VERSI SEBENAR
Klik SINI.
VERSI TEKS
Antologi Puisi Gaksa 2020 Volum 5
Penyelenggara
IRWAN ABU BAKAR
ii
iii
ANTOLOGI PUISI GAKSA VOLUM 5
Hak cipta terpelihara. Tidak dibenarkan mengeluar ulang mana-mana bahagian artikel, ilustrasi, dan isi kandungan buku ini dalam apa jua bentuk dan dengan apa jua cara sama ada secara elektronik, fotokopi, mekanik, atau cara-cara lain sebelum mendapat izin bertulis daripa Gaksa Enerprise. Perundingan tertakluk kepada perkiraan royalti atau honorarium.
Penerbit: Gaksa Enterprise.
Penyelenggara: Irwan Abu Bakar.
Penulis: Ahli grup WhatsApp E-sastera Vaganza ASEAN.
Sampul: Mahdiduri
Penyusun: Abdul Wafa
Ilustrasi Isi: Ikhwan Sugiyanto
iv
1.01. Menanam Derhaka
1.02. Hilang Seludang
1.03. Kebobrokan
1.04. Hikmat Dan Rahmat
1.05. Bisik Bicara
1.06. Bicara Berkonon Dan Berlapis
1.07. Garis Akhir
1.08. Faktor Umur
1.09. Berfenomena
1.10. Kita Atau Sahabat
2.01. Rezeki Pagi
2.02. Sesebuah Kehidupan
2,03. Kubuka Lembaran Baharu
2.04. Perjalanan
2.05. Tanka: Merigis Kenangan
2.06. Tanka: Tunaikanlah
2.07. Haiku: Krakatau
2.08. Haiku Menanti Musim
2.09. Haiku: Masjid
2.10. Sonian: Ketam
3.01. Aku Pejuang
3.02. Temali Di Pantai Sakom
3.03. Aku Ingin Jadi Air, Bukan Batu
v
3.04. Sayang Pantai Sangeang
3.05. Kasihan, Hanya Itu Mampuku
3.06. Tuah-tuah Kecil – 1
3.07. Nikmat Kecil
3.08. Tidak Turut Ke Medan Juang
3.09. Tembolok @ Tengkolok @ Keris
– Golok @ Goblok
3.10. Pemberi Sembunyi Tangan
4.01. Busuk.
4.02. Persahabatan.
4.03. Mesyuarat Perdana Di Rimba.
4.04. Rumah.
4.05. Versi Adat Air dan Angin.
4.06. Versi Adat Akar dan Akal.
4.07. Pujian Hanya Milik Allah.
4.08. Menjadi Padi.
4.09. Berita.
4.10. Jelira.
5.01. Haiku: Tangga Spiral
5.02. Kuatrin: Seorang Gadis
Yang Kutemui Pada Lewat Malam
5.03. Pantun Vaganza
5.04. Makna Sebuah Rindu
5.05. Soneta: Air Mata Palu
5.06. Sonian: Berangkai: Kembara Thailand
5.07. Sonian: Gunung Jerai
5.08. Sonian: Pekan Rabu
5.09. Sonian: Pulau Langkawi
5.10. Tanka: Belasungkawa Muhammad
vi
Adib bin Mohd Kassim
6.01. Pelimbang
6.02. Kita Dan Kematian
6.03. Menangkis Tanggapan
6.04. Nila Nan Setitik
6.05. Tsunami Banten Menjentik Nubari
6.06. Syair: Tsunami Sunda
6.07. Gurindam: Ada Pun
6.08. Dansa Ilalang
6.09. Mentari Retak Di Birai Ombak
6.10. Kuatren: Membingkai Kesetiaan.
7.01. Tanah Kehidupan.
7.02. Tuhan Dan Pilihan.
7.03. Arwah.
7.04. Lautan Rahsia.
7.05. Mencari Jalan Cahaya.
7.06. Ditampar Setan.
7.07. Selamat Tinggal Yang Indah.
7.08. Langit Gerhana.
7.09. Laut Biru Langit.
7.10. Menghancurkan Diri.
8.01. Susah Merokok
8.02. Cerita Di Jalan Raya
8.03. Gurindam: Sayang Melayu
8.04. Rona Manusia Yang Abstrak
8.05. Tempayan Busuk
8.06. Tidak Terungkai
vii
8.07. Soneta #1
8.08. Tanka #125
8.09. Haiku #47
8.10. Senryu #21
9.01. Aku
9.02. Menapaki Temburong
9.03. Pada Parasanku
9.04. Jejak Hidup
9.05. Kucuran Keringat
9.06. Pesan Buat Belia
9.07. Wawasan Harakah Belia
9.08. Ramadan Kareem
9.09. Mohon Kasih-Mu
9.10. Pantun Majlis Perkahwinan
10.01. Seorang Ratu
10.02. Cintaku Jauh Di Kota
10.03. Cinta Gadis Medan
10.04. Cinta Gadis Banjar
10.05. Hidup Sederhana
10.06. Tanah Airku
10.07. Aku Ingin Dekat Denganmu
10.08. Ibu Yang Kesunyian.
10.09. Bandar Melayu
10.10. Komunis Islam (Rashid Maidin)
- Irwan Abu Bakar
viii
ALU-ALUAN PENERBIT
ix
Alhamdulillah, Gaksa Enterprise (GE) diberi kepercayaan untuk terus menerbitkan antologi puisi Gaksa yang kelima ini. Buku ini merupakan buku pertama terbitan GE untuk tahun 2020. Puisi-puisi telah dikemukakan oleh masing-masing penulis kepada pihak penyelenggara pada tahun 2019.
GE akan terus menerbitkan antologi serupa ini demi merancakkan perkembangan sastera ASEAN dalam bahasa ASEAN.
Selamat membaca.
Muhammada Rois Rinaldi
CEO, Gaksa Enterprise.
11.01.2020.
x
Oleh: Muhammad Rois Rinaldi
Adalah sesuatu yang dimafhumi oleh semua kalangan terdidik, bahwa dunia Melayu — yang kini sering kita sebut Rumpun Melayu — telah melintasi sejarah yang panjang. Kehadiran Inggris di suatu wilayah dan Belanda di wilayah yang lain, dalam kurun waktu ratusan tahun, membentangkan jurang yang memisahkan dunia Melayu menjadi dunia yang berasingan satu sama lain; dunia yang terpecah-pecah baik secara politik, sosial, maupun kebudayaan. Di sinilah kiranya, sebuah titik pijak yang perlu digunakan untuk menelaah karya sastra rumpun Melayu masa kini. Karena, keduanya memberi pengaruh penting pada arah kembang kesusastraan Melayu, sejalan dengan perkembangan pemikiran dan karya-karya intelektual.
Rentang waktu yang panjang dan praktik pemecahan-pemecahan dunia Melayu sebagai satu kesatuan tatanan masyarakat dan kultur kesusastraan yang berakar pada akar yang sama, yakni kesusastraan Melayu tersebut, sesungguhnya disadari betul oleh para sastrawan modern. Kesadaran ini terus tumbuh, setidaknya mulai terlihat subur pada tahun 50-60, hingga saat ini. Kesadaran yang dimaksud adalah lahirnya pergerakan kesusastraan di negara-negara rumpun Melayu untuk dapat bertemu, bertukar karya, saling belajar, dan melengkapi satu sama lain. Itu pula yang menjadi tolok ukur pembentukan Gaksa (Gabungan Komunitas Sastra ASEAN) untuk bergerak sebagai komunitas sastra yang melingkupi wilayah kerja Asia Tenggara.
xi
Jika selama ini forum-forum sastra serumpun bersifat taktis, artinya jika ada kegiatan saja mereka berkumpul dan berbicara, Gaksa yang diinisiasi oleh Prof. Dr. Irwan Abu Bakar, mengembangkannya menjadi komunitas yang sistemis. Menyatukan berbagai komunitas di Asia Tenggara, khususnya yang berbahasa Melayu, dalam suatu gabungan dengan satu semangat, satu harapan, dan satu tujuan. Dan dalam kaitannya, gelaran acara temu sastra dan penghadiran buku-buku bersama yang berisi karya-karya sastrawan Asia Tenggara adalah program yang tidak hentinya dilakukan.
Kini saya dihadapkan pada kumpulan sajak Gaksa “Volum 5”. Itu artinya, sudah ada 4 volum yang mendahuluinya.
Judul Aku Pejuang yang dipilih, saya pikir, sebagai perwajahan yang tetap dalam rangka mengantarkan semangat membangkitkan dunia Melayu melalui karya sastra, agar pecahan-pecahan yang terbentuk dalam waktu ratusan tahun menjadi nilai lebih. Tetapi sajak-sajak di dalamnya, tentu saja tidak melulu berbicara perjuangan yang denotatif. Karena perjuangan tidak selalu berupa “kata berjuang”, melainkan nilai dan sikap; konsistensi dan intensitas.
Aku Pejuang memuat 10 penyair dari berbagai negara yang masing-masing menghadirkan 10 sajak. Brunei diwakili oleh Abdullah Tahir, Adi Wahab, dan Kiflee Tarsat. Malaysia, ada Ahkarim, Azmi Rahman, Citranalis, CT Nurza, Ibnu Din Assingkiri, dan MS Rindu. Sementara Indonesia ada Novia Rika yang telah lama selalu mengikuti program-program penerbitan buku Gaksa. Adapun penyair-penyair Thailand dan Singapura, dimuat dalam volume-volume sebelumnya.
Membaca buku ini adalah membaca kemajemukan yang menantang. Perbedaan yang cukup tajam terlihat
xii
jelas antara satu sama lain, menggoda saya untuk mengingat-ingat tali-temali local wisdom, di mana setiap penyair terikat pada struktur dan kontur kebudayaannya. Sehingga, jika kemudian yang hendak diwacakan adalah ihwal capaian estetik atau dalam perspektif keberesan kebahasaan dan apatah lagi tentang seberapa berkembang bahasa masing-masing penyair, yang dalam kaitannya adalah upaya pemunculan atau penemukan kata atau bahasa yang terbaharukan, bukan suatu pembicaraan yang diperlukan.
Oleh karena itu, saya lebih menekankan pembacaan saya kepada “bagaimana kebudayaan” mendorong lahirnya sebuah karya. Kebudayaan yang saya maksud adalah kebudayaan dalam pengertian seluas-luasnya.
II
Pertama, ada sajak-sajak penyair yang pernah menjadi Guru Besar di Brunei dan mengikuti program Kursus Pentadbiran di Brighton Polytechnic England pada tahun 1978, Abdullah Tahir. Membaca sajak-sajaknya seperti membaca reaksi dari suatu keadaan sosial. Meski demikian, saya masih cukup awas untuk memahami bahwa sajak tidak dapat sepenuhnya dikatakan sebagai replika kenyataan apatah lagi kenyataan itu sendiri.
Satu di antaranya adalah sajak “Menanam Derhaka”:
Saat ada suara yang meraung sakit
kita masih bisa bicara soal keamanan
dan kemakmuran
di lintasan angin berbau bunga
yang wanginya basah di dedaun hijau
xiii
sedang di sana masih belum usai
dengan ribuan persengketaan
hanya pada sekeping tanah gersang
yang telah dimamah oleh dentuman bom dan mortar
daging dan tulang tumpah bersama darah
dan air mata
kabut oleh debu-debu yang pekat
sebuah saksi sahih
derita dan sengsara petanda
mereka masih setia pada tanah airnya
dan kita yang bangga dengan kemakmuran
yang berketurunan
masih sahaja ada yang menanam derhaka
pada bangsa dan negara.
Sajak yang ditulis pada 27 Januari 2019 tersebut melampirkan sejarah di mana sebuah negara dahulu dapat berdaulat, sebelum pada akhirnya semua orang di sana merasakan kemakmuran, bahkan bangga, dengan kemakmuran yang diwariskan turun-temurun. Di dalam kemakmuran yang semestinya disyukuri ini, rupanya masih ada yang durhaka (derhaka) kepada negara: “dan kita yang bangga dengan kemakmuran/yang berketurunan/masih sahaja ada yang menanam derhaka/pada bangsa dan negara.//”.
Sekilas baca, sajak tersebut seperti sajak politik yang agak hipokrit. Tetapi jika didalami, terlebih ini adalah Brunei, ianya mengandung nilai yang tidak sekadar seruan semacam iklan layanan sosial pemerentahan di televisi. Ia mengandung pesan kesadaran tentang usia perjuangan yang tidak berbatas. Orang dahulu berjuang untuk hari-hari di mana dahulu hidup dan hari ini, orang-orang di hari ini harus berjuang untuk dirinya sendiri di hari ini dan orang-orang di masa depan.
xiv
Adi Wahab (atau Haji Duming @ Domeng Bin Haji Abdul Wahab), penyair yang satu negara dengan Abdullah Tahir, pada halaman berikutnya menghadirkan puisi-puisi yang menyadur tanka dan haiku, antaranya:
Tanka:
TUNAIKANLAH
Pagi yang sepi
unggas masih di sarang
fajar menyingsing
subuh belum beredar
tunaikanlah solatmu.
Haiku:
KRAKATAU
Anak Krakatau
muntahkan lahar panas
menelang korban.
Meski demikian, ada sajak bebasnya yang juga menarik untuk diketengahkan:
REZEKI PAGI
Benarlah bahawa
sesungguhnya rezeki itu
ada di mana-mana
dan kita
tetap mensyukurinya
dengan apa yang ada
dan seadanya
meskipun demikian
xv
ini bukanlah bermaksud
rezeki kais pagi
makannya pagi
kais petang makannya petang
tetapi ianya adalah
hasil titik peluh
dari tulang empat kerat!
Sebuah sajak yang diilhami dari kesadaran bahwa rizki sungguhlah ada di mana-mana, tapi ianya tidak datang dengan sendirinya. Sajak dari penyair yang pernah menjabat sebagai Setiausaha Sulit di Kementerian Hal Ehwal Dalam Negeri Brunei ini, memang mengandung pesan yang klasik, tapi di masa kini penting hadir, sebab tabiat matrealistik “orang modern” rupanya melahirkan para pemalas.
Penyair lain yang masih dalam barisan penyair Brunei adalah penerima penghargaan dalam Peraduan Menulis Syair Berunsur sejarah Sempena 45 Tahun Bahasa Melayu dalam Perlembagaan Negara Brunei Darussalam, serta memenangi tempat pertama dalam Peraduan Menulis Syair Sejarah anjuran Pusat Sejarah Brunei pada tahun 2009, Kiflee Tarsat. Dalam 10 sajaknya di dalam buku ini, mengandungi pesan yang beragam, mulai dari kegelisahan pribadi hingga ketauhidan seorang hamba. Antara puisi-puisi tersebut, saya amat tertarik membaca karyanya yang berbentuk semacam deretan pantun berikut ini:
xvi
PANTUN MAJLIS PERKAHWINAN
Sayang kumbang mencari makan,
Mencari makan tepi perigi;
Selamat datang kami ucapkan,
Moga mendapat restu ilahi.
Pakaian pengantin kain tenunan,
Muda belia sama sebaya;
Sama cantik sama padan,
Seperti cincin dengan permata.
Cantik burung cenderawasih,
Terbang berkawan di waktu petang;
Kami ucapkan terima kasih,
Kepada jemputan yang sudi datang.
Jemputan datang berpakaian indah,
Meraikan majlis sejarah gemilang;
Doa kesyukuran dibaca sudah,
Dijemput menikmati jamuan terhidang.
Tanam pisang di tanah rata,
Tumbuh bunganya pucuknya lati;
Budi biskita tidak dilupa,
Sudah terpaku di dalam hati.
Daun selasih di dalam puan
Puan berisi intan permata;
Terima kasih tuan dan puan,
Sempurna majlis dipandang mata.
Saya membayangkan sebuah puisi lahir dari akar tradisi, sehingga ketika ia mengalami perubahan atau
xvii
dalam dunia akademik sering disebut termutakhirnya, tidak benar-benar tercerabut akarnya. Sehingga karya-karya yang lahir tetap otentik. Dunia pula akan melihat Melayu sebagai yang otentik, sebagaimana otentiknya India dengan film-filmnya yang tidak pernah menghilangkan tarian dan potret sosio-kulturalnya. Tetapi meski demikian, puisi-puisi yang kini hadir dari dan di tengah masyarakat Melayu, tidak sepenuhnya dapat dipandang sebagai yang telah tercerabut dari kebudayaannya, meski tidak secara tegas menegaskan wajah kebudayaan itu sendiri.
Beranjak ke Malaysia.
Saya mengenal dan membaca begitu banyak penyair Malaysia dan karyanya. Banyak pula yang saya idolakan, di antaranya adalah Ahkarim. Penyair Kedah yang pernah menjabat sebagai Pengurus Besar, Lembaga Pelabuhan Johor ini, sajak-sajaknya didominasi oleh tema sosial-keagamaan. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh kegiatannya sebagai seorang aktivis dakwah dan sekaligus aktivis kemanusiaan. Satu di antara 10 sajaknya menjadi judul dalam buku ini:
AKU PEJUANG
Ya, aku seorang pejuang
sesungguhnya aku seorang pejuang
aku benar-benar seorang pejuang.
Ke utara aku berjuang
ke selatan aku berjuang
ke timur ke barat aku pasti berjuang.
xviii
Ya, aku seorang pejuang
aku tidak pernah takut
aku tidak pernah kecut
aku tidak pernah cabut
sebab aku seorang pejuang.
Aku pejuang tulen
sanggup korban apa saja
harta maupun nyawa
demi bangsa agama dan negara
percayalah, aku orangnya.
Aku telah berjuang mati-matian
ke tengah ke tepi tanpa henti
tapi satu perkara sebenarnya yang aku idami
mm… segan pula nak kubicara di sini
di kiri dan di kanan telah aku berdiri
duduk saja yang belum lagi
sebenarnya yang kucari adalah sebuah kerusi.
Sebagaimana saya utarakan di muka, sajak-sajak Ahkarim dalam buku ini pula tidak menjauh dari sosial-keagamaan. Perhatikan beberapa petikan sajaknya berikut ini.
Aku kutip
dari timbusan pasir
mungkin penambat perahu
sang nelayan beratus tahun lalu
juga mungkin sang kekasih kecewa lalu membunuh diri di situ
…
(TEMALI DI PANTAI SAKOM)
xix
Tuhan,
biar aku jadi air, bukan batu
jadilah aku air.
…
(AKU INGIN JADI AIR, BUKAN BATU)
…
Kata pulau
tolong, aku diintai
korporat bermata liar tanpa hati
seluruh aku pasti terobek.
…
(SAYANG PANTAI SANGEANG)
…
Selebihnya tiada
dan ia tidak upaya mengubah apa-apa
tika aku menapak jejak di tembok
aku dengar raungan sang isteri mencari suami
yang mati saat menyusun batu
…
(KASIHAN, HANYA ITU MAMPUKU)
Hal yang khas dari sajak-sajak Ahkarim, selain kepeduliannya terhadap agama dan kemanusiaan, ialah kebiasaan menggunakan “Aku” dalam sajak-sajak yang umumnya menggunakan kata ganti orang kedua atau ketiga. Misalkan dalam sajaknya yang dimuat dalam buku Gaksa Volum 2, “Malayaku, Kekasihku”: “Tetapi malangnya aku Malaya”. Sehingga ada kesan sajak lirik dalam beberapa sajaknya yang sesungguhnya naratif. Tetapi dalam hal ini, tentu saja saya mengerti bahwa sajak lirik dan naratif tidak ditandai dengan kata ganti,
xx
melainkan ada atau tidak adanya cerita, alur, tokoh, dan sebagainya.
Azmi Rahman, Pensyarah Kanan di Pusat Pengajian Pengurusan Industri Kreatif dan Seni Persembahan (SCIMPA), Kolej Sastera dan Sains, Universiti Utara Malaysia (UUM) adalah penyair Malaysia lainnya yang 10 sajaknya termaktub di dalam buku ini. Bentuk sajak-sajaknya agak berbeda dibanding umumnya sajak yang ditulis penyair Malaysia, tapi lumrah di Indonesia, yakni berbentuk paragraf, bukan bait. Meski demikian, sajak-sajaknya tidak sebagaimana sajak-sajak di Indonesia, yang jika bentuknya paragraf kecenderungannya adalah prosa liris, sajak-sajak Azmi Rahman tetap dengan wajah lirik, misalkan sajak “Busuk” dan naratif, misalkan “Mesyuarat Perdana di Rimba”.
Antara kesepuluh sajaknya, saya terkesan dengan sajak ini:
BERITA
Baca berita. Berita entah apa-apa. Baca berita. Berita dusta. Baca berita. Berita fitnah semata-mata. Baca berita. Berita suka-suka. Baca berita. Berita buta. Baca berita. Berita saja-saja. Baca berita. Berita orang kita. Baca berita. Berita hentam ikut suka. Baca berita. Berita sensasi saja. Baca berita. Berita kontroversi pula. Baca berita. Berita hampas belaka. Baca berita. Berita duka lara. Baca berita. Berita boleh jadi orang gila. Baca berita. Berita semua tak kena. Baca berita. Berita susah nak percaya. Baca berita. Berita dalam dilema. Baca berita. Berita tak tahu hala. Baca berita. Berita propaganda. Baca berita. Berita tak boleh percaya. Baca berita. Berita bikin pening kepala. Baca berita. Berita orang jahat dipuji melata. Baca berita.
xxi
Berita orang baik dikata dusta. Baca berita. Berita jadi keliru pula. Baca berita. Berita siapa reka? Baca berita. Berita ada agenda. Baca berita. Berita celaka. Baca berita. Berita baik ada makna. Baca berita. Berita apa? Berita tutup berita. Berita apa? Berita buka cerita. Baca berita. Berita orang bakar berita. Baca berita. Berita orang marah-marah orang tulis berita. Baca berita. Berita jadi lebih membara. Baca berita. Berita tular melata. Baca berita. Baca berita. Berita la la la. Baca berita. Berita pantun tentang berita.
Pagi hari menuju ke kota,
Tiba di kota membeli joran;
Bosan sudah baca berita,
Mari kita baca al-Quran.
Sajak yang pesannya kontekstual dengan masa sekarang, di mana hoaks menjadi makanan sehari-hari manusia yang kurang berpikir tersebut, mengingatkan saya kepada sajak-sajak nonsense Sutadji Calzoum Bachri, penyair Indonesia yang terkenal dengan sajak “Tragedi Winka Sihka”:
…
winka
sihka
sihka
sihka
sih
ka
…
xxii
Ada keberanian bereksprimen dalam aspek kebahasaan dalam sajak “Berita”. Yang ianya tidak seberapa lazim di Malaysia. Seingat saya, penyair Malaysia yang agak berani bereksperimen dalam aspek kebahasaan adalah Puzi Hadi, Ibnu Din, dan Hazwan Ariff Hakimi. Hal tersebut, tentu layak diapresiasi.
Penyair yang lainnya adalah Citranalis. Penyair perempuan Malaysia yang namanya sudah saya kenal sejak tahun 2011, sejak saya terlibat dalam portal resmi Persatuan Aktivis E-Sastera Malaysia (ringkasnya E-SASTERA) yang dipimpin oleh Prof. Dr. Irwan Abu Bakar.
Sajak-sajak Citranalis, seperti sebuah catatan perjalanan yang terus berlaku, dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu negeri ke negeri yang lain. Antaranya:
…
/i/
Menyusuri sungai
Menam Chao Phraya
makan malam
kenangan.
…
(KEMBARA THAILAND)
…
/ii/
Kedah Darulaman
tarik pelancong
puncak Jerai
kunjungan.
…
(GUNUNG JERAI)
xxiii
…
/i/
Kunjungan pembeli
tawar menawar
Pekan Rabu
pilihan.
(PEKAN RABU)
…
/i/
Sumpahan Mahsuri
mati dibunuh
mangsa fitnah
lagenda.
…
(PULAU LANGKAWI)
Sejauh pengamatan saya, Citranalis berhasil mencitrakan dirinya sebagai penyair yang melahirkan sajak-sajak sederhana: sajak yang tidak terlalu sibuk dengan eksperimen kebahasaan. Konsistensinya merakit bahasa dengan kata yang tidak sulit dicerna membuat sajak-sajaknya terasa mengalir dengan tenang dari hilir hingga ke hulu, seperti juga sajaknya ini:
MAKNA SEBUAH RINDU
Secangkir rindu
yang kita hirup bersama
tika bulan berselindung malam
menutupi wajah
adalah sebuah atmajiwa
yang mengalir damai
berbisik sejuta rasa bahagia
xxiv
aromanya meresap
ke ruang-ruang kosong
diam meratah sepi.
Selain Citranalis, penyair perempuan Malaysia yang karya-karyanya mewarnai buku ini adalah CT NURZA. Sajak-sajak pemenang Hadiah Penghargaan Sayembara Menulis Puisi/Cerpen PKPP-DPMP 2017/2018 (Kategori Cerpen) anjuran Dewan Persuratan Melayu Pahang ini, memiliki jelajah tema yang cukup luas. Mulai dari puisi kegelisahan eksistensial pribadi dan komunal, hingga sejarah dan peradaban.
Perhatikan beberapa penggalan sajak-sajaknya berikut ini.
…
aku senang menjadi pelimbang
merantau jauh ke perkampungan pengalaman
sendirian berjalan membawa haluan
…
(PELIMBANG)
…
Sepantas mana kita berlari
sebijak mana kita menghindari
sejauh mana kita bersembunyi
mengelak diri daripada kematian
kita tetap diburu maut
…
(KITA DAN KEMATIAN)
…
Hanya kerana nila nan setitik
lantas rosaklah susu putih sebelanga
xxv
menjadi cemar warna bertukar rona
…
(NILA NAN SETITIK)
…
Demikian ombak sesekali menerjah
laut yang tenang merubah pandang
ombak gergasi datang berhambatan
memanjat tebing dan hotel mewah
menghempas musnah bangunan agam
sehingga bumbung-bumbung hanyut
ditenggelami air
dan nyawa pun direnggut ganas.
…
(TSUNAMI BANTEN MENJENTIK NUBARI)
…
Dan ilalang pun berdansa
antara danau dan gunung
membawaku melontar pandang
menyaksikan bunga-bunga kering
terawang-awang berterbangan
melayah ditiup angin perubahan
tatkala 9 Mei 2018 bertamu
…
(DANSA ILALANG)
CT NURZA juga termasuk penyair yang cukup kental meracik-ramukan unsur-unsur ke-Melayu-an di dalam puisi-puisinya, misalkan di dalam dua puisi ini:
…
Bencanalah tiba tiada terduga,
terpisah diri dari keluarga,
xxvi
tsunami melanda tanah berongga,
rumah nan elok patahlah tangga.
Penyu gergasi dihempas gelombang,
terdampar lesu diangkat orang,
beratus kilo berat ditimbang,
di Selat Sunda tampak cengkerang.
…
(Syair: TSUNAMI SUNDA)
…
Ada pun tenang tampak di wajah,
riak di hati ombak menerjah.
Ada pun al-Quran kalamnya Allah,
jarang dibaca sering tersalah.
…
(ADA PUN)
Puisi “Syair: Tsunami Sunda” menghadirkan napas syair yang ketat persajakannya dan “Ada Pun” menghadirkan napas gurindam.
Penyair Malaysia pada halaman selanjutnya diisi oleh Ibnu Din Assingkiri. Seorang penyair yang namanya tidak asing di kalangan penulis siber di Indonesia. Sebagai mentor penulisan puisi bagi persatuan penulis Angkatan Sasterawan Nasional Kedah (ASASI) yang menerima beberapa Anugerah HESCOM (Hadiah eSastera.com): Pemadah Prolifik (2011), Pemuisi Teraktif Puisi Tradisional (2011), Anugerah Pengkarya Prolifik (2013), Tanka Melayu Alam Siber (2014), dan Soneta Melayu Alam Siber (2014), kemampuannya di dalam menulis sajak tidak diragukan lagi. Ia tidak saja pandai menulis sajak dengan memberi napas ke-Melayu-
xxvii
an yang kental, melainkan juga sajak bebas yang gahar pada suatu kumpulan karya tertentu.
Dalam kaitannya, dalam Aku Pejuang ini, Ibnu Din Assingkiri menghadirkan sajak-sajak yang lebih ke-Melayu-an. Perhatikan beberapa penggalan karyanya berikut ini:
…
(i)
Tudung celepa sudahlah bengkok,
Boleh elokkah kalau dikikir;
Buatlah apa belanja rokok,
Baik sedekah kepada fakir.
(ii)
Di batang buruk ayam berkokok,
Lepas berkokok mengasah taji,
Sungguhlah teruk hendak merokok,
Baik ditokok simpanan haji.
…
(SUSAH MEROKOK)
…
Di jalan raya bukan pusara,
hanya penghubung ke hala tuju,
muda sebaya hati gelora,
nyawa disabung sukakan laju.
Laju terlalu puncanya sikap,
mangsa dilanggar jadi sengsara,
buang dahulu gopoh cemerkap,
jangan digegar rasa juara.
…
(CERITA DI JALAN RAYA)
…
xxviii
Sayang Melayu berlemah-lembut,
Hingga kepalanya ditarik rambut.
Sayang Melayu gemar beralah,
Menuntut haknya dikata salah.
Sayang Melayu terlalu bersopan,
Walau dicerca masih bertahan.
…
(Gurindam: SAYANG MELAYU)
Kalau tidak dianggap berlebihan, Ibnu Din Assingkiri adalah penyair multilatenta. Ia mampu menulis dengan begitu banyak genre, gaya, dan cara. Ia dapat menulis haiku, tanka, syair, gurindam, sajak bebas, sajak berpola 517, dan lain sebagainya. Karya-karyanya seperti jembatan yang baik di antara tegaknya dunia modern dan khazanah tradisi Melayu yang kaya raya.
Penyair Malaysia pada halaman terakhir adalah M.S. RINDU. Penyair kelahiran 22 September 1942, yang pernah menjadi pensyarah Antropologi dan Sosiologi UKM (1978-2003) ini, napas kekaryaannya tidak ada habisnya.
Sebagai orang yang telah melintasi sejarah kehidupan manusia dalam jangka waktu yang panjang, sajak-sajaknya kerap hadir sebagai suatu perenungan terhadap apa yang dahulu ada dan apa yang kini berlaku. Hal tersebut kadang kala diwarnai kegelisahan dan kadang kala diwarnai dengan suka ria. Di luar itu, hal-ihwal perbedaan kebangsaan dan manusia di antara batas-batas wilayahnya juga menjadi tema-tema utama di dalam sajak-sajaknya. Perhatikan penggalan-penggalan sajaknya berikut ini.
xxix
…
Entah bagaimana
ia bertemu seorang raja
yang sudah agak tua
dan seorang duda.
Mereka berbeza bangsa
dan berlainan agama
dan untuk berkahwin
si ratu mesti mengikut agama si raja.
…
(SEORANG RATU)
…
Cintaku jauh di kota
kerana ia lama menetap di kota
dan telah jadi gadis kota
meskipun berasal dari desa.
Aku tidak boleh mengharapkan
ia masih suci
mengikut ukuran lama
kerana di kota
ia bebas berkawan dan berkasih
dengan siapa saja.
…
(CINTAKU JAUH DI KOTA)
…
Abang di Bangi adik di Medan
Orang Padang pulang ke Padang
Meskipun kita berjauhan
Cintaku hanya kepada abang.
Abang di Bangi adik di Medan
Tanjung Pura tanahnya rendah
xxx
Walau halangan seluas lautan
Cintaku tidak akan berubah.
…
(CINTA GADIS MEDAN)
…
Tidak banyak bandar seperti bandar ini
sebuah bandar baharu
yang majoriti penduduknya bumiputera
dan banyak pusat niaga
di mana peniaganya
juga bumiputera.
…
(BANDAR MELAYU)
Nuansa pantun dan syair di dalam puisi-puisi MS Rindu adalah yang tidak dapat ditampik. Karenanya, sebagaimana telah saya singgung di muka, saya sering memperhatikan karya-karyanya, seperti berdiri di perbatasan, antara setiap hal yang mungkin dan tidak mungkin bergerak ke arah masa depan dan apa yang telah ditinggalkan dari waktu-waktu terdahulu.
Dan pada halaman akhir, saya hadirkan satu-satunya penyair Indonesia di dalam buku ini, sebab beberapa penyair Indonesia telah ada pada buku-buku sebelumnya. Penyair tersebut bernama Novia Rika Perwitasari. Perempuan berasal dari Malang yang pernah menjadi delegasi Indonesia dalam “World Festival of Youth & Students 2017” di Rusia karena kegiatannya di bidang sastra.
Sajak-sajaknya di dalam Aku Pejuang berbicara tentang tanah, hidup, dan kehidupan dalam pengertian kultural. Ini menarik, karena di Indonesia, pandangan bahwa karya sastra tidak perlu menjadi pencatat
xxxi
kenyataan dan tidak perlu menjadi perawat adat cukup dominan, tapi seorang penyair muda memilih memijakkan kakinya pada pijakan itu. Meski, ia tidak lantas menjadi kaku karenanya. Perhatikan penggalan sajak-sajaknya berikut ini.
…
Kita tiba pada tanah yang tak bersuara
yang mendekap kehidupan sedekat kematian
direkat debu-debu yang terlahir
dari degup jantung dan kesunyian di antaranya.
Kau dengar nama siapa?
…
(TANAH KEHIDUPAN)
…
Terkadang Tuhan menyukai permainan
membolak-balik hati dan garis tangan
karena Ia tahu kita akan terlahir di akhir kematian
melalui pilihan yang kita tancapkan sendiri
di hati dan perbuatan.
…
(TUHAN DAN PILIHAN)
…
lautan, hutan, bukit pasir, dan rerumputan.
Aku menguasai kesunyian yang dijanjikan
oleh langit pada hatiku yang tak tahu adat,
memanggil semua cahaya putih remang
agar menyala dan tak membiarkan arwah-arwah pudar
doaku akan datang untukmu
…
(ARWAH)
xxxii
III
Membaca puisi-puisi di dalam buku ini, membuat keyakinan saya semakin kuat, bahwa kebudayaan Nusantara yang telah menjadi pecahan-pecahan, tidak saja kaya-raya, melainkan memiliki potensi besar menjadi wilayah dengan hasil karya sastra yang berkarakter dan dunia akan mengenal itu sebagai sesuatu yang berharga. Hanya saja, memang persoalan kita kini, adalah apa, siapa, bagaimana perumusannya.
Terlepas dari itu, buku ini adalah buku yang layak dibaca oleh para peneliti bahasa Melayu untuk menemukan kerangka rumusan kesusastraan Melayu di masa mendatang. Sebab teori sastra mesti mengabdi kepada karya, bukan karya yang terus menerus harus memantas-mantaskan diri dengan teori yang ada.
Terakhir sekali, saya ingin mengucapkan tahniah kepada Prof. Dr. Irwan Abu Bakar, karena telah menyelenggarakan penerbitan buku yang penting ini.
Cilegon, Banten, 27 Maret 2020.
xxxiii
.
1
Nama sebenar Hj Abdullah Hj Mohd Tahir. Lahir pada 26 Disember 1946 di Kampong Danau, Tutong, Brunei Darussalam. Sekarang menetap di No. 269, Kampong Penapar Danau, Tutong. Jawatan terakhir sebelum bersara pada tahun 2002 sebagai Penyusun Kegiatan Luar, di Jabatan Ko-Kurikulum, Kementerian Pendidikan.
Mula bersekolah di Sekolah Melayu Danau, Tutong sehingga darjah V dan melanjutkan pelajaran ke darjah VI di Sekolah Melayu Ahmad Tajuddin, Kuala Belait seterusnya menamatkan persekolahan dalam darjah VIII di Sekolah Melayu Muhammad Jamalul Alam, Bandar Brunei. Pada Ogos 1962 memasuki kerjaya guru menjadi Guru Pelatih dan seterusnya mengikuti kursus di Maktab Perguruan Melayu Brunei pada tahun 1963 sehingga 1965. Bertugas dibeberapa buah sekolah menengah dan terakhir di Sekolah Menengah Melayu Ahmad Tajuddin sebelum dihantar mengikuti Kursus Bahasa Melayu di Universiti Malaya, Kuala Lumpur pada tahun 1973.
Semasa menjadi Guru Besar dihantar mengikuti Kursus Pentadbiran di Brighton Polytechnic England pada tahun 1978. Sekarang bergiat dalam Majlis Perundingan Kampong dan Mukim serta di Badan Kesenian dan Kebudayaan (B2K) Daerah Tutong dan menjawat jawatan Pmk Ketua Kampong Danau, Tutong. Berkarya sejak tahun 1964 dalam bidang sajak, cerpen, drama radio dan drama pentas serta beberapa buah kertas kerja bagi kegunaan kegiatan-kegiatan persatuan, badan-badan dan Majlis Perundingan Kampong.
2
Karya penulisan sajak dan cerpen serta sandiwara kebanyakannya termuat dalam akhbar Salam, Bintang Harian, Radio Brunei, Majalah Bahana dan Media Permata. Karya-karya puisi beliau diterbitkan dalam beberapa buah antologi puisi bersama terbitan DBP Brunei yang terawal antologi Kosovo Bilakah Langitmu Kembali Biru (DBP 2000) dan terakhir antologi Kemercu Emas – Antologi Sajak Penulis-Penulis Daerah Tutong (DBP, 2011). Manakala terbitan Pusat Da’wah Islamiah yang terawal antologi Puisi Hidayat III (Pusat Da’wah Islamiah, 2005), Puisi Hidayat IV (Pusat Da’wah Islamiah, 2009), Puisi Hidayat V (Pusat Da’wah Islamiah, 2011), terakhir antologi Puisi Hidayat VI (Pusat Da’wah Islamiah, 2013). Antologi puisibeliau bersama penulis luar negara ialah Antologi Puisi Kepada Sahabat (DBP Cawangan Sabah, 2013), Antologi Puisi Lentera Sastra I, (Indonesia: Komunitas Puisi Bait Kata Suara, 2013) terbitan Sembilan Mutiara Publishing Trenggalek, Lentera Sastra II, Antologi Puisi Lima Negara, (terbitan Sambilan Mutiara dan Lentera Internasional 2014 – Indonesia).Antologi Puisi ASEAN Doa Seribu Bulan (terbitan Perkumpulan Rumah Seni Asnur Mei 2018) dan Antologi Puisi GURU Tentang Sebuah Buku dan Rahasia Ilmu, Gerakan Akbar 1000 Guru Asean Menulis Puisi (terbitan Perkumpulan Rumah Seni Asnur, September 2018).
1.01. Menanam Derhaka
1.02. Hilang Seludang
1.03. Kebobrokan
1.04. Hikmat Dan Rahmat
1.05. Bisik Bicara
1.06. Bicara Berkonon Dan Berlapis
1.07. Garis Akhir
1.08. Faktor Umur
1.09. Berfenomena
1.10. Kita Atau Sahabat
3
1.01.
Saat ada suara yang meraung sakit
kita masih bisa bicara soal keamanan
dan kemakmuran
di lintasan angin berbau bunga
yang wanginya basah di dedaun hijau
sedang di sana masih belum usai
dengan ribuan persengketaan
hanya pada sekeping tanah gersang
yang telah dimamah oleh dentuman bom dan mortar
daging dan tulang tumpah bersama darah
dan air mata
kabut oleh debu-debu yang pekat
sebuah saksi sahih
derita dan sengsara petanda
mereka masih setia pada tanah airnya
dan kita yang bangga dengan kemakmuran
yang berketurunan
masih sahaja ada yang menanam derhaka
pada bangsa dan negara.
27 Januari 2019.
4
1.02.
Silapnya kita hilang seludang
saat rambu-rambu hari yang semakin kelabu
kita terheret sama menganyam waktu
membingkai sikap dan sifat
mengusung mayang jauh ke perdu
rentak dan gendangnya kita sahut
tanpa melihat logik dan fakta
wangian yang kita nina bersama perkasanya bangsa
semakin cair yang tidak lagi membekas tumpahnya
walau hati sejernih air embun di waktu subuh
akhirnya kita pun berkeriauan mencari punca
yang sudah hilang peradaban dan nilainya
semakin terhakis oleh tragisnya
kita menyuburkan amarah menebar fitnah.
16 Januari 2019.
5
1.03.
Siapakah antara kita memberi simpati
pada pergolakan yang melingkari diri
di sana sini telah tular dengan bermacam cerita
dari yang sebaik merangkul pahala
kepada yang seburuk memikul dosa
adakah antara kita hanya menidakkan
segala kebarangkalian yang mungkin menjerat kehidupan
atau akur saja pada setiap yang memedihkan mata dan hati
saat melihat dan menyaksikan segala kebobrokan
sehingga kita terpasung oleh kehinaan
yang memalit nama bangsa dan ugama
negara menjadi bola yang disepak terjang
kita yang dulunya aman dan tenteram
terpaksa menelan segalanya
meski menyangkar di tenggorokan
dan tiada apa kita pada mata mereka.
8 Januari 2019.
6
1.04.
Kiranya hujan tidak teduh
mestikah aku terus menahan ketar
yang dinginnya menulang
November ini aku sering tergundala
hujan tidak menentu membuatkan aku kecundang
pada program dan janji yang disetujui
siapalah kita yang berani menongkah janji-Nya
kerana setiap yang berlaku ada dengan rahsianya
saban hari kuterima perkongsian ramalan cuaca
yang membawa amaran peringkat kuning
meminta kita sentiasa berwaspada
setiap butir hujan yang jatuh ke bumi
akan adalah berita dan ceritanya
setiap hembusan angin dan ribut
akan terdengarlah derita dan sengsaranya
demikianlah bila Dia menurunkan sesuatu
pastilah ada hikmat dan rahmatnya.
18 November 2018.
7
1.05.
Bilakah terakhir kali kita berbisik
bicara tentang dunia semakin sempit
terpunah oleh tangan-tangan rakus
mengisi agenda tamak sendiri
suara tenat kita semakin jauh
dari sidang keramat
dan tidak siapa yang gemar mendengar
pembelaan kepada mereka yang tangisnya berdarah
tidak siapa pun terusik hati
dan begitulah mereka dengan laranya
bagaikan nasib dan takdir lepas dari genggaman
petandakah kita di hujung tanduk
manusia bertaring sudah tidak berbisa
tiada siapa kecut menentang matanya
dan kita terus berbisik dan berdoa
kerana kita umat Muhammad
doalah senjata ampuh
mententeramkan jiwa
sehingga masa itu tiba.
8 September 2018.
8
1.06.
Kita adalah kafilah-kafilah
hanyut di padang pasir tandus
gagal mencari arah ke dermaga hayat
keberkatan dan rahmat-Nya
bagai tidak bertapak memayungi diri
jauh dan tersasar dari doa dan harapan.
Salam dan huluran tangan
nada dan getarnya hambar dan tawar
sliaturrahim yang dizahirkan sudah hilang sarinya
kerana di dalamnya berserabut dan berhajat
pada wajah-wajah pun serinya bertimpalan
goyah dan rapuh.
Kita adalah kafilah-kafilah kecundang
termomok oleh rasa bangga diri
dalam bicara yang berkonon dan berlapis
cuba meyakinkan kitalah orangnya
yang niatnya kerana Dia.
22 Jun 2018.
9
1.07.
Saat mata hati tertutup rapat
tiada lagi kudrat
sudi menjengah dan menyapa
camar-camar liar menyungsung angin
kini galak meninggalkan lapangan
bagaikan satu demi satu mencalit warna
mengikis panorama pantai
berbicaralah pada laut dan ombak
kenapa mesti pantai dan daratan menjadi mangsa
hanya dalam beberapa waktu merobah makna
pengkarya ketandusan ilham
mengukir pelangi di kanvas hayat
sudahnya
siapalah mampu menongkah takdir
siapalah jitu menyanggah kuasa-Nya
laut dan ombak
pantai dan daratan
tidak selamanya indah dan damai
garis akhir akan hadir jua
tanpa diketahui bila.
17 Jun 2018.
10
1.08.
Sejak mengenali diri
laluan yang panjang menuju senja
pernah menempuh onak dan duri
bahkan menikmati haruman pagi
dipenuhi bunga dan bintang malam
yang kedipannya di sisi bulan
melekakan kehidupan
meski suatu saat dan ketika
diri ini digoncangi oleh sakit dan derita
apa lagi dibebani oleh tugas
kerja yang mencabar
ditekuni oleh rasa tanggung jawab
tidak sedikit pun merasa perubahan diri
apakah diri ini masih remaja
atau muda belia dan dewasa
atau apakah sudah tua
hati dan rasa masih saja tidak mengalah
kerana dilakari oleh ego yang memamah diri
tau-tau dalam berlari dan merangkak
diri ini telah dikongkongi oleh usia
berengsot menggalas angka
dengan nisbah yang menaik
andai diri ini tersasul melakukan sesuatu
dalam neraca yang bertentangan
sedialah mengaku
itu bukan kesilapan tetapi ianya faktor umur.
7 Jun 2018.
11
1.09.
Sungai tak pernah jemu
membawa sampah dan saraf
ke hulu atau ke hilir
sesekali airnya melimpah
dan sampah saraf pun menepi
tebing-tebingnya terpenuhi dengan kotoran
alami sungai dan tebing pun tercemar
hilanglah keindahannya
musim tengkujuh datang
sungai tak mampu bertahan
kederasan air yang naik tiba-tiba
memangsakan segala yang ada
banjir terjadi – adalah berita
memusingkan fikir dan tindakan yang berwajib
maka akan hadirlah mereka dengan segala upaya
membantu mana yang terjejas
menghulurkan bantuan berupa makanan dan kemudahan
memindahkan ke tempat selamat
berkampung dan bermalam sehingga keadaan usai
badan sukarelawan demikian tugasnya
pihak berwajib begitu pulalah tanggungjawabnya
itulah fenomena alam yang terjadi mengikut waktunya
tanpa isyarat dan jadual pasti
12
menjadikan yang terjejas dan terlibat pun berfenomena
maka akan adalah usul dan cadangan
maka akan adalah yang geram dan marah
maka akan adalah yang tak puas hati
maka akan adalah yang mengadu dan merayu
setelah berhempas pulas menanganinya
maka akan adalah waktunya fenomena diam
segalanya berjalan seperti biasa
segala yang tegang sudah dilupakan
segala usul dan cadangan dimalamkan
segala aduan dan rayuan semacam usai
sehinggalah fenomena banjir kembali melanda.
3 April 2018.
13
1.10.
Bukan mudah melenyapkan kenangan
selagi ia mengumbi di puri-puri hati
terungkai cerita bila kenangan mengimbau
bagai terpampang di kanvas mata
peristewa silam bagaikan baru
lalu menyangkutlah soal budi dan jasa
kalau rajin menelusuri dan memisi
ada juga kenangan mengusik jiwa
dan kita bukanlah menidakkan jasa dan budi
walau terlihat berlaku selamba
kitalah pengamanah setia
bahaya andai ditunjukan diri dan wajah
dengan menghadirkan nya pengenang budi
kerana bukan sedikit yang minta dibalas
yang mendatangkan takrif berbeza
tak kurang pula
kerana budi jasad tertawan
biarlah kenangan dan budi sejalan ikhlas
kiranya terimbau cerita duka berbau khianat
segeralah memohon kemaafan
kerana jalanan hidup yang cuma sedikit
senja sentiasa hadir membawa takdir
kalau bukan kita tentunya sahabat
yang kita gunjingkan baik dan buruknya.
31 Mei 2018.
14
Adi Wahab (atau Haji Duming @ Domeng Bin Haji Abdul Wahab) dilahirkan pada 12 Jun 1948 di Kampong Limau Manis di Daerah Brunei dan Muara, Negara Brunei Darussalam. Pekerjaan awal sebagai guru, kemudian bertukar dan bertugas di beberapa buah Jabatan Kerajaan dan Kementerian. Jawatan terakhir sebelum bersara sebagai Setiausaha Sulit di Kementerian Hal Ehwal Dalam Negeri.
Antara karya yang pernah diterbitkan: Keberanian (antologi perseorangan sajak yang diterbitkan oleh DBP, Brunei). Juga Kita Terus Melangkah dan Maka Terbanglah Bangau (kedua-duanya antologi perseorangan terbitan Hadiwijaya Enterprise). Antologi bersama Hidup Ibarat Sungai (antologi cerpen terbitan DBP, Brunei), Si Putih (antologi cerpen kanak-kanak terbitan DBP, Brunei), Pakatan (antologi sajak terbitan DBP, Brunei), Puisi-puisi Darussalam (antologi bersama sajak terbitan Syarikat Mega, Brunei), Pancaran Sajak (antologi bersama sajak terbitan di Singapura), Mengenang R. Hamzah Dua (antologi bersama sajak, diterbitkan Perwila, Sabah), antologi bersama sajak Amas Tampawan dan beberapa buah lagi antologi bersama sajak terbitan dari dalam dan luar negara. Sepanjang berkarya, beliau juga memakai nama pena Tinta Hijau, M. Hadiwijaya, dan M. Adi.
15
2.01. Rezeki Pagi 2.02. Sesebuah Kehidupan 2,03. Kubuka Lembaran Baharu 2.04. Perjalanan 2.05. Tanka: Merigis Kenangan 2.06. Tanka: Tunaikanlah 2.07. Haiku: Krakatau 2.08. Haiku Menanti Musim 2.09. Haiku: Masjid 2.10. Sonian: Ketam
16
2.01.
Benarlah bahawa sesungguhnya rezeki itu ada di mana-mana dan kita tetap mensyukurinya dengan apa yang ada dan seadanya meskipun demikian ini bukanlah bermaksud rezeki kais pagi makannya pagi kais petang makannya petang tetapi ianya adalah hasil titik peluh dari tulang empat kerat!
28 November 2014.
17
2.02.
Kehidupan itu adalah ibaratnya beting di tengah laut meski ombak memukul ganas ia tetap bertahan dan terus bertahan dengan tiada goyah dan begitulah tamsilan sebuah kehidupan golongan bawahan.
19 Mac 2014.
18
2.03.
Hari ini kubuka lembaran baru sebuah catatan pada secarik kertas yang telah lusuh untuk mengguris seungkai nukilan yang mungkin ianya tidak punya apa-apa makna waima bagaimanapun catatan itu tetap kunukil dari bait ke bait meski tidak ada yang mengerti tetapi ketahuilah sesungguhnya ia bergantung kepada keyakinan yang ada pada diri kerana pada suatu ketika nantinya ia akan memberi erti kepada mereka yang padanya punya harga diri dan keyakinan yang hakiki.
01 Januari 2015.
19
2.04.
Perjalananku yang biasa pada jalan-jalan yang sentiasa kulalui setiap pagi masih terasa sepi dan rumput-rumput di bahunya memanjang menyakitkan mata seolah-olah tidak lagi dipeduli.
29 September 2016.
2.05.
Tanka:
Menanti waktu kuhayati indahnya sungai mengalir merigis kenanganku dan aku bersamanya.
Mangrove Paradise, 27 Disember 2018.
20
2.06. 2.07.
Tanka:
Pagi yang sepi unggas masih di sarang fajar menyingsing subuh belum beredar tunaikanlah solatmu.
23 Januari 2019.
Haiku
Anak Krakatau muntahkan lahar panas menelang korban.
31 Disember 2018.
21
2.08.
Haiku
Kapal berlabuh menanti musim teduh mencari rezeki.
Labuan, 19 Januari 2019.
2.09.
Haiku
Masjidku indah tersergam dengan megah negara zikir.
23 Januari 2019.
22
2.10.
Sonian
Mungkin ketam itu untuk diriku misalannya dibangsi.
14 Februari 2019.
23
Ahkarim, nama pena bagi Abdul Halim b A Karim, berasal dari Langgar, Alor Setar, Kedah. Mendapat pendidikan di Sultan Abdul Hamid College, Alor Setar; ijazah BA dari Universiti Malaya pada tahun 1971; ijazah MSc (Organisation Development) dari Sheffield Harlem University (UK) pada 1986. Berkhidmat dalam Perkhidmatan Tadbir Dan Diplomatik (PTD) di beberapa Jabatan Persekutuan (Kementerian Pelajaran, Perbendaharaan Malaysia, INTAN, Pengarah JPJ Negeri Kedah, dan jawatan terakhir sebagai Pengurus Besar, Lembaga Pelabuhan Johor, sehingga tahun 2001).
Berkecimpung dalam penulisan kreatif dalam genre cerpen dan puisi selepas bersara. Telah menghasilkan sebuah kumpulan cerpen Mou Sumi dan sebuah novel kanak-kanak Sir Khatim terbitan eSastera Enterprise. Beberapa buah cerpen tersiar di pelbagai media dan dalam beberapa antologi bersama. Juga pernah memenangi beberapa sayembara penulisan cerpen dan puisi. Tiga buah novel: Diari Lusuh Seorang PTD, Terbang Tinggi, dan Pengakuan Seorang Tablighi (Confessions of a Tablighi) sedang dalam proses penerbitan. Pada tahun 2016, beliau memenangai anugerah tertinggi dari E-SASTERA, iaitu anugerah Sasterawan Alam Siber (SAS).
24
3.01. Aku Pejuang 3.02. Temali Di Pantai Sakom 3.03. Aku Ingin Jadi Air, Bukan Batu 3.04. Sayang Pantai Sangeang 3.05. Kasihan, Hanya Itu Mampuku 3.06. Tuah-tuah Kecil – 1 3.07. Nikmat Kecil 3.08. Tidak Turut Ke Medan Juang 3.09. Tembolok @ Tengkolok @ Keris – Golok @ Goblok 3.10. Pemberi Sembunyi Tangan
25
3.01.
Ya, aku seorang pejuang sesungguhnya aku seorang pejuang aku benar-benar seorang pejuang.
Ke utara aku berjuang ke selatan aku berjuang ke timur ke barat aku pasti berjuang.
Ya, aku seorang pejuang aku tidak pernah takut aku tidak pernah kecut aku tidak pernah cabut sebab aku seorang pejuang.
Aku pejuang tulen sanggup korban apa saja harta maupun nyawa demi bangsa agama dan negara percayalah, aku orangnya.
Aku telah berjuang mati-matian ke tengah ke tepi tanpa henti tapi satu perkara sebenarnya yang aku idami mm… segan pula nak kubicara di sini di kiri dan di kanan telah aku berdiri duduk saja yang belum lagi sebenarnya yang kucari adalah sebuah kerusi.
31/10/18.
26
3.02.
Aku kutip dari timbusan pasir mungkin penambat perahu sang nelayan beratus tahun lalu juga mungkin sang kekasih kecewa lalu membunuh diri di situ mungkin melilit perahu Pak Chu mahu menawan merebut Patani kembali.
Pengikat itu kini walau luntur aku kutip basuh bawa kembali mungkin di seberang ini cerita baru terkisah tentang Segenting Kera tidak mahu di kerat.
Coco One Villa, Pantai Sakom, Songkhla, Thailand, 21/04/17.
27
3.03.
Tuhan, biar aku jadi air, bukan batu jadilah aku air.
Kerana air mengalir, batu kaku kerana air membentuk, batu dibentuk kerana air mengukir, batu diukir kerana air lembut, batu berlumut kerana air mencurah, batu menyerah kerana air kembara, batu menunggu kerana air membasuh, batu dibasuh kerana air menyapa, batu kelu kerana air mengusap, batu menghempap kerana air mengwuduk, batu istinjak.
Tuhan, jadilah aku air kerana air hidup, batu mati kerana air itu aku!
Assyajarah, 3007.
28
3.04
Sisa terdampar dibantai ombak membawa cerita lara mahu diceritera kepada pantai mungkin kisah dia dipenggal dibakar dihumban.
Kata pasir penerima sisa aku mahu memilih hanya penyu menggali dadaku telur nya disembunyi di rusukku.
Kata sisa merayu sabarlah pantai esok lusa ada pariwisata mengumpul membakar kami membersih dadamu.
Kata ibu penyu jagalah telurku akan lahir seratus warisku dari dada putihmu jika sisa berlalu.
Kata pulau tolong, aku diintai korporat bermata liar tanpa hati seluruh aku pasti terobek.
Pantai Sangeang, Cilegon, Banten, 16/12/17.
29
3.05.
Selebihnya tiada dan ia tidak upaya mengubah apa-apa tika aku menapak jejak di tembok aku dengar raungan sang isteri mencari suami yang mati saat menyusun batu rebah lalu ditanam jasad kurusnya di tangga itu di bawah tapak kakiku.
Aku bermewahan dengan kasihan fikirku itu kekayaan rupanya aku mempamer kemiskinan kerana sejuta isteri menangis sejuta ibu meraung sejuta anak teryatim buat memuas nafsu penguasa membina beribu batu tembok menggali selaut tasik dan aku hanya menghulur kasihan walau aku punya kemahuan tanpa upaya menahan.
Beijing, 19/3/18.
Terilham selepas berkunjung ke Tembok Besar Cina dan Istana Musim Panas.
Terilham pula apabila teringat kata-kata Pramoedya Ananta Toer lewat novelnya BUMI MANUSIA: ‘kasihan hanya perasaaan orang berkemahuan baik yang tidak mampu berbuat).
30
3.06. –
Mereka sedang diajar bermain keris telanjang dibiar tikam-tepis di pasar dagang silat menyepak terajang melutut menendang pencak entah bunga entah pulut tanpa serunai dan gendang.
Tersepak Dang Ijah yg sedang meraut lidi penyapu tersiku Pak Lentok yg sedang membelah kayu tersodok rusuk Tok Hijau yg sedang mengendur lembu.
Tuah-Tuah Kecil diajar pantun dan syair merapu mantera meracau serapah memuji memuja sekaki payung menyembah sujud sepundak mahkota.
Tuah-Tuah Kecil diberi persalin diikat tanjak tengkolok dipulas songket sampin menggalas tombak cokmar berarak pembesar di pintu keraton.
Tuah-Tuah Kecil sekali-sekala diajar bermain congkak melayang wau meniup serunai bersepak raga dengan anak-anak gundek.
Tuah-Tuah Kecil memencak gagah sujud menyembah.
As-Syajarah, 16/6/18.
31
3.07.
(Buat Tanika*)
Apabila sekali tarik badannya terus bergegar berlagu serata dan lembut lalu lantas melompat merangkul.
Nikmat kecil kami nikmati bersama sambil berdansa menapak melangkah berangkulan merata permaidani bumi Pencipta.
Nikmat kecil itu sebenarnya besar apabila seratus kali kutarik badanmu terus kaku lalu hariku berlalu tepu tanpa rangkulan panas badanmu.
As-Syajarah, Kuala Nerang, 13/1/18.
- sebuah mesin rumput murah berusia 13 tahun
32
3.08.
(buat anakanda Rozan Azen Mat Rasip)
Aku tidak turut berperang bukan kerana ladang tamarku sedang menguning buahnya bukan kerana dihasut Abdullah Al Munafiqun dan kabilahnya bukan kerana diminta Nabi menjaga kota bukan kerana uzur apa-apa.
Mujurlah kita menang juga perang itu walau tanpa genderang dan pedang mujur maruah tertebus walau tanpa Khalid Al Walid di hadapan walau Hamzah syahid dilapah mujur kerana seorang pemuda yg tangkas itu bermantera sentiasa: “Di depan duri di belakang api, Kita tidak boleh berundur lagi” persis Mush’ab bin Umair walau tangan kanannya dipangkas disambar panji-panji dengan tangan kiri tangan kiri dipangkas didakap erat di dada namun undur pantang sekali walau tesembam mencium bumi.
Dan aku yang gagal turun di medan kini berperang dengan diri bertanya buat mengabsah pendirian kenapa dibiar pemuda sendirian aku bukan pun Kaab bin Malik sesal menunggu kata keampunan sekadar situa sering fikir: tentang martabat dan hebat diri.
As syajarah, 20/8/16.
33
3.09. –
Kami hanya setahun sekali-dua meratah daging di rumah..oops istana YAB hari-hari biasa kuah cair sayur ubi.
Terima kasih Tuanku..Oops, maaf, Tuan Menteri dari dulu hingga kini sang setia itu kami.
Raya tahun ini YAB kenduri seperti setiap tahun di Aidilfitri (Auuuukk… Alhamdulillah… sendawa) aku dan warisku sumpah setia biar mati bergalang mm.. Pitih demi bumi merdeka tercinta.
Tkasih Tuanku… oops YAB (salam menggenggam sampul) lihat lambang setiaku padamu tembolok..oops, maaf, tengkolok melilit pundak keris golok terselit segak sampin songket berbengkong.
(Ahakk… tersumbat rengkung, sambil tangan menadah tempurung)
Terima kasih YAB, salah-silap minta ampun kami di rumah… oopps, istana YAB saban tahun berpencak silat walau tiga-suku rabun kata mereka kami kelihatan seiras badut dan kartun namun YAB wajib kami santun sebab kami sekadar akar seruntun.
As-syajarah, 1/7/2017.
34
3.10.
Suaraku tiba-tiba tersangkut di Surah Yunus juzuk ke sebelas di mushaf usang samar lalu hilang silaku di hadapan rihal kayu terpaku kebas hamparan di lantai masjid terasa terlalu nipis.
Teks di skrin malam tadi jelma lagi merusuh di ruang musolla dadaku ketat mataku kabur basah lafaz akad terima dari asnaf terpancul di lidahku, kesekian kali ayat-ayat Allah jadilah saksi.
Pemberi sepi sembunyi tangan “Ini bukan wangku, itu hak mereka” Allah, dengarlah suara sepi itu bukan suara dari lidah suara itu dari hati.
As-syajarah, 22.11.17.
35
Nama sebenar Mohamad Azmi Bin Ab Rahman. Azmi Rahman adalah mantan Pensyarah Kanan di Pusat Pengajian Pengurusan Industri Kreatif dan Seni Persembahan (SCIMPA), Kolej Sastera dan Sains, Universiti Utara Malaysia (UUM). Azmi Rahman berkelulusan ijazah Sarjana Muda Sastera (B.A Hons.) Persuratan Melayu (Kepujian) dan Sarjana Sastera (M.A) Persuratan Melayu dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Diploma Penulisan (PLM) dan pernah belajar linguistik di Manchester University, England. Di UUM, beliau mengajar kursus Kesusasteraan Melayu, Pemikiran Kritis dan Kreatif, Komunikasi Budaya dan Apresiasi Seni Malaysia, dan Penulisan Ilmiah dan Kreatif.
Azmi Rahman telah menghasilkan tujuh buah buku puisi perseorangan; Sebelum Musim Berakhir, Daerah Perjalanan, Gema Lembah, Wangsa Watan Merdeka, Taman Ilmu Di Rimba Hijau (Destinasi Ilmu, Budi, Bakti), Pantun Tersurat dan Tersirat (Pantun Peribahasa), dan Horizon Pancaindera (Pantun Rencaman Tema. Selain itu, puisi Azmi Rahman telah diterbitkan dalam lebih 20 buah antologi puisi bersama, antaranya Gelombang 1,2,3 dan 4, E-Loka 1 & 2, Segenggam Tasbih, Sajak Pemenang Sayembara ASASI, Pepohon Perteduhan Cinta (Soneta) dan Musibah Gempa Padang, dan tiga buah buku ilmiah tentang sastera Melayu, iaitu Kesusasteraan Melayu: Dimensi Pemikiran dan Bahasa, Pancaran Makna Dalam Kesusasteraan Melayu, Diri Puisi & Interpretasi, dan Jom..Berpuisi (Pantun, Syair, Gurindam dan Soneta).
Lebih tiga dekad, Azmi Rahman terlibat dalam dunia sastera Melayu melibatkan pengajaran, kajian, pembentangan kertas kerja, penulisan karya, dan bimbingan penulisan kreatif. Azmi
36
Rahman pernah memenangi Hadiah Sastera Perdana Malaysia (Esei), Anugerah Penyair Alam Siber (APAS), Anugerah Pantun Siber, Soneta Siber dan Esei Sastera e-Sastera, Anugerah Buku Kreatif Terbaik UUM Press, Hadiah Puisi Kemerdekaan Kebangsaan (UUM), Anugerah Citra Jasa Bakti Universiti dan Anugerah Inovasi Kreatif SEML UUM CAS, Anugerah Pensyarah Paling Kreatif Pusat Pengajian Pengurusan Industri Kreatif dan Seni Persembahan (SCIMPA UUM, 2017 dan 2018). Azmi Rahman dilantik sebagai pembimbing puisi pada Dialog Puncak Karyawan ASASI 2015, 2016 dan 2017. Azmi Rahman adalah Ahli Jawatankuasa Angkatan Sasterawan Nasional Kedah (ASASI) mulai 2017 hingga 2018. Di UUM, beliau dilantik sebagai Pengerusi Saringan Karya Kreatif UUM Press, AJK Saringan Penerbitan UUM Press dan Penyelaras Bahasa Melayu Hal Ehwal Pelajar dan Alumni (HEPA UUM). Selain itu, Azmi Rahman banyak menyiarkan karya kreatif di jurnal sastera siber esastera2u.com dan di blognya TAMAN PANCAINDERA dan di Blendspace.
4.01. Busuk. 4.02. Persahabatan. 4.03. MesyuaratPerdana Di Rimba. 4.04. Rumah. 4.05. Versi Adat Air dan Angin. 4.06. Versi Adat Akar dan Akal. 4.07. Pujian Hanya Milik Allah. 4.08. Menjadi Padi. 4.09. Berita. 4.10. Jelira.
37
4.01
Di dalam perut diri, ada busuk sembunyi busuk. Asalnya yang tidak busuk masuk ke mulut. Apabila dikeluarkan daripada perut yang penuh, berbaulah busuk. Busuk! Busuk! Busuk!
Bau busuk itu tertusuk ke hidung. Busuk itu dihidu sendiri. Tutup! Tutuplah hidung! Usahlah bertanya, “mana busuk yang tidak berbau?”
Busuk dibuangkan busuk di dalam tong sampah. Busuk itu berbau dari dekat. Dari jauh juga. Sesiapapun tidak mahu mengaku. Busuk itu dibuang jauh-jauh.
Sembunyi busuk itu di dalam tong sampah. Kalau diri adalah kerbau, pastilah kerbau itu tidak akan membenci kubangnya yang berlumpur. Lumpur adalah diri kerbau. Diri kerbau dibaluti lumpur. Apa lagi yang boleh disembunyikan selama-lamanya. Gembira kerbau itu dengan lumpur di badan.
Kini, aksara dan gambar busuk ditularkan tetapi tidak berbau busuk. Yang busuk adalah hati. Yang busuk yang tidak dibuang di dalam tong sampah siber.
Yang busuk berada bersama aksara dan gambar yang berbau wangi. Namun, bagi yang busuk hati yang wangi pun dibusukkan.
Kian bertambah kian bertambah yang busuk yang busuk hati dan yang membusukkan.
Jitra, Kedah
38
4.02.
Betapa eratnya persahabatan antara siang dengan malam. Mereka bertemu tepat pada waktu tanpa ragu-ragu dan jemu. Dan berpisah jua tepat pada waktunya tanpa duka lara. Sepanjang persahabatan antara siang dengan malam, diisi hanya kesetiaan masa dan cahaya, tanpa prejudis dan emosi membuak. Jika sesekali siang tidak berwajah terang, benarlah ungkapan siang, “Diharapkan panas hingga ke petang, tidak disangka hujan di tengah hari. Tidak disangka lagi hujan hingga ke malam.” Malam pula datang berjabat tangan dengan jujur. Pertemuan untuk perpisahan ini tidak sedetik pun dipertikaikan siang meski pun kolam masa siang dipenuhi lopak air hitam.
Begitu juga eratnya persahabatan antara matahari dengan bulan dengan bintang-bintang di taman langit. Persahabatan berkongsi cahaya matahari. Sesiapa pun tidak merasa cemburu. Sesiapa pun tidak menyatakan ego di dalam diri. Kalau diikutkan hati matahari, katanya “Wahai bulan dan bintang-bintang, cahaya pada diri kalian adalah cahaya aku! Bulan purnama dipuja. Kejora dikatakan juara cahaya malam di hamparan taman alam.”
39
Persahabatan kita pula sukar menjadi seperti persahabatan siang dengan malam. Tidak juga seperti persahabatan matahari dengan bulan dengan bintang-bintang. Apa paksi persahabatan kita? Ada ketikanya dipertikaikan kesetiaan di akar diri. Menjabat salam kesetiaan di putaran waktu, jauh sekali. Malahan di hujung lidah diungkapkan pertemuan adakalanya menyakitkan. Perpisahan pula dipinta atas rasa gembira dan puas. Lalu, diri semakin jauh dan jauh dari ikatan persahabatan. Kita cuba membina taman persahabatan supaya mekar bunga pelangi yang wangi. Jika bunga itu layu dan hilang di mata, namun wangi dan seri warnanya abadi tersimpan di hati.
Sebenarnya persahabatan bukanlah permainan rasa yang bersilang teka-teki masa. Kembalilah kita kepada Allah yang mengatur setiap detik perjalanan persahabatan semua makhluk dan kejadian-Nya yang teramat sempurna.
Sintok, Kedah.
40
4.03.
Pengerusinya seekorang (seekor + seorang) gajah masuk kampung.Tiada siapa berani mematahkan gading kuasanya. Tiada siapa berani memotong belalai vetonya. Ahli-ahli terpilih mesyuarat dalam kalangan warga ekorang (ekor + orang) rimba pilihan seekorang gajah: Seekorang kera sumbang yang mambang. Dunianya adalah rimba yang gelap dari dahan ke dahan mencantum pengalaman. Seekorang kerbau dicucuk hidung. Talinya di kaki seekorang gajah. Suara yang mengalir adalah suara pura-pura dari hidungnya yang sengau dan hatinya terkunci. Seekorang kodok ditimpa kemarau, nampak tenang di sebalik resah kepanasan di rimba dingin. Siapa memanggil siapa? Hujan belum turun. Seekorang gajah tidak peduli. Seekorang kucing di atas titian. Suara tidak menentu warna. Nafas berkecai di ruang rimba. Tersilap langkah terjatuh ke jurang. Masih berjuang di atas titian masa? Seekorang kuda kencing di papan. Tiada mula bicara, kosong makna. Tiada akhir bicara, hilang makna.Tinggal hanya bau hancing. Kuda itu masih mahu berlari. Sekeping papan adalah dunianya. Seekorang kura-kura terlentung. Bicara sakit di rimba hukum. Mengharapkan warga ekorang bernafsu. Meniarapkan seekorang kura-kura. Pasti kalah dalam perlumbaan dengan ekorang singa. Seekorang kutu di dalam ijuk sembunyi diri di rimba rambut kusam. Bicara dusta sembunyi di akar rambut. Menggigit dan menggatalkan kulit kepala. Menjelir lidah yang sering berkata ya, ya, ya. Warga ekorang kutu masih akrab di rimba rambut. Seekorang lalat buta mengusung najis dari longgokan sampah. Mengibarkan sayap khabar dusta. Telur keturunannya mencemari hati suci. Seekorang lalat buta berlagak persis seekorang lalat tahu arah
41
tujunya. Seekorang katak banyak bermain hujan sedikit. Nampak rajin bekerja walhal tidak seberapa. Hujan di lopak semakin kering. Simpan suara di gua dan di longkang. Bermainlah dengan angin. Seekorang kelekatu masuk api. Keberanian menyerlahkan kebodohan. Menjauhi diri dari api bukanlah tanda berani. Terbanglah mencari cahaya malam atau menyerah diri pada api. Seekorang biawak yang tidak hilang kesatnya. Lidahnya bercabang, dan bicaranya songsang. Berkawanlah dengan warga ekorang biawak. Bicara di air bicara pula di darat tentang budi yang telah mati dan tentang jati diri bahasanya yang tenggelam di dua alam. Seekorang anjing dengan seekorang kucing konflik idealogi salakisme versus meowisme. Siapa yang menang dalam percakaran kuasa? Warga anjing yang menyalak bukit. Warga kucing yang kehilangan anak. Seekorang anjing makan masak mentah. Kononnya melakari teladan masa depan. Sedapnya daging mentah diratah, bukan daging sendiri! Perhitungan waras adalah diri yang dibeli. Seekorang ular dikutik ekor. Licik membeliti bicara kebenaran orang lain. Ekor sendiri dibiarkan bergerak-gerak. Di mulut berbisa terisi mangsa. Mesyuarat perdana belum selesai. Agenda rimba semakin menebal…
UUM Sintok
42
4.04.
Rumah kita dibina daripada aksara batu-batu yang dikonkritkan menjadi dinding cerita. Rumah kita dibina daripada semangat bunga-bunga idea di ruang siber. Ini rumah menapak di penghujung tanah diri.
Rumah sejarah kita berdiri teguh di laman perjalanan usia. Rumah sejarah kita bercantum dalam keakraban setia dan cinta pada bahasa. Rumah suka duka kita di laman peristiwa.
Suka duka terbang dan melayang-layang ke petak peribadi.
Rumah air mata di kamar mimpi. Mimpi bulan. Mimpi mentari. Mimpi bintang-bintang
Aksara doa pula membeliti di tiang-tiang harap. Singgah di bumbung menahan panas dan basah hujan.
Di ruang tamu rumah dihimpunkan aksara fikir rasa dari ruang terbuka. Jendela hari menguak panjang. Melepaskan angin sejarah ke rimba ingatan. Angin dan aksara ramalan. Harapan muncul kejora baru. Rumahku baru. Rumah kita pun baru.
Selamat datang ke rumah sejarah lama. Rumahku, rumah kita. Benarlah, rumahku rumah kita pun sama: “History repeats itself.”
Sintok, Kedah.
43
4.05.
Adat air setitik, janganlah dilautkan. Biar pecah setitik air di tanah. Kering dibacakan lidah mentari. Adat tanah seketul, janganlah digunungkan. Biar hancur tanah dijilat lidah air. Air dan tanah bernafas di dalam diri. Lautan ada ombak. Gunung bukan menyeri angkuh.
Air susu dibalas dengan air tuba. Segelas air susumu, dibalas air tuba. Kau minum tapi kau tidak mati. Kau telah membaca firasat hitam di padang pertaruhan ini. Biarlah air yang jernih, sayak yang landai. Nampak bayangmu di cermin air. Kau impikan sayang yang landai meskipun hanya setitik air yang jernih. Kau faham, kau adalah air yang tenang. Jangan disangka tiada berbuaya.
Angin tak dapat ditangkap. Asap tak dapat digenggam. Kau masih ingin menangkap angin di padang lautan ternganga. Tiba di pantai, angin bersembunyi di celah batu. Tiba di pantai, angin menyatu di pasir. Kau masih ingin menggenggam asap. Matamu telah pedih dan berdebu. Asap dari segenap penjuru menyerangmu. Ada suara sembunyi ingin membutakan matamu. Asap menjadi racun.
UUM Sintok, Kedah
44
4.06.
Akar terjumbai tempat siamang berpegang. Dahan menganjur tempat tupai menegun. Akar tidak menjunam ke hati bumi. Akar menunjuk diri berani bertemu dengan pohon-pohon kebenaran. Dahan pula bersiap teguh menggantung bulan.
Akal akar berpulas tak patah. Akar reput akan patah. Belum membeliti lidah berapi. Belum berpulas sedia patah. Dibakar api menjadi debu.
Akal labah-labah di gua buruk suka merakut. Kau bukan labah-labah itu. Sembunyi malam dari siang. Sembunyi riuh dari sunyi. Keluarlah dari gua buruk itu.
Akal menampi, jangan tumpah padinya. Padi yang tumpah adalah benih generasi. Kau harus berhati-hati dalam perjalanan panjang. Menampi sang semut padi yang berbudi.
Angan-angan menerawang langit. Ingin kau menggapai bintang. Cahaya berbalam di sebalik mentari. Kau terhenti di ranting malam memerhati bunga-bungaan subuh menguntum.
Adat bertentu, bilang beratur. Berpegang pada landasan prinsip. Menyongsang angin menikam diri. Usah membilang dari belakang. Usah berpandukan kitab sesat.
45
Akal gajah terdorong di kelir kehidupan. Sang gajah memijak sang semut. Bijak sang semut mencari lubang telinga gajah. Sang semut patahkan gading kuasa dan kaki sakti di hujung sebuah kehidupan lusuh. Nanti sang gajah meriba nota penyerahan.
Ada kerak ada nasi. Kau tidak makan kerak. Kau makan nasi yang tak berkerak. Kerak itu payah dibuangkan dari periuk hati. Api apa yang membakar hingga nasi berkerak?
Ya, kalian pun benci pada kerak nasi.
UUM Sintok, Kedah
46
4.07.
Aku membuang egoku. Aku membuang pemujaanku terhadap makhluk ciptaan-Mu. Aku membuang pemujaan terhadap diriku – pangkat, ilmu, harta dan darjat. Aku membuang semua pemujaanku kepada hal-hal lain selain Allah.
Hanya Allahlah yang layak dipuji. Aku memuji-Mu, ya Allah. Pastinya menimbulkan kebaikan dan kemuliaan kerana Allah adalah Zat Yang Esa. Allah Yang Maha Benar. Allah Yang Maha Bijaksana. Memuji hanya kepada Allah. Kebaikanlah segala-galanya.
Pintu rohani tertutup jika pujian hanya kepada makhluk ciptaan-Mu. Pujian di tempatnya iaitu hanya kepada Allah yang memberikan seluruh kebaikan-Nya kepada aku.
Segala pujian hanya milik Allah. Aku ingin membina peribadi suci. Aku membuang egoku.
Jitra, Disember 2018.
*Inspirasi daripada Surah Al-Fatihah, ayat 2 bermaksud,”Segala pujian bagi Allah, Tuhan seluruh alam.”
47
4.08.
Aku ingin menjadi seperti padi meskipun telah memperolehi kedudukan, pangkat atau kekayaan atau ilmu tetap bersikap rendah diri supaya tidak dibenci oleh orang lain. Aku hidup dekat dengan dunia padi meskipun ada yang tak pernah ke bendang atau kenal pokok padi. Aku tahu ada yang kenal hanya beras. Dimasak jadi nasi. Makan setiap hari dengan pelbagai lauk pauk. Padi kekuningan persis emas, menarik di mata. Buah padi melebat. Semakin melebat semakin tunduk ke bumi. Kehidupan padi tidak seperti lalang atau enau dalam belukar yang bersifat sombong dan pentingkan diri sendiri. Tidak rugi jika bersikap seperti padi. Aku, jika ada pangkat, apa salahnya bersama dengan yang tidak berpangkat. Aku banyak ilmu, tidak rugi berkongsi ilmu dengan orang lain. Lagipun ilmu yang dicurahkan itu akan bercambah. Jadi benih macam benih padi. Hidup subur. Jika sombong dan menyombong, tiada manfaatnya. Kalau yang faham resmi padi, fahamlah makna hidup. Selagi ada pokok padi, selagi itulah hidup menjadi.
Baling, Kedah
48
4.09.
Baca berita. Berita entah apa-apa. Baca berita. Berita dusta. Baca berita. Berita fitnah semata-mata. Baca berita. Berita suka-suka. Baca berita. Berita buta. Baca berita. Berita saja-saja. Baca berita. Berita orang kita. Baca berita. Berita hentam ikut suka. Baca berita. Berita sensasi saja. Baca berita. Berita kontroversi pula. Baca berita. Berita hampas belaka. Baca berita. Berita duka lara. Baca berita. Berita boleh jadi orang gila. Baca berita. Berita semua tak kena. Baca berita. Berita susah nak percaya. Baca berita. Berita dalam dilema. Baca berita. Berita tak tahu hala. Baca berita. Berita propaganda. Baca berita. Berita tak boleh percaya. Baca berita. Berita bikin pening kepala. Baca berita. Berita orang jahat dipuji melata. Baca berita. Berita orang baik dikata dusta. Baca berita. Berita jadi keliru pula. Baca berita. Berita siapa reka? Baca berita. Berita ada agenda. Baca berita. Berita celaka. Baca berita. Berita baik ada makna. Baca berita. Berita apa? Berita tutup berita. Berita apa? Berita buka cerita. Baca berita. Berita orang bakar berita. Baca berita. Berita orang marah-marah orang tulis berita. Baca berita. Berita jadi lebih membara. Baca berita. Berita tular melata. Baca berita. Baca berita. Berita la la la. Baca berita. Berita pantun tentang berita.
Pagi hari menuju ke kota, Tiba di kota membeli joran; Bosan sudah baca berita, Mari kita baca al-Quran.
Julai 2017
49
4.10.
Kalian di gelanggang merdeka. Tahun bila-bila pun Malaysia; gelanggang merdeka di helaian musim tahun berapakah? Segmen Melayu masih di petak kuasa demokrasi. Suara sumbang dari gunung; tongkat Melayu mahu dipatahkan dan dialihkan ke petak keadilan. Melayu mahu dibebaskan dari penjara fobia dan trauma antara silu kuasa dan silat wang. Sang demonstran sesat bersorak-sorak – penjahanam bangsa katanya. Oh, dikejutkan halilintar sedar bahawa Melayu itu Islam dan Melayu itu berbahasa dan beradat Melayu. Oh, kalian menjadi pelupa bahawa bahasa Melayu dijelirkan lidah oleh Melayu. Masih tinggal baju Melayu. Melayu sudah menjadi 1Malaysia, kemudian Malaysia Baharu. Kalian berasa jelira. Ah, ini gunung berapi bangsa, dan gempa bumi negara! Sekian tahun Interlok diam menjadi gunung berapi. Lava sejarah bangsa mengalir di bawah kawah fakta. Geseran lapisan bangsa dan ideologi, bumi harmoni bergempa. Ah, jangan dibakar api bangsa! Kalian kembali terduduk di kerusi sedar Melayu itu. Sedangkan kalian menjadi pelupa kerana asyik mengira bidak-bidak di atas papan kuasa dan harta. Siapa pun belum mentafsir. Meneka lava dan gunung berapi itu mahu meletup. Maniam sahaja yang mahu berdemonstrasi. Kata kau; sang sasterawan silap menjahit fakta lampau yang sudah terputus benang sejarah keturunan. Ah, kebaikan adalah manisan untuk menarik sang semut menghurungnya – akhirnya kalian pun terbuang dan mati di gelanggang tumpah darah sendiri. Seman itu Melayu ; pemuda
50
yang kuat dan keras hati. Menjadi semut Melayu memakan manisan, kemudian membenci kemiskinan dan kebodohan. Ah, Cing Huat menaburkan manisan. Semut Melayu datang. Bidak kuasa boleh membeli ekonomi atau ekonomi boleh meracuni kuasa? Maniam kuli di kebun kelapa dan di kebun getah. Masing-masing menganyam daunan mimpi di mesra lidah ibunda. Seman tidur di atas bantal kemiskinan. Daunan mimpi terbang ditiup angin buta huruf. Cing Huat tidur di atas bantal aksara duit dan frasa untung. Mimpi mahu menukarkan warna pelangi bukan lagi milik Syaitan Putih. Maniam masih tidur di atas bantal kosong. Daunan getah kering yang berterbangan di ruang diri rendah. Mimpi hanya untuk mewarnakan ruang kosong dengan sedikit denyut nafas. Interlok versi 1Malaysia, pun Malaysia Baharu. Oh, Cing Huat masih mahu bangkit – lena berbantalkan petak-petak Malaysia – belum diisikan dengan wang. Seman – leka mengasap kemenyan; berasap Melayu dan mencium keris yang diperlimau. Dalam khayal, petak-petak kuasa dialihkan ke tangan syaitan. Menjual genggam kuasa untuk membeli tiket ekonomi. Menjual tiket ekonomi, menggadai gelanggang kuasa! Seman, apa lagi yang kau miliki? “Ini sulat tanah kebun, ini sulat tanah sawah, ini sulat tanah kampong.” (hal. 55) …ini sulat hutang.” (hal. 56)…masa bodoh lu punya fasal (hal. 89).
51
52
di lahirkan di negeri Jelapang Padi, Kedah Darulaman pada 22hb Februari 1967. Kini menetap di Kuala Lumpur. Timbalan Presiden Aktivis E-sastera Malaysa (E-SASTERA) dan ahli Angkatan Sasterawan Nasional Kedah (ASASI), menganggotai Grup Puisi Pinggiran Darulaman sekitar tahun 80-an. Mengikuti kursus-kursus penulisan yang dianjurkan oleh Angkatan Sasterawan Nasional Kedah (ASASI) seperti kursus asas penulisan, kursus penulisan kreatif, penulisan berita dan rencana, kursus penulisan skrip drama dan beberapa bengkel anjuran PROKSI, DBP, PENA & ITBM.
Karya-karya lebih tertumpu kepada puisi dan cerpen. Pernah mendapat tempat di Radio Malaysia Alor Setar, Mingguan Malaysia, Berita Minggu, Warta Darulaman, Mingguan Wanita, Majalah Intisari, beberapa akhbar tabloid yang lain dan Sastera.net. Pernah memenangi pertandingan menulis cerita lucu majalah Rileks. Antologi Puisi ‘Alun Berkocak’ satu-satunya yang dihasilkan bersama Grup Puisi Pinggiran. ‘Sepiak Pinang Semamah Sireh’ merupakan antologi puisi kedua bersama penyair-penyair siber anjung utara dan pada tahun 2011 menyusul antologi soneta bersama berjudul ‘Pepohon Perteduhan Cinta’ dan mengisi 5 buah karya dalam antologi multigenre Bukit SiGuntang Mahameru iaitu soneta, haiku dan sebuah travelog Menawan Puncak Monpera. Pada 2012 sebuah sajak berjudul ‘Menyusuri Jalan mengenal Mu’ turut terpilih oleh Sasterawan Negara Dato’ Ahmad Kamal Abdullah (KEMALA) bagi mengisi ruang di antologi Puisi Numera (Nusantara Melayu Raya). Turut memuatkan beberapa karya di E-LOKA Direktori
53
penyair eSastera Malaysia 2011 dan ANA antologi karya eSastera mengenang Brirasa, ‘Bulan Suram di Langit Kashmir’ kumpulan puisi bersama 4 penulis esastera.com, Segenggam Tasbih kumpulan puisi&cerpen Dialog Puncak ASASI 2013, Kumpulan puisi bersama MH370, Merungkai Mimpi kumpulan puisi Dialog Puncak ASASI 2014. Sirah Rasulullah (Puisi), E-Sastera 2015, Projek Haiku (Haiku) TabirAlam 2015, Semandarasa Pantun Melayu (Pantun)TabirAlam 2016, Projek Sonian Tabir Alam 2016, Adikarya (Poligenre) TabirAlam 2017, Memori Aidilfitri (Anekdot)TabirAlam 2017,Istana Kasih 4 (Sajak), Karyawan Pk 2017, Antologi Puisi Pangkor 2017,Antologi cerpen Melerai Rindu UUM Press 2017. Pantun Berkait (Pantun)TabirAlam 2018,Catatan Kembara (Travelog), Tabir Alam 2018, Penganan Dari Dapur Penulis (Resipi) TabirAlam 2018, Maharnya Mahal (Cerpen) DBP 2018, Suara Hati (Kuatrin) TabirAlam 2019, Karmina Pantun Dua Kerat (Pantun) TabirAlam 2019. Pernah memenangi beberapa sayembara soneta, cerpen, pantun, haiku, dan teka-teki di HESCOM (Hadiah e-Sastera.com). Mendapat anugerah Sasterawan Alam Siber (SAS) 2019 dari E-SASTERA.
5.01. Haiku: Tangga Spiral 5.02. Kuatrin: Seorang Gadis Yang Kutemui Pada Lewat Malam 5.03. Pantun Vaganza 5.04. Makna Sebuah Rindu 5.05. Soneta: Air Mata Palu 5.06. Sonian: Berangkai: Kembara Thailand 5.07. Sonian: Gunung Jerai 5.08. Sonian: Pekan Rabu 5.09. Sonian: Pulau Langkawi 5.10. Tanka: Belasungkawa Muhammad Adib bin Mohd Kassim
54
5.01.
Haiku
Di Kelle’s Castle tangga bilik rahsia jejak sejarah.
Ipoh, Disember 2018.
55
5.02
Ketika bulan masih mengambang keluhan menyingkap tabir kelam cempaka gugur sebelum kembang dibawa resahnya angin malam.
Mengapa menolak kebenaran sehingga kata menjadi dusta dilamun cinta yang berkejaran kepalsuan berarus di mata. Berlarilah kau sepuas hati di pentas dunia milik tuhan sehingga segalanya terhenti penyesalan terungkap keluhan.
Bila mentari menutup kelam melenyapkan segala kenangan terjaga dari mimpi semalam di dalam terang kau kehilangan.
Tangisan gadis berwajah dendam kesalan meratap kesedihan di hatinya tak akan terpadam doa yang tidak berkesudahan
Disember 2019.
56
5.03.
Kesuma lata redan berpaya, jadi setara berbeza dahan; bersama kita di medan karya, di E-sastera.Vaganza ASEAN.
Jadi setara berbeza dahan, sama merata di sisi temu; di E-sastera. Vaganza ASEAN, bersama kita berkongsi ilmu.
Sama merata di sisi temu, kijang di bawah lompat berikat; bersama kita berkongsi ilmu, panjang ukhuwah mendapat berkat.
Kijang di bawah lompat berikat, cura jeritan canang simpati; panjang ukhuwah mendapat berkat, mesra ikatan kenang di hati.
Februari 2019.
57
5.04.
Secangkir rindu yang kita hirup bersama tika bulan berselindung malam menutupi wajah adalah sebuah atmajiwa yang mengalir damai berbisik sejuta rasa bahagia aromanya meresap ke ruang-ruang kosong diam meratah sepi.
Disember 2018.
58
5.05.
Bila senja melabuhkan tirai keresahan dihimpit sengsara hadir malam yang tidak dirai hanya ratapan hati yang lara.
Ombak semakin ganas menghempas raung tangis ratap kehilangan pencarian yang semakin tumpas dan mayat-mayat bergelimpangan.
Tidur berselimut mimpi ngeri Tsunami membaham tanpa belas menanti siang yang hilang seri terkenang nasib harus digalas.
Begitu makna namamu Palu bila bumimu diratap pilu.
Oktober 2019.
59
5.06.
Sonian berangkai
/i/
Menyusuri sungai Menam Chao Phraya makan malam kenangan.
/ii/
Di Pasar Terapung tawar menawar Sungai Mae Klong rezeki.
/iii/
Kembang matahari ladang Lopburi Keindahan bertamu.
Thailand, Disember 2019.
60
5.07
Sonian
/ii/
Kedah Darulaman tarik pelancong puncak Jerai kunjungan.
/ii/
Sejuk membaluti mendakap rasa Kedamaian kurniaan.
/ii/
Bunga berkembangan segar mengharum Keindahan pencipta.
Januari 2019.
61
5.08.
Sonian
/i/
Kunjungan pembeli tawar menawar Pekan Rabu pilihan.
/ii/
Resepi utara gerai makanan Menikmati selera.
/iii/
Di atas jambatan menadah tangan harap kasih simpati.
Januari 2019.
62
5.09.
Sonian
/i/
Sumpahan Mahsuri mati dibunuh mangsa fitnah lagenda.
/ii/
Tujuh keturunan tangis bumimu Kegersangan sumpahan.
/iii/
Pulau bebas cukai syurga membeli Kepuasan pilihan.
Pulau Langkawi, Disember 2019.
63
5.10.
Tanka
Rabiulakhir menjalankan amanah trajedi kuil mangsa persengkataan bakti wira negara.
Disember, 2018.
64
CT Nurza atau, nama sebenar, Siti Nur binti Zainal. Dilahirkan pada 18 Sept 1971. Berasal dari Jerantut, Pahang Darul-Makmur. Minat menulis semenjak di bangku sekolah dan bergiat aktif bermula penghujung tahun 1989 sehingga kini. Banyak menulis ulasan buku, rencana sastera dan karya-karya eceran di akhbar dan majalah arus perdana Malaysia. Pelbagai pertandingan-pertandingan mengarang anjuran radio rtm, akhbar, majalah dan komuniti facebook serta wattpad dalam pelbagai genre turut dimenangi (1990-2018).
Antologi terkini Syair Kanak-kanak “Untung Menabung” telah pun diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia (DBP) 2018, Kumpulan Syapen Pahang Dalam Syair “Tuk Suji Bilang” diterbitkan oleh Perpustakaan Awam Negeri Pahang (2018) serta beberapa buah lagi antologi bersama diterbitkan di Malaysia dan Indonesia (2018). Merupakan salah seorang Pemenang Hadiah Penghargaan Sayembara Menulis Puisi/Cerpen PKPP-DPMP 2017/2018 (Kategori Cerpen) anjuran Dewan Persuratan Melayu Pahang. Juga Pemenang Fiesta April 2018 Wattpaders Malaysia kategori ‘Short Story’ Prompt Paranormal dan Pemenang Sayembara Halloween Vault 2018 Wattpaders Malaysia kategori ‘Short Story’ Pesta Topeng Prompt Romance.
65
Lebih 100 buah antologi bersama pelbagai genre telah disertai dan diterbitkan (di Malaysia & Indonesia), 2013-2018. Telah menghasilkan buku solo pertama Kumpulan Sajak “Bak Bakawali, Mineral, Daun Lebar dan Kokila” terbitan JS (Jom Sastera) Ogos 2018. Aktif mengikuti program-program Kembara Seni, Bahasa, Sastera & Budaya bersama Ziarah Kesenian Nusantara sejak 2015-2018. Kini aktif berkarya bersama grup e-Sastera.Vaganza ASEAN (2018-2019).
6.01. Pelimbang 6.02. Kita Dan Kematian 6.03. Menangkis Tanggapan 6.04. Nila Nan Setitik 6.05. Tsunami Banten Menjentik Nubari 6.06. Syair: Tsunami Sunda 6.07. Gurindam: Ada Pun 6.08. Dansa Ilalang 6.09. Mentari Retak Di Birai Ombak 6.10. Kuatren: Membingkai Kesetiaan.
66
6.01.
Kadangkala… aku senang menjadi pelimbang merantau jauh ke perkampungan pengalaman sendirian berjalan membawa haluan haluan menyusuri kekhilafan agar bertemu tujuan tujuan menghalusi diri diri yang penuh cela jua tompok dosa yang tercalit.
Pada kelana yang panjang kusinggahi sungai jernih nan deras kuhanyutkan seludang kejahilan membilas wajah kehidupan di tebing kesedaran kutemui kemilau istighfar menerangi telaga jiwa.
Port Klang, Selangor, Malaysia, 11 Feb 2019, 4:07 ptg.
67
6.02.
Sepantas mana kita berlari sebijak mana kita menghindari sejauh mana kita bersembunyi mengelak diri daripada kematian kita tetap diburu maut biar cuma sekilas pandang tidak terduga atau terjangka kematian tetap menghambat diri walau hanya di muncung pistol ia tetap datang tanpa kita ingini dan sedari peluru menembusi dagu itulah realiti hari ini tembakan dilepaskan tanpa pertimbangan.
Jerantut, Pahang, Malaysia, 6 Feb 2019, 2:14 ptg
68
6.03.
Siapa kata Melayu bangsa pemalas? malas itu bukanlah kerana bangsa malas itu tabiat semulajadi sikap peribadi peribadi yang diasuh sendiri oleh empunya diri tiada sifat mandiri.
Malas itu pembawakan individu tabiat dalaman yang sukar dihakis ada pada berbilang bangsa bukan sahaja Melayu seperti yang dinyata.
Usah memperlekeh bangsa sendiri Melayu juga sudah banyak yang berjaya setaraf dengan semua bangsa gah di persada antarabangsa.
Sedarlah… kutukan tak menambah kebaikan penghinaan tiada memberikan dorongan hanya menjadi asbab bangsa Melayu sentiasa berburuk sangka bahana lidah tidak bertulang seenak kata berbicara tanpa memikirkan akan natijahnya.
Port Klang, Selangor, Malaysia, 4 Feb 2019, 6:32 ptg.
69
6.04.
Hanya kerana nila nan setitik lantas rosaklah susu putih sebelanga menjadi cemar warna bertukar rona tompok noda menyakiti pandangan dicium tak sudi dipandang apatah lagi bagai racun bisa menular ke saraf membunuh percaya berisi mandat ibunda justeru rasa pun berubah rengsa.
Sekian lama… pembangunan jua pendidikan tertangguh alpa terbiar sepi dipinggir janji-janji manis telah banyak dimungkiri lantaran kerakusan memburu kemewahan senyap menerima habuan berdiam diri yang susah bertambah payah meraih simpati pabila kuasa disalah guna oleh yang berkuasa luar bandar ketinggalan pembangunan kemajuan demikian negara berdukacita sehingga rakyat merintih resah mengemis seumpama peminta sedekah lantaran keluhan acapkali diabaikan rasuah menjadi mainan birokrasi.
Kini harapan dipacak setinggi gunung belalah nasib marhaen di ceruk desa agar terkota janji dan amanah bangsa semoga visi terlihat nyata membuka mata dan jua minda.
Port Klang, Selangor, Malaysia, 4 Feb 2019, 11:33 pg.
70
6.05.
Saat petir berdentum kilat sambar menyambar meledaklah Gunung Anak Krakatau mengejutkan seluruh warga memuntahkan lava-lava pijar meletus bagai petanda tsunami bakal melanda di Banten dan Lampung pada sabtu yang lalu.
Demikian ombak sesekali menerjah laut yang tenang merubah pandang ombak gergasi datang berhambatan memanjat tebing dan hotel mewah menghempas musnah bangunan agam sehingga bumbung-bumbung hanyut ditenggelami air dan nyawa pun direnggut ganas.
71
Tsunami Sunda jadi ingatan kehilangan mangsa sukar ditemukan sebahagian telah dijemput ajal Gunung Anak Krakatau terbelah dua tatkala letusan dahsyat melanda bongkahan gunung jatuh ke laut gelombang tsunami tinggi menghempas pecah terbelah perahu nelayan hancur musnah di tengah lautan air jernih menjadi keruh berubah bau bercampur belerang berlumpur hitam laksana kopi bencana tsunami menjentik nubari semoga tragedi tak berulang kembali.
Malaysia, 31 Dis 2018, 7:59 mlm.
72
6.06.
Awalul kalam mula bicara, kepada semua salam sejahtera, izinkan hamba bersyair ceritera, tentang tsunami ombak bercempera.
Bencanalah tiba tiada terduga, terpisah diri dari keluarga, tsunami melanda tanah berongga, rumah nan elok patahlah tangga.
Penyu gergasi dihempas gelombang, terdampar lesu diangkat orang, beratus kilo berat ditimbang, di Selat Sunda tampak cengkerang.
Amaran tsunami tidak berfungsi, sekelip mata hilang ditangisi, insan tersayang tiada di sisi, sebuah kereta terbalik di lokasi.
Ombak besar di Pantai Anyer, Lampung Selatan dinaiki air, bulan penuh bagai menzahir, Hotel Grand Elti dinaiki air.
Gunung berapi Anak Krakatau, punca utama kini dipantau, warga Malaysia seorang perantau, turut tercedera sedang dipantau.
73
Tsunami di Banten satu tragedi, angka terkorban semakin tinggi, gunung berapi punca terjadi, mangsa yang hilang masih dicari.
Sungguhlah pilu rasa di hati, keluarga yang hilang ditunggu dinanti, biar bertemu bercerai mati, terus berdoa tiada henti.
Mari sahabat kita membantu, hulur sumbangan sekadar mampu, serumpun bangsa tetap bersatu, sama diduga saling membantu.
Sampai di sini syair dinukil, semoga tiada apa yang musykil, marilah kita merenung fikir,| mengambil ibrah sambil berzikir.
Ampun dan maaf hamba pohonkan, cukup di sini rasa dizahirkan, jikalau ada sebarang kekhilafan, sudi kiranya diperbetulkan.
Akhirul kalam mohon berundur, syukurlah kita dipanjangkan umur, kalimah syahadah sebelum tidur, nyenyak hendaknya lena di kasur.
Jerantut, Pahang, Malaysia, 26 Dis 2018, 1:00 pagi.
74
6.07.
Gurindam
Ada pun kebaikan kita lakukan, itulah kelak amal kebajikan.
Ada pun kita banyak berbudi, rundukkan diri seumpama padi.
Ada pun kita petah bertutur, terkadang kala tidak teratur.
Ada pun tenang tampak di wajah, riak di hati ombak menerjah.
Ada pun al-Quran kalamnya Allah, jarang dibaca sering tersalah.
Ada pun hidup banyak diuji, hikmah-Nya Allah indah disaji.
Ada pun mati suatu ketentuan, janganlah kita abai kesihatan.
Ada pun akhirat tempat perhitungan, kehidupan dunia perlu keseimbangan.
Ada pun persoalan perlu jawapan, tanpa jawapan hikmah tersimpan.
Jerantut, Pahang, Malaysia, 20 Nov 2018, 5:55 ptg.
75
6.08.
Dan ilalang pun berdansa antara danau dan gunung membawaku melontar pandang menyaksikan bunga-bunga kering terawang-awang berterbangan melayah ditiup angin perubahan tatkala 9 Mei 2018 bertamu demi mencari sinar baharu untuk hidup selesa seperti dedalu memanjat pohon menumpang paut tiada malu demikian ilalang goyah bertahan.
Jerantut, Pahang, Malaysia, 20 Dis 2018, 7:29 mlm.
76
6.09.
Di birai ombak akulah sang mentari retak seribu terbelah menyisa cahaya pudar menyisih sepi tanpa jejak tinggalkan malam berteman kejora agar senyum menguntum makna biar luka ditekat embun ilusi bersiulan ritma mimpi menyirna pesona wajah membenam bundar pancaindera pada goresan luka dihempas gelora jiwa.
Jerantut, Pahang, Malaysia, 12 Nov 2018, 12:24 Pagi.
77
6.10.
Kuatren
Hidup berkahwin satu ujian, iman diduga tiada henti, sering diuji kesetiaan, terkadang luluh rasa di hati. Galas amanah bertanggungjawab, sabar fahami sikap pasangan, akhirat nanti disoal jawab, memberi nafkah dipandang ringan. Hidup sentosa saling mengerti, berbahagia hingga ke Jannah, sayang pasangan jagalah hati, hubungan mesra tidaklah punah.
Bertoleransi perlu disubur, janganlah adab campak ke tepi, ikhlaskan hati bakti ditabur, mahligai indah tidaklah sepi.
Jerantut, Pahang, Malaysia, 18 Sept 2018.
78
Novia Rika Perwitasari. Berasal dari Malang, Jawa Timur, Indonesia. Saat ini tinggal di Tangerang Selatan. Senang menulis puisi untuk menghidupkan jiwanya. Karya puisinya masuk dalam berbagai buku antologi puisi nasional serta beberapa media puisi internasional seperti Dying Dahlia Review, The Murmur House, Haiku Masters NHK Japan, Optimum Poetry Zine. Pernah meraih juara 1 nasional lomba puisi Penerbit Oksana (2015), juara 1 nasional lomba puisi Majelis Sastra Bandung (2016), juara 1 nasional lomba puisi “Pindul Bersajak” (2017), juara 2 nasional Sayembara Pena Kita (2017), dll. Ia juga pernah menjadi delegasi Indonesia dalam World Festival of Youth & Students 2017 di Rusia karena kegiatannya di bidang sastra.
79
7.01. Tanah Kehidupan 7.02. Tuhan Dan Pilihan 7.03. Arwah 7.04. Lautan Rahsia 7.05. Mencari Jalan Cahaya 7.06. Ditampar Setan 7.07. Selamat Tinggal Yang Indah 7.08. Langit Gerhana 7.09. Laut Biru Langit 7.10. Menghancurkan Diri
80
7.01.
Kita tiba pada tanah yang tak bersuara yang mendekap kehidupan sedekat kematian direkat debu-debu yang terlahir dari degup jantung dan kesunyian di antaranya.
Kau dengar nama siapa?
2018.
7.02.
Terkadang Tuhan menyukai permainan membolak-balik hati dan garis tangan karena Ia tahu kita akan terlahir di akhir kematian melalui pilihan yang kita tancapkan sendiri di hati dan perbuatan.
24 April 2018.
81
7.03.
Petir benderang di lengkung gerbang bintang-bintang langit gelap menguasai jiwa lautan, hutan, bukit pasir, dan rerumputan.
Aku menguasai kesunyian yang dijanjikan oleh langit pada hatiku yang tak tahu adat, memanggil semua cahaya putih remang agar menyala dan tak membiarkan arwah-arwah pudar doaku akan datang untukmu..
Seluruh dunia yang tak dapat kita lawan dengan hasrat fana berapi-api bagai hujan yang tak bisa kita balikkan arah bagai kematian yang tak bisa kita larikan diri.
Kita hanya bisa mendengar jiwa-jiwa lautan, hutan, bukit pasir dan rerumputan memanggil kita bagai sapuan angin.
April 2018.
82
7.04.
Keluarkanlah air mata dari hatimu yang biru, lebam membatu seperti butir hujan di samudera pulau terluar jauh, diterkam angin-angin liar
Rahasia selalu bagai hantu menguntit dan menguliti rasa yang meledak di balik dada karena bibirmu serupa pantai membentengi hatimu yang lupa cara menulis kejujuran.
Batu-batu laut mengembang dalam dada menciptakan bahasa yang hanya bisa diartikan dengan artikulasi sunyi mengendap lalu menghitam.
Hapuslah dengan air mata dan pedang bermata cahaya sebelum terlambat!
Rasa sakit mampu mengubah manusia terkadang kuat, terkadang mengerikan.
83
Di akhir hari kau akan sendiri seperti sampan kosong di tengah lautan di bawah cahaya matahari dan hamparan ombak kebiruan tiba waktunya kau memilih mengisi kembali hidupmu.
2018.
84
7.05.
Hidup bagai langit dan samudra menyatu luas tak berkesudahan, penuh gelombang yang menggentarkan hati kita setitik debu yang berhamburan, atau tenggelam di dasar lautan selalu mencari jalan cahaya.
Kehidupan yang bermekaran di muka bumi perpaduan keindahan dan keburukan, kebaikan dan kejahatan, kejujuran dan kepalsuan, bagai bunga yang bermekaran di tengah belukar berduri dan hati kitalah, yang selalu mengingat-Nya akan mengikis duri-duri itu.
Hidup teramat kuat memberikan pilihan seringkali berselimut tipu daya takdir manusia terlahir untuk mencari jawaban dari hati kita sendiri dan janji-janji Tuhan; tugas kita adalah berjalan di bawah cahaya-Nya yang terang atau tersembunyi terkadang, bulan demi bulan kita larung dalam hidup yang fana.
Karena kasih-Nya Ia membuka pintu secercah cahaya bagi manusia Ramadhan yang mulia, bulan suci pengetuk pintu hati penunjuk jiwa yang tersesat membebaskan hati yang terkunci.
85
Diam dan dengarlah hapus kebisingan nafsu duniamu.
Diam dan ingatlah, doa-doa yang dilafalkan alam semesta.
Menyatu dalam ibadahmu, keikhlasanmu sambutlah cinta dalam hatimu, kasih pada saudara dan sesama dan berserah jiwa ini Hingga akhir usia kita berjalan di bawah cahaya-Nya.
Juni 2018.
86
7.06.
Hatimu mendadak merah padahal kau tahu cinta tak pernah abadi dan kau telah menguburnya dalam tulang-tulangmu Kkau sisakan segenggam harga wanita.
Kau tahu, kau selalu tahu cinta yang resah adalah milik kehampaan tak bertuan di relung dada yang melupa kerinduan ada yang palsu, ada yang palsu dari hatimu.
Hatimu mendadak merah melihat gincu merah di kerah dan ribuan dusta yang berkerumun di dadanya.
Ada yang salah, ada yang salah dari nafsu.
Hatimu sakit ditampar setan dan sepenggal kedustaan kau lihat, perlahan hatimu mati sekeras batu.
Jakarta, 23 September 2016.
87
7.07.
Dalam kegelapan inginmu aku menyerah kita tak akan pernah mengerti bagaimana caranya memperbaiki hati tak pernah jadi buku yang mudah dibaca tapi aku masih mengingat suaramu yang bernada rendah yang memelukku sepanjang musim.
Tapi suara bukanlah jawaban maka di kegelapan inginmu aku mengakui hatiku aku telah menyegel namaku di udara saat pikiran tentangmu telah mengeringkan air mata o, sungguh aku berharap kita tak terlanjur patah hingga saat kita akhirnya bertemu hanya tersisa sedikit luka untuk diobati.
Diam-diam aku tahu, terlalu banyak duka yang kita rahasiakan kita saling mencari penyembuhan satu sama lain kita salah, kita tak akan menemukan penawar di luar hati kita sendiri di sana kita berdiri, tak genap dan berdarah lalu aku mendengar dunia bernyanyi nyanyian puitis paling lembut menyanyikan selamat tinggal yang indah
2018.
88
7.08.
Di langit gelap terbit cahaya merah yang kukira gerhana, dan aku bersiap menutup mata, tapi mataku tak sanggup karena hatiku berdetak seperti bulan retak dibelah cahaya matahari yang mulai menjejak di permukaan bulan, dingin dan terjal
Tubuhku menggigil pada kesadaran yang merekah tanpa permisi, tanpa peringatan, tanpa sejarah mengapa hati bergoyang bagai badai antariksa melukiskan gerhana tanpa rencana.
Aku tahu bulan akan segera datang setelah melewati gerhana matang dan aku harus menutup mata, menyatu dengan bumi namun entah mengapa kesunyian begitu jahat dan membuatku tak mampu bergerak berbaring aku, tanpa suara, memandang kegelapan ditera gerhana yang meremang kemerahan berharap hatiku hancur sebelum bulan lahir kembali dan kembali pada kesunyian
Jakarta, 12 April 2018.
89
7.09.
Saat kau meraih tanganku hidup kita berubah jadi cahaya kelabu di kedalaman laut biru langit batas halus antara permadani awan tebal mereka ingat warna kulit kita memucat dalam air garam, ketika hati kita dibongkar di atas ombak
Hati kita bicara dengan bahasa lautan kuat tapi tak harus ditafsirkan luar biasa, tapi harus jadi rahasia dalam hati, terdapat samudra yang tak bisa kita seberangi karena kita hanyalah manusia dengan berkah mencintai, dan kutukan mencintai
Jakarta, 24 April 2018.
90
7.10.
Biarkan aku menghancurkan diri sebentar lagi
dalam kenangan yang lahir di genggamanku
penuh tanda tanya dan rasa sepi
menjejali perjalanan yang tak terurai oleh waktu
dan terbentang di sepanjang mataku
Samudra kesunyian mencelupkan nada bising
pada kesadaranku yang terganggu, maka
aku ingin hancur agar hatiku tersadar
jalan yang salah bukanlah pilihan
namun kutukan yang seakan-akan indah
Bagiku tak ada jalan untuk melupakan
selain menerjunkan diri pada kesedihan
ini hukuman yang harus dengan berani dicambukkan
agar hati tak lagi tersesat,
meski bertabur luka
harus kuyakin akan kudapatkan diriku kembali
Akasia, 11 Mei 2018.
91
92
Ibnu Din Assingkiri ialah nama pena penulis Sanusi bin Din. Dilahirkan di Singkir Laut, Yan, Kedah pada 4 Mei 1970. Mendapat pendidikan awal di Sekolah Kebangsaan Singkir, Kedah dan pendidikan menengah di Sekolah Menengah Kebangsaan Merbok, Kedah. Menyambung pendidikan di Kolej Vokasional Lorong Batu Lanchang, Pulau Pinang dalam bidang otomotif dan Institut Pengurusan Malaysia dalam bidang Pengurusan Penyeliaan. Graduan Sarjana Muda Pengajian Inggeris dengan Kepujian di UNITEM (OUM). Kini melanjutkan pendidikan Pascaijazah Pendidikan di Universiti Terbuka Wawasan (WOU). Berkhidmat sebagai Penolong Eksekutif Kanan Latihan dan Perkembangan Sumber Manusia di syarikat Boon Siew Honda Sdn. Bhd. di Bahagian Keselamatan Trafik dan Penunggangan Selamat. Ahli Jawatankuasa Angkatan Sasterawan Nasional Kedah (ASASI) bagi sesi 2019-2021. Cenderung menulis puisi, cerpen, apresiasi serta kritikan karya sastera. Menulis secara serius semenjak tahun 2010 dan telah menghasilkan dua naskah kumpulan puisi serta dua naskah kumpulan cerpen. Karya eceran dan makalah beliau telah terbit di majalah Dewan Sastera, akhbar Mingguan Malaysia, akhbar Berita Harian, akhbar Amanah, majalah Pendidik, akhbar Utusan Borneo, dan akhbar Sinar Harian. Selain menulis di tanah air tercinta, beliau ikut bergabung dengan penulis se-Nusantara dan telah membukukan 16 antologi bersama. Editor Kumpulan Puisi Kembara Mencari Pelangi, Kausar Kreatif (2015). Menyumbang sebagai penasihat pakar dan penyunting kandungan modul Pendidikan Keselamatan Jalan raya (PKJR) dalam sisipan Bahasa Melayu bagi sekolah-sekolah Malaysia (Pra Sekolah, Sekolah Rendah dan Menengah Rendah) di bawah Malaysian Institute of Road Safety Research (MIROS), Jabatan Keselamatan Jalan raya (JKJR), Kementerian Pendidikan dan Kementerian Pengangkutan. Mentor penulisan puisi bagi persatuan penulis Angkatan Sasterawan asional Kedah (ASASI) sejak 2016. Menerima beberapa Anugerah HESCOM (Hadiah eSastera.com): Pemadah Prolifik (2011), Pemuisi Teraktif Puisi Tradisional (2011), Anugerah Pengkarya Prolifik (2013), Tanka Melayu Alam Siber (2014), Soneta Melayu Alam Siber (2014), dan Cerpenis Alam Siber – Tempat Ke-2 (2014).
93
94
8.01. Susah Merokok 8.02. Cerita Di Jalan Raya 8.03. Gurindam: Sayang Melayu 8.04. Rona Manusia Yang Abstrak 8.05. Tempayan Busuk 8.06. Tidak Terungkai 8.07. Soneta #1 8.08. Tanka #125 8.09. Haiku #47 8.10. Senryu #21
95
8.01.
(i)
Tudung celepa sudahlah bengkok, Boleh elokkah kalau dikikir; Buatlah apa belanja rokok, Baik sedekah kepada fakir.
(ii)
Di batang buruk ayam berkokok, Lepas berkokok mengasah taji, Sungguhlah teruk hendak merokok, Baik ditokok simpanan haji.
(iii)
Kakilah ayah jatuh terlipat, Bengkaknya sah kena dituam; Bersusah-payah mencari tempat, Merokok susah di tempat awam.
(iv)
Kain ditokok janganlah pinda, Jahitkan saja cara jelujur; Tempat merokok salah didenda, Berhenti saja takut terlanjur.
(v)
Cendawan tumbuh di batang pokok, Tersalah makan bolehlah mati; Susahlah sungguh hendak merokok, Kusut fikirkan baik berhenti.
Simpang Ampat, Pulau Pinang, 2 Januari 2019.
96
8.02
(Syair-pantun) (Hari Memperingati Mangsa Kemalangan Sedunia November 2018)
Di jalan raya bukan pusara, hanya penghubung ke hala tuju, muda sebaya hati gelora, nyawa disabung sukakan laju.
Laju terlalu puncanya sikap, mangsa dilanggar jadi sengsara, buang dahulu gopoh cemerkap, jangan digegar rasa juara.
Juara apa salah berlumba, akibat nanti jadi masalah, kerana alpa bertukar hiba, sampailah mati rasa bersalah.
Bersalah pada keluarga mangsa, kerana hilang tempat bergantung, harus waspada sepanjang masa, pastinya malang dapat dibendung.
Dibendung tidak gopoh dan cuai, ikutkan hati terhapus cakna, salah bertindak habis berkecai, menyesal nanti tidak berguna.
Berguna jika di jalan raya, hemah selalu tetaplah cermat, bijak menjangka mara bahaya, malang berlalu jadi selamat.
Batu Kawan, Pulau Pinang, 07 November 2018.
97
8.03.
Sayang Melayu berlemah-lembut, Hingga kepalanya ditarik rambut.
Sayang Melayu gemar beralah, Menuntut haknya dikata salah.
Sayang Melayu terlalu bersopan, Walau dicerca masih bertahan.
Sayang Melayu berpecah-belah, Siapapun tidak mahu beralah.
Sayang Melayu masih telagah, Siapakah hebat, siapakah gah.
Sayang Melayu keutamaan bangsa, Walaupun politik berlainan pangsa.
Sayang Melayu harus diterjemah, Sebelum haknya habis dijamah.
Bukit Tambun, Pulau Pinang, Disember 2014.
98
8.04.
Sushi dan sashimi terlentang di hujung meja hidangan stu ayam bagai lahar berasap wangi daging panggang dipola seperti domino tumbang sepakat menunggu dijamah.
Ucap kampai bersulam denting gelas berlaga wain beras dan bir berkocak melompat buih mencium mulut manusia dari sepelosok dunia; akrabi adab keraian.
Seorang bertanya tentang status halal sembelihan sambil mengesat buih bir di bibir dan kumis dengan belakang tangan, seorang lagi sering istighfar -makan semua terhidang.
Roman wajah manusia terkadang begitu abstrak di mana mereka berdiri di situ mereka berpegang tidak terusik gentar– kepada hari berpulang juga hari pembalasan.
Suzuka Circuit Hotel, Mie, Japan, 21 Oktober 2016.
99
8.05.
Mulut selebar tempayan segala rahsia akan jadi sebutan mengutip dosa-dosa kecil dan besar.
Jikalau buku amal dihulurkan dari kiri, lidahmu bercantum untuk dihiris lagi.
Seharusnya aib saudara wajib dijaga dalam lipatan keinginan menguja, juga hasutan busuk yang laknat.
: Takutlah balasan api-Nya, yang tersangat pedih.
Kepala Batas, Pulau Pinang, 14 Mei 2011.
100
8.06.
Puisi Gaya 517
Di ranting lesu sang capung setia mematung walau angin membentak keras rangkulan tidak terungkai erat, sampai penghujung hari.
Batu Kawan, Pulau Pinang, 11 Januari 2019.
101
8.07.
Jalanan sukar liku bercabang begitu nyata cabaran hidup usahlah mudah merasa bimbang hidup bukannya selalu redup.
Andai semua dapat dicapai dikhuatir nanti tidak bersujud resam manusia mudah lupai setelah senang menjadi maujud.
Pabila bala datang melanda pantas disalah takdirnya Tuhan mungkin inilah satu petanda iman merapuh gagal bertahan.
Andainya hidup terlalu mudah tidaklah iman terasa indah.
Bagan Lalang, Butterworth, Pulau Pinang, 30 Disember 2011.
102
8.08.
Perahu ini ke dua puluh lapan tahun dikayuh – Bawah lengkung pelangi Jambatan dua hati.
Simpang Ampat, Pulau Pinang, 2 Februari 2019.
8.09.
Bambu berdesir Syair memori silam Selumbar pilu.
Bagan Lalang, Butterworth, Pulau Pinang, 10 Januari 2013.
8.10.
Tak’kan terkatup Jendela puas hati Di rumah hidup.
Surau Taman Merpati, Simpang Ampat, Pulau Pinang, 26 Mac 2016.
103
Selain Kiflee Tarsat, Haji Kiflee bin Tarsat juga menggunakan nama pena Nur Hikmah. Dilahirkan pada tahun 1950 di Kampong Saba, Brunei. Pendidikan awal di Sekolah Melayu Lela Menchanai, Brunei. Berkelulusan Sarjana Muda Sains Perpustakaan pada tahun 1987 daripada Institut Telnologi Mara (ITM) yang sekarang ini dikenali sebagai Universiti Teknologi Mara (UiTM). Berkhidmat di Dewan Bahasa dan Pustaka, Brunei pada 14 Mac 1970 hingga 2 Mac 2005 dengan menjawat berbagai jawatan, antaranya Atendan Perpustakaan, Pembantu Perbustakaan, Pegawai Perpustakaan, Pegawai Perpustakaan Kanan dan jawatan terakhir sebelum bersara pada 3 Mac 2005 ialah Penolong Ketua Perpustakaan. Bergiat dalam bidang penulisan puisi, syair, dan sajak serta beberapa buah kertas kerja. Karya-karyanya termuat dalam Bahana, antologi puisi Kembara Merdeka Dua Dekad Meniti Usia, Episod Tsunami: Peringatan Ilahi (Sebuah Iktibar dan Pengajaran), serta antologi Juara 6: Bakti Suci Jalan Hakiki. Karya-karya tersebut tersiar dalam majalah Bahana, beberapa antologi sajak bersama-sama dengan penulis tempatan yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka, Brunei, Pusat Dakwah Islamiah, Brunei menerusi puisi Hidayah (III-VI). Buku Syair Ristaan DBP terbitan DBP, Brunei tahun 2007 adalah buku persendirian pertama dan mendapat hadiah penghargaan dalam Peraduan Menulis Syair Berunsur sejarah Sempena 45 Tahun Bahasa Melayu dalam Perlembagaan Negara Brunei Darussalam, serta memenangi tempat pertama dalam Peraduan Menulis Syair Sejarah anjuran Pusat Sejarah Brunei pada tahun 2009. Dalam bidang pembacaan puisi atau deklamasi, beliau pernah menjadi johan dalam Peraduan Sayembara Puisi Islam anjuran Persatuan
104
Kesuma pada tahun 2002. Antologi RESTU ’70 adalah penglibatan kedua beliau setelah terbitnya antologi Sajak Amas Tampawan yang diungkayahkan oleh rakan Amas Tampawan yang beliau sendiri adalah salah seorang pelopornya bagi wujudnya rakan Amas Tampawan ini.
9.01. Aku. 9.02. Menapaki Temburong. 9.03. Pada Parasanku. 9.04. Jejak Hidup. 9.05. Kucuran Keringat. 9.06. Pesan Buat Belia. 9.07. Wawasan Harakah Belia. 9.08. Ramadan Kareem. 9.09. Mohon Kasih-Mu. 9.10. Pantun Majlis Perkahwinan .
105
9.01.
Di ruang yang mesra aku duduk sendiri lingkungan barisan buku-buku pelbagai ilmu yang terhidang santapam rohani kekadang terdengan suara sumbang melintasi telingaku mereka yang lalu-lalang dengan tugas tersendiri seunit computer setia menabur bakti.
Aku asyik bermesra dan berkasih mengulit lembaran buku dan akhbar menggali ilmu dan informasi mengisi kotak fakir, akal dan kata kalbu nurani berusaha memperkasa dan memperkukuh jati diri mandiri menjana minda dengan coretan dan catatan aksara siaga mempertajam madah bicara dengan pelontaran yang jitu merungkai sisa hayat memasuki suasana maghrib mengelak daripada alpa dan tertinggal…
106
Dari gelombang yang bergolak era globalisasi yang pantas mencorak pancawarna hidup dalam kehidupan di bawah langit terbuka tiada garis-garis untuk sama menyumbang dan menikmati perkembangan dan kemajuan Negara bangsa
Berjaya dijulang cemerlang dalam suasana aman sejahtera di bumi bertuah Brunei Darussalam.
Nur Hikmah, 24 Januari 2008.
107
9.02.
Kelikir hasil bumimu Bukit Patoi kemuncakmu tinggi menjulang Kuala Belalong hutan tropika keteguhan peribumi Taman Negara kemegahan kita warisan abadi Batang Duri taman rekreasi flora dan fauna menggamit hati kehijauan dedaun belantara tautan nurani percikan udang galah menggertak rasa kelupis kuih tradisi penambat selera wajit jawa menarik pengunjung cindul Temburong nikmat dihirup juadah Ramadan saban tahun.
Daku terpaku menapaki daerahmu menghirup indahnya alammu bagai terapi santapan rohani menyantun jiwa ketenangan saujana memandang dibalut kehijauan menekuni sejarah gemilang berkunjung langkah di bumimu
Jadi impian watan setia sekian lama ingin menjelmakan julang teguh jambatan kecintaan penghubung kasih seluruh daerah kesetiaan menyatukan anak peribumi mengikat kasih sekerinduan
108
di tanah jati mandiri melestari hasil dan nikmat kekayaan mengaduni arus kemodenan gembeling tenaga usai tanah pertiwi kerana di sini jati diri warisan zaman berzaman.
Daerah kekasihku di sini destinasi kita mari kita sama menjulang menjulang tulennya kesetiaan di bumi peribumi berbudi mencatat segala kenangan merakam nostalgia menyimpan rahasia.
Temburong aku akan selalu ke sini menapaki bumimu
Jun 2010.
109
9.03.
Aku cuba pertama kali di arena peraduan sayembara deklamasi puisi merdeka sempena Hari Kebangsaan Negara Brunei Darussalam ke-17, 2001 dahulu anjuran DBP di Pesta Buku di Stadium Tertutup acara berlaku.
Ramai peserta, penulis dan pemuisi yang mendaftar lelaki dan wanita berbeza mereka ada nama ternama luas pengalaman.
Pendatang baru aku cuba bakat terpendam sebelum tenggelam ditelan zaman semangat kental cerminan diri peringkat saringan ramai bertanding lelaki dan wanita hampir sebanding aku terkandung 7 lelaki 7 wanita digiring ke peringkat akhir untuk diganding pada perasahanku aku boleh lakukan…
17 Februari 2015.
110
9.04.
Hidup! Hidup! Hidup!
Aku hidup dilahirkan hidup dipelihara, hidup dibesarkan hidup diberi minum, hidup diberi makan hidup ditimang, hidup dimanja hidup dikasih, hidup disayang hidup ditunjuk ajar, hidup dididik hidup diberi ilmu, hidup sendiri hidup berkasih, hidup berpasang hidup berkeluarga, hidup berjiran hidup bermasyarakat, hidup bernegara hidup bebas.
Hidup untuk apa?
Hidup untuk siapa?
Hidup mahu ke mana?
Bukan hidup terikat bukan hidup terkongkong bukan hidup sengsara bukan hidup terseksa bukan hidup susah
111
bukan hidup miskin bukan hidup melarat bukan hidup merana bukan hidup derita bukan hidup kosong.
Hidup senang hidup kaya, bukan wang berjuta tetapi dengan budi bahasa, sopan santun mulia hidup bahagia, hidup harmoni hidup nurani, hidup berkilau hidup ada nama, hidup ternama.
Bukan hidup penakut bukan hidup penipu bukan hidup pemabuk bukan hidup pengampu bukan hidup kerana judi bukan hidup kerana rasuah bukan hidup kerana syabu bukan hidup kerana HIV-AIDS bukan hidup kerana seks bukan hidup terikut-ikut bukan hidup hanya berfoya-foya bukan hidup segan, mati tak mahu.
112
9.05.
Kucuran keringat adalah peluh yang mengalir membasahi diri menabur jasa
Kucuran keringat guru-guru dedikasi yang berkorban dan berjuang hingga ke pelosok negara yang gigih berusaha demi anak bangsa mengongsi pengalaman dan ilmu pengetahuan untuk anak didik tercinta membantu yang kurang mampu mencambah minda tanpa berkirab agi kemajuan pelajar tercinta sanggup mengadai masa memestikan kejayaan anak didik mereka
Kucurah keringat terus berjuang itulah sumbangan para guru dengan ikhlas, tulus, kudus dan jujur di hati tersemat kerana Allah untuk anak bangsa tercinta melakar kejayaan cemerlang gemilang dijulang.
Mac 2019.
113
9.06.
Penerus kesinambungan warga jaya membangun negara bangsa.
Belia yang membudayakan Al-Quran dan As Sunnah pengukuh pegangan hidup suluh jalan segalanya merungkai lalu lintas kehidupan mencari reda Tuhan menggalas amanah tanggungjawab tak bernoktah bersatu atma memertabatkan Negara bangsa tawaduk menumpah bakti identiti sejati memelihara kesucian agama islam bersalut akhlak terpuji.
Bepaksi kejujuran amanah jadi tonggak tulus ikhlas tanpa mengharap cekap tangkas keperibadian terpancar bersih sinar cahaya ikhlas mengunjuk sumbangsih demi negara bangsa untuk pembangunan memantap ekonomi meningkatkan pendidikan memantau kesihatan dan sukan memasyarakatkan kebudayaan bangsa keselamatan dan keamanaan sejagat demi bangsa dan negara.
Mac 2019.
114
9.07.
1 ogos terpahat gemilang Hari Belia Kebangsaan.
Belia aset payung negara pemimpin jenarasi mendatang mampu berdaya saing mencipta patriotisme tinggi menjana minda jati diri bangsa memperkasa kesetabilan ideologi akidah dan keimanan kukuh yang diredai Allah memantapkan nilai budaya atas dasar nilai intelektual melalui penampilan diri mampu menyongsong gelombang walau cabaran menghambat era globalisasi teknologi bermaklumat tinggi.
Belia berwawasan penuh berilmu teguh beriman beramal takwa dengan ihsan memohon doa restu Tawakal memohon reda Tuhan.
Mac 2019.
115
9.08.
Ramadan memanggilku kusambut sepenuh rindu mengetuk pintu hatiku kudakap setulus syahdu.
Ramadan bulan rahmat di dada terlukis nikmat agihkan zakat meraih rahmat puasa amalan insan beriman pembersih diri pemantap amalan wajib tunaikan tidak diabaikan mohon kehidupan bahagia aman solat sunat tarawih dan witir penambah pahala penambal mangkir.
Ramadan hulurkan sedekah seangkat hati setulus ikhlas rezeki Allah mencambah berkah mengutip reda keampunan Allah.
Ramadan 17 turunnya Al-Quran petunjuk umat mengharapkan menerangi kehidupan dari kegelapan petunjuk kebahagian umat pilihan.
116
Anugerah Tuhan Ramadan Kareem menitip malam istimewa tidak pada bulan lain itulah lailatul qadar anugerah Allah buat umat Muhammad Rasul Pilihan lebih baik dari seribu bulan beruntunglah bagi umat pilihan dikurniakan malam rahmat menjanjikan segala nikmat dunia akhirat.
April 2019.
117
9.09.
Sepanjang perjalanan setengah abad telah berlalu dengan rancah kehidupan…
Di rumah-Mu aku beriktikaf sujud kepada-Mu berdoa dan berzikir melambai kasih penanda tasbih merimbun kasih di pohon kekasih kepada-Mu meraih kasih dengan keyakinan dengan keikhlasan dengan ketulusan kudus dengan iman takwa di lubuk kalbu hakiki.
Al-Quran pedoman dan pegangan hidup muslim ke jalan kebenaran dan kesempurnaan dunia dan akhirat member keyakinan dan hidayat terhadap keraguan dan kegelisahan kea rah iktikad sebenar dengan iman takwa dan cinta kasih aku pasrah hanya kepada-Mu Ya Rab.
Pintu-pintu taubat ku masuki untuk pembersih diri mohon keampunan segala dosa aku alpa di dalamnya moga mendapat rahmat keredaan-Mu kerana perjalanan ini terhenti sampai saatnya.
Aku mohon kasih-Mu Ya Rab selamat dunia akhirat
April 2019.
118
9.10.
Saying kumbang mencari makan, Mencari makan tepi perigi; Selamat datang kami ucapkan, Moga mendapat restu ilahi.
Pakaian pengantin kain tenunan, Muda belia sama sebaya; Sama cantik sama padan, Seperti cincin dengan permata.
Cantik burung cenderawasih, Terbang berkawan di waktu petang; Kami ucapkan terima kasih, Kepada jemputan yang sudi datang.
Jemputan datang berpakaian indah, Meraikan majlis sejarah gemilang; Doa kesyukuran dibaca sudah, Dijemput menikmati jamuan terhidang.
Tanam pisang di tanah rata, Tumbuh bunganya pucuknya lati; Budi biskita tidak dilupa, Sudah terpaku di dalam hati.
Daun selasih di dalam puan Puan berisi intan permata; Terima kasih tuan dan puan, Sempurna majlis dipandang mata.
April 2019.
119
M.S. Rindu (Mohamed Salleh Lamry) lahir di Kuala Selangor pada 22 September 1942, memiliki Ijazah Ph.D dari UM (1989). Beliau memulakan kerjaya sebagai guru sekolah rendah, sebelum bertugas sebagai pensyarah Antropologi dan Sosiologi UKM (1978-2003). Beliau pernah menulis cerpen dan sajak pada tahun 1960-an, tetapi tidak meneruskannya ketika bertugas sebagai pensyarah. Selepas bersara dari UKM, beliau memberi tumpuan kepada penulisan biografi. Buku biografi beliau yang terakhir, Biografi Ishak Shari: Pemimpin Bumi Semua Manusia (Penerbit UKM, 2014) telah memenangi HSPM bahagian biografi bagi tahun 2014. Beliau menulis cerpen dan sajak kembali mulai 2016, yang telah diterbitkan dalam pelbagai antologi bersama.
120
10.01. Seorang Ratu 10.02. Cintaku Jauh Di Kota 10.03. Cinta Gadis Medan 10.04. Cinta Gadis Banjar 10.05. Hidup Sederhana 10.06. Tanah Airku 10.07. Aku Ingin Dekat Denganmu 10.08. Ibu Yang Kesunyian. 10.09. Bandar Melayu 10.10. Komunis Islam (Rashid Maidin)
121
10.01.
Ia seorang ratu dari negeri di atas angin seorang dara yang masih muda dan cantik jelita.
Entah bagaimana ia bertemu seorang raja yang sudah agak tua dan seorang duda.
Mereka berbeza bangsa dan berlainan agama dan untuk berkahwin si ratu mesti mengikut agama si raja.
Memang sukar dimengerti bagaimana seorang gadis yang biasa hidup bebas mengikut budaya bangsanya mahu hidup terpenjara dalam sebuah istana mengikut agama suaminya.
Tapi begitulah adat dunia pangkat, kemewahan dan harta boleh menakluki seorang wanita supaya jatuh cinta dan mahu menukar agama serta mengubah cara hidupnya.
Kajang, Disember 2018.
122
10.02.
Cintaku jauh di kota kerana ia lama menetap di kota dan telah jadi gadis kota meskipun berasal dari desa.
Aku tidak boleh mengharapkan ia masih suci mengikut ukuran lama kerana di kota ia bebas berkawan dan berkasih dengan siapa saja.
Ia mungkin sudah disentuh oleh ramai lelaki yang menjadi pasangannya sebelum aku mengenalinya.
Ia juga mungkin memandang pangkat dan harta seperti lazimnya adat dunia dan aku tidak boleh merasa kecewa jika satu masa aku akan ditinggalkannya.
Kajang, Mei 2017.
123
10.03
Abang di Bangi adik di Medan Orang Padang pulang ke Padang Meskipun kita berjauhan Cintaku hanya kepada abang.
Abang di Bangi adik di Medan Tanjung Pura tanahnya rendah Walau halangan seluas lautan Cintaku tidak akan berubah.
Abang di Bangi, adik di Medan Di Prapat kita bertemu Selagi ada hayat di badan Selama itu adik menunggu.
Dari Medan ke Kuala Nano Kapal berlabuh di Kuala Deli Jika adik mati dahulu Di pintu syurga abang kutunggu.
Kajang, April 2017.
124
10.04.
Banjarmasin banyak sungainya Empat lima jukung berlalu Abang jauh di Malaysia Entah bila dapat bertemu.
Orang Banjar mandi di kali Jukung berlabuh di air tenang Jika abang tidak ke mari Adik sentiasa terkenang-kenang.
Dari Banjar mudik ke hulu Kapal berlabuh di kaki gunung Aduh sakitnya menahan rindu Rasa tak tahan badan menanggung.
Banua Lima jauh di hulu Di Banjarmasin kapal menanti Seribu tahun abang ku tunggu Adik tidak berubah hati.
Kajang, Oktober 2018.
125
10.05.
Aku tinggal di rumah teres pakai kereta Proton Saga sekali sekala naik taksi tiada masalah untuk pergi ke mana-mana.
Aku ada sedikit simpanan di ASB dan Tabung Haji untuk keperluan masa tua dan untuk naik haji bila giliranku tiba.
Sekali sekala aku melancong di dalam negeri dan di luar negeri tetapi hanya di negara jiran bersama keluarga tercinta.
Memang sudah lama aku hidup sederhana tapi aku gembira dan tidak pernah merasa takut jika satu waktu pegawai SPRM akan datang menyerbu rumahku.
Kajang, Mei 2017.
126
10.06.
Dulu tanah airku bernama Tanah Melayu penduduknya hanya satu bangsa bangsa Melayu.
Kini di tanah airku banyak pendatang yang telah menjadi warga negara dan jadilah tanah airku sebuah negara berbilang bangsa.
Kini tanah airku telah bertukar nama menjadi negara Malaysia dan diharapkan penduduknya menjadi satu bangsa baru bernama bangsa Malaysia.
Tapi bangsa Malaysia masih dalam pembentukan masih menjadi bayangan dan impian dan masih jauh dari menjadi kenyataan.
Hanya harapanku dalam satu jangka masa yang tidak pasti sampai bila penduduknya boleh hidup bersama dalam aman dan damai dalam sebuah negara yang penduduknya masih berbilang bangsa.
Kajang, Oktober 2016.
127
10.07.
Aku lahir dalam keluarga yang tidak taat beragama dan sehingga remaja aku memang jauh darimu.
Memang aku tidak terlibat dengan dosa besar tapi banyak amalan fardu ain yang kuabaikan begitu saja tanpa rasa bersalah..
Syukur Alhamdulillah dengan rahmatmu dan dengan peningkatan usiaku hatiku terbuka untuk mendekatkan diri denganmu.
Aku ingin menjadi hamba yang beriman yang sentiasa dekat denganmu patuh kepada perintahmu dan menjadi hamba yang bertakwa.
Berilah aku petunjuk ya Allah supaya aku terus berada di jalan yang lurus dan sentiasa dekat denganmu sehingga akhir hayatku.
Kajang, Jun 2016.
128
10.08.
Seorang ibu tua selalu terkenangkan anaknya meski baru semalam si anak mengunjunginya.
Baru seminggu berlalu sudah terasa begitu lama alangkah inginnya dia si anak menelefonnya.
Tapi si anak tidak tahu atau mungkin juga tidak pernah merasa apa yang dirasa oleh ibunya.
Mungkin juga si anak tidak pernah merasa dekat dengan si ibu yang menyayanginya yang selalu kesunyian di hujung usianya.
Di puncak kesunyiannya seorang ibu tua tidak dapat menahan air matanya kerana telefon yang ditunggu tidak kunjung tiba.
Kajang, November 2018.
129
10.09.
(Bandar Baharu Bangi)
Tidak banyak bandar seperti bandar ini sebuah bandar baharu yang majoriti penduduknya bumiputera dan banyak pusat niaga di mana peniaganya juga bumiputera.
Alangkah bahagianya berkunjung ke bandar ini melihat bumiputera memiliki rumah yang cantik dan menempati pusat niaga yang sedang berkembang maju.
Bandar ini lahir dari satu perancangan dan visi pemimpin yang jauh ke hadapan ia tidak muncul secara tiba-tiba.
Alangkah baiknya bandar baharu seperti ini dibina lagi di tempat lain supaya lebih banyak bumiputera berpeluang tinggal dan berniaga di kawasan bandar baharu yang moden dan maju.
Kajang, April 2017.
130
10.10.
Kau mula dikenali sebagai seorang komunis apabila akhbar melaporkan kau adalah antara delegasi dalam rombongan ke London untuk menghadiri satu persidangan.
Kau menjadi lebih terkenal apabila rundingan Baling diadakan gambarmu terpampang di akhbar sebagai seorang komunis Melayu yang mewakili partimu .dalam perundingan.
Selepas itu kau menghilangtapi terus berjuang dalam hutan di Selatan Thailand dan kau hanya muncul kembali dalam perundingan perdamaian antara PKM dengan kerajaan.
Apabila PKM meletakkan senjata kau memilih menetap di Thailand kau naik haji dan menjadi seorang guru mengaji sehingga akhir hayatmu.
Kau tetap seorang Islam dan tidak pernah membuang Islam walaupun bertahun bersama PKM.
Kau mati di dalam Islam kerana kau seorang komunis Islam.
Kajang, Februari 2019.
131
132
(atau Dr. Ir. Wan Abu Bakar bin Wan Abas) dilahirkan pada tahun 1951 di Segamat, Johor. Beliau bersekolah rendah dan menengah di Segamat serta mengikuti kursus dalam biidang Kejuruteraan Mekanik di Maktab Teknik, Kuala Lumpur (kini UTM). Selepas itu, beliau telah melanjutkan pelajaran di University of Strathclyde, Glasgow, United Kingdom untuk mengikuti kursus Bachelor of Science (Mechanical Engineering) dan PhD (Bioengineering). Mereka dikurniakan tujuh orang cahaya mata, lima lelaki dan dua perempuan. Kini mempunyai empat orang cucu.
Irwan merupakan profesor di Jabatan Kejuruteraan Bioperubatan, Fakulti Kejuruteraan, Universiti Malaya sehingga Januari 2018. Kemudian beliau telah bersara sebagai profesor dan dilantik sebagai Research Associate di Jabatan yang sama.
Irwan pernah menerajui Fakulti Kejuruteraan, Universiti Malaya (FKUM) sebagai Dekan sebanyak tiga kali untuk tempoh 10 tahun. Beliau juga telah menerajui penubuhan program ijazah sarjana muda Kejuruteraan Bioperubatan (BBEng) dan kemudiannya pembentukan Jabatan Kejuruteraan Bioperubatan di FKUM. Beliau telah dilantik sebagai Ketua Jabatan yang pertama bagi Jabatan Kejuruteraan Bioperubatan FKUM itu. Melalui proses yang berkenaan, . Selepas itu, beliau telah terlibat sama dalam pembentukan program sarjana muda Kejuruteraan Bioperubatan (Prostetik dan Ortotik), ringkasnya BBEng (P&O), di Jabatan yang sama. Di samping itu, beliau juga telah menerajui pembentukan Fakulti Alam Bina, Universiti Malaya dari empat program alam bina yang mulanya beroperasi di bawah Fakulti
133
Kejuruteraan. Beliau juga telah terlibat dalam pengkomersialan hasil penyelidikan di makmal prostetik dan ortotik dengan bersama-sama membangunkan syarikat terbitan Universiti Malaya, BioApps Sdn Bhd yang mengendalikan perniagaan pembekalan dan perkhidmatan prostesis (anggota badan buatan) dan ortosis (alat sokongan anggota badan). Di luar tugas rasminya, beliau memimpin persatuan-persatuan profesional kejuruteraan pada peringkat nasional, iaitu Persatuan Kejuruteraan Perubatan dan Biologi (MSMBE) sehingga 2015 serta Persatuan Prostetik & Ortotik Malaysia (PPOM) serta Persatuan Biomekanik Malaysia sehingga sekarang.
Irwan mempromosi konsep “whole-brain thinking” sebagai jurutera yang terlibat secara aktif dalam bidang sastera. Beliau telah menerbitkan pelbagai karya sastera dan pernah memenangi beberapa anugerah sastera tempatan. Di samping itu, beliau diiktiraf di Malaysia sebagai pengasas kegiatan sastera siber (atau e-sastera) Melayu. Portal sasteranya juga dilanggani penulis dari luar Malaysia, terutamanya Indonesia.
Irwan mula menerbitkan puisi di media cetak pada tahun 1995 (”Diasfora Alam Bahasaku”, Pelita Bahasa, Februari 1995). Sehingga kini, Irwan telah menerbitkan dua buah kumpulan sajak di Malaysia, iaitu Semelar (Kuala Lumpur: kAPAS Publication, Jun 2003) dan Kuntom Ungu (Kuala Lumpur: Esastera Enterprise, 2012). Juga beliau telah menerbitkan kumpulan puisi di Indonesia, iaitu Grafiti Hati (2016) dan
134
sebuah buku kumpulan “puisi berserta ulasan”, iaitu Peneroka Malam (2014).
Beliau juga terlibat secara aktif dengan deklamasi puisi, terutamanya di Malaysia dan Indonesia.
Irwan mula menerbitkan cerpen pada tahun 2002 (”$yy…”, Berita Minggu, 25 Mei 2003). Pada tahun 2016, beliau menerbitkan kumpulan cerpen Rewang Minda yang mengandungi 18 buah cerpen tulisannya. Cerpen-cerpen itu kebanyakannya telah tersiar terlebih dahulu di laman-laman web tertentu.
Novel pertama tulisan Irwan berjudul Cinta Berbalas Di Meja 17 (Kuala Lumpur: Esastera Enterprise, 2008). Edisi-edisi terkemudian novel itu diberi judul Meja 17 (Kuala Lumpur: Esastera Enterprise, 2012, 2015, 2016, dan 2018). Edisi Indonesia novel ini telah diterbitkan di Jakarta pada tahun 2014, juga dengan judul Meja 17. Pada tahun 2018, Irwan menerbitkan novel keduanya. Novel itu berjudul 30 Februari. Novel in telah diterbitkan di Indonesia oleh Gaksa Enterprise (Mei, 2018).
Kini beliau meneruskan penerbitan e-majalah sastera (majalah sastera dalam Internet), eSastera.com (www.e-sastera.com) yang bermula pada tahun 2002 tetapi dengan format baru. Majalah itu kini mempunyai cawangan di Facebook.com dalam bentuk grup-grup facebook yang dibentuk di bawah akaun facebook E-Sastera Malaysia. E-majalah itu
135
dinamai E-Sastera@Facebook dan dibentuk oleh grup ”E-Sastera@Facebook Induk” sebagai grup kawalan dan pelbagai grup karya berasaskan genre. Antaranya ialah grup E-Sastera Sajak, E-Sastera Cerpen, E-Sastera Novel, E-Sastera Kritikan, E-Sastera Berita (Pemberitahuan dan Laporan), dan E-Sastera Forum. Butir-butir tentang e-majalah E-Sastera@Facebook diberikan dalam buku berjudul Panduan Pengguna E-Sastera@Facebook (Esastera Enterprise, 2015). Mulai 2019, kehadiran di Facebook itu diganti oleh grup “E-sastera @ Facebook Karya” yang memanfaatkan pengunaan hashtag # untuk memisahkan genre karya yang disiarkan. Grup ini kini telah dipinda namanya kepada Majalah E-sastera @ Facebook.
Sebelum itu, Irwan menerbitkan e-majalah eSastera.Karya (di URL eSasteraKarya.com atau eSasteraKarya.WordPress.com) untuk mempromosikan format sastera elektronik yang melebihi apa yang mampu dihidangkan di Facebook. E-majalah ini juga dikongsi ke Facebook untuk menarik pelanggan yang banyak di situ.
Mulai 2019, e-majalahnya ditambah oleh portal e-Sastera.Vaganza ASEAN di URL eSasteraVaganza.com (dulu SasteraVaganza.net) yang mempromosi karya oleh Gabungan Komunitas Sastra ASEAN (GAKSA).
Portal unik yang pernah diterbitkannya tetapi telah ditutup pada masa ini ialah tivi-Sastera (www.eSastera.tv). Kini digantikan dengan portal tvsastera.video.blog.
Irwan juga telah menubuhkan GLP (Grup Lagu Puisi eSastera) yang kini bernaung di bawah syarikat eSastera Records (Pengurus: Dinie Wan). GLP telah menerbitkan dua buah album penuh lagu-lagu puisi, iaitu Perada Cinta (2014) dan Dot Dot Dot (2016).
Mulai 2012, eSastera telah menerokai bidang ”sastera Twitter” dengan nama @tSastera (namanya di laman Facebook ialah Twit Sastera).
136
Dalam gerakan penulis, Irwan ialah Presiden, Persatuan Aktivis E-sastera Malaysia (E-SASTERA) sejak didaftarkan pada tahun 2010. Irwan juga pernah menyandang jawatan Timbalan Presiden, Persatuan Sasterawan Numera (Nusantara Melayu Raya), Malaysia dan juga pernah menjadi Bendahari, Jawatankuasa Protem, Persatuan Sasterawan Paksi Rakyat (PAKSI).
Anugerah sastera yang pernah dimenangi Irwan ialah Hadiah Sastera Johor (Buku Sastera), 2019, Tokoh Patria Numera (2017), Hadiah Sastera Darul Takzim (Puisi Eceren, 2007-2008), dan Anugerah Sastera Perdana Malaysia (Cerpen Eceren, 2004-2005),
Irwan ialah Fellow, Academy of Sciences, Malaysia (FASc). Beliau juga pernah menjadi Editor Bersekutu bagi majalah Dewan Sastera terbitan Dewan Bahasa dan Pustaka, Malaysia.
Pada tahun 2016, Irwan telah menubuhkan gerakan sastera pada peringkat ASEAN yang dinamai (GAKSA). GAKSA menerbitkan portal e-karya yang dinamai Sastera.Vaganza ASEAN (kemudiannya ditukar nama kepada e-Sastera Vaganza ASEAN di URL ini: http://www.eSasteraVaganza.com (mulanya di URL http://www.SasteraVaganza.net). Karya di portal ini dikongsi ke Facebook dalam grup “GAKSA e-Sastera.Vaganza ASEAN”.
Di samping itu, GAKSA telah membangunkan Rumah Sastra ASEAN (RSA) di kota Cilegon, Banten, Indonesia. Antara aktiviti yang diadakan di RSA ialah program sastera bulanan yang dinamai Malam Apresiasi Sastra Asean (MASTRA).
Bertarikh: 29.11.2019.
