajarnya ilmu kejuruteraan maritim. Meliputi teknologi reka bentuk kapal atau objek pengangkutan yang terapung di air. Teknologi pembinaan kapal merupakan bidang tersendiri dan semakin maju. Kejuruteraan Marin berkaitan dengan reka bentuk dan operasi enjin pendorong di atas sesebuah kapal. 

Untuk melakukan pelbagai aktiviti di laut, sungai, dan tasik, manusia telah lama menggunakan pelbagai jenis struktur terapung direka bentuk dan dibina. Ada  yang bersaiz kecil seperti kanu dan bot memancing, juga yang berbentuk raksasa seperti kapal tangki.

Pembinaan kapal, pada mulanya, tidak diasaskan kepada  teknologi sains. Tetapi lebih berdasarkan ketrampilan dan kemahiran pembina bot atau kapal berkenaan. Sejak zaman awal peradaban manusia telah berlaku. Sejarah tamaddun Mesir Kuno, Yunani, dan China telah mencatatnya. al-Quran juga menceritera kisah nabi Nuh alihissalam yang membina bahtera besar untuk menyelamatkan umat yang beriman kepada Allah Yang  Maha Esa daripada bencana banjir.

Dalam riwayat Melayu lama pula, penglipur lara bercerita kisah kapal Merong Maha Wangsa tersadai di gunung Jerai dilanggar burung geroda ketika dalam pelayaran membawa putera Rom yang akan mengahwini puteri China. Kapal   itu telah bertukar menjadi batu kerana disumpah sang kelembai. Batu yang terhampar luas di puncak gunung Jerai dipercayai ialah artifak kapal raja Merong Maha Wangsa. 

Demikian  juga dalam pembinaan kapal-kapal perang dan penjelajah dibina  tamadun Rom, Islam, dan juga kuasa penjajah Inggeris, Sepanyol, Belanda, Portugis, dan Perancis tidak menggunakan ilmu matematik atau kaedah saintifik yang diyakini  masa kini.. 

Pada abad ke-17, saintis dan jurutera mula menerapkan ilmu sains dan matematik kepada reka bentuk kapal. Antara yang terawal ialah Sir Anthony Deane yang menulis buku Doctrine of Naval Architecture pada tahun 1670.  Bidang Senibina Kapal hanya boleh diikuti di luar negara, di niversiti-universiti di Jepun dan United Kingdom. Mulai tahun 1981, Universiti Teknologi Malaysia telah menawarkan kursus di bidang Teknologi Marin yang merangkumi Seni Bina Kapal pada peringkat Ijazah dan Diploma. 

Jalil berpeluang mengikuti kursus yang ditawarlan UITM setelah dia lulus temu duganya. Kini semua ilmu itu telah mengadaptasi dalam dirinya. Lestari  seiring kehidupannya. Terapung objek itu satu persatu dalam layar mindanya. Mereka yang mempunyai kepakaran dalam seni bina kapal ialah arkitek kapal sepertinya. Dia seorang pengamal,  berkarya dengan gigih dalam bidang yang diceburinya demi kemudahan penggunanya. 

“Setahu aku, kau masa kat sekolah dulu, aliran sastera. Tapi peliknya jadi orang sains pula. Hairan juga aku.” Sambil mengatur langkah ke kaunter resort, mereka berbeka perlahan. Memecah kesunyian malam.

“Aku sebenarnya bukan minat sastera pun. Tak pandai langsung berkarya kreatif puisi atau cerpen. Membacanya minat juga. Tapi sebab tak pandai macam kau, ke kelas sasteralah aku. Dulu kan kelas sastera hanya pilihan mereka yang lemah dalam sains dan matematik. Kau pula dari kelas sains tapi jadi orang sastera pula ya. Tapi sains dan sastera itu kehidupan, perlu adaptasi seiringan. Minat dan kemahuan penting untuk mencapainya. Siapa sangka kau kini seorang YB yang sentiasa memikirkan kebajikan rakyat jelata. Aku pun tak mampu buat semua tu. Bukan main tinggi pencapaian kau. Ada rezeki, mana tahu jadi menteri pula. Aku sajalah yang menghabiskan masa dalam kapal di laut saja. Mengais rezeki Allah yang melimpah dalam laut.”

“Tapi rezekinya lumayan, ‘kan?”

“Insya-Allah… bolehlah nak hidup. Tapi tidaklah kaya-raya macam sesetengah kawan-kawan kita.” Faez sangat faham sikap Jalil yang selamba merendah diri itu, hanya menambah kata.

“Ramai kawan-kawan sepersekolahan kita dulu yang hebat sekali pencapaiannya dalam kehidupan mereka. Kau ingat Azmi? Dia kini Pengetua sekolah tempat kita belajar dulu. Sorang lagi kawan baik kau, Tan Sri Asman, kini orang kuat SPR.” Jalil sekadar mengangguk. Dia tidak mengambil tahu sangat perkembangan hidup kawan-kawan sepersekolahannya setelah sekian lama berpisah sebaik usai tingkatan 5… masing-masing membawa diri menurut haluannya. Sama ada menyambung pelajaran, bekerja, atau berkahwin.

“Ya, aku ingat juga Azmi. Dia kan  sekelas dengan kau, Kelas 5 Sains 1. Memang bijak orangnya, layak pun jadi pengetua sekolah. Asman tu kawan sekelas  aku masa kat kampung. Dalam kelas, masa ujian, asyik dia je yang dapat nombor satu. Satu sekolah kenali dia sebagai budak bijak. Aku selalu dapat nombor satu juga. Tapi nombor satu yang paling belakang.” Lelucon Jalil menerbitkan tawa kedua-duanya.

“Cuma aku sorang je  tak hebat pencapaiannya. Hanya seorang pelaut. Bekerja dalam laut. Aku dulu tidak pandai macam kau dan kawan-kawan kita. Lemah sangat dalam akademik. Selalu dapat nombor corot je dalam kelas. Mengenangkannya, malu pula. Segan pula nak bertemu kawan-kawan lama kita yang kebanyakannya berjaya dan sudah kaya-raya semuanya.”

‘Aku dulu PMR (sebelum ditukar PT3) pun tak lulus, Faez. Tapi ayahku usaha masukan ke sekolah swasta hingga aku lulus dan dapat sambung belajar di sekolah kerajaan, bertemu kau dan  kawan-kawan kita. Kata ayahku, pelajaran itu amat penting dalam kehidupan walau hidup kami sentiasa kesukaran. Ayahku bergantung harap kepadaku untuk mengubah corak kehidupan kami yang daif kepada lebih sempurna. Justeru aku anak lelaki dan sulung pula, harapan ayah ibu dan keluarga kepadaku perlu kugalas dengan baik.

Keputusan SPM pun tak berapa bagus. Cuma setakat lulus pangkat 3 saja. Bukan sebabnya kerana aku tidak gigih berusaha. Barangkali nasibku yang tersurat sudah begitu. Tapi ayahku yang cuma tahu tulis baca saja, itu menggalakkan aku mohon masuki mana-mana IPT walau aku tidak yakin akan berjaya. Aku hanya berhasrat hendak mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keupayaanku. Hendak bersandarkan kelayakan akademik yang tidak seberapa itu masakan mungkin. Aku selesa meneruskan kerjaya tani warisan keluargaku sekian lama. Tapi pandangan ayahku berbeza. Luas dan jauh minda ayahku mencongak kira. Akhirnya aku berubah pendirian. Berkat doa ayah ibuku, beginilah aku kini.’ Monolognya bercempera tidak bersambung lagi.

“Wah, merendah diri pula kawan kita ni! Kalau tak disebabkan kau, tak jadi reunion kita ni. Kau yang sumbangkan dana untuk majlis kita. Semua belanjanya kautanggung. Termasuklah sediakan bot untuk pengangkutan kawan-kawan kita ke sini. Kita yang lebih awal ke sini dengan bot persiaran kau yang mewah lagi. Selesa sungguh aku belayar dengan bot mewah kau ni!”

“Eh! Kau salah faham tu. Bot mewah tu bukan aku punya. Aku pinjam je dari syarikat tempat kerja aku tu. Sesekali melaram dengan harta syarikat heh… heh…”

“Iyakah? Cakap kau kadang bukan boleh percaya juga, kau ni jenis orang yang suka pendam rahsia sendiri. Asyik merendah diri saja. Aku kenal sangat kau ni!”

“Sejak bila kau tak percaya aku ni? Kau kan kawan baik aku masa kat sekolah menengah di Kuantan dulu. Kita sebilik di asrama putera.” Kenangan ketika dia bersama Faez dan rakan-rakan seasrama bergentayangan lalu. Manis dan pahitnya dirasai. Abadi dalam kenangan. 

“Yelah tu, kawan baik konon! Tapi aku tak tahu pun kau sambung belajar di UK. Senyap-senyap saja kau ke sana. Mujur ayah kau beritahu aku. Kalau tidak sampai sudah aku tak tahu!” rasa jengkel Faez terluah lirih.

“Buat apalah aku nak hebuh cuma dapat sambung belajar di UK. Mesti  tak ada yang percaya kawan sekolah mereka yang selalu dapat nombor paling belakang setiap kali ujian, belajar di UK bidang kejuruteraan kapal. Nanti dikatanya aku membohong pula. Tak mahulah aku! Biarlah aku dengan cara hidupku tanpa menyusahkan sesiapa.”

Faez menerima sekadarnya alasan yang diberi sahabatnya walau hatinya mungkin sedikit terkilan.

“Maaflah, Faez! Sebenarnya   aku terlupa nak beritahu kau, tika aku nak bertolak. Maklum masa tu kalut nak uruskan semua. Tapi bila dah sampai di sana, aku kirim surat pada kau, kan? Dan sampai kini kita tak pernah putus hubungan.”

Lirih suara Jalil melunakkan penerimaan Faez. Emosinya kembali normal. Dia mulai memahami situasi yang didepani kawannya itu.

“Itulah kan. Kita tak pernah tahu apa-apa pun tentang hidup kita. Tapi Allah mendorong kita ke arah itu. Sebaliknya apa yang kita rancang beriya-iya tidak menjadi. Dan kita hanya tahu mengeluh kesal,” tukas Faez lunak.

“Tapi jangan kau hebuhkan pula pasal tu pada kawan-kawan kita. Aku ikhlas buat semua tu. Tidak salah aku hendak belanja sedikit  pada kawan-kawan kita. Kau sebut saja semua ni kau yang tanggung biayanya. Kau kan orang politik. Orang politik kan banyak duitnya. Lagipun kan YB ada peruntukan meraikan rakyat jelata. Tambah dah nak jelang pilihan raya tak lama lagi. Mesti YB sedang berlumba-lumba buat kebajikan untuk raih sokongan pengundi. Biasanya begitu selalu kan. Rakyat jelata macam aku ni dapatlah merasa sedikit harta negara yang melimpah-ruah banyaknya. Bukan kekayaannya dibolot politikus yang menguruskan fiskal negara. Tidak adillah begitu. Rakyat macam aku ni cuma diberi janji dan harapan saja.”

“Pandailah kau nak mengenakan aku. Duitnya tu ada juga. Tapi  tak banyak sangat. Ekonomi negara kan sedang merudum sekarang ni, belanja keraian pun sikit je yang dibagi. Lainlah kau. Bisnes kau berkembang maju  walau ramai yang perit merasa kesulitan dan hidup seadanya saja. Kalau dah rezeki melimpah tu tidak salah berkongsilah sedikit kan!”

“Jomlah kita cepat ke sana. Pengurus resort nampak mundar-mandir dekat kaunter resort tu, agaknya sedang tunggu kita mendaftar diri.” Jalil menggesa Faez mematikan bicara sahabat itu.

“Kenapalah pula pengurus resort yang nak ambil daftar kita? Kan ada kerani resepsionis pekerjanya. Pengurus pula nak buat kerja gitu!” Faez tersengih. 

“Oh, aku faham! Heh… heh… Kau kan YB. Tak rugi aku berkawan dengan YB ni… Ke mana saja akan dirai. Memudahkan urusan pula.” 

“Yelah tu. Badan aku ni pun dah rasa letih sangat. Rasa tak sabar nak tidur atas tilam, beristirahat.” Tangan Jalil di tariknya. Jalil  terpana kebingungan. Tetapi langkah Faez dituruti juga. Tidak teragak-agak lagi. Malam beransur dini. Cahaya bintang semakin sirna. Jalil dan Faez lena jendera sehingga azan subuh kedengaran dilaungkan dari surau resort.

Pagi yang damai. 

Jalil sudah mempersiap diri sekemas mungkin. Berbaju batik lukisan tangan bercorak rebung dan warna dasarnya hijau pucuk pisang. Begitu juga Faez.  Kedua-duanya kacak bergaya terampilannya walau usia kedua-duanya melebihi separuh abad.

“Jom kita ke jeti menyambut kedatangan kawan-kawan kita. Agaknya mereka dah sampai tu.” 

Seorang demi seorang kawan-kawan yang setuju menghadiri pertemuan itu menuruni bot yang membawa mereka dari tanah besar ke situ. Mereka bersalaman antaranya dan saling bertukar senyum manis. Mungkin juga mereka mengimbau kenangan yang dialami. Wajah lelaki-lelaki seusia dengannya ada yang tidak dikenalinya. Walau suatu ketika dulu mereka adalah rakan sepermainan. Begitu juga dengan kawan-kawannya yang perempuan. 

Jalil terkesima memandang seseorang. Wajah itu sangat dikenalinya. Sentiasa menari-nari di layar mindanya wajah ayu itu. Pujaan hatinya dalam diam suatu ketika dulu. Kejap tersemat dalam memorinya. Langsung tidak terlupakan. 

“Kau ingat Azimah? Dia kan sekelas dengan kau. Suaminya Datuk Rahim,” bisik Faez perlahan, menyapa deria dengar sahabatnya.

“Azimah, mestilah ingat. Kan dia kawan baik aku. Selalu tolong  aku buat kerja sekolah dulu.”

“Datuk Rahim tak ikut sekali ke, Azi?” 

Datin Azimah tersenyum hambar. “Taklah, YB. Datuk ada mesyuarat penting dengan pucuk pimpinan parti di KL.”

“Kau kan orang parti juga, tak kan kau tak tahu,” tukas Jalil kehairanan.

“Manalah aku tahu. Aku parti lain. Datuk Rahim parti lain. Tapi kami berkawan baik. Tak ada masalah apa-apa.” 

“Oh! Begitu kisahnya ya. Yang bergaduh riuh rendah kat dalam tv tu cuma drama swasta saja. Hmm… susah juga nak faham ragam orang politik ni ya. Pening kepala  aku memikirkannya. Mujurlah aku pelaut saja. Aku tidak ada masa hendak bertengkar dengan laut.”

“Kau kerja laut saja, Lil?”

“Ya, Datin. Nelayan laut dalam, cari rezeki hidup. Itu sajalah kepandaian yang ada, Datin!” 

Faiz tersenyum saja mendengar kekata Jalil.

“Tak payahlah nak berdatin-datin dengan saya. Panggil Azi saja. Macamlah tak biasa. Kan kita kawan baik dulu. Selamanya kita akan berkawan baik.” 

‘Nampaknya begitulah, Azi. Selamanya kita akan berkawan baik. Dulu aku pernah berangan sebaik menamatkan pengajian di UK akan pulang melamarmu. Dan membawamu belayar berkeliling dunia bersama bahtera hidup yang sedang kusiapkan pembinaannya sepenuh hati. Taman  hatiku meriah berbunga harum.

‘Tapi sebaik kuberitahu hasrat itu kepada ayah ibuku, mereka tersenyum saja. Katanya, aku dah lama terlambat. Azimah yang ayah ibuku sangat kenali justeru ayahnya pernah menjadi guruku di sekolah kebangsaan dulu, telah  berkahwin dengan seseorang. Tidak kuambil tahu pun siapa pasangannya. Hancur berkecai hatiku kala mendengar khabar itu. 

‘Hanya doa kuiringkan dari jauh agar Azimah dan suamiya kekal berbahagia hingga ke syurga abadi. Namun lama juga hendak kupadam nama Azimah dari lembaran hatiku. Setiap hari menyendiri menatap laut dari terbit mentari hingga senja merah mewarna horizon. Irene hadir menemani sepiku. Aktiviti yang sealiran minat memesrakan hubungan. Sering bertukar kata tentang ceritera laut merawat sedikit demi sedikit kesakitan di jiwaku.’

“Jom kita semua ke meja hidangan. Saya pula selaku tuan rumah ya,” teragak-agak pula Faez menuturkannya.

“Kan YB yang aturkan semua ni. YB-lah tuan rumahya,” sela Datin Azimah.

Faez tersenyum mengerling Jalil. Datin Azimah berpaling ke arah rakan-rakannya mengajak mereka semua mengikutinya ke meja hidangan. Masing-masing berselfi dahulu sebelum menjamah hidangan. Masih tidak puas berselfi untuk merakam kenangan pertemuan mereka.

“Mana cikgu Azmi? Tak nampak pun.”

“Biasalah cikgu, sibuk selalu dengan tugasnya. Itu yang tak dapat datang kot.”

“Azi tu tak berubah wajahnya. Masih secantik dulu.”

“Kau berkenankan kawan kita tu ke? Bolehlah aku cuba tanyakan.”

“Isy, gila kau! Kan dia isteri orang. Nak cari nahas.”

“Kau tak tahu ke, Azi dan suaminya ada masalah rumah tangga? Suaminya buat hubungan dengan wanita lain dan bercadang nak kahwin lagi. Azi tak izinkan dan nak tuntut fasakh.”

“Kau ni tahu saja ya.”

“Mestilah tau. Aku orang politik, mesti ambil tahu mengenai lawannya. Apa lagi kelemahannya.”

“Eh, begitu pulak ya! Tapi kalau aku nakkan Azi, di mana nak kucampakan Irene Aisyah, isteri aku tu?”

“Ke lautlah… heh… heh…”

Mau disamannya aku juta-juta. Ayah isteri aku tu pemilik syarikat tempat aku bekerja, tau? Lagipun tidak mungkin aku melakukannya kerana cintaku melaut kepada isteriku itu. Bidadari yang menemani susah payahku di dunia hingga jannah.”

“Oh, aku tak tahu pun kau ni menantu saudagar besar syarikat kapal terkenal tu!” melopong besar Faez sambil merenung wajah Jalil.

“Jodoh pertemuan Allah mengaturnya, Faez. Aku terima ketentuan-Nya dengan reda.” Jeda malaikat lalu.

“Tapi apa sebenarnya masalah Azi? Hingga hendak meruntuhkan masjid yang sudah lama dibina?”  

“Wah, kau pun excited nak tahu kisah orang ya!”

“Azi tu kawan baik kita. Tentulah aku nak tahu juga kisahnya. Bukan niatku nak menjaga tepi kain orang. Kau jangan salah faham pulak!” Faez tersengih mendengar alasan Jalil hendak mewajarkan cara.

“Apa yang rancak disembang kawan berdua ni?” sela Datin Azimah, tiba-tiba sudah muncul di sisi mereka. Terkedu bicara seketika.

“Tak ada apa, Datin. Saya kan pelaut. Cerita tentang laut saja  seluas lautnya. Tak pernah habis, kan Faez? Kehidupan kita ni seluas laut yang kadangkala tenang dan kadangkala bergelora.”

Faez sekadar terangguk-angguk. Tersengih sedikit.

Glosari

IPT – Institut Pengajian Tinggi

UITM – Universiti Teknologi MARA

UK – United Kingdom

YB – Yang Berhormat

SPM – Sijil Pelajaran Malaysia

PT3 – Pentaksiran Tingkatan 3

TAMAT CERPEN 12.

Ulasan Cerpen 12: Paridah Ishak (“Seluang Melaut”)

Sajian yang cukup menarik dari Paridah Ishak tentang Jalil, lelaki yang rendah hati. Ia sukses dengan pekerjaanya di sebuah perusahaan pelayaran. Kariernya cemerlang.
Reuni kali ini ditanggungnya, dan ia tak mau ada yang tahu soal itu. Bahkan kepada ia ingin agar diakui saja itu hasil sumbangan partai politik sahabatnya itu.
Meski masih terkesan dengan Azimah, temannya yang cantik, yang pernah akan dilamarnya, namun Jalil tak mau larut dalam nostalgia itu. Bahkan mengetahui Azimah sedang menghadapi prahara rumah tangga.
Sosok Jalil menarik ditampilkan oleh penulis. Perjalanan hidupnya bisa menjadi contoh bagus. Ia berjuang dengan dukungan penuh dari orangtuanya, hingga memetik sukses dalam kariernya.
Meski demikian, penulis rasanya bisa mengurangi keterangan tentang pendidikan atau sekolah kelautan yang pernah ditempuh oleh Jalil. Lebih baik jika dialihkan pada perjalanan karier Jalil.

13.
SUATU PETANG DI BAZAR MAKANAN

Oleh: Putraery Ussin

PANAS terik. Jam menunjukkan waktu sekitar pukul 4:30 petang. Cuaca yang terang benderang menghadirkan keindahan yang mempesonakan, namun panas tetap membahang. Kawasan sepanjang 1000 meter berhampiran jalan utama sudah mula hiruk-pikuk. Perkarangan stadium di ibu kota itu menjadi tumpuan pada setiap kali tibanya bulan rahmat ini. Di kiri dan kanan kawasan itu terdapat deretan gerai yang menjual pelbagai jenis makanan tersusun sekata. Pelbagai warna dan rupa membangkitkan nafsu selera. Pendek kata tempat itu dipenuhi dengan pelbagai aneka hidangan serta terselit juga barang-barangan.

Rata-rata pengunjung seolah-olah berlumba-lumba untuk memborong. Jika terdaya memenuhi setiap jari dengan beg barangan. Barangkali biar alah membeli, menang berhidang kelak pada waktu berbuka datang. Akad jual beli diabaikan sahaja dalam urusan yang kalut-malut itu. Namun, jika ada yang menyebut akad pasti ada yang menyambutnya seolah-olah sambil lewa. Kemeriahan terpampang di kawasan yang pada ketika bulan lain langsung tidak dipedulikan. Hanya dipenuhi dengan gagak-gagak yang berkeliaran mengharap makanan yang dibuang dalam tong yang kurik dan hitam berenga.

Pun begitu, pada celah-celah kawasan gerai yang sempit itu tersorok juga beberapa kerat tubuh badan yang hanya menunggu habuan untuk diberikan orang. Ada yang berdiri tegak memegang kotak dengan pelbagai gambar dan tulisan yang meminta-minta untuk pelbagai tujuan agar mendapat jalan mudah di alam barzakh sana. Ada juga yang cuma duduk mengharap ihsan dihulurkan pemberian sambil mata memerhati setiap pengunjung yang melintas. Begitu juga penjual tisu yang tiada penglihatan menagih simpati jualan lumayan yang dipimpin oleh seseorang yang cergas bergaya. Mereka tidak berteduh dalam khemah seperti peniaga. Sebaliknya hanya menumpang redup pada pokok-pokok di persekitaran. Terus mengharap simpati dengan cara yang mudah untuk dimengerti.

Beberapa batang pokok yang tinggi merendang di tapak letak kereta itu masih tidak mampu memberi teduh kepada pengunjung. Peluh meleleh-leleh dicelah-celah badan. Barang kali ketinggian pokok-pokok itu masih tidak dapat menandingi bangunan-bangunan pencakar langit di sekelilingnya iaitu rumah bertingkat-tingkat melayut tinggi. Dahulu kala pastinya tiada tandingan yang lebih tinggi daripada pokok-pokok di hutan. Semuanya kini sudah berubah. Jika ada yang boleh melepasi pasak alam itu pun barangkali burung-burung yang berterbangan.

Terdapat taman dan tasik bersebelahan dengan bazar. Burung-burung

menjadikan kawasan itu tempat untuk berteduh dan berlindung kerana kawasan sudah bertukar tangan. Begitu juga dengan unggas dan binatang-binatang lain yang menjadikan taman untuk menumpang redup. Kelihatan beberapa orang pengunjung taman tasik sedang berlari-lari riang. Tiba-tiba terkejut lalu membuka langkah panjang apabila bertembung dengan sekawan anjing liar yang menyalak garang. Gamat seketika persekitaran. Ramai yang memerhati dan mengelak kerana kebimbangan. Sama-sama ketakutan dan terkejut sakan. Lantas anjing-anjing menyelinap ke dalam semak. Manakala orang ramai terus berkeliaran.

Pengunjung yang hendak ke bazar tidak mempedulikan drama lolongan anjing yang sudah hilang. Mereka melangkah laju mengheret anak-anak menuju gerai-gerai jualan yang berderetan di kiri dan kanan sepanjang tempat parkir stadium. Pelbagai juadah yang dijual menggiurkan. Aroma ayam yang dibakar, wap nasi dan bau lauk-pauk memauk deria membuka selera untuk memborong semampu daya memenuhi jari tangan yang ada.

“Nak makan itu!” Sungguh-sungguh meminta.

“Tak boleh….” Bersahaja menolak permintaan tersebut. 

Angguk memahami. Namun, masih mengharap agar ada simpati untuk menjamah segala hidangan yang ternganga dipamerkan di situ. Lalat-lalat tak perlu meminta untuk merasa. Ah, usah kira pasai kebersihan lagi! Tiada yang peduli. Nafsu lapar yang lebih menguasai diri. Itu yang perlu didahului untuk diisi. Lagipun puasa yang berusia sehari harus dinikmati dengan juadah yang diingini.

“Nak yang itu!” Meminta lagi.

“Jangan….” Tegahan itu diulangi lagi. Nadanya masih sama.

Harapannya masih menggunung tinggi melihat aneka jenis kuih-muih di meja. Eh, masih ada ke gunung yang tinggi? Jika adapun tentu sudah terpacak bangunan-bangunan yang lebih tinggi lagi daripada tanah bukit itu. Manusia pasti hendak menakluki dan menguasai segala banjaran dan hutan. Jika boleh semua ruang hendak dijajah. Yang tidak tercapai barangkali harapan tingginya untuk menjamah pelbagai aneka juadah.

“Eh eh, sedapnya yang itu… bolehlah!” 

“Hmmm nanti dulu.” Tetap menghalang agar tidak terus meluru. Pengunjung semakin ramai berkerumun. Bersesak-sesak-sesak seperti lalat menghurungi bangkai yang besar.

Kelihatan barisan pembeli yang panjang sedang beratur untuk menunggu habuan mendapatkan makanan. Walaupun panas sambil berkipas-kipas tetap menanti giliran.

Di gerai jualan yang tiada pelanggan terdengar suara penjual memekik untuk menjaja jualan. Semakin nyaring untuk menarik perhatian dan menenggelamkan semua kicauan burung dan hingar-bingar lain. Bingit bunyi enjin mesin yang memutar batang tebu juga diatasi oleh jeritannya. Kelihatan sangat bertenaga dan gembira penjual itu melaung-laung mengharapkan barang niaganya menjadi pilihan. Bulan Ramadan bukan penghalang untuk dia tiada tenaga dan bersemangat luar biasa.

“Alah, kalau semua tak boleh yang di longgok di sana itu, bolehlah kan?” Merayu lagi. Suaranya mendayu penuh pengharapan.

“His, tunggu clear dulu lah. Nanti susah.” Sudah hadir simpati. Yalah, lapar kot! Dia juga sudah kelaparan.

Keadaan masih hiruk-pikuk. Sesak yang bukan main-main lagi. Setiap sudut dari pandangan mata mereka jelas seolah-olah tiada ruang. Semuanya sendat-sendat berjalan sambil berhati-hati melangkah. Banyak sampah sarap yang bergelimpangan. Di jalan utama, kenderaan berderetan sepanjang laluan. Setiap ruang yang lapang terus diisi. Sungguh-sungguh meriah keramaian pada petang itu. Hari pertama pada bulan mulia yang ditunggu-tunggu oleh semua orang.

Kini senja sudah lama mengesot pergi. Suara azan yang menandakan waktu untuk berbuka juga sudah lama berlalu. Mereka masih menunggu peluang. Tidak boleh membuta tuli untuk menyerbu. Walaupun semua itu hanya sisa, namun pada mereka itu adalah harta berharga. Rezeki menimbun yang hanya sekali dalam setahun. Melimpah ruah untuk mereka. Sepanjang bulan rahmat ini agak mewah, namun perlu tunggu semua gerai di kawasan itu lengang dan ditinggalkan barulah mereka peroleh laba. Semuanya dilonggokkan di kawasan itu begitu sahaja.

Beberapa ekor lagi burung sudah menyinggahi di dahan yang paling rendah. Sudah meriah dengan bunyi-bunyian untuk menyambut senja. Anjing dan kucing yang berkeliaran juga mula menghampiri menanti peluang untuk menikmati rezeki yang sekali-sekali sahaja sebegitu mewah. Senja menghampiri gelap malam. 

Bam… Bam…. Ibu gagak hanya memikirkan tentang dirinya untuk lekas-lekas terbang jauh. Anaknya sudah berguguran ke tanah atas longgokan sisa-sisa makanan yang diidamkan.

“Huh, bulan puasa pun ada lagi gagak-gagak ini… pengotor!” 

Bangkai burung itu dihumban ke tempat longgokan sampah sarap. Beberapa ekor anjing liar yang kesik sebentar tadi keluar kembali untuk menyelongkar segala makanan yang dibuang. Pasukan penembak itu hanya memerhati anjing tersebut. Kemudian mereka berkereta berlalu pergi.

TAMAT CERPEN 13.

Ulasan Cerpen 13: Putraery Ussin (“Suatu Petang di Bazar Makanan”)

Putraery kembali mampu menampilkan suasana yang diinginkannya lewat cerpen ini. Hari pertama Ramadhan yang menjadi peluang bagi pedagang, sedang untuk warga merupakan kesempatan menikmati bazar makanan di stadion itu.
Namun penulis tak hanya menggambarkan suasana bazar makanan, tapi juga tentang sekitar stadion itu. Seperti membuka luka pada pemerintah setempat, tak hanya di Malaysia tapi juga di negara lain, tentang pemeliharaan stadion.
Bangunan megah, yang menelan biaya besar, tapi hanya ramai saat berlangsung pertandingan sepakbola, atau even lain. Jika tidak, sepi yang ada. Ruang dan sudut di luar stadion tak terpelihara, dan semak pun tumbuh subur.
Di tempat seperti itulah bazar makanan sering diadakan, seperti halnya lomba atau pameran lainnya. Kemeriahan sesaat, yang lebih banyak kesepian menghampiri.
Perubahan jaman pun juga menjadi kenyataan yang harus diterima. Pepohonan tak lagi cukup melindungi dari panas matahari, kalah tinggi dengan bangunan bertingkat.

14.
SI TUKANG GUNTING

Oleh: Roslie Sidik

Aku akan menceritakan apa yang aku tahu. Aku dilahirkan di pulau ini. Emakku juga dilahirkan di pulau ini. Begitu juga dengan emak dan ayah kepada emakku. Aku adalah sebahagian daripada tempat ini. Hidupku sebati di lembah dengan pokok-pokok liar yang menjalar dan mergastua yang berkeliaran di hutan.
Siapa yang tidak mengenali tentang lelaki yang ingin kuceritakan ini. Budak-budak kampung separuh memujanya. Pondok miliknya sentiasa penuh dengan tetamu seperti tongkang yang sarat muatan. Anak-anak hingusan teringinkan rambut mereka diberikan sentuhan saktinya. Padahal, gunting yang dimilikinya sama sahaja seperti gunting-gunting lain. Pisau cukur yang digunakannya juga sama sahaja dan tiada sedikitpun berbeza. Namun, dia mampu merubah rambut yang potongannya biasa-biasa sampai menjadi luar biasa. Wajah mereka yang jelik akan tetap jelik. Namun, rambut mereka yang jelik akan berubah menjadi menawan di tangannya.
Duit sentiasa berkepul-kepul dalam koceknya. Namun, duit-duitnya seolah-olah bercempera lari meninggalkan kantungnya. Dia tidak berpantang dalam berbelanja. Dia memiliki kuda hitam yang termahal di kampungnya. Dia sanggup berbelanja besar untuk mempamerkan kejayaannya. Tiada seorang pun yang berani bersaing dengannya. Anak-anak kampung dari lembah gunung sampai ke muara sungai semuanya datang bertamu untuk mendapatkan khidmatnya, Si Tukang Gunting, orang terkaya di kampung itu.
Suatu hari, datanglah seorang anak muda dari tanah besar yang mahukan rambutnya digunting dan dihias oleh Tukang Gunting itu. Setelah keluar dari pondok rumahnya, anak muda itu begitu gembira melihat mahkota di kepalanya telah dihias begitu rapi. Dia menghadiahkan kepadanya sekantung duit emas sebagai upah kerana terlalu gembira.
Selang beberapa hari, sesuatu yang aneh berlaku dalam kalangan anak-anak kampung itu. Tiba-tiba, mereka mendapati rambut mereka mula rontok satu per satu menelanjangi kepala mereka. Mereka meninggalkan jejak dengan rambut-rambut mereka yang gugur ke bumi.
“Apakah terjadi pada rambut kami?” tanya anak-anak muda itu kepada Tukang Gunting.
Tukang Gunting hanya mendiamkan diri. Dia hanya seorang tukang gunting rambut bukan seorang perawat atau tukang telek. Seumur hidupnya juga, dia belum pernah menyaksikan kejadian sepelik itu. Mula-mula, hanya seorang dua yang mengalami keguguran rambut. Namun, lama-kelamaan semakin ramai yang mulai gondol. Anehnya, hanya kaum lelaki sahaja yang mengalami musibah itu.
“Apakah yang harus kita lakukan sekarang?” tanya anak muda itu lagi.
Rambut yang menjadi kebanggaan mereka telah gugur sepenuhnya. Wajah mereka yang jelik menjadi bertambah jelik. Pemimpin-pemimpin kampung berkumpul untuk mencari jalan. Mereka berasa kebingungan.
“Kita harus segera bertindak. Kepala kita harus ditutup dengan kain. Mereka yang sudah gondol kepalanya harus diasingkan,” kata salah seorang pemimpin kampung itu.
Pemimpin itu mendapat idea apabila terpandang pada pokok buah nangka di hadapannya. Buah nangka yang masih kecil itu dibungkus dengan karung agar tidak bisa disentuh oleh lalat buah. Nangka yang masih muda akan dihinggapi lalat buah. Kemudian lalat itu akan bertelur di kulit nangka, dan menetaskan ulat-ulat yang siap mengerobek isi nangka sampai membusuk. Kain di kepala mereka akan bertindak seperti karung nangka, melindunginya dari apa yang membahayakan dari luar.
Mulai saat itu, semua warga lelaki melilit kepala mereka dengan kain. Si kaya melilitnya dengan kain sutera. Si miskin tercari-cari perca kain untuk melilit kepala masing-masing. Yang sudah gondol kepalanya diasingkan jauh di tengah hutan. Semenjak mereka dipulaukan ke sana, hanya segelintir orang kampung yang cakna makan minum mereka. Yang lainnya hanya memikirkan keadaan diri mereka sendiri. Mereka terlalu sibuk memikirkan bagaimana mahkota di kepala mereka harus dipertahankan dengan cara apa pun.
Anehnya, ada sekumpulan warga kecil yang bersikap hidung tinggi dan enggan sama sekali melilit kepala mereka dengan kain. Mereka mengakui mereka warga yang suci bersih. Musibah ini hanya berlaku kepada warga yang tidak bersih. Hari demi hari berlalu, satu persatu warga dari kumpulan itu mulai keguguran rambut. Kepala mereka menjadi botak licin dan menampakkan kejelikan wajah mereka. Kumpulan ini juga akhirnya disingkirkan ke tengah hutan.
“Sampai bilakah harus kepala kita terus dibungkus macam nangka busuk?” tanya Tukang Gunting itu.
Ramai warga yang mulai hilang sabar. Yang paling hilang sabar dan seperti cacing kepanasan adalah Tukang Gunting itu sendiri. Hampir sembilan purnama, tiada seorang pun yang bertandang ke pondoknya. Tiada sesiapa yang berani rambut mereka digunting. Tiada sesiapa yang berani membuka lilitan di kepala mereka. Gunung yang tinggi juga akan runtuh jika setiap hari digali. Wangnya telah habis dan kuda hitamnya juga telah tergadai.
Tukang Gunting tidak sabar menunggu. Dia harus melakukan sesuatu. Membungkus kepala mereka dengan kain hanya sekadar mencegah tetapi tidak menyelesaikan punca masalah mereka. Dia bertekad ingin ke seberang tanah besar. Mungkin warga di sana dapat membantu. Kain di kepala mereka juga telah lusuh. Seandainya, kain itu mula berlubang pasti kepala mereka akan terdedah dengan bahaya. Kampung mereka sudah kehabisan kain sehinggakan ada yang melilit kepala mereka dengan baju mereka.
Dengan hanya berbekalkan wang hasil jualan kudanya, si Tukang Gunting bertolak ke tanah seberang. Alangkah terperanjatnya apabila dia mendapati perkara yang sama telah terjadi pada warga di tanah besar. Ramai lelaki yang ditemuinya berwajah muram kerana kepala mereka botak licin umpama bulan yang bersinar di malam hari.
Si Tukang Gunting berlari berjumpa dengan Ketua kampung di situ. Dia menceritakan segala-galanya yang telah berlaku dan musibah yang menimpa kampungnya.
“Anak-anak kampung kamu melilit kepala mereka dengan kain?” tanya Ketua kampung itu seperti tidak meyakini apa yang baharu disampaikan kepadanya.
“Ya, hanya dengan melakukan perkara itu, masalah itu tidak akan menular,” terang Tukang Gunting itu.
Tukang Gunting itu bercerita bagaimana salah seorang pemimpin kampungnya mendapat idea apabila terpandang pada buah nangka yang dibungkus dengan karung untuk melindungi daripada diserang lalat buah.
“Arahkan semua anak muda menutup kepala mereka dengan kain,” kata Ketua kampung itu.
Dengan serta-merta, masalah itu berhenti menular dan ramai warga yang terselamat. Warga di tanah besar begitu gembira dan menghadiahkan Tukang Gunting beberapa papan kain yang cukup untuk digunakan anak-anak muda di kampungnya.
Tukang Gunting pulang terkinja-kinja. Dia tidak membawa pulang sebarang penyelesaian untuk masalah yang dideritai anak muda di kampungnya. Namun, sekurang-kurangnya, dia pulang dengan membawa kain yang sangat diperlukan oleh mereka.
Walaupun dia kini tidak berharta, dia memberikan kain-kain itu secara percuma. Dalam hatinya berdetik, kadang-kadang kita harus membuang wang untuk mendapatkan wang.
Dia yakin musibah itu akan akhirnya selesai. Dia tersenyum dan sekadar membayangkan bagaimana nanti dia pasti akan menjadi kaya apabila semua warga sekali lagi bakal datang mencarinya untuk menggunting rambut mereka.
Ya, begitulah ceritaku tentang jatuh dan bangunnya seorang Tukang Gunting. Yang aku dengar sampai sekarang, anak-anak muda di situ masih terus melilit kepala mereka dengan kain dan dari jauh kelihatan seiras macam nangka dalam karung.

TAMAT CERPEN 14.

Ulasan Cerpen 14: Roslie Sidik (“Si Tukang Gunting”)

Sebuah peristiwa telah terbentuk. Warga di sebuah pulau mengalami kerontokan rambut secara massal, dan anehnya itu menimpa kaum lelaki saja.
Di sana, ada Tukang Gunting yang tekenal karena kehebatannya untuk mengubah rambut seseorang menjadi luar biasa. Keahlian yang membuatnya menjadi kaya.
Semestinya peristiwa yang telah tercipta akan menciptakan penokohan. Melahirkan seorang tokoh yang dideskripsikan oleh penulis dengan baik, termasuk bagaimana karakternya, sehingga mempengaruhi pembacanya seolah tokoh itu nyata adanya.
Dalam cerpen karya Roslie Sidik tokoh itu semestinya ada pada Tukang Gunting. Namun dalam alur cerita yang tersaji tokoh itu tidak menjadi sentral atau utama. Tak terlihat bagaimana ia menyikapi situasi di sekitarnya. Ketika ia pergi ke seberang pulau, ia hanya ingin mencari kain untuk warganya.
Ketika ia pulang membawa kain, yang terlintas dalam pikirannya adalah warga yang sembuh dari musibah kerontokan rambutnya akan kembali padanya. Artinya, kantongnya Kembali tebal karena pisau dan alat cukurnya Kembali beraksi untuk mendatangkan duit banyak.
Tak ada pahlawan di situ, tokoh penyelamat. Kehidupan tetap berubah, wabah tak juga berlalu. Kepasrahan yang pahit, tapi tetap tak disadari oleh Tukang Gunting.
Jika kain yang dibawa dari seberang pulau habis, sedang wabah belum tertangani, apakah ia bisa terus berharap pelanggan lama, juga baru, akan menempati kursi untuk dicukur rambutnya?.
Bagaimanapun tema yang disajikan penulis dalam cerpen ini menarik. Tinggal perlu dieksplorasi lagi, seperti peristiwa, tokoh dan lainnya.

15.
PATOS

Oleh: Rosnidar Ain

Batu belah, batu bertangkup
Tangkuplah aku, telanlah aku
Aku kempunan telur tembakul
.

KENAPAKAH Mak Melur merajuk sesungguh hatinya hingga tergamak meninggalkan anak-anaknya yatim piatu dengan masuk ke dalam batu belah batu bertangkup? Tidak terfikirkah bahawa dengan kematiannya, anak-anaknya bakal hilang tempat bergantung sementelah suaminya juga telah meninggal dunia akibat keluar pada hari ribut untuk menangkap ikan

yang diidam-idamkannya? Kenapa Mak Melur tergamak? Kenapa sampai begitu sekali? Sungguh sampai hati Mak Melur meninggalkan anaknya yang masih menyusu.

Aku melihat jam di tangan. Sudah 4.40 petang. Ada berbaki masa 20 minit ke pukul lima. Papan kekunci kuketik-ketik biar laju sedikit. Ikut hati, aku ingin menyudahkan penulisan artikel ini, hari ini juga. Paling tidak, pukul 5.30 petang aku perlu berhenti mengetik. Jika sampai jam enam, tidaklah aku rasa bersalah kepada Teacher Ana. Jika tiba hampir pukul tujuh, Teacher Ana sudah siap-siap berjaket dan kelihatan tidak sabar-sabar hendak pulang. Kadang-kadang pada hari Jumaat, Teacher Ana hendak pulang ke kampungnya di Perak dengan menunggang motosikal. Jika malam aku sampai, lewatlah pula Teacher Ana sampai ke kampungnya.

Telefon tangan berdering. Tertera suami.

“Saya balik lambat malam ini ya. Jangan beli makanan lebih. Nanti membazir pula.” Pesannya.

“Ok.”

Kututup suiz pendingin hawa dan lampu bilik apabila jam pada jarum 5.45.

“Sudah mahu pulang ya, Dr. Ros?” Dr. Wen yang kupanggil Ah Wen menegurku sambil memulas kunci pada lubang kunci pintu biliknya.

“Ya, Ah Wen. Mahu ambil anak. Belum balik lagi ya?”

“Ya, mahu sambung kerja sikit lagi. Malam sikit saya balik. Balik masak ya?”

Aku tersenyum sedikit. Pertanyaan yang memerlukan penjelasan yang lebih dalam pada masa yang singkat ini.

“Tak. Saya tapau saja. Selalu pun tapau saja.”

“Oh. Begitu.” Dr. Wen mengangguk-angguk.

“Dah tak ada orang ni. Berani ke tinggal seorang-seorang?” Aku cuba mengusik.

“Tak mengapa. Saya ok. Di sana Prof. Nurul masih ada. Dia selalu pulang lewat.”

Aku mengangguk kepada Dr. Wen dan beredar sambil merangka makanan apa yang perlu dibeli petang ini sebagai makan malam. Kadang-kala mati kutu aku dibuatnya.

2

BENARLAH apabila sampai di pintu taska, Teacher Ana telah siap-siap berjaket hitamnya. Tiada anak asuhan lain selain Achmad dan Emir. Muka Achmad sudah mencuka apabila aku sampai di sana pada jam 6.45.

“Kenapa lambat, ma?”

“Kerja banyaklah.”

Emir menjerit-jerit di belakang mahukan aiskrim di kedai biasa.

“Achmad tak mahu aiskrim.”

“Tak mahu tak apa. Kita beli untuk Emir sahaja.”

Achmad mencuka lagi. Tangannya meraba telefon tanganku yang kuletakkan di sebelah.

“Jangan main telefon bila hari bersekolah, ya!”

“Achmad nak telefon ayah.”

“Kenapa?”

“Nak minta ayah beli kad Boboiboy di Seven Eleven.”

“Ayah balik lambat, kan?”

Achmad mencuka lagi.

Dia cuba menekan punat lain di telefon. Aku menunjukkan isyarat mata. Dia meletakkan semula telefon tangan di dalam beg tangan yang aku letak di sisi. Jenuh kalau hari-hari main telefon sahaja. Bila pula hendak belajarnya?

Rumah dalam keadaan berjempalitan apabila pintu hadapan dibuka. Baju pagi tadi yang bertaburan di lantai sangat tidak menyenangkan mata. Berselepuk di sana, berselepuk di sini, Semua baju itu kukutip dan timbunkan dengan baju yang belum berbasuh di belakang. Dalam mesin basuh masih berbumbun belum dikeringkan atau tidak sempat dikeringkan kerana dimesin sebelum keluar pagi tadi. Entah mana datangnya baju banyak-banyak sehingga tidak habis-habis dibasuh. Basuh, ada lagi. Basuh, ada lagi. Dalam rumah ada lima orang sahaja. Bukan banyak mana, pun. Baju sahaja ada macam-macam kerja. Pertama, kutip dan kumpul, Kedua, mesin dan basuh. Ketiga, kering dan jemur. Keempat, lipat dan gantung. Kelima, susun. Keenam sebagai tambahan, seterika. Itu tentang baju. Tentang lain-lain, banyak lagi.

“Ma, nak susu!” Emir menyua botol susunya minta dibancuh. Entah bila hendak alah susunya ini. Sudah lima tahun masih berbotol lagi. Letih beli susu. Letih bancuh susu. Makan tidak hendak. Susu sahaja. Kalau dibuang botolnya, satu hari meraung. Kalau tidak bawa susunya ketika hendak berjalan-jalan, dia minta patah ambil semula. Letih mendengar, ikut

sahajalah. Sampai masa macam Achmad nanti, dia berhenti sendiri.

“Ma, lapar ni! Keropok ada lagi?”

“Sudah jangan makan itu. Makan nasi dulu. Itu makanan sampah, tahu?”

“Kenapa ma beli kalau sampah?”

“Achmad yang ambil sendiri di pasaraya, kan? Ingat?”

Dia tersengih-sengih. Laporan daripada WHO mendapati 17.7% kanak-kanak dan remaja di Malaysia berusia 5 hingga 19 tahun mengalami masalah pertumbuhan terbantut. Menurut laporan lain yang sudah lupa daripada mana aku baca, satu pertiga daripada keluarga di Malaysia, kekurangan nutrisi penting. Ini bukan dikelaskan kepada keluarga miskin yang kekurangan makanan sahaja, tahu. Ini termasuk keluarga yang berkemampuan. Aku bimbang anak aku termasuk dalam golongan ini jika dilihat dari tubuh badan mereka yang keding-keding dan berat mereka yang kurang daripada sepupu perempuan mereka yang sebaya akibat selalu makan jajan.

“Jom kita ambil adik dulu sebelum makan.”

Masing-masing berlari keluar rumah mengambil basikal masing-masing. Mungkin membonceng basikal ke rumah Tok Cik adalah perkara yang paling menyeronokkan bagi mereka apabila pulang dari taska. Itulah tempat paling jauh mereka mampu pergi dengan bebas berbasikal.

3

SELESAI membasuh pinggan mangkuk, mengeringkan separuh baju sementara baju yang lain sedang dimesin, menyapu ruang tamu dan ruang dapur, bilik pula sudah berselerak semula oleh mereka tiga beradik. Setiap hari mereka akan main khemah-khemah dan conteng-conteng dinding hingga dinding itu jadi mural yang berseni dan punya jalan cerita. Dulu semasa kecil, aku pun sering juga dibantai emak kerana daun pisangnya habis dicantas untuk dibuat pondok. Tiba giliran anak, marah pula. Genetiknya begitu, jadi begitulah.

Kerja tidak akan pernah selesai di situ. Selesai yang ini, yang lain pula menunggu. Beg sekolah Achmad perlu dikemaskan dan ikut jadual sekolah. Budak darjah satu belum bijak. Jika diminta kemas, semua buku dimasukkan ke dalam beg. Badan yang keding jadi kecil benar bila menggendong beg sekolah yang besar. Beg Emir kurang sedikit kerana bertukar baju sahaja. Pergi tadika main-main dan belajar sedikit. Ehsan pula tiada beg kerana awal-awal lagi aku tinggalkan keperluannya di rumah pengasuh. Jangan minta ayahnya kemas, kerana beg dan baju akan sentiasa tidak cukup dan bertukar tuan.

“Bila ayah nak balik?” Achmad tidak jemu lagi bertanya. Tadi sudah bertanya.

“Masuk tidur dulu. Bukankah hari-hari ayah lambat balik?”

“Tak mengantuk macam mana nak tidur?”

4

SAYUP-SAYUP jam loceng berbunyi dari telefon. Rupanya sudah jatuh ditendang Achmad. Atas badan terasa berat kerana Ehsan menelangkupkan badannya untuk menyusu. Perlahan-lahan badannya kualih bimbang dia tersedar susunya ditarik. Jika tersedar dia mahu menyusu lagi sebagai peneman tidur. Jam penggera masih berteriak. Sudah pukul 6.00 pagi nampaknya. Mata masih berat kerana semalam tidur lewat juga berjaga menulis. Artikel semalam belum lagi selesai dan hari ini telah mula kuliah dengan subjek yang sebelum ini belum pernah mengajar. Cadangnya hendak bangun pukul 4.00 untuk menyiapkan slaid. Tetapi jam 3.00 baru masuk ke bilik tidur, tentu agak mustahil akal akan berfungsi dengan waras. Ketika bangun membuka lampu ruang tamu, bunyi pintu sedang dibuka kuncinya.

“Awak dah bangun? Nanti saya hantarkan Achmad. Saya mahu tidur sekejap. Kejutkan saya ya.” Sapa ayahnya ketika masuk ke rumah dan apabila melihat aku mengambil tuala menuju ke bilik air.

Sesudah Achmad bangun dan selesai solat subuh, aku minta Achmad lekas supaya tidak lambat lagi ke sekolah. Hari-hari sampai, pintu pagar sudah tutup. Kena masuk ikut pintu pagar hadapan. Balik menghantar Achmad nanti, perlu uruskan yang berdua itu pula ke taska dan ke rumah pengasuh sebelum ke tempat kerja. Ayahnya tentu tidak mampu lagi membuka mata menguruskan mereka. Harapnya Ehsan tidak terjaga minta susu dan Emir tidak menangis minta susu botol dan mahu dipeluk apabila ditinggalkan.

5

“ROS, tolong hantar segera ya. Mereka mahu tahu penerbitan bahagian kita untuk tahun ini.”

“Baik.”

“Berapa ada?”

“Tak banyak. Ada lima sahaja. Tetapi satu sahaja yang berindeks.”

“Oklah. Tahun depan kena terus fokus ya.” Dr. Musa mengingatkan. Lebih tepat, memberi amaran.

“Tahun depan saya berpantang lagi!” Aku berseloroh.

“Haha. Berpantang atau tidak, KPI tetap jalan!” Ya. KPI tetap jalan. Anak bukan Alasan.

Pintu di luar diketuk dengan lenggok bunyi yang aku sudah cam.

“Eh, jangan lupa kita ada mesyuarat Khamis ini ya. Kau kena siapkan modul.” Zarina menjengulkan muka setelah kubuka pintu.

“Aku tengah siapkan ni. Entah sempat atau tidak. Lagi dua hari.”

“Aku lagi banyak kerja tau! Lagi banyak benda nak kena siapkan. Mesyuarat hari-hari.”

“Sudah engkau pengerusi, apa nak buat?”

“Nanti giliran engkaulah pula. Tahulah engkau nanti sibuknya macam mana.”

“Nanti aku tahulah. Sekarang aku belum sibuk macam engkau.” Aku ketawa-ketawa.

6

SEORANG guru mati lemas dikatakan telah membunuh diri. Dia dikecam tiada iman, lupa agama, lupa Tuhan. Seraya aku terkenangkan Mak Melur yang masuk ke dalam batu. Mungkin Mak Melur juga kehilangan iman apabila menyeru batu itu menelannya. Iman. Iman sukar dijaga.

“Ehsan belum mahu tidur agaknya, ya?” Dia memutuskan kekhusyukanku membaca ketika tangannya mengocak-ngocakkan buaian besi.

“Kenapa?”

“Dok menggeliang-geliut ni.”

“Tak mahu tidurlah tu. Turunkan saja.”

Aku sambung tatap telefon di tangan. Bila suamiku menghayun buaian anak, dapatlah aku berehat sekejap sambil melayan baca tulisan-tulisan di Facebook. Bila dia pulang awal, terasa lega benar, aku.

“Apa yang awak baca?”

“Hmm…” Aku kerling kepadanya.

“Awak tentu dah baca cerita guru yang lemas tu. Rupa-rupanya ada cerita di sebaliknya.”

“Apanya?”

“Bersangkutan juga dengan sikap suaminya.”

“Kenapa pula?”

“Dakwa seorang netizen yang kenal dengannya, suami guru itu jenis yang kurang pedulikan perasaan isteri. Jika dia ada masalah, suaminya akan kata, semak semula imanmu. Semak apa yang dah kau buat sehingga menerima balasan daripada Allah.”

“Hmm…”

“Ada anak yang ramai, dia uruskan sendiri kerana suaminya bekerja di tempat lain. Sehinggalah suatu hari dia tidak mampu bekerja dan menguruskan rumah tangga lagi, keluarganya bawa pulang untuk berubat dan akhirnya dijumpai mati lemas.”

“Hmm… macam itukah?”

“Dia mati tidak ada imankah?”

“Saya pun tak tahu.”

Iman perlulah bersatu dengan akal.

“Hujung minggu ini saya kerja ya. Kalau awak mahu pulang ke kampung, saya hantarkan. Nanti saya ambil macam biasa.” Ayahnya menyambung ke topik yang lain setelah menurunkan anak dari buaian.

“Tak cuti?”

“Saya kena siapkan kertas siasatan. Sekarang ada berpuluh-puluh yang belum selesai. Hari-hari ada tangkapan. Bos pula mahu segera.”

“Awak janji sekarang giliran saya tumpukan kerja, kan? Empat tahun awak di Kuala Lumpur. Saya di sini dengan anak-anak.”

“Ya, saya ingat. Pengorbanan awak saya ingat.” Ingat saja tidak cukup. Iman saja tidak cukup.

7

“MA! Batu belah batu bertangkup ada di TV ni. Kita dah tengok dalam Youtube, kan?”

“Ya.”

“Boleh ma cerita lagi?”

“Kisahnya, emaknya merajuk kerana anaknya Pekan habiskan semua telur tembakulnya. Dia minta Batu Belah Batu Bertangkup menelannya.”

“Ohh…”

“Boleh ma pergi masuk dalam batu belah?”

“Tak mau! Tak boleh!” Emir mencelah.

“Jangan bagi ma susah hati ya. Kalau tidak, ma lari masuk dalam batu.”

8

“VIDEO dah siap, Dr. Ros?”

“Sedang siapkan. Kalau boleh hendak tengok esok, ya. Minggu depan acara kita akan berlangsung. Kertas kerja pun saya belum terima lagi.”

“Tak apalah kalau kertas kerja saya tak sempat masuk. Mana yang ada, teruskan saja.”

“Kau orang muda. Kerja biar pantas. Sebagai orang lama, saya cuma nak nasihatkan.”

“Begini, Dr.. Saya ada waktu 8 hingga 5 sahaja. Itulah waktu untuk saya ke kelas, menulis artikel, menyiapkan vídeo, menyiapkan nota, menyelia pelajar. Kemudian, sambung di rumah pula lewat malam.” Itu jawapan yang berada di ruang fikiran. Kerana aku tahu jawapan balasnya, anak bukan alasan, ya.

Sudahnya yang keluar. “Baik, Dr. Terima kasih atas nasihat.”

Telefon berdering pula. Suami.

“Saya balik lambat lagi ya. Kenapa yang?”

“Saya ingat nak tinggal lama sikit di ofis hari ini. Mungkin hingga jam 9.00. Saya nak siapkan kerja, artikel, video. Petang ini pula ada latihan pelajar untuk persembahan minggu Hadapan.”

“Macam mana ya? Saya ada operasi ni.”

“Hmm…”

“Sorry, yang.”

9

HARI ini rasa tidak mahu buat apa-apa. Badan rasa terlalu lesu. Rumah yang berjempalitan, pinggan mangkuk yang penuh dalam sinki, dapur tidak berlap, sampah yang tidak berbuang, kain baju yang kerjanya ada enam itu rasa segan hendak usik. Tilam yang tadi pagi dikencingkan oleh Emir semalam, sampah dan sisa makanan yang jatuh akibat mereka bertiga makan berlari, mainan yang berterabur dari ruang tamu ke ruang dapur, meja makan yang belum kemas dan bilik air yang berbau kerana sebulan tidak disental amat melemaskan.

“Kau kena ambil orang gaji.” Kata Abang Mad.

“Awak carilah orang untuk tolong kemas rumah kita.” Katanya.

Kerjanya hari-hari. Hari-hari.Bukan seminggu sekali, bukan sebulan sekali.

Jam sudah 12.00 lebih. Achmad, Emir dan Ehsan menukar corak permainan. Kali ini mereka berlari pula sesudah letih menconteng. Berlari ke dapur, ke bilik hadapan, ke dapur, ke bilik hadapan berulang-ulang di hadapan mataku. Kemudian ke dapur, buka peti ais, tutup. Buka, tutup. Sambung lagi berlari.

“Achmad! Berhentilah berlari! Sudahlah! Sudah jam berapa ni?!” Kepalaku berbintang-bintang. Sakit berdenyut-denyut di sebelah kiri, makin lama makin kuat hingga terasa kejang di leher.

Kuatkan imanku.

Waraskan akalku.

“Ma, nak berak!”

“Pergilah.”

“Achmad! Sudahlah. Dah tengah malam ni. Tidur sekarang!” Achmad berlari lagi mengejar Ehsan.

“Ma, dah sudah!” Emir dari dalam kamar mandi melaung.

Aku bingkas bangun sedang tenaga sudah tiada. Benar-benar sudah tiada. Video belum siap, artikel belum siap. Nota kuliah juga perlu dilihat.

Emir berdiri di dinding bersiap sedia untuk dibasuh punggungnya. Ehsan menjengah dan terkekek-kekek ketawa minta untuk mandi dan siap menanggalkan lampinnya. Sedang Achmad masih lagi mengacah-ngacah Ehsan. Terhantuk kepala Ehsan di dinding bilik air.

Mataku tiba-tiba terbayangkan wajah ayah mereka. Terbayangkan dia sedang bekerja dengan bagus. Setiap tahun markahnya cemerlang. Terbayangkan dia nanti akan dinaikkan pangkat dan dipindahkan pula ke tempat lain. Entah mengapa, cebok itu kupukul-pukul ke dalam sinki bertalu-talu hingga hancur dan pecah berderai. Selepas itu mataku jadi kelam.

10

“YANG, yang…” Aku membuka mata. Rasa sakit di kepala. Pening juga. Di sekeliling rasa lain seperti kali terakhir aku ke sini kerana bersalin.

“Awak di hospital ni.”

“Kenapa?”

“Awak jatuh semalam. Achmad telefon saya bagitahu awak jatuh.”

“Anak-anak mana?”

“Emak dah bawa balik rumah mereka sekejap.”

“Tak susahkan merekakah? Mereka pun tak sihat.”

“Jangan bimbanglah.”

“Awak tak kerjakah hari ini?”

“Saya ambil cuti. Lagipun dah lama saya tak ambil cuti. Sejak-sejak awak bersalinkan Ehsan tu, saya tak pernah ambil cuti.”

Dia tersenyum. Kemudian menyambung.

“Awak kena jaga kesihatan ya. Tak boleh buat kerja berat-berat lagi.”

“Kenapa?”

Dia tersenyum senang. Sungguh senang senyumnya itu. Dengan melihat senyumannya, aku lalu membayangkan pakaian yang bakal dimesin akan bertambah dan waktu tidur yang akan mula berubah, rutin harian yang akan berbeza. Maka, kerjaku akan tertangguh lagi. Teringat-ingat ayat orang-orang yang sudah berpangkat, anak bukan alasan. Anak bukan alasan.

Entah aku mahu senyum senang sepertinya atau tidak.

Sungguh aku tidak tahu.

TAMAT CERPEN 15.

Ulasan Cerpen 15: Rosnidar Ain (“Patos”)

Rosnidar Ain dengan baik berkisah tentang kesibukan seorang dokter saat ia tidak bekerja menangani pasien. Tak beda dengan ibu rumah tangga lainnya, dengan kesibukan membenahi rumah dan anak-anak yang kadang nakal.
Tak hanya kesibukan di rumah saja, Dr. Ros juga tak bisa lepas dari tugas sehari-harinya. Kuliah, rapat, membuat makalah, dan lainnya. Semua itu membuat penat.
Akhirnya ia tak kuat, jatuh dan pingsan. Ternyata tak hanya karena lelah, tapi juga karena akan hadirnya buah hati lagi.
Kehidupan yang dikisahkan penulis mewakili wajah keluarga saat ini, saat suami isteri sama-sama bekerja. Anak dititipkan di lembaga penitipan atau perawatan, dijemput setelah kerja orangtua selesai.
Pada sisi lain, meski keuangan memadai untuk mencari pembantu rumah tangga, namun sulitnya mencari asisten itu membuat pekerjaan harus ditanggung sendiri.
Beban berat seorang ibu rumah tangga bisa terwakili oleh sosok manapun.
Jika di cerpen ini pada diri dokter, mestinya lebih elok jika diberikan contoh kesibukannya ketika bertugas menangani pasien. Di saat-saat seperti itu, ia harus bergegas pulang menjemput anaknya.
Benturan atau konflik kepentingan seperti itu menarik untuk disajikan sebagai penguat tema yang hendak disampaikan oleh penulis. Bumbu seperti itu yang akan membuat cerpen menjadi hidup, dan betah dibaca.

16.
NAMAKU MIN, AMIN BUKAN JASMIN

Oleh: Seri Banang

Dia merupakan calon yang paling akhir sekali masuk dari enam yang hadir. Dia kelewatan masa hampir setengah jam. 

“Maaf, puan. Berilah saya peluang untuk ditemuduga! Saya merayu dengan puan. Saya naik bas dari Kampung Lukut, Kota Tinggi. Banyak kali berhenti tadi! Sekarang baru nak sampai di perhentian bas Pasir Gudang!” 

Rayunya mendesir di hati. Entah kenapa, seperti ada sesuatu pada nada suaranya, menjadikan perasaan terasa belas apabila mendengarnya sambil aku bayangkan sekurang-kurangnya lima hentian yang memang sudah tentu menjadi tempat singgahan bas tersebut. 

Jarum jam hampir menuju ke waktu asar. Aku maklumkan kepada Zaitun, kerani di bahagian Penyambut Tetamu, jika selesai solat tetapi dia tidak juga sampai, sesi temuduga akan ditamatkan. 

Selesai solat. Waktu berdoa, aku teringat ayah. Sudah dua malam ayah menginap di wad Hospital Sultan Aminah. Doktor kata usus ayah bermasalah sebab itu ayah muntah-muntah. Mula-mula kami ingat ayah cuma gastrik biasa sahaja. Dua tiga kali berulang-alik ke klinik Dr. Lam yang merupakan satu-satunya klinik yang terdekat di kawasan kampung. Sebelum ini, doktor pun hanya menyatakan hal yang sama kerana ayah tidak menunjukkan simptom-simptom yang lain melainkan rasa senak di hulu hati seperti orang masuk angin kerana terlewat makan. Tetapi semalam keadaan ayah semakin tenat apabila, dalam muntah ayah bercampur sedikit darah. Kalau tidak kerana itu, hampir pasti dia tidak akan mahu diajak ke hospital. Bagi ayah, berubat dengan cara sendiri, berasaskan pucuk-pucuk ulam dan akar kayu yang pahit, sudah memadai. Sepanjang usianya sehingga ke-82 tahun, ini yang pertama kali dibawa untuk mendapatkan rawatan, itu pun di dalam keadaan yang sudah kurang tenaga. 

Hatiku jadi sebak apabila mengenangkan ayah, menjadikan doa bertambah panjang daripada biasa, dengan gerimis sedih seolah-olah bertakung di kolam mata. Aku cuma mahu ayah pulih seperti sedia kala, seperti biasa, demi melakukan perkara-perkara yang dia suka, termasuklah melakukan jurus-jurus pencak silat secara sendirian untuk menggantikan senaman, pada setiap waktu seusai solat subuh. 

Ketika berjalan kembali menuju ke bilik pejabat, aku terpandang kelibat tubuh kurus tinggi berambut lurus mencecah bahu, berdiri mundar-mandir di depan kaunter menyambut tetamu. Lirik mataku tertarik kepada warna baju pink lembut berbecak hitam dan berpalazzo pink belacan. Belum sempat aku menarik kerusi untuk duduk, terdengar pintu bilik diketuk. Zaitun masuk dengan diekori susuk tubuh yang kulihat tadi. 

“Maaf, puan! Saya tahu saya sudah terlambat sangat! Kakak ni kata Puan dah tak terima lagi!” 

Matanya kelihatan merah. Jelas terlihat susun alis kening yang cantik di kulit yang putih melepak. Aku minta Zaitun tinggalkan kami berdua.

“Puan! Saya tahu saya mungkin tak layak tapi berilah saya peluang. Kalau tidak, saya tak boleh balik rumah!” 

Tersentak aku dibuatnya. Aku biarkan saja dia bercerita tanpa diminta, tentang dari ketidakmampuan ayahnya untuk menampung keinginannya menyambung pengajian ke institusi pengajian tinggi. Sementelah pula adik-beradiknya seramai enam orang yang perlu ditanggung oleh ayahnya, bermula dari adik keduanya yang berusia 16 tahun dan yang paling kecil di darjah tiga di sekolah rendah kebangsaan. 

Setelah mengajukan beberapa soalan sebagai memenuhi syarat temuduga, aku teringin bertanya lebih lanjut tentang dirinya. 

“Tadi kata, kalau tak berjaya temuduga, tak boleh balik rumah, kenapa? Boleh saya tahu? Awak ada masalah dengan keluarga?” tanyaku sambil menyusun kertas-kertas yang sedikit berselerak di atas meja. 

“Eh, tak ada, puan! Saya tak ada masalah dengan keluarga! Cuma ada masalah dengan diri saya sendiri saja.” 

Kata-kata yang keluar dari mulut comelnya hampir-hampir membuat aku tergelak besar kerana intonasi suaranya yang agak sedikit menggetar jiwa. Lahir pada hari yang sama dengan aku, Valentine Day, hari yang disambut dengan penuh kegilaan oleh pasangan yang bercinta di seluruh dunia, menjadikan dia merasa seperti suatu yang sangat mengujakan walaupun aku katakan sambutan hari tersebut dilarang di dalam Islam. 

Ditambah dengan kecantikan yang memang semula jadi, berserta sifat lemah lembut yang menyenangkan, aku dapat rasakan dia memang ramai peminat, mengalahkan artis tempatan.

Merupakan anak sulung dari semua adik-beradiknya yang kesemuanya lelaki, dia cuba mengambil tanggungjawab seorang ibu kerana, sewaktu adik bongsunya berusia tiga tahun, ibunya meninggal dunia disebabkan denggi berdarah. Mungkin disebabkan itu, sifat keibuannya terbawa-bawa. Ayahnya memelihara kesemua adik-adiknya walaupun ramai dari waris arwah ibunya ingin mengambil seorang dua dari mereka. Namun ketegasan sikap ayahnya yang ingin membesarkan dan mendidik mereka tanpa memisahkan mereka adik-beradik akhirnya mendapat sokongan kedua-dua belah pihak, termasuk keluarga bekas mertua. 

“Saya tak boleh sambung study sebab adik-beradik ramai! Beri peluang pada merekalah!” tambahnya. “Banyak juga saya dapat tawaran temuduga kerja sebelum ini tetapi semuanya saya tolak!” 

Terbeliak sedikit mata aku ketika mendengarnya. Selalunya orang menolak apabila telah selesai ditemuduga atau setelah diterima berkerja tetapi bidang kerja yang diberi tidak sesuai dengan citarasa.

“Ini baru panggilan temuduga sahaja pun,” kata hatiku, sambil tekun mendengar kisah seterusnya darinya. 

“Saya tak nak pergi temuduga sebab saya tahu perangai bos-bos di tempat itu dan perangai pekerja-pekerja mereka. Ayah tak faham saya. Ayah suruh juga kerja sebab ayah kata duit pencen ayah tak cukup nak sara kami adik-beradik selepas kaki ayah kena potong disebabkan kencing manis yang teruk. Saya elak dengan macam-macam cara, sampai saya buat kuih untuk jualan sarapan pagi dan petang sementara saya dapat kerja. Ayah kata, sampai bila saya nak bertahan dengan pendapatan tak tetap? Saya kata, insya-Allah nanti temuduga yang terdekat, saya pergi. Tub-tub saya dapat panggilan dari pejabat puan kelmarin. Kebetulan ayah ada semasa kakak tadi telefon saya.” 

Dia bercerita bersungguh-sungguh sambil menuding ibu jari ke arah belakangnya sebagai isyarat yang dimaksudkan kakak itu adalah Yun, panggilan manjaku buat Zaitun.

“Ayah kata, janganlah nak berkira lagi dengan kerja. Lebih-lebih lagi waktu sekarang yang memang susah nak dapat kerja dan kelulusan akademik saya pun tak tinggi mana. Kerja saja mana yang dapat, ayah kata. Jangan memilih-milih kerja, atau lepas ini tak payah balik rumah, duduk sahaja dengan opah atau mak-mak sedara saya yang memang sentiasa menunggu nak ambil saya dan adik-adik tinggal dengan mereka,” katanya sayu. 

Allah, simpati mula menebal dalam hati. Kalau aku bandingkan dia ini dengan kesemua peserta yang datang tadi, aku rasa seolah-olah hati berat ke dia pula. Aku tanya dia secara serius, seandainya dia berminat berkerja dengan gaji yang mungkin tidak setinggi yang dia bayangkan. Hanya mengikut standard pekerja kedai minimarket yang menjual barangan Muslim. 

“Tak apa, puan! Saya suka! Saya dah tanya pada kawan-kawan dan kebanyakan mereka tolong saya selidik tentang perniagaan puan. Mereka kata puan ada rumah Qaseh yang bantu anak-anak asnaf juga! Kalau puan terima saya, saya janji saya kerja elok-elok!” katanya penuh harapan. 

Aku senyum memandang wajah bujur sirihnya. Subhanallah, dalam hati aku berkata, dia memang cantik dan memang patut pun dia risau dan bimbang apabila ayahnya tidak dapat memahami dia. 

“Saya tak mahu mula-mula sahaja berjanji itu ini tapi apabila dah berkerja, semua janji entah ke mana!” kataku sambil memanggil Yun untuk buatkan aku secawan kopi untuk minum petang. 

“Tak apa! Tak apa! Biar saya buatkan!” katanya sambil bingkas bangun menuju ke pantri. 

Melopong si Yun memandang aku dan aku lemparkan semula pandangan dengan sedikit senyuman bersama rasa cuak di dalam hati. “Pandaikah dia buat kopi tu?” tanya aku sambil Yun berlalu menyusulinya di belakang. 

Sebelum dia mengakhiri pertemuan dalam sesi temuduganya, sambil terlompat-lompat kecil kerana gembira, dia pusingkan kepala di antara celah daun pintu sebelum keluar. 

“Puan! Panggil saja saya Min! Amin tau, bukan Jasmin!” katanya dengan gelaknya yang sedikit malu-malu. 

Aku faham maksud kata-katanya. Walaupun mungkin telah sebati dengan sifat lemah lembut, dia masih lagi original lelaki yang mengerjakan solat Jumaat, memakai ihram, dan mampu menjadi imam dengan bacaan yang baik. Dan baru juga aku tahu kenapa dia selalu cuba mengelak untuk berada di khalayak manusia yang suka mengambil kesempatan. Min, namanya Muhammad Amin bukan Jasmin, seperti yang mereka gelarkan.

Sekarang dia menjadi kesayangan kami, kebangaan kami, tempat kami berhibur hati. Menjadi penasihat dan tukang masak paling rajin. Dalam pakaian yang berwarna-warnanya. Aku bersyukur sangat kerana dia sentiasa menjaga solatnya, tekun dengan ibadah puasanya. Selalu bersedia berkongsi cerita walaupun di dalam keadaan suka ataupun duka. Walaupun kadang-kadang perangai menjengnya sekali-sekala menjadikan aku terpaksa belajar bagaimana untuk selalu bersedia menjadi tempat rujukannya yang terbaik.

TAMAT CERPEN 16.

Ulasan Cerpen 16: Seri Banang (“Namaku Min, Amin Bukan Jasmin”)

Cerpen ini sekilas terlihat sederhana saja. Didominasi dengan dialog Puan dan Min. Puan yang terkesan dan bersimpati dengan kisah Min akhirnya menerimanya sebagai pegawai di situ. Menjadi teman bicara dan juru masak yang disukai semua pegawai di situ.
Masalah yang dihadapai Amin, lelaki yang memiliki gen wanita, terjadi dimana-mana. Sinisme sering dijumpai, meski mereka yang seperti Amin punya hak sama untuk menjadi bagian dari masyarakat.
Tokoh Puan punya empati yang besar, memahami bagaimana beratnya Amin bekerja di tempat lain, terutama di daerahnya yang masyarakatnya sudah memberi stempel negatif. Selain itu Amin pun pandai membawa diri, sehingga mendapatkan simpati dari Puan.
Secara umum, belum terlihat suatu benang merah dalam cerpen ini yang menarik untuk menghubungkan diterimanya Amin di perusahaan tersebut. Kecuali tentunya empati dari sang Puan, semisal karena ia bisa merasakan beban ayah Amin, bersamaan juga ayah Puan saat itu sedang dirawat di rumah sakit.
Jika saja penulis menampilkan konflik di perusahaan itu karena diterimanya Amin yang tak mempunyai Pendidikan tinggi, tentu cerpen itu lebih menarik. Tak sekedar karena ia pandai menarik simpati sang Puan.

17.
NURNISKALA

Oleh: Sriwati Labot

NURNISKALA merenung laut biru. Sebiru itulah rindu yang terhampar di hatinya. Rindu yang kedalamannya tidak tersukat. Keluasannya tidak dapat diukur oleh jarak dan waktu. Mentari senja, gunung-ganang, dan pelangi bagaikan rakan akrab yang menyimpan sejuta rahsia. Hati Nurniskala bagaikan warna dan garisan mujarad di kaki senja. Menjadi tafsiran pada hukum dunia. Hukum yang hanya menghukum hati insan yang bercinta. 

Dari daerah pergunungan yang sepi,  gadis itu menjadi dewasa dan jelita. Mata bundarnya bagaikan bintang kejora yang menjadi panduan pelayar yang tersesat di malam hari. Hidungnya yang mancung selari bibir mongelnya, mampu menggoda mata sesiapa sahaja yang menatapnya. Sekiranya menyertai Dewi Remaja, sudah pasti Nurniskala akan layak ke pusingan akhir untuk menyaingi peserta-peserta lain. Tapi Nurniskala hanyalah seperti Siti Nurbaya yang hanya wujud dalam syair-syair indah.  Dia hanya pandai mengalunkan ayat-ayat suci al-Quran. Setiap pagi selepas subuh dan setiap malam selepas isyak, Nurniskala tidak pernah lupa menghantarkan pesan kepada Kekasihnya yang Satu. Suaranya yang mengalir bersama nada tarannum bayati, hijjaz, soba, dan bayati penutup tidak asing lagi di daerah pergunungan itu. Nurniskala akur hanya ayat-ayat al-Quran ialah ubat segala penyakit. Terutamanya surah al-Fatihah. Di dalamnya terkandung sejuta rahsia. Sesekali gadis manis bertudung litup itu menghiburkan hati sendiri. Dalam kesayupan yang hampir tidak kedengaran, dia menyanyikan lagu “Suaramu Syairku” dalam versi Arab. Sungguh merdu. Gemersik bayu gunung juga seakan cemburu. Pada dinding takdir, gadis itu seringkali berbisik dalam doa, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku tidak meminta lebih, kalau angin cukuplah derunya’ dan perlahan-lahan mutiara pilu menitis.

Daripada batu gunung dan hutan kemanusian yang masih murni, hati Nurniskala tetap terpintal selembut sutera.  Sekental semangat Tun Teja. Seperti insan biasa, dia juga ada hati dan perasaan. Ingin bercinta dan dicintai. Seorang wanita anggun dan berkaliber. Berkelulusan  dari UIA. Pemegang ijazah Sarjana Undang-undang Syariah. Tapi memilih hanya untuk membela insan-insan yang teraniaya di daerah perkampungannya sahaja. Membantu wanita yang menjadi mangsa  oleh kekejaman kaum lelaki. Kaum yang bijak menggunakan hak dan keistimewaan. Lelaki yang berkias menggunakan payung emas untuk berlindung. Dialah peguam yang tidak pernah meminta apa-apa bayaran. Setiap kes yang ditanganinya sentiasa memperolehi kemenangan. Walau bagaimanapun ayahnya, Lebai Yazid tetap menjadi idola Nurniskala. Seorang lelaki yang menjaganya dari merah telapak kaki sehingga ke muara doa. Sehingga dia mampu berfikir dan berjaya. Tapi, itulah perjuangan. Bukan kerana benci kepada lelaki, tapi kerana terlalu simpati pada wanita yang dikhianati.  Betul seperti kata pepatah, sekiranya kita berjuang dengan hati, pasti akan diberkati Ilahi. Bagi gadis itu, hidup hanyalah sebentar untuk meredahi akhirat yang panjang. Lebai Yazid juga tidak membantah keputusan anak gadisnya. Dia percaya rezeki tuhan itu luas dan ada di mana-mana. Walaupun hanya menetap di daerah pergunungan yang terpencil.

Tiba-tiba angin waktu menarik detik mengajak kenangan terukir perlahan-lahan. Sewaktu di universiti, Nurniskala ialah siswazah yang aktif menyuarakan hak-hak wanita. Dia wanita yang berani melawan arus. Berani menegakkan hak. Berani bersuara dan berani menegur segala kebatilan.

Nurniskala juga pernah jatuh cinta. Tapi hanya terpendam di sudut hati kecilnya. Dia tidak berhasrat untuk menyatakannya kerana dia tahu cinta ialah milik tuhan. Serahkan cinta kepada-Nya dan Dia akan menyerahkan cinta yang selayaknya untukmu. Wanita itu juga sebenarnya hidup dalam falsafah.

Ketika itu, Syed Aiman hanya tersenyum. Nurniskala menghulurkan sehelai kertas yang baru dikutipnya di atas jalan. Dia tahu kertas itu kepunyaan Syed Aiman. Tanpa sepatah kata, mereka terus berlalu membawa haluan masing-masing. Hanya kerdip mata dan hati yang berbicara dalam sepi. Dan bermula dari saat itu, mereka seakan diatur untuk bertemu meskipun tanpa sengaja. Takdir dan waktu menjadi episod-episod indah antara dua hati yang hanya tersentuh oleh getar-getar zarah yang bergeseran. Gadis tinggi lampai dan berpurdah hitam itu seringkali hadir dalam mimpi-mimpi Syed Aiman. Sehinggakan anak muda itu terlupa pada tanggungjawab dan tujuan yang besar untuk digalas, pada keluarga dan amanah yang ditinggalkan. Nurniskala hanya diam. Dia tidak pernah menunjukkan reaksi yang berlebihan. Dia tetap menjaga adab dan sopan. Dia percaya dan ingat pada pesan seorang Adiguru, sesungguhnya diam itu akan membungkam sejuta cinta. Dia juga ingat kata-kata Sasterawan Negara yang berjanggut putih, sesungguhnya jeritan diam itu lebih nyaring bunyinya. Gadis genius itu sengaja bermain tarik tali.

Matahari pagi dengan ikhlas melimpahkan sinar mutiaranya. Nurniskala tersedar dari lamunan yang agak panjang. Daerah pergunungan yang tenang dan damai mengikat Nurniskala untuk mengharungi hakikat hidup. Bagi gadis itu, segala kenangan sudah lama mati meskipun adakalanya menjelma dan bergetayangan di luar kawalan hati dan minda.

Lebai Yazid yang baru balik dari surau meletakkan kopiah putihnya di tepi meja. Mata tuanya mencuri pandang ke arah anak kesayangannya. Hanya Nurniskala cahaya hidupnya selepas kepulangan isterinya ke daerah abadi. Seorang wanita yang syahid ketika berjuang melahirkan seorang waris penyambung hayat. Di daerah pergunungan yang jauh dari kemudahan hospital,  tiga hari tiga malam suri hati Lebai Yazid menanggung kesakitan yang hanya Allah sahaja yang tahu. Dililit kain tujuh warna pun tidak dapat membantu mempermudahkan wanita itu untuk melahirkan. Ada suara-suara yang mengatakan Melah terkena sumpahan patin. Semasa kandungan baru berusia tujuh bulan, Melah mengidam untuk makan masak lemak ikan patin. Justeru, agar tidak kempunan, suami mithali itu menunaikan  permintaan isteri kesayangannya. Meskipun banyak cerita-cerita dongeng yang mengatakan musibah patin begitu dan begini. Tapi Lebai Yazid sengaja menolak semua suara yang menarik manusia ke jalanan syirik. Segala yang berlaku hanyalah ketentuan. Ujian tuhan kepada hamba-Nya yang lemah. Begitulah pendirian seorang lelaki yang masih ada bekalan setitis iman di dada.

Di antara Maghrib dan Isyak, meraunglah suara seorang gadis kecil tanda salam pertama mengharungi dunia.  Nurniskala, itulah nama seorang puteri yang baru lahir. Nurniskala seperti tidak sabar mencari air susu ibunya yang masih lemah. Dengan bantuan mak bidan, anak kecil itu mencapai juga hajatnya untuk meneguk air susu seorang ibu. Itulah kali pertama dan itu jugalah kali terakhir anak  itu merasa nikmat dan kasih sayang seorang ibu.  

Sebelum Subuh, ketika ayam sudah mula berkokok dan embun jantan juga sudah tidak segan menitis, wanita yang baru sahaja menjadi seorang ibu itu terpanggil pulang kepangkuan Ilahi.

Ada air yang bergenangan di pelupuk mata tua seorang lelaki. Nurniskala terkesan dengan tingkah laku ayahnya. Tapi anak gadis itu tahu, kerana hari ini ialah hari lahirnya, juga hari yang selalu diadakan tahlil untuk arwah ibunya. Dalam hidupnya,  Nurniskala tidak pernah menyambut hari kelahiran seperti orang lain.

“Assallamualaikum…” Dari arah tangga, ada suara yang memberi salam. Nurniskala membetulkan hijab sebelum melangkah ke pintu. Lebai Yazid masih duduk di kerusi sambil memejamkan matanya. Gelora di jiwanya mungkin menghempas ganas ke pantai kenangan bersama arwah isterinya yang telah jauh di alam niskala.

“Waalaikumussallam…” Nurniskala menjawab perlahan. Dia meninjau tetamu yang sedang menanti. 

“Syed…” Hampir tidak kedengaraan suara yang dilontarkan oleh Nurniskala. Jantungnya berdegup kencang. Syed Aiman  tersenyum. Giginya yang sebaris bagaikan mutiara yang dipancari sinar mentari pagi.

Di tangannya ada mawar merah dan ada kotak yang tertulis ‘Secret Recipe’. Beg sandang yang ala-ala pelancong, tergalas di belakang. Peluh jantan merenik di dahi yang dilindungi ‘cap’ hitam.

“Alhamdulillah. Saya tidak tersalah alamat,” ujar Syed Aiman. 

Nurniskala masih lagi terpaku tanpa sepatah kata. Wajah yang sekian lama melekat menjadi angan, tercantum menjadi syair, dan terungkap menjadi puisi-puisi cinta luka di hati Nurniskala, tiba-tiba menjelma di alam nyata. Ya Allah!  Mimpi apakah ini, getus suara hatinya yang bersembunyi. Tapi bisikan itu getarnya seakan-akan terasa hingga ke hati Syed Aiman yang juga seakan-akan terpaku dalam waktu yang sengaja menduga kesabaran mereka.

Angin daerah pergunungan itu beralun lembut seperti memahami perasaan yang sudah sekian lama dicengkam rindu. Dalam getar dan debar, tiba-tiba menyusup alunan puisi yang entah dari pintu rumah tetangga mana berkumandang lantang:

Ah! dengan jiwa yang memuja,

Kutempa bulan purnama

Menjadi kunci pembuka kamar

Yang pintunya entah di mana.

Dengan hati yang berani

Kupatah duri matahari

Menjadi cahaya di jalanan mimpi

Yang halanya tiada peta.

Dengan suara rindu

Ku rentap angin dingin

Menjadi bayu harapan

Yang syahdunya bernada bisu.

Dengan izin-Nya

Kamar terbuka

Jalan terhala

Bayu bersuara

Dan kita

Bermesra di ranjang takdir-Nya.

Karya: Seri Dewi Malam. 

Lantang dan jelas suara pendeklamasi mengalun sebuah sajak dengan nada romantik. Dua insan yang telah sekian lama terpisah, mengahayati hati masing-masing dalam diam.

“Kenapa tak pelawa tetamu naik?” suara Lebai Yazid memecah keheningan suasana. 

Nurniskala kelihatan serba salah. Tali memorinya tertarik kembali. Syed Aiman bagaikan cahaya niskala yang tiba-tiba menjelma di remang senja. Tapi duri yang menjadi tembok realiti menghalang hubungan mereka suatu ketika dahulu telah menghancur rencamkan seluruh hati Nurniskala.

“Saya sebenarnya sudah ada anak dan isteri,” jelas Syed Aiman lancar walaupun ada getar di hujung suaranya. Nurniskala seperti terjatuh dari gunung yang maha tinggi. Tutur kata Syed Aiman bagaikan halilintar yang mengejutkan penghuni alam di tengah kesepian malam. Bintang bagaikan hujan yang berguguran. Alam gelap. Purnama hilang di balik gunung kenyataan.

“Mengapa baru hari ini. Bukankah lebih baik kau beritahu aku dari awal perhubungan kita. Sebelum semuanya menjadi akrab…” antara kedengaran dengan tidak suara Nurniskala tersekat-sekat.

“Aku tidak sampai hati.”

“Sekarang?” pintas Nurniskala pantas.

“Sebenarnya aku juga terlalu mencintamu.” 

“Apakah makna cinta ini, Syed Aiman? Janganlah biarkan aku jadi berdosa kerana merampas hak orang.” Ada air mata yang mengalir bersama kata-kata Nurniskala.

“Tapi aku lelaki, Nis. Aku mampu dan boleh…” Ayat Syed Aiman tergantung.

“Kerana engkau lelaki, kau sengaja ingin menunjukkan hakmu…” Perjuangan Nurniskala mempertahankan hak wanita melantun ke hatinya sendiri.

“Syed Aiman. Cukuplah  setakat ini saja. Baliklah menjaga amanahmu. Tak perlu kau fikirkan aku,” tegas suara Nurniskala. Dalam hatinya seakan-akan meraung tamsil halilintar yang membelah maya. Itulah bicara dusta yang amat pedih bagi seorang wanita yang terhukum kerana cinta dan takdirnya. Sesungguhnya tuhan tidak akan menguji hamba-Nya di luar kemampuan. Anak gadis itu menarik nafas dan menghembus segala kenangan yang memeritkan. Di hadapannya, hari ini, Syed Aiman datang bersama seribu pertanyaan. Seperti dahulu juga, Nurniskala hanya diam tanpa sepatah kata, walaupun banyak yang ingin dia tanya.

“Telah setahun mereka pulang kepangkuan Illahi,” sayu suara Syed Aiman, menceritakan tentang kemalangan yang meragut nyawa anak dan isterinya. 

Air mata lelakinya kelihatan bergenangan. Akhirnya menitis juga dalam sedu-sedan. Lelaki itu gagal mengawal sebak yang berkocak. Hanya lengan baju menyeka air mata  seorang lelaki yang dicengkam pilu. Wajah anak dan isterinya seperti pisau yang merobek-robek hati dan kehidupan Syed Aiman. Berhari-hari, bahkan berbulan-bulan Syed Aiman hidup dalam kesepian. Dalam penyesalan. Ketika dia memberanikan diri meminta izin untuk menyuarakan hasrat hatinya yang tidak dapat dibendung lagi, saat itu jugalah takdir merampas isteri dan anaknya. Sekali gus merampas takdirnya. Tanpa sempat Syed Aiman menyatakan hasrat hatinya. Sungguh hebat percaturan takdir. 

Sebelum menghembuskan nafas yang terakhir setelah bertarung nyawa, isterinya membisikkan sesuatu: “Abang teruskanlah hidup ini. Jangan menoleh ke belakang. Carilah teman pengganti yang dapat menjaga abang. Saya akan menunggu abang di sana.” Itulah kata-katanya yang terakhir. Syed Aiman hampir pengsan. Anak kesayangannya juga sudah kembali ke pangkuan Illahi. Tanpa sempat memanggilnya untuk kali terakhir.  

Alam bisu. Ruang tamu di rumah Lebai Yazid juga seakan beku. Syed Aiman menarik nafas dalam-dalam.

“Saya bukan meminta simpati. Saya datang ke sini cuma ingin mencari ketenangan hati,” sambung Syed Aiman lagi. Lelaki itu seakan-akan mengerti persoalan yang bermain di minda Nurniskala dan Lebai Yazid.

“Cerita kita lebih kurang sama, nak,” Lebai Yazid bersuara perlahan. “Bezanya cuma, pakcik masih ada Nurniskala. Dialah satu-satunya api semangat untuk pakcik meneruskan hidup ini,” sambung Lebai Yazid lagi.

Syed Aiman merenung Nurniskala yang berselindung di sebalik purdah hitam. Mata mereka bersatu. Bayu gunung menderu dingin.Perlahan-lahan mentari senja, dengan rela hati, meminjamkan cahayanya kepada bulan purnama. Awan yang membeku, berlalu dari puncak gunung yang tidak terjangkau rahsianya. Betul, andainya cinta itu suci, lepaskanlah ia pergi kerana kesucian itulah yang akan membawa ia datang kepadamu suatu hari nanti. Sesungguhnya Allah maha mengetahui dan telah menyusun dengan indah takdir hamba-Nya.

TAMAT CERPEN 17.

Ulasan cerpen 17: Sriwati Labot (“Nurniskala”)

Cerpen adalah prosa yang menceritakan salah satu masalah kehidupan pelakunya sehingga hanya memiliki alur tunggal. Perkara itu jelas bagi penulis cerpen. Sriwati Labat memahami itu, dan menunjukkannya dalam cerpen berjudul “Nurniskala”.
Sriwati setia dengan alur cerita yang digarapnya dengan baik. Kehidupan Nurniskala yang pengacara disajikan dengan lengkap, mulai dari saat kelahirannya yang dibarengi dengan kepergian ibunya, hingga ia menjadi pembela kaum wanita di desanya.
Konflik bathin gadis itu ketika mengetahui kekasihnya, Aiman sudah berkeluarga, juga ditampilkan dengan baik, tak berlebihan.
Akan lebih lengkap jika penulis memberikan penjelasan atau kepanjangan dari UIA, almamater Nurniskala. Tidak semua pembaca berasal dari Malaysia, atau pun jika sama, belum tentu mengenal UIA itu. 
Sebuah cerpen yang baik.

18.
CENDOLNYA TUMPAH

Oleh: Sujata Wee

MUNIRAH berjalan tergesa-gesa ke pasar Jelawat pagi itu. Dia menjunjung setalam kuih pelita. Semah menelefon minta bawakan cepat kerana ada beberapa pelanggan sedang menunggu untuk membelinya. Baru pagi tadi suami Munirah membawanya ke pasar namun telah habis terjual. Adat berniaga: kekadang laris, kekadang terpaksa dijaja dari rumah ke rumah akibat tak habis jual di pasar. Munirah mendapat kepakaran membuat kuih dari ibunya, Cik Jah. Sebut saja nama Cik Jah, semua orang tahu tentang kehebatannya membuat kuih.

Antara kuih yang dibuat Munirah ialah cik mek, kuih kosui, lompat tikam, puteri mandi, dan bermacam-macam lagi. Dalam sehari dia membuat tiga hingga empat jenis kuih sahaja. Secara bergilir-gilir. Cuma kuih pelita harus dibuat setiap hari memandangkan kuih itu sangat digemari ramai.

Dengan pendapatan membuat kuih inilah Munirah membantu suaminya Razif menyekolahkan anak-anak mereka. Razif, seorang tukang rumah, yang gajinya dibayar mengikut hari bekerja. Gaji diterima seminggu sekali. Kekadang tidak cukup belanja, diminta pula dari isterinya Munirah.

“Esok buatkan lebih sedikit kuih pelita ya, Munirah. Ada orang pesan tadi. Dia nak sedekahkan kepada rumah anak yatim,” Minta Semah.

Semah ialah sepupu Munirah yang menjual kuih di pasar itu sejak berumur 23 tahun lagi. Sekarang Semah sudah 54 tahun. Seorang ibu tunggal selepas suaminya meninggal akibat kemalangan jalan raya tujuh tahun lepas. Dengan berniaga kuih, dapatlah Semah menyara kehidupannya sekeluarga. Dia hanya tinggal bersama anak bongsunya. Yang lain semuanya telah berkeluarga dan tinggal jauh dari situ.

“Kalau orang nak beli untuk disedekahkan, perlukah kita jual dengan harga yang biasa kita jual, kak? Atau kurangkan sedikit harganya?”

“Terpulanglah kepada budi bicara kau, Munirah. Aku pun tak berapa arif juga dalam hal ni sebab, pada kebiasaannya, aku jual ikut harga biasa saja setiap hari. Sekarang kuih pelita 50 sen sebiji. Daun pisang pun kena beli. Bukan dapat percuma.” Semah bagi penjelasannya.

“Berapa biji dia nak, kak?”

“Dalam 150 biji. Jam 11.00 pagi esok dia akan datang ambil.”

“Kenapa kakak terus terima tempahannya tanpa tanya saya dulu? Banyak sangat tu. Saya cuma ada dua belah tangan saja, kak. Tak larat nak membuatnya sebanyak itu. Teruklah sekali ini.” Muka Munirah berkerut risau.

“Alah, jangan bimbanglah, Nirah. Aku kan ada.  Lagi pula rumah kau dengan rumah aku bukannya jauh sangat. Aku akan pergi tolong kau. Cuma, besok pagi, tolong bukakan lampu depan rumah kau tu. Mudah aku nak berjalan menghala ke rumah kau.”

“Oh, cakaplah macam tu.  Saya agak terkejut juga apabila kak terima tempahan begitu banyak. Biasanya tidaklah sebanyak ini.”

“Aku kesihan kat orang itu… Berkali-kali dia merayu minta terima tempahan. Katanya, arwah mak dia suka sangat kuih pelita ni, sebab tu dia berniat nak sedekahkan pada rumah anak yatim untuk hari keramaian di rumah tersebut.”

“Kalau macam tu, senanglah hati saya.  Kakak mesti ingat untuk datang. Jangan buat-buat lupa pulak. Abang Razif pun tolong sekejap saja sementara sampai masa untuk dia nak pergi kerja.”

“Kau ni, macamlah aku tak pernah tolong kau. Hah, jangan lupa untuk buat sama bahagian yang aku nak jual kuih tu. Nanti kau dok ingat mahu siapkan tempahan pelanggan, sampai terlupa buat bahagian yang aku nak jual pulak.”

“Ah… pasti ingatlah, kak.”

Munirah membeli beberapa bungkus lauk untuk makan tengah hari itu. Gulai siput, kerabu buah beko, dan acar rampai. Mudah dan cepat. Tak payah berpenat lelah buat lauk. Lagi pun dah penat buat kuih. Tak larat.

“Kenapa nampak macam tak lalu makan saja hari ini?” tanya Razif setelah dilihat Munirah kurang berselera. Asyik mengunyah saja… telannya tidak.

“Penat sangatlah hari ni bang.”

Kan saya sudah cakap, buat tu biarlah berpadan-padan. Ni awak degil, ambil tempahan banyak sangat. Pastu penat. Kalau sakit, macam mana? Awak juga yang susah, kan?” Munirah terdiam.

Di dalam hatinya, teringin untuk meminta suaminya mengambil cuti bagi membantunya membuat kuih esok. Tapi dia tidak berani. Razif kan lelaki, biarlah dia buat kerja orang lelaki. Tak kan nak suruh buat kerja orang perempuan pula. Tapi apa salahnya kalau lelaki membantu kerja orang perempuan. Tambahan pula, kerja ini menjana pendapatan, malah agak lumayan juga.

Setelah berehat seketika, Munirah mula mengambil galah yang bersandar di pokok bunga kertas untuk mengait daun pisang. Kemudian daun itu dijemur pada panas mentari. Mentari petang yang bersinar memedihkan kulit itu menguntungkan Munirah kerana daun itu tidak perlu dilayur lagi. Air daun pandan yang disimpan dalam peti sejuk masih banyak lagi.

Daun pisang juga biasanya dibeli daripada penduduk sekitar. Munirah hanya ada beberapa pokok pisang benggala. Itu pun yang pernah ditanam oleh arwah ibunya. Kuih pelita memang perlu diisi dalam daun pisang. Barulah sedap serta berbau harum. Dia memang pakar membuat kuih pelita.

Munirah bukanlah seorang yang mementingkan kebersihan dalam amalannya seharian. Sekiranya ada orang ke rumahnya, pasti terpaksa berfikir dua kali untuk membeli kuihnya. Pakaian kotor yang belum dicuci, bersepah di sana sini. Kain yang sudah dicuci masih bertimbun belum dilipat. Sampah sarap di dapur tidak bersapu. Kekadang pinggan mangkuk pun berlonggok-longgok dalam sink.

Selalu juga suaminya yang kepenatan pulang bekerja pula menjadi babu di rumah itu.

“Munirah, walau pun kau sibuk membuat kuih, tolonglah utamakan kebersihan di rumah ini. Kebersihan itu kan disaran oleh agama.” Razif membebel macam ustaz kerana tidak tahan dengan sikap acuh tak acuh Munirah.

“Apabila keluar ke pasar, bersolek bukan main cantik. Tapi kalau kat dalam rumah kita… aduh… buat malu saja. Cubalah berubah sedikit Munirah,” tambah Razif lagi.

“Saya sibuk, bang…. Sibuk sangat-sangat. Kalau abang tak tergamak nak tengok, abang tolong kemaskanlah sendiri. Saya dah tak larat. Ataupun abang upah seorang tukang gaji.” Munirah cuba membela dirinya. Memang dia seorang yang keras kepala.

Semah meminta Munirah buatkan kuih koleh untuk dijual Jumaat ini. Kata Semah, ada pelanggan bertanya khabar, dah lama tak makan koleh. Pada petang Khamis itu, Munirah membawa keluar kuali besar dari dapurnya. Mahu mengacau koleh di laman saja. Dua bata jongkong disusun sebagai tungku lalu diletakkan kuali besar di atasnya. Tidak berapa lama lagi suaminya akan pulang, jadi bolehlah membantunya mengacau koleh tersebut.

Setelah memasukkan ramuan secukupnya, mulalah Munirah mengacau perlahan-lahan. Sesekali menyorong kayu api ke bawah tungku. Kacau lagi sehingga koleh beransur-ansur pekat, jua likat.

Tidak semena-mena, seekor serati peliharaannya secara tiba-tiba telah melibas-libaskan kepak dengan kencang sekali. Habis berterbangan segala debu-debu dan daun kering, lalu ada yang singgah di dalam kuali koleh Munirah.

‘Ya Allah! Serati ini. Bertuahnya. Apa harus aku buat? Takkanlah aku yang sudah penat-penat mengacau koleh ini nak membuangnya begitu sahaja?’ Monolog Munirah di dalam dirinya.

Perbuatan serati itu telah dilihat oleh suaminya yang baru saja sampai di rumah. “Bagaimana Munirah, tergamakkah kau nak jualkan koleh ini pada orang setelah segala debu, daun kering, terbang masuk ke dalamnya?” soal Razif.

“Apa saya nak buat? Semah minta saya buatkan kuih ini. Katanya, ada orang nak membelinya esok. Takkanlah saya nak membuang sekuali kuih ini dan mengacau yang baharu. Matilah saya.”

Munirah menguis-guis beberapa helai daun kering keluar dari kuali, sambil meniup-niup ke arah koleh, bertujuan mengeluarkan habuk dari kuih tersebut.

“Nah, ambil sudip ini dan kacaukan biar kering sedikit lagi. Nanti saya ambilkan minuman untuk abang.”  

Munirah menghulurkan sudip lalu ke dapur. Sebenarnya, memang dia lenguh mengacau tanpa berhenti. Jika tidak dikacau, koleh itu akan hangit.

Beberapa hari saja lagi bulan Ramadan akan tiba. Munirah sudah pun mendaftar untuk berniaga di pasar Ramadan. Dia akan menjual cendol, kuih akok, jala mas, buah tanjung, dan banyak lagi. Perlu juga cari seorang pembantu. 

Di pasar Jelawat, tempat menjual kuih ialah di tingkat satu. Sekali dengan orang menjual nasi, roti canai, dan sebagainya. Namun ada juga sesetengah peniaga yang menjual kuih di tingkat bawah. Pelanggan yang malas dan tak larat memanjat tangga akan membelinya di situ saja.

Atas permintaan Semah, Munirah telah menyiapkan sebesen cendol untuk dijual pagi itu. Munirah mengupah Pak Teh Ali untuk memunggahnya ke pasar. Sampai di pasar, Munirah dan Pak Teh Ali mengangkatnya untuk dibawa ke atas loteng, tempat Semah berjualan.

“Pak Teh Ali, angkat baik-baik sikit ya, kalau terbalik cendol ni niayalah saya,” kata Munirah sambil tangannya dilapik beberapa lipatan surat khabar untuk mengangkat besen cendol.

“Baiklah, Munirah.  Dah lama pak cik berulang-alik punggah kuih naik loteng ni, tak pernah pula ada masalah pun,” kata Pak Teh Ali yang merasa dirinya dipesan seperti budak-budak.

Mereka mengangkat dengan cermat. Melangkah setapak demi setapak anak tangga. Sesekali berhenti kepenatan. Kemudian melangkah lagi.

Tetiba seorang budak berumur dalam lingkungan lapan tahun, turun dari tingkat atas, merempuh besen cendol yang sedang diusung oleh Munirah dan Pak Teh Ali. Terkejut besar Munirah.  Sambil menjerit, tangannya terlepas pegangan pada besen cendol tersebut. Pak Teh Ali seorang tidak mampu memegang besen cendol itu dari terungkup lalu tumpahlah cendol memenuhi tangga tersebut. Munirah cuba menyambar  besen namun kakinya pula yang terseliuh.

Cendol berlimpah dan airnya menuruni anak tangga. Seluruh mata yang berada di situ menyaksikan kejadian tersebut. Semah, dari tingkat atas, berlari turun melihat sepupunya yang sedang terduduk digenangi air cendol yang membasahi kainnya. Dia dan Pak Teh Ali memapah Munirah balik ke rumah.

Beberapa orang peniaga dari atas loteng mula membersihkan cendol yang tumpah. Tangga yang licin boleh membahayakan orang lain. Budak yang melanggar Munirah itu sebenarnya mahu ke klinik bersama ibunya; singgah di pasar untuk membeli kuih muih. Setelah memohon maaf, mereka terus ke klinik. Ibu budak itu akan menyusul ke rumah Munirah untuk membincangkan hal kerugian Munirah beberapa hari lagi. Hari itu mereka betul-betul ingin cepat kerana ibu budak itu memohon cuti separuh hari sahaja untuk membawa anak ke klinik.

Kaki Munirah benjol bersinar. Terpaksalah dia bercuti daripada membuat kuih beberapa minggu. Besar kemungkinan tidak dapat berniaga di pasar Ramadan tahun ini, memandangkan Ramadan akan menjelang beberapa hari saja lagi. Namun semangat Munirah tidak pernah padam. Setiap kali mengurut kakinya dengan minyak akar kayu, dia berdoa agar cepat sembuh. Dah jemu duduk di rumah tanpa berbuat apa-apa.

Suaminya Razif bangun memasak sebelum keluar bekerja. Dalam fikirannya, dia merasa kasihan terhadap Munirah yang terpaksa bersengkang mata membuat kuih seolah-olah semua tanggungan keluarga terbeban padanya. Namun dia tidak tergamak untuk melarang memandangkan Munirah memang dikenali sebagai seorang yang berketurunan rajin berkerja. Dia masih ingat lagi saranan arwah ibunya yang meminta dia memperisterikan Munirah. Salah satu faktornya ialah gadis itu rajin dan cantik. Siapa tidak kenal keturunan Cik Jah, orang yang paling pandai serta rajin membuat kuih di kampung itu.

Munirah terfikir-fikir tentang malang yang menimpanya itu. ”Dah berpuluh-puluh tahun aku membuat kuih dan berulang-alik ke tingkat atas pasar, tapi tak pernah pula jadi begini. Mungkinkah kerana aku buat silap tempoh hari, kolehku tercemar oleh habuk dan debu, tapi aku masih jualkannya di pasar. Mengapa aku tamak sangat hari itu? Sepatutnya aku buangkan saja. Mungkin inilah hukuman yang wajar buat aku. Orang tidak melihat tapi Allah maha mengetahui. Ya Allah, ampunkanlah aku. Aku berjanji tidak akan melakukan perbuatan seperti itu lagi,” rintih Munirah penuh sesalan.

Dengan terjinjit-jinjit, Munirah cuba mengemas rumah yang bersepah sebelum ini. Dalam diam-diam, dia mengakui tentang kebenaran kata-kata suaminya. Kebersihan itu amat penting. Kita selaku pembuat makanan perlu utamakan kebersihan kerana ia juga sebagai satu ibadah. Pelanggan membeli makanan kita dan berharap kita menyediakannya dalam keadaan bersih. Mungkin kita berdosa kerana tidak mengindahkan hasrat mereka dan membuat secara alah kadar sahaja.

Sesuatu yang menggembirakan hati Munirah apabila, secara diam-diam, Razif mengumpul wang lalu membelikannya sebuah mesin pengadun tepung.

“Kali ini tak payahlah menguli adunan lagi. Ringan sedikit beban kau, Munirah.” Razif cuba menceriakan hati isterinya yang dilihat bermuram durja semenjak kejadian itu.

“Terima kasih, bang.  Kali ini saya akan memperbesarkan lagi perniagaan saya dengan mengupah seorang pekerja. Saya juga akan mengutamakan kebersihan, tidak macam dulu lagi,” kata Munirah, penuh iltizam. Sakit kakinya tiba-tiba dirasa semakin hilang.

TAMAT CERPEN 18.

Ulasan Cerpen 18: Sujata Wee (“Cendolnya Tumpah”) 

Sujata Wee kembali menyajikan cerpen yang bagus, sederhana tapi indah. Perjuangan suami isteri menjalani kehidupan yang tidak mudah. Munirah berjualan kue, Razif  bekerja sebagai kuli bangunan.
Kemalangan yang menimpa Munirah membuatnya tersadar akan kesalahan yang telah diperbuatnya, seperti membuat kue yang sudah tercemar debu dan daun kering. Tuhan telah menegurnya melalui kejadian di tangga pasar itu.
Di balik musibah itu juga mendatangkan berkah yang lain. Suaminya membeli mesin pengaduk tepung. Ia berjanji akan membesarkan usahanya itu, serta menjaga kebersihan.
Meskipun cerpen ini tersaji baik, namun ada pergantian cerita saat menjelang Ramadhan yang kiranya perlu diberi tanda tersendiri. Jika tidak dicermati, rasanya itu jadi kelanjutan dari adukan kue yang tercemar oleh debu dan daun kering.
“Cendolnya Tumpah” memang judul bagus, seperti halnya cerita yang sederhana dan indah.

TAMAT.

BERKENALAN DENGAN PENULIS

1. ADYRA AZ-ZAHRA

Berasal dari Kuala Krai, Kelantan. Sekarang menetap di Kuala Lumpur. Nama: Hasiah binti Yusof. Nama pena:  Adyra Az-zahra. Mula menulis semasa berumur 18 tahun. Kerjaya hanya suri rumah tangga. Pernah menyertai Persatuan Penulis Kelantan (PUSPA) dan sesekali bersama Radio Kota Baharu dalam acara sastera berkarya secara suka-suka dan mengisi masa yang terluang. Sudah menghasilkan beberapa buah antologi bersama dan beberapa buah sajak pernah tersiar dalam akhbar harian Sinar Harian dan Utusan Malaysia.

2. AHKARIM

Ahkarim ialah nama pena bagi Abdul Halim bin A. Karim. Berasal dari Langgar, Alor Setar, Kedah. Mendapat pendidikan di Sultan Abdul Hamid College, Alor Setar; Ijazah BA dari Universiti Malaya pada tahun 1971; Ijazah MSc (Organization Development) dari Sheffield Harlem University (UK) pada tahun 1986. Berkhidmat dalam Perkhidmatan Tadbir dan Diplomatik (PTD) di beberapa jabatan persekutuan (Kementerian Pelajaran, Perbendaharaan Malaysia, INTAN, Pengarah JPJ Negeri Kedah, dan jawatan terakhir sebagai Pengurus Besar, Lembaga Pelabuhan Johor sehingga tahun 2001). Berkecimpung dalam penulisan kreatif melalui genre cerpen dan puisi selepas bersara. Telah menghasilkan empat kumpulan cerpen: Tanika, MoU Sumi, Pensionofobia, dan Confessions of A Tablighi; sebuah kumpulan puisi, Suara Antagonis; dan sebuah novel: Sir Khatim. Kini aktif dalam beberapa NGO, termasuk Ahli Jawatankuasa Persatuan Aktivis E-Sastera Malaysia (E-SASTERA).

3. DIMAS INDIANA SENJA

Dimas Indiana Senja, nama pena dari Dimas Indianto S. Sastrawan, peneliti, dan Dosen IAIN Purwokerto. Bukunya: Nadhom Cinta, Suluk Senja, Sastra Nadhom, Pitutur Luhur, Museum Buton, dan Kidung Paguyangan. Pada 2012 menjadi perwakilan Indonesia dalam pertemuan sastrawan Nusantara Melayu Raya (NUMERA) di Padang. Pada 2015 mendapat penghargaan sebagai pemuda berpestasi bidang pendidikan, seni, dan budaya dari Pemda Kab. Brebes. Pada 2016 menjadi emerging writer dalam acara Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) di Bali. Pada 2019 menjadi instruktur literasi nasional di bawah Kemdikbud dan didaulat sebagai ketua instruktur literasi Jawa Tengah. Pada 2019, menjadi pembicara dalam Mandar Writer and Cultural Forum (MWCF) di Sulawesi. Pada 2019 juga menjadi perwakilan Indonesia dalam program penulisan esai oleh Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA) di bawah Kemdikbud. Pada 2020 menjadi juara penulisan esai yang diselenggarakan Bitread dan Pemda Sumedang. Pada 2020 juga menjadi salah satu finalis Jejak Virtual Aktor (JVA) yang diselenggarakan Kemdikbud.

4. EKHWAN RUSLI

EKHWAN RUSLI ialah nama ringkas yang dijadikan nama pena oleh Mohd Amirul Ekhwan bin Rusli. Anak jati kelahiran Kuala Lumpur ini merupakan bapa kepada sepasang cahaya mata dan kini bertugas sebagai General Manager di Mastrak Sdn Bhd, syarikat pembuat produk konkrit praregang bagi industri rel. Ekhwan mula menulis di pertengahan tahun 2018. Jejak cerpen Wak Goji yang tersiar diikuti oleh cerpen eceran lain di Utusan Malaysia Sabtu, Berita Harian Ahad, dan Mingguan Malaysia. Antara cerpen yang terbit dalam sela masa Julai 2018 – Jun 2019 ialah: Raya 1451, Sri bercakap dengan Jeanne, dan Sekolah di Persimpangan. Selain itu, beberapa buah cerpen dan sajak mendapat ruang di laman eSastera GAKSA. Penulis tidak memiliki sebarang latar belakang kesusasteraan. Baginya, menulis hanya semata-mata untuk memastikan jiwa Melayunya kekal bernyawa. 

5. IRWAN ABU BAKAR

IRWAN ABU BAKAR. Irwan Abu Bakar (atau Dr. Ir. Wan Abu Bakar bin Wan Abas) dilahirkan pada 11 Mei 1951 di Segamat, Johor.  Isterinya ialah Hasimah Harun dari Pasir Mas, Kelantan. Mereka dikurniakan tujuh orang cahaya mata, lima lelaki dan dua perempuan. 

(2) Pendidikan. Irwan bersekolah rendah dan menengah di Segamat serta mengikuti kursus Tingkatan 6 untuk empat bulan di English College, Johor Bahru, Johor. Kemudiannya beliau telah berpindah untuk mengikuti kursus diploma dalam biidang Kejuruteraan Mekanik di Maktab Teknik, Kuala Lumpur (kini UTM).  Selepas itu, beliau telah melanjutkan pelajaran di University of Strathclyde, Glasgow, United Kingdom untuk mengikuti kursus Bachelor of Science (Mechanical Engineering) dan PhD (Bioengineering). 

(3)  Profesion. Irwan merupakan profesor di Jabatan Kejuruteraan Mekanik (kemudian dipindahkan ke Jabatan Kejuruteraan Bioperubatan), Fakulti Kejuruteraan, Universiti Malaya sehingga Januari 2018. Selepas bersara, beliau telah dilantik sebagai Research Associate di Jabatan yang sama. Irwan pernah menerajui Fakulti Kejuruteraan, Universiti Malaya (FKUM) sebagai Dekan sebanyak tiga kali untuk tempoh 10 tahun. Beliau juga telah menerajui penubuhan program ijazah sarjana muda Kejuruteraan Bioperubatan (BBEng) dan kemudiannya pembentukan Jabatan Kejuruteraan Bioperubatan di FKUM, serta dilantik sebagai Ketua Jabatan yang pertama bagi Jabatan Kejuruteraan Bioperubatan FKUM itu. Melalui proses yang berkenaan, Irwan menjadi pengasas pendidikan kejuruteraan Bioperubatan di Malaysia. Selepas itu, beliau telah terlibat sama dalam pembentukan program sarjana muda Kejuruteraan Bioperubatan (Prostetik dan Ortotik), ringkasnya BBEng (P&O), di Jabatan yang sama. Di samping itu, beliau juga telah menerajui pembentukan Fakulti Alam Bina, Universiti Malaya dari empat program alam bina yang mulanya beroperasi di bawah Fakulti Kejuruteraan. Beliau juga telah terlibat dalam pengkomersialan hasil penyelidikan di makmal prostetik dan ortotik dengan bersama-sama membangunkan syarikat terbitan Universiti Malaya, BioApps Sdn Bhd yang mengendalikan perniagaan pembekalan dan perkhidmatan prostesis (anggota badan buatan) dan ortosis (alat sokongan anggota badan). 

(4) Persatuan Profesional. Di luar tugas rasminya, beliau memimpin persatuan-persatuan profesional kejuruteraan pada peringkat nasional, iaitu Persatuan Kejuruteraan Perubatan dan Biologi (MSMBE) sehingga 2015 serta Persatuan Prostetik & Ortotik Malaysia (PPOM) dan Persatuan Biomekanik Malaysia sehingga sekarang. Irwan juga ialah Fellow, Academy of Sciences, Malaysia (FASc). 

(5) Kegiatan Sastera. Irwan mempromosi konsep “whole-brain thinking” sebagai jurutera yang terlibat secara aktif dalam bidang sastera. Beliau telah menerbitkan pelbagai karya sastera dan pernah memenangi beberapa anugerah sastera tempatan. Di samping itu, beliau diiktiraf di Malaysia sebagai pengasas kegiatan sastera siber (atau e-sastera) Melayu. Portal sasteranya dilanggani penulis dari pelbagai negara. Terkini beliau menguruskan portal sastera E-sastera Vaganza ASEAN terbitan Esastera Enterprise untuk Gabungan Komunitas Sastra ASEAN (Gaksa).

(6) Penerbitan Cetakan Keras.  Irwan mula menerbitkan puisi di media cetak pada tahun 1995 (”Diasfora Alam Bahasaku”, Pelita Bahasa, Februari 1995). Sehingga kini, Irwan telah menerbitkan dua buah kumpulan sajak di Malaysia, iaitu Semelar (2003) dan Kuntom Ungu (2012). Juga beliau telah menerbitkan kumpulan puisi di Indonesia, iaitu Grafiti Hati (2016) dan sebuah buku kumpulan “puisi berserta ulasan”, iaitu Peneroka Malam (2014). Beliau juga terlibat secara aktif dengan deklamasi puisi, terutamanya di Malaysia dan Indonesia. Irwan mula menerbitkan cerpen pada tahun 2002 (”$yy…”, Berita Minggu, 25 Mei 2003). Pada tahun 2016, beliau menerbitkan kumpulan cerpen Rewang Minda yang mengandungi 18 buah cerpen tulisannya. Cerpen-cerpen itu kebanyakannya telah tersiar terlebih dahulu di laman-laman web tertentu. Novel pertama tulisan Irwan berjudul Cinta Berbalas Di Meja 17 (2008). Edisi-edisi terkemudian novel itu diberi judul Meja 17 (2012, 2015, dan 2016). Edisi Indonesia novel ini telah diterbitkan di Jakarta pada tahun 2014, juga dengan judul Meja 17. Pada tahun 2018, Irwan menerbitkan novel keduanya. Novel itu berjudul 30 Februari dan telah diterbitkan di Cilegon, Banten, Indonesia (Mei, 2018). Karya eceren Irwan berupa sajak dan cerpen telah diterbitkan dalam pelbagai majalah dan akhbar sejak 1995, termasuk majalah Dewan Sastera serta akhbar Berita Minggu (kini dinamai Berita Harian Ahad) dan Mingguan Malaysia (kini sudah diberhenitkan penerbitannya). Di samping itu, Irwan merupakan penyelenggara dan penyelenggara bersama bagi beberapa buah antologi puisi, antologi cerpen, dan novel bersama. 

(7) Penerbitan Portal Sastera. Kini Irwan meneruskan penerbitan e-majalah sastera (majalah sastera dalam Internet), eSastera.com (www.e-sastera.com) yang bermula pada tahun 2002 tetapi dengan format baru. Majalah itu kini mempunyai cawangan di Facebook.com dalam bentuk grup-grup facebook yang dibentuk di bawah akaun facebook E-Sastera Malaysia. E-majalah itu dinamai E-Sastera@Facebook dan dibentuk oleh grup ”E-Sastera@Facebook Induk” sebagai grup kawalan dan pelbagai grup karya berasaskan genre. Antaranya ialah grup E-Sastera Sajak, E-Sastera Cerpen, E-Sastera Novel, E-Sastera Kritikan, E-Sastera Berita (Pemberitahuan dan Laporan), dan E-Sastera Forum. Butir-butir tentang e-majalah E-Sastera@Facebook diberikan dalam buku berjudul Panduan Pengguna E-Sastera@Facebook (Esastera Enterprise, 2015). Mulai 2019, kehadiran di Facebook itu ditambah dengan grup “E-sastera @ Facebook Karya” yang memanfaatkan penggunaan hashtag # untuk memisahkan genre karya yang disiarkan. Grup ini kemudiannya ditukar nama kepada Majalah Esastera @ Facebook. Sebelum itu, Irwan menerbitkan e-majalah eSastera.Karya (di URL eSasteraKarya.com atau eSasteraKarya.WordPress.com) untuk mempromosikan format sastera elektronik yang melebihi apa yang mampu dihidangkan di Facebook. E-majalah ini juga dikongsi ke Facebook untuk menarik pelanggan yang banyak di situ. Portal unik yang diterbitkannya tetapi ialah Tivi E-sastera (TvEsastera.video.blog). Mulai 2012, eSastera telah menerokai bidang ”sastera Twitter” dengan nama @tSastera (namanya di laman Facebook ialah Twit Sastera). Mulai 2019, melalui GAKSA, Irwan menerbitkan portal e-karya sastera peringkat ASEAN yang dinamai E-sastera.Vaganza ASEAN. Portal itu kemudiannya ditukar nama kepada E-sastera Vaganza ASEAN (mulanya di URL http://www.SasteraVaganza.net, kemudian ditukar ke URL http://www.eSasteraVaganza.com atau http://esva.blog).  Karya di portal ini dikongsi ke Facebook dalam grup “GAKSA e-Sastera.Vaganza ASEAN”. 

(8) Penerbitan Produk Audio. Irwan juga telah menubuhkan GLP (Grup Lagu Puisi eSastera) yang bernaung di bawah syarikat eSastera Records (Pengurus: Dinie Wan). GLP telah menerbitkan dua buah album penuh lagu-lagu puisi, iaitu Perada Cinta (2014) dan Dot Dot Dot (2016). Beberapa buah singles juga telah diterbitkan. Malah lagu puisi nyanyian GLP berjudul “Terus Berlari” telah dijadikan lagu korporat syarikat BioApps Sdn Bhd, sebuah syarikat terbitan Universiti Malaya yang merupakan pembuat dan pembekal perkhidmatan dalam bidang prostetik dan ortotik.

(9) Anugerah Sastera. Anugerah sastera yang pernah dimenangi Irwan ialah (a) Hadiah Sastera Johor 2019 (Buku Sastera), (b) Tokoh Patria Numera 2017, © Hadiah Sastera Darul Takzim 2007-2008 (Puisi Eceren), dan (d) Anugerah Sastera Perdana Malaysia 2004-2005 (Cerpen Eceren). Beliau juga pernah menjadi Editor Bersekutu bagi majalah Dewan Sastera terbitan Dewan Bahasa dan Pustaka, Malaysia. 

(10) Gerakan Sastera. Irwan memulakan gerakan sastera siber di Malaysia pada tahun 2002 melalui portal eSastera.com (kini dinamai e-Sastera.com). Gerakan itu dikenali masyarakat sebagai gerakan e-Sastera.com. Mulai tahun 2013, gerakan itu mengeluarkan anugerah sastera yang dinamai Hadiah e-Sastera.com (atau HesCom), dengan anugerah pertamanya ialah Anugerah Penyair Alam Siber (atau APAS) dan Anugerah Sajak Jenaka Alam SIber (ASJAS). Anugerah tertinggi yang dikeluarkan melalui HesCom ialah Anugerah Sasterawan Alam Siber, dengan penerimanya menggunakan gelaran SAS pada nama mereka. Pada masa yang sama, Irwan telah menubuhkan syarikat penerbitan Esastera Enterprise (yang mulanya dinamai kAPAS Publication). Dalam persatuan penulis, Irwan ialah Presiden, Persatuan Aktivis E-Sastera Malaysia (E-SASTERA) sejak didaftarkan pada tahun 2010. Portal utamanyanya ialah “e-Sastera Blog” (di URL http://esastera.blog). Irwan juga pernah menyandang jawatan Timbalan Presiden, Persatuan Sasterawan Numera (Nusantara Melayu Raya), Malaysia, dan juga pernah menjadi Bendahari, Jawatankuasa Protem, Persatuan Sasterawan Paksi Rakyat (PAKSI). Pada tahun 2016, Irwan telah menubuhkan gerakan sastera pada peringkat ASEAN yang dinamai Gabungan Komunitas Sastra ASEAN (Gaksa), (dengan portalnya di http://gaksa.blog). Secara serentak, Irwan juga menubuhkan syarikat penerbitan di Cilegon, Banten, Indonesia dengan nama Gaksa Enterprise. Mulai 2019, GAKSA menerbitkan portal e-karya peringkat ASEAN “E-sastera Vaganza ASEAN” yang dinyatakan dalam item 7 di atas. Pada tahun 2016 juga, serentak dengan penubuhan GAKSA, Irwan menubuhkan gerakan e-sastera pada peringkat global yang dinamai World Association of Literary Communities (WALC).

6. MASRADEN MD

MASRADEN MD. Nama Penuh: Che Masruddin bin Muhammad. Status: Berkahwin. Tempat Lahir: Lot 259, Kg. Pasir Pekan, Wakaf Bharu, Tumpat, Kelantan. Tempat Tinggal Sekarang: B-15-10, Apartmen Mawar, Bandar Baru Sentul, 51000 Kuala Lumpur. Menulis sejak tahun 1979.  Berapa buah cerpen dan sajak telah disiarkan dalam akhbar Mingguan Malaysia, Berita Minggu, Warta Perdana, Bacaria, Mingguan Wanita Karang Kraf, dan majalah URTV.  Beberapa artikel pernah diterbitkan dalam majalah Seni Silat Warisan Bangsa dan majalah Pendekar.  Pernah memenangi pertandingan penulisan kreatif di peringkat Kementerian Pertahanan tahun 2003 dalam bahagian sajak dan cerpen dengan mendapat tempat pertama dan kedua.  Novel pernah diterbitkan, berjudul Meniti Batas Waktu.  Di samping itu, bergiat cergas dalam Persatuan Seni Silat Cekak Malaysia. FB: Mas Raden. HP: 0192737785. E-mel: masradenmm@gmail.com. 

7. MRT NORDIN

MRT NORDIN. Mohd Raafi bin Thohar Bin Nordin atau dikenali sebagai MRT Nordin, dilahirkan di Hospital Besar Kuala Lumpur pada 22hb Julai 1993. Berasal dari Selayang, Selangor dan dibesarkan dalam keluarga yang sangat besar. MRT mempunyai 15 adik-beradik, dari satu ibu dan satu bapa. Apa yang lebih mengujakan, MRT anak yang ke-10 daripada 15 adik-beradik. Menamatkan Sijil Pelajaran Malaysia (SPM) pada tahun 2010 dengan memperoleh keputusan yang baik. Pada pertengahan tahun 2011, MRT melanjutkan pelajaran ke UiTM, Perak untuk mengikuti kursus alam bina, iaitu Diploma Bangunan. Beliau kemudiannya berjaya menamatkan pelajaran di peringkat Ijazah Sarjana Muda Sains Pengurusan Pembinaan di UiTM, Shah Alam pada tahun 2016. Telah bekerja di pelbagai syarikat dalam bidang yang berlainan. Buat masa ini, MRT giat mencari pengalaman bisnes dalam pelbagai bidang. Pernah menyertai program sastera Gaksa di Banten, Indonesia pada 2017 apabila dia turut mendeklamasi puisi dalam acara Konsert Sastera ASEAN. Tiga buah puisinya telah menyertai buku antologi puisi Senaskhah Diri (Esastera Enterprise, 2020).

8. M.S. RINDU

M.S. RINDU. M.S. Rindu (Mohamed Salleh Lamry) lahir di Kuala Selangor pada 22 September 1942,  memiliki  Ijazah   Ph.D dari UM (1989). Beliau memulakan kerjaya sebagai guru sekolah rendah, sebelum bertugas   sebagai  pensyarah   Antropologi dan Sosiologi    UKM (1978-2003). Beliau   pernah menulis cerpen dan  sajak    pada tahun 1960-an, tetapi  tidak meneruskannya ketika  bertugas sebagai  pensyarah. Selepas bersara dari UKM,  beliau memberi tumpuan kepada penulisan biografi. Buku  biografi beliau yang terakhir, Biografi Ishak Shari: Pemimpin Bumi Semua Manusia (Penerbit UKM, 2014) telah memenangi HSPM  bahagian biografi bagi tahun 2014. Beliau menulis cerpen dan sajak kembali mulai 2016,  yang telah diterbitkan  dalam pelbagai buku antologi.

9. MUKTI JAYARAKSA

MUKTI JAYARAKSA. H. Muktillah, S.Ag. MM.Pd dengan nama pena Mukti Jayaraksa. Lahir di Pulomerak pada 26 Desember 1974. Sejak kecil ia tinggal di lingkungan pesantren. Ayahnya seorang pengasuh pondok pesantren Banu al-Qomar. Sejak lulus dari SDN Tegal Bunder (1988), Madrasah Ibtidaiyah (1989) MTs al-Khairiyah (1990) dan Madrasah Aliyah al-khairiyah Karangtengah (1993) yang kesemuanya di Kota Cilegon, kemudian ia merantau ke kota kembang, Bandung untuk melanjutkan studinya di IAIN Sunan Gunung Djati yang sekarang UIN Bandung, jurusan Bahasa dan Sastra Arab (1993-1998). Di kota kembang, ia tinggal di Pondok Pesantren Sirna Galih asuhan KH. Aceng Jaini Dahlan (1993-1995). Perburuan ilmu terus ia lakukan di Institut Ulum al-Qur’an (2000) dan IMNI Jakarta (2010). Ia pun pernah singgah di beberapa kota, Lampung, Palembang, Bengkulu, Medan dan Kalimantan Timur, Gorontalo, NTT, Sultra serta kota-kota di sekitar Jawa Barat. Kegemarannya membaca dan menulis, terus ia asah dan latih bersama rekan-rekannya melalui media Buletin Ciplukan dan surat kabar di wilayah Banten. Sekarang bersama teman-temannya sedang merintis Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Kota Cilegon. Kini ia mengemban amanat sebagai pengasuh Pondok Pesantren Banu al-Qomar dan Ponpes al-Munawwaroh Gerem Raya. Pernah menjabat Kepala Madrasah Aliyah al-Khairiyah Karangtengah (2003-2015). Sebagai ketum Forum Silaturrahim Pondok Pesantren (FSPP) Kota Cilegon. Sebagai Presedium FSPP (2019). Dalam kesehariannya, ia pun sibuk berdakwah dari panggung ke panggung. Artikel-artikelnya muncul di Baraya Post, Kabar Banten, dan Radar Banten UN dan Pendidikan Agama (2009), Perspektif Versus Perspektif (Sengketa Lahan Kubangsari), Agama Baru Ahmadiyah, Pasca MoU Pemkot-PT KS Posco Tantangan Menghadang, Membacalah! Lalu, Menulislah!, Dari Kritis Hingga Autis, Antara Hiburan dan Hobi (Refleksi Wacana Relokasi dan Lokalisasi), Membangun Pemuda (2011). Juga teks-teks Khutbah Jum’at, Idul Fitri, dan Idul Adha yang dikonsumsi oleh DKM Masjid. Buku perdana Kumcer: Meminang PSK (2012); Syahadat Banten (2017). Beberapa buku yang memuat karyanya, Air Mata Debus, Tonggak Tegak Toleransi (MPU X) Kupang 2015. Jika ingin berkenalan dengan Mukti Jayarakta, kirimkan saja e-mel ke: hajimuktillah@yahoo.com atau mukti.jayaraksa@gmail.com. Facebook: Mukti Jayarakta. SMS: 087871584568. 

10. PARIDAH ISHAK

PARIDAH ISHAK. Nama: Paridah Ishak. Tempat lahir: Dulang Kechil, Yen, Kedah. Pendidikan: Smart Kuantan. Pekerjaan: Suri rumah. Kegiatan Penulis:  Giat menulis mulai 1980. Karya-karya eceran berupa cerpen, puisi, berita, rencana, ulasan buku, skrip drama diisiar di (a) majalah: Dewan Sastera, Dewan Budaya. Pelita Bahasa, Dewan Masyarakat, Dewan Pelajar, Tamadun Islam, Mingguan Wanita, Peneroka, dan (b) akhbar: Utusan Malaysia, Mingguan Malaysia, Sinar Harian,  New Sabah Times, serta Radio Klasik Rtm, Gema Karyawan Pk. Telah menyertai 80 buah antologi puisi/cerpen bersama. Alamat: Paridah Ishak, No 7, Jln 7f, Desa Melor, 48200, Selangor DE. E-mel:  paridah.ishak@gmail.com. HP 0192525742.

11. PUTRAERY USSIN

PUTRAERY USSIN. Nama sebenar ialah Husairi Bin Hussin. Dilahirkan pada 18.02.1977 di Kampung Ulu Tawar, Karangan, Kulim, Kedah. Mendapat pendidikan awal di Sekolah Kebangsaan Ulu Tawar, Baling, Kedah. Kemudian mendapat pendidikan menengah di beberapa buah sekolah di daerah Kulim, iaitu Sekolah Menengah Tarbiah Diniah, Sekolah Menengah Kebangsaan Labu Besar, dan Sekolah Menengah Kebangsaan Kulim. Kelulusan ijazah pula ialah Sastera Dengan Pendidikan dari Universiti Sains Malaysia dan kelulusan sarjana Sains Pendidikan (Pengurusan) dari Universiti Utara Malaysia. Kini berkhidmat di Maktab Rendah Sains MARA  sebagai guru Bahasa Melayu. Antara karyanya yang pernah terbit ialah novel You Ni: Ayat-ayat Jiwa (2010), Kelab Fixie (2012), Blok C: Syoknya Di Asrama (2014), Bukit Syahdu dan Seronoknya Bermain Tenis (2015), She Ha! Kala Hati Bertaut Sayang (2016), Suar Hati (2019) serta beberapa buah cerpen dan sajak di majalah-majalah tempatan.

12. ROSLIE SIDIK

Roslie Sidik, seorang guru yang berkelulusan ijazah Sarjana Muda dalam Kesusasteraaan Inggeris dan Bahasa Inggeris. Penerima Anugerah Guru Arif Budiman (2018) dan Tokoh Muda PENAMAS 2009 (Perguruan Melayu) dan pemenang Anugerah Golden PointSPH-NAC, 2009 & 2011 (Cerpen) dan Anugerah Persuratan (Esei) 2007 & 2011. Buku-buku cerpen terbitannya bertajuk ‘Doaku’, ‘Mat Karipap’ dan ‘Bintang’. Beliau juga telah mengikuti program penulisan di Korea Selatan sebagai penulis tamu di Pusat Kebudayaan Toji pada tahun 2015.

13. ROSNIDAR AIN

ROSNIDAR AIN. Rosnidar Ain dilahirkan pada 21 Januari 1978. Beliau merupakan anak jati Daerah Baling, Kedah. Kini bertugas di Bahagian Kesusasteraan, Universiti Sains Malaysia yang menjurus dalam subjek yang berkaitan dengan Kesusasteraan dan Media Baru dan Penulisan Kreatif. Pendidikan awal beliau adalah di Sek. Keb. Kg. Bandar dan Sek. Men. Keb. Syed Abu Bakar, Baling, Kedah. Atas minat beliau dalam bidang penulisan kreatif, beliau telah memilih Institut Teknologi Seni Melaka untuk melanjutkan pengajian dan dianugerahkan Diploma dalam Penulisan Kreatif di institusi tersebut.  Beliau seterusnya melanjutkan pengajian ke peringkat Ijazah Sarjana Muda dalam bidang Kesenian Melayu di bawah Akademi Pengajian Melayu, Universiti Malaya. Beliau ditawarkan biasiswa untuk melanjutkan pengajian dalam bidang Kesusasteraan dan Media Baru untuk peringkat Sarjana dan Kedoktoran oleh Universiti Sains Malaysia dan memilih untuk melanjutkan pengajian di Fakulti Seni Lukis dan Seni Reka, UiTM, Shah Alam. Di sini, beliau berjaya memperoleh Ijazah Sarjana dan Kedoktoran dalam bidang Komunikasi Visual dan Media Baru. Selain menghasilkan dua buah novel, karya beliau pernah dimuatkan dalam beberapa antologi puisi dan antologi cerpen. Ada puisi dan cerpen beliau diterbitkan dalam surat khabar seperti Berita Minggu dan Utusan Malaysia. Beliau pernah memenangi hadiah sagu hati dalam sayembara menulis cerpen Hadiah Sastera Berunsur Islam ke-10. Beliau juga turut menulis artikel-artikel ilmiah dalam jurnal, bab dalam buku dan sebagainya, dalam bidang kesusasteraan terutamanya yang berkaitan dengan komunikasi visual dan media baharu.

14. SERI BANANG

Seri Banang. Telah menghasilkan sajak-sajak di antologi nasional dan Nusantara. Antaranya antologi Wangian Kembang KONPEN 2018, antologi puisi Pertemuan Sasterawan Nusantara Merekat Retak Cermin Nusantara, antologi Banjar Baru’s Rainy Day, antologi Musim Luruh, antologi Perempuan 3 Wajah, antologi Diam Yang Lantang dan terbaru bersama penulis-penulis dari asean dalam antologi Pusaka Melaju yang diselenggarakan oleh Prof. Dr. Irwan Abu Bakar. Puisi juga turut disiarkan di majalah Penyair 2018.

15. SRIWATI LABOT 

SRIWATI LABOT. Nama Penuh: Sriwati bt. Labot. Alamat surat-menyurat: Lot 1302, Lorong B3, Kampung Muhibbah, 95000 Sri Aman, Sarawak, Malaysia. Penglibatan dalam bidang penulisan:  (1) Pernah terpilih oleh GAPENA mewakili negeri Sarawak  mengikuti Pertemuan Sasterawan Nusantara ke-9 di Kayu Tanam, Indonesia (6-12.12.1997); (2) Selalu mengikuti seminar, simposium, dan perkampungan penulis yang dianjurkan oleh DBPCS dan GAPENA; (3) Sebanyak 97 buah puisi dan 30 cerpen telah  tersiar di Mingguan Sarawak, Berita Minggu, Dewan Sastera, Tunas Cipta, BAHANA, BTDM, dan People Mirror; (4) Memiliki beberapa buah antologi bersama puisi dan cerpen; (5) Terkini, tahun 2019, puisi turut terpilih dalam antologi Istana Kasih 6 dan antologi Jazirah 2 (Festival Sastera International Gunung Bintan). Antara kejayaan yang dicapai dalam bidang penulisan: (1) Mendapat tempat ke-4 dalam acara Sayembara Menulis Puisi Merdeka 2019 anjuran Institut Darul Ehsan; (2) Hadiah Karyawan Harapan Negeri Sarawak 1997; (3) Hadiah Penghargaan Penulis Sarawak Kategori Puisi:  Satu tafsiran – Tahun 1997, Kekasih ii – Tahun 1999, dan Menganyam Kesempurnaan – Tahun 2000; dan (4) Hadiah Penghargaan Penulis Sarawak kategori Cerpen: Halimunan – Tahun 1999 dan “Garis-garis Yang Hilang” – 2002 (peraduan menulis sastera kreatif). E-mel: Sriwatilabot@gmail.com atau sriwatilabot@yahoo.com.my. H/P: 0173327595.

16. SUJATA WEE

SUJATA WEE. Alamat: Pt 284, Jln. Baru, Kg. Kulim, 16250 Wakaf Bharu, Kelantan. No. telefon: 0108791336. Puisi penulis telah diterbitkan secara eceran dalam akhbar Mingguan Malaysia, Utusan Malaysia, dan Sinar Harian serta dalam majalah Dewan Budaya, Dewan Sastera, Pelita Bahasa, New Sabah Times, Buletin Penyair, Jendela Timur, dan Buletin Pemuisi. Sementara itu, karya eceran daripada pelbagai genre telah menyertai antologi bersama yang berikut:  (1) Antologi travelog Catatan Kembara; (2) Antologi pantun Pantun Serumpun; (3) Antologi pantun Asmaradana; (4) Antologi resipi Dari Dapur Penulis; (5) Antologi resipi kuih Penganan; (6) Antologi pantun Asmaraloka; (7) Antologi sajak Negeri Yang Terkoyak Bencana; (8) Antologi sajak Januari Biru; (9) Antologi sajak Sajak 152; (10) Antologi sajak Istana Kasih 5; (11) Antologi sajak Gema Membelah Gema; (12) Antologi sajak Sajak Tanpa Judul; (13) Antologi sajak Wangian Kembang; (14) Antologi sajak Merekat Retak Cermin; (15) Antologi syair Tuk Suji Bilang; (16) Antologi sajak Raikan Hidup; (17) Antologi sajak dan cerpen Numera Bersayap Harapan bersama KEMALA; (18) Antologi pantun dua kerat Karmina; (19) Antologi cerpen Sehati; (20) Antologi kuatrin Suara Hati; (21) Antologi sonian Garuda; (22) Antologi sajak Dari Hujan Ke Hujan; (23) Antologi petua Dari Meja Penulis; (24) Antologi sajak Kemboja Merah Di Telapak Tangan; (25) Antologi sajak Bunga Cinta; (26) Antologi pantun empat kerat; (27) Antologi sajak Tanda Mata; (28) Antologi sonian Langit Palestin; (29) Antologi syair Legenda Ikan; (30) Antologi sonigraf Bunga-bunga Hati; (31) Antologi pantun Aidilfitri; (32) Antologi puisi dan cerpen Seakrab Angin; (33) Antologi cerpen Detik Masa; (34) Antologi sajak Istana Kasih 6; (35) Antologi pantang larang Pantang Larang; (36) Antologi sonian Rona Kata Dalam Kita; (37) Antologi sajak Terima Kasih Tuhan; (38) Antologi sajak When The Days Were Raining; (39)  Antologi sajak Gumpalan Rasa; dan (40) Antologi pantun Pantun Jenaka.

TAMAT.

BACK COVER

TULAH

ANTOLOGI CERPEN
GABUNGAN KOMUNITAS SASTRA ASEAN (GAKSA)

Koleksi 16 buah cerpen menarik dari 14 penulis Indonesia dan Malaysia. Kemunculan buku antologi ini pasti mampu menggalakkan lagi kegiatan bersama penulisan sastera berbahasa Melayu dalam kalangan sasterawan rantau ASEAN.