Setangkup Ulasan Yo Sugianto
Ikhtiar dari Gaksa membentangkan jalan bagi dunia sastra Indonesia dan Malaysia, malah rantau ASEAN, untuk lebih dekat, tak hanya dari sisi sejarah tapi juga emosional dalam keberagaman
PENGANTAR
embaca 30 cerpen dalam kumpulan cerpen “+ – x ÷ : Antologi Cerpen Gaksa 2020” ini seperti melihat cermin dengan jejak-jejak dan catatan perjalanan yang beragam.
Dari cerpen-cerpen ini, terlihat kedalaman masing-masing penulis, yang tak lepas dari jam terbang masing-masing dalam dunia kepenulisan. Hal ini wajar saja, bukan soal usia, namun soal pengalaman masing-masing dalam kehidupan nyata.
Seperti yang pernah dituturkan oleh Mo Yan, peraih Nobel Sastra dari Tiongkok. Ia lahir dari keluarga petani, dan semasa “Revolusi Kebudayaan” bekerja di sebuah pabrik minyak. Kemiskinan yang terjadi saat itu membuat Mo Yan sering terpaksa makan kulit pohon dan gulma untuk bertahan hidup.
Penderitaan itu dijadikannya inspirasi atas karya-karyanya. “Kesepian dan lapar adalah keberuntungan dalam penciptaan“, kata pengarang Red Sorghum itu suatu ketika.
Dunia cerpen, seperti banyak dipahami, adalah sebuah dunia yang fragmental, terbatas dalam ruang dan waktu yang sempit. Tak heran jika penulis cerpen dituntut untuk jeli dalam memilih penggalan demi penggalan peristiwa. Pemilihan yang disampaikan lewat dialog, atau deskripsi yang dipakainya untuk menyampaikan maksudnya.
Di sinilah tantangan penulis cerpen. Ia harus menghadirkan dunia imajinasi dalam wadah sempit yang disebut cerita pendek. Tantangan itulah yang coba ditaklukkan oleh 21 penulis dalam kumpulan cerpen ini. Tidak adanya satu tema yang dihadirkan, membuat kumpulan cerpen ini tampil beragam sesuai dengan kehendak penulisnya. Namun, pada umumnya, berkisar pada kejadian sehari-hari yang lazim dijumpai, yang oleh penulisnya dikemas dalam imajinasinya untuk melahirkan kisah yang diinginkannya.
Cerpen-cerpen ini berusaha memotret dan menafsirkan kehidupan yang beragam, dengan segala dinamika persoalannya. Mulai dari persenjataan modern, kisah cinta di sebuah kafe, obsesi yang berbuah tragedi, perempuan-perempuan di perpustakaan, atau kekuatan doa seorang ibu yang puteranya hilang selama 10 tahun.
Meskipun ada yang tertatih menyajikan kisah, namun memilih cerpen sebagai wadah gagasan dan peleburan imajinasi merupakan hal yang patut diapresiasi. Cerpen bukan lagi sesuatu yang diremehkan, karena dunia pun sudah mengakuinya, terbukti dengan perolehan Nobel Sastra bagi cerpenis.
Seperti pernah disampaikan oleh Alice Munro saat ia mengetahui berhasil memenangkan penghargaan Nobel yang diadakan oleh The Swedish Royal Academy of Sciences, “Hal ini sepertinya tidak mungkin terjadi. Seperti suatu hal yang terlalu luar biasa, aku tidak bisa menjelaskannya. Kemenangan ini melebihi sesuatu yang bisa kuungkapkan dengan kata-kata.”
Alice menegaskan: “Aku berharap hal ini akan bisa membuat orang-orang melihat cerita pendek sebagai suatu karya seni yang penting, bukan hanya sesuatu yang orang lakukan saat mereka sedang berusaha menyelesaikan novel mereka.”
Maka di sinilah pentingnya penerbitan kumpulan cerpen Gaksa 2020 ini bagi dunia kepenulisan cerpen. Bahwa cerpen merupakan suatu karya seni yang penting. Sebuah karya yang bukan merupakan selingan bagi seorang penulis untuk menyelesaikan novelnya.
Ikhtiar dari Gaksa dalam memberi ruang bagi cerpenis, juga penyair, pada akhirnya akan membentangkan jalan bagi dunia sastra Indonesia dan Malaysia, malah rantau ASEAN, untuk lebih dekat, tak hanya dari sisi sejarah tapi juga emosional dalam keberagaman. ***
Yang berikut ialah ulasan untuk 16 cerpen yang disiarkan dalam buku ini, +-x÷ (Seksyen 1):
1. Ulasan Cerpen Ahkarim: “Sebuah Kitab”
Judul cerpen ini singkat: “Sebuah Kitab”. Secara sederhana, melihat judulnya, orang akan menduga bahwa cerita karya Ahkarim yang kependekan dari nama lengkap Abdul Halim bin A. Karim, berkisar kitab. Tentu akan membosankan.
Namun soal kitab yang ternyata berbeda dengan buku hanya muncul di awal cerita. Di dalamnya, pembaca diajak untuk larut dalam perjalananan hidup si “aku”, tokoh yang mendapat biasiswa British Council untuk program Sarjana MSc Organisation Development di Sheffield Harlem University.
Ia tak sendiri ketika harus ke Inggris, dibawanya Noriah, isterinya yang harus cuti tanpa gaji, serta lima anaknya, untuk mengikuti program kuliah selama dua tahun. Sesuatu yang tentu terasa janggal bagi orang Inggris, mahasiswa yang membawa keluarganya. Namun ia tak hiraukan itu, dan ternyata mampu membuktikan lewat kemampuannya menyelesaikan tugas kuliah.
Masalah kitab dan buku itu muncul lewat dialog dengan Ghofar, pemuda yang lebih muda 20 tahun dari tokoh si “aku”. Dialog yang membuat aku kalah.
“Jika anta hendak cari ilmu tentang agama, anta cari buku atau kitab? Tentu sekali dari kitab, `kan? Buku hanya beri maklumat tetapi kitab beri ilmu.”
Selain tentang masa kuliah, dalam cerpen ini juga dikisahkan perjalanan rohani si aku yang aktif dalam pengajian Jemaah Tabligh.
Itu semua cerita 25 tahun lalu. “Aku” telah berubah. Tak hanya menyandang jabatan yang tinggi, tapi juga gaya hidupnya. Setelah dua tahun bertugas di Ottawa, Kanada, ia menceraikan Noriah, yang dianggapnya tidak bisa mengikuti gaya hidup jet-set yang disukainya.
Aku bertemu dengan Ghofar, pemuda yang mengalahkannya soal kitab dan buku. Ghofar yang tidak berubah meski sudah menjadi Naib Canselor di sebuah universitas paling hebat di Kuala Lumpur.
Pertemuan yang tak lama. Ghofar pulang, setelah mengambil sebuah buku yang dikembalikan ke aku. Sebuah kitab Tablighi Nisab dengan tarikh November 1985.
Kitab yang kemudian diletakkan di meja, menyenggol gelas martini yang tumpah ke kolam. Linda, isteri aku yang tak sadar martini itu tumpah ke kolam.
Ulasan
Cerpen Ahkarim sungguh tak terduga isi ceritanya. Kitab sepertinya jadi pemanis, tak banyak diceritakan. Justeru yang diceritakan malah kisah Aku yang menyelesaikan bea siswanya. Aku yang kemudian berhasil, menikmati gaya hidup jet-setnya hingga menceraikan Noriah, isterinya yang mendampingi dengan setia selama ini.
Di sini terlihat kematangan Ahkarim sebagai seorang penulis. Ia menyajikan kisah yang biasa, yang sering ditemui dalam keseharian: seseorang yang berhasil, lalu berubah.
Maka kitab yang membuat tokoh Aku tak berdaya saat berdebat dengan Ghofar, pada dasarnya adalah sesuatu yang tak berubah. Kitab tetap memberi ilmu, seberapa tua pun usianya. Sedang buku hanya memberi maklumat.
Tokoh Aku, pada dasarnya, adalah sebuah buku, bukannya kitab. ***
2. Ulasan Cerpen Anie Din: “Yang Tak Sanggup dan Sanggup”
Rasa cinta yang terlalu berlebihan adalah sesuatu yang berbahaya. Ia rentan untuk membuat seseorang jadi terobsesi. Cinta memang mengandung sekian persen obsesi. Tapi kalau kadarnya terlalu banyak, kita tidak akan mendapatkan kehidupan cinta yang seimbang dan sehat.
Penulis yang sarat pengalaman, Anie Din berkisah tentang cinta buta dari Amri terhadap Mahaya. Gadis sebelah rumahnya ini mampu membuat Amri tergila-gila, dan ingin bisa mengawininya. Namun Mahaya menolaknya mentah-mentah.
“Aku takkan kahwin dengan hang. Dahlah hang tu pendek, malas kerja pula. Hidup hang hanya menghabiskan harta benda mak bapa saja,” kata Mahaya dua hari lalu ketika Amri kembali menyatakan niatnya menikah dengannya.
Sore itu, Amri kembali hendak menemui Mahaya, kali ini di tempatnya bekerja. Sayangnya, gadis itu sudah pulang dan mengambil cuti. Amri mencarinya ke terminal, dan akhirnya bisa bertemu setelah mengikuti bus yang dinaiki Mahaya.
Diseretnya Mahaya saat keluar dari tandas perempuan, masuk ke mobilnya. Tas berisi pakaian Mahaya tertinggal di bus. Mobil Proton Perdana warna merah yang baru dibeli itu melaju ke sebuah bukit. Mereka akhirnya tiba di sebuah rumah tua, yang rusak atapnya, banyak rumput, ilalang dan sunyi.
Saat Mahaya pingsan karena terjatuh di dalam rumah itu, Amri mencoba memperkosanya. Namun Mahaya berhasil membujuk Amri untuk menikmati cumbuannya. Amri percaya, hingga akhirnya menjerit ketika Mahaya menggigit alat vitalnya hingga hampir putus.
Dari bukit itu, Mahaya minta diantar Amri pulang. Di rumahnya, Mahaya berkata ke orangtuanya bahwa ia akan menikahi Abang Man, saudara sepupu Amri yang buta itu. Keputusan yang membuat orangtuanya terperangah.
Ulasan
Anie Din, Tokoh Sastera Mahrajan 2016 – Sabah mampu menghadirkan obsesi yang begitu dalam dari Amri terhadap gadis pujaannya. Apapun dilakukan. Apalagi Amri anak tunggal, orangtuanya kaya dan tentunya selalu menuruti kemauannya.
Rangkaian perjalanan saat ia memaksa Mahaya menuruti kehendaknya, dengan harapan nantinya bersedia menikah dengannya, menarik untuk disimak. Dari terminal bus, ke bukit dan rumah yang sepi, hingga Mahaya bisa pulang ke rumahnya.
Tak ada yang rumit dalam kisah Amri dan Mahaya. Hal-hal sederhana jika dikerjakan dengan ketekunan, akan berhasil menampilkan sifat manusia dengan cara terbaik. Berhasil membuat kejadian sehari-hari menjadi sesuatu yang istimewa.
Namun, kesederhanaan yang ditampilkan dengan runtut itu menghasilkan pertanyaan pula, yang sebenarnya tak perlu saat sebuah cerpen selesai dibaca. Misalnya, kenapa Mahaya tidak berteriak ketika ia dipaksa ikut Amri usai keluar dari tandas perempuan? Jika Amri memberi mantra atau tenung lewat kepulan asap rokoknya, bukankah saat itu rokok belum dinyalakan?
Amri yang pendek dan malas, tidak bekerja mengendarai Proton Perdana berwarna merah. Namun, kenapa membawa Mahaya ke rumah kosong, rumah tua yang sudah rusak, bukannya ke hotel. Apalagi Mahaya sudah dalam cengkeraman tenungnya.
Bagaimanapun, cerpen Anie Din ini menarik untuk dibaca. Menjadi cermin keserakahan seseorang dengan harta yang dimilikinya.***
3. Ulasan Cerpen Cik Seri Banang: “Nong”
Nong, lelaki yang sudah berkeluarga, mempunyai satu anak lelaki berusia 14 tahun. Ia beternak kambing, yang jumlahnya sudah mencapai 62 ekor.
Sejak kecil ia diambil anak oleh keluarga kak Cik, perempuan yang merupakan anak keempat dari lima bersaudara. Hanya kak Cik yang rajin ikut almarhum ayah mengurus kebun lada dan kebun sayur.
Sore itu, Nong sendirian di dekat kandang kambingnya. Saat tiba di kandang kambingnya, tak terdengar suara mengembek seperti biasanya. Azim, anaknya yang biasa menjaga kandang-kandang itu, sedang pergi ke kota membeli soya sebagai makanan tambahan kambing.
“Kak Cik… Kambing Nong hilang!” Terbata-bata suara Nong saat mengabarkan kambing-kambing yang hilang itu ke kak Cik.
Nong serasa mau memenggal kepala mereka. Ditemukannya jejak ban kendaraan di depan pondok yang biasanya dipakai untuk beristirahat, di sebelah pintu utama ke ternak dengan 10 kandang itu. Ia lalu menyusuri jejak yang ada, dengan harapan bertemu setidaknya lima enam ekor kambing yang mungkin terlepas.
Hampir lima kilometer ia berjalan ke arah kebun kelapa sawit, tiba-tiba didengarnya suara si Bob. Kambing itu punya suara khas. Ia segera berlari ke arah suara itu. Dari celah-celah semak diintainya, tampak dua tiga orang sedang bercakap dan menarik kanvas penutup truk, yang dirasakan oleh Nong berisi kambing-kambingnya.
Nong putuskan kembali ke pinggiran rawa, mengambil sepeda motornya. Dalam perjalanan, ia menelefon isterinya, Foziah dan beberapa temannya untuk melaporkan para pencuri itu kepada pos polisi Rela.
Nong tak sempat membuka WhatsApp kak Cik karena tergesa-gesa. Namun ia berusaha berbicara di telefon. “Kak Cik! Kambing dah jumpa!” katanya separuh rasa gembira, bercampur separuh bunyi menangis.
Suara kak Cik terdengar di handphone tapi Nong tak menghiraukan karena ia ingin segera sampai ke sepeda motornya.
“Nong, dengar ni kak Cik akan bicara!” Suara kak Cik seperti berdengung jauh. Tiba-tiba Nong merasakan sesuatu yang dingin melekat di lehernya.
Nong jatuh tengkurap. Bau tanah yang basah akibat hujan semalam makin terasa, kali ini bersama bau anyir. Ia mencoba menggenggam daun-daun kering, sambil mencoba mencari arah suara kak CIk. Namun semuanya menjadi gelap. Nong tak ingat lagi tentang kambing, tentang kak Cik, tentang segala masa lalu.
Kak Cik sendiri terus memanggil-manggil, firasatnya tidak enak. Air matanya menetes, sambil tetap memanggil nama Nong.
Esok pagi terjadi kehebohan. Orang kampung menemukan Nong tak bangun lagi dengan luka di lehernya. Lusanya beredar kabar bahwa Nong mati dibunuh oleh pencuri kambing. Sebanyak enam orang berhasil ditangkap ketika mencoba melewati perbatasan Kota Tinggi menuju Mersing. ***
Ulasan
Meski hanya satu kata saja judul cerpen ini, namun Cik Seri Banang mampu menyajikan cerita yang menarik dari sosok Nong. Lelaki keturunan India yang punya mimpi indah: menunaikan ibadah umroh bersama keluarganya.
Mimpi itu yang meneruskan hidup, memberikan kekuatan untuk tetap terus berjuang meraihnya.
Nong sudah mempunyai peternakan kambing, dari modal yang diberikan oleh kak Cik. Modal yang akan dikembalikannya dengan menjual 62 kambingnya. Hasil penjualan itu akan dijadikan pengganti uang kak Cik, sisanya bisa untuk umroh bersama anak isterinya.
Cik Seri Banang mampu mengajak pembaca untuk mengikuti perjalanan hidup Nong. Bagaimana kak Cik sangat menyayanginya sebagai kakak, meski kakak angkat saja. Bagaimana Nong berusaha membalas kebaikan kakaknya itu.
Kambing-kambing itu dicuri, dan Nong yang kalap lalu menemukan para pencurinya sedang bersiap membawa hasil curiannya. Nong lalu kembali ke peternakannya, mau mengambil sepeda motornya.
Sayangnya, ia dalam ketergesaan langkah tak mau membaca pesan Whatsapp dari kak Cik. Jika saja pesan itu dibacanya, nasib akan berkata lain. Nong hanya perlu menanti kak Cik yang dalam perjalanan bersama anggota polisi.
Nong akhirnya menyerah pada peluru yang menghujam lehernya. Ia tak lagi bisa melihat Azim, anaknya yang dalam perjalanan pulang bersama kak Cik. Tak bisa lagi melihat pagar akan dipasang di seputar kandang-kandang kambing.
Membaca cerpen ini, kita diajak untuk tidak mudah menyerah menghadapi keterbatasan yang ada. Mimpi itu punya arti setidaknya memberi suatu kekuatan untuk diperjuangkan. ****
4. Ulasan Cerpen Ekhwan Rusli : “1511 : P3GUN”
Peperangan Melaka dan Portugis tak terelakkan. Pegun (Perkakas Pertahanan Pelbagai Guna) dibuat dari hasil kerjasama Malaysia-Portugal, dan berada di tengah peperangan itu.
Pegun dikomandoi oleh Kapten Syah, yang dibantu oleh Kamal (ahli strategi) dan Reyna (pakar senjata).
Dalam sebuah percakapan, Kapten Syah mengatakan: “Kebesaran tentara, kemajuan teknologi, bahkan kekayaan tidak menjamin akan bertahan hidup. Sejarah dinasti Qing, dari penguasa ekonomi dunia 1820-an karena ketagihan candu, akhirnya mengalam kemerosotan.
Portugis berhasil menguasai kota Melaka. Tapi jaringan ekonominya tidak bisa dikuasai. Perdagangan beralih ke Aceh, Batam, dan Brunei.
Meski Melaka direbut musuh, tapi para pejuang tetap tak menyerah. P3GUN berhasil melacak kapal yang hendak mengangkut 400 ton produk makanan ilegal. P3gun berhasil menenggelamkan kapal itu. Flor de la Mar karam.
Ulasan
Science fiction seperti dalam P3GUN terbilang tidak banyak disajikan dalam cerpen. Jika dalam novel, banyak dijumpai. Ekhwan Rusli bisa mengembangkan kisah lain dalam cerpen-cerpennya.
Sejarah banyak menyimpan kisah, dengan tokoh-tokoh yang menarik untuk ditampilkan. Tantangan menyajikan lewat ruang imajinasi dan pengolahan kata-kata akan membuat penulis makin kreatif. Ini yang akan menjadikan cerpen lebih menarik di masa mendatang.
P3GUN mampu menampilkan jalinan cerita yang menarik. Ekhwan Rusli perlu menambah riset tentang tokoh dan sejarahnya agar membuat cerpen itu lebih menarik. Syukur jika ia memberi keterangan nama tempat saat ini. Seperti Acheh (Aceh) dan Bantam (Batam) yang keduanya berada di pulau Sumatra, sehingga bisa memperluas pengetahuan pembaca.
5. Ulasan Cerpen Em. Sastroatmodjo: “Perempuan-perempuan Di Perpustakaan”
Cerpen Sastroatmodjo ini menarik. Bukan judulnya, tapi di cerpen ini terdapat empat cerpen yang berdiri sendiri, tapi semuanya bertutur tentang perempuan yang ditemui oleh tokoh “aku” di perpustakaan itu.
Di cerpen /1/ “Perempuan Yang Fotonya Dipasang Di Poster Pintu Masuk Perpustakaan” dikisahkan tentang Olivia Hareem yang pernah fobia dengan pengarang. Suaminya seorang pengarang, yang melahirkan karya-karya romantis. Namun dalam kenyataannya, suaminya suka main tangan sehingga Olivia mengalami luka-luka.
Di /2/ “Perempuan Yang Menggendong Bayi” bercerita tentang Sri, yang saat pertama bertemu, sedang hamil muda. Sri bertutur, ia ngidam melempar kapak. Tak sembarangan lempar, karena sasarannya kendi yang ditaruh di kepala suaminya. Mudah diduga, lemparan itu kena di kepala suaminya, bukannya pada kendi di atasnya.
Sedangkan di /3/ “Perempuan Yang Mirip Laki-Laki” berkisah pertemuan dengan perempuan yang mempunya kumis tipis dan bulu halus yang tumbuh di antara alisnya. Mei namanya, merasa kecewa dengan sosok ayah, sehingga menyebut lelaki itu brengsek. Ayahnya pergi saat ia masih dalam kandungan. Saat itu juga, kakaknya sedang sakit cacar. Sejak itulah ia kecewa terhadap lelaki, dan semua lelaki itu brengsek.
/4/ “Perempuan Berjilbab Lebar Bercelana Gemes” berkisah sosok Eti, gadis yang sejak kecil ikut pamannya. Orangtuanya meninggal karena terpeleset kulit pisang usai turut demo di kantor dewan. Pamannya mengalami kelumpuhan akibat stress setelah diberhentikan dari perusahaan rokok yang dikenal peduli pada pembibitan pemain bulutangkis.
Ulasan
Keempat kisah yang ada akhirnya tak bisa digarap dengan maksimal, padahal terdapat tema yang bagus untuk dieksploitasi.
Kejelian penulis sebelum melemparkan karyanya patut disoroti. Pada kisah /3/ “Perempuan yang Mirip Laki-laki”, tokoh ayah di awal cerita adalah walikota. Namun dalam dialog berikutnya, ia jadi tokoh di sebuah partai politik di Singapura. Mana yang benar?
Masih di kisah yang sama, saat si ayah pergi meninggalkan keluarga, perempuan yang mirip laki-laki itu masih dalam kandungan ibunya. Sedangkan kakaknya sedang tergeletak sakit.
Sementara kakakku terbaring di dipan, karena berjuang melawan penyakit cacar yang menyerang seluruh badanku secara membabi buta.
Kalimat itu penggalan ucapan dari perempuan yang punya kumis tipis dan bulu halus di antara alisnya. Bisa jadi typo pada “…penyakit cacar yang menyerang seluruh badanku…”. Mestinya “…yang menyerang seluruh badannya.”
Sedangkan di dalam /4/ “Perempuan Berjilbab Lebar Bercelana Gemes”, sepertinya sekedar penambahan kisah saja. Tak ada greget, tak jelas apa yang mau diceritakan di sini. Kisah yang sangat biasa. Tak ada catatan pula apa itu KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia – red), bahkan pembaca di Indonesia pun belum tentu mengerti singkatan KPAI itu.***
6. Ulasan Cerpen Irwan Abu Bakar: “+ – × ÷”
Membaca cerpen karya Irwan Abu Bakar di buku ini tak hanya satu saja, tapi empat kisah. Itu merupakan rangkaian cerita, semacam tetralogi. Satu cerita terkait dengan cerita lainnya. Bisa berdiri sendiri, bisa tidak.
Semuanya sama dalam pembukaan cerita. Meja kayu berbentuk empat segi sama, bernomor 17, di kedai Mamak yang bernama “Teh Tarik Palace”, yang terletak di dalam supermarket Tetero. Kedai makan itu amat popular, selalu dipenuhi pelanggan.
Dua pemuda saat itu sedang duduk di meja 17. Satu mengenakan t-shirt warna merah, satunya hitam. Mereka sedang menikmati brunch, karena jam sudah tunjuk angka 11.00 dan keduanya tampak agak kelaparan.
Mereka masing-masing duduk di meja itu, di dua sisi yang berlainan tetapi mereka berada sebelah-menyebelah antara satu dengan lain. Maksudnya, garis pandangan lelaki berdua itu bersilangan antara satu sama lain untuk membentuk sudut 90 derajat.
Ketika pesanan makanannya datang, kedua pemuda itu tetap menikmati kesibukannya masing-masing. Sambil memegang handphone, sesekali mereka meneguk teh tarik panas. Mereka tampak serius, sesekali tersenyum, mengerutkan kening, dan sesekali tertawa.
Sikap kedua pemuda itu mengundang perhatian seorang perempuan yang duduk tak jauh dari mereka, di meja 19. Perempuan itu peminat meja 17 tapi ia datang terlambat, meja itu telah diduduki kedua pemuda tersebut. Tak heran ia merasa geram karena meja kesukaannya ditempati.
Ketika dilihatnya kedua pemuda itu tampak bergurau, kadang serius, ia makin penasaran. Dari gerak tubuh yang ada, jelas keduanya bersahabat. Didatanginya meja 17 itu.
“Saya lihat adik berdua terlalu sibuk dengan handphone masing-masing. Tidak bercakap-cakap satu sama lainnya. Ini sikap yang buruk, yang merusakkan hubungan sosial dalam masyarakat kita hari ini,” bentaknya.
Kedua pemuda itu menjelaskan bahwa mereka tidak bisa berbicara satu sama lain, dalam arti saling mengeluarkan suara. Perempuan itu makin marah, karena hal sepele seperti itu kok tidak bisa dilakukan. Akhirnya pemuda berbaju merah menunjukkan screenshot dari handphone. Melihat rumus yang ada, perempuan yang galak itu jadi terdiam. Lama terdiam. ***
Ulasan
Cerpen ini sederhana saja. Dua pemuda di meja 17, saling berkomunikasi lewat telepon genggam. Seorang perempuan yang memperhatikan tingkah keduanya, lalu memarahinya karena tak ada komunikasi tanpa suara.
Namun kesederhanaan itu mampu diolah oleh Irwan Abu Bakar dengan cerdiknya. Ditambah lagi dengan deskripsi meja, suasana kedai yang disajikan dengan mendetail. Kejelian ini perlu ditiru oleh penulis lain, karena bisa menjadi alat menggiring imajinasi pembaca agar lebih larut di dalam cerita.
Ending atau akhir cerita pun mengandung kejutan. Sebuah rumus yang tentu tak bisa dibicarakan seperti biasanya orang berdiskusi. Apalagi di tengah suasana kedai yang riuh.
Kalau ada yang mengganggu dalam membaca cerpen ini adalah beberapa alinea terasa panjang, dan membuat lelah membaca. Seperti tak ada jeda untuk membaca. Terutama pada alinea ke-5 yang jelas membuat pembaca ngos-ngosan membacanya. ***
7. Ulasan Cerpen Irwan Abu Bakar: “Pinang”
Cerpen ini mengambil topik yang berbeda dari tiga sebelumnya. Kali ini Irwan Abu Bakar menyajikan pertemuan dua lelaki yang bertemu setelah berkenalan di dunia maya. Satu paruh baya, sekitar 45 tahun, dan satunya 25 tahun.
Keduanya gay atau homoseks. Lelaki yang lebih muda, hampir separuh usianya dari satunya, lebih agresif dalam bercakap usai mereka menikmati pesanan di restoran itu.
Ia blak-blakan ingin mencari suami, setelah berpisah dengan pasangannya yang hidup bersama selama lima tahun lamanya.
“Seperti sugar daddy?” tanya lelaki paruh baya itu.
“Ya, macam sugar daddy. Tapi lebih kepada suami.”
Kemudian tibalah pernyataan dari yang lebih muda itu. Ia melamar yang lebih tua untuk menjadi suaminya. Peran yang bagi lelaki separuh baya itu dipertanyakannya “untuk apa?”
“Supaya saya boleh menjadi isteri. Boleh tinggal bersama-sama abang. Boleh interaksi sebagai pasangan PLU,” jawab lelaki 25 tahun itu.
“Berinteraksi sebagai pasangan PLU?”
“Yup.”
“Saya takut… Berdosa.”
“Semua perbuatan ada dosanya, ada pahalanya…”
Lelaki usia muda itu terus mendesak temannya untuk bersedia menjadi suaminya. Bahkan ia mengatakan agar mencoba sekali dulu. Setelah itu bisa memutuskan akan menjadi suaminya atau tidak.
Ulasan
Tema yang disajikan dalam cerpen ini menarik: dunia gay. Meski hanya sekilas, dialog dua gay tapi memberikan gambaran bahwa fenomena gay, juga lesbian, bukan sesuatu yang haram atau dihindari untuk digarap seorang penulis. Ia ada, nyata, di sekitar kita.
Dari “Pinang” ini, terlihat begitu agresifnya lelaki 25 tahun itu. Apakah memang demikian sifatnya, atau begitu butuhnya dia seorang suami. Melihat usia temannya yang diajaknya menikah, tampak kecenderungan dia untuk mencari lelaki lain yang jauh lebih tua.
Pada sisi lain, meski sama-sama gay, tapi lelaki paruh baya itu sepertinya lebih suka sendiri, tidak terikat dalam perkawinan. Maka ia terkesan menghindar, bahkan kaget dengan ajakan menikah itu.
Satu hal yang perlu jadi perhatian penulis adalah adanya catatan kaki tentang istilah di dunia gay yang masih sedikit diketahui. Seperti dalam dialog: “Supaya saya boleh menjadi isteri. Boleh tinggal bersama-sama abang. Boleh interaksi sebagai pasangan PLU”.
PLU (People Like Us) adalah istilah untuk menggambarkan “orang-orang yang sama seperti kita” (gay). ***
8. Ulasan Cerpen JaBit Abdul Aziz: “ai.b”
Seluruh kampung dilanda penyakit kulit. Gatal menjalar ke seluruh tubuh, ingin menggaruk terus.
Seorang warga bernama Siman mengajukan permohonan ke lembaga yang menangani pengairan nasional. Ini merupakan permohonan yang kelima kalinya dalam dua tahun ini.
Menurut Siman, sisa lumpur limbah terus mengalir ke saluran pembuangan, dan selama ini tidak terawat. Namun permintaan itu ditolak, dengan alasan proyek itu tidak ada dalam program Sistem Pengairan Nasional. Sementara di kampung keadaan lingkungan makin memburuk. Lalat berkerumun dengan di dalam dan di luar rumah. Karena itu, penduduk di sini senantiasa menutup pintu dan jendela mereka.
Kawasan sasaran berkumpulnya lalat adalah di tempat keluarnya air dari tangki lumpur limbah. Satu hal yang mengherankan, lalat itu tidak ada yang berkerumun di sebuah rumah di ujung kampung. Penduduk lainnya ada yang menganggap ada sihir di rumah itu.
Warga yang marah lalu mendatangi rumah itu, meminta penghuninya keluar. Dalam situasi itu datang seseorang yang mengatakan sebagai utusan dari Persatuan Tandas Sedunia (PTS).
“Saya mau menyampaikan bahwa PTS akan membangun sistem pembuangan limbah secara gratis yang dihubungkan dengan pengairan nasional. Pemilik rumah ini yang mengajukan hal itu,” ujar perwakilan PTS tersebut.
Dijelaskan juga, pejabat kesehatan minggu lalu sudah mengambil contoh air limbah. Ditemukan adanya kuman yang belum dapat dikenal dengan pasti, dan masih dalam penelitian laboratorium. Musim panas saat ini membuat kuman berkembang lewat udara.
Warga lalu bertanya tentang air warna biru. Dijelaskan, tuan rumah menggunakan pembersih jamban yang dimasukkan ke dalam tangki. Air biru itu mengandung obat untuk membunuh kuman dan membersihkan tangki limbah.
Ulasan
Apa yang terjadi dalam cerpen karya Jabit banyak dijumpai di negara atau daerah lain. Kepercayaan pada hal gaib, atau sesuatu yang tidak bisa diterima dengan tingkat pengetahuan warga setempat, itu yang memunculkan isu sihir, tenung, dan sejenisnya. Hal ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi pihak pemerintah untuk memberikan pendidikan bagi warganya.
Belum lagi adanya birokrasi yang sifatnya kaku, banyak prosedur dan kurang memihak pada rakyat, membuat hal-hal seperti cerpen ai.b itu tetap ada. Jabit menampilkannya dengan baik. ***
9. Ulasan Cerpen JaBiT Abdul Aziz: “pe.su.k.”
Cerpen ini berkisah tentang Matnor bin Sinor, lelaki yang digugat di pengadilan karena masalah pinjaman uang di bank. Gugatan itu berupa permohonan status bangkrut baginya.
Di pengadilan, Matnor mendapat pengacara yakni Sukri dari Sukri Associates, yang memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma. Suatu hal yang di luar dugaan Matnor, karena setahunya ia tak pernah memanggil pengacara.
Pihak penggugat diwakili oleh Mohsin, yang telah berunding dengan pengacara tergugat dan sepakat untuk menyelesaikan kasus kepailitan itu melalui lembaga arbitrase.
Hutang Matnor sendiri kepada pihak bank hanya sebesar $950.00. Jumlah yang tidak besar. Matnor tampak gemetar saat diminta menjelaskan latar belakang terjadinya hutang itu.
Menurut Matnor, hutang itu terjadi karena ia menjamin dua orang, berhutang kerita. Mereka ternyata tidak mau membayar. Bank memotong gaji Matnor, sehingga tinggal tak seberapa. Akibatnya isteri dan anak meninggalkannya.
“Tempat tinggalku dibayar oleh kawanku, penghantar surat kabar,” jelas Matnor.
Hakim lalu mengetukkan palu. Keputusan arbitrase akan diberikan dalam waktu seminggu kemudian. ***
Ulasan
Perkara yang disajikan oleh Jabit kali ini berbeda dengan “ai.b”. Di sini ceritanya agak berbelit, dengan pengantar yang seperti terpisah dari intinya.
Kasus kepailitan atau kebangkrutan pun bukan karena nilai hutang yang besar, justeru terbilang kecil $950.00. Meski memungkinkan memang hal itu dimajukan ke pengadilan arbitrase untuk mendapatkan keputusan bahwa Matnor dinyatakan bangkrut.
Hadirnya pengacara Sukri dari Sukri Associates yang memberikan jasa secara pro bono atau gratis, dipastikan tak terlepas dari bantuan teman Matnor yang penghantar surat kabar. Hal itu tampak dari percakapan bapak kepada anaknya, yang minta diantarkan ke kantor Sukri Associates.
Tentu jadi pertanyaan, jika bapak itu yang membayar biaya pengacara, bukankah tidak murah? Biaya itu bisa jadi lebih besar dari hutang Matnor, kenapa tidak dilunaskan saja ke bank, sehingga tak perlu maju ke pengadilan.
Hal-hal semacam itu jika diolah dengan baik, serta dikuranginya kalimat indah di awal kisah, akan membuat cerpen lebih baik. ***
10. Ulasan Cerpen Mahroso Doloh: “Negeri Tanpa Hati”
Mahmud seorang pemuda yang baru lulus sekolah menengah, bercita-cita menjadi dosen atau pengajar. Maka ia memlih Fakultas Pendidikan di Ramkhamhaeng University, Bangkok.
Sebelum kalender kuliah dimulai, terjadi malapetaka. Ayahnya ditangkap dengan tuduhan menjadi pelaku pengeboman yang terjadi di Patani. Setelah dinyatakan bersalah, ayahnya dijebloskan di Telaga Bakong, markas tentara terbesar di Patani.
Peristiwa itu tak hanya mengguncangkan keluarga Mahmud, tapi juga cita-citanya sebagai dosen. Namun ayahnya mengatakan bahwa melawan ketidakadilan tak harus dengan senjata. Ketajaman ilmu dan wawasan yang luas juga merupakan senjata.
Nasehat itu membuat Mahmud kembali bersemangat. Sebelum berangkat ke Bangkok, ia bekerja menjadi tukang bangunan untuk mendapatkan uang sebagai biaya ke Bangkok.
Setibanya di Bangkok, ia beralih jurusan dari Fakultas Pendidikan ke Fakultas Hukum. Ia ingin mendalami hukum di negeri itu, juga hukum internasional. Ia bekerja sebagai driver Grab untuk biaya hidup dan kuliah.
Di akhir semester keempat, ia bersama lima mahasiswa asal Patani dituduh telibat pengeboman yang terjadi di Bangkok saat itu. Lima mahasiswa itu ditangkap, sedangkan Mahmud lolos karena sedang bekerja.
Peristiwa itu membuat Mahmud dilematis, menyerahkan diri ataukah bergabung dengan kelompok pejuang. Ia sendiri tak percaya dengan sistem hukum negerinya, karena terbukti ayahnya tak bersama tapi tetap dijebloskan ke penjara.
Kebimbangan itu menutup cerpen karya Mahroso Dolo. ***
Ulasan
Judul cerpen Mahroso Dolo, penulis yang pernah menimba ilmu di Purwokerto, Jawa Tengah, Indonesia cukup menarik. Kita pun bisa menduga kisah ini berkaitan dengan politik atau sosial.
Namun, sebagian besar cerpen ini lebih banyak berkisah tentang kehidupan Mahmud, pemuda yang baru lulus sekolah menengah. Kita lihat secara singkat hal itu: Mahmud harus bekerja untuk mendapatkan ongkos ke Bangkok dan biaya hidup selama sebulan di sana. Saat kuliah, ia bekerja. Hingga akhir semester keempat, ia dituduh sebagai pelaku pengeboman.
Perjuangan anak manusia seperti pada diri Mahmud merupakan potret sosial yang banyak dijumpai. Bagaimana mereka dengan gigih berjuang mengatasi kekurangan, kemiskinan, dan ketimpangan. Ada yang gagal, banyak pula yang berhasil.
Mahmud menengok ayahnya sebelum berangkat ke Bangkok. Pertemuan berlangsung sekitar 10 menit, jika melihat suasana pertemuan. Apakah benar kunjungan di penjara hanya diberikan sesingkat itu?.
Lalu saat Mahmud sampai di Bangkok, ia mengubah keputusannya dari Fakultas Pendidikan ke Fakultas Hukum di Ramkhamhaeng University. Apakah bisa sekejap saja berpindah fakultas?.
Sejak kuliah hingga akhir cerita, sudah 2 tahun (4 semester) Mahmud tinggal di Bangkok. Ia bekerja dan kuliah, begitu terus-menerus. Tak ada aktivitasnya bersama mahasiswa atau kelompok lainnya, baik di dalam atau di luar kampus.
Akan lebih elok jika dikisahkan juga bagaimana Mahmud melihat atau menemukan ketidakadilan di negeri itu terhadap kaum Melayu. Bagaimana kehidupan di jalanan saat ia menjadi driver perusahaan transportasi online itu.
Kurang adanya interaksi antara Mahmud dengan peristiwa politik atau sosial, dengan contoh ketidakadilan pada bangsa Melayu, membuat cerpen ini seperti dengan mudahnya menyimpulkan bahwa negeri itu sudah tanpa hati.
Seramnya kehidupan di negeri tentu sudah diketahui oleh Mahmud sedari awal, bukannya setelah lebih dari dua tahun setelah ayahnya dipenjara. ***
11. Ulasan Cerpen Maslina Ngadiman: “Petualang Ali Dan Alfred Russel Wallace Di Kepulauan Aru 1857”
Karya Maslina ini menarik, dengan mengambil tema yang tak biasa, yakni kisah Alfred Russel Wallaca di kepulauan Aru pada tahun 1857. Apa yang disampaikan dalam cerpen ini menarik, meski lebih pada penjelasan bagaimana Wallace mengumpulkan koleksi burung cendrawasih di kepulauan Aru. Di situ ia dibantu oleh asistennya, Ali.
Kisah dalam cerpen itu diawali dengan adegan Ali sedang menguliti burung murai tanah. Wallace datang, dan memuji ketrampilan Ali. “Kamu semakin cekap menguliti burung. Nanti aku akan beritahu kepada temanku, Charles Darwin. ‘Ini anak lelakiku yang paling terampil’.”
Para pemuda di Aru dikenal sebagai pemanah yang handal. Burung yang dipanah tidak terluka, karena mata panahnya dibalut. Burung hasil panahan itu lalu dijual ke Wallace.
Musuh terbesar dari pengawetan burung adalah anjing liar. Menurut Wallace, anjing liar itu sangat rakus, tak hanya merebut sayap burung yang diawetkan tapi juga minum minyak lampu, juga makan sumbunya.
Sebelum Ali ikut bekerja, Wallace memiliki asisten yang dibawanya dari Inggris, Charles Allen namanya. Namun kemudian ia memilih untuk mengajar di sekolah misionaris di Serawak.
Apa yang dilakukan oleh Wallace sering tidak dimengerti oleh warga lokal. Mereka tak habis pikir, kenapa ia harus susah payah mengawetkan burung-burung itu, disimpan dengan hati-hati di kotak untuk dikirim ke Inggris.
Bahkan Wallace dianggap sebagai tukang sulap, ada yang mengatakan ia tukang sihir. Tentu hal itu berdasar dugaan dari warga setempat yang masih percaya akan takhayul.
Ulasan
Di dalam cerpen, ada dua unsur yang membentuknya, yakni intrinsik dan ekstrinsik. Intrinsik adalah unsur yang ada di dalam cerpen itu sendiri, seperti tema, tokoh, alur dan lainnya. Sedangkan dalam unsur ekstrinsik, adalah unsur dari luar cerpen.
Cerpen karya Maslina ini memiliki latar belakang sejarah dari tokoh ternama, yakni Wallace. Di situ juga diberikan gambaran masyarakat kepulauan Aru menjelang tibanya abad ke-19.
Meski cerpen itu fiksi, berupa adonan kisah nyata, pengalaman dan imajinasi lewat kemasan kata-kata, namun data tetaplah tak bisa diubah. Di sini pentingnya membaca, membuat riset bagi seorang penulis.
Dari “Petualang Ali Dan Alfred Russel Wallace Di Kepulauan Aru 1857”, penulis sebaiknya melakukan cek ulang data yang ada, yang akan mengganggu validitas karyanya.
Misalnya, saat Wallace ke Desa Kupang, Pulau Lombok. Desa Kupang, saat ini jadi kota Kupang, adalah ibukota Nusa Tenggara Timur (NTT), sebuah provinsi di timur Indonesia. Sedangkan Lombok merupakan pulau yang berada di dalam Nusa Tenggara Barat (NTB).
Begitu juga, yang lebih penting, siapa Wallace itu, sangat penting untuk disampaikan meski dalam catatan kaki dalam cerpen. Wallace bukan tokoh fiksi, ia riil, terkenal sebagai seorang naturalis, penjelajah, geografer, antropolog, dan ahli biologi dari Inggris. Catatan perjalanan dan pengamatannya selama penjelajahannya di Singapura, Indonesia, dan Malaysia, dituliskannya dalam buku berjudul The Malay Archipelago yang merupakan sebuah karya yang populer dan sangat dihargai.
Bagaimanapun cerpen karya Maslina ini menarik untuk dibaca, bahkan bisa berlanjut dalam sisi lain tentang perjalanan Wallace dan Ali yang dikemas dalam imajinasi si penulis. ***
12. Ulasan cerpen Mukti Jayaraksa: “Kroto dan Anak Bangsa”
Masalah ekonomi yang membuat Agus, bocah berusia delapan tahun itu, harus mengubur mimpinya bersekolah. Ia bekerja membantu ayahnya, Pak Mi’un mencari kroto (telur semut krangrang) untuk dijual ke pengepul.
Suatu hari, saat Agus merambah jalanan untuk mencari kroto, ia bertemu seorang wartawan yang kemudian menemaninya berjalan. Mereka berbicara banyak hal, hingga diantarnya Agus sampai di rumahnya.
Kisah Agus akan dimuat oleh wartawan itu di medianya.
Ulasan
Sebenarnya apa yang hendak disajikan oleh penulis dalam cerpen yang punya judul menarik ini? Kemiskinan yang menjerat bocah bernama Agus, atau persoalan pendidikan di Indonesia yang lebih manis dalam teori atau jargonnya?
Di awal cerpen, Agus diperkenalkan dari sudut pandang orang kedua. Dari dialog dengan ayahnya, Pak Mi’un hingga ia mulai keluar rumah untuk mencari Kroto hingga bertemu wartawan.
Dalam pertemuan itu, ada “Aku” yang seorang wartawan. Entah apa maksud penulis dengan adanya tranformasi sudut pandang ini. Perpindahan yang juga tak ditandai dengan sesuatu yang menunjukkan bahwa kisah itu memasuki babak baru.
Cerpen sebagai cerita fiksi tetap tak bisa meninggalkan logika dalam bercerita. Pembaca bukan sekedar membaca, tapi mereka juga melihat aliran kisah yang akan dicerna dengan logika, dan perasaan tentunya.
Dalam “Kroto dan Anak Bangsa”, si Aku sebagai wartawan, sampai meninggalkan sepeda motornya di tepi persimpangan jalan hanya untuk mengikuti Agus sampai masuk ke hutan. Padahal ketika ia meninggalkan sepeda motor itu, Agus belum menjawab sapaannya.
Jika disebut hal itu dilakukan demi memburu berita, apakah penampilan anak itu luar biasa sehingga akan menghasilkan berita yang luar bisa pula? Agak di luar logika hal ini.
Seperti saya sebut di atas, tema cerpen ini menarik, tapi semestinya penulis lebih fokus lagi, baik dalam sudut pandang cerita maupun output apa yang dihasilkan dari pertemuan Agus dengan wartawan. Apakah kisahnya setelah dimuat di media lalu mengubah kehidupan Agus dan keluarnya?
Pendalaman cerita perlu dilakukan dalam cerpen berikutnya dari penulis. Tak perlu patah semangat, seperti halnya Agus yang mencari Kroto untuk membantu orangtuanya. ***
13. Ulasan Cerpen Putraery Ussin: “Riwayat Pendosa”
Pagi itu Annas sudah di Restoran Mamak, memesan roti tose dan roti canai yang garing. Ia menunggu seseorang untuk menemaninya sarapan.
Hari Senin itu Annas menunggu teman sekantornya Zizi, yang berangkat dari utara ke ibukota pada pukul 4.30 pagi. Kemudian bekerja, dan itu sudah berlangsung selama satu tahun.
Zizi tak lama kemudian datang. Mereka bersantap sambil bercanda. Tawa lepas yang membuat pegawai restoran itu berpaling, dan turut tertawa.
Bagi keduanya seperti apa pekerjaan buat mereka. Datang ke kantor selepas solat subuh, lalu tepat jam 4.30 petang bergegas pulang. Itu dijalani selama setahun. Bekerja tanpa ada tugas apapun.
Bahkan meja yang disediakan di kantor juga kosong. Jadi mereka hanya duduk-duduk saja, dibiarkan agar kemudian putus asa lalu minta berhenti kerja.
Keadaan itu tak lepas dari fitnah yang menimpa keduanya. Tak ada titik terang apa sebenarnya yang dituduhkan, hanya tahu-tahu kedua dibiarkan bekerja tanpa tugas, makan gaji buta.
“Annas, Aku dah buat keputusan untuk berhenti… ambil pensiun dini,” ucap Zizi. Kalimat yang menggantung begitu saja.
Annas terkejut mendengar ucapan itu. Ia berharap keputusan itu dapat diubah. Dirinya sendiri pernah juga diminta untuk mundur dari pekerjaan.
Perasaan Annas berkecamuk memikirkan dirinya jika Zizi tetap berhenti. Sarapan pagi sendirian, tak ada teman untuk beriktikaf di Masjid Dang Wangi sambil mendengar kuliah duha, tak ada teman untuk menonton film di bioskop.
“Kita buat salah apa? Hanya dengar omongan orang, lalu mengadu tanpa bukti, terus kita disuruh berhenti?” geram Annas mengenangkan nasib mereka.
Tiga bulan selepas itu, Annas duduk sendirian di restoran yang sama. Wajahnya tampak berkerut-kerut.
“Hah, ini gambar orang yang dahulu paling berkuasa masa di pejabat ini!” Annas bercakap sendirian.
‘Dato’ telefon aku minta tolong, kereta dia rusak di tengah jalan.’ Begitu keterangan gambar swafoto di depan bengkel mobil.
“Tahu pula dia minta tolong kamu,“ balas Annas. Hanya jawaban simbol smile yang diberikan oleh Zizi.
Annas terus sendirian menghabiskan sisa-sisa minuman. Surat selesai kerja yang baru diterima dimasukkan semula ke dalam sampul. Jiwanya kosong. Tiket bas untuk pulang ke utara diselitkan dicelah-belah dompetnya. ***
Ulasan
Terasa sekali kesepian, kesedihan, dan kekecewaan dalam cerpen karya Putraery ini. Dua sahabat satu kantor, Annas dan Zizi yang sama-sama mendapat fitnah sehingga bekerja tanpa pekerjaan. Makan gaji buta.
Kondisi seperti bisa dijumpai di banyak perusahaan. Ada saja manusia dengan sifat dengki yang tega memakan teman sendiri. Menusuk dari belakang bukanlah hal tabu baginya.
Ketika Zizi yang makin tak tahan dengan keadaan itu dan memutuskan mengambil pensiun dini, Annas hanya bisa menerimanya dengan kecamuk perasaannya. Ia ingin keputusan itu diubah, tapi tahu itu sepertinya sudah final bagi Zizi.
Tiga bulan kemudian, Annas pun berhenti, dan siap pulang ke kampungnya.
Cerpen ini berhasil memberikan ruang kesepian yang dirasakan pula oleh pembaca. ***
14. Ulasan Cerpen Roslie Sidik: “Pupus”
Kampung Kita namanya, sebuah kawasan dengan lima ribu penduduk. Kampung yang telah berubah banyak, apalagi setelah tanaman kopi membuat para warga kaya. Ditambah lagi dengan orang luar yang datang untuk ikut menanam kopi. Beberapa menikah dengan penduduk aseli kampung itu.
Salah satu tokoh kampung itu, Tok Tambora yang peduli dan prihatin dengan budaya setempat. Puterinya, Cordelia minta restu menikah dengan kekasihnya, Dalmatia. Tok Tambora mensyaratkan Dalmatia harus melafazkan akad nikah dalam bahasa Kita.
Dalmatia adalah reprensentatif dari generasi muda masa kini, yang melihat budaya lokal sebagai sesuatu yang usang dan kuno. Mereka ingin sejajar dengan warga lainnya di dunia. Maka mereka lebih suka berbicara dengan bahasa Dunia daripada bahasa aselinya.
Hari pernikahan Cordelia dan Dalmatia tiba. Setelah diisi dengan sambutan, dan juru nikah sudah tiba, maka proses pernikahan dimulai. Saat Dalmatia hendak menuliskan namanya di buku nikah, Tok Tambora mau agar tulisannya dalam aksara Kita. Dalmatia menolak karena tidak tahu, juga tidak mau tahu.
Akibatnya, terjadi pertengkaran antara keduanya. Dalmatia mengamuk, lalu menarik tangan Cordelia untuk keluar dari rumah itu. Cordelia menurut saja, cinta telah membutakan segalanya.
Baru saja melangkah di luar rumah, angin bertiup kencang sehingga pohon kopi tercabut akarnya dan beterbangan di udara. Satu per satu atap rumah melayang, para tamu berlarian dengan panik untuk menyelamatkan diri.
Pilar rumah Tok Tambora bergoyang ke kiri. Bumi tempat mereka berpijak telah merekah dan terbelah. Tok Tambora terperangkap di bawah tiang yang jatuh. Tangannya masih kuat menggenggam kitab tulisan leluhurnya.
Dengan nafas tersendat, berulang kali Tok Tambora berteriak, “Pertahankalah, pertahankanlah!” ***
Ulasan
Cerpen, seperti juga halnya puisi, menjadi cermin bagi kita semua. Baik sebagai pribadi, bagian dari masyarakat, atau wajah bangsa ini. Seperti halnya juga sepakbola, yang menurut legenda Jerman, Franz Beckenbeuir: “Sepakbola adalah wajah suatu bangsa.”
Dalam kisah Pupus ini, kita dihadapkan pada realitas tentang budaya lokal yang tergusur oleh budaya modern. Orang lupa pada asal, pada kulit budayanya yang menjadi barang kuno, tidak sesuai dengan jaman kini.
Tok Tambora yang begitu mencintai anaknya, Cordelia inginkan satu syarat bagi calon menantunya, yakni melafazkan akad nikah dalam bahasa Kita. Meski Cordelia membantah, bahwa rukun nikah hanya memerlukan lelaki malafazkan dalam bahasa yang dipahaminya, Tok Tambora tak mengubah keputusannya.
Kita bisa melihat bagaimana perlawanan generasi muda (orang muda) terhadap orangtua yang dianggap kolot, ketinggalan jaman. Sosok Dalmatia, pemuda yang anak pengusaha kaya. Ia menerima syarat yang diminta Tok Tambora dengan nada sinis. Baginya, lidahnya tak akan terbelit dengan mempelajari bahasa Kita. Hanya aibnya tidak terkata.
Namun, pada sisi lain, anak muda juga tak bisa disalahkan sepenuhnya jika orangtuanya tidak mau memperkenalkan budaya daerah atau setempat.
Seperti tampak di lapangan saat Dalmatia bersama teman-temannya berkumpul. Mereka memakai lilitan kain tenun di kepala dengan gaya semaunya. Ada yang ke kiri, ke kanan, atau ke belakang. Ibu Dalmatia tak pernah mengajari anaknya tentang cara memakainya.
Bagaimana yang tua melihat hal itu? Jelas kecewa. Anak-anak muda itu sekedar ikut-ikutan, ingin bergaya dengan sesuatu yang mereka sendiri tidak fahami. Budaya nenek moyang seperti jadi hiasan belaka.
Apa yang terjadi dalam cerpen ini banyak ditemui di berbagai negara, dengan bentuk dan karakter masing-masing. Di Indonesia misalnya, banyak kesenian daerah lenyap atau ditinggalkan. Beruntung ada bahasa Indonesia yang menjadi pemersatu berbagai suku bangsa yang berbeda bahasa.
Roslie Sidik dengan eloknya membawa cerita yang patut jadi perenungan kita semua akan pentingnya menjaga budaya sendiri. Tak ada yang kuno atau modern. Apa yang sekarang modern, terbaru atau up to date, nantinya akan jadi kuno, jadi cerita masa lalu juga. ***
15. Ulasan Cerpen Sujata Wee: “Gulai Siput Daun Kaduk”
Judul cerpen karya Sujata Wee ini menarik, dan ini bisa menjadi inspirasi bagi penulis lain tentang bagaimana menarik perhatian pembaca lewat pemilihan judul. Cerpen, seperti halnya novel dan puisi, juga perlu diperkenalkan dengan aspek pemasaran (marketing).
Dikisahkan seorang anak, masih 14 tahun, yang setiap hari membantu ibunya. Mereka tinggal di rumah yang besar, dengan tanah berhektar-hektar. Ayahnya jarang pulang ke rumah, mempunyai dua traktor yang sering disewa oleh warga setempat untuk membajak tanahnya.
Sang ayah punya sifat keras dan garang, sehingga hubungannya tidak dekat dengan anak. Sifat sang ayah keras, mewarisi kakek yang membesarkan anak tanpa kelembutan. Ucapan “tidak boleh memanjakan anak, nanti menginjak kepala” diterapkan, dan ini diwarisi ke ayah.
Siang itu, tokoh kita sudah sibuk menyiapkan masakan untuk ayah ibunya yang sedang berkebun. Gulai siput, goreng ikan pelata kering, serta goreng kangkung belacan. Ayah makan lebih dulu, barulah kemudian sang anak bersama adik dan ibunya menikmati hidangan yang lezat itu.
Suatu sore, ayah pulang dengan terengah-engah. Ia bercerita menagih hutang ke tetangga bernama Isa yang menggunakan traktor untuk membajak tanahnya tahun lalu. Padi pun sudah dipanen. Saat ditagih malah marah-marah, bahkan mau memukul ayah dengan cangkul.
Akhirnya setelah dipikir matang, setelah sering dinasehati ibu, ayah menjual traktornya kepada Jali. Biar Jali merasakan langsung bagaimana tabiat warga kampong, meski tidak semuanya begitu tapi kebanyakan itu yang berlaku.
Ulasan
“Gulai Siput Daun Kaduk” seperti memberikan sebuah cerita tentang dunia kuliner, entah itu berupa nama masakan yang terkenal atau jadi andalan sebuah rastauran, atau favorit sebuah keluarga.
Namun, dalam alur kisah yang disajikan, ia bukan sekedar nama masakan yang digemari sebuah keluarga di Kampung Mujur, sempadan ke Tok Bali itu. Sayangnya tidak disebutkan di daerah dan negara mana Kampung Mujur ini. Sama halnya dengan tokoh utama, hanya patut diduga ia anak perempuan karena biasanya lekat dengan dunia dapur atau masak-memasak.
Sosok ayah, seperti halnya ibu, ditampilkan cukup rinci. Ayah yang keras dan garang, sehingga anak-anaknya tidak dekat dengannya. Punya dua traktor yang sering disewa oleh warga untuk membajak tanah, ditanami tembakau, padi, dan lainnya.
Disebutkan juga, ayah jarang ada di rumah. Hanya tidak dijelaskan kenapa itu terjadi. Apakah ayah suka main judi ataukah punya kesibukan lain?
Namun cerpen ini mampu menghadirkan sisi lain dari kampung itu, di mana kebanyakan warganya sulit membayar hutang. Seperti yang dialami ayah, saat menagih biaya membajak tanah milik Isa yang sudah setahun lamanya, malah akan dipukul dengan cangkul. Akhirnya traktor itu dijual oleh ayah.
Cerpen yang cukup menarik. ***
16. Ulasan cerpen Suzana Jumadil: “Mustajabnya Lidah di Multazam”
Seorang ibu yang kehilangan anaknya ketika mereka berada di Masjidil Haram, Arab Saudi. 10 tahun lamanya belum ditemukan. Setiap tahunnya, ia terus datang ke sana, dengan harapan bertemu anaknya, tapi sia-sia. Hingga tahun ke-11, ia datang kembali, dengan harapan yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
Terus lekat dalam ingatannya tentang mimpi sang anak ketika masih berusia 11 tahun. “Saya akan menjadi imam Masjid Nabawi.”
Peristiwa itu terjadi sejam setelah Tawaf Wada. Anaknya hilang, dan selama sebulan bersama kepolisian setempat mencarinya belum juga bertemu. Hingga saat ini, tahun ke-11 setelah kejadian itu.
Sebagai ibu, ia menyakini bisikan hati, bahwa anaknya selamat dalam lindungan Allah. Bahkan suatu hari nanti akan dapat menemuinya.
Dalam ibadah di tahun ke-11, ia tetap tak lupa mendaki Jabal Rahmah untuk berdoa dengan tangan tengadah. Setelah itu, ia ke masjid Nabawi. Kemudian kembali ke hotel yang jaraknya 300 meter.
Di lobi Hotel Sajja Al-Madinah, tampak sekumpulan lelaki berjubah putih dan bersorban sedang bercakap. Saat menuju lift, suara lembut menyapanya.
“Mama….,” sapa itu dari lelaki muda yang berasal dari sekumpulan pemuda di lobi tadi. Wajahnya berjambang, dan sinar matanya itu yang selalu dirindukannya. Ia hanya mampu memeluk putranya itu.
Putranya bercerita, saat itu di lobi ia tersesat. Lalu berusaha pulang dengan naik bus, yang rupanya bukan ke Jeddah tapi justeru ke Madinah. Di bus, ia duduk dengan seorang imam, yang kemudian mengajarinya menghafaz. Dalam waktu setahun, ia khatam dan hafaz Al-Quran.
“Ma… Setiap tahun mama datang ke sini, kan… Ayah angkat saya tahu dan sering mengajak saya melihat mama dari jauh. Dia memberi saya pilihan, jika saya mendekati mama, pasti doa mama tidak akan makbul. Sebaliknya, jika saya menjauh dan mengorbankan rindu saya kepada mama, pasti doa mama akan Allah makbulkan. Sekarang saya sudah menjadi imam di Masjid Nabawi.”
Sang ibu hanya menangis bahagia. Doanya terkabul. Puteranya sudah menjadi imam Masjid Nabawi. Ia makin yakini, betapa lidah yang tidak bertulang di hukum Tuhan, saat mustajabnya doa di Multazam.***
Ulasan
Peristiwa seperti dalam cerpen “Mustajabnya Lidah di Mustazam” bisa saja terjadi di mana dan menimpa siapa saja. Tentu itu bukan hal yang kita harapkan. Kehilangan anak jelas sangat menyakitkan.
Tragedi itu telah terjadi. Sang ibu, setiap tahunnya datang ke tanah suci untuk beribadah dan mencari anaknya. Tanpa pernah putus asa, dan percaya puteranya dalam lindungan Allah. Harapan seorang ibu yang tak pernah pudar bagi keselamatan puteranya.
Pencarian yang akhirnya membuahkan hasil setelah 10 tahun lebih. Puteranya masih hidup, sudah menjadi pemuda yang gagah dan menggapai cita-citanya sebagai imam Masjid Nabawi.
Kuatnya kepercayaan pada Allah, dan cinta kasih seorang ibu yang tak lekang oleh waktu, serta ketabahan yang tinggi adalah inti dari cerpen ini. Semuanya membuahkan hasil meski penderitaan harus dilalui dengan air mata dan kesedihan. ***
RUMUSAN
Selesai membaca buku ini, kita bisa memahami bagaimana para penulisnya memperlakukan cerpen sebagai karya seni yang penting. Setidaknya, ada sembilan penulis yang punya potensi besar sebagai cerpenis bagus, atau sudah matang menjadi cerpenis, lewat karya yang dikirimkannya untuk buku ini. Mereka mempersiapkan diri dengan serius. Tidak sekedar seperti kejar tayang sinetron.
Tentu tidak mudah untuk menyebut nama siapa sembilan penulis di atas, karena ada unsur subjektif meski mencoba berimbang dalam memberikan penilaian. Bukan juga diartikan penulis lainnya tidak punya potensi, karena hanya masalah jam terbang atau kemauan untuk terus dan terus menulis. Tak boleh bosan mencoba, disertai dengan membaca, karena ini tak hanya menambah wawasan tapi juga pengendalian diri untuk tidak besar kepala.
Hal lain yang juga penting, meski kadang terbentur waktu, adalah datang di acara sastra, bertemu sesama penulis, dan bercakap. Dari sini bisa didapatkan ilmu, kepercayaan diri, dan dorongan semangat untuk lebih rajin berkarya.
Irwan Abu Bakar, dalam cerpen-cerpennya, telah menyertakan SINOPSIS pada permulaan cerpen. Sinopsis kelihatan menarik. Struktur cerpen berubah sedikit tetapi tak mempengaruhi cerita. Sinopsis itu bisa jadi inspirasi penulis lain, meski tak biasa ada sinopsis di cerpen.
Berikut sembilan penulis yang menonjol dari kumpulan cerpen ini (berdasarkan abjad):
1. Ahkarim
2. Anie Din
3. Cik Seri Banang
4. Irwan Abu Bakar
5. JaBiT Abdul Aziz
6. Maslina Ngadiman
7. Putraerry Ussin
8. Roslie Sidik
9. Sujata Wee
Yo Sugianto.
Jogjakarta, 30.05.2020.
TAMAT.
